Sabtu, Januari 21, 2012

PATRIOTISME HANG TUAH

KARYA sastra klasik Melayu yang paling kuat pengaruhnya terhadap patriotisme adalah Hikayat Hang Tuah. Pengaruh itu paling terasa terutama bagi masyarakat Melayu walaupun masyarakat lain yang pernah membacanya juga sangat mungkin untuk merasakan sentuhannya. Di kalangan orang Melayu pengaruh Hikayat Hang Tuah—khasnya pengaruh tokoh-tokohnya Hang Tuah, Hang Jebat, dan Bendahara Paduka Raja—telah berlangsung sejak zaman-berzaman hingga sekarang. Nilai-nilai yang terkandung di dalam hikayat ini, termasuk nilai patriotisme, menjadi pedoman nilai dalam hidup bagi orang Melayu, baik generasi tua maupun generasi muda. Inilah contoh karya sastra yang tak lekang dek panas dan tak lapuk dek hujan.

Di samping yang memang telah diterima dan dipahami selama ini, nilai-nilai yang dikandungnya terus mengalami reinterpretasi, terutama oleh kalangan muda. Di antara nilai-nilai yang kerap menjadi perdebatan ialah nilai utama yang menjadi tema Hikayat Hang Tuah yaitu kesetiaan dan ketaatan. Begitu pula nilai-nilai keadilan, kebijakan, kearifan, persahabatan, cinta-kasih, kerja sama, kerja keras, dan sebagainya yang memunculkan patriotisme terus didalami oleh generasi muda Melayu dewasa ini. Perkara itu memang mustahak karena kesemuanya itulah yang membentuk mentalitas dan jati diri orang Melayu. Pada gilirannya, nilai-nilai baik yang membentuk mentalitas itu menjadi pedoman serta daya dorong dan atau pemacu semangat dalam kehidupan, sama ada untuk berpikir, berasa, bersikap, berkelakuan, belajar, ataupun bekerja.

Prof. Dr. Siti Hawa Haji Salleh dalam bukunya Kelopak Pemikiran Sastera Melayu (Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia, 2009:383—401) menempatkan Hikayat Hang Tuah sebagai epik Melayu yang membanggakan. Pernyataan beliau itu memang tak terbantahkan. Buktinya, sampai kini cerita-cerita di dalam Hikayat Hang Tuah tetap terpatri di dalam minda dan hati sanubari orang Melayu di mana pun mereka bermastautin.

Tujuan dan tema Hikayat Hang Tuah ditempatkan pengarangnya pada permulaan pengisahan. “… Ini hikayat Hang Tuah yang amat setiawan pada tuannya dan terlalu sangat berbuat kebaktian kepada tuannya.”

Jelaslah bahwa Hikayat Hang Tuah dimaksudkan oleh pengarangnya untuk menonjolkan ketokohan Hang Tuah dengan sifatnya yang taat dan setia kepada raja dan negara. Tokoh-tokoh lain diadakan, bahkan dikorbankan, untuk mendukung ketokohan Hang Tuah. Bukan hanya tokoh-tokoh yang tak terlalu ada kena-mengena dengan dirinya, bahkan, sahabatnya yang telah dianggap sebagai saudara kandungnya sendiri, Hang Jebat, harus dibunuh oleh Hang Tuah demi ketaatan dan kesetiaannya kepada raja (dan negara?).

Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu memang menjadi idola orang muda-muda Melayu, terutama Hang Tuah dan Hang Jebat. Kesempurnaan fisik dan sifat mereka sebagai wira (pahlawan) sungguh memesona. Sifat mereka yang rajin menuntut ilmu dan bekerja keras memungkinkan mereka mengubah status diri dari hanya sebatas rakyat biasa menjadi pembesar negara. Mereka memperoleh status itu bukan secara terwaris, melainkan dengan jerih payah yang tanpa mengenal lelah dan putus asa. Keberanian mereka dalam membela negara tak ada tolok bandingnya.

Kecuali itu, jika Hang Tuah disebutkan “mulutnya dengan manisnya berkata-kata”, Hang Jebat pula diperikan oleh pengarang dengan “perkataannya keras”. Guru mereka Sang Aria Putera jauh-jauh hari lagi telah meramalkan bahwa kelima orang bersahabat itu akan menjadi pegawai besar.

Hang Tuah dan ketiga sahabatnya, sekali lagi kecuali Hang Jebat, juga diramalkan akan menerima nasib baik kemudian hari. Bahkan, Hang Tuah diberitahukan akan terbebas dari segala perbuatan hasad-dengki dan fitnah yang dihalakan (diarahkan) kepadanya. Akan tetapi, tak ada alamat baik yang disebutkan untuk Hang Jebat. Kesemuanya itu menjadi isyarat bahwa pada akhirnya Hang Tuah akan dipertentangkan dengan sahabatnya Hang Jebat.

Pada tokoh Bendahara Paduka Raja juga dapat diambil contoh ketaatan dan kesetiaan kepada raja dan negara. Selain itu, dari tokoh ini sangat patut ditiru kebijaksanaan, kearifan, dan kepiawaian dalam menyelamatkan negara dan raja. Dia pun adalah tokoh yang sangat santun berbahasa dan rendah hati. Dalam hal ini, Bendahara terkesan jauh lebih arif daripada raja sekalipun.

Hanya karena jauh lebih tua dan tak bertempur langsung di medan perang, kendatipun dia yang mengatur strategi perang, Bendahara Paduka Raja berada di bawah ketokohan Hang Tuah. Walaupun begitu, nilai-nilai patriotisme sangat ketara pada tokoh Bendahara ini. Ketokohannya mengingatkan orang akan tokoh Demang Lebar Daun di dalam Sulalat al-Salatin (Sejarah Melayu).

Tokoh raja pula diperikan sangat taksa, ambigu. Dia condong mempermainkan keadilan sesuai dengan seleranya, sewenang-wenang, dan sekehendak hatinya. Kebijaksanaannya dalam menyelenggarakan negara dan memerintah membuat pembaca berasa kelam-kabut di dalam hati. Dari kebijaksanaannya yang terkesan tergesa-gesalah yang memunculkan tragedi “pendurhakaan” Hang Jebat.

Hukuman mati yang dijatuhkan kepada Hang Tuah yang selama ini sangat taat dan setia kepada raja dan negara membangkitkan kemarahan Hang Jebat. Raja seolah-olah tak memiliki kecerahan dan kebeningan nurani untuk membedakan kasa dengan cindai; kaca dengan permata. Secara objektif, pengarang seolah-olah hendak menegaskan bahwa selagi bernama manusia, raja pun memiliki kelemahan, di samping kelebihan yang ada padanya. Akan tetapi, para pembaca mempunyai tafsiran lain: “penguasa memang cenderung berlaku zalim.” Alhasil, tindakan Hang Jebat mendapat sokongan setidak-tidaknya dari sebagian pembaca.

Dalam keadaan serupa itu, tak ada jalan lain bagi Hang Jebat, selain menuntut bela. “Raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah,” ungkapannya yang terkenal itu terus terngiang-ngiang di dalam minda dan hati orang Melayu. Ungkapan itu menjadi setara, sejajar, sebanding, dan setanding dengan ucapanan Hang Tuah, “Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, tak Melayu hilang di bumi.” Nampaknya, kedua tokoh ini terus dan selamanya berupaya berebut simpati pembacanya dengan pikiran, perasaan, sikap, dan perilaku khas mereka masing-masing. Tindakan Hang Jebat itu mengingatkan kita akan “Sumpah Setia Melayu” antara Demang Lebar Daun dan Sang Sapurba di dalam Sulalat al-Salatin (Sejarah Melayu). Dalam hal ini, bukankah raja yang mengubahkan (mengingkari) Sumpah Setia itu?

Maka sembah Demang Lebar Daun, “Adapun Tuanku segala anak-cucu patik sedia jadi hamba ke bawah duli Yang Dipertuan; hendaklah ia diperbaiki oleh anak-cucu duli Tuanku. Dan, (jika) ia berdosa, sebesar-besar dosanya pun, jangan ia difadhihatkan, dinista dengan kata yang jahat; jikalau besar dosanya dibunuh, itu pun jikalau berlaku pada hukum syarak.”

Maka titah Sang Sapurba, “Hendaklah pada akhir zaman kelak anak-cucu Bapa hamba jangan durhaka pada anak-cucu kita, jikalau ia zalim dan jahat pekerti sekalipun.”

Maka sembah Demang Lebar Daun, “Baiklah Tuanku, tetapi jikalau anak buah Tuanku dahulu mengubahkan dia, maka anak-cucu patik pun mengubahkanlah.”

Maka titah Seri Tri Buana,”Baiklah, kabullah hamba akan waad itu.”

Maka keduanya pun bersumpah-sumpahlah, barang siapa mengubahkan perjanjiannya itu dibalik(kan) Allah subhanahu wa taala bumbungan rumahnya ke bawah, kaki tiangnya ke atas.



Hikayat Hang Tuah telah berhasil memberikan pengaruh positif terhadap patriotisme masyarakat, terutama masyarakat Melayu. Sampai setakat ini tokoh-tokoh, watak, dan peristiwa yang diceritakan di dalam hikayat itu masih terus menjadi perbincangan. Para pemuda Melayu dihadapkan pada pilihan sulit: hendak berpihak kepada Hang Tuah atau Hang Jebat dalam menunjukkan jati diri Melayu. Apalagi, pengarang memang membuka ruang seluas-luasnya untuk pembaca menentukan sikap dan pilihannya walau ceritanya dipusatkan pada ketokohan Hang Tuah. Dalam hal ini, Hikayat Hang Tuah menjadi karya sastra sejarah (karya sastra yang diangkat dari peristiwa sejarah) yang sangat berhasil menampilkan karakter tokohnya.

Para pakar sejarah, sastra, dan atau budaya boleh melakukan analisis dan interpretasi ilmiah apa pun sesuai dengan bidang ilmu mereka masing-masing. Akan tetapi, khalayak penikmat (entah memang membacanya atau sekadar mendengarkan ceritanya dari orang yang pernah membacanya) mempunyai penilaian tersendiri. Dalam hal ini, pilihan kepada Hang Jebat, justeru, makin mengemuka di kalangan generasi muda Melayu masa kini. Perbedaan ruang dan waktu, barangkali, menjadi penyebab utama peralihan pilihan ke arah “yang berlawanan” itu.***


oleh Abdul Malik pada 27 Desember 2011 pukul 22:31
Batam Pos, Ahad, 25 Desember 2011
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
READ MORE - PATRIOTISME HANG TUAH

Kamis, Januari 19, 2012

BUDAYA MEMBANGUN

DIAKUI atau tidak, pembangunan yang dilaksanakan selama ini lebih diarahkan pada aspek ekonomi. Alasan yang dikemukakan tiada lain untuk mempercepat tercapainya kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, segala daya yang ada dikerahkan dan pikiran pun sepenuhnya dicurahkan untuk mengejar kemajuan ekonomi, yang malangnya sering melupakan aspek lain. Kata kunci ‘kesejahteraan’ seolah-olah begitu sakral dan menjadi alat pembenaran untuk mengutamakan pembangunan ekonomi dibandingkan aspek lain.

Ternyata, banyak dijumpai program pembangunan ekonomi yang sebagian besarnya gagal, bahkan gagal total. Karena apa? Karena pembangunan itu sesungguhnya bersifat holistik. Program pembangunan ekonomi yang didewakan itu justeru tak membuahkan hasil yang diharapkan kalau aspek lain dialpaan, yang justeru sangat diperlukan untuk menggerakkannya, terutama aspek budaya. Malangnya, tak jarang terjadi aspek budaya itulah yang paling kurang mendapat perhatian di dalam implementasi pembangunan selama ini walau sebagai bumbu retorika politik untuk menarik perhatian rakyat, pembangunan kebudayaan selalu disebut mendapat perhatian penting konon.

Pembangunan mengandalkan manusia sebagai pelakunya. Manusia pelaku pembangunan itu taklah ada dalam keadaan hampa atau kosong sebagai benda mati. Manusia adalah subjek yang hidup dan kehidupannya itu secara terwaris menganut serangkaian nilai budaya. Manusia pelaku pembangunan itu memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya. Nilai-nilai budaya itu pada tataran perseorangan mewujudkan sikap mental yang menjadi penggerak pembangunan, baik pembangunan ekonomi, politik, maupun pembangunan sosial lainnya. Dengan demikian, tak heranlah kita bahwa pembangunan yang mengabaikan aspek budaya dapat dipastikan menuai kegagalan. Jadi, janganlah terlalu heran jika ternyata pembangunan infrastruktur ekonomi seperti jembatan yang megah berusia muda boleh rontok seketika seperti mainan kanak-kanak.

Apa pasal? Untuk menjadi subjek pembangunan, manusia tak hanya memerlukan kemahiran, keahlian, ilmu-pengetahuan, dan teknologi. Lebih daripada kesemuanya itu masih diperlukan unsur utama berupa tata nilai sebagai pedoman berperilaku dan pemacu semangat dalam bekerja. Keahlian serta penguasaan sains dan teknologinya mungkin cukup baik, tetapi kalau tata nilai terhadap kualitas kerja yang dianutnya negatif; hasilnya pastilah kegagalan, kalau tak sampai mengundang malapetaka. Sikap mental yang keropos akan menghasilkan “jembatan” yang keropos pula walaupun manusia yang terlibat dalam pengerjaannya memiliki keahlian serta menguasai sains dan teknologi canggih. Apa bedanya dengan ahli politik yang menyelewengkan tujuan politik bersih (semestinya juga untuk mewujudkan kesejahteraan bersama) karena lemahnya penghayatan nilai-nilai budaya yang diwujudkan pada sikap mentalnya.

Tata nilai yang dipedomani oleh manusia adalah sistem nilai budaya yang sangat abstrak. Ia berupa konsepsi-konsepsi yang hidup di dalam pikiran sebagian besar masyarakat tentang hal-hal yang dianggap baik dalam hidup manusia (lihat juga Kuntjaraningrat, 1985). Sistem nilai budaya itulah yang mengatur kelakuan atau perilaku manusia pada peringkat yang lebih konkret dalam bentuk aturan-aturan khusus, hukum, norma, dan adat-istiadat dalam pelbagai bidang.

Nilai budaya yang bersifat kolektif itu tumbuh di dalam diri manusia dari masyarakat budaya itu secara perorangan. Itulah yang disebut mentalitas. Jadi, mentalitas manusia secara individual itu bersumber dari sistem nilai budaya di dalam masyarakatnya. Jika sistem nilai budaya bersifat kolektif masyarakat, mentalitas bersifat individual perorangan.

Telah disebutkan bahwa dalam wujud yang lebih konkret sistem nilai budaya terdapat di dalam kebiasaan, adat-istiadat, aturan-aturan khusus, norma-norma, dan hukum. Manusia yang tak terdedah kepada unsur budayanya karena dia tak memedulikannya, katakanlah adat-resam masyarakatnya, tentulah tak mampu mengambil nilai-nilai baik dan positif dari budaya itu untuk menjadi bagian dari mentalitas pribadinya. Dalam keadaan seperti itu dia boleh jadi menggunakan orientasi nilai yang tak sesuai dengan tata nilai yang berlaku di dalam masyarakatnya dan atau tak cocok untuk pembangunan. Katakanlah sikap mental dalam bekerja asal selesai saja dan demi keuntungan materi, tanpa mementingkan kualitas hasilnya. Dia tak pernah mau memikirkan dampak pekerjaannya itu bagi lingkungannya, baik lingkungan sosial (manusia) maupun lingkungan alam. Dari pelaku pembangunan seperti itu hanya akan ditemukan kegagalan pembangunan.

Ilustrasi di atas menjelaskan betapa pelaku pembangunan memerlukan kesadaran budaya. Dengan kesadaran itu, dia diharapkan dapat menghayatinya untuk menjadi bagian dari mentalitasnya. Pada gilirannya, dia pun menjadi peka akan keperluan mutu pembangunan di dalam masyarakat budaya tempatnya hidup dan menghidupinya. Alhasil, nilai-nilai budaya memberikan kontribusi positif pada upaya pembangunan yang bermutu sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Jika yang dimaksudkan itu pembangunan ekonomi, maka pembangunan itu memang menyejahterakan masyarakat.

Keadaan tak pernah statis, tetapi terus berubah. Seiring dengan itu, sistem nilai budaya pun harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan supaya tetap segar dan terpakai. Dengan demikian, tata nilai budaya itu tetap mampu menjadi penuntun berperilaku bagi pelaku pembangunan untuk menggunakan orientasi nilai yang terdapat di dalam budaya tertentu, nilai-nilai budaya Melayu, misalnya, di kawasan berbudaya Melayu. Dalam konteks ini, budaya harus menjadi sasaran pembangunan, yang berbeda dengan perian di atas yaitu perannya sebagai penggerak pembangunan.

Upaya-upaya pembangunan kebudayaan meliputi pengekalan (pelestarian), pembinaan, dan pengembangannya. Kesemua upaya itu, terutama pengembangannya, dilakukan untuk meningkatkan kualitas budaya supaya mampu terus berkembang sesuai dengan kehidupan yang terus berubah karena perkembangan zaman. Dalam menghadapi perubahan itu diperlukan orientasi nilai baru agar tantangannya dapat dihadapi dengan tepat. Nilai-nilai baru itu, melalui upaya pembangunan kebudayaan, tak terlepas dari akar budayanya, tetapi mampu beradaptasi dengan perubahan. Pada gilirannya, kebudayaan terus berkembang dan tak luntur sehingga nilai-nilainya dapat menjadi pedoman secara berkekalan.

Dalam kaitannya dengan pembangunan, kebudayaan yang berperan sebagai penggerak dan kebudayaan yang menjadi sasaran pembangunan sesungguhnya bersifat timbal-balik. Pembangunan memerlukan kebudayaan karena manusia yang menjadi penggerak pembangunan itu memiliki sikap mental tertentu yang bersumber dari sistem nilai budayanya. Sikap mental itulah yang menentukan kualitas pembangunan yang dihasilkannya. Sebaliknya pula, kebudayaan mestilah menjadi sasaran pembangunan (pembangunan kebudayaan) supaya tetap terpelihara, terbina, dan berkembang untuk terus dapat berperan dalam pembangunan. Pembangunan kebudayaan memungkinkannya tidak mati sehingga dapat terus memberikan kontribusi terhadap orientasi nilai dalam pembangunan di segala bidang.

Sesungguhnya, dorongan untuk membangun adalah kepuasan untuk mencapai hasil karya yang bermutu dan bermanfaat bagi kehidupan. Hal itu berarti membangun bukan sekadar untuk bertahan hidup, apalagi sekadar menumpuk kekayaan, mengejar kedudukan, memburu kehormatan, dan merangkul kekuasaan. Memang diperlukan orientasi nilai budaya yang baik untuk memahami dan menikmati hikmah itu. Yang pasti, semua bangsa maju di dunia ini melaksanakan karya pembangunan berdasarkan pemikiran positif itu, menghasilkan karya yang bermutu. Itulah kunci keberhasilan mereka menjadi bangsa yang maju.***


oleh Abdul Malik pada 13 Desember 2011 pukul 0:22
Batam Pos, Ahad, 4 Desember 2011
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
READ MORE - BUDAYA MEMBANGUN

Rabu, Januari 18, 2012

Dah masok hari ketige

Dah masok hari ketige Tok Tim dedar. Awang dah carik teh cine utk penuron panas, Leha pon sentiase standby dg ae angat dlm baskom lengkap dg tuala kompres utk jelom2 kepale Tok, dan minyak kelonye 4711. Suasana mmg trase berubahnye kalau orgtue tu sdg tak sedap badan, macam ade sj sesuatu yg hilang.. Itu tak laen tak bukan, celoteh khas Tok itulah. Lepas lohor td, Wan Hasan yg baru tibe dr Singepure datang ke rumah Tok Tim, menjengah, tapi tak sempat bebual dg Tok Tim yg sdg tidor. Tak ade ape2 komentar dr tamu sebrang tu, kecuali pesan ke Awang : "Kirem salam saje ha.. Jage itu orang baek2 ha.. Tim itu orang baek, Allah pasti sayang dia la.. jd kasi siket cubaan la.." kate Wan Hasan dlm dialek yg asing aje dek telinge Awang, sementara Leha terharu atas pandangan org lua terhadap Toknye itu. Muge2 Tok Tim lekas kebah dr demamnye. Amin, YRA ...{~}


Zainuddin Abuhassan
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
READ MORE - Dah masok hari ketige

Selasa, Januari 17, 2012

GURU DAN SETERU

Dua hari yang lalu, 25 November, kita memperingati Hari Guru. Ada satu hari dalam setahun yang diperingati khas untuk guru sebetulnya menunjukkan bahwa bangsa ini menaruh perhatian khusus terhadap profesi pendidik, sekurang-kurang secara formal. Betapa tidak? Dalam sistem pendidikan, walaupun bukan satu-satunya komponen yang menentukan, peran guru tetaplah penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Kolom kali ini didedikasikan pada hal-hal yang berkaitan dengan profesi dan bakti guru, para pendidik.

“Cahari olehmu akan guru, yang boleh tahukan tiap seteru.” Itu adalah pesan Raja Ali Haji di dalam Gurindam Dua Belas, Pasal Keenam, bait 2. Bait ini menukik langsung perihal perhubungan peserta didik dan pendidik atau guru (muamalah dan akhlak). Peserta didik dianjurkan untuk mencari pendidik yang mampu mengajarkan, membimbing, melatih, dan mendidik mereka sehingga mampu mengenal seteru.

Seteru? Ya, segala sesuatu yang menjadi lawan bagi manusia dan kemanusiaannya. Lawan yang siap menerkam mangsanya bila-bila masa dan di mana saja. Guru yang baik adalah pendidik yang bersedia, ikhlas, dan layak membimbing para peserta didiknya sedemikian rupa sehingga mereka pun mampu mengenal, memahami, untuk pada gilirannya melawan setiap seteru yang akan membinasakan dirinya dan kemanusiaannya. Pendidik dengan kualitas itulah yang patut dan wajib dicari oleh setiap peserta didik.

Marilah kita tinjau masalah genting (krusial) yang dihadapi oleh bangsa kita setakat ini. Masalah utamanya adalah makin terpuruknya kehidupan berbangsa dan bernegara kita akhir-akhir ini. Masalah itu berkaitan dengan kian lunturnya budaya nasional kita dan makin menurun (terdegradasinya) karakter bangsa ini, di satu pihak, serta makin kerasnya cabaran atau tantangan budaya global (Barat) yang tak sesuai dengan budaya kita untuk menggeser nilai-nilai baik yang kita yakini selama ini, di pihak lain. Akibatnya, pelbagai musibah menimpa kita sebagai bangsa, baik yang bersifat alami maupun sosio-kultural. Jenis, kuantitas, dan kualitas musibahnya nyaris tak terperikan lagi. Pun, nyaris bangsa kitalah yang paling tinggi tensi musibahnya dibandingkan bangsa-bangsa lain, yang terus berpacu mengejar kemajuan, sedangkan kita masih berputar-putar di sekitar musibah-musibah itu saja.

Apakah punca atau penyebab utama kesemuanya itu. Jawabnya tiada lain yaitu seteru utama manusia: kebodohan. Pasti banyak orang yang tak bersetuju dengan pernyataan itu. Keberatan itu pun dapatlah dipahami. Karena apa? Karena telah cukup banyak orang di antara bangsa kita yang bersekolah cukup tinggi, jauh lebih tinggi daripada para pendahulu pada awal kemerdekaan dahulu. Akan tetapi, kenyataannya—diakui atau tidak—sekolah dengan ijazah tinggi ternyata tak selalu seiring dengan terdidik secara baik dan komprehensif. Tak jarang terjadi mereka yang berijazah tinggi itulah yang menjadi pangkal bala, bagian dari masalah. Perseteruan di antara mereka membawa malapetaka dan marabahaya bagi bangsa yang besar ini secara menyeluruh. Sendi-sendi kehidupan nyaris punah-ranah.

Mereka hanya sibuk dengan urusan diri dan kelompok sendiri sehingga rela mengorbankan bangsa dan negara tanpa merasa bersalah sedikit jua pun. Pelbagai helah dan hujah dikemukakan seolah-olah mereka memang paling cerdas. Di sebalik kesemuanya itu tak lain tipu-daya belaka.

Perseteruan di antara mereka dipertunjukkan saban hari tanpa ada di antara kita yang sanggup melawannya. Bahkan, kalau ada pun satu-dua orang yang berjuang untuk menghadangnya, pada akhirnya tenggelam juga ke dasar terdalam samudera kekacaubalauan itu. Pilihannya biasanya adalah ikut bermain di atas gelombang panas atau tenggelam alias terkucil dari silauan hedonistis yang makin bersemarak. Pesta pertunjukan kemegahan dan kemewahan bak tuhan baru di samping tuhan lama yang tetap mereka sembah di dalam peribadatan, yang ironisnya mereka laksanakan juga, entah untuk apa. Maka, bermunculanlah para fir’aun baru walau tak sejantan Fir’aun asli.

Gejala itu membuktikan bahwa kecerdasan intelektual yang terbungkus ijazah tinggi tak menjamin manusia mengenal, apalagi melawan, seteru utamanya. Masih diperlukan kecerdasan-kecerdasan lain seperti kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan emosional yang mampu membawa manusia memiliki kecerdasan komprehensif. Olah pikir yang mampu mengembangkan potensi kecerdasan intelektual ternyata hanya sanggup melahirkan orang yang pandai, bahkan setakat pandai di dunia saja. Itulah kebodohan terbesar yang mengemuka selama ini. Itulah seteru utama yang harus diketahui, dihayati, dan dilawan oleh peserta didik yang seyogianya ilmunya diperoleh dari pendidik sejati, yang tak hanya memiliki ilmu, tetapi memberikan tauladan diri kepada peserta didiknya.

Untuk menghasilkan manusia yang cerdas secara komprehensif, masih diperlukan upaya-upaya lain. Olah kinestetika perlu dilakukan agar dapat dikembangkan potensi kecerdasan sosial untuk menghasilkan insan yang bertanggung jawab. Insan yang jujur dihasilkan melalui upaya olah hati untuk mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. Upaya olah rasa pun mustahak untuk mengembangkan potensi kecerdasan emosional sehingga dapat dihasilkan insan yang peduli dan kreatif. Ketiga jenis kecerdasan yang disebut terakhir inilah yang, justeru, terlupakan dalam upaya pendidikan kita selama ini, baik pendidikan informal, formal, maupun nonformal. Kita begitu menggebu-gebu untuk menciptakan orang yang pandai secara intelektual, yang ternyata berjiwa kering kerontang.

Dengan kecerdasan komprehensif itu, peserta didik diharapkan tak hanya berbangga diri akan predikat orang pandai di dunia. Akan tetapi, mereka menjadi paham dan sadar sesadar-sadarnya untuk membekali diri agar mampu menjadi orang pandai di akhirat. Pasal apa? Pasal, orang yang sekadar pandai di dunia, yang dipuja-puji di dunia karena kepandaian duniawinya, tak akan dipandang Tuhan di akhirat kelak. Hanya manusia yang membekali diri dengan pengetahuan dan ilmu untuk menjadi pandai kedua-duanyalah, dunia dan akhirat, yang diperhitungkan oleh Sang Khalik di kehidupan akhirat yang kekal abadi. Insya Allah, jika peserta didik mendapatkan pendidikan yang baik dan diberi laluan untuk mengembangkan potensi kecerdasan komprehensif secara holistik, mereka tak hanya menjadi insan yang berguna di dunia, tetapi akan memperoleh kebahagian sejati di akhirat, di hadapan Tuhannya. Itulah hakikat dan tujuan hidup manusia sesungguhnya sehingga kita harus terus meningkatkan kemanusiaan dan mengembangkan tamadun kita.

Tugas, peran, dan tanggung jawab itulah yang ada di pundak para pendidik. Melalui proses pendidikan harus dapat dihasilkan insan yang dapat menikmati kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus. Untuk memperolehnya, tentulah diperlukan pengetahuan, ilmu, perilaku, dan sikap yang patut dan padan. Insan seperti itulah yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negaranya sehingga sebagai bangsa, kita menjadi berwibawa dan terhormat dalam pergaulan masyarakat dunia. Dan, hidayah serta inayah Allah akan senantiasa mengalir bagi bangsa yang berkualitas dan berkarakter baik seperti itu.

Semakin nyatalah bahwa tugas dan tanggung jawab pendidik itu sangat berat, tetapi pun sangat mulia. Tugas besar itu tak mungkin hanya dideligasikan kepada para guru saja. Untuk mencapai matlamat mulia itu, peran orang tua, masyarakat, dan pemerintah harus ditingkatkan dalam pendidikan anak bangsa ini. Generasi kita tak hanya memerlukan ilmu dan teknologi yang canggih untuk menghadapi tantangan pada masanya, tetapi juga karakter tauladan di lingkungannya: rumah tangga, sekolah, masyarakat, dan dalam lingkup bangsa yang besar ini. Oleh sebab itu, jika kita betul-betul berazam untuk menyelamatkan bangsa ini, setiap orang dewasa harus mau dan mampu berperan sebagai guru. Kuncinya pada perkataan, perbuatan, perilaku, dan sikap hidup yang patut dijadikan suri tauladan. Selamat Hari Guru.***

oleh Abdul Malik pada 28 November 2011 pukul 0:27
Batam Pos, Ahad, 27 November 2011
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
READ MORE - GURU DAN SETERU

Artikel bersempena