Selasa, Desember 29, 2009

Lirik Lagu Melayu : Senandung Pulau Jemur

Senandung Pulau Jemur
Melly Amir



Cahaya indah gemerlipan
Dibawah terik memancar bak pasir intan
Sungguh menawan bagai hiasan
Memukau jiwa teduh dimata

Lautnya tenang airnya biru
Terbentang indah alamnya menyentuh kalbu
Pulau Jemur nama diberi
jadi sebutan rakyat tempatan

Taman Syurgawi.......

#Reff :
Pulau Jemur laut melingkar
Indah terpandang bak tasik surga
Pulau Jemur laut melingkar
Jadi idaman setiap insan

Ini senandung Pulau Jemur
Lambang pusaka rakyat Rokan Hilir
Dendangan lagu anak Melayu negeri
Jadi azimat sepanjang zaman

Ini senandung Pulau Jemur
Anugerah Tuhan tiada setara
Jauh terdengar hati terpaut
Bagai lukisan tak jemu dipandang

Lautnya tenang airnya biru
Terbentang sayang... menyentuh kalbu
Pulau Jemur nama diberi
jadi sebutan rakyat tempatan

Pulau Jemur nama diberi
jadi sebutan rakyat tempatan

Taman Syurgawi.......

Download mp3 lagu melayu
Beli yang asli untuk menghindari pembajakan

Read more ...

Minggu, Desember 27, 2009

Motif Pucuk Rebung

Ini Motif Pucuk Rebung Sirih Tunggal
Capek juga menggambar ulangnya.








Read more ...

Jumat, Desember 25, 2009

Rabu, Desember 23, 2009

Lirik Lagu Melayu : Pura-pura

Lirik Lagu Melayu
Pura-pura


Jangan engkau selalu bertanya
Jika sudah mengerti makna
Kau pura-pura tiada mengerti
Betapa sakit derita hati

Sudah gaharu, cendana pula
Sudah tahu bertanya pula

Kura-kura dalam perigi
Tinggal satu dalam perahu
Kau pura-pura tiada mengerti
Hati di dalam siapa yang tahu

Sudah gaharu, cendana pula
Sudah tahu bertanya pula

Jika bertepuk sebelah tangan
Mana lah mungkin terdengar suara
Sakit lah rindu bukanlah ringan
Pening kepala dimabuk cinta

Sudah gaharu, cendana pula
Sudah tahu bertanya pula

Kura-kura dalam perigi
Tinggal satu dalam perahu
Kau pura-pura tiada mengerti
Hati di dalam siapa yang tahu

Sudah gaharu, cendana pula
Sudah tahu bertanya pula

Catatan :
Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd untuk menghindari
Pembajakan.


Read more ...

Senin, Desember 21, 2009

Lirik Lagu Melayu : Mengapa ku tak tahu

Lirik Lagu Melayu
Mengapa ku tak tahu


Mengapa ku tak tahu
Mengapa ku tak tahu
Hatiku menanggung rindu
semenjak dahulu

Mengapa ku tak tahu
Mengapa ku tak tahu

Dimanakah aku mencari
Hatiku rindu setiap hari
Dimanakah aku mencari
Hatiku rindu setiap hari

Ooo cinta yang kutuju
Rindunya aku rindu
Ooo cinta yang kutuju
Rindunya aku rindu

Mengapa ku tak tahu
Mengapa ku tak tahu
Hatiku menanggung rindu
semenjak dahulu

Siang malam terbayang dimata
Kakanda pujaan hati hamba
Siang malam terbayang dimata
Kakanda pujaan hati hamba

Bila kita berjumpa
Semoga takkan pisah
Bila kita berjumpa
Semoga takkan pisah

Mengapa ku tak tahu
Mengapa ku tak tahu
Hatiku menanggung rindu
semenjak dahulu

Mengapa ku tak tahu
Mengapa ku tak tahu

Dimanakah aku mencari
Hatiku rindu setiap hari
Dimanakah aku mencari
Hatiku rindu setiap hari

Bila kita berjumpa
Semoga takkan pisah
Bila kita berjumpa
Semoga takkan pisah

Mengapa ku tak tahu
Mengapa ku tak tahu
Hatiku menanggung rindu
semenjak dahulu

Mengapa ku tak tahu
Mengapa ku tak tahu

Catatan :
Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd untuk menghindari
Pembajakan.


Read more ...

Sabtu, Desember 19, 2009

Lirik Lagu Melayu : Dodoi si Dodoi

Lirik Lagu Melayu
Dodoi si Dodoi


Buah hatiku junjungan jiwa
Buah hatiku junjungan jiwa
Tidurlah tidur hai anak
Ibu dodoikan ya sayang

Dodoi si dodoi

Janganlah anak suka menangis
Janganlah anak suka menangis
Ayahmu jauh ya anak dirantau orang ya sayang
Ayahmu jauh ya sayang dirantau orang ya sayang

Dodoi si dodoi

Tidurlah anak dalam ayunan
Tidurlah anak dalam ayunan
Tidurlah nyenyak ya sayang
Sambil kubuai ya sayang

Dodoi si dodoi

Janganlah anak suka menangis
Janganlah anak suka menangis
Ayahmu jauh ya anak dirantau orang ya sayang
Ayahmu jauh ya sayang dirantau orang ya sayang

Dodoi si dodoi


Catatan :
Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd untuk menghindari
Pembajakan.


Read more ...

Kamis, Desember 17, 2009

Lirik Lagu Melayu : Selayang Pandang

Lirik Lagu Melayu
Selayang Pandang


Lama sudah tidak ke ladang
Tinggi rumput dari lah lalang
Lama tak kupandang
Hatiku bimbang

Layang-layang selayang pandang
Hati di dalam rasa bergoncang
Jangan ragu dan jangan bimbang
Ini lagu selayang pandang

Manis sungguh kelapa tuan
Tidak tuan kelapa bali
Kalau tak tuan
Siapa lagi

Layang-layang selayang pandang
Hati di dalam rasa bergoncang
Jangan ragu dan jangan bimbang
Ini lagu selayang pandang

Pisang emas bawa berlayar
Masak sebiji di atas peti
Hutang lah emas boleh dibayar
Hutang lah budi dibawa mati

Layang-layang selayang pandang
Hati di dalam rasa bergoncang
Jangan ragu dan jangan bimbang
Ini lagu selayang pandang

Manis sungguh tebu seberang
Dari akar sampai ke pucuk
Manisnya sungguh mulutnya orang
Hati menangis jadi terbujuk

Catatan :
Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd untuk menghindari
Pembajakan.


Read more ...

Selasa, Desember 15, 2009

Lirik Lagu Melayu : Pantai Solop - HM. Rusli Zaenal

Lirik Lagu Melayu
Pantai Solop
HM. Rusli Zaenal


Terkuak indah alam membentang
di rantau bumi sri gemilang
pulau Cawan aduhai negeri Mandah
Pantai Solop berbilang pesona

Pasirnye... kilau kemilau
serpihan kulit satwa lautnye
Bermain ombak aduhai tercerlah bakau
Terhampar putih eloknye bagai permate...

Nuanse alamnye bagai surgawi...
membawe teduh suasane hati...
Kicauan burung nyanyian sunyi
Pantai soloooop... rahmat ilahi

Penduduknye ramah juge berbudi...
Pancaran budaya khasanah negri...

Lestarikanlah... warisan ini...
Pantai solooop...., solooop....,solooop....
Pantai sejati...

***music***

Nuanse alamnye bagai surgawi...
membawe teduh suasane hati...
Kicauan burung nyanyian sunyi
Pantai soloooop... rahmat ilahi

Penduduknye ramah juge berbudi...
Pancaran budaya khasanah negri...

Lestarikanlah... warisan ini...
Pantai solooop...., solooop....,solooop....
Pantai sejati...

Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd untuk menghindari
Pembajakan.


Read more ...

Minggu, Desember 13, 2009

Lirik Lagu Melayu : Datuk Laksemana - Bengkalis

Lirik Lagu Melayu
Datuk Laksemana
Bengkalis


Tersebut datuk laksmana
Satria Raje Dilaut
Datuk laksmane raje dilaut
Dibukit batu tempat tahtanye

Datuk laksmane satria sakti
Sepantun payung tuah negeri (2x)

Tersebut datuk laksmana
Satria Raje Dilaut
Datuk laksmane raje dilaut
Dibukit batu tempat tahtanye

Lautnya sakti rantau bertuah
Berlubuk ikan minyak berlimpah

Datuk laksmane bijak bestari
Duduk menyirat tegak mencari (2x)

Tersebut kisah datuk laksmane
Ditanjung jati celupkan kaki

Ikan terubuk datang hampiri
Tuah diberi semule jadi (2x)

Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd untuk menghindari
Pembajakan.


Read more ...

Jumat, Desember 11, 2009

Lirik Lagu Melayu ; Cindai - Siti Nurhaliza

Lirik Lagu Melayu ; Cindai - Siti Nurhaliza

Cindailah mana tidak berkias
Jalinnya lalu rentah beribu
Bagailah mana hendak berhias
Cerminku retak seribu

Mendendam unggas liar di hutan
Jalan yang tinggal jangan berliku
Tilamku emas cadarnya intan
Berbantal lengan tidurku

Hias cempaka kenanga tepian
Mekarnya kuntum nak idam kumbang
Puas ku jaga si bunga impian
Gugurnya sebelum berkembang

Hendaklah hendak hendak ku rasa
Puncaknya gunung hendak ditawan
Tidaklah tidak tidak ku daya
Tingginya tidak terlawan

Janganlah jangan jangan ku hiba
Derita hati jangan dikenang
Bukanlah bukan bukan ku pinta
Merajuk bukan berpanjangan

Akar beringin tidak berbatas
Cuma bersilang paut di tepi
Bidukku lilin layarnya kertas
Seberang laut berapi

Gurindam lagu bergema takbir
Tiung bernyanyi pohonan jati
Bertanam tebu di pinggir bibir
Rebung berduri di hati

Laman memutih pawana menerpa
Langit membiru awan bertali
Bukan dirintih pada siapa
Menunggu sinarkan kembali

Catatan :
Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd/vcd untuk menghindari
Pembajakan.




Read more ...

Rabu, Desember 09, 2009

Lirik Lagu Melayu : Cinta Hampa

Lirik Lagu Melayu
Cinta Hampa


Ibarat lah air di daun keladi
Walaupun tergenang tidak meninggalkan bekas
Pabila tersentuh dahannya bergoyang
Air pun tertumpah tercurah habis tak tinggal lagi

#Reff
Begitu juga cintamu padaku
Cinta hanya separuh hati, kau lepas kembali
Nanti di suatu masa, kau juga kan merasa
Betapa sakitnya hati kecewa karena cinta

Bila kau lihat pemudi yang lebih kaya
Cintamu segera berpindah kepadanya

Tapi biarlah kucari yang lain
Ku kau buat sebagai korban cinta palsu hampa
Nanti di suatu masa, kau juga kan merasa
Betapa sakitnya hati kecewa karena cinta

Kembali ke Reff

Catatan :
Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd untuk menghindari
Pembajakan.


Read more ...

Senin, Desember 07, 2009

Lirik Lagu Melayu Seri Serawak

Lirik Lagu Melayu
Seri Serawak


Sayang serawak sungainya sempit
Berbuahnya nenas lamun-lamunan
Hendaknya kubawa perahu ku sempit
Tinggal lah emas, tinggal lah kenangan

Biduk ku kayuh ke tengah lautan
Hendak menuju dalamnya kuala
Sungguh hatiku sudah lama terpaut
Mengapa tuan tiada berita


Catatan :
Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd untuk menghindari
Pembajakan.


Read more ...

Jumat, Desember 04, 2009

Lirik Lagu Melayu : Air Mata Dinda

Air Mata Dinda
Melly Amir

Kemana akan kubawa resah hati
Yang kian mencekam
Remuk redam dalam jiwa
Dalam rindu bersemarak kasih

Ingin kudendangkan hati
Dengan alun irama berteduh
Agar terluahkan semua lara
dan syahdu di jiwa

Reff:
Oh dimana merdu bisikanmu
Membuai anganku terbang bersamamu
Hingga malam pun semakin larut
Tiada bayang terang memberi harapan

Kekandaku hatiku rindu
Sebening embun di waktu subuh
Oh kandaku aku merindu
Dari jauh kutabur doa

Berikanlah aku cahayamu
Agar dapat kugapai kasihmu sayang
Oh purnama dengar jeritan sukmaku
Bawa daku dalam pelukanmu

kembali ke reff




Thanks to Bang Ais yang telah mempublish ke youtube

Read more ...

Kamis, Desember 03, 2009

Lirik Lagu Melayu : Bakalaha

Lirik Lagu Melayu
Bakalaha (Lagu Ocu Kampar)


Ane seyusuke
Ae baha
Anak iyusuke bakalaha
Anak iyusuke bakalaha

Bakalaha tu apo tu cu
Bakalaha tu
Bakawan lalu hamil tapaso menika
Ala sampai sikolah takipai malolah

Anak iyusuke bakalaha
Anak iyusuke bakalaha

Harapan amak ayah anaknyo sarjana
Tapi dek bakalaha tapaso ke KA-U-A

Buku-buku novel
Majalah stensil itu PR-nyo
Baribu alasan
Urang tuonyo di kicuah kontan
De ulah bakalaha

Bakawan lalu hamil tapaso menikah
Alah sampai sikolah takipai malolah

Buku-buku novel
Majalah stensil itu PR-nyo
Baribu alasan
Urang tuonyo di kicuah kontan
De ulah bakalaha

Bakawan lalu hamil tapaso menikah
Alah sampai sikolah takipai malolah

Anak iyusuke bakalaha
Anak iyusuke bakalaha

Harapan amak ayah anaknyo sarjana
Tapi dek bakalaha tapaso ke KA-U-A 7x


Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd untuk menghindari
Pembajakan.

Read more ...

Selasa, Desember 01, 2009

Lirik Lagu Melayu : Pak Ngah Balek

Lirik Lagu Melayu
Pak Ngah Balek


Tetak dahan sikayu bulat ..
Dibawa orang dari sempadan
Pulau bintan pulau penyengat ahai…
Bagaikan bunga kembang setaman 2x

Hai pak ngah balek
bulan mengambang….
Pak ngah balek hari dah siang 2x

Orang berlayar pulau penyengat..
membawa kundur berkaki-kaki
Pemimpin jujur mendapat berkat ahai…
doa dan syukur pada Illahi 2x

Hai pak ngah balek bulan mengambang….
Pak ngah balek hari dah siang

Lebat bunge berbatang-batang
Untuk di rangkai diatas piring
Adat lembaga sama dipegang
Bagai pengantin duduk bersanding 2x

Hai pak ngah balek
bulan mengambang….
Pak ngah balek hari dah siang 4x


Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd untuk menghindari
Pembajakan.

Read more ...

Minggu, November 29, 2009

Lirik Lagu Melayu : Datin Suri Perdana

Lirik Lagu Melayu
Datin Suri Perdana



Duhai datin suri perdana
Tumpuan harap ayah dan bunda
Doa pintaku smoga dikabulnya
Kelak menjadi insane berguna

Engkau sepantun santan temui
Lemak terasa manispun ada
Bijak menjaga maruwah diri
Menjunjung harkat martabat negeri

Reff:
Duhai datin suri perdana
Aku dendangkan dalam buaian
Langgam kaza syair gurindam
Khasanah riau semenjak silam

Sekilas pandang dalam lamunan
Duduk berselimpuh berkebaya labuh
Menyusun lentik jari sepuluh
Menyambut tahnia ayah dan ibu

Back to reff

Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd untuk menghindari
Pembajakan.


Read more ...

Jumat, November 27, 2009

Lirik Lagu Melayu : Laksamana Raja Di Laut - Iyeth Bustami

Lirik Lagu Melayu
Laksamana Raja Di Laut
Iyeth Bustami


Zapin aku Dendangkan
Lagu Melayu
Pelipur Hati
Pelipur Lara

Cahaya Manis Kilau Gemilau
Di Kampung Tapir Indah Menawan
aku Bernyanyi Berzapin Riang
Moga Hadirin Aduhai Sayang
Jadi Terkesan

Kembanglah Goyang Atas Kepala
Lipatlah Tangan Sanggul Dipadu
Kita Berdendang Bersuka Rial
Lagulah Zapin Aduhai Sayang
Rentak Melayu

Laksamana Raja Di Laut
Bersemayam Di Bukit Batu
Ahai Hati Siapa
Ahai Tak Terpaut
Mendengar Lagu Zapin Melayu

Membawa Tepak Hantaran Belanja
Bertakhta Perak Indah Berseri
Kami Bertandang Mewujud Budaya
Tidak Melayu Aduhai Sayang
Hilang Dibumi

Peting Lah Gambus Sayang Lantang Berbunyi
Disambut Dengan Tingkah Meruas
saya Menanyi Sampai Di Sini
Moudah-mudahan Hadirin Semua Menjadi Puas

Repeat 2x
Laksamana Raja Di Laut
Bersemayam Di Bukit Batu
Ahai Hati Siapa
Ahai Tak Terpaut
Mendengar Lagu Zapin Melayu


Read more ...

Rabu, November 25, 2009

Cerita Rakyat Melayu Riau | Burung Tempua dan Burung Puyuh

Cerita ini merupakan salah satu cerita melayu yang berkenaan dengan dunia hewan, selain juga cerita tentang manusia serta tumbuh-tumbuhan. Burung Tempua dan Burung Puyuh ditulis oleh Irwan Effendi yang diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adicita Karya Nusa cetakan pertama September 2006. Di dalam khasanah bahasa Indonesia, Burung Tempua disebut sebagai Burung Manyar. Berikut ringkasan ceritanya :

Di tanah Melayu pada zaman dahulu kala hiduplah seekor burung Tempua dan seekor burung Puyuh. Keduanya bersahabat akrab, tolong menolong dan menyayangi sejak lama. Pada siang hari mereka sehilir semudik mencari makan bersama-sama. Suka dan duka selalu bersama. Kalau hujan sama berteduh, kalau panas sama bernaung. Mereka berpisah hanya jika pada malam hari. Dalam semua hal mereka sepakat, namun dalam hal bersarang mereka berbeda pendapat.

Suatu hari mereka bercakap tentang sarang burung yang terbaik. Menurut Tempua, sarangnya nyaman dan aman, sementara puyuh menceritakan sarangnya yang praktis.

“Aku memiliki sarang yang cantik. Sarangku terbuat dari helaian alang-alang dan rumput kering. Helaian itu dijalin dengan rapi sehingga tidak akan basah saat hujan, dan tidak akan kepanasan di kala terik. Aku menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk membuatnya,” kata Tempua.

Sarang Tempua tergantung tinggi di atas pohon walaupun ada yang agak rendah. Jika rendah maka pasti di dekatnya ada sarang ular, lebah atau penyengat. Tempua berlindung pada hewan-hewan tersebut. Kalau Tempua bersarang rendah, pastilah ada yang menjaganya. Orang Melayu mengatakan, “kalau tidak ada berada, takkan mungkin Tempua bersarang rendah.” Hanya karena keberadaan sesuatu hal (penjaga) maka Tempua mau bersarang di dahan rendah.

Berbeda dengan Tempua, sarang burung Puyuh lebih praktis. Puyuh merasa tak perlu menghabiskan waktunya untuk membuat sarang. Puyuh cukup mencari batang pohon yang tumbang untuk berlindung di bawahnya. Jika tidak aman, Puyuh akan berpindah ke tempat lain lagi.

“Dengan sarang berpindah-pindah, musuh tidak tahu keberadaanku pada malam hari,” kata Puyuh.

Akhirnya mereka sepakat untuk mencoba sarang masing-masingnya. Malam pertama, Puyuh mencoba sarang Tempua. Dengan susah payah Puyuh memanjat pohon sarang Tempua tergantung. Sesampai di sarang Tempua, Puyuh terkagum-kagum melihat sarang Tempua yang nyaman, kering dan bersih serta rapi. Kemudian, malam pun berlarut, Puyuh merasa haus dan meminta minum kepada Tempua. “Maaf kawan. Tidak mungkin aku terbang dan turun mencari air karena keadaan gelap gulita,” kata Tempua. Puyuh pun tertidur dalam kehausan.

Tak lama ketika Puyuh dan Tempua tidur pulas, tiba-tiba angin bertiup kencang. Pohon tempat sarang Tempua pun bergoyang-goyang seakan-akan mau tumbang. Sarang Tempua pun terayun-ayun. Puyuh ketakutan sekali dan seakan-akan mau muntah karena terombang-ambing. “Tenanglah kawan, kita tidak akan jatuh,” kata Tempua menghibur. Tak lama angin pun reda.

Keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi sekali. Puyuh berkata, “kawan, aku tak mau lagi tidur di sarangmu. Aku takut jatuh lagi pula aku tidak bisa menahan haus.” Tempua diam saja dan memaklumi alasan Puyuh. Mereka pun kembali bersama-sama mencari makan siang hari itu.

Setelah hari mulai gelap, Puyuh mengajak Tempua mencari pohon tumbang untuk dijadikan tempat bermalam karena malam ini giliran Tempua yang mencoba sarang Puyuh. Setelah mencari, akhirnya ditemukan pohon tumbang di dekat air mengalir. Sangat cocok bagi Puyuh.

“Puyuh, dimana kita akan tidur?” tanya Tempua karena ia tidak melihat sarang untuk tidur mereka.
“Disini, kita akan berlindung di bawah pohon ini,” jawab Puyuh. Tempua merasa tidak nyaman, tetapi mengikuti apa yang dilakukan Puyuh.

Tak lama kemudian, Puyuh sudah tertidur pulas sedangkan Tempua masih gelisah dan mondar-mandir saja. Tiba-tiba hujan turun, membasahi tempat Puyuh dan Tempua tidur. “Puyuh, aku kedinginan,” kata Tempua. “Tidak apa-apa, kalau hujan reda tentu tidak akan kedinginan lagi,” jawab Puyuh.

Keesokan harinya Tempua mengeluh pada Puyuh bahwa ia tidak bisa tidur di sarang Puyuh. Ternyata mereka masing-masing tidak cocok dengan sarang kawannya. Mereka akhirnya memahami bahwa setiap makhluk mempunyai kesukaan dan kebiasaan yang tidak bisa dipaksakan. Walaupun berbeda begitu, mereka saling menghargai perbedaan dan pendapat itu sebagai hal yang wajar. Keduanya juga tetap bersahabat.



Read more ...

Selasa, November 24, 2009

Lirik Lagu Melayu Tanjung Katung

Lirik Lagu Melayu
Tanjung Katung


Tanjung katung airnya biru
Tempat dara mencuci muka
Lagi sekampung hati ku rindu
Kononlah jauh di mata...

Asal kapas menjadi benang
Benang ditenun menjadi kain
Orang yang lepas jangan di kenang
Sudah menjadi si orang lain

Dua tiga kuda berlari
Manalah sama si kuda belang
Dua tiga dapat ku cari
Manalah sama adik seorang

Pisang Emas bawa berlayar
Masak sebiji di atas peti
Hutang emas boleh di bayar
Hutanglah budi dibawa mati

Catatan :
Lirik Lagu Melayu ini bisa menjadi panjang dan lagunya tak putus-putus karena lagu ini melirikkan pantun yang berirama.
Sepanjang pantun tersedia, maka sepanjang itu pulalah panjang lagu ini.

Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd/vcd untuk menghindari
Pembajakan.

Read more ...

Senin, Oktober 26, 2009

Ulasan RiauPos atas weblog www.attayaya.com

Terima kasih banyak dan tak terhingga kuucapkan kepada :
Hendrawan Online
RiauPos

yang telah mengulas blog sederhana ini yang mencoba memberitahu dunia tentang adat istiadat budaya resam Melayu Riau khususnya, dan Melayu Indonesia pada umumnya.

www.attayaya.com diulas langsung oleh Hendrawan.
Budaya dan Cerita Rakyat Riau

Apa kamu lagi nyari situs yang menyediakan hal-hal yang berbau budaya, seperti cerita rakyat Riau? Atau kamu adalah seorang pengagum ragam motif Melayu? Kamu bisa membuka situs www.attayaya.com

Pemiliknya sih menyebut situs ini sebagai "gerubuk buruk", tapi nyatanya tampilan situs ini cukup mentereng! Buktinya background situs tersebut penuh dengan ukiran khas ornamen Melayu daerah Riau, cukup mentereng dan enak dilihat mata.

Asal tahu aja, walaupun tulisan di situs ini terlihat sangat serius tapi orang di balik layarnya enak dibawa bercanda lho, jadi kalo kamu kebetulan ada kesempatan berkunjung ke situsnya, silahkan sapa dengan mengisikan komentar yang tersedia di setiap akhir artikel.

Di situs ini ada cerita rakyat daerah Riau, seperti Cerita Si Lancang, Batang Tuaka, Batu Betangkup dan banyak lagi cerita rakyat dari mulut ke mulut yang bisa diambil pelajarannya untukmu! (Hendrawan-SJ)




Terima Kasih


Read more ...

Minggu, Oktober 18, 2009

Cerita Rakyat Melayu | Batang Tuaka

Batang Tuaka merupakan sebuah sungai (batang) yang berada di Indragiri Riau. Sungai ini menurut cerita rakyat Melayu, merupakan perwujudan dari tangisan seorang ibu yang telah didurhakai oleh anaknya serta tangisan anaknya yang memohon ampun kepada ibunya. Buku Cerita Rakyat Melayu berjudul “Batang Tuaka” ditulis oleh Yulia S. Setiawati dan Daryatun yang diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Adicita Karya Nusa, cetakan pertama bulan April tahun 2005. Berikut ringkasannya :

Pada zaman dahulu di daerah Indragiri Riau, hiduplah seorang wanita bersama anak laki-lakinya yang bernama Tuaka. Mereka hidup di sebuah gubuk yang terletak di muara sebuah sungai. Ayah Tuaka telah lama meninggal. Mereka saling menyayangi. Tuaka selalu membantu emaknya yang bekerja keras untuk penghidupan mereka.

Mereka sering ke hutan untuk mencari kayu bakar agar bisa dijual. Pada suatu ketika, dalam perjalanan pulang dari hutan, mereka melihat 2 ekor ular besar sedang berkelahi. Mereka segera berlindung dan mengamati perkelahian tersebut. Sepertinya 2 ekor ular tersebut sedang memperebutkan berupa sebutir permata. Akhirnya salah satu ular itu mati dan satunya lagi sangat kesakitan oleh luka-lukanya. Tuaka dan emaknya berusaha menolong ular itu dan membawanya pulang untuk dirawat.

Beberapa hari kemudian, ular tersebut mulai sembuh dan menghilang dari rumah Tuaka. Permata hasil kemenangan perkelahiaanya dahulu ditinggalkan dalam keranjang di rumah Tuaka. Tuaka dan emaknya terheran-heran dan mengamati permata itu dengan kagum.

“Mengapa ular itu meninggalkan permatanya, Mak?” tanya Tuaka.
“Mungkin ular itu ingin berterima kasih kepada kita. Sebaiknya permata itu kita jual dan hasilnya bisa digunakan untuk berdagang,” jawab Emak Tuaka penuh rasa syukur.

Permata itu laku dijual Tuaka dengan harga tinggi kepada seorang saudagar, cuma sayangnya uang saudagar tersebut kekurangan uang dan mengajak Tuaka ikut ke Temasik untuk menjemput semua uang tersebut. Setelah berpamitan dengan emaknya, Tuaka pun pergi ikut saudagar itu ke Temasik (Singapura).

Sesampai di Temasik, saudagar membayar semua uang kepada Tuaka. Karena uang berlimpah, Tuaka lupa akan pulang ke kampung halamannya. Dia berdagang dan menetap di Temasik dan menjadi saudagar kaya raya. Rumahnya megah, kapalnya banyak, istrinya pun cantik. Dia tak ingat lagi dengan emaknya yang miskin dan hidup sendirian di kampung.

Suatu hari, Tuaka mengajak istrinya berlayar dengan kapal ke suatu tempat. Kapal megah Tuaka akhirnya berlabuh di kampung halamannya. Tetapi, rupanya Tuaka enggan menceritakan kepada istrinya. Tuaka tidak mau istrinya mengetahui bahwa dirinya adalah anak seorang wanita tua yang miskin.

Sementara itu, kedatangan Tuaka terdengar sampai ke telinga emaknya. Emaknya bergegas menyongsong kedatangan anak lelakinya yang lama telah pergi. Emak pun bersampan mendekati kapal megah Tuaka.

“Tuaka anakku. Emak merindukanmu, nak,” teriak emak dari sampan.
“Siapa gerangan wanita tua itu,” tanya istri Tuaka.
Tuaka yang malu mengetahui emaknya yang tua dan miskin datang ke kapal megahnya, pura-pura tidak mengenalinya.
“Hei penjaga, jauhkan wanita tua miskin itu dari kapalku. Dasar orang gila tak tahu diri! Beraninya dia mengaku sebagai emakku,” teriak Tuaka.

Emak Tuaka pergi menjauh dengan sedih. “Oh Tuhan... ampunilah dosa Tuaka karena telah durhaka kepadaku. Berilah dia peringatan agar menyadari kesalahannya,” ratap Emak Tuaka. Rupanya Tuhan mendengar ratapan emak Tuaka. Tiba-tiba Tuaka berubah menjadi seekor elang dan istrinya menjadi seekor burung punai. Emak Tuaka terkejut dan juga sedih melihat anaknya berubah menjadi burung elang, karena emak pun masih menyayangi anaknya tersebut.

Burung elang dan burung punai itu pun terus berputar-putar sambil menangis di atas emak Tuaka. Air mata kedua burung itu terus menetes dan membentuk sungai kecil yang semakin lama semakin besar. Sungai itu kemudian diberi nama Sungai Tuaka (Batang Tuaka). Jika di suatu siang tampak seekor elang terbang di sekitar muara Batang Tuaka sambil berkulik atau menangis, burung tersebut diyakini masyarakat sekitar sebagai penjelmaan Tuaka yang menjerit memohon ampun kepada emaknya.



Read more ...

Sabtu, September 12, 2009

Cerita Rakyat Melayu Riau - Batu Batangkup

Cerita rakyat melayu ini sejak aku kecil dah pernah kudengar. Dahulu setahuku judulnya “Batu Belah Batu Betangkup” yang berarti batu yang bisa terbuka dan tertutup (terbelah dan kemudian bersatu kembali) seperti kerang. Pada buku Cerita Rakyat Melayu keluaran Adicita diberi judul Batu Batangkup dengan pencerita Farouq Alwi serta disunting oleh Mahyudin Al Mudra dan Daryatun. Buku ini terbitan Oktober 2006 merupakan kerjasama antara Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu dengan Adicita Karya Nusa. Berikut saduran/gubahan dari buku tersebut :

Zaman dahulu di dusun Indragiri Hilir, tinggal seorang janda bernama Mak Minah di gubuknya yang reyot bersama satu orang anak perempuannya bernama Diang dan dua orang anak laki-lakinya bernama Utuh dan Ucin. Mak Minah rajin bekerja dan setiap hari menyiapkan kebutuhan ketiga anaknya. Mak Minah juga mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka.

Ketiga anaknya sangat nakal dan pemalas yang senang bermain-main saja, tak mau membantu emaknya. Sering mereka membantah nasihat emaknya sehingga Mak Minah sering bersedih. Mak Minah telah tua dan sakit-sakitan. Merka bermain kadang sampai larut malam. Mak Minah sering menangis dan meratapi dirinya.
“Yaaa Tuhan, tolonglah hamba. Sadarkanlah anak-anak hamba yang tidak pernah mau menghormati emaknya,” Mak Minah berdoa diantara tangisnya.

Esok harinya, Mak Minah menyiapkan makanan yang banyak untuk anak-anaknya. Setelah itu, Mak Minah pergi ke tepi sungai dan mendekati sebuah batu yang bisa berbicara. Batu itu juga dapat membuka dan menutup seperti kerang. Orang-orang menyebutnya Batu Batangkup.

“Wahai Batu Batangkup, telanlah saya. Saya tak sanggup lagi hidup dengan ketiga anak saya yang tidak pernah menghormati orang tuanya,” kata Mak Minah. Batu Batangkup kemudian menelan tubuh Mak Minah dan yang tersisa adalah seujung dari rambut Mak Minah yang panjang.

Menjelang sore, ketiga anaknya Cuma heran sebentar karena tidak menjumpai emaknya sejak pagi. Tetap karena makanan cukup banyak, mereka pun makan lalu bermain-main kembali. Mereka tidak peduli lagi. Setelah hari kedua dan makanan pun habis, mereka mulai kebingungan dan lapar. Sampai malam hari pun mereka tak bisa menemukan emaknya. Keesokan harinya ketika mereka mencari di sekitar sungai, bertemulah mereka dengan Batu Batangkup dan melihat ujung rambut emaknya.

“Wahai Batu Batangkup, kami membutuhkan emak kami. Tolong keluarkan emak kami dari perutmu…,” ratap mereka. “Tidak!!! Kalian hanya membutuhkan emak saat kalian lapar. Kalian tidak pernah menyayangi dan menghormati emak,” jawab Batu Batangkup. Mereka terus meratap dan menangis. “Kami berjanji akan membantu, menyayangi dan menghormati emak,” janji mereka. Akhirnya emak dikeluarkan dari perut Batu Batangkup.

Maka mereka kemudian rajing membantu emak, menyayanngi serta patuh dan menghormati emak. Tetapi hal tersebut tidaklah lama. Mereka kembali ke tabiat asal mereka yang malas dan suka bermain-main serta tidak mau membantu, menyayangi dan menghormati emak.

Mak Minah pun sedih dan kembali ke Batu Batangkup. Mak Minah pun ditelan kembali oleh Batu Batangkup. Ketiga anak Mak Minah seperti biasa bermain dari pagi sampai sore. Menjelang sore mereka baru sadar bahwa emak tak nampak seharian. Besoknya mereka mendatangi Batu Batangkup. Mereka meratap menangis seperti kejadian sebelumnya. Tetapi kali ini Batu Batangkup marah. “Kalian memang anak nakal. Penyesalan kalian kali ini tidak ada gunanya,” kata Batu Batangkup sambil menelan mereka. Batu Batangkup pun masuk ke dalam tanah dan sampai sekarang tidak pernah muncul kembali.


Read more ...

Minggu, September 06, 2009

Cerita Rakyat Melayu Riau - Si Lancang

Si Lancang

Di sebuah negeri bernama Kampar, pada zaman dahulu kala, hiduplah di sebuah gubuk reot seorang Emak dan anak laki-lakinya bernama si Lancang. Ayah si Lancang telah lama meninggal. Emak bekerja menggarap ladang orang lain, dan Lancang menggembalakan ternak milik tetangganya. Setelah cukup dewasa, si Lancang memohon izin kepada Emaknya untuk pergi merantau ke negeri orang, ingin bekerja dan mengumpulkan uang. Walau sedih, Emaknya mengizinkan Lancang pergi merantau.

Setelah bertahun-tahun merantau, si Lancang menjadi seorang pedagang kaya yang mempunyai berpuluh kapal dagang dan ratusan anak buah. Istrinya pun cantik jelita. Suatu hari si Lancang mengajak istrinya untuk berdagang ke Andalas. Setelah perbekalan dan barang dagang siap, berangkatlah mereka, hingga akhirnya kapal si Lancang yang megah merapat ke Sungai Kampar, kampung halaman si Lancang. Penduduk pun berdatangan hendak melihat kapal yang megah tersebut. Banyak penduduk masih mengenali wajah si Lancang. “Wah si Lancang rupanya! Megah sekali kapalnya, sudah jadi orang kaya raya,” kata guru mengaji si Lancang. Dia lalu memberitahukan kedatangan si Lancang kepada Emak si Lancang yang terbaring sakit di gubuknya.

Betapa senangnya Emak si Lancang mendengar kabar anaknya datang, dan bergegas bangkit dari tempat tidurnya. Dengan berpakaian seadanya dan berjalan tertatih-tatih karena sakit, Emak berjalan ke pelabuhan tempat kapal si Lancang. Sesampai di pelabuhan, Emak tak sabar ingin melihat anaknya. Saat hendak naik ke kapal, anak buah si Lancang menghalanginya dan melarangnya untuk naik ke kapal. Emak telah menjelaskan bahwa dia adalah Emaknya si Lancang.

Tiba-tiba si Lancang muncul dan berkata, “Bohong! Dia bukan emakku. Usir dia dari kapalku!” teriak si Lancang. Rupanya dia malu jika orang tahu bahwa wanita tua dan miskin itu adalah emaknya. “Oh… Lancang…. Anakku, ini Emak. Emak sangat merindukanmu”, rintih emak.

“Usir perempuan gila itu dari kapalku!” perintah si Lancang. Anak buah si Lancang mengusir emak dan mendorongnya sehingga terjerembab. Dengan hati sedih Emak si Lancang pulang ke gubuknya, dan menangis terus menerus. Sesampai di gubuknya, Emak mengambil lesung dan nyiru. Emak memutar-mutar lesung dan mengipasinya dengan nyiru sambil berkata, “Ya Tuhanku… si Lancang telah aku lahirkan dan aku besarkan dengan air susuku. Namun setelah menjadi orang kaya, dia tidak mau mengakui diriku sebagai emaknya. Ya Tuhanku… tunjukkan padanya kekuasaan-Mu!”

tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat. Petir menggelegar dan menyambar kapal si Lancang serta gelombang Sungai Kampar menghantamnya. Kapal si Lancang hancur berkeping-keping.

“Emaaaak… si Lancang anakmu pulang. Maafkan aku, Maaak,” terdengar sayup-sayup teriakan si Lancang. Akhirnya si Lancang tenggelam bersama kapalnya yang megah. Barang-barang yang ada di kapal berhamburan dihempas badai. Kain sutra yang dibawa si Lancang sebagai barang dagangan terbang melayang-layang kemudian jatuh berlipat-lipat dan menjadi Negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri.

Sebuah gong terlempar jauh dan jatuh di dekat gubuk Emak si Lancang di Air Tiris Kampar kemudian menjadi Sungai Ogong di Kampar Kanan. Sebuah tembikar pecah dan melayang menjadi Pasubilah yang terletak berdekatan dengan Danau si Lancang. Di danau itulah tiang bendera kapal si Lancang tegak tersisa. Bila sekali waktu tiang bendera itu muncul ke permukaan yang menjadi pertanda bagi masyarakat Kampar akan terjadi banjir di Sungai Kampar. Banjir irulah air mata si Lancang yang menyesali perbuatannya yang durhaka kepada Emaknya.

Digubah dari sumber :
Cerita Rakyat Melayu
Sabrur R. Soenardi
Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
2005

Read more ...

Jumat, September 04, 2009

Ketika Hang Tuah Menjadi Disertasi

SEORANG anak bernama Sulastin Sutrisno, pada akhir tahun tiga puluhan, masih duduk di bangku sekolah dasar, terpikat pada dua buah buku, yaitu Door Duisternis tot Licht (Kumpulan Surat-surat RA Kartini) dan Hikajat Hang Tuah. Ia begitu ingin membaca kedua buku tersebut. Beberapa tahun kemudian setelah memasuki jenjang pendidikan menengah dan tinggi, keinginan sang anak baru terwujud.

Tak hanya itu saja. Kedua buku itu, empat puluh tahun kemudian, pada tahun 1979, benar-benar mewarnai hidup Sulastin Sutrisno. Buku pertama, Door Duisternis tot Licht, ia terjemahkan dan terbit pada bulan Maret, 1979, dengan judul Surat-surat Kartini. Sementara, pada bulan Juli, Sulastin berhasil mempertahankan disertasinya tentang Hikajat Hang Tuah dengan predikat "sangat memuaskan" di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta (Kompas, 18/4/1982). Dengan Hikajat Hang Tuah, Prof Dr (alm) Sulastin Sutrisno tidak hanya berhasil meraih gelar doktor. Ia juga tercatat sebagai doktor ilmu sastra pertama di UGM.

Disertasinya yang berjudul Hikajat Hang Tuah, Analisis Struktur dan Fungsi, pada tahun 1984, kemudian diterbitkan sebagai buku. Sebelum diangkat dalam sebuah disertasi, menurut Sulastin Sutrisno, beberapa penelitian yang menggunakan kisah Hang Tuah sudah pernah dilakukan. Namun, penelitian-penelitian tersebut ia nilai belum memuaskan karena hanya menyoroti bagian-bagian tertentu saja dari Hikajat Hang Tuah yang dianggap menarik. Sulastin tertarik untuk mengkaji Hikajat Hang Tuah yang tertulis dalam buku secara menyeluruh.

Dalam disertasinya, Sulastin juga menguraikan banyak episode yang menampilkan unsur Jawa. Episode yang paling menonjol adalah kaitan Hang Tuah dan Melayu dengan Patih Gajah Mada dan Kerajaan Majapahit. Bahkan, tokoh yang dianggap sebagai pahlawan nasional di Malaysia ini baru bisa meraih puncak kejayaan setelah ia bertemu dengan tiga orang pertapa di Tanah Jawa. Selain itu, kesaktian Hang Tuah pun ditentukan oleh keris Taming Sari yang ia peroleh dari Kerajaan Majapahit. Ketika keris itu jatuh ke laut, Hang Tuah dapat terkalahkan dan terluka dalam suatu pertempuran.

Kisah-kisah lain dalam Hikajat Hang Tuah yang menampilkan hubungan Melayu dengan Jawa, menurut Sulastin, juga terlihat menonjol pada proses pinangan putri Majapahit oleh Raja Malaka, kedatangan utusan Majapahit ke Malaka, dan kembalinya Hang Tuah dari Majapahit. Adapun dalam teks Hikajat Hang Tuah, menurut dia, hubungan Melayu dan Jawa diawali oleh Patih Kerma Wijaya dari Lasem yang datang mengabdi pada Raja Melayu. Pada kisah ini, Sulastin juga menyebutkan adanya cerminan pengukuhan Jawa tentang kekuasaan Melayu. Diceritakan, seorang bernama Sang Agung Tuban sempat membujuk Patih Kerma Wijaya untuk mengabdi pada Majapahit, tetapi sang patih memilih menjadi pegawai Raja Melayu.(nova christina/Litbang Kompas)

http://www2.kompas.com/
Sabtu, 17 April 2004

Read more ...

Rabu, September 02, 2009

Hikayat Hang Tuah, antara Sejarah dan Mitos

Hikayat Hang Tuah, antara Sejarah dan Mitos

Judul: Hikajat Hang Tuah
Penerbit: Balai Pustaka, Jakarta (Cetakan ke-3, 1956)
Tebal: 511 halaman

***

NAMA Hang Tuah bisa dipastikan tak asing di telinga banyak orang. Sama halnya dengan banyak tokoh yang dianggap berperan dalam sejarah bangsa ini, nama Hang Tuah pun diabadikan pada ruas-ruas jalan di Jakarta dan di beberapa daerah lain lagi. Bahkan, nama Hang Tuah juga diabadikan pada kapal perang pertama milik Indonesia. Pemberian nama itu untuk mengenang kejayaan Hang Tuah yang selalu mencapai kemenangan di laut. Namun, tidak seperti tokoh-tokoh bersejarah lainnya, tak banyak yang tahu siapa Hang Tuah yang diabadikan namanya itu? Apa perannya dalam sejarah negeri ini?

Memang, bisa dikatakan, keterangan tentang siapa dan apa kiprah Hang Tuah tidak ditemukan dalam literatur-literatur sejarah. Beberapa waktu lalu pernah diangkat kisah-kisah tokoh melayu, termasuk Hang Tuah ini, dalam berbagai versi seperti sandiwara radio maupun tayangan sinema di televisi. Tetap saja, Hang Tuah hanya dikenal sebatas tokoh terkenal dari daerah Melayu.

Tak banyak yang tahu kisah Hang Tuah yang dituliskan dalam sebuah buku berjudul Hikajat Hang Tuah tercatat sebagai karya sastra melayu klasik yang paling panjang. Salah satu versi Hikajat Hang Tuah adalah setebal 593 halaman. Buku berisikan Hang Tuah ini dikenal sejak abad ke-18, dan sejak saat itu disebutkan sangat menarik perhatian para peneliti barat. Hikajat Hang Tuah kemudian sangat terkenal, terbit dalam berbagai versi, dan sekitar 20 buku tersimpan di berbagai perpustakaan di dunia.

PADA buku Hikajat Hang Tuah terbitan Balai Pustaka, kisah tokoh yang di Malaysia dianggap sebagai salah satu pahlawan nasional ini diuraikan dalam 24 bab panjang. Pada pengantar disebutkan, buku tersebut disalin dari salah satu naskah tulis tangan huruf Arab. Pada sampul bagian dalam tertulis: "Inilah hikajat Hang Tuah jang amat setiawan kepada tuannja dan terlalu sangat berbuat kebadjikan kepada tuannja".

Kisah dimulai dengan bab yang menguraikan asal muasal raja-raja di Malaka atau Melayu. Dengan diantar oleh kata-kata: "Sekali peristiwa...", diceritakan tentang seorang raja keinderaan (kayangan-Red) Sang Pertala Dewa, yang akan mempunyai seorang anak dan dia akan menjadi raja di Bukit Seguntang. Keturunan-keturunan sang dewa inilah dengan segala kemuliaan yang dimiliki kemudian menjadi raja-raja di tanah Melayu.

Hang Tuah diceritakan sebagai anak Hang Mahmud. Dikisahkan, setelah mendengar kabar gembira tentang negeri Bintan sudah mempunyai seorang raja yang tak lain adalah cucu dari Sang Pertala Dewa, Hang Mahmud pun bergegas mengajak istri dan anaknya pindah ke sana. Di Bintan, Hang Tuah muda bertemu dan bersahabat dengan Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Kelima pemuda itu diceritakan selalu bersama-sama, seperti lima orang bersaudara.

Suatu hari, Hang Tuah mengusulkan pada keempat sahabatnya untuk pergi berlayar dan merantau bersama-sama. Empat sahabatnya pun setuju, dan mereka berangkat berlayar. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dan menundukkan tiga perahu yang ternyata adalah musuh Bintan dari Siantan. Kawanan tersebut tak lain adalah kaki tangan Patih Gajah Mada dari Majapahit yang ingin memperluas kekuasaan dengan merompak di Tanah Palembang. Akhirnya, lima sekawan itu diangkat menjadi abdi salah seorang pemimpin di negeri Bintan, yang dipanggil Bendahara Paduka Raja. Dari sinilah kisah perjuangan Hang Tuah yang akhirnya justru mendapat gelar laksamana dari Raja Majapahit dimulai.

Dalam buku, terutama melalui tokoh Hang Tuah dan Patih Gajah Mada, dikisahkan adanya persaingan kejayaan antara Malaka dan Majapahit. Gajah Mada tidak digambarkan sebagai tokoh yang mulia ataupun bijaksana. Ia digambarkan dalam sosok yang begitu berkuasa dan ambisius. Beberapa kali ia menyusun rencana untuk menghabisi Hang Tuah yang dianggap sebagai batu penghalang rencananya untuk menguasai Malaka. Berbicara soal musuh, dalam menjalankan tugas sebagai abdi yang setia dan disegani, Hang Tuah pun di negerinya sendiri beberapa kali harus dibuang bahkan hendak dibunuh akibat fitnah. Fitnah itu sebegitu rupa sehingga salah seorang sahabatnya, yaitu Hang Jebat, pun berkhianat.

Hang Tuah memang membawa Malaka pada kejayaan. Tidak hanya ia berhasil membendung serangan dari Majapahit. Ke mana saja ia diutus dan apa pun tugas yang diemban, selalu membuahkan hasil. Namun, dengan masuknya orang-orang dari Eropa, terutama Belanda, akhirnya kejayaan Malaka dihancurleburkan. Pada bagian akhir dikisahkan, Malaka jatuh ke tangan orang-orang dari Johor dan Belanda. Hang Tuah sendiri dikisahkan masih hidup dan tinggal di negeri Batak, menjadi wali agama dan raja.

DEMIKIAN cuplikan kisah tokoh bernama Hang Tuah dari salah satu versi terbitan Balai Pustaka. Tak ada yang tahu, siapa sesungguhnya pengarang Hikajat Hang Tuah. Tahun persis kapan pertama kali kisah ini muncul pun hingga kini tak bisa dipastikan. Tak ubahnya karya-karya sastra kuno umumnya, kisah Hang Tuah ini pun diduga pertama kali dikenal berupa cerita lisan. Kemudian, dalam bentuk naskah tertulis, Hikajat Hang Tuah diduga pertama kali ditulis pada abad ke-16.

Menurut Prof Dr Sulastin Sutrisno (lihat Ketika Hang Tuah Menjadi Disertasi) yang pernah mengangkat Hikajat Hang Tuah menjadi sebuah disertasi, siapa pengarang sesungguhnya memang sulit dipastikan. Namun, yang jelas, karya tersebut mengundang kekaguman sendiri. Sebagai sebuah kisah fiktif, Hikajat Hang Tuah sarat dengan muatan sejarah. Nama-nama kerajaan dan tokoh memang lekat dengan apa yang tercantum dalam catatan-catatan sejarah. Bahkan ada dugaan, pengarang Hang Tuah tidak hanya berpengetahuan luas karena sarat dengan muatan sejarah, namun juga banyak menggunakan sumber sastra lain. Dugaan ini muncul karena pada beberapa bagian, terdapat kemiripan dengan cerita-cerita klasik lain seperti Kisah Panji, Hikajat Sri Rama, dan sebagainya.

Salah seorang ahli sastra, Sir Richard Windstedt, menyebutkan, karya sastra klasik seperti Hikajat Hang Tuah ini identik dengan syair-syair bermuatan kisah kepahlawanan yang banyak dihasilkan di Jawa pada abad ke-11. Karya-karya ini dikatakan mengubah sejarah menjadi mitos, atau sebaliknya mengubah mitos menjadi sejarah. Dalam Hikajat Hang Tuah, nuansa fiktif maupun mitos di antaranya terwakili melalui ketiadaan keterangan waktu dalam setiap peristiwa, kehadiran negeri kayangan yang dipimpin Sang Pertala Dewa maupun perubahan wujud Hang Tuah menjadi harimau dalam sebuah perkelahian (hal 164).

Tokoh Hang Tuah sendiri pun tak bisa dipastikan sebagai tokoh mitos atau sejarah, meskipun dalam Sejarah Melayu (Malay Annals) disebutkan Hang Tuah mati di abad ke-15. Kitab tersebut, Sejarah Melayu-disusun oleh Mansur Shah salah seorang penguasa di Malaka-yang mencantumkan riwayat Hang Tuah pun diragukan oleh berbagai kalangan. Sir Richard Winstedt menyebutkan, Mansur Shah, dalam Sejarah Melayu, mampu mengangkat legenda tentang seorang pejuang bernama Hang Tuah yang tumbuh saat terjadi perang antara Jawa dan Tamil. Akan tetapi, seperti dikatakan di atas, hampir tidak dapat dibedakan yang mana sejarah dan yang mana mitos. Namun, untuk tokoh seperti Hang Tuah, siapa lagi yang peduli bahwa itu mitos atau sejarah selama dia menjadi ilham etika publik? (nova christina/Litbang Kompas)

http://www2.kompas.com/
Sabtu, 17 April 2004

Read more ...

Kamis, Juni 11, 2009

Bidai Ragam Motif Melayu

Teban Layar atau Singap atau pun Bidai dipasang di bagian penutup segitiga (layar) atap pada jenis rumah bumbung panjang atau atap pelana yang terbuka di ujung depan dan di belakang. Bidai berfungsi juga sebagai lobang angin bawah atap agar terjadi sirkulasi udara di dalamnya sehingga dapat mengurangi panas. Pada rumah jenis atap limas, tidak menggunakan bidai.

Penerapan Bidai pada atap


Bidai tingkat 1 untuk rumah orang biasa


Bidai tingkat 2 umumnya untuk rumah bangsawan


Bidai tingkat 3 untuk rumah keluarga raja



Read more ...

Rabu, Juni 10, 2009

Awan Larat Ragam Motif Melayu

Awan larat merupakan rangkaian dari motif yang tersusun rapi berdampingan dan berhubungan.

Awan Larat Kuntum Berangkai Lengkap :
Senyum indah dalam cakap bicara



Awan Larat Kembang Teratur :
Pelekat hidup, Se-ia sekata, Sehidup semati




Motif dari Tenas effendy


Read more ...

Selasa, Juni 09, 2009

Umpan Daun Yong Dollah

"Oiiiii...atan, dikau nak kemano?", teriak Nizam dengan logat Bengkalis. Dalam logat Bengkalis, "kemana" menjadi "kemano". Saat itu aku baru turun tangga sehabis neken Akte Kelahiran sebagai tugasku yang telah selesai diketik. "Woii... dikau ni tereak-tereak aje, ini kantor, bahlul....", teriakku membalas dengan logat Tanjung Pinang yang banyak menggunakan huruf e lemah. Astaga, aku melarang Nizam teriak, aku malah ikut teriak. Hahahahaha...

"Tak ado do, sini kejaplah", kata Nizam
"Haaaa.... ape cite?", tanyaku
"Engkau dengar ni, kau pernah dengar cerita Yong Dollah ngael ikan di Jepang?", lanjut Nizam
"Lom lah, macam mana pula tu, haaa... cite lah", sambungku
Maka dia pun bercerita Yong Dollah lagi

Waktu tu khan Yong pergi ke negeri Jepun. Terus ikut orang Jepun tu bekelah dekat kolam ikan. Abis tu orang Jepun tu ngael. Tapi umpannya tak sama seperti kita. Orang Jepun tu pakai umpan daun yang tumbuh dekat situ. Sememang aneh. Orang Jepun tu mengait selai daun, campak ke kolam, aleh-aleh dapat ikan dengan umpan selai daun tu.

Yong pening lalat juga liat orang tu. Yong ambil parang. Yong tebang pohon yang daunnya untuk umpan ikan tu. Lalu Yong letak pohon tu di kolam. Tak lama, Yong angkat pohon tu dari kolam. Haaaaa... Yong pun dapat 10 ton ikan yang makan daun pohon tu. Yong lebih pandai dari orang Jepun tu

Hahahahaha... mana bisa Yong sekali angkat ikan 10 ton. Ada-ada aja


Catatan :
bahlul = bodoh
kemano = kemana
neken = menandatangani (ucapan singkat untuk meneken)
tak ado do = tak ada lah
ngael = mengail = memancing (ucapan singkat untuk mengael)
ape cite = apa cerita (ucapan singkat untuk ape cerite, dengan e lemah)
lom lah = belum lah (ucapan singkat untuk belom lah)
Jepun = jepang
bekelah = bertamasya
selai = sehelai (ucapan singkat sehelai)
aleh-aleh = tiba-tiba

Read more ...

Senin, Juni 08, 2009

Pucuk Rebung - Ragam Motif Melayu

Pucuk Rebung Bertunas – Lapar hilang, dahaga pun lepas, masalah pun selesai
Pucuk Rebung Sekuntum – Duduk berunding, bermusyawarah, bermufakat
Pucuk Rebung Kaluk Paku – Bergotong royong dan saling membantu
Pucuk Rebung Sirih Tunggal – Menjauhkan celaka dan sial




Contoh terapan Pucuk Rebung Bertunas.
Pucuk Rebung disusun berjajar ke samping umumnya diterapkan pada bidang bawah misalnya bagian bawah dari kain tenunan, cetakan, hiasan, dan lain sebagainya.






Read more ...

Minggu, Juni 07, 2009

Tamadun Melayu

Dulu kala ketika kutanya sama emakku, apa arti tamadun, beliau menjawab bahwa tamadun berarti maju, naik, meningkat, begitulah kira-kiranya. Sememang susah juga mau mencari arti pada sebuah kata yang sudah agak tergerus zaman. Sedikit ada penjelasan yang cukup terang dari seorang abang ipar yang menjadi salah satu pengurus Lembaga Adat Melayu Sumatra. Dia menjelaskan bahwa tamadun itu berarti membangun atau memajukan sesuatu dalam arti positif. Baik suatu masyarakat, budaya, kota, ekonomi. Jelasnya lagi bahwa tamadun berasal dari kata Arab yaitu “maddana” yang bermiripan dengan umran, madaniyah, atau dalam bahasa Inggris disamakan dengan culture dan civilisation. Tamadun pun berkembang ke arah pencapaian tinggi di bidang lain semisal tekhnologi. Mewarisi budaya Melayu pun dianggap sebagai tamadun yang berarti memajukan budaya Melayu dalam segala segi baik adat istiadat, seni, perilaku, falsafah hidup, sikap, juga kehalusan budi pekerti.

“Bercakap tentang kebudayaan Melayu, Riau sebagai salah satu Bumi Melayu di dunia ini, memang tak pernah sunyi dari aktivitas dan kreativitas budaya. Itulah anugerah Allah Azza wa Jalla yang senantiasa harus disyukuri. Betapa tidak? Kebudayaan selalu memberikan kebanggaan bagi setiap pendukungnya, tak terkecuali orang Melayu Riau. Bahkan, kebudayaan kerap memberikan ketenangan, kebahagiaan, kesejahteraan, dann pada akhirnya menjadi penyelesai segala yang kusut-masai. Berpaling dari kebudayaan berarti mengundang malapetaka”
(Drh. H. Chaidir, MM, selaku Ketua DPRD Propinsi Riau, Juli 2003)


Budaya Melayu tentunya diterapkan oleh orang Melayu yang berjati diri sebagai orang yang ramah, pandai bergaul, rajin, memiliki rasa seni yang tinggi, pandai menyesuaikan diri dengan siapapun serta memiliki pengertian, yang kesemuanya patutlah terus dikembangkan. Di samping itu, masyarakatnya yang menganut agama Islam dengan kuat, beradat Melayu dan berbahasa Melayu serta dahulunya orang Melayu merupakan bangsa pelaut atau pejuang bahari, pedagang dan bangsa pemberani. Sampai ke hari ini dipercayai bangsa Melayu masih memiliki dan mempertahankan jati dirinya. Orang Melayu selalu memiliki pandangan jauh ke depan dan selalu ingin belajar untuk menuntut ilmu pengetahuan dengan tidak meninggalkan budaya yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Sebenarnya dengan kemampuan itu, pada masanya akan selalu mampu untuk bersaing sekaliannya menjawab tantangan masa depan.

Orang Melayu selalu percaya kepada Allah SWT dan selalu mengikuti ajaran Rasulullah; hal ini diperkuat dengan peribahasa : Bergantung kepada satu, berpegang kepada yang Esa.

Orang Melayu taat kepada hukum demi keamanan dan kemakmuran masyarakatnya, seperti peribahasa : Adat itu jika tidur menjadi tilam, jika berjalan menjadi payung, jika di laut menjadi perahu, jika di tanah menjadi pusaka. Atau Mati anak heboh sekampong, mati adat heboh sebangsa. Walaupun demikian, tidak berarti adat resam tiada boleh berubah. Jika ianya tiada berkesesuaian, maka hal yang sedemikian dapatlah diubah tanpa mengundang kepada perkara yang menghebohkan. Hal ini bersesuaian dengan peribahasa Melayu yang berbunyi : Sekali air bah, sekali tepian berubah. Atau Tiada gading yang tak retak.

Orang Melayu mengutamakan budi dan bahasa, karena keduanya menunjukkan kepada sopan santun dan tinggi peradabannya. Seperti peribahasa mengatakan : Usul menunjukkan asal, bahasa menunjukkan bangsa. Atau Taat pada petuah, setia pada sumpah, mati pada janji, melarat karena budi. Atau Hidup dalam pekerti, mati dalam budi. Selain daripada itu, di dalam pantun Melayu juga tersirat :
Gunung Bintan lekuk di tengah
Gunung Daik bercabang tiga,
Hancur badan di kandung tanah,
Budi baik dikenang juga.


Orang Melayu mengutamakan pendidikan dan ilmu. Hal ini tercermin dalam peribahasa : Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, atau Menuntut ilmu itu sejak dalam buaian sampai ke liang lahat.

Orang Melayu mengutamakan budaya Melayu, becakap tidaklah kasar, berbaju menutupi aurat, menjauhkan pantang larang dan dosa. Biarlah mati daripada keluarga menanggung malu. Orang Melayu juga pandai menjaga air muka orang lain. Kalaupun marah cukup dengan sindiran. Seperti peribahasa mengatakan : Marahkan anak, sindir menantu.

Orang Melayu mengutamakan musyawarah dan mufakat sebagai sendi kehidupan. Di dalam segala hal baik perkawinan, kematian, kenduri, mendirikan rumah, maupun dalam pemerintahan. Bahkan nilai-nilai ini juga dilaksanakan bagi pendatang sehingga orang Melayu sangat terkenal dengan keterbukaannya. Ada pantun yang berbunyi
Apabila meraut selodang buluh
Siapkan lidi buang miangnya
Apabila menjemput orang jauh
Siapkan nasi dengan hidangnya


Orang Melayu tak suka mencari lawan ataupun melawan, seperti ungkapan yang mengatakan : Pantang Melayu untuk mendurhaka. Tetapi akan melawan jika ianya terdesak, seperti pribahasa mengatakan : Musuh pantang dicari, kalau datang tidak menolak. Atau pribahasa : Alang-alang menceluk pekasam, biar sampai ke pangkal lengan. Di dalam pantun diungkapkan :
Kalau sudah dimabuk pinang,
Daripada ke mulut biarlah ke hati
Kalau sudah maju ke gelanggang
Berpantang surut biarlah mati


Budaya sebagai suatu ciri khas hidup manusia yang ada di tempatannya bisa karena kebiasaan atau sesuatu yang dibiasakan. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Sama seperti budaya Melayu dari segala segi. Kebiasaan yang diadatkan, maupun adat yang diadatkan. Itulah ciri khas suatu suku, suatu kumpulan, suatu bangsa, yang harusnya dipelihara sampai ke anak cucu.


Read more ...

Sabtu, Juni 06, 2009

Makna dan Falsafah Ragam Motif Melayu

Gambar akan dimuat dalam postingan tersendiri


Makna dan Falsafah

"Dalam acuan reka bentuk terdapat makna yang dalam, yang semakin disimak, semakin terasa ketinggian mutunya"

Ragam motif Melayu mengandung makna dan falsafaf yang mengacu kepada sifat asal dari setiap sumber, dipadukan dengan nilai kepercayaan dan budaya, disimpai dengan nilai luhur agama Islam. Adat resam mengatur pemakaian dan penempatannya. Kearifan orang-orang tua Melayu yang menyimak alam sekitarnya memberikan ragam motif yang begitu banyak. Ketika dahulu, setiap perajin ukiran ataupun tenunan serta lainnya diharuskan untuk memahami makna dan falsafaf yang terkandung dalam setiap ragam motif. Keharusan ini dimaksudkan agar mereka secara pribadi mampu menyerap dan menghayati nilai-nilai yang dimaksud, menyebarluaskan, menunjuk ajar, menempatkan sesuai alur patutnya.

Nilai Ketaqwaan kepada Allah
Orang Melayu Riau adalah penganut agama Islam yang mana nilai-nilai itu mempengaruhi budaya. Dalam ungkapan adat dikatakan "Berpijak pada Yang Satu" atau "Hidup berselimut adat, mati berkafan iman". Ini tercermin dalam ragam motif bulan sabit, bintang-bintang, kaligrafi, dan lain-lain.

Nilai Kerukunan
Kerukunan hidup sangatlah dijunjung tinggi orang Melayu yang tersimpul dalam ragam motif balam dua setengger, akar berpilin, sirih bersusun, kembang setaman, dan lain-lain. kerukunan juga mencerminkan rasa persatuan dan kesatuan, kegotongroyongan dan timbang rasa yang tinggi. Dapat dilihat pada ragam motif semut beriring, itik pulang petang, bunga berseluk daun, ikan sekawan, dan lain-lain. Sesuai ungkapan "senasib sepenanggungan, seaib, semalu", "yang berat sama dipikul, yang ringan sama dijinjing", "ke laut sama berbasah, ke darat sama berkering", atau "mendapat sama berlaba, hilang sama merugi", bahkan "persebatian iman" atau "perpaduan umat". Landasan ini semua menyebabkan orang Melayu selalu menerima siapa pun yang datang ke daerah melayu dengan muka jernih dan hati yang bersih. Keterbukaan yang lambat-laun melahirkan masyarakat Melayu yang majemuk dengan kebudayaannya yang majemuk pula.

Nilai Kearifan
Arif dalam menyimak dan bijaksana dalam bertindak menjadi salah satu landasan sifat orang Melayu. "Yang arif menjemput tuah, yangbijak menjemput marwah" terpateri dalam ragam motif burung serindit yang dimitoskan sebagai lambang kearifan dan kebijaksanaan Melayu.

Nilai Kepahlawanan
Orang Melayu menjunjung tinggi nilai-nilai kepahlawanan seperti dalam ungkapan "esa hilang dua terbilang, tak Melayu Hilang di bumi", "sekali layar terkembang, pantang berbalik pulang", atau "sekali masuk gelanggang, pantang berbalik belakang". Nilai ini juga bermanfaat untuk pemberi semangat dan menaikkan keberanian. Disimpai dalam ragam motif naga berjuang, naga bertangkup, garuda menyambar, ayam jantan, dan lain-lain. Ragam motif ini umumnya dipergunakan pada benda-benda kerajaan, alat perlengkapan upacacara adat, senjata, dan sebagainya.

Nilai Kasih Sayang
Sayang menyayangi, hormat menghormati, lemah lembut dan bersih hati menjadi acuan dalam budaya Melayu Riau. Umumnya dilambangkan dalam ragam motif berbentuk bunga seperti bunga bakung, bunga sekuntum, bunga cengkih, bunga mentimun, bunga kundur, bunga kuntum setaman, bunga berjurai, dan lain-lain. Motif bunga dan kuntum menjadi "mahkota" dalam hiasan.

Nilai Kesuburan
Kemakmuran hidup lahiriah dan bathiniah, murah rezeki dan berkembang usaha, yang ujungnya mewujudkan kehidupan yang aman dan damai merupakan kandungan nilai kesuburan. Ragam motif pucuk rebung dan segala variasinya sangat mencerminkan nilai ini.

Nilai Tahu Diri
Adat mengungkapkan "tahu diri dengan perinya, tahu duduk dengan tegaknya, tahu alur dengan patutnya" yang tercermin dalam ragam motif bulan penuh, kaluk pakis, awan larat beserta segala variasinya.

Nilai Tanggung Jawab
Siku keluang, akar berjalin menjadi cerminan dari sifat bertanggung jawab orang Melayu dalam kehidupannya.


Rangkuman buku Tenas Effendy
(Corak Tenunan dan Ragam Hias Melayu)

Read more ...

Kamis, Juni 04, 2009

Penggunaan Ragam Motif Melayu

Ragam motif Melayu yang telah dijabarkan sebelumnya, merupakan bentuk dasar yang masih bisa dikembangkan. Ragam motif tersebut bisa digabungkan sehingga menjadi motif gabungan yang bukan sekedar motif tunggal yang memperkaya khazanah motif. Penggabungan tersebut sesuai dengan kemampuan masing-masing pembuat atau pun perajin yang mampu melihat "inti" setiap motif dan mengawinkannya atau menggabungkannya.

Ragam motif yang dibuat dapat dimanfaatkan untuk menghiasi bangunan dari ukiran kayu, hiasan dinding dari tembaga, tenunan kain, tekat maupun bentuk lainnya. Penempatan ragam motif lazimnya berdasarkan bentuknya. Semisal pada bidang yang memanjang diterapkan motif awan larat, itik pulang petang, dan kaluk pakis. Untuk bidang yang lapang atau luas lazimnya diterapkan motif bunga tunggal, bunga sekuntum ditambah bunga tabur.

Photobucket
Terminal Bis Antar Kota Antar Propinsi (AKAP)
Payung Sekaki Pekanbaru

gedung seni idrus tintin
Bandar Serai
Seni Raja Ali Haji Pekanbaru



Pada sebuah bangunan rumah, motif lebah bergayut lazimnya diterapkan pada "listplank" rumah yaitu bagian yang berada di sebelah dalam cucuran atap. Motif selembayung, sayap layang-layang atau pun sayap layangan lazimnya diterapkan pada ujung perabung dan ujung sudut cucuran atap. Pada bagian pagar teras atau kisi-kisi pagar jendela diterapkan motif gasing-gasing ataupun pinang-pinang.

Photobucket
Penerapan pada kain songket



Pada tudung saji dan bidang memanjang pelaminan lazimnya diterapkan motif wajik-wajik. Tenunan kain juga mempunyai kelaziman penerapan motif seperti pucuk rebung pada bagian bawah kain. motif-motif lainnya diterapkan sebagai penabur hias bidang kain lainnya. Kelaziman ini tidaklah membatasi kreativitas sepanjang tidak menyalahi nilai kandungannya. Semisal motif lebah bergayut yang diterapkan pada bagian dalam cucuran atau bagian lengkungnya sebelah bawah, jika dipasang terbalik akan menjadi motif ombak-ombak yang makna dan falsafahnya pun berbeda pula.

Beberapa motif telah dibakukan adat menjadi motif yang tidak sembarang bisa diterapkan, menjadi suatu hal pantang larang penerapan motif. Semisal motif yang dijadikan lambang kerajaan, antara lain, "Muhammad Bertangkup" pada lambang Kerajaan Siak dan Pelalawan, motif Naga Berjuang pada hiasan mahkota Raja Pelalawan, motif Cogan pada Kerajaan Riau-Lingga, termasuk juga penerapan motif pada cap kerajaan.

Lambang Kerajaan Siak Sri Indrapura
(dari buku Tenas Effendy)



Dirangkum dari buku Tenas effendy.
Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau.
Photo dari database HUT Pekanbaru 224/2008

Read more ...

Rabu, Juni 03, 2009

Cendera mata Sepatu Yong Dolah

Nizam tu kalaulah dah penat ngetik. Pasti dia tidur di lantai 3 kantor. Kadang terlewat jam istirahat. Terpaksalah kami cari ramai-ramai. Pas turun tangga dari lantai 3, Nizam pun sempat-sempatnya bercerita. dasar Nizam tukang cerita.

Yong Dollah waktu tu berangkat dari Bengkalis ke Singapore nak jual arang naik pompong. Laut teduh belinyang, tak bergelombang. Pas tengah selat Melaka, Yong keker, tenampak sebiji tong besar. Yong suruh kelasi dempetkan pompong ke tong besar tu dan naikkan ke atas dek. Yong buka. Alaaaaahhhh mak, isinya sepatu sebelah kiri semua. Yong suruh kelasi buang tong tu.

Pompong jalan lagi, selang 1 jam, ketemu tong besar lagi. Yong suruh kelasi naikkan tong ke dek. Yong buka. Alaaaaah mak, isinya sepatu sebelah kanan semua. Kalaulah tong pertama tadi Yong bawa, penduduk Bengkalis bakal dapat cendera mata sepatu buatan Jepang lah.


Itulah Yong tak nak simpan dulu sepatu belah kiri. Kalau disimpannya tentu dapat sepatu banyak buatan Jepang. Ah... dasar Yong. Tapi coba bayangkan besarnya tong tersebut, sepatu dalam tong tersebut bisa untuk semua penduduk Bengkalis. Haaaaaaa....


catatan :
pompong = kapal kecil bermesin
belinyang = mengkilat diterpa sinar matahari
sebiji = sebuah
selang 1 jam = setelah berlalu 1 jam (tambahan dari eppie-cool)
sepatu = kasut (tambahan anazkia dalam bahasa malaysia)
kantor = pejabat (tambahan anazkia dalam bahasa malaysia)
Read more ...

Selasa, Juni 02, 2009

Hut Pekanbaru ke 225





Orang tua memberi petuah
Agar kita selamat adanya
Pekanbaru Kota Bertuah
Dipandang orang di manca negara

Pesta rakyat pesta yang besar
Ditaja untuk HUT ke 225 Pekanbaru
Banyak acara yang akan digelar
Agar rakyat terhibur haru

Rakyat Pekanbaru akan berpesta
Di malam hari dirayakannya
Dimeriahkan Krisdayanti dan Cici Paramida
Dipandu oleh Tantowi Yahya

Bunga kiambang kuntum di pangkal
Ditambah siku keluang banji
Mari bertanding olahraga tradisional
Dalam pesta rakyat ini

Bunga melur kelopak beranak
Elok dipandang menjadi hiasan
Ada juga permainan budak-budak
Riuh rendah mereka berlari-larian

Orang memakai kembang terapung
Berjalan elok ke pekan raya
Bujang dara melenggang di panggung
Dalam acara festival budaya

Selamat merayakan hari jadi ke 225
Kota Pekanbaru
23 Juni 1784 - 23 Juni 2009



Read more ...

Senin, Juni 01, 2009

Linggis dan Tangga Yong Dollah

Habis penat ngetik Akte Kelahiran tugas dari bos, Nizam langsung bercerita. Haaaa orang lain yang belum siap ngetik pun jadi berhenti mendengar cerita Nizam.

Waktu tu Yong pergi memancing pakai joran. Joran Yong disentak dimakan ikan sampai Yong tercampak ke dalam air. Ikan terus menarik Yong kesana kemari sampai Yong tersangkut di batu. Yong coba tarik lepas tapi tak nak lepas. Yong ingat ada linggis dekat tangga. Yong ambil lingis, Yong tuil batu. Haaa... lepas.


Cerita ini hampir sama seperti cerita dibawah ini :
Emak nyuruh Yong ambil kelapa. Yong pun manjatlah ke atas pokok kelapa. Dah dapat 4 butir kelapa. Yong nak turun, tapi Yong takut. Yong tenampak tangga dekat dapur. Yong ambil tangga, lalu Yong pun turun lah.


Begitu cerita Nizam yang disambut dengan teriakan huuuuuuuuuuu...... oleh semuanya.

Catatan :
linggis = kuku kambing = pengungkit untuk melepaskan paku
tuil = ungkit
pokok = pohon


Read more ...

Minggu, Mei 31, 2009

Ragam Motif Melayu (Ukiran/Tenunan) - 02

Gambar akan dimuat dalam postingan tersendiri


Ragam Motif Melayu umumnya bersumber dari alam baik flora maupun fauna serta benda-benda angkasa. Benda-benda ini direka-bentuk, diabstrakkan atau dimodifikasi. Khusus untuk fauna, bentuknya sangat diabstrakkan untuk menghindari hal-hal yang berbau "keberhalaan". Semisal "itik pulang petang", "semut beriring", "lebah bergantung", "lebah bergayut", yang dilihat secara kasat mata tidaklah ternampak bentuk fauna atau hewan dimaksud. Ragam Motif Melayu juga mengambil dari kitab Al-Qur'an menjadi tulisan kaligrafi secara jelas yang dihiasi dengan ragam motif lain. Bentuk wajik, kubus, lingkaran dan segitiga pun melengkapi ragam motif melayu.

Ragam motif Melayu Riau juga umumnya bersamaan bentuk dan penamaan dengan ragam motif Melayu Malaysia dan Singapura karena dahulunya kedua kerajaan ini merupakan bentukan dari Kerajaan Bentan (Bintan) yang berada di Pulau Besar (diduga Pulau Bintan) sekitar tahun 1100 Masehi. Rajanya bernama Raja Asyhar-Aya beristeri Wan Seri Beni dan anaknya bernama Puteri Bintan. Kerajaan kemudian berkembang ke Singapura dan Melaka (Malaysia) bahkan sempat bergabung ke kerajaan Sriwijaya akibat perkawinan (rangkuman butang emas penggalan pertama).



awan larat kembang teratur


pucuk rebung berangkai


Sumber Ragam Motif Melayu :
Ragam Motif Tumbuh-tumbuhan
Bunga
Bunga Bakung
Bunga Melati
Bunga Kundur
Bunga Mentimun
Bunga Hutan
Bunga Kiambang
Bunga Cengkih
Bunga Setaman
Bunga Serangkai
Bunga Berseluk
Bunga Sanggit
Bunga Sejurai
Bunga Kembar
Bunga Tunggal
Kembang Selari

Kuntum
Kuntum Tak Jadi
Kuntum Merekah
Kuntum Serangkai
Kuntum Bersanding
Kuntum Kembar
Kuntum Berjurai
Kuntum Sejurai
Kuntum Jeruju
Kuntum Setanding
Kuntum Tak Sudah

Daun
Daun Bersusun
Daun Sirih
Daun Keladi
Daun Bersanggit Bunga
Susun Sirih Pengantin
Susun Sirih Sekawan
Daun Berseluk

Buah
Tampuk Manggis
Buah Hutan
Buah Delima
Buah Anggur
Buah Setangkai
Pisang-pisang
Pinang-pinang
Buah Kasenak
Buah Mengkudu
Delima Merekah

Akar-akaran
Kaluk Pakis
Kaluk Paku
Akar Bergelut
Akar Melilit
akar Berpilin
Akar Berjuntai
Akar-akaran
Belah Rotan
Pucuk Rebung

Ragam Motif Hewan
Unggas
Itik
Itik Pulang Petang
Ayam Jantan
Ayam Bersabung
Burung Punai
Burung Bangau
Burung Serindit
Burung Balam Dua Setengger
Burung Kurau
Kurau Mengigal
Garuda Menyambar
Burung Merak
Merak Sepasang
Siku Keluang

Hewan Melata
Ular-ularan
Ular Melingkar
Ular Tidur
Naga-nagaan
Naga Bersabung
Naga Bejuang
Naga Bertangkup

Hewan Buas
Singa-singaan
Harimau Jantan

Serangga
Semut Beriring
Lebah Bergantung / Lebah Bergayut
Kupu-kupu
Kupu-kupu Sepasang
Belalang Rusa
Sepatung/Cepatung Berkawan

Hewan Air
Ikan Bergelut
Ikan Sekawan
Ketam-ketam
Siangak Hanyut

Ragam Motif Benda Angkasa
Bulan Penuh
Bulan Sabit
Bulan Temaram
Bintang-bintang
Bintang Bertabur
Bintang Bersusun
Bintang Tiga
Bintang Lima
Bintang Tujuh
Bintang Meninggi Hari
Matahari Pagi
Awan Larat
Awan Bergelut

Ragam Motif Bentuk Tertentu
Segi Penjuru empat
Segi Penjuru Enam
Segi Lima
Segi Delapan
Segi Tiga
Segi Panjang
Bulat Penuh
Bujur Telur
Lengkung Anak Bulan
Lentik Bersusun

Ragam Motif Kaligrafi
Mengacu kepada Ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur'an bersifat kaligrafi



Sumber :
Pelajaran SMA dan buku Tenas Effendy
(Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau)
Read more ...

Sabtu, Mei 30, 2009

Bermain Bola Bersama Yong Dollah

Pagi sabtu sehabis olahraga senam, kami duduk-duduk dibawah pohon beringin. Bubur kacang hijau pun dah habis. Teh panas pun tinggal sikit. Mulailah Nizam membual.

Yong waktu tu nak olahraga juga. Yong pergi ke lapangan bola nak main bola kaki sama orang besar. Puas Yong lari sana lari sini nak rebut bola, tak dapat-dapat. Yong asyik kena kilik-kilik lawan terus. Yong pun tak dapat opor dari kawan. Pas Yong dapat bola, itu pun kena rebut lawan. Yong meradang. Yong tangkap bola tu pakai tangan. Yong tendang bola tu ke atas. Lalu Yong balek ke rumah. Yong lapar, lalu Yong makan. Abis makan, Yong ke lapangan lagi. Sampai di lapangan, bola tadi yang Yong tendang pun baru turun dari langit.


Cerita ini persis seperti salah satu iklan di tv yang mana bola ditendang, terus memutari bola dunia dan kembali ke penendang semula. Cerita ini diceritakan ulang karena Barcelona menang 2-0 melawan Manchester United dalam pertandingan Liga Champions 2009 yang berlangsung di Roma Italia.

Catatan :
orang besar = dewasa
kilik-kilik = main-mainkan
opor = beri = over
balek = balik

Read more ...

Jumat, Mei 29, 2009

Ragam Motif Melayu (Ukiran/Tenunan) - 01

Gambar akan dimuat dalam postingan tersendiri


Sebagaimana daerah lainnya, Melayu juga terkenal dengan ragam motif (berbagai corak, ragi, hias, acuan induk, bentuk dasar, bentuk asal, pola) untuk ukiran, tenunan, atau bahkan hanya untuk gambar hiasan. Melayu memiliki beraneka ragam motif dasar yang menjadi khazanah budaya sejak ratusan tahun lalu sampai ke jaman kerajaan Riau-Lingga dan sampai sekarang pun masih tetap dipergunakan dan dilestarikan. Ragam motif melayu ini umumnya diterapkan pada ukiran kayu, ukiran perunggu, ukiran perak, maupun ukiran emas, serta pada bahan ukir lainnya. Ukiran juga diterapkan pada tenunan kain semisal di daerah Siak, Daik Lingga, Pelalawan, Inderagiri, Bengkalis, Siantan, dan daerah lainnya. Ragam motof ini diajarkan turun temurun semisal ayah mengajarkan ukiran pada kayu, atau ibunya mengajarkan anak perempuannya untuk menenun.

Ragam motif melayu bukan hanya sekedar gambar, ukiran atau tenunan yang menjadi hiasan semata, tetapi mempunyai makna dan falsafah tertentu menjadi lambang dan nilai-nilai luhur budaya Melayu. Jadi Ragam Motif Melayu mempunyai dua fungsi yaitu :
1. Hiasan
2. Penyebarluasan nilai-luhur budaya Melayu

Ragam motif diatur penempatan yang tepat padan sesuai oleh adat. Ada yang untuk tenunan, sulaman, tekat, suji, anyaman, hiasan bangunan, bahkan untuk lambang kerajaan. Sebagian lagi bisa dipergunakan untuk serbaguna dimana saja. Secara umum, berbagai ragam morif ini mempunyai kesamaan nama dan bentuk pada berbagai daerah, tetapi ada juga yang berbeda. Tetapi semuanya mengacu kepada kesamaan yang mendasar yakni budaya Melayu yang mengacu kepada ajaran agama Islam.

Terkikisnya kerajaan-kerajaan Melayu telah ikut memudarkan ragam motif Melayu itu sendiri, walau tidaklah hilang sepenuhnya. Banyak perajin ukiran dan tenunan yang berkurang jauh dari pada sebelumnya. Untuk Kepulauan Riau, khususnya di Daik Lingga, kerajinan perunggu, tenunan, sulam dan suji telah lesap (hilang sejak berpuluh tahun lalu), kecuali tekat. Saat ini sudah tidak bisa dengan mudah mencari orang yang bisa menenun. Ragam motif yang ada dahulu menjadi terbiar dan akhirnya sebagian mengalami kepunahan. Begitu juga di tempat-tempat lain di Riau. Pemerintah beserta masyarakat telah berupaya untuk membangkitkan kembali ragam motif Melayu, sehingga sekarang sudah mulai ada yang mencoba untuk belajar menenun, mengukir, dan membuat hiasan bangunan.


Sumber :
Pelajaran SMA plus buku Tenas Effendy
Read more ...

Kamis, Mei 28, 2009

Yong Jadi Imam

Kali ini Nizam Hitam Legam, kawan aku yang suka bercerita ini, pun nak bercerita lagi. Tukang cerita alias pembual berbeda dengan pembengak. Pembual walaupun tak jelas mana yang benar dan mana yang tak benar, bercerita untuk melucu, maksud berbohong hanya sekedar untuk melucu. Pembengak, jelas bercerita tidak benar dan sengaja berbohong dengan maksud tidak baik. Walau kadang susah membedakan antara pembual dengan pembengak, aku mengelompokkan Nizam sebagai pembual, bercerita (walau ada bohongnya) tetapi hanya sekedar untuk melucu. Ini cerita Nizam yang lain tentang Yong Dollah.


Kala masa itu, Yong pergi ke surau nak shalat maghrib. Imam tak datang. Terpaksalah Yong jadi imam. Rakaat 1 dan 2 pun selesai. Masuk ke rakaat ke-3. Pada sujud terakhir, Yong agak lambat bangkit. Abis bangkit ke duduk, baca syahadat, basikan sikit waktu, lalu baca salam lêkom kanan dan kiri.

Pas nak balêk, ada aral sedikit hari hujan. Saat itu Bengkalis lagi musim hujan. Maka Yong dan kawan lainnya yang jadi makmum pun duduk sebentar. Alêh-alêh, ada yang bertanya, "Yong ngape ngentam lambat sangat bangkit dari sujud terakhir tadi?".
"Yong tadi terdengar anak ayam teciap-ciap. Ciap pertama tak sama dengan ciap kedua dan ciap selanjutnya. Yong itung ada 10 ciap".
"Haaaaa... Yong itung ciap ayam waktu sujud tadi?"
"Ye".
"Astaga... ulang balêk shalat maghrib semua. Tak sempurna semayang kite. Cepat sikit, nanti abis waktu maghribnya".


Haaa... itulah kalo tak konsen sama shalat. Ulang lagi lah.



Catatan :
Dialek Melayu umumnya menggunakan huruf e lemah sehingga "ye" orang melayu beda dengan "ye" orang betawi yang menggunakan huruf e keras. (mencoba mengingat2 lagi pelajaran waktu SD dulu).

ê = huruf e yang dibaca keras, contoh : pena
e = huruf e yang dibaca lemah, contoh : sekolah

ye = ya
basikan sikit waktu = lebihkan sedikit waktu
nak = mau
balek = balik
aleh-aleh = tiba-tiba
ngape ngentam = apa masalah
teciap-ciap = bunyi anak ayam
salam lekom = assalamu'alaikum
semayang = sembahyang


Read more ...

Rabu, Mei 27, 2009

Yong Nak Keker

"Nizam, dikau nak kemane? Kemarilah kejap".
Nizam pun datang dengan jalannya yang terhegeh-hegeh. Ape cerite sekarang ni? Nizam pun dengan senyum mekar bak bunga raya ke siram air got pun membuka mulutnya yang besar. Seribu lalat bisa masuk ke dalamnya. Tapi kita bisa bingung apakah lalatnya udah masuk atau belum, karena kulit lalat yang umumnya hitam tak jauh beda dengan kulit Nizam yang hitam juga.

"Haaaa... kalian dengar cakap aku", begitu dia nak mulai bercerita. Padahal dia tadi seharusnya disuruh bos ngantar Akte Kelahiran yang siap diteken. Kami cegat dia bentar. Hobbynya bercerita pun bisa tersalurkan. Kali ini dia bercerita tentang Yong Dollah yang ngeker.

Yong waktu tu pergi ke Bukittinggi dari Pekanbaru melewati Bukit Barisan. Yong naik lori pergi kesana. Pas diatas bukit, Yong nak melihat pakai keker.
"Ape yang nampak Yong?"
"Tenampak Pulau Bengkalis"
"Ape lagi Yong?"
"Haaaa nampak mak lagi menampi beras"
"Lalu"
Yong pun berteriak :
"Maaaaak, kalau dah masak nanti, bilang ke Yong ye!"


alaaahh mak, macam mane nak dengar. Jarak Bukit Barisan ke Pulau Bengkalis itu sekitar 400 km.
Ah... Yong ade-ade aje.

Catatan dari Nizam :
lori=truk
ngeker=keker=teropong
ade=ada (diucap dengan e lemah)
aje=saja (diucap dengan e lemah)
ye=ya (diucap dengan e lemah)

Read more ...

Selasa, Mei 26, 2009

Pembual

Pembual itu semacam tukang cerita atau bisa juga orang yang suka bicara saja yang sulit menemukan mana yang benar dan mana yang tak benar. Walaupun kadang bersifat tak baik, tapi masih ada untungnya juga. Semisal kawanku satu ini. Tukang bual alias pembual yang selalu bercerita lucu yang terkadang tak masuk dalam pikiran. Namanya Nizam, orangnya hitam legam, badan tegap, logatnya berbahasa Bengkalis yang banyak menggunakan huruf “o” terkadang campur-campur dengan logat bahasa Tanjung Pinang yang banyak menggunakan huruf “e” lemah. Cerita kawan ini umumnya tentang bualan seorang tokoh pembual Bengkalis, aku pun tak yakin apakah tokoh itu sebenar ada atau sememang itu bualan kawanku ini. Tokoh itu bernama Yong Dollah. Katanya bernama asli Abdullah anak sulung dari sekian saudara (ini kata Nizam). Sering duduk di kedai kopi sambil minum kopi, orang melayu menyebutnya kahwa atau “kahwe” (dengan huruf “e”). Minum kopi sambil makan roti bakar di waktu pagi sebagai sarapan maupun di waktu sore melepas penat bekerja, bahkan terkadang di malam hari sambil kongkow-kongkow dengan teman-teman. Kebiasaan yang tak lepas dari budaya China dan Siam.

Terbilangnya tokoh Yong Dollah tidak dapat dipandang sebelah mata karena begitu terkenal di lingkungan orang-orang Melayu baik bersempena dengan tokoh ini langsung maupun penggunaan nama Yong Dollah pada nama panggilan sehari-hari beberapa orang Melayu.

Yong, sebagian orang mengatakan sebagai pengganti nama sebutan “orang muda” dan sebagian lain beranggapan sebagai pengganti nama sebutan “anak sulung”. Dollah, umumnya berasal dari nama sebenarnya “Abdullah” ataupun “Dullah”. Sehingga Yong Dollah menjadi suatu nama panggilan yang akrab bagi masyarakat Melayu. Sama seperti nama Atan, Awang, Ajak, Amad, untuk anak/orang lelaki. Dan nama-nama umum anak/orang perempuan Melayu seperti Siti, Lela, Laila, Nong, Nur, dan lain-lain.

Nama-nama umum itu bisa ditambahi gelar atau sebutan panggilan tambahan. Biasanya sesuai dengan keadaan si empunya nama, misalnya :

Wak : orang yang telah terbiasa dipanggil oleh ponakan yang berarti paman/om atau tante/bibi, sehingga menjadi Wak Atan, Wak Amad, Wak Siti, Wak Lela, dan lainnya.

Mak : menjadi kebiasaan panggilan bagi perempuan Melayu yang telah berumur misalnya menjadi kebiasaan panggilan Mak Ucu, Mak Uteh, Mak Ude, Mak Njang, dan sebagainya.

Cik : berasal dari gelar kebangsawanan bagi keturunan China tetapi telah dipergunakan luas ke berbagai suku lain, sehingga orang Melayu pun ada juga yang dipanggil misalnya Cik Awang ataupun misalnya Cik Siti.

Long : menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak paling sulung.

Ngah : menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak tengah, baik yang kedua ataupun yang lain tetapi bukan panggilan anak yang paling kecil.

Ude : menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak yang paling muda ataupun nomor kedua muda.

Ucu : menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak yang paling kecil atau bungsu.

Uteh : orang yang berkulit putih

Itam : orang yang berkulit hitam

Njang atau Anjang : orang yang tinggi

Iting : orang yang berambut keriting

Yek : umumnya dipergunakan sebagai sebutan diawal nama panggilan kebiasaan bagi kalangan Bugis Melayu sehingga misalnya panggilan menjadi Yek Long, Yek Ucu, Yek Ngah, Yek Ude, atau di depan nama menjadi misalnya Yek Atan, Yek Awang, Yek Amat.

Demikian sekilas yang dapat disampaikan sebelum memulai cerita berikut-berikutnya yang coba diingat 11 tahun lalu tepatnya di tahun 1998, ketika saya masih awal-awal ketemu dan berteman dengan Nizam Hitam Legam yang sering menceritakan tentang Yong Dollah.


Read more ...

Senin, Mei 25, 2009

gerubuk buruk

Melayu, yang dimaksud orang Melayu bukanlah dilihat daripada tempat asalnya seseorang ataupun dari keturun darahnya saja. Seseorang itu dapat juga disebut Melayu apa bila ia beragama Islam, berbahasa Melayu dan mempunyai adat-istiadat Melayu. Orang luar ataupun bangsa lain yang datang lama dan bermukim di daerah ini dipandang sebagai orang Melayu apabila ia beragama Islam, mempergunakan bahasa Melayu dan beradat istiadat Melayu.

Di Indonesia yang dimaksud dengan suku bangsa Melayu adalah yang mempunyai adat istiadat Melayu, yang bermukim terutamanya di sepanjang pantai timur Sumatera, di Kepulauan Riau, dan Kalimantan Barat. Pemusatan suku bangsa Melayu adalah di wilayah Kepulauan Riau. Tetapi jika kita menilik kepada yang lebih besar untuk kawasan Asia Tenggara, maka ianya terpusat di Semenanjung Malaya. (http://butang-emas.blogspot.com/)

Dalam perkataan Melayu, terdapat sebuah kata yang sudah jarang sekali diperkatakan (walaupun masih banyak perkataan Melayu yang sudah jarang disebut dan didengar) yaitu "gerubuk". Emakku menyebut gerubuk sebagai suatu lemari yang dipergunakan di dapur sebagai tempat menyimpan lauk-pauk ataupun sebagian dari bahan makanan. Melayu tak lepas dari masakannya yang mengundang selera. Dan dalam upaya mengingat kata-kata lama yang sudah terasa asing bagi sebagian orang, maka judul "gerubuk buruk" diangkat. Kata-kata usang yang sebagian dianggap buruk dan tak laku lagi mungkin bisa menyeruak dunia. Tak lah akan hilang di muka bumi ini.

Gerubuk sebagai wadah penyimpan segala sesuatu yang diperlukan walau berbentuk buruk, bukanlah berarti tidak diperlukan, bukanlah berarti akan dibuang. Gerubuk buruk menyimpan sesuatu yang sangat berharga. Demi marwah Melayu.


gambar dibuat dengan fasilitas http://www.onemotion.com/flash/sketch-paint/

Read more ...

Artikel bersempena