Selasa, Mei 26, 2009

Pembual

Pembual itu semacam tukang cerita atau bisa juga orang yang suka bicara saja yang sulit menemukan mana yang benar dan mana yang tak benar. Walaupun kadang bersifat tak baik, tapi masih ada untungnya juga. Semisal kawanku satu ini. Tukang bual alias pembual yang selalu bercerita lucu yang terkadang tak masuk dalam pikiran. Namanya Nizam, orangnya hitam legam, badan tegap, logatnya berbahasa Bengkalis yang banyak menggunakan huruf “o” terkadang campur-campur dengan logat bahasa Tanjung Pinang yang banyak menggunakan huruf “e” lemah. Cerita kawan ini umumnya tentang bualan seorang tokoh pembual Bengkalis, aku pun tak yakin apakah tokoh itu sebenar ada atau sememang itu bualan kawanku ini. Tokoh itu bernama Yong Dollah. Katanya bernama asli Abdullah anak sulung dari sekian saudara (ini kata Nizam). Sering duduk di kedai kopi sambil minum kopi, orang melayu menyebutnya kahwa atau “kahwe” (dengan huruf “e”). Minum kopi sambil makan roti bakar di waktu pagi sebagai sarapan maupun di waktu sore melepas penat bekerja, bahkan terkadang di malam hari sambil kongkow-kongkow dengan teman-teman. Kebiasaan yang tak lepas dari budaya China dan Siam.

Terbilangnya tokoh Yong Dollah tidak dapat dipandang sebelah mata karena begitu terkenal di lingkungan orang-orang Melayu baik bersempena dengan tokoh ini langsung maupun penggunaan nama Yong Dollah pada nama panggilan sehari-hari beberapa orang Melayu.

Yong, sebagian orang mengatakan sebagai pengganti nama sebutan “orang muda” dan sebagian lain beranggapan sebagai pengganti nama sebutan “anak sulung”. Dollah, umumnya berasal dari nama sebenarnya “Abdullah” ataupun “Dullah”. Sehingga Yong Dollah menjadi suatu nama panggilan yang akrab bagi masyarakat Melayu. Sama seperti nama Atan, Awang, Ajak, Amad, untuk anak/orang lelaki. Dan nama-nama umum anak/orang perempuan Melayu seperti Siti, Lela, Laila, Nong, Nur, dan lain-lain.

Nama-nama umum itu bisa ditambahi gelar atau sebutan panggilan tambahan. Biasanya sesuai dengan keadaan si empunya nama, misalnya :

Wak : orang yang telah terbiasa dipanggil oleh ponakan yang berarti paman/om atau tante/bibi, sehingga menjadi Wak Atan, Wak Amad, Wak Siti, Wak Lela, dan lainnya.

Mak : menjadi kebiasaan panggilan bagi perempuan Melayu yang telah berumur misalnya menjadi kebiasaan panggilan Mak Ucu, Mak Uteh, Mak Ude, Mak Njang, dan sebagainya.

Cik : berasal dari gelar kebangsawanan bagi keturunan China tetapi telah dipergunakan luas ke berbagai suku lain, sehingga orang Melayu pun ada juga yang dipanggil misalnya Cik Awang ataupun misalnya Cik Siti.

Long : menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak paling sulung.

Ngah : menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak tengah, baik yang kedua ataupun yang lain tetapi bukan panggilan anak yang paling kecil.

Ude : menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak yang paling muda ataupun nomor kedua muda.

Ucu : menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak yang paling kecil atau bungsu.

Uteh : orang yang berkulit putih

Itam : orang yang berkulit hitam

Njang atau Anjang : orang yang tinggi

Iting : orang yang berambut keriting

Yek : umumnya dipergunakan sebagai sebutan diawal nama panggilan kebiasaan bagi kalangan Bugis Melayu sehingga misalnya panggilan menjadi Yek Long, Yek Ucu, Yek Ngah, Yek Ude, atau di depan nama menjadi misalnya Yek Atan, Yek Awang, Yek Amat.

Demikian sekilas yang dapat disampaikan sebelum memulai cerita berikut-berikutnya yang coba diingat 11 tahun lalu tepatnya di tahun 1998, ketika saya masih awal-awal ketemu dan berteman dengan Nizam Hitam Legam yang sering menceritakan tentang Yong Dollah.


Artikel bersempena