Sabtu, Juni 06, 2009

Makna dan Falsafah Ragam Motif Melayu

Gambar akan dimuat dalam postingan tersendiri


Makna dan Falsafah

"Dalam acuan reka bentuk terdapat makna yang dalam, yang semakin disimak, semakin terasa ketinggian mutunya"

Ragam motif Melayu mengandung makna dan falsafaf yang mengacu kepada sifat asal dari setiap sumber, dipadukan dengan nilai kepercayaan dan budaya, disimpai dengan nilai luhur agama Islam. Adat resam mengatur pemakaian dan penempatannya. Kearifan orang-orang tua Melayu yang menyimak alam sekitarnya memberikan ragam motif yang begitu banyak. Ketika dahulu, setiap perajin ukiran ataupun tenunan serta lainnya diharuskan untuk memahami makna dan falsafaf yang terkandung dalam setiap ragam motif. Keharusan ini dimaksudkan agar mereka secara pribadi mampu menyerap dan menghayati nilai-nilai yang dimaksud, menyebarluaskan, menunjuk ajar, menempatkan sesuai alur patutnya.

Nilai Ketaqwaan kepada Allah
Orang Melayu Riau adalah penganut agama Islam yang mana nilai-nilai itu mempengaruhi budaya. Dalam ungkapan adat dikatakan "Berpijak pada Yang Satu" atau "Hidup berselimut adat, mati berkafan iman". Ini tercermin dalam ragam motif bulan sabit, bintang-bintang, kaligrafi, dan lain-lain.

Nilai Kerukunan
Kerukunan hidup sangatlah dijunjung tinggi orang Melayu yang tersimpul dalam ragam motif balam dua setengger, akar berpilin, sirih bersusun, kembang setaman, dan lain-lain. kerukunan juga mencerminkan rasa persatuan dan kesatuan, kegotongroyongan dan timbang rasa yang tinggi. Dapat dilihat pada ragam motif semut beriring, itik pulang petang, bunga berseluk daun, ikan sekawan, dan lain-lain. Sesuai ungkapan "senasib sepenanggungan, seaib, semalu", "yang berat sama dipikul, yang ringan sama dijinjing", "ke laut sama berbasah, ke darat sama berkering", atau "mendapat sama berlaba, hilang sama merugi", bahkan "persebatian iman" atau "perpaduan umat". Landasan ini semua menyebabkan orang Melayu selalu menerima siapa pun yang datang ke daerah melayu dengan muka jernih dan hati yang bersih. Keterbukaan yang lambat-laun melahirkan masyarakat Melayu yang majemuk dengan kebudayaannya yang majemuk pula.

Nilai Kearifan
Arif dalam menyimak dan bijaksana dalam bertindak menjadi salah satu landasan sifat orang Melayu. "Yang arif menjemput tuah, yangbijak menjemput marwah" terpateri dalam ragam motif burung serindit yang dimitoskan sebagai lambang kearifan dan kebijaksanaan Melayu.

Nilai Kepahlawanan
Orang Melayu menjunjung tinggi nilai-nilai kepahlawanan seperti dalam ungkapan "esa hilang dua terbilang, tak Melayu Hilang di bumi", "sekali layar terkembang, pantang berbalik pulang", atau "sekali masuk gelanggang, pantang berbalik belakang". Nilai ini juga bermanfaat untuk pemberi semangat dan menaikkan keberanian. Disimpai dalam ragam motif naga berjuang, naga bertangkup, garuda menyambar, ayam jantan, dan lain-lain. Ragam motif ini umumnya dipergunakan pada benda-benda kerajaan, alat perlengkapan upacacara adat, senjata, dan sebagainya.

Nilai Kasih Sayang
Sayang menyayangi, hormat menghormati, lemah lembut dan bersih hati menjadi acuan dalam budaya Melayu Riau. Umumnya dilambangkan dalam ragam motif berbentuk bunga seperti bunga bakung, bunga sekuntum, bunga cengkih, bunga mentimun, bunga kundur, bunga kuntum setaman, bunga berjurai, dan lain-lain. Motif bunga dan kuntum menjadi "mahkota" dalam hiasan.

Nilai Kesuburan
Kemakmuran hidup lahiriah dan bathiniah, murah rezeki dan berkembang usaha, yang ujungnya mewujudkan kehidupan yang aman dan damai merupakan kandungan nilai kesuburan. Ragam motif pucuk rebung dan segala variasinya sangat mencerminkan nilai ini.

Nilai Tahu Diri
Adat mengungkapkan "tahu diri dengan perinya, tahu duduk dengan tegaknya, tahu alur dengan patutnya" yang tercermin dalam ragam motif bulan penuh, kaluk pakis, awan larat beserta segala variasinya.

Nilai Tanggung Jawab
Siku keluang, akar berjalin menjadi cerminan dari sifat bertanggung jawab orang Melayu dalam kehidupannya.


Rangkuman buku Tenas Effendy
(Corak Tenunan dan Ragam Hias Melayu)

Artikel bersempena

  • Tahun Hutan - Tahun Hutan Sebagai Upaya Konservasi Hutan Dunia Ada sekitar 4 miliar hektar hutan di dunia, yang menutupi hampir 30 persen dari wilayah daratan bumi. Sekita...
  • Seminar Ornamen - Tempat : Museum Sang Nila Utama Waktu : Sabtu, 18 Oktober 2014 Pukul : 09.00 wib Pembicara :  - Junaidi Syam/ Jon Kobet (Pemahaman Ornamen Khas Melayu Ri...
  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini d...