Kamis, Juni 04, 2009

Penggunaan Ragam Motif Melayu

Ragam motif Melayu yang telah dijabarkan sebelumnya, merupakan bentuk dasar yang masih bisa dikembangkan. Ragam motif tersebut bisa digabungkan sehingga menjadi motif gabungan yang bukan sekedar motif tunggal yang memperkaya khazanah motif. Penggabungan tersebut sesuai dengan kemampuan masing-masing pembuat atau pun perajin yang mampu melihat "inti" setiap motif dan mengawinkannya atau menggabungkannya.

Ragam motif yang dibuat dapat dimanfaatkan untuk menghiasi bangunan dari ukiran kayu, hiasan dinding dari tembaga, tenunan kain, tekat maupun bentuk lainnya. Penempatan ragam motif lazimnya berdasarkan bentuknya. Semisal pada bidang yang memanjang diterapkan motif awan larat, itik pulang petang, dan kaluk pakis. Untuk bidang yang lapang atau luas lazimnya diterapkan motif bunga tunggal, bunga sekuntum ditambah bunga tabur.

Photobucket
Terminal Bis Antar Kota Antar Propinsi (AKAP)
Payung Sekaki Pekanbaru

gedung seni idrus tintin
Bandar Serai
Seni Raja Ali Haji Pekanbaru



Pada sebuah bangunan rumah, motif lebah bergayut lazimnya diterapkan pada "listplank" rumah yaitu bagian yang berada di sebelah dalam cucuran atap. Motif selembayung, sayap layang-layang atau pun sayap layangan lazimnya diterapkan pada ujung perabung dan ujung sudut cucuran atap. Pada bagian pagar teras atau kisi-kisi pagar jendela diterapkan motif gasing-gasing ataupun pinang-pinang.

Photobucket
Penerapan pada kain songket



Pada tudung saji dan bidang memanjang pelaminan lazimnya diterapkan motif wajik-wajik. Tenunan kain juga mempunyai kelaziman penerapan motif seperti pucuk rebung pada bagian bawah kain. motif-motif lainnya diterapkan sebagai penabur hias bidang kain lainnya. Kelaziman ini tidaklah membatasi kreativitas sepanjang tidak menyalahi nilai kandungannya. Semisal motif lebah bergayut yang diterapkan pada bagian dalam cucuran atau bagian lengkungnya sebelah bawah, jika dipasang terbalik akan menjadi motif ombak-ombak yang makna dan falsafahnya pun berbeda pula.

Beberapa motif telah dibakukan adat menjadi motif yang tidak sembarang bisa diterapkan, menjadi suatu hal pantang larang penerapan motif. Semisal motif yang dijadikan lambang kerajaan, antara lain, "Muhammad Bertangkup" pada lambang Kerajaan Siak dan Pelalawan, motif Naga Berjuang pada hiasan mahkota Raja Pelalawan, motif Cogan pada Kerajaan Riau-Lingga, termasuk juga penerapan motif pada cap kerajaan.

Lambang Kerajaan Siak Sri Indrapura
(dari buku Tenas Effendy)



Dirangkum dari buku Tenas effendy.
Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau.
Photo dari database HUT Pekanbaru 224/2008

Artikel bersempena

  • Open Recruitment - Riau Heritage sedang membuka kesempatan kepada teman-teman yang berminat untuk menjadi relawan. Kita belum bisa settle jadwal ngumpul bareng nih, tapi buat ...
  • Tahun Hutan - Tahun Hutan Sebagai Upaya Konservasi Hutan Dunia Ada sekitar 4 miliar hektar hutan di dunia, yang menutupi hampir 30 persen dari wilayah daratan bumi. Sekita...
  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini d...