Minggu, Juni 07, 2009

Tamadun Melayu

Dulu kala ketika kutanya sama emakku, apa arti tamadun, beliau menjawab bahwa tamadun berarti maju, naik, meningkat, begitulah kira-kiranya. Sememang susah juga mau mencari arti pada sebuah kata yang sudah agak tergerus zaman. Sedikit ada penjelasan yang cukup terang dari seorang abang ipar yang menjadi salah satu pengurus Lembaga Adat Melayu Sumatra. Dia menjelaskan bahwa tamadun itu berarti membangun atau memajukan sesuatu dalam arti positif. Baik suatu masyarakat, budaya, kota, ekonomi. Jelasnya lagi bahwa tamadun berasal dari kata Arab yaitu “maddana” yang bermiripan dengan umran, madaniyah, atau dalam bahasa Inggris disamakan dengan culture dan civilisation. Tamadun pun berkembang ke arah pencapaian tinggi di bidang lain semisal tekhnologi. Mewarisi budaya Melayu pun dianggap sebagai tamadun yang berarti memajukan budaya Melayu dalam segala segi baik adat istiadat, seni, perilaku, falsafah hidup, sikap, juga kehalusan budi pekerti.

“Bercakap tentang kebudayaan Melayu, Riau sebagai salah satu Bumi Melayu di dunia ini, memang tak pernah sunyi dari aktivitas dan kreativitas budaya. Itulah anugerah Allah Azza wa Jalla yang senantiasa harus disyukuri. Betapa tidak? Kebudayaan selalu memberikan kebanggaan bagi setiap pendukungnya, tak terkecuali orang Melayu Riau. Bahkan, kebudayaan kerap memberikan ketenangan, kebahagiaan, kesejahteraan, dann pada akhirnya menjadi penyelesai segala yang kusut-masai. Berpaling dari kebudayaan berarti mengundang malapetaka”
(Drh. H. Chaidir, MM, selaku Ketua DPRD Propinsi Riau, Juli 2003)


Budaya Melayu tentunya diterapkan oleh orang Melayu yang berjati diri sebagai orang yang ramah, pandai bergaul, rajin, memiliki rasa seni yang tinggi, pandai menyesuaikan diri dengan siapapun serta memiliki pengertian, yang kesemuanya patutlah terus dikembangkan. Di samping itu, masyarakatnya yang menganut agama Islam dengan kuat, beradat Melayu dan berbahasa Melayu serta dahulunya orang Melayu merupakan bangsa pelaut atau pejuang bahari, pedagang dan bangsa pemberani. Sampai ke hari ini dipercayai bangsa Melayu masih memiliki dan mempertahankan jati dirinya. Orang Melayu selalu memiliki pandangan jauh ke depan dan selalu ingin belajar untuk menuntut ilmu pengetahuan dengan tidak meninggalkan budaya yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Sebenarnya dengan kemampuan itu, pada masanya akan selalu mampu untuk bersaing sekaliannya menjawab tantangan masa depan.

Orang Melayu selalu percaya kepada Allah SWT dan selalu mengikuti ajaran Rasulullah; hal ini diperkuat dengan peribahasa : Bergantung kepada satu, berpegang kepada yang Esa.

Orang Melayu taat kepada hukum demi keamanan dan kemakmuran masyarakatnya, seperti peribahasa : Adat itu jika tidur menjadi tilam, jika berjalan menjadi payung, jika di laut menjadi perahu, jika di tanah menjadi pusaka. Atau Mati anak heboh sekampong, mati adat heboh sebangsa. Walaupun demikian, tidak berarti adat resam tiada boleh berubah. Jika ianya tiada berkesesuaian, maka hal yang sedemikian dapatlah diubah tanpa mengundang kepada perkara yang menghebohkan. Hal ini bersesuaian dengan peribahasa Melayu yang berbunyi : Sekali air bah, sekali tepian berubah. Atau Tiada gading yang tak retak.

Orang Melayu mengutamakan budi dan bahasa, karena keduanya menunjukkan kepada sopan santun dan tinggi peradabannya. Seperti peribahasa mengatakan : Usul menunjukkan asal, bahasa menunjukkan bangsa. Atau Taat pada petuah, setia pada sumpah, mati pada janji, melarat karena budi. Atau Hidup dalam pekerti, mati dalam budi. Selain daripada itu, di dalam pantun Melayu juga tersirat :
Gunung Bintan lekuk di tengah
Gunung Daik bercabang tiga,
Hancur badan di kandung tanah,
Budi baik dikenang juga.


Orang Melayu mengutamakan pendidikan dan ilmu. Hal ini tercermin dalam peribahasa : Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, atau Menuntut ilmu itu sejak dalam buaian sampai ke liang lahat.

Orang Melayu mengutamakan budaya Melayu, becakap tidaklah kasar, berbaju menutupi aurat, menjauhkan pantang larang dan dosa. Biarlah mati daripada keluarga menanggung malu. Orang Melayu juga pandai menjaga air muka orang lain. Kalaupun marah cukup dengan sindiran. Seperti peribahasa mengatakan : Marahkan anak, sindir menantu.

Orang Melayu mengutamakan musyawarah dan mufakat sebagai sendi kehidupan. Di dalam segala hal baik perkawinan, kematian, kenduri, mendirikan rumah, maupun dalam pemerintahan. Bahkan nilai-nilai ini juga dilaksanakan bagi pendatang sehingga orang Melayu sangat terkenal dengan keterbukaannya. Ada pantun yang berbunyi
Apabila meraut selodang buluh
Siapkan lidi buang miangnya
Apabila menjemput orang jauh
Siapkan nasi dengan hidangnya


Orang Melayu tak suka mencari lawan ataupun melawan, seperti ungkapan yang mengatakan : Pantang Melayu untuk mendurhaka. Tetapi akan melawan jika ianya terdesak, seperti pribahasa mengatakan : Musuh pantang dicari, kalau datang tidak menolak. Atau pribahasa : Alang-alang menceluk pekasam, biar sampai ke pangkal lengan. Di dalam pantun diungkapkan :
Kalau sudah dimabuk pinang,
Daripada ke mulut biarlah ke hati
Kalau sudah maju ke gelanggang
Berpantang surut biarlah mati


Budaya sebagai suatu ciri khas hidup manusia yang ada di tempatannya bisa karena kebiasaan atau sesuatu yang dibiasakan. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Sama seperti budaya Melayu dari segala segi. Kebiasaan yang diadatkan, maupun adat yang diadatkan. Itulah ciri khas suatu suku, suatu kumpulan, suatu bangsa, yang harusnya dipelihara sampai ke anak cucu.


Artikel bersempena