Jumat, September 04, 2009

Ketika Hang Tuah Menjadi Disertasi

SEORANG anak bernama Sulastin Sutrisno, pada akhir tahun tiga puluhan, masih duduk di bangku sekolah dasar, terpikat pada dua buah buku, yaitu Door Duisternis tot Licht (Kumpulan Surat-surat RA Kartini) dan Hikajat Hang Tuah. Ia begitu ingin membaca kedua buku tersebut. Beberapa tahun kemudian setelah memasuki jenjang pendidikan menengah dan tinggi, keinginan sang anak baru terwujud.

Tak hanya itu saja. Kedua buku itu, empat puluh tahun kemudian, pada tahun 1979, benar-benar mewarnai hidup Sulastin Sutrisno. Buku pertama, Door Duisternis tot Licht, ia terjemahkan dan terbit pada bulan Maret, 1979, dengan judul Surat-surat Kartini. Sementara, pada bulan Juli, Sulastin berhasil mempertahankan disertasinya tentang Hikajat Hang Tuah dengan predikat "sangat memuaskan" di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta (Kompas, 18/4/1982). Dengan Hikajat Hang Tuah, Prof Dr (alm) Sulastin Sutrisno tidak hanya berhasil meraih gelar doktor. Ia juga tercatat sebagai doktor ilmu sastra pertama di UGM.

Disertasinya yang berjudul Hikajat Hang Tuah, Analisis Struktur dan Fungsi, pada tahun 1984, kemudian diterbitkan sebagai buku. Sebelum diangkat dalam sebuah disertasi, menurut Sulastin Sutrisno, beberapa penelitian yang menggunakan kisah Hang Tuah sudah pernah dilakukan. Namun, penelitian-penelitian tersebut ia nilai belum memuaskan karena hanya menyoroti bagian-bagian tertentu saja dari Hikajat Hang Tuah yang dianggap menarik. Sulastin tertarik untuk mengkaji Hikajat Hang Tuah yang tertulis dalam buku secara menyeluruh.

Dalam disertasinya, Sulastin juga menguraikan banyak episode yang menampilkan unsur Jawa. Episode yang paling menonjol adalah kaitan Hang Tuah dan Melayu dengan Patih Gajah Mada dan Kerajaan Majapahit. Bahkan, tokoh yang dianggap sebagai pahlawan nasional di Malaysia ini baru bisa meraih puncak kejayaan setelah ia bertemu dengan tiga orang pertapa di Tanah Jawa. Selain itu, kesaktian Hang Tuah pun ditentukan oleh keris Taming Sari yang ia peroleh dari Kerajaan Majapahit. Ketika keris itu jatuh ke laut, Hang Tuah dapat terkalahkan dan terluka dalam suatu pertempuran.

Kisah-kisah lain dalam Hikajat Hang Tuah yang menampilkan hubungan Melayu dengan Jawa, menurut Sulastin, juga terlihat menonjol pada proses pinangan putri Majapahit oleh Raja Malaka, kedatangan utusan Majapahit ke Malaka, dan kembalinya Hang Tuah dari Majapahit. Adapun dalam teks Hikajat Hang Tuah, menurut dia, hubungan Melayu dan Jawa diawali oleh Patih Kerma Wijaya dari Lasem yang datang mengabdi pada Raja Melayu. Pada kisah ini, Sulastin juga menyebutkan adanya cerminan pengukuhan Jawa tentang kekuasaan Melayu. Diceritakan, seorang bernama Sang Agung Tuban sempat membujuk Patih Kerma Wijaya untuk mengabdi pada Majapahit, tetapi sang patih memilih menjadi pegawai Raja Melayu.(nova christina/Litbang Kompas)

http://www2.kompas.com/
Sabtu, 17 April 2004

Artikel bersempena