Minggu, November 29, 2009

Lirik Lagu Melayu : Datin Suri Perdana

Lirik Lagu Melayu
Datin Suri Perdana



Duhai datin suri perdana
Tumpuan harap ayah dan bunda
Doa pintaku smoga dikabulnya
Kelak menjadi insane berguna

Engkau sepantun santan temui
Lemak terasa manispun ada
Bijak menjaga maruwah diri
Menjunjung harkat martabat negeri

Reff:
Duhai datin suri perdana
Aku dendangkan dalam buaian
Langgam kaza syair gurindam
Khasanah riau semenjak silam

Sekilas pandang dalam lamunan
Duduk berselimpuh berkebaya labuh
Menyusun lentik jari sepuluh
Menyambut tahnia ayah dan ibu

Back to reff

Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd untuk menghindari
Pembajakan.


Read more ...

Jumat, November 27, 2009

Lirik Lagu Melayu : Laksamana Raja Di Laut - Iyeth Bustami

Lirik Lagu Melayu
Laksamana Raja Di Laut
Iyeth Bustami


Zapin aku Dendangkan
Lagu Melayu
Pelipur Hati
Pelipur Lara

Cahaya Manis Kilau Gemilau
Di Kampung Tapir Indah Menawan
aku Bernyanyi Berzapin Riang
Moga Hadirin Aduhai Sayang
Jadi Terkesan

Kembanglah Goyang Atas Kepala
Lipatlah Tangan Sanggul Dipadu
Kita Berdendang Bersuka Rial
Lagulah Zapin Aduhai Sayang
Rentak Melayu

Laksamana Raja Di Laut
Bersemayam Di Bukit Batu
Ahai Hati Siapa
Ahai Tak Terpaut
Mendengar Lagu Zapin Melayu

Membawa Tepak Hantaran Belanja
Bertakhta Perak Indah Berseri
Kami Bertandang Mewujud Budaya
Tidak Melayu Aduhai Sayang
Hilang Dibumi

Peting Lah Gambus Sayang Lantang Berbunyi
Disambut Dengan Tingkah Meruas
saya Menanyi Sampai Di Sini
Moudah-mudahan Hadirin Semua Menjadi Puas

Repeat 2x
Laksamana Raja Di Laut
Bersemayam Di Bukit Batu
Ahai Hati Siapa
Ahai Tak Terpaut
Mendengar Lagu Zapin Melayu


Read more ...

Rabu, November 25, 2009

Cerita Rakyat Melayu Riau | Burung Tempua dan Burung Puyuh

Cerita ini merupakan salah satu cerita melayu yang berkenaan dengan dunia hewan, selain juga cerita tentang manusia serta tumbuh-tumbuhan. Burung Tempua dan Burung Puyuh ditulis oleh Irwan Effendi yang diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adicita Karya Nusa cetakan pertama September 2006. Di dalam khasanah bahasa Indonesia, Burung Tempua disebut sebagai Burung Manyar. Berikut ringkasan ceritanya :

Di tanah Melayu pada zaman dahulu kala hiduplah seekor burung Tempua dan seekor burung Puyuh. Keduanya bersahabat akrab, tolong menolong dan menyayangi sejak lama. Pada siang hari mereka sehilir semudik mencari makan bersama-sama. Suka dan duka selalu bersama. Kalau hujan sama berteduh, kalau panas sama bernaung. Mereka berpisah hanya jika pada malam hari. Dalam semua hal mereka sepakat, namun dalam hal bersarang mereka berbeda pendapat.

Suatu hari mereka bercakap tentang sarang burung yang terbaik. Menurut Tempua, sarangnya nyaman dan aman, sementara puyuh menceritakan sarangnya yang praktis.

“Aku memiliki sarang yang cantik. Sarangku terbuat dari helaian alang-alang dan rumput kering. Helaian itu dijalin dengan rapi sehingga tidak akan basah saat hujan, dan tidak akan kepanasan di kala terik. Aku menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk membuatnya,” kata Tempua.

Sarang Tempua tergantung tinggi di atas pohon walaupun ada yang agak rendah. Jika rendah maka pasti di dekatnya ada sarang ular, lebah atau penyengat. Tempua berlindung pada hewan-hewan tersebut. Kalau Tempua bersarang rendah, pastilah ada yang menjaganya. Orang Melayu mengatakan, “kalau tidak ada berada, takkan mungkin Tempua bersarang rendah.” Hanya karena keberadaan sesuatu hal (penjaga) maka Tempua mau bersarang di dahan rendah.

Berbeda dengan Tempua, sarang burung Puyuh lebih praktis. Puyuh merasa tak perlu menghabiskan waktunya untuk membuat sarang. Puyuh cukup mencari batang pohon yang tumbang untuk berlindung di bawahnya. Jika tidak aman, Puyuh akan berpindah ke tempat lain lagi.

“Dengan sarang berpindah-pindah, musuh tidak tahu keberadaanku pada malam hari,” kata Puyuh.

Akhirnya mereka sepakat untuk mencoba sarang masing-masingnya. Malam pertama, Puyuh mencoba sarang Tempua. Dengan susah payah Puyuh memanjat pohon sarang Tempua tergantung. Sesampai di sarang Tempua, Puyuh terkagum-kagum melihat sarang Tempua yang nyaman, kering dan bersih serta rapi. Kemudian, malam pun berlarut, Puyuh merasa haus dan meminta minum kepada Tempua. “Maaf kawan. Tidak mungkin aku terbang dan turun mencari air karena keadaan gelap gulita,” kata Tempua. Puyuh pun tertidur dalam kehausan.

Tak lama ketika Puyuh dan Tempua tidur pulas, tiba-tiba angin bertiup kencang. Pohon tempat sarang Tempua pun bergoyang-goyang seakan-akan mau tumbang. Sarang Tempua pun terayun-ayun. Puyuh ketakutan sekali dan seakan-akan mau muntah karena terombang-ambing. “Tenanglah kawan, kita tidak akan jatuh,” kata Tempua menghibur. Tak lama angin pun reda.

Keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi sekali. Puyuh berkata, “kawan, aku tak mau lagi tidur di sarangmu. Aku takut jatuh lagi pula aku tidak bisa menahan haus.” Tempua diam saja dan memaklumi alasan Puyuh. Mereka pun kembali bersama-sama mencari makan siang hari itu.

Setelah hari mulai gelap, Puyuh mengajak Tempua mencari pohon tumbang untuk dijadikan tempat bermalam karena malam ini giliran Tempua yang mencoba sarang Puyuh. Setelah mencari, akhirnya ditemukan pohon tumbang di dekat air mengalir. Sangat cocok bagi Puyuh.

“Puyuh, dimana kita akan tidur?” tanya Tempua karena ia tidak melihat sarang untuk tidur mereka.
“Disini, kita akan berlindung di bawah pohon ini,” jawab Puyuh. Tempua merasa tidak nyaman, tetapi mengikuti apa yang dilakukan Puyuh.

Tak lama kemudian, Puyuh sudah tertidur pulas sedangkan Tempua masih gelisah dan mondar-mandir saja. Tiba-tiba hujan turun, membasahi tempat Puyuh dan Tempua tidur. “Puyuh, aku kedinginan,” kata Tempua. “Tidak apa-apa, kalau hujan reda tentu tidak akan kedinginan lagi,” jawab Puyuh.

Keesokan harinya Tempua mengeluh pada Puyuh bahwa ia tidak bisa tidur di sarang Puyuh. Ternyata mereka masing-masing tidak cocok dengan sarang kawannya. Mereka akhirnya memahami bahwa setiap makhluk mempunyai kesukaan dan kebiasaan yang tidak bisa dipaksakan. Walaupun berbeda begitu, mereka saling menghargai perbedaan dan pendapat itu sebagai hal yang wajar. Keduanya juga tetap bersahabat.



Read more ...

Selasa, November 24, 2009

Lirik Lagu Melayu Tanjung Katung

Lirik Lagu Melayu
Tanjung Katung


Tanjung katung airnya biru
Tempat dara mencuci muka
Lagi sekampung hati ku rindu
Kononlah jauh di mata...

Asal kapas menjadi benang
Benang ditenun menjadi kain
Orang yang lepas jangan di kenang
Sudah menjadi si orang lain

Dua tiga kuda berlari
Manalah sama si kuda belang
Dua tiga dapat ku cari
Manalah sama adik seorang

Pisang Emas bawa berlayar
Masak sebiji di atas peti
Hutang emas boleh di bayar
Hutanglah budi dibawa mati

Catatan :
Lirik Lagu Melayu ini bisa menjadi panjang dan lagunya tak putus-putus karena lagu ini melirikkan pantun yang berirama.
Sepanjang pantun tersedia, maka sepanjang itu pulalah panjang lagu ini.

Download mp3 lagu melayu
Untuk lagunya bisa dibeli di toko kaset/cd/vcd untuk menghindari
Pembajakan.

Read more ...

Artikel bersempena