Minggu, Mei 31, 2009

Ragam Motif Melayu (Ukiran/Tenunan) - 02

Gambar akan dimuat dalam postingan tersendiri


Ragam Motif Melayu umumnya bersumber dari alam baik flora maupun fauna serta benda-benda angkasa. Benda-benda ini direka-bentuk, diabstrakkan atau dimodifikasi. Khusus untuk fauna, bentuknya sangat diabstrakkan untuk menghindari hal-hal yang berbau "keberhalaan". Semisal "itik pulang petang", "semut beriring", "lebah bergantung", "lebah bergayut", yang dilihat secara kasat mata tidaklah ternampak bentuk fauna atau hewan dimaksud. Ragam Motif Melayu juga mengambil dari kitab Al-Qur'an menjadi tulisan kaligrafi secara jelas yang dihiasi dengan ragam motif lain. Bentuk wajik, kubus, lingkaran dan segitiga pun melengkapi ragam motif melayu.

Ragam motif Melayu Riau juga umumnya bersamaan bentuk dan penamaan dengan ragam motif Melayu Malaysia dan Singapura karena dahulunya kedua kerajaan ini merupakan bentukan dari Kerajaan Bentan (Bintan) yang berada di Pulau Besar (diduga Pulau Bintan) sekitar tahun 1100 Masehi. Rajanya bernama Raja Asyhar-Aya beristeri Wan Seri Beni dan anaknya bernama Puteri Bintan. Kerajaan kemudian berkembang ke Singapura dan Melaka (Malaysia) bahkan sempat bergabung ke kerajaan Sriwijaya akibat perkawinan (rangkuman butang emas penggalan pertama).



awan larat kembang teratur


pucuk rebung berangkai


Sumber Ragam Motif Melayu :
Ragam Motif Tumbuh-tumbuhan
Bunga
Bunga Bakung
Bunga Melati
Bunga Kundur
Bunga Mentimun
Bunga Hutan
Bunga Kiambang
Bunga Cengkih
Bunga Setaman
Bunga Serangkai
Bunga Berseluk
Bunga Sanggit
Bunga Sejurai
Bunga Kembar
Bunga Tunggal
Kembang Selari

Kuntum
Kuntum Tak Jadi
Kuntum Merekah
Kuntum Serangkai
Kuntum Bersanding
Kuntum Kembar
Kuntum Berjurai
Kuntum Sejurai
Kuntum Jeruju
Kuntum Setanding
Kuntum Tak Sudah

Daun
Daun Bersusun
Daun Sirih
Daun Keladi
Daun Bersanggit Bunga
Susun Sirih Pengantin
Susun Sirih Sekawan
Daun Berseluk

Buah
Tampuk Manggis
Buah Hutan
Buah Delima
Buah Anggur
Buah Setangkai
Pisang-pisang
Pinang-pinang
Buah Kasenak
Buah Mengkudu
Delima Merekah

Akar-akaran
Kaluk Pakis
Kaluk Paku
Akar Bergelut
Akar Melilit
akar Berpilin
Akar Berjuntai
Akar-akaran
Belah Rotan
Pucuk Rebung

Ragam Motif Hewan
Unggas
Itik
Itik Pulang Petang
Ayam Jantan
Ayam Bersabung
Burung Punai
Burung Bangau
Burung Serindit
Burung Balam Dua Setengger
Burung Kurau
Kurau Mengigal
Garuda Menyambar
Burung Merak
Merak Sepasang
Siku Keluang

Hewan Melata
Ular-ularan
Ular Melingkar
Ular Tidur
Naga-nagaan
Naga Bersabung
Naga Bejuang
Naga Bertangkup

Hewan Buas
Singa-singaan
Harimau Jantan

Serangga
Semut Beriring
Lebah Bergantung / Lebah Bergayut
Kupu-kupu
Kupu-kupu Sepasang
Belalang Rusa
Sepatung/Cepatung Berkawan

Hewan Air
Ikan Bergelut
Ikan Sekawan
Ketam-ketam
Siangak Hanyut

Ragam Motif Benda Angkasa
Bulan Penuh
Bulan Sabit
Bulan Temaram
Bintang-bintang
Bintang Bertabur
Bintang Bersusun
Bintang Tiga
Bintang Lima
Bintang Tujuh
Bintang Meninggi Hari
Matahari Pagi
Awan Larat
Awan Bergelut

Ragam Motif Bentuk Tertentu
Segi Penjuru empat
Segi Penjuru Enam
Segi Lima
Segi Delapan
Segi Tiga
Segi Panjang
Bulat Penuh
Bujur Telur
Lengkung Anak Bulan
Lentik Bersusun

Ragam Motif Kaligrafi
Mengacu kepada Ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur'an bersifat kaligrafi



Sumber :
Pelajaran SMA dan buku Tenas Effendy
(Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau)
Read more ...

Sabtu, Mei 30, 2009

Bermain Bola Bersama Yong Dollah

Pagi sabtu sehabis olahraga senam, kami duduk-duduk dibawah pohon beringin. Bubur kacang hijau pun dah habis. Teh panas pun tinggal sikit. Mulailah Nizam membual.

Yong waktu tu nak olahraga juga. Yong pergi ke lapangan bola nak main bola kaki sama orang besar. Puas Yong lari sana lari sini nak rebut bola, tak dapat-dapat. Yong asyik kena kilik-kilik lawan terus. Yong pun tak dapat opor dari kawan. Pas Yong dapat bola, itu pun kena rebut lawan. Yong meradang. Yong tangkap bola tu pakai tangan. Yong tendang bola tu ke atas. Lalu Yong balek ke rumah. Yong lapar, lalu Yong makan. Abis makan, Yong ke lapangan lagi. Sampai di lapangan, bola tadi yang Yong tendang pun baru turun dari langit.


Cerita ini persis seperti salah satu iklan di tv yang mana bola ditendang, terus memutari bola dunia dan kembali ke penendang semula. Cerita ini diceritakan ulang karena Barcelona menang 2-0 melawan Manchester United dalam pertandingan Liga Champions 2009 yang berlangsung di Roma Italia.

Catatan :
orang besar = dewasa
kilik-kilik = main-mainkan
opor = beri = over
balek = balik

Read more ...

Jumat, Mei 29, 2009

Ragam Motif Melayu (Ukiran/Tenunan) - 01

Gambar akan dimuat dalam postingan tersendiri


Sebagaimana daerah lainnya, Melayu juga terkenal dengan ragam motif (berbagai corak, ragi, hias, acuan induk, bentuk dasar, bentuk asal, pola) untuk ukiran, tenunan, atau bahkan hanya untuk gambar hiasan. Melayu memiliki beraneka ragam motif dasar yang menjadi khazanah budaya sejak ratusan tahun lalu sampai ke jaman kerajaan Riau-Lingga dan sampai sekarang pun masih tetap dipergunakan dan dilestarikan. Ragam motif melayu ini umumnya diterapkan pada ukiran kayu, ukiran perunggu, ukiran perak, maupun ukiran emas, serta pada bahan ukir lainnya. Ukiran juga diterapkan pada tenunan kain semisal di daerah Siak, Daik Lingga, Pelalawan, Inderagiri, Bengkalis, Siantan, dan daerah lainnya. Ragam motof ini diajarkan turun temurun semisal ayah mengajarkan ukiran pada kayu, atau ibunya mengajarkan anak perempuannya untuk menenun.

Ragam motif melayu bukan hanya sekedar gambar, ukiran atau tenunan yang menjadi hiasan semata, tetapi mempunyai makna dan falsafah tertentu menjadi lambang dan nilai-nilai luhur budaya Melayu. Jadi Ragam Motif Melayu mempunyai dua fungsi yaitu :
1. Hiasan
2. Penyebarluasan nilai-luhur budaya Melayu

Ragam motif diatur penempatan yang tepat padan sesuai oleh adat. Ada yang untuk tenunan, sulaman, tekat, suji, anyaman, hiasan bangunan, bahkan untuk lambang kerajaan. Sebagian lagi bisa dipergunakan untuk serbaguna dimana saja. Secara umum, berbagai ragam morif ini mempunyai kesamaan nama dan bentuk pada berbagai daerah, tetapi ada juga yang berbeda. Tetapi semuanya mengacu kepada kesamaan yang mendasar yakni budaya Melayu yang mengacu kepada ajaran agama Islam.

Terkikisnya kerajaan-kerajaan Melayu telah ikut memudarkan ragam motif Melayu itu sendiri, walau tidaklah hilang sepenuhnya. Banyak perajin ukiran dan tenunan yang berkurang jauh dari pada sebelumnya. Untuk Kepulauan Riau, khususnya di Daik Lingga, kerajinan perunggu, tenunan, sulam dan suji telah lesap (hilang sejak berpuluh tahun lalu), kecuali tekat. Saat ini sudah tidak bisa dengan mudah mencari orang yang bisa menenun. Ragam motif yang ada dahulu menjadi terbiar dan akhirnya sebagian mengalami kepunahan. Begitu juga di tempat-tempat lain di Riau. Pemerintah beserta masyarakat telah berupaya untuk membangkitkan kembali ragam motif Melayu, sehingga sekarang sudah mulai ada yang mencoba untuk belajar menenun, mengukir, dan membuat hiasan bangunan.


Sumber :
Pelajaran SMA plus buku Tenas Effendy
Read more ...

Kamis, Mei 28, 2009

Yong Jadi Imam

Kali ini Nizam Hitam Legam, kawan aku yang suka bercerita ini, pun nak bercerita lagi. Tukang cerita alias pembual berbeda dengan pembengak. Pembual walaupun tak jelas mana yang benar dan mana yang tak benar, bercerita untuk melucu, maksud berbohong hanya sekedar untuk melucu. Pembengak, jelas bercerita tidak benar dan sengaja berbohong dengan maksud tidak baik. Walau kadang susah membedakan antara pembual dengan pembengak, aku mengelompokkan Nizam sebagai pembual, bercerita (walau ada bohongnya) tetapi hanya sekedar untuk melucu. Ini cerita Nizam yang lain tentang Yong Dollah.


Kala masa itu, Yong pergi ke surau nak shalat maghrib. Imam tak datang. Terpaksalah Yong jadi imam. Rakaat 1 dan 2 pun selesai. Masuk ke rakaat ke-3. Pada sujud terakhir, Yong agak lambat bangkit. Abis bangkit ke duduk, baca syahadat, basikan sikit waktu, lalu baca salam lêkom kanan dan kiri.

Pas nak balêk, ada aral sedikit hari hujan. Saat itu Bengkalis lagi musim hujan. Maka Yong dan kawan lainnya yang jadi makmum pun duduk sebentar. Alêh-alêh, ada yang bertanya, "Yong ngape ngentam lambat sangat bangkit dari sujud terakhir tadi?".
"Yong tadi terdengar anak ayam teciap-ciap. Ciap pertama tak sama dengan ciap kedua dan ciap selanjutnya. Yong itung ada 10 ciap".
"Haaaaa... Yong itung ciap ayam waktu sujud tadi?"
"Ye".
"Astaga... ulang balêk shalat maghrib semua. Tak sempurna semayang kite. Cepat sikit, nanti abis waktu maghribnya".


Haaa... itulah kalo tak konsen sama shalat. Ulang lagi lah.



Catatan :
Dialek Melayu umumnya menggunakan huruf e lemah sehingga "ye" orang melayu beda dengan "ye" orang betawi yang menggunakan huruf e keras. (mencoba mengingat2 lagi pelajaran waktu SD dulu).

ê = huruf e yang dibaca keras, contoh : pena
e = huruf e yang dibaca lemah, contoh : sekolah

ye = ya
basikan sikit waktu = lebihkan sedikit waktu
nak = mau
balek = balik
aleh-aleh = tiba-tiba
ngape ngentam = apa masalah
teciap-ciap = bunyi anak ayam
salam lekom = assalamu'alaikum
semayang = sembahyang


Read more ...

Rabu, Mei 27, 2009

Yong Nak Keker

"Nizam, dikau nak kemane? Kemarilah kejap".
Nizam pun datang dengan jalannya yang terhegeh-hegeh. Ape cerite sekarang ni? Nizam pun dengan senyum mekar bak bunga raya ke siram air got pun membuka mulutnya yang besar. Seribu lalat bisa masuk ke dalamnya. Tapi kita bisa bingung apakah lalatnya udah masuk atau belum, karena kulit lalat yang umumnya hitam tak jauh beda dengan kulit Nizam yang hitam juga.

"Haaaa... kalian dengar cakap aku", begitu dia nak mulai bercerita. Padahal dia tadi seharusnya disuruh bos ngantar Akte Kelahiran yang siap diteken. Kami cegat dia bentar. Hobbynya bercerita pun bisa tersalurkan. Kali ini dia bercerita tentang Yong Dollah yang ngeker.

Yong waktu tu pergi ke Bukittinggi dari Pekanbaru melewati Bukit Barisan. Yong naik lori pergi kesana. Pas diatas bukit, Yong nak melihat pakai keker.
"Ape yang nampak Yong?"
"Tenampak Pulau Bengkalis"
"Ape lagi Yong?"
"Haaaa nampak mak lagi menampi beras"
"Lalu"
Yong pun berteriak :
"Maaaaak, kalau dah masak nanti, bilang ke Yong ye!"


alaaahh mak, macam mane nak dengar. Jarak Bukit Barisan ke Pulau Bengkalis itu sekitar 400 km.
Ah... Yong ade-ade aje.

Catatan dari Nizam :
lori=truk
ngeker=keker=teropong
ade=ada (diucap dengan e lemah)
aje=saja (diucap dengan e lemah)
ye=ya (diucap dengan e lemah)

Read more ...

Selasa, Mei 26, 2009

Pembual

Pembual itu semacam tukang cerita atau bisa juga orang yang suka bicara saja yang sulit menemukan mana yang benar dan mana yang tak benar. Walaupun kadang bersifat tak baik, tapi masih ada untungnya juga. Semisal kawanku satu ini. Tukang bual alias pembual yang selalu bercerita lucu yang terkadang tak masuk dalam pikiran. Namanya Nizam, orangnya hitam legam, badan tegap, logatnya berbahasa Bengkalis yang banyak menggunakan huruf “o” terkadang campur-campur dengan logat bahasa Tanjung Pinang yang banyak menggunakan huruf “e” lemah. Cerita kawan ini umumnya tentang bualan seorang tokoh pembual Bengkalis, aku pun tak yakin apakah tokoh itu sebenar ada atau sememang itu bualan kawanku ini. Tokoh itu bernama Yong Dollah. Katanya bernama asli Abdullah anak sulung dari sekian saudara (ini kata Nizam). Sering duduk di kedai kopi sambil minum kopi, orang melayu menyebutnya kahwa atau “kahwe” (dengan huruf “e”). Minum kopi sambil makan roti bakar di waktu pagi sebagai sarapan maupun di waktu sore melepas penat bekerja, bahkan terkadang di malam hari sambil kongkow-kongkow dengan teman-teman. Kebiasaan yang tak lepas dari budaya China dan Siam.

Terbilangnya tokoh Yong Dollah tidak dapat dipandang sebelah mata karena begitu terkenal di lingkungan orang-orang Melayu baik bersempena dengan tokoh ini langsung maupun penggunaan nama Yong Dollah pada nama panggilan sehari-hari beberapa orang Melayu.

Yong, sebagian orang mengatakan sebagai pengganti nama sebutan “orang muda” dan sebagian lain beranggapan sebagai pengganti nama sebutan “anak sulung”. Dollah, umumnya berasal dari nama sebenarnya “Abdullah” ataupun “Dullah”. Sehingga Yong Dollah menjadi suatu nama panggilan yang akrab bagi masyarakat Melayu. Sama seperti nama Atan, Awang, Ajak, Amad, untuk anak/orang lelaki. Dan nama-nama umum anak/orang perempuan Melayu seperti Siti, Lela, Laila, Nong, Nur, dan lain-lain.

Nama-nama umum itu bisa ditambahi gelar atau sebutan panggilan tambahan. Biasanya sesuai dengan keadaan si empunya nama, misalnya :

Wak : orang yang telah terbiasa dipanggil oleh ponakan yang berarti paman/om atau tante/bibi, sehingga menjadi Wak Atan, Wak Amad, Wak Siti, Wak Lela, dan lainnya.

Mak : menjadi kebiasaan panggilan bagi perempuan Melayu yang telah berumur misalnya menjadi kebiasaan panggilan Mak Ucu, Mak Uteh, Mak Ude, Mak Njang, dan sebagainya.

Cik : berasal dari gelar kebangsawanan bagi keturunan China tetapi telah dipergunakan luas ke berbagai suku lain, sehingga orang Melayu pun ada juga yang dipanggil misalnya Cik Awang ataupun misalnya Cik Siti.

Long : menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak paling sulung.

Ngah : menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak tengah, baik yang kedua ataupun yang lain tetapi bukan panggilan anak yang paling kecil.

Ude : menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak yang paling muda ataupun nomor kedua muda.

Ucu : menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak yang paling kecil atau bungsu.

Uteh : orang yang berkulit putih

Itam : orang yang berkulit hitam

Njang atau Anjang : orang yang tinggi

Iting : orang yang berambut keriting

Yek : umumnya dipergunakan sebagai sebutan diawal nama panggilan kebiasaan bagi kalangan Bugis Melayu sehingga misalnya panggilan menjadi Yek Long, Yek Ucu, Yek Ngah, Yek Ude, atau di depan nama menjadi misalnya Yek Atan, Yek Awang, Yek Amat.

Demikian sekilas yang dapat disampaikan sebelum memulai cerita berikut-berikutnya yang coba diingat 11 tahun lalu tepatnya di tahun 1998, ketika saya masih awal-awal ketemu dan berteman dengan Nizam Hitam Legam yang sering menceritakan tentang Yong Dollah.


Read more ...

Senin, Mei 25, 2009

gerubuk buruk

Melayu, yang dimaksud orang Melayu bukanlah dilihat daripada tempat asalnya seseorang ataupun dari keturun darahnya saja. Seseorang itu dapat juga disebut Melayu apa bila ia beragama Islam, berbahasa Melayu dan mempunyai adat-istiadat Melayu. Orang luar ataupun bangsa lain yang datang lama dan bermukim di daerah ini dipandang sebagai orang Melayu apabila ia beragama Islam, mempergunakan bahasa Melayu dan beradat istiadat Melayu.

Di Indonesia yang dimaksud dengan suku bangsa Melayu adalah yang mempunyai adat istiadat Melayu, yang bermukim terutamanya di sepanjang pantai timur Sumatera, di Kepulauan Riau, dan Kalimantan Barat. Pemusatan suku bangsa Melayu adalah di wilayah Kepulauan Riau. Tetapi jika kita menilik kepada yang lebih besar untuk kawasan Asia Tenggara, maka ianya terpusat di Semenanjung Malaya. (http://butang-emas.blogspot.com/)

Dalam perkataan Melayu, terdapat sebuah kata yang sudah jarang sekali diperkatakan (walaupun masih banyak perkataan Melayu yang sudah jarang disebut dan didengar) yaitu "gerubuk". Emakku menyebut gerubuk sebagai suatu lemari yang dipergunakan di dapur sebagai tempat menyimpan lauk-pauk ataupun sebagian dari bahan makanan. Melayu tak lepas dari masakannya yang mengundang selera. Dan dalam upaya mengingat kata-kata lama yang sudah terasa asing bagi sebagian orang, maka judul "gerubuk buruk" diangkat. Kata-kata usang yang sebagian dianggap buruk dan tak laku lagi mungkin bisa menyeruak dunia. Tak lah akan hilang di muka bumi ini.

Gerubuk sebagai wadah penyimpan segala sesuatu yang diperlukan walau berbentuk buruk, bukanlah berarti tidak diperlukan, bukanlah berarti akan dibuang. Gerubuk buruk menyimpan sesuatu yang sangat berharga. Demi marwah Melayu.


gambar dibuat dengan fasilitas http://www.onemotion.com/flash/sketch-paint/

Read more ...

Kamis, Mei 21, 2009

Kosong-kosong Pembuka Kata

Kosong-kosong atau pun nol-nol atau pun zero-zero sering disebut anak-anak ataupun budak-budak ketika hendak memulai suatu permainan. Semisal hendak memulai sebuah pertandingan laga sepakbola, maka kedua belah pihak diberi nilai awal kosong, sehingga sang juri pun menyebut dengan lantang “kosong…kosong…!!!”.

Kosong-kosong hendak membuka kata, hendak memulai langkah, bermula dari

Bismillahi rahmanir rahim…

Dilanjut dengan

Assalamu’alaikum warah matullahi wa mabarakatuh

Kaki kanan bermula memijak bumi
Tangan bergerak menulis
Pikiran berputar bijak
Hati lurus ke Allah SWT

Membangkitkan marwah Melayu di bumi
Takkan Melayu hilang di bumi
Walau tersebut kain yang buruk
Walau tersimpan dalam gerubuk buruk

Membuka mata dunia
Dari balik kain yang buruk
Dari dalam gerubuk buruk
Takkan Melayu hilang di bumi

Berpantun bersajak
Bercerita berbual
Bercengkerama dengan sesama
Untuk mencari tempat suluh

Bermula di tanggal 20 Mei 2009
Hadiah dari Sang Menyanyah
Attayaya.com menjalar
Disaksikan oleh teman sejawat
Bang Fiko, Sungai Kuantan, Guru Bijak, Eri Bertuah

Bila pantun bersalah paham
Jika bual bersalah arti
Jangan halal menjadi haram
Maafkan segala salah di diri

Wassalamu’alaikum warah matullahi wa barakatuh

Pekanbaru, 21 Mei 2009
Hari Kebangkitan Nasional


Ucu Atan
Read more ...

Artikel bersempena