Kamis, Juni 11, 2009

Bidai Ragam Motif Melayu

Teban Layar atau Singap atau pun Bidai dipasang di bagian penutup segitiga (layar) atap pada jenis rumah bumbung panjang atau atap pelana yang terbuka di ujung depan dan di belakang. Bidai berfungsi juga sebagai lobang angin bawah atap agar terjadi sirkulasi udara di dalamnya sehingga dapat mengurangi panas. Pada rumah jenis atap limas, tidak menggunakan bidai.

Penerapan Bidai pada atap


Bidai tingkat 1 untuk rumah orang biasa


Bidai tingkat 2 umumnya untuk rumah bangsawan


Bidai tingkat 3 untuk rumah keluarga raja



Read more ...

Rabu, Juni 10, 2009

Awan Larat Ragam Motif Melayu

Awan larat merupakan rangkaian dari motif yang tersusun rapi berdampingan dan berhubungan.

Awan Larat Kuntum Berangkai Lengkap :
Senyum indah dalam cakap bicara



Awan Larat Kembang Teratur :
Pelekat hidup, Se-ia sekata, Sehidup semati




Motif dari Tenas effendy


Read more ...

Selasa, Juni 09, 2009

Umpan Daun Yong Dollah

"Oiiiii...atan, dikau nak kemano?", teriak Nizam dengan logat Bengkalis. Dalam logat Bengkalis, "kemana" menjadi "kemano". Saat itu aku baru turun tangga sehabis neken Akte Kelahiran sebagai tugasku yang telah selesai diketik. "Woii... dikau ni tereak-tereak aje, ini kantor, bahlul....", teriakku membalas dengan logat Tanjung Pinang yang banyak menggunakan huruf e lemah. Astaga, aku melarang Nizam teriak, aku malah ikut teriak. Hahahahaha...

"Tak ado do, sini kejaplah", kata Nizam
"Haaaa.... ape cite?", tanyaku
"Engkau dengar ni, kau pernah dengar cerita Yong Dollah ngael ikan di Jepang?", lanjut Nizam
"Lom lah, macam mana pula tu, haaa... cite lah", sambungku
Maka dia pun bercerita Yong Dollah lagi

Waktu tu khan Yong pergi ke negeri Jepun. Terus ikut orang Jepun tu bekelah dekat kolam ikan. Abis tu orang Jepun tu ngael. Tapi umpannya tak sama seperti kita. Orang Jepun tu pakai umpan daun yang tumbuh dekat situ. Sememang aneh. Orang Jepun tu mengait selai daun, campak ke kolam, aleh-aleh dapat ikan dengan umpan selai daun tu.

Yong pening lalat juga liat orang tu. Yong ambil parang. Yong tebang pohon yang daunnya untuk umpan ikan tu. Lalu Yong letak pohon tu di kolam. Tak lama, Yong angkat pohon tu dari kolam. Haaaaa... Yong pun dapat 10 ton ikan yang makan daun pohon tu. Yong lebih pandai dari orang Jepun tu

Hahahahaha... mana bisa Yong sekali angkat ikan 10 ton. Ada-ada aja


Catatan :
bahlul = bodoh
kemano = kemana
neken = menandatangani (ucapan singkat untuk meneken)
tak ado do = tak ada lah
ngael = mengail = memancing (ucapan singkat untuk mengael)
ape cite = apa cerita (ucapan singkat untuk ape cerite, dengan e lemah)
lom lah = belum lah (ucapan singkat untuk belom lah)
Jepun = jepang
bekelah = bertamasya
selai = sehelai (ucapan singkat sehelai)
aleh-aleh = tiba-tiba

Read more ...

Senin, Juni 08, 2009

Pucuk Rebung - Ragam Motif Melayu

Pucuk Rebung Bertunas – Lapar hilang, dahaga pun lepas, masalah pun selesai
Pucuk Rebung Sekuntum – Duduk berunding, bermusyawarah, bermufakat
Pucuk Rebung Kaluk Paku – Bergotong royong dan saling membantu
Pucuk Rebung Sirih Tunggal – Menjauhkan celaka dan sial




Contoh terapan Pucuk Rebung Bertunas.
Pucuk Rebung disusun berjajar ke samping umumnya diterapkan pada bidang bawah misalnya bagian bawah dari kain tenunan, cetakan, hiasan, dan lain sebagainya.






Read more ...

Minggu, Juni 07, 2009

Tamadun Melayu

Dulu kala ketika kutanya sama emakku, apa arti tamadun, beliau menjawab bahwa tamadun berarti maju, naik, meningkat, begitulah kira-kiranya. Sememang susah juga mau mencari arti pada sebuah kata yang sudah agak tergerus zaman. Sedikit ada penjelasan yang cukup terang dari seorang abang ipar yang menjadi salah satu pengurus Lembaga Adat Melayu Sumatra. Dia menjelaskan bahwa tamadun itu berarti membangun atau memajukan sesuatu dalam arti positif. Baik suatu masyarakat, budaya, kota, ekonomi. Jelasnya lagi bahwa tamadun berasal dari kata Arab yaitu “maddana” yang bermiripan dengan umran, madaniyah, atau dalam bahasa Inggris disamakan dengan culture dan civilisation. Tamadun pun berkembang ke arah pencapaian tinggi di bidang lain semisal tekhnologi. Mewarisi budaya Melayu pun dianggap sebagai tamadun yang berarti memajukan budaya Melayu dalam segala segi baik adat istiadat, seni, perilaku, falsafah hidup, sikap, juga kehalusan budi pekerti.

“Bercakap tentang kebudayaan Melayu, Riau sebagai salah satu Bumi Melayu di dunia ini, memang tak pernah sunyi dari aktivitas dan kreativitas budaya. Itulah anugerah Allah Azza wa Jalla yang senantiasa harus disyukuri. Betapa tidak? Kebudayaan selalu memberikan kebanggaan bagi setiap pendukungnya, tak terkecuali orang Melayu Riau. Bahkan, kebudayaan kerap memberikan ketenangan, kebahagiaan, kesejahteraan, dann pada akhirnya menjadi penyelesai segala yang kusut-masai. Berpaling dari kebudayaan berarti mengundang malapetaka”
(Drh. H. Chaidir, MM, selaku Ketua DPRD Propinsi Riau, Juli 2003)


Budaya Melayu tentunya diterapkan oleh orang Melayu yang berjati diri sebagai orang yang ramah, pandai bergaul, rajin, memiliki rasa seni yang tinggi, pandai menyesuaikan diri dengan siapapun serta memiliki pengertian, yang kesemuanya patutlah terus dikembangkan. Di samping itu, masyarakatnya yang menganut agama Islam dengan kuat, beradat Melayu dan berbahasa Melayu serta dahulunya orang Melayu merupakan bangsa pelaut atau pejuang bahari, pedagang dan bangsa pemberani. Sampai ke hari ini dipercayai bangsa Melayu masih memiliki dan mempertahankan jati dirinya. Orang Melayu selalu memiliki pandangan jauh ke depan dan selalu ingin belajar untuk menuntut ilmu pengetahuan dengan tidak meninggalkan budaya yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Sebenarnya dengan kemampuan itu, pada masanya akan selalu mampu untuk bersaing sekaliannya menjawab tantangan masa depan.

Orang Melayu selalu percaya kepada Allah SWT dan selalu mengikuti ajaran Rasulullah; hal ini diperkuat dengan peribahasa : Bergantung kepada satu, berpegang kepada yang Esa.

Orang Melayu taat kepada hukum demi keamanan dan kemakmuran masyarakatnya, seperti peribahasa : Adat itu jika tidur menjadi tilam, jika berjalan menjadi payung, jika di laut menjadi perahu, jika di tanah menjadi pusaka. Atau Mati anak heboh sekampong, mati adat heboh sebangsa. Walaupun demikian, tidak berarti adat resam tiada boleh berubah. Jika ianya tiada berkesesuaian, maka hal yang sedemikian dapatlah diubah tanpa mengundang kepada perkara yang menghebohkan. Hal ini bersesuaian dengan peribahasa Melayu yang berbunyi : Sekali air bah, sekali tepian berubah. Atau Tiada gading yang tak retak.

Orang Melayu mengutamakan budi dan bahasa, karena keduanya menunjukkan kepada sopan santun dan tinggi peradabannya. Seperti peribahasa mengatakan : Usul menunjukkan asal, bahasa menunjukkan bangsa. Atau Taat pada petuah, setia pada sumpah, mati pada janji, melarat karena budi. Atau Hidup dalam pekerti, mati dalam budi. Selain daripada itu, di dalam pantun Melayu juga tersirat :
Gunung Bintan lekuk di tengah
Gunung Daik bercabang tiga,
Hancur badan di kandung tanah,
Budi baik dikenang juga.


Orang Melayu mengutamakan pendidikan dan ilmu. Hal ini tercermin dalam peribahasa : Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, atau Menuntut ilmu itu sejak dalam buaian sampai ke liang lahat.

Orang Melayu mengutamakan budaya Melayu, becakap tidaklah kasar, berbaju menutupi aurat, menjauhkan pantang larang dan dosa. Biarlah mati daripada keluarga menanggung malu. Orang Melayu juga pandai menjaga air muka orang lain. Kalaupun marah cukup dengan sindiran. Seperti peribahasa mengatakan : Marahkan anak, sindir menantu.

Orang Melayu mengutamakan musyawarah dan mufakat sebagai sendi kehidupan. Di dalam segala hal baik perkawinan, kematian, kenduri, mendirikan rumah, maupun dalam pemerintahan. Bahkan nilai-nilai ini juga dilaksanakan bagi pendatang sehingga orang Melayu sangat terkenal dengan keterbukaannya. Ada pantun yang berbunyi
Apabila meraut selodang buluh
Siapkan lidi buang miangnya
Apabila menjemput orang jauh
Siapkan nasi dengan hidangnya


Orang Melayu tak suka mencari lawan ataupun melawan, seperti ungkapan yang mengatakan : Pantang Melayu untuk mendurhaka. Tetapi akan melawan jika ianya terdesak, seperti pribahasa mengatakan : Musuh pantang dicari, kalau datang tidak menolak. Atau pribahasa : Alang-alang menceluk pekasam, biar sampai ke pangkal lengan. Di dalam pantun diungkapkan :
Kalau sudah dimabuk pinang,
Daripada ke mulut biarlah ke hati
Kalau sudah maju ke gelanggang
Berpantang surut biarlah mati


Budaya sebagai suatu ciri khas hidup manusia yang ada di tempatannya bisa karena kebiasaan atau sesuatu yang dibiasakan. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Sama seperti budaya Melayu dari segala segi. Kebiasaan yang diadatkan, maupun adat yang diadatkan. Itulah ciri khas suatu suku, suatu kumpulan, suatu bangsa, yang harusnya dipelihara sampai ke anak cucu.


Read more ...

Sabtu, Juni 06, 2009

Makna dan Falsafah Ragam Motif Melayu

Gambar akan dimuat dalam postingan tersendiri


Makna dan Falsafah

"Dalam acuan reka bentuk terdapat makna yang dalam, yang semakin disimak, semakin terasa ketinggian mutunya"

Ragam motif Melayu mengandung makna dan falsafaf yang mengacu kepada sifat asal dari setiap sumber, dipadukan dengan nilai kepercayaan dan budaya, disimpai dengan nilai luhur agama Islam. Adat resam mengatur pemakaian dan penempatannya. Kearifan orang-orang tua Melayu yang menyimak alam sekitarnya memberikan ragam motif yang begitu banyak. Ketika dahulu, setiap perajin ukiran ataupun tenunan serta lainnya diharuskan untuk memahami makna dan falsafaf yang terkandung dalam setiap ragam motif. Keharusan ini dimaksudkan agar mereka secara pribadi mampu menyerap dan menghayati nilai-nilai yang dimaksud, menyebarluaskan, menunjuk ajar, menempatkan sesuai alur patutnya.

Nilai Ketaqwaan kepada Allah
Orang Melayu Riau adalah penganut agama Islam yang mana nilai-nilai itu mempengaruhi budaya. Dalam ungkapan adat dikatakan "Berpijak pada Yang Satu" atau "Hidup berselimut adat, mati berkafan iman". Ini tercermin dalam ragam motif bulan sabit, bintang-bintang, kaligrafi, dan lain-lain.

Nilai Kerukunan
Kerukunan hidup sangatlah dijunjung tinggi orang Melayu yang tersimpul dalam ragam motif balam dua setengger, akar berpilin, sirih bersusun, kembang setaman, dan lain-lain. kerukunan juga mencerminkan rasa persatuan dan kesatuan, kegotongroyongan dan timbang rasa yang tinggi. Dapat dilihat pada ragam motif semut beriring, itik pulang petang, bunga berseluk daun, ikan sekawan, dan lain-lain. Sesuai ungkapan "senasib sepenanggungan, seaib, semalu", "yang berat sama dipikul, yang ringan sama dijinjing", "ke laut sama berbasah, ke darat sama berkering", atau "mendapat sama berlaba, hilang sama merugi", bahkan "persebatian iman" atau "perpaduan umat". Landasan ini semua menyebabkan orang Melayu selalu menerima siapa pun yang datang ke daerah melayu dengan muka jernih dan hati yang bersih. Keterbukaan yang lambat-laun melahirkan masyarakat Melayu yang majemuk dengan kebudayaannya yang majemuk pula.

Nilai Kearifan
Arif dalam menyimak dan bijaksana dalam bertindak menjadi salah satu landasan sifat orang Melayu. "Yang arif menjemput tuah, yangbijak menjemput marwah" terpateri dalam ragam motif burung serindit yang dimitoskan sebagai lambang kearifan dan kebijaksanaan Melayu.

Nilai Kepahlawanan
Orang Melayu menjunjung tinggi nilai-nilai kepahlawanan seperti dalam ungkapan "esa hilang dua terbilang, tak Melayu Hilang di bumi", "sekali layar terkembang, pantang berbalik pulang", atau "sekali masuk gelanggang, pantang berbalik belakang". Nilai ini juga bermanfaat untuk pemberi semangat dan menaikkan keberanian. Disimpai dalam ragam motif naga berjuang, naga bertangkup, garuda menyambar, ayam jantan, dan lain-lain. Ragam motif ini umumnya dipergunakan pada benda-benda kerajaan, alat perlengkapan upacacara adat, senjata, dan sebagainya.

Nilai Kasih Sayang
Sayang menyayangi, hormat menghormati, lemah lembut dan bersih hati menjadi acuan dalam budaya Melayu Riau. Umumnya dilambangkan dalam ragam motif berbentuk bunga seperti bunga bakung, bunga sekuntum, bunga cengkih, bunga mentimun, bunga kundur, bunga kuntum setaman, bunga berjurai, dan lain-lain. Motif bunga dan kuntum menjadi "mahkota" dalam hiasan.

Nilai Kesuburan
Kemakmuran hidup lahiriah dan bathiniah, murah rezeki dan berkembang usaha, yang ujungnya mewujudkan kehidupan yang aman dan damai merupakan kandungan nilai kesuburan. Ragam motif pucuk rebung dan segala variasinya sangat mencerminkan nilai ini.

Nilai Tahu Diri
Adat mengungkapkan "tahu diri dengan perinya, tahu duduk dengan tegaknya, tahu alur dengan patutnya" yang tercermin dalam ragam motif bulan penuh, kaluk pakis, awan larat beserta segala variasinya.

Nilai Tanggung Jawab
Siku keluang, akar berjalin menjadi cerminan dari sifat bertanggung jawab orang Melayu dalam kehidupannya.


Rangkuman buku Tenas Effendy
(Corak Tenunan dan Ragam Hias Melayu)

Read more ...

Kamis, Juni 04, 2009

Penggunaan Ragam Motif Melayu

Ragam motif Melayu yang telah dijabarkan sebelumnya, merupakan bentuk dasar yang masih bisa dikembangkan. Ragam motif tersebut bisa digabungkan sehingga menjadi motif gabungan yang bukan sekedar motif tunggal yang memperkaya khazanah motif. Penggabungan tersebut sesuai dengan kemampuan masing-masing pembuat atau pun perajin yang mampu melihat "inti" setiap motif dan mengawinkannya atau menggabungkannya.

Ragam motif yang dibuat dapat dimanfaatkan untuk menghiasi bangunan dari ukiran kayu, hiasan dinding dari tembaga, tenunan kain, tekat maupun bentuk lainnya. Penempatan ragam motif lazimnya berdasarkan bentuknya. Semisal pada bidang yang memanjang diterapkan motif awan larat, itik pulang petang, dan kaluk pakis. Untuk bidang yang lapang atau luas lazimnya diterapkan motif bunga tunggal, bunga sekuntum ditambah bunga tabur.

Photobucket
Terminal Bis Antar Kota Antar Propinsi (AKAP)
Payung Sekaki Pekanbaru

gedung seni idrus tintin
Bandar Serai
Seni Raja Ali Haji Pekanbaru



Pada sebuah bangunan rumah, motif lebah bergayut lazimnya diterapkan pada "listplank" rumah yaitu bagian yang berada di sebelah dalam cucuran atap. Motif selembayung, sayap layang-layang atau pun sayap layangan lazimnya diterapkan pada ujung perabung dan ujung sudut cucuran atap. Pada bagian pagar teras atau kisi-kisi pagar jendela diterapkan motif gasing-gasing ataupun pinang-pinang.

Photobucket
Penerapan pada kain songket



Pada tudung saji dan bidang memanjang pelaminan lazimnya diterapkan motif wajik-wajik. Tenunan kain juga mempunyai kelaziman penerapan motif seperti pucuk rebung pada bagian bawah kain. motif-motif lainnya diterapkan sebagai penabur hias bidang kain lainnya. Kelaziman ini tidaklah membatasi kreativitas sepanjang tidak menyalahi nilai kandungannya. Semisal motif lebah bergayut yang diterapkan pada bagian dalam cucuran atau bagian lengkungnya sebelah bawah, jika dipasang terbalik akan menjadi motif ombak-ombak yang makna dan falsafahnya pun berbeda pula.

Beberapa motif telah dibakukan adat menjadi motif yang tidak sembarang bisa diterapkan, menjadi suatu hal pantang larang penerapan motif. Semisal motif yang dijadikan lambang kerajaan, antara lain, "Muhammad Bertangkup" pada lambang Kerajaan Siak dan Pelalawan, motif Naga Berjuang pada hiasan mahkota Raja Pelalawan, motif Cogan pada Kerajaan Riau-Lingga, termasuk juga penerapan motif pada cap kerajaan.

Lambang Kerajaan Siak Sri Indrapura
(dari buku Tenas Effendy)



Dirangkum dari buku Tenas effendy.
Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau.
Photo dari database HUT Pekanbaru 224/2008

Read more ...

Rabu, Juni 03, 2009

Cendera mata Sepatu Yong Dolah

Nizam tu kalaulah dah penat ngetik. Pasti dia tidur di lantai 3 kantor. Kadang terlewat jam istirahat. Terpaksalah kami cari ramai-ramai. Pas turun tangga dari lantai 3, Nizam pun sempat-sempatnya bercerita. dasar Nizam tukang cerita.

Yong Dollah waktu tu berangkat dari Bengkalis ke Singapore nak jual arang naik pompong. Laut teduh belinyang, tak bergelombang. Pas tengah selat Melaka, Yong keker, tenampak sebiji tong besar. Yong suruh kelasi dempetkan pompong ke tong besar tu dan naikkan ke atas dek. Yong buka. Alaaaaahhhh mak, isinya sepatu sebelah kiri semua. Yong suruh kelasi buang tong tu.

Pompong jalan lagi, selang 1 jam, ketemu tong besar lagi. Yong suruh kelasi naikkan tong ke dek. Yong buka. Alaaaaah mak, isinya sepatu sebelah kanan semua. Kalaulah tong pertama tadi Yong bawa, penduduk Bengkalis bakal dapat cendera mata sepatu buatan Jepang lah.


Itulah Yong tak nak simpan dulu sepatu belah kiri. Kalau disimpannya tentu dapat sepatu banyak buatan Jepang. Ah... dasar Yong. Tapi coba bayangkan besarnya tong tersebut, sepatu dalam tong tersebut bisa untuk semua penduduk Bengkalis. Haaaaaaa....


catatan :
pompong = kapal kecil bermesin
belinyang = mengkilat diterpa sinar matahari
sebiji = sebuah
selang 1 jam = setelah berlalu 1 jam (tambahan dari eppie-cool)
sepatu = kasut (tambahan anazkia dalam bahasa malaysia)
kantor = pejabat (tambahan anazkia dalam bahasa malaysia)
Read more ...

Selasa, Juni 02, 2009

Hut Pekanbaru ke 225





Orang tua memberi petuah
Agar kita selamat adanya
Pekanbaru Kota Bertuah
Dipandang orang di manca negara

Pesta rakyat pesta yang besar
Ditaja untuk HUT ke 225 Pekanbaru
Banyak acara yang akan digelar
Agar rakyat terhibur haru

Rakyat Pekanbaru akan berpesta
Di malam hari dirayakannya
Dimeriahkan Krisdayanti dan Cici Paramida
Dipandu oleh Tantowi Yahya

Bunga kiambang kuntum di pangkal
Ditambah siku keluang banji
Mari bertanding olahraga tradisional
Dalam pesta rakyat ini

Bunga melur kelopak beranak
Elok dipandang menjadi hiasan
Ada juga permainan budak-budak
Riuh rendah mereka berlari-larian

Orang memakai kembang terapung
Berjalan elok ke pekan raya
Bujang dara melenggang di panggung
Dalam acara festival budaya

Selamat merayakan hari jadi ke 225
Kota Pekanbaru
23 Juni 1784 - 23 Juni 2009



Read more ...

Senin, Juni 01, 2009

Linggis dan Tangga Yong Dollah

Habis penat ngetik Akte Kelahiran tugas dari bos, Nizam langsung bercerita. Haaaa orang lain yang belum siap ngetik pun jadi berhenti mendengar cerita Nizam.

Waktu tu Yong pergi memancing pakai joran. Joran Yong disentak dimakan ikan sampai Yong tercampak ke dalam air. Ikan terus menarik Yong kesana kemari sampai Yong tersangkut di batu. Yong coba tarik lepas tapi tak nak lepas. Yong ingat ada linggis dekat tangga. Yong ambil lingis, Yong tuil batu. Haaa... lepas.


Cerita ini hampir sama seperti cerita dibawah ini :
Emak nyuruh Yong ambil kelapa. Yong pun manjatlah ke atas pokok kelapa. Dah dapat 4 butir kelapa. Yong nak turun, tapi Yong takut. Yong tenampak tangga dekat dapur. Yong ambil tangga, lalu Yong pun turun lah.


Begitu cerita Nizam yang disambut dengan teriakan huuuuuuuuuuu...... oleh semuanya.

Catatan :
linggis = kuku kambing = pengungkit untuk melepaskan paku
tuil = ungkit
pokok = pohon


Read more ...

Artikel bersempena

  • Open Recruitment - Riau Heritage sedang membuka kesempatan kepada teman-teman yang berminat untuk menjadi relawan. Kita belum bisa settle jadwal ngumpul bareng nih, tapi buat ...
  • Tahun Hutan - Tahun Hutan Sebagai Upaya Konservasi Hutan Dunia Ada sekitar 4 miliar hektar hutan di dunia, yang menutupi hampir 30 persen dari wilayah daratan bumi. Sekita...
  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini d...