Senin, Januari 25, 2010

Pantun Budi

Apa guna berkain batik,
Kalau tidak dengan sujinya.
Apa guna beristeri cantik,
Kalau tidak dengan budinya.

Orang Boyan duduk menyangkul,
Nampak dari hutan darat.
Beras sekoyan boleh dipikul,
Budi sedikit rasanya berat.

Bunga Cina di atas batu,
Jatuh daunnya ke dalam ruang.
Adat dunia memang begitu,
Sebab emas budi terbuang.

Jauh sungguh pergi mandi,
Maksud hati hendak bertapa.
Berat sungguh menanggung budi,
Seribu tahun memang tak lupa.

Anak beruk di tepi pantai,
Pandai melompat pandai berlari.
Biar buruk kain dipakai,
Asal hidup pandai berbudi.

Bila memandang ke muka laut,
Nampaklah sampan mudik ke hulu.
Bila terkenang mulut menyebut,
Budi yang baik ingat selalu.

Burung terbang burung jentayu,
Hinggap di balik pohon mayang.
Bungan kembang akan layu,
Budi baik takkan lah hilang.

Burung serindit terbang melayang,
Singgah hinggap di ranting mati.
Duit ringgit dipandang orang,
Jarang dipandang bahasa budi.

Baju bercorak tiada berpita,
Pakaian anak Panglima Garang.
Emas dan perak pengaruh dunia,
Budi yang baik dijunjung orang.

Anak angsa mati lemas,
Mati lemas di air asin.
Hilang mahasa karena emas,
Hilang budi karena miskin.

Sedap sungguh buah nenas,
Buat makan buka puasa.
Jangan dipandang perak dan emas,
Tapis dahulu budi bahasa.

Kapal berlayar dari Asahan,
Ambil parang dari kemudi.
Mati ikan karena umpan,
Mati orang karena budi.

Payah kami bertanam padi,
Nenas jugalah ditanam orang.
Payah kami menabur budi,
Emas juga yang dipandang orang.

Semenjak kentang dijadi gulai,
Ubi tidak bersama lagi.
Semenjak uang jadi pemakai,
Budi jarang berguna lagi.

Yang kurik hanya kundi,
Yang marah hanya saga.
Yang baik hanya budi
Yang indah hanya bahasa.

Biarlah orang bertanam buluh,
Kita bertanam padi juga.
Biarlah orang bertanam musuh,
Kita bertanam budi juga.

Baik-baik makan keladi,
Keladi itu ada miangnya.
Baik-baik termakan budi,
Budi itu ada hutangnya.

Kalau makan keladi muyang,
Jangan lupa pada bungkalnya.
Kalau termakan budi orang,
Jangan lupa pada asalnya.

Apalah tanda batang keladi,
Batang keladi di tanah isinya.
Apalah tanda orang berbudi,
Orang berbudi rendah hatinya.

Hidup dalam pekerti,
Mati dalam budi.
Tahu budi ada hutangnya,
Tahu hidup ada bebannya.


*****

Baca juga Pantun Melayu lainnya :
Pantun Pembuka
Pantun Jenaka
Pantun Percintaan
Pantun Perpisahan
Pantun Kias
Pantun Budi
Pantun Adat
Pantun Agama
Pantun Nasihat
Pantun Pahlawan
Pantun Teka-teki



Sebagian disadur dari :
Pantun dan Pepatah Melayu
Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, SH
Diterbitkan :
Yayasan Kesultanan Deli Serdang
Medan
Cetakan IV 2009




Artikel bersempena