Selasa, Januari 19, 2010

Pantun Percintaan

Pucuk putat layu,
Pucuk payu kembang.
Duduk dekat malu,
Duduk jauh bimbang.

Anak gagak di lesung Cina,
Makan berulang ke perahu.
Hati hendak bagaikan gila,
Tapi membilang tidaklah tahu.

Sirih kuning junjung bergolek,
Padi rebah melepas tikar.
Putih kuning kulitnya cantik,
Gajah seekor tak abang tukar.

Tumbuk damar ting-ting,
Pasang damar raya.
Tebuk lubang dinding,
Intai anak dara.

Limau purut lebat di pangkal,
Sayang selasih condong uratnya.
Angin ribut dapat ditangkal,
Hati kasih apa ubatnya.

Apa guna pasang pelita,
Jika tidak dengan sumbunya.
Apa guna bermain mata,
Kalau tidak dengan sesungguhnya.

Gelang emas di atas peti,
Ambil lampu padam pelita.
Barulah puas rasanya hati,
Jika dapat bertentang mata.

Kalau pergi ke kedai malam,
Belikan saya bunga sekaki.
Biarlah saya mengidap demam,
Jangan mengidap patah hati.

Bunga mawar bunga rampai,
Ragikan kain Nila Utama.
Bila gerangan niatku sampai,
Hendak bertemu duduk bersama.

Coba-coba menanam mumbang,
Moga-moga tumbuh kelapa.
Coba-coba bertanam sayang,
Moga-moga jatuh cinta.

Encik Ros pergi ke pekan,
Hendak membeli ubi keladi.
Bukan kurus karena tak makan,
Kurus karena merindu hati.

Encik Isah bertanam tebu,
Jangan dibuang selaranya.
Tak usah pun saya bertemu,
Asal bisa mendengar suaranya.

Tanamkan kasih ke dalam dada,
Harap akan cinta dapat menjadi meluas.
Walaupun wajah tak dapat bersua,
Lihat bubung atapnya sudahlah puas.

Encik Isah datang bertamu,
Lekat kain sarung dipinggangnya.
Tak usah pun saya bertemu,
Asal nampak bubung atapnya.

Batang Keduduk di tepi perigi,
Nak kodok dimakan baruan.
Apa jadi kita begini,
Bagai pungguk rindukan bulan.

Sampan pukat sampan Serani,
Boleh berlayar ke tanah seberang.
Tuan umpama bintang nurani,
Makin ditentang bertambah terang.

Tutuh nangka tinggi-tinggi,
Rotan mana di tengah huma.
Lamanya sudah abang mencari,
Dapatlah intan di tengah bunga.

Waktu petang matahari condong,
Cahayanya muram disaput mega.
Sungguhpun jauh mata terlindung,
Hati di dalam teringat juga.

Sayang selindit terbang melayang,
Hinggap kemari di ranting meranti.
Tujuh bukit sembilan ladang,
Di situ tempat abang menanti.

Tengkorak itik
Tengkorak ayam
Dapat bini cantik
Tak tidur malam


*****

Baca juga Pantun Melayu lainnya :
Pantun Pembuka
Pantun Jenaka
Pantun Percintaan
Pantun Perpisahan
Pantun Kias
Pantun Budi
Pantun Adat
Pantun Agama
Pantun Nasihat
Pantun Pahlawan
Pantun Teka-teki



Sebagian disadur dari :
Pantun dan Pepatah Melayu
Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, SH
Diterbitkan :
Yayasan Kesultanan Deli Serdang
Medan
Cetakan IV 2009


UPDATE :
Tambahan dari ALdy
Buah pinang dibelah dua,
dua dibelah tersisa satu
Kalau cinta sudah mendua,
untuk apa kita bersatu.

Burung gagak terbang menjauh,
Burung punai hinggap didahan
kalau dinda kian menjauh,
Mengapa cinta harus kutahan.

Sungguh ramai bandar Jakarta,
Malam terang mandi cahaya,
Sungguh pedih tiada terkira,
Tiada kusangka dinda mendua.

Artikel bersempena