Minggu, Agustus 14, 2011

Trombo Rokan

Trombo Rokan : Buku Besar Alam Manusia dan Budaya Melayu Rokan adalah merupakan buku rekaman berharga tentang gagasan, pandangan dunia, pengalaman hidup serta pengetahuan manusia dan masyarakat Melayu Rokan Hulu dalam rentang sejarahnya yang panjang. Melalui entri-entri dalam buku ini kita seperti menyaksikan pentas identitas suatu puak di alam Melayu, dibawa dalam suasana percakapan tinggi (dialog) dan penjelajahan budaya yang ramah, menganjungkan kerendahan hati, menuju pemahaman yang subur dan safi. (Al-Azhar)

Buku Trombo Rokan adalah merupakan ENSIKLOPEDIA yang berisikan khasanah kebudayaan Melayu Limo Luhak Rokan Hulu, yang dibuat dalam bentuk entri-entri yang disusun menurut abjad. Penulisannya diupayakan dapat mengantarkan pembacanya untuk memahami peri kehidupan orang-orang melayu, merasakan dan menikmati keunikan dalam ruang tradisi, sastra, bahasa, istilah, pepatah, peribahasa, ungkapan, adat istiadat, seni dan budaya, dilengnkapi denganphoto-photo sebagai ilustrasi pendukung.

Sebagai sebuah karya ensiklopedia, maka Trombo Rokan ditulis untuk dapat dijadikan sebagai acuan dalam berbagai bidang keilmuan. Data-data yang ada dalam buku ini semoga bisa dikembangkan lebih-lanjut bagi mereka yang mempunyai kepentingan dalam studi dan penelitian ilmiah.

Entris dalam buku Trombo Rokan ini dijelaskan dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah difahami, semoga keberadaan Trombo Rokan dapat memenuhi kebutuhan khalayak pembaca akan informasi tentang alam kebudayaan Melayu, khususnya Melayu Limo Luhak Rokan Hulu.

Trombo adalah istilah asli bahsa Melayu di Rambah atau Tambusai yang artinya cakap-cakap, cerita atau bincang-bincang, kadang disebut juga dengan istilah Tombo atau Tambu. Buku Trombo Rokan memuat bentuk-bentuk cerita penyampaian dari mulut ke mulut yang isinya berupa entris bahasa, keterangan tentang budi pekerti, nasehat, pembawaan, adab, pepatah, ungkapan serta hal ikhwal kebudayaan Melayu di daerah Rambah, Kepenuhan dan Kunto Darussalam.

Rokan adalah sebuah nama aliran sungai yang mengalir di kabupaten Rokan Hulu dan bermuara di kabupaten Rokan Hilir. Hulunya sampai ke sungai Asik di Rao Pasaman. Di tepian sungai Rokan terdapat kampung-kampung dan negeri-negeri serta beragam suku-suku, puak dari bangsa Melayu yang mereka dikenal juga dengan istilah "orang di sepanjang sungai Rokan". Khazanah di sepanjang sungai Rokan ini adalah untaian benang merah kebudayaan yang mempunyai banyak kesamaan mulai dari muara hingga ke hulunya, sehingga tercakuplah keseluruhan data tentang khazanah Melayu yang ada di sepanjang sungai Rokan tersebut.

Hampir seluruh isi buku Trombo Rokan ini berasal dari Taslim F. bergelar Datuk Mogek Intan yang selama bertahun-tahun mencari dan mengumpulkan khazanah yang masih ada dan tersisa.

"Tojujong kapeh non sokolumpang, untuong non indo sokali sudah, pinto non indo sokali abih, ibarat kito bobilang ari, abih ari boganti malam, abih bulan boganti taun, toruih monoruih sopanjang maso"

"Tuahnyo soko ko niniek mamak, tuah pusako ko nogori, itulah posan niniek kito, kok posan jangan lah lupo, kok potaruh jangan lah ilang"
Taslim F. Dt. Modek Intan

Terpikullah kapas yang sekelumit
untung tak sekali sudah
pinta yang tak sekali usai
bagai kita berbilang hari
habis hari berganti malam
habis bulan berganti tahun
terus menerus sepanjang masa

Tuah saka pada ninik mamak
tuah pusaka negerilah yang memegang
itulah pesan ninik kita
maka pesan itu janganlah lupa
yang telah diserahkan hendaklah jangan hilangkan





Trombo Rokan

Pendata Utama
Taslim F. Dt. Mogek Intan

Penulis
Junaidi Syam, S.Sn

Anggota tim
Arpan dan Arwandi

Penerbit
Yayasan Garasibumy
(Gerakan Pencerahan Seni Budaya Melayu)

2007

*****

Dibawah ini merupakan salah satu contoh isi Trombo Rokan :

Abdul Wahab Rokan Al Khalidi Naqsabandi (1811-1926 M)
terkenal pula dengan gelar Tuan Guru Babussalam, Langkat Sumatera Utara, atau dengan gelar Syekh Abdul Wahab Rokan. Diberi nama gelar Rokan karena ia lahir di tepian sungai Rokan tepatnya di Rantau Binuang Sakti yaitu sebuah kampung di Kepenuhan Kab. Rokan Hulu. Ia adalah putra dari Abdul Manap bin M Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tambusai. Ibunya bernama Arbai'iyah. Menurut silsilah dari thariqat Naqsabandiyah beliau menempati urutan ke-32 dari Rasulullah SAW.

Abdul Wahab Rokan pada tahun 1279 H hingga 1285 H beroleh ijasah thariqat dari Syekh Sulaiman Zuhdi setelah bersuluk di bukit Abi Qubis Mekkah. Beliau datang dari Kualuh ke daerah Langkat, Sumatera Utara pada tahun 1286 H atas undangan Sultan Musa Al-Muazzam Syah. Beliau mulai mengajarkan thariqat Naqsabandiyah di Dumai dan diberilah nama kampung tersebut dengan nama "Kampung Mesjid". Tahun 1292 H, beliau yang biasa dipanggil "Tuan Guru" juga membangun sebuah kampung di Kualuh Kab. Labuhan Batu dengan nama yang sama yaitu "Kampung Mesjid". Tahun 1294 H, Tuan Guru pindah ke Langkat. Tahun 1300 H, Tuan Guru pindah ke Babussalam dengan diikuti 160 orang bersamanya. Tahun 1307 H Tuan Guru dituduh membuat uang palsu dan hijrah ke Malaysia. Tahun 1312 Tuan Guru kembali ke Babussalam. Tahun 1332 H Tuan Guru mengutus putranya Pakih Tuah dan Pakih Tambah ke Jakarta untuk menjalin hubungan dengan pimpinan PSII HOS Cokroaminoto, Raden Gunawan dan tokoh lainnya dalam rangka perjuangan Islam. Tahun 1341 H Tuan Guru mendapat bintang kehormatan dari Kerajaan Belanda yang diserahkan oleh Residen Van Aken. Tahun 1345 H tepatnya 21 Jumadil Awal (27 Desember 1926), Tuan Guru wafat dan dimakamkan di Babussalam Langkat Sumatera Utara (sebagian menyebutnya Besilam).

Syekh Abdul Wahab Rokan Al Khalidi An Naqsabandi adalah ulama dan ahli tasawuf terkenal yang berasal dari Rantau Binuang, Kepenuhan, Rokan Hulu, Riau.

Artikel bersempena