Jumat, September 30, 2011

TANJUNG PINANG NEGERI BERHARI JADI

SEMALAM, 24 September 2011, Sabtu, di Hotel Aston, Tanjungpinang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Provinsi Kepulauan Riau memperingati Hari Jadi ke-9 Provinsi Kepulauan Riau. Penetapan tanggal itu sebagai Hari Jadi Provinsi Kepulauan Riau mengambil sempena peristiwa disahkannya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia pada tanggal dan bulan yang sama sembilan tahun silam, Selasa petang. Walau pemerintahannya baru diresmikan lebih kurang dua tahun kemudian, yakni 1 Juli 2004, Undang-undang tentang pembentukan provinsi ini lebih dulu disahkan.

Setiap peringatan Hari Jadi Provinsi Kepulauan Riau, sama ada diundang atau tidak—kebetulan semalam saya diundang—kenangan yang paling indah yang terekam di minda dan dibenarkan oleh hati saya adalah dua peristiwa di tempat yang sama. Pertama, di dalam Ruang Rapat Paripurna DPR RI ketika Wakil Ketua DPR ketika itu, Tosari Widjaya, yang memimpin rapat mengetukkan palu tanda disetujuinya Kepulauan Riau menjadi provinsi. Sungguh peristiwa yang mengharukan kami yang memenuhi ruang itu mengingat begitu berliku-likunya perjuangan untuk membentuk provinsi ini. Tak ada kata dan kalimat yang tepat untuk melukiskan keharuan, kegembiraan, dan kebahagiaan itu, kecuali ditunjukkan dengan isak-tangis, pekik Allahu Akbar yang membahana, dan sujud syukur. Kedua, ketika kami memasuki Masjid Baitul Rahman di Kompleks Gedung DPR/MPR RI untuk melaksanakan salat Magrib, yang kami mulakan dengan kembali melakukan sujud syukur sekali lagi.

Mengetahui kebahagiaan itu, sebagian besar jamaah masjid menyalami kami dan mengucapkan tahniah. Hati siapakah yang tak berbunga-bunga? Itulah klimaks dari perjuangan bersama rakyat Kepulauan Riau yang paling membanggakan. Itulah hadiah yang paling berharga dari perjuangan serempak dan serentak yang penuh rintangan dan hambatan sejak 15 Mei 1999, bahkan lebih jauh lagi jika dihitung upaya-upaya yang pernah dilakukan oleh generasi terdahulu tetapi gagal. Agaknya pula, itulah puncak dari kebersamaan dan kebahagiaan bersama, yang sangat sulit disanding dan dibandingkan dengan hari-hari yang berlalu kemudian.

Di dalam ruang Peringatan Hari Jadi semalam, saya tenggelam dalam luapan emosional sembilan tahun silam. Kalau tak semua, setidak-tidaknya sebagian dari teman-teman yang lain pun, saya yakin, diliputi perasaan yang sama. Takkan pernah ada acara Peringatan Hari Jadi di hotel yang aduhai itu seandainya perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau dulu gagal. Takkan ada wajah-wajah yang penuh ceria yang memenuhi ruang itu jika perjuangan tak membuahkan hasil, bahkan wajah-wajah yang ketika perjuangan kita lancarkan dulu sangat cemberut dan garang menentang malah kini terlihat jauh lebih berseri. Memandang bangunan hotel yang megah itu pun saya berpikir, sudah dibangunkah hotel sehebat ini di sini kalau Provinsi Kepulauan Riau tak berwujud?

Fenomena orang-orang yang hadir dan tak hadir di dalam acara itu paling menarik perhatian saya. Di antara teman-teman seperjuangan, ada yang tak hadir di tempat itu. Beberapa di antara mereka memang lebih dulu berpulang ke Rahmatullah. Banyak pula yang mungkin undangannya tak sampai atau, bahkan, memang tak diundang karena jumlahnya memang sangat banyak. Jika kesemuanya dijemput, pastilah ruang acara itu tak mampu menampungnya.

Di antara yang hadir pula, pada masa perjuangan dulu berada pada dua kubu yang berseberangan. Kubu pertama, teman-teman yang mempertaruhkan segala-galanya untuk mewujudkan terbentuknya Provinsi Kepulauan Riau. Kami menyebutnya “Perjuangan Menjemput Marwah”. Itulah sebabnya, di kalangan para pejuang setiap 15 Mei saban tahun diperingati sebagai “Hari Marwah”. Kubu kedua, mereka yang berjuang juga, tetapi berupaya dengan segala helah dan daya untuk menggagalkan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau. Kini kami bertembung di dalam satu ruang pada acara Peringatan Hari Jadi Provinsi Kepulauan Riau yang dulunya diperjuangkan untuk diwujudkan oleh satu pihak dan digagalkan oleh pihak lain; yang kini menjadi pihak yang sama. Itulah fenomena manusia, “Sekali air bah, sekali tepian berubah!”

Kebiasaan ini agak mengganggu sehingga saya agak kurang selesa di tempat dan pada waktu yang seharusnya saya bahagia. Apakah itu? Apa lagi kalau bukan kebiasaan menerka-nerka. Barangkali, terkaan pertama saya, mereka yang dulunya menentang merasa cemas jika Provinsi Kepulauan Riau terbentuk karier politik dan birokrasi mereka akan hancur. Atau, ini yang kedua, mereka khawatir kemapanan sosial-ekonomi mereka sebelum provinsi ini terbentuk akan menyusut dan menguap karena takkan ada tempat bagi mereka untuk berimprovisasi seperti di dalam lingkungan lamanya yang memang telah terbukti banyak berbuat “bakti” bagi mereka dengan limpahan “karunia”.

Kalau memang pikiran itu yang bergelayut di minda dan hati mereka kala itu, kini Allah swt. ingin menunjukkan bahwa jangan mendahului-Nya untuk hal-hal yang tak patut diketahui oleh manusia. Kini mereka malah mendapat hadiah, entah berupa ujian atau anugerah, dari hasil sebuah perjuangan dari pejuang-pejuang sejati yang tak pernah memikirkan kepentingan dirinya sendiri, baik dulu, kini, maupun nanti, yang dulunya mereka tentang habis-habisan. Hadiah apakah yang mereka dapatkan itu? Karier dan kelimpahan sosial-ekonomi yang jauh lebih tinggi dan besar daripada yang sanggup mereka pikirkan sebelum ini. Bahkan, banyak di antara mereka yang “full team” (dalam hitungan kekerabatan) masuk dalam barisan “pengisi kemerdekaan” pada pelbagai lini kehidupan yang disediakan oleh provinsi ini setakat ini. Padahal, pejuang sejatinya ada yang malah pada acara ulang tahun diundang pun tidak, jangankan mendapatkan kemudahan hidup.

Terlepas dari kesemua fenomena yang kadang-kadang meradangkan itu, pencapaian matlamat pembentukan Provinsi Kepulauan Riau harus terus digesa dan ditingkatkan. Kesejahteraan masyarakat secara merata yang bersimpul pada tiga pilar: peningkatan pendapatan keluarga, pemerolehan pendidikan yang lebih baik, dan pelayanan kesehatan yang lebih selesa harus menjadi perhatian utama oleh siapa pun yang memimpin negeri ini. Saya percaya bahwa pasti akan ada hidayah dan inayah dari Allah swt. bagi para pemimpin yang memperjuangkan tujuan itu walau apa pun cabaran dan tantangan yang dihadapinya. Sebaliknya pula, kealpaan yang satu akan menjadi penjemput kealpaan yang lain. Itu janji yang cepat atau lambat pasti terbukti, kita percaya atau tidak. Karena apa? Karena ini amanah rakyat yang disaksikan oleh Sang Khalik.

Dengan plus-minusnya, Provinsi Kepulauan Riau kini sedang menuju ke hala positif pencapaian matlamat itu. Adalah terlalu picik rasanya bagi siapa pun yang ungkal untuk mengakui hal itu. Bahwa di sana-sini masih ada kekurangan, itu merupakan hal yang tak terlalu luar biasa bagi daerah yang sedang membangun. Semangat seiya-sekata, seaib-semalu, dan senasib-sepenanggungan yang bersebati dalam perjuangan pembentukannya dulu rasanya akan meniupkan roh yang lebih hebat lagi suci jika diterapkan dalam pembangunan. Selamat berhari jadi negeriku, negeri kita. Dirgahayu Provinsi Kepulauan Riau!***



Catatan oleh Abdul Malik
Sebagaimana tercatat di facebook pada 25 September 2011 jam 21:44

Artikel bersempena

  • Tahun Hutan - Tahun Hutan Sebagai Upaya Konservasi Hutan Dunia Ada sekitar 4 miliar hektar hutan di dunia, yang menutupi hampir 30 persen dari wilayah daratan bumi. Sekita...
  • Seminar Ornamen - Tempat : Museum Sang Nila Utama Waktu : Sabtu, 18 Oktober 2014 Pukul : 09.00 wib Pembicara :  - Junaidi Syam/ Jon Kobet (Pemahaman Ornamen Khas Melayu Ri...
  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini d...