Jumat, Oktober 28, 2011

BATAM DAN RESAM MELAYU

Sejak kecil saya sudah diperkenalkan dengan saudara mara kami di Batam: dari Pulau Terung, Pulau Sarang, Kasu, Geranting, Jaluh, Belakang Padang, Nongsa, Batu Besar, dan lain-lain. Sekali-sekala, paling kurang setahun sekali, mereka datang bersilaturrahim ke kampung di Karimun, begitu pula sebaliknya kami ke kampung mereka. Kami paling bahagia kalau mereka datang pada musim buah-buahan, khususnya saudara mara kami dari Pulau Terung, Pulau Sarang, dan Geranting karena mereka tak memiliki buah-buahan tahunan seperti di Karimun, khususnya di Lubukpuding, Pulau Buru, tempat kelahiran saya. Di kampung, sesuai dengan musimnya, mereka dapat menikmati buah-buahan tahunan seperti durian, manggis, langsat, tampoi, cempedak, dan kundang dengan sepuas-puasnya.

Buah-buahan tahunan bukanlah istimewa bagi kerabat kami dari Nongsa dan Batu Besar. Pasalnya, mereka pun memiliki kebun buah-buahan itu seperti halnya kami, kecuali buah kundang, seingat saya tak ada di Nongsa. Karena hubungan tali darah dan kekerabatan, pertemuan kami selalu diwarnai oleh nuansa kebahagiaan dan keceriaan yang tak semuanya dapat dilukiskan dengan kata-kata, tetapi lebih dirasakan di lubuk hati.

Dalam rasa kanak-kanak, saya paling gembira apabila Pakngah Seman (Usman) dan Makngah Leha (Zulaiha), sekadar menyebut dua nama, dan anak-anaknya datang ke kampung kami. Pasalnya, sesuai dengan kebiasaannya, mereka akan membawakan kami buah tangan berupa sotong (cumi-cumi), ikan-ikan karang, dan kadang-kadang kima (Chama gigas). Sotong dari kawasan Batam itu besar-besar, jarang ada di perairan Karimun. Begitu pulalah ikan-ikan karang dan lebih-lebih kima (kerang besar), yang memang tak ada di perairan Karimun, sekurang-kurangnya sejak masa kecil saya. Rasa anugerah Allah dari sari-laut Batam itu lezat-lezat. “Pasti sedap punyalah!” kata kami. Begitu lahapnya kami menyantap makanan laut dari kawasan Batam itu, sebagaimana bersemangatnya sanak-keluarga kami menikmati buah-buahan tahunan.

Semua kekayaan laut itu memiliki harga jual yang tinggi di pasar Singapura, yang letaknya memang tak jauh dari Batam, hanya kira-kira 12,5 mil laut (20 km). Itulah sebabnya, menangkap hasil laut menjadi salah satu mata pencaharian utama penduduk Batam kala itu dan membuat mereka dapat hidup dengan sangat layak. Apalagi, mereka memiliki lahan kebun yang sangat luas.

Kali pertama sampai di kawasan Batam, saya sangat terpesona melihat banyaknya cahaya lampu petromak di sepanjang pantai pada malam hari. “Ada apakah gerangannya,” tanya saya dalam hati. Karena mengetahui keheranan saya itu, saudara saya menjelaskan bahwa itulah kegiatan orang-orang menangkap sotong dengan menggunakan sondong atau serampang, yang dilengkapi lampu petromak. Untuk memuaskan rasa ingin tahu, malam besoknya saya diajak oleh saudara saya untuk menyondong dan menyerampang sotong. Pantai pada malam-malam seperti itu laksana sedang berpesta, terang-benderang oleh cahaya lampu petromak. Itulah salah satu pengalaman manis saya ketika kali pertama menjejakkan kaki di Kepulauan Batam. Indah dan sungguh membahagiakan.

Batam lagi-lagi membuat saya kagum dalam kunjungan kekeluargaan itu. Betapa tidak? Ternyata, kaum perempuannya umumnya pandai berkayuh (berdayung) dan kuat-kuat pula sehingga tak terkesan rehet (cengeng). Tak ada pekerjaan, sama ada di laut atau di darat, yang tak dapat mereka lakukan. Mereka sangat mandiri. Menurut cerita orang tua-tua, kaum perempuan Karimun pun memiliki kemahiran itu, bahkan pandai bersilat, khasnya di Buru. Akan tetapi, sejak masa kanak-kanak, saya tak lagi dapat menyaksikan kelebihan itu pada kaum perempuan Karimun, kecuali yang pandai bersilat masih saya jumpai walaupun tak begitu banyak lagi. Itulah sebabnya, saya menjadi sangat kagum akan kemahiran kaum perempuan Batam kala itu. Kini saya sadar, begitu akrabnya orang Batam dengan lingkungannya.

Petang hari di Batam biasanya kami isi dengan berolahraga. Olahraga yang paling populer ialah sepak takraw, yang mengalahkan sepak bola walau orang Batam pun sebetulnya campen juga bermain bola kaki. Pemuda Batam umumnya sangat menyenangi olahraga yang menggabungkan antara tradisi dan seni itu. Tak heranlah apabila Batamlah yang pertama sekali menyumbangkan pemain takraw tingkat nasional dari Indonesia kawasan barat.

Para pemuda Batam yang telah mengharumkan nama Batam, Kepulauan Riau, Riau, dan Indonesia dalam keahliannya itu tercatatlah Musa, Harun, dan Abdul (Bedol), yang kebetulan semuanya dari Pulau Terung. Sesudahnya memang ada nama-nama lain, tetapi merekalah pendahulunya. Mereka menjadi idola anak-anak muda karena selalu tampil mewakili Riau dan Indonesia dalam pertandingan tingkat nasional dan internasional. Dari kaki dan kepala mereka, Kepulauan Riau dan Riau dikenal di tingkat nasional dalam olahraga sepak takraw, seterusnya mereka memopulerkan Indonesia di tingkat internasional, sekurang-kurang Asia.

Bang Musa, yang guru itu, kini menjadi kepala sekolah dasar (SD) di Batam. Bang Harun tak ada kabar beritanya saat ini, paling tidak, saya tak tahu lagi di mana dia berada. Abdul atau Bedol, sudah almarhum dalam usia yang sebetulnya masih dini. Kepergiannya menghadap Ilahi hanya diantarkan dengan prosesi biasa saja mengikuti cara orang kampung, malah terkesan amat sederhana, tanpa sedikit pun ada penghargaan bagi seorang olahragawan nasional yang pernah mengharumkan nama daerah dan bangsa. Sungguh suatu kenyataan yang amat memilukan.

Memang, olahraga menjadi perekat kami, keluarga besar Kepulauan Riau. Kunjung-mengunjung silih berganti kami lakukan sambil melakukan pertandingan olahraga. Kalau di darat ada sepak takraw, sepak bola, dan lain-lain; di pantai kami melakukan lumba kolek, lumba jung, lumba berenang, dan lumba menyelam. Dalam hal menyelam, para pemuda Batam sulit ditandingi. Mereka memang ahlinya dalam bidang ini. Pertandingan olahraga memang hampir tak pernah luput dari setiap pertemuan kami, bahkan bersempena dengan menghadiri acara nikah-kawin dan Hari Raya pun, acara olahraga tetap dilakukan.

Malam-malam di Batam tempo dulu sering diisi dengan pertunjukan kesenian. Batam memang memiliki anekaragam kesenian tradisional: ada makyong, ada sandiwara bangsawan, ada musik tradisi, ada lagu-lagu tradisi, ada pantun dan syair, dan sebagainya. Semuanya menyiratkan kekayaan budaya Batam dan kebesaran tamadun sebagai bagian dari keranggian tamadun Melayu Kepulauan dan Selat Melaka.

Itulah sekadar senarai serba tak lengkap tentang pertemuan dan pergaulan saya dengan Batam dan masyarakatnya dengan latar masa lalu. Hari-hari kami isi dengan pelbagai aktivitas yang menjelmakan kecanggihan tamadun sehingga hidup dapat dinikmati secara selesa. Padahal, untuk melakukan kunjung-mengunjung itu, bukan tak banyak tantangan yang dihadapi, terutama tantangan alam. Dengan hanya menggunakan sampan layar, mulanya, sebagai alat transportasi kadang-kadang kami harus melawan terpaan badai, jirusan hujan, dan amukan gelombang. Namun, semua itu taklah menjadi halangan karena badai dan ombak memang menjadi bagian dari hidup kami sehari-hari. Yang pasti, pertemuan dengan sanak-keluarga dan handai-taulan menjadikan hidup lebih bermakna.

*****

Pada 1787 Sultan Mahmud, Yang Dipertuan Besar (Sultan) Kerajaan Riau-Lingga kala itu, memindahkan pusat pemerintahan kerajaan dari Hulu Riau di Bintan ke Daik di Lingga. Rombongan Sultan Mahmud berhijrah ke Lingga dengan 200 perahu. Dalam pada itu, rombongan lain yang terdiri atas 150 perahu berhijrah ke Pulau Bulang, Batam, dipimpin oleh Temenggung Abdul Jamal. Karena orang Melayu semuanya beredar, Hulu Riau menjadi kosong dari orang Melayu. Para pekerja di ladang gambir kemudian menguasai ladang milik orang Melayu di Bintan.

Apa pasal? Pemerintah kolonial Belanda pada 17 Juni 1785 mengirim David Ruhde menjadi Residen Riau pertamanya. Ruhde ternyata membawa lengkap perangai penjajahnya: kasar, angkuh, dan sombong. Sang Residen mengambil kayu-kayu dan hasil hutan Riau-Lingga tanpa meminta izin sama sekali kepada pihak Kerajaan Riau-Lingga. Tentulah Sultan Mahmud dan Yang Dipertuan Muda Raja Ali serta rakyat Riau-Lingga merasa dilecehkan sehingga mereka sangat marah.

Perlakuan biadab David Ruhde menuai padahnya. Belum genap dua tahun dia di Riau-Lingga, tepatnya pada 10 Mei 1787, sepasukan lanun dari Tempasok, Kalimantan Barat datang menyerang Belanda di Tanjungpinang. Kala itu benteng Belanda yang dijaga satu garnisun berkekuatan tak kurang dari 200 orang ranap dihantam pihak penyerang. Setelah benteng mereka diporak-porandakan, David Ruhde dipaksa untuk menyerah dan diberi waktu tiga hari harus meninggalkan Riau-Lingga, kembali ke Melaka. Menurut catatan penulis kronik, Ruhde terpaksa meninggalkan Riau-Lingga dan kembali ke Melaka dengan hanya mengenakan pakaian sehelai sepinggang.

Belanda tentulah tak akan percaya bahwa serangan itu semata-mata ulah para lanun Tempasok. Tentulah ada aktor intelektual di belakang semua itu. Siapa lagi kalau bukan Sultan Mahmud dan Yang Dipertuan Muda Raja Ali? Bukan penjajah Belanda kalau tak melakukan serangan balasan.

Karena khawatir akan tindak balas Belanda, yang tentu akan membawa dampak yang tak menguntungkan, Sultan Mahmud memilih untuk memindahkan pusat pemerintahan kerajaan ke Daik, Lingga. Dan, dalam kepindahan itu Temenggung Abdul Jamal menetap di Pulau Bulang, Batam.

Pangeran Oranye Belanda terlempar dari istananya. Itu terjadi akibat dari bergolaknya Revolusi Perancis di Eropa. Khawatir kawasan jajahannya jatuh ke pihak Perancis, William Oranye menyerahkannya di bawah penjagaan Inggris. Oleh Gubernur Inggris di Melaka, pada 18 September 1795 kedaulatan Kerajaan Riau-Lingga dikembalikan kepada Sultan Mahmud. Hal yang sama dilakukan oleh Gubernur Jenderal Belanda di Batavia. Sejak itu Kerajaan Riau-Lingga menjadi negara yang merdeka kembali.

Engku Muda Muhammad, putra Temenggung Abdul Jamal, yang telah ditempa oleh ayahndanya di Pulau Bulang, Batam, ditunjuk oleh Sultan Mahmud sebagai pejabat sementara Yang Dipertuan Muda. Dari Pulau Bulang dia kembali ke Bintan. Negeri Riau menjadi ramai kembali dengan pelbagai aktivitas kehidupan manusia untuk anekaragam keperluannya.

Setelah Raja Ali kembali menjadi Yang Dipertuan Muda Riau, Engku Muda Muhammad diangkat Sultan menjadi Temenggung Johor. Akan tetapi, dia menolak dan memilih pindah ke Singapura. Tun Ibrahim, adiknya, kemudian menggantikan-nya menjadi Temenggung Johor.

*****

Berdasarkan surat Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga Rabu, 29 Rabiul Akhir 1308 H., Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir bin (alm.) Yang Dipertuan Riau Raja Haji Abdullah al-Khalidi diberi hak untuk mengelola Pulau Batam. Oleh keduanya, didirikanlah perusahaan batu bata Batam Brick Goods di Pulau Batam.

Selanjutnya, dengan surat Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga, Selasa, 8 Rabiul Awal 1316 H. bertepatan dengan 26 Juli 1898 M. ketentuan itu dipertegas lagi. Bersama dengan Raja Abdullah (Tengku Besar), Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir dikukuhkan lagi haknya sebagai pengelola Pulau Batam. Maka, berkembanglah usaha batu bata di Batam itu.

Alih-alih, Residen Riau, di Tanjungpinang pada 23 Juni 1911 dengan “Firman” (tanda petik oleh A.M.) No. 61/L yang ditandatangani oleh G.F. de Bryn Kops membatalkan semua surat kepemilikan yang dikeluarkan oleh Sultan Riau-Lingga. Hal itu terjadi setelah Sultan Riau-Lingga dimakzulkan (secara sepihak dituruntahtakan oleh pemerintah kolonial Belanda karena Sultan dianggap pembangkang). Semua surat kepemilikan itu harus diganti dengan surat dari Residen Riau.

Tentu saja Raja Ali Kelana, dan sebagaian orang Melayu, tak mau menerima keputusan itu. Dia dan mereka mengharamkan mengubah surat dari Sultan dengan surat dari penjajah Belanda. Sebagai akibatnya, perusahaannya di Batam dengan terpaksa harus ditinggalkannya. Begitu pun sebagian rakyat Riau-Lingga lebih memilih meninggalkan harta-benda mereka daripada menukarkan surat kepemilikan yang dibuat Sultan dengan surat penjajah Belanda. Cara itulah yang ditempuh oleh orang Melayu, bukan hanya di Batam, melainkan juga di Bintan dan tempat-tempat lain. Bagi Raja Ali Kelana dan rakyat pengikutnya, marwah bangsa jauh lebih tinggi nilainya daripada harta-benda. Untuk menjunjung marwah itulah, mereka rela meninggalkan kampung halaman dan harta-benda, yang padahal, mereka adalah pemilik dan ahli waris sahnya.

Adalah aneh tetapi nyata. Dalam alam merdeka, hak mereka atas tanah dan harta-benda lain tak dipulihkan seperti yang tercantum dalam surat kepemilikan yang dikeluarkan oleh Sultan Riau-Lingga. Padahal, mereka meninggalkan semua itu karena menentang Belanda dan tak sudi bertuankan penjajah itu. Nah, yang merdeka sebenarnya siapa?
Bagaimanakah Batam hari ini? Dunia memang terus berubah. Namun, tentu, kita sangat berharap perubahannya menjadi lebih baik, baik pada fisik daerahnya maupun pada masyarakatnya secara utuh dan menyeluruh. Kata orang bijak, sejarah selalu berulang dan sejarah akan memberikan kesaksiannya kepada kita tentang pelbagai peristiwa yang diperbuat dan dialami manusia (tokoh) dalam ruang dan waktu. Dalam perspektif ruang dan waktu itu pulalah, tokohnya akan terbalut oleh satu di antara tiga warna: putih, hitam, atau abu-abu. Sekarang tinggal pilih, warna apakah yang dikehendaki?***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebok pada 02 Juni 2011 jam 16:18
Read more ...

Rabu, Oktober 26, 2011

GEMINTANG PENABUR MATAHARI

Gemintang Penabur Matahari (GPM) adalah nama “geng” siswa sekolah dasar (SD). Geng itu terdiri atas enam orang bersahabat: Dina Aprilia Ardaini (Dina), Sinta Arnindi (Nindi), Amanda Rosliana (Liana), Bella Marlinda (Bella), Mila Samarinda (Mila), dan Vely Salsabila Joanda (Vely). Kesemuanya putri. Mereka bersekolah di SD Bestari Permai dan duduk di kelas 6B, kecuali Vely di kelas 6A. Keenam siswa itu sangat baik hati, rajin belajar dan bekerja, cerdas, kreatif, periang, dan tentu saja cantik-cantik.

Kecuali kebetulan belaka, dicari sekeliling dunia pun tak akan pernah kita temukan keenam gadis kecil itu. Pun kita tak akan menemukan sekolah mereka, orang tua mereka, para guru mereka, dan orang-orang di sekeliling mereka. Pasal apa? Pasal, mereka adalah tokoh-tokoh fiktif dalam Novel Anak-Anak karya Tiara Ayu Karmita, siswa kelas enam SD Negeri 012, Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Tiara Ayu Karmita, penulis novel itu, saat ini baru berusia 11 tahun. Walaupun masih sangat muda usianya, Tiara mampu menulis novel yang sangat bagus, yang membuktikan bakat menulisnya sangat besar.



Tiara Ayu Karmita adalah putri Drs. Abdul Kadir Ibrahim, M.T. dan Ermita Thaib, S.Ag. Ayahnya yang akrab disapa Akib adalah seorang sastrawan ternama dan banyak menghasilkan karya, baik puisi maupun prosa. Nampaknya, bakat menulis Tiara turun dari ayahnya itu. Terlepas dari itu, Tiara memang sangat rajin membaca buku sehingga pengetahuannya cukup banyak. Hal itu terlihat nyata dari kualitas karya yang dihasilkannya.

Novel GPM diterbitkan oleh penerbit Komodo Books, suatu penerbit yang terkenal di Jakarta. Di kulit depan novel, yang bergambar lukisan lima orang gadis kecil yang sedang berlatih musik itu, tertera cap bulat dengan tulisan berwarna perak, “ANAK KECIL KARYA BESAR” dan di tengahnya tertulis “11 tahun”. Yang lebih menarik, sastrawan dan budayawan nasional ternama Putu Wijaya menulis di sampul depan, “Tak hanya ajaib karena dalam usia belia, Tiara sudah mampu menulis novel dengan bahasa Indonesia yang begitu bagus. Ia berbeda dari generasi kini yang tergerus bahasa gaul, curhatnya pun menarik.”

Dalam pengamatan saya pun, bahasa Indonesia yang digunakan oleh Tiara dalam novelnya ini nyaris sempurna, baik narasi maupun dialognya. Tak banyak anak-anak dan remaja yang mampu menulis seperti itu setakat ini karena mereka umumnya terpengaruh bahasa Indonesia dialek Jakarta (Betawi), yang banyak ditularkan, terutama, oleh sinetron TV Jakarta. Akan tetapi, karena bertempat tinggal di Tanjungpinang, barangkali, Tiara mampu menjaga bahasa Indonesianya dengan baik.

Jumat, 20 Mei 2011, dalam acara Peluncuran Novel GPM di SD Negeri 012 Bukit Bestari, Tanjungpinang, Walikota Tanjungpinang, Dra. Hj. Suryatati A. Manan pun memberi pujian terhadap karya Tiara ini. Menurut beliau, novel itu dihadiahkannya kepada cucu beliau. Ternyata si cucu membacanya berkali-kali. Ketika ditanya mengapa membacanya berulang-ulang, si cucu menjawab bahwa ceritanya bagus sekali. Dan, si cucu pun balik bertanya, adakah kelanjutan dari GPM?

Ada cukup banyak novel kanak-kanak yang ditulis setakat ini. Akan tetapi, kebanyakan penulisnya adalah orang dewasa. Akibatnya, terkesan sekali bahwa yang diceritakan adalah kisah anak-anak menurut persepsi, kalau tak mau disebut kemauan, orang dewasa. Tak jarang terjadi, baik penceritaan maupun kisahnya, terkesan dipaksakan dan atau dibuat-buat.

GPM ditulis oleh anak yang berusia sebelas tahun secara alamiah menurut pandangan anak-anak. Namun, kemampuan berceritanya sungguh luar biasa, sangat memesona. Itu menunjukkan bakatnya yang gemilang. Perhatikanlah deskripsinya berikut ini.

“Akhirnya, aku dan kedua Kakakku beserta keempat sahabatku langsung pergi menuju lantai atas. Di sana kami melihat bintang di langit bening tak berawan. Di antara gemintang itu, ada yang paling terang cahayanya. Sementara bulan, terlihat masih belum penuh. Dan, ketika kami lagi asyik memperhatikan bintang-bintang itu, maka tiba-tiba terlihat ada tiga bintang jatuh. Cahayanya meluncur dari langit begitu laju. Melihat itu, maka kami pun langsung menyebutkan permintaan di hati kami. Pecahlah tawa kami semua.” (GPM, hlm. 113—114).

GPM bercerita tentang indahnya persahabatan di antara anak-anak, dengan latar keluarga kelas menengah perkotaan. Tak cuma itu, tema cinta kasih begitu menyerlah (ketara): di antara anak-anak dengan orang tuanya secara timbal-balik, di antara siswa dan gurunya, di antara anak-anak dan pembantu rumah tangganya, di antara adik-beradik, dan sebagainya. Juga cita-cita anak-anak untuk membangun masa depannya. Pendek kata, kisahnya sangat inspiratif dan edukatif sekaligus. Dengan membaca novel ini, orang dewasa dapat memahami apa sesungguhnya yang dipikirkan dan kehidupan ideal yang didambakan oleh anak-anak.

Walau hidup berkecukupan dan kedua orang tuanya bekerja, Dina (tokoh utama) sangat bahagia karena ibunya menyempatkan diri untuk memasak dan kebiasaan keluarga untuk makan bersama di rumah. Si anak pun begitu bahagia dapat membantu ibu dan pembantunya bekerja di dapur. Dapur yang nyaris tak ada di dalam film dan sinetron kita, begitu mengemuka di dalam GPM. Si anak pun begitu bahagia dapat belajar bersama-sama dengan teman-temannya di rumah. Perhatian para orang tua ketika mereka menyempatkan diri menghadiri acara pertandingan anak-anaknya di sekolah membuat hati anak-anak berbunga-bunga. Lengkaplah kebahagiaan itu ketika Sang Ayah yang memimpin beribadah (menjadi imam salat berjamaah).

Guru yang baik kelihatan begitu cantik dan bercahaya. Sebaliknya, guru yang pemarah terlihat sangat murung, muram, dan jelek. Begitu guru pemarah itu berubah jadi baik, wajahnya serta-merta berubah menjadi bagai Tuan Putri yang tercantik di dunia. Itu sekilas tentang guru yang terekam di dalam GPM dan masih banyak lagi tentang guru.
“Kami saling (ber)cerita (tentang) kegiatan kami masing-masing. Satu yang pasti, sekarang kami setia melakukan kegiatan kami seperti dulu, menolong orang, dan lain-lain demi kebaikan… kami berkata: GEMINTANG PENABUR MATAHARI! Seperti dulu lagi. Gapai prestasi, buat bakti bagi negeri dengan sepenuh hati!” (GPM, hlm. 211).
Rupanya, begitulah hasrat murni anak-anak sebelum mereka mendapatkan racun kehidupan dari orang dewasa. Mengapakah mereka harus diracuni? Berikanlah mereka laluan yang sehat: lahir dan batin.

Dalam siraman cinta kasih pelbagai pihak dan usaha yang tak kenal lelah, anak-anak itu menjadi remaja putri yang berhasil melanjutkan pendidikan sampai ke luar negeri, seperti yang mereka cita-citakan. Tak ada kegamangan, tak ada keraguan, tak ada kebimbangan sedikit jua pun karena cinta kasih membuat mereka kuat dan percaya diri. Para gadis itu menatap masa depan dengan optimistik sehingga mereka berhasil kuliah di Paris, kecuali Bella yang pergi lebih jauh dan lebih tinggi lagi melewati batas angkasa dunia.

“Sekarang Nindi menjadi artis yang juga dikenal luas. Mila menjadi pengarang lagu yang terkenal. Liana sebagai salah seorang pemusik terbaik. Dan Vely, menjadi pemain badminton yang hebat. Kalau aku berhasil mencapai cita-citaku, aku ingin menjadi professor. Bella, seandainya kau masih hidup pasti kita akan bahagia seperti dulu lagi, kataku dalam hati,” begitu Tiara bercerita mendekati akhir GPM-nya. Sungguh memukau generasi penerus ini. Teruslah cemerlang, Tiara!***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebok pada 05 Juni 2011 jam 17:16
Read more ...

Senin, Oktober 24, 2011

ABU NAWAS KE INDONESIA

Pertanyaan itu tak ada jawabnya dua minggu lalu meski kabar burung membahana di sekutah-kutah Bagdad dan Irak umumnya. Misi rahasia itu diketahui kalangan istana dan rakyat setelah hari ini Abu Nawas menyampaikan laporan pertanggungjawabannya kepada Sultan Harun al-Rasyid. Mulanya, tokoh jenaka tetapi pintar, arif, dan alim ini enggan melaksanakan tugas itu. Dia tak mau terbabit dengan urusan dalam-negeri bangsa lain, apalagi Indonesia bersahabat baik dengan Irak.

“Justeru itu,” titah Sultan, “Beta ingin kamu melaksanakan misi ini untuk menolong saudara-saudara kita. Tak ada batas negara bagi persaudaraan sejati, sepanjang kita tak melanggar kedaulatan hukum mereka.”

Abu Nawas tak kuasa mengelak dan sekarang dia kembali menghadap Sultan di istana.

“Beta ingin mengetahui pengalaman kamu melacak kasus ini. Sulitkah? Betulkah kamu sudah melaksanakan misi sebab hanya dalam dua minggu telah selesai. Padahal, Indonesia sudah melaksanakannya sejak 1998, tetapi sampai hari ini belum juga tuntas, bahkan cenderung makin kacau-bilau?” Sultan menatap tajam Abu Nawas.

“Oh, inilah pekerjaan yang paling sulit dan pelik sepanjang karir hamba, Tuanku. Kalau hamba masih seperti dulu, tentulah kepala hamba pecah dan pinggang hamba bengkok. Andi Malarangeng saja harus menegangkan leher dan mengibas-ngibaskan tangan berkali-kali untuk meyakinkan Faisal Basri dan pemirsa TV bahwa sudah terjadi pengusutan hukum yang lebih baik kini,” jawab Abu Nawas sambil mengerutkan dahi dan mengerlingi Sultan dengan jelingan yang khas untuk melihat reaksi penguasa Irak itu.

“Baik, silalah sampaikan laporanmu.”

“Semua berkas hukum yang 50 persen tak jelas itu sudah hamba periksa. Sangat betul tak tuntas dan aneh dipandang dari sudut hukum yang berlaku. Sayang dan malang, ada saksinya yang sudah meninggal, ada saksi tak mau bersaksi karena 1001 alasan, ada bukti yang hilang dan tertukar dengan sendirinya, dan macam-macam lagi,” Abu Nawas memaparkan.

Sultan Harun al-Rasyid termenung. Dalam hati Baginda bergumam, “Begitu parahkah?” lalu Baginda melanjutkan, “Di manakah semua berkas itu? Kamu bawakah ke hadapan Beta?”

Abu Nawas menceritakan bahwa semua berkas itu dibawanya, tetapi tak ke istana Sultan.

“Lalu ke mana? Kamu pendapkan atau kamu hilangkan lagi?”

“Hamba tersinggung dengan ucapan Tuanku yang terakhir itu. Jelek-jelek begini, bukan kualitas Abu Nawas itu. Mestinya Tuanku tahu,” durja Abu Nawas merona kemerahan. Dia pura-pura merajuk.

“Maafkan kelancangan Beta, tapi di manakah Abu Nawas?” lembut pertanyaan Sultan yang membuat Abu Nawas geli di hati.

“Kena kau,” katanya di dalam hati, “Abu Nawas dilawan!” lalu dia menjawab pertanyaan Sultan.

“Hamba amankan di tempat teraman, Tuanku. Di gerbang akhirat. Hemat hamba, perkara-perkara itu hanya dapat diselesaikan di alam akhirat. Di sana semua bukti, saksi, hakim, jaksa, panitera, masyarakat, dan lain-lain—hendak atau enggan—akan rela berkolaborasi untuk pengadilan dan keadilan yang sesungguhnya. Hanya Pengadilan Akhirat yang mampu menuntaskannya, Tuanku. Menjelang masuk ke alam akhirat nanti, akan hamba ambil dan serahkan kepada Tuanku sambil kita mengambil “mahkota cahaya” yang Tuanku dambakan itu.”

Sultan tersipu mendengar mahkota cahaya yang disebutkan Abu Nawas. “Sabit di akal Beta, Abu. Lalu, mengapa kamu melaksanakan pekerjaan yang tak Beta titahkan? Itu boleh menimbulkan aib karena di luar kearifan dan kebijaksanaan Beta?” Sultan membusungkan dada ketika menyebut kata “kearifan” dan “kebijaksanaan”.

“Bukan bermaksud mendurhaka, Tuanku. Daripada hamba ditugasi dua kali di tempat yang sama, lebih baik hamba tuntaskan saja. Di sana ada sistem cepat yang nilai hukumnya sama. Nah, demi efisiensi, lebih baik lembaga yang lamban dilikuidasi. Dengan begitu, banyak sekali dana dan tenaga yang dapat dihemat. Apalagi, mereka memerlukan banyak sekali daya dan dana untuk rekonstruksi fisik pascabencana, rekonstruksi sosial, mengejar pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen, pengembangan infrastruktur, dan lain-lain untuk menjadikan negeri mereka indah berseri. Maka, hamba usulkan gedung-gedung SLTA dieliminasi agar tak menghamburkan biaya pemeliharaan, operasional, gaji guru, dan lain-lain.

“Tapi, mengapa dan ada yang disisakan di tempat tertentu?” Sultan makin penasaran.

“Di sana ada sistem pendidikan cepat 3—6 bulan yang nilainya sama dengan SLTA. Sesudah itu, semua orang boleh bekerja dengan persyaratan SLTA atau melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Jadi, untuk apa SLTA? Inefisiensi, lagi pula di sana—bukan basa-basi—ada pemeo, “Jalan pintas dianggap pantas.” Kelop, Tuanku. Soal ada gedung yang masih hamba sisakan di sekitar kantor-kantor yudikatif, supaya kursus dapat dilaksanakan di situ dan yang mengikutinya merasa aman, nyaman, dan selesa. Laporan selesai, Tuanku.”

“Kelop Abu Nawas. Tak sia-sia dan tak salah Beta mengutus kamu,” puji Sultan, puas.

“Kali ini salah, Tuanku,” Abu Nawas memotong cepat, “dan itulah alasan kedua hamba agak enggan menunaikan misi ini. Salangkan negeri kita diporak-porandakan Amerika Serikat, Tuanku, para menteri, seluruh rakyat Irak bahkan hamba, tak mampu berbuat apa-apa. Perpustakaan, museum, dan situs arkeologi kita menjadi sasaran utama gempuran mereka supaya tak ada lagi yang dapat kita banggakan. Hamba pun harus dilenyapkan dari memori para penerus karena dianggap berbahaya jika bangkit. Kini Palestina, Lebanon, Libya, dan dunia Islam yang lain dihancurkan dan diintimidasi. Anak-anak, kaum wanita, orang tua-tua, bangunan, hewan ternak semua dimusnahkan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Kalau dulu, takkan hamba biarkan semua tragedi memilukan dan memalukan ini terjadi,” Abu Nawas tampak serius. Balai rung seri hening seketika.

“Lalu, mengapa kamu tak bertindak? Adakah karena belum Beta perintahkan?” bergetar suara Sultan Harun al-Rasyid karena geram berbaur pilu.

“Untuk ini, hamba tak memerlukan perintah Tuanku, tapi kita memang tak boleh. Sadarkah Tuanku, di mana kita sekarang?”

“Astaghfirullah,” terperanjat Sultan Harun al-Rasyid.

“Kita tak boleh lagi mencampuri kesemuanya ini. Yang Tuanku lakukan sekarang pun setengah mukjizat. Cuma, sedikit harapan hamba, semoga suatu hari nanti, ada generasi ahli waris kita yang mampu membangkitkan hamba kembali ke dunia. Ya, kita di alam barzah, Tuanku.”

Abu Nawas menutup laporannya dengan wajah muram sambil memberi hormat. Namun, karena tergesa-gesa, dia salah mengatur sembah. Sambil menghadap pintu keluar dia membungkuk sehingga Sultan ditungginginya. Ada sesuatu pula yang melengket di kedudukan celananya.

“Apa yang menempel di pantat celanamu Abu?” tanya Sultan kesal, tetapi tersipu. Para menteri memamerkan kebolehan utamanya: terkekeh-kekeh.

“Karpet Indonesia, Tuanku, untuk buah tangan!” jawab Abu Nawas tanpa menoleh dan terus berlalu.***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebok pada 10 Juni 2011 jam 1:07
Read more ...

Sabtu, Oktober 22, 2011

HASAN JUNUS: SANG PENGABDI SEJATI PENYELAMAT TRADISI

Tanjungpinang, khasnya, dan Kepulauan Riau, umumnya, bagai dilanda musim kering kerontang yang amat panjang. Betapa tidak? Lebih kurang 40 tahun lamanya sejak Hikayat Syarif al-Akhtar karya Aisyah Sulaiman diterbitkan pada 1929, tak ada lagi karya sastra diciptakan dan diterbitkan di tanah yang, ironisnya, sastra sebelumnya menjadi roh kehidupan masyarakat selama berabad-abad. Aisyah Sulaiman sendiri berpulang ke rahmatullah pada 1924 atau 1925 dan karyanya itu diterbitkan setelah beliau wafat.

Puji syukur patutlah diucapkan kehadirat Allah Malik al-Manan. Karena rahmat-Nya jualah, hujan kreativitas sastra yang telah lama dinanti-nantikan itu akhirnya turun juga membasahi bumi yang menjadi kiblat sastra dan tradisi intelektual Melayu, Tanjungpinang. Hujan rahmat itu betul-betul telah membasahi kerongkongan rohani masyarakat yang sekian lama kering, bahkan nyaris putus asa karena kehilangan setawar sedingin penyejuk kalbu, karya sastra.

Pada 1969 terbit antologi puisi Jelaga karya bersama tiga penyair Hasan Junus, Iskandar Leo (Rida K. Liamsi), dan Eddy Mawuntu. Setelah mengalami masa jeda yang sangat panjang, karya itu tak berlebihan jika disebut sebagai penyelamat tradisi kepengarangan di Kepulauan Riau, yang suatu masa dulu pernah menjadi pusat Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang dan Kerajaan Riau-Lingga, sebuah negara yang sangat berjaya mengekalkan tradisi intelektual dunia Melayu. Apalagi setelah masa beku itu mencair, teruslah mengalir karya pelbagai genre meliputi puisi, cerpen, naskah sandiwara, novelet, esai, kritik, dan karya ilmiah terutama yang lahir dari kecendekiaan, kecerdasan, kepedulian, kesetiaan, dan tangan dingin seorang Hasan Junus.

Hasan Junus, itulah nama yang banyak dikenal orang. Akan tetapi, di tanah kelahirannya dan di dalam masyarakatnya beliau sangat diketahui bernama sebenar Raja Haji Hasan ibni Raja Haji Muhammad Junus ibni Raja Haji Ahmad ibni Raja Haji Umar alias Raja Endut ibni Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua ibni Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Jelaslah bahwa Hasan Junus adalah keturunan Diraja Melayu Riau-Lingga-Johor-Pahang dan keturunan langsung Raja Haji Fisabilillah yang pahlawan nasional itu. Di dalam diri Hasan Junus juga mengalir darah kepengarangan Raja Ali Haji, pujangga terkenal Melayu, pahlawan nasional, dan Bapak Bahasa Indonesia. Kakek ayahnda beliau Raja Haji Muhammad Junus adalah Raja Haji Umar tak lain tak bukan adalah saudara kandung Raja Ali Haji karena kedua orang itu adalah putra Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua. Bukankah Engku Haji Tua juga adalah seorang pengarang? Dan, Aisyah Sulaiman yang pengarang pejuang marwah perempuan dan disebut di awal tulisan ini adalah ibu saudara dua pupu Hasan Junus.

Mengarang nampaknya bagai seligi tajam bertimbal dalam diri Hasan Junus. Di satu ujungnya ia menjadi warisan intelektual Melayu yang memang wajib dipertahankan dan diteruskan oleh generasi Melayu sampai bila masa pun. Di ujung yang lain ia menjadi pusaka keturunan yang memang mesti ada yang menjaga dan melanjutkannya sehingga tugas mulia itu tak terputus di tengah jalan. Dan, untuk kedua tugas itu, Hasan Junus telah mengabdikan diri dengan sangat baik, bahkan luar biasa, jika dilihat dari mutu kerja dan kualitas karya yang telah dihasilkannya.

Hasan Junus, sepengetahuan saya, pernah menjadi guru sekolah menengah swasta di Tanjungbatu Kundur, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Beliau pun pernah menjadi dosen luar biasa di Universitas Islam Riau, Pekanbaru dan Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru. Walaupun begitu, pengajar bukanlah profesi utamanya. Profesi itu hanyalah sampingan bagi beliau dan dijalankannya tak terlalu lama. Menulis atau mengaranglah yang menjadi profesi utamanya. Ketika banyak orang menjadikan menulis sebagai kerja sampingan, Hasan Junus justeru bercekal hati memilih menulis, terutama penulisan sastra dan budaya, untuk menjadi sandaran utama hidupnya. Pada zaman ini pemilihan profesi itu memerlukan keberanian yang luar biasa. Bukan karena pekerjaan itu tak mulia, malah sangat bergengsi, melainkan imbalan yang diperoleh sangat tak sebanding dengan tenaga, pikiran, dan perasaan yang dikorbankan. Itulah mungkin resiko profesi yang menjadi pilihan hidupnya dan beliau memang tak pernah memedulikannya. Semangatnya untuk membina dan mengembangkan kesusastraan dan kebudayaan membuatnya sangat tegar tanpa terlalu memikirkan hal-hal yang bertetek-bengek. Semangat seperti itulah pada zaman sekarang sangat langka. Untuk hal ini, sekali lagi Hasan Junus telah menunjukkan teladan yang sukar dicari bandingannya.
Kesetiaannya menekuni bidangnya menjadikan Hasan Junus bukan penulis sekadar. Namanya tak hanya dikenal di peringkat daerah Kepulauan Riau dan Riau, tetapi juga dikagumi di persada nusantara, bahkan sampai ke luar negara. Karya cerpennya Pengantin Boneka, misalnya, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Jeanette Lingard dan diterbitkan dalam Diverse Lives-Contemporary Stories from Indonesia oleh Oxford University Press (1995), sebuah penerbit bergengsi di dunia. Bukunya Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau (Adicita, Yogyakarta, 2003) yang ditulis bersama Abdul Malik, Tenas Effendy, dan Auzar Thaher kini menjadi bacaan di Australia dan dikoleksi oleh National Library of Australia.

Karena ketunakannya menekuni bidang yang menjadi minat utamanya, oleh penulis buku Dermaga Sastra Indonesia (Jamal D. Rahman dkk.), Penerbit Komodo Books, Jakarta, 2010; Hasan Junus disetarakan dengan H.B. Jassin. Disebutkan bahwa keduanya adalah pengamat yang setia dan penuh dedikasi atas pelbagai aspek sastra dan kesastrawanan yang menjadi pilihannya. Keduanya menulis kritik dan esai tentang karya-karya sastra dan fenomena kebudayaan serta kesastraan yang hidup di wilayahnya. Keduanya penerjemah yang piawai karya-karya sastra mancanegara. Dan, keduanya juga memiliki suara yang menentukan dan sangat didengar. Akan tetapi, kelebihan Hasan Junus adalah beliau menulis karya puisi, prosa, dan drama; sedangkan H.B. Jassin tidak.

Satu perkara yang juga tak boleh dilupakan ketika kita mencatat pengabdian Hasan Junus dalam bidang kesusastraan dan kebudayaan adalah ini. Beliau selalu membuka diri untuk menjadi tempat bertanya dan belajar bagi siapa pun juga, terutama bagi penulis muda. Memang, di kalangan penulis Kepulauan Riau dan Riau beliau telah dianggap bagai ensiklopedia berjalan. Bacaannya yang luas tentang kesusastraan dunia, baik Timur maupun Barat, memungkinkan beliau memiliki khazanah pengetahuan dan pengalaman yang sangat banyak dan rencam, beraneka ragam.

Menariknya, beliau senantiasa tekun melayani setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya dan memberikan penjelasan dengan bersemangat. Dalam setiap diskusi atau seminar sastra dan budaya, beliau selalu tampil sebagai pembicara yang memang dinanti-nantikan hujahnya dan selalu menginspirasi, memukau, dan mencerahkan. Dalam percakapan lisan dan tulisannya selalu saja ada dorongan bagi penulis lain untuk menggali khazanah budaya sendiri dengan tetap mempelajari budaya asing agar dapat memanfaatkan yang sesuai dan berguna bagi perkembangan sastra dan budaya Melayu, khasnya, dan Indonesia, umumnya. Itu kelebihan lain seorang Hasan Junus yang tak semua orang memilikinya.

Sebagai penulis yang tekun, telah banyak karya yang dihasilkan oleh Hasan Junus. Dan, hal itu telah banyak pula diulas dan ditulis orang sehingga tak perlulah diulang di sini. Yang pasti, kesemua karya beliau sangat penting bagi perkembangan kesusastraan modern Melayu dan Indonesia. Di antara karya beliau itu yang perlu disebutkan di sini ada dua. Pertama, beliau menulis sejarah perjuangan Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Kedua, bersama beberapa penulis lain, beliau juga menulis sejarah perjuangan Raja Ali Haji dalam bidang bahasa dan kebudayaan untuk diusulkan sebagai pahlawan nasional.

Alhasil, Raja Haji Fisabilillah telah dinobatkan menjadi pahlawan nasional. Raja Ali Haji pun telah diangkat sebagai pahlawan nasional dan Bapak Bahasa Indonesia. Rakyat Kepulauan Riau sangat bangga memiliki dua orang pahlawan itu sambil menanti pahlawan-pahlawan lain yang pasti akan diusulkan sesuai dengan jasa-jasa mereka terhadap bangsa dan negara ini. Bersamaan dengan itu, masyarakat Tanjungpinang, khasnya, dan Kepulauan Riau, amnya, tentulah juga sangat bangga memiliki seorang Hasan Junus yang dengan tulisannya telah memungkinkan perjuangan dan jasa-jasa para pendahulu itu diketahui, diapresiasi, dan diakui sehingga keduanya diangkat menjadi pahlawan nasional.

Apakah yang menarik ketika kita membaca tulisan Hasan Junus? Ada banyak hal sebetulnya yang dapat dipetik dari karya-karya beliau. Gaya bertuturnya yang khas memang menjadi daya tarik pertama ketika kita membaca karya Hasan Junus. Tuturan yang lincah, indah, dan mengalir lancar membuat kita tak hendak berhenti membacanya dan sering secara tak sadar telah sampai ke batas akhir bacaan. Itulah sebabnya, tulisan beliau selalu dinanti-nantikan. Karena apa? Karena penulisnya memang mahir menggunakan kata-kata dan menjalin kalimat demi kalimat sehingga menghasilkan wacana yang memesona.

Isi tulisan yang bernas memberikan kenikmatan intelektual bagi siapa pun yang membaca karangan beliau. Keluasan ilmunya begitu ketara dalam setiap tulisannya. Dari bacaan yang dibaca, tahulah kita bahwa penulisnya memang seorang yang berdedikasi dalam bidangnya dan tak terbiasa menghasilkan karya yang asal jadi. Sumber dalam (daerah) dan luar (nasional dan mancanegara) selalu disepadukan sedemikian rupa sehingga tulisannya sangat informatif tentang apa pun pokok persoalan yang dibahasnya. Bahkan, di dalam noveletnya Burung Tiung Seri Gading terdapat banyak sekali fakta sejarah. Kelebihannya, kekuatan imajinasi pengarangnya menjadikan cerita begitu hidup sehingga sebagai pembaca kita senantiasa larut dalam kisah yang diceritakan dan peristiwa yang dialami oleh para tokohnya. Ditambah dengan gaya bahasa yang kaya dan teknik bercerita yang memukau, karya itu menjadi sesuatu yang tak mudah dilupakan setelah dibaca. Gaya berceritanya yang khas berkultur Melayu membuatnya begitu memikat. Begitulah memang penulis yang berpengalaman dapat berbagi suka-duka kehidupan dengan pembacanya melalui cara-cara yang sering tak terduga. Hasan Junus sangat ahli dalam hal ini.

Beliau memiliki pengetahuan yang luas tentang kesusastraan nasional dan mancanegara. Beliau pun banyak menulis tentang apa pun yang diketahuinya tentang kesusastraan nasional dan mancanegara. Beliau juga banyak menerjemahkan dan menyadur karya-karya besar dari mancanegara. Bahkan, beliau juga banyak dibicarakan orang dalam kaitannya dengan kesusastraan nasional dan mancanegara. Walaupun begitu, Hasan Junus tak pernah kehilangan jati dirinya, identitasnya sebagai seorang Melayu. Diksi yang digunakannya, pola-pola kalimat yang dipakainya, teks atau wacana yang dihasilkannya tetap menyerlahkan beliau sebagai seorang Melayu sejati. Akan tetapi, bukan Melayu sebarang Melayu, melainkan Melayu berkualitas dunia karena kemauan, ketekunan, kecendekiaan, kecerdasan, dan kerja keras yang tak mengenal kata lelah, apa lagi berhenti.

Kehadiran seorang Hasan Junus dalam perjuangan dan perkembangan kesusastraan modern Melayu dan Indonesia sungguh telah memberikan warna yang khas dan terwaris sekaligus. Disebut khas karena kita tak dapat membandingkannya dengan sesiapa pun. Beliau memiliki kelebihan sendiri yang tak pernah sama dengan orang lain walaupun dengan penulis terdahulu dan terkemudian yang berhubungan darah dan kultur dengannya. Di samping itu, dengan segala perjuangannya, beliau telah membuktikan bahwa pada setiap generasi pasti ada pelanjut tradisi intelektual Melayu asal kita menyadari betapa mustahaknya jati diri bagi suatu bangsa. Mewujudkan itu dengan karya yang bermutu menjadi tanggung jawab warisan setiap generasi Melayu. Itulah tugas terwaris yang telah ditunaikan dengan sangat baik oleh Hasan Junus.

Hasan Junus lahir di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau pada 12 Januari 1941. Artinya, pada 12 Januari 2011 ini beliau genap berusia 70 tahun. Tulisan ini sengaja saya dedikasikan untuk memperingati hari ulang tahun beliau.

“Selamat Ulang Tahun Pak Hasan Junus. Semoga Bapak senantiasa berada di dalam lindungan Allah swt., sehat walafiat, dan terus berkarya. Kami senantiasa menantikan karya-karya Bapak selanjutnya.”

Tanjungpinang, awal hari 1 Januari 2011


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebok pada 09 Juli 2011 jam 12:36
Read more ...

Kamis, Oktober 20, 2011

AISYAH SULAIMAN CUCU RAJA ALI HAJI

Beliau lebih dikenal dengan nama Aisyah Sulaiman saja. Nama lengkapnya Raja Aisyah binti Raja Sulaiman. Aisyah Sulaiman adalah cucu Raja Ali Haji. Suaminya adalah Raja Khalid bin Raja Hasan atau lebih lebih dikenal sebagai Khalid Hitam, yang selain menjadi politisi Kerajaan Riau-Lingga, juga seorang pengarang. Selain menjadi suaminya, Khalid Hitam sesungguhnya saudara sepupu Aisyah Sulaiman. Dengan demikian, Aisyah Sulaiman memang keturunan dan hidup di lingkungan keluarga pengarang. Selain itu, beliau jelaslah keturunan Diraja Kerajaan Riau-Lingga.

Tak terlalu dapat dipastikan tarikh kehidupan Aisyah Sulaiman. Walaupun begitu, beliau diperkirakan lahir pada 1869 atau 1870 dan meninggal pada 1924 atau 1925 dalam usia lebih kurang 55 tahun.

Sebagai putri Diraja Melayu, Aisyah Sulaiman sangat akrab dengan kehidupan di lingkungan istana Kerajaan Riau-Lingga. Di sanalah yaitu di tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda (Raja Muda) Kerajaan Riau-Lingga, di Pulau Penyengat, beliau dilahirkan dan dibesarkan. Akan tetapi, kehidupan di lingkungan istana Diraja di Pulau Penyengat, di tanah tumpah darahnya, itu tak dapat dinikmatinya sampai ke akhir hayatnya. Pasal, pada 1913 Kerajaan Riau-Lingga dimansuhkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Karena tak sudi hidup di bawah pemerintahan penjajah Belanda, Aisyah Sulaiman dan keluarganya berhijrah ke Singapura. Tak lama bermastautin di Singapura, beliau harus berpindah lagi ke Johor karena menghindari orang-orang yang menaruh hati terhadapnya selepas suaminya tercinta meninggal di Jepang pada 11 Maret 1914 dalam suatu misi politik meminta bantuan Pemerintah Jepang untuk menghalau penjajah Belanda dari Kerajaan Riau-Lingga (Kepulauan Riau). Di Johorlah, kemudian, Aisyah Sulaiman bertempat tinggal sampai ke akhir hayatnya.

Dalam tradisi kepengarangan, Aisyah Sulaiman dapat digolongkan sebagai pelopor pengarang zaman peralihan atau transisi dari kesusastraan Melayu tradisional ke kesusastraan Melayu-Indonesia modern. Kenyataan itu ditinjau dari sudut masa kepengarangan dan tema karya yang dihasilkan walaupun beliau masih menggunakan genre kesusastraan tradisional yaitu syair dan hikayat. Dengan berdasarkan sudut pandang itu, pendapat yang selama ini menyebutkan bahwa Munsyi Abdullah bin Munsyi Abdul Kadir atau Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi sebagai pelopor kesusastraan Melayu modern harus diperdebatkan. Pasal, Munsyi Abdullah hidup sampai pertengahan abad ke-19, sedangkan masa peralihan kesusatraan Melayu tradisional ke Melayu modern berlangsung sejak pertengahan abad ke-19 sampai dengan perempat awal abad ke-20. Masa-masa itulah Aisyah Sulaiman sedang giat-giatnya berkarya, sedangkan Munsyi Abdullah telah tiada. Lagi pula, karya-karyanya telah mengungkapkan perubahan dalam masyarakat, dari masyarakat Melayu lama ke masyarakat Melayu baru dan perjuangan masyarakat, terutama kaum perempuan, merobohkan tembok-tembok kokoh tradisi yang diangggap tak lagi sesuai dengan perubahan zaman.

Dalam karirnya sebagai pengarang, sepanjang yang dapat diketahui, Aisyah Sulaiman menghasilkan empat buah karya. Karya-karya tersebut diperikan sebagai berikut.
  • Hikayat Syamsul Anwar atau Hikayat Badrul Muin. Hikayat ini diduga merupakan karya awal Aisyah Sulaiman.
  • Syair Khadamuddin. Karya ini diterbitkan pada 1345 H. atau 1926 M. Menurut beberapa peneliti, syair ini ditulis setelah beliau pindah ke Singapura.
  • Hikayat Syarif al-Akhtar. Hikayat ini baru diterbitkan setelah Aisyah Sulaiman meninggal dunia yaitu pada 1929 M.
  • Syair Seligi Tajam Bertimbal. Berbeda dengan karya-karya sebelumnya, dalam karyanya ini Aisyah Sulaiman tak menggunakan nama asli, tetapi memakai nama samaran Cik Wok Aminah.

Hikayat Syamsul Anwar berkisah tentang seorang putri, Putri Badrul Muin namanya. Putri ini sangat cantik dan kisah kecantikannya diketahui oleh banyak raja negeri lain sehingga mereka berdatangan untuk melamarnya. Putri Badrul Muin muak terhadap perilaku raja-raja yang mencoba untuk melamarnya itu, lalu pergi meninggalkan istananya. Sang putri menyamar sebagai laki-laki dan memilih memakai nama Afandi Hakim. Dalam pengembaraannya itu, dia bertemu dengan putra raja, Syamsul Anwar.

Syamsul Anwar sangat senang berteman dengan Afandi Hakim dan sangat menghormatinya sehingga selalu berusaha untuk mendampinginya. Sebaliknya, Afandi Hakim sangat benci terhadap Syamsul Anwar dan senantiasa berusaha untuk menjauhkan diri dari pemuda itu. Syamsul Anwar curiga terhadap tingkah laku Afandi Hakim sehingga dia mengintip untuk mengetahui jati diri putri yang menyamar itu. Alhasil, samaran Putri Badrul Muin diketahui, tetapi dia dapat menghilangkan diri dengan menggunakan batu gemala.

Syamsul Anwar dipertemukan juga dengan Putri Badrul Muin. Dia melamar putri itu. Akan tetapi, bukannya menerima pinangan Syamsul Anwar, malah Tuan Putri marah terhadap menteri tua dan permaisuri yang mendukung lamaran putra raja itu. Tuan Putri berusaha menolak pinangan Syamsul Anwar karena dia ditabalkan menggantikan ayahnda yang mangkat. Dia marah karena putusan diterimanya pinangan Syamsul Anwar tanpa meminta persetujuan dirinya. Bukankah dirinya berhak untuk menentukan nasibnya dalam pernikahannya? Dia merasa dipaksa untuk menikah dengan Syamsul Anwar. Orang-orang yang terlibat dalam “pemaksaan” pernikahannya ditantang habis-habisan oleh perempuan yang menganggap bahwa kaum laki-laki selalu memberikan kesusahan itu.
Kebenciannya terhadap suaminya terus berlanjut. Dia terus saja mengelak berada di bilik peraduan (kamar tidur) berdua dengan suaminya. Keadaan seperti itu terus berlangsung sampai tiga bulan lamanya.

Penentangan dan kebencian Putri Badrul Muin terhadap laki-laki menunjukkan sikap Aisyah Sulaiman untuk memperjuangkan emansipasi perempuan. Kelantangan tokoh-tokoh perempuan di dalam hikayat ketika berdebat dengan tokoh-tokoh laki-laki, yang justeru orang-orang penting kerajaan, juga menyerlahkan misi yang sama, kesetaraan perempuan dengan laki-laki. Pada masa hikayat ini ditulis, hal seperti itu masih sangat pantang (tabu) dilakukan. Sangat jelas kepeloporan Aisyah Sulaiman dalam memperjuangkan dan atau menyuarakan hak-hak perempuan dalam hikayatnya ini. Dia jelas jauh mengatasi karya-karya sebelumnya, yang memang tak menampakkan nuansa perjuangan perempuan selama ini.

Bahkan, Putri Badrul Muin jauh lebih maju dari Siti Nurbaya, yang selama ini disebut-sebut sebagai pelopor sastra Indonesia modern. Betapa tidak? Siti Nurbaya dan orang-orang di sekitarnya nyaris tak berdaya menghadapi kelicikan atau dan kegigihan tokoh tua Datuk Maringgih dalam Roman Siti Nurbaya. Tak ada penentangan yang begitu berarti terhadap Datuk Maringgih, yang kecuali kaya, padahal hanyalah seorang tua bangka yang hodoh (buruk rupa) pula. Pemuda Syamsul Bahri, kekasih Siti Nurbaya, memang menentang Datuk Maringgih, tetapi itu pun harus melalui cara yang hina yaitu berkomplot dengan musuh hanya untuk membunuh orang tua yang merebut kekasih hatinya. Datuk Maringgih terkesan sangat bersinar dalam roman ini, bukan Siti Nurbaya, Syamsul Bahri, atau orang muda-muda yang lain.

Tak demikian halnya dengan Putri Badrul Muin. Dia sangat bertenaga, perkasa, dan bercahaya dalam Hikayat Syamsul Anwar. Para lelaki didebatnya habis-habisan dengan pelbagai gagasan keunggulan perempuan. Raja-raja yang melamarnya ditolaknya dan ditinggalkannya begitu saja karena dia memang tak berkenan. Dia tak dapat dibujuk dengan kekuasaan dan harta, yang padahal raja-raja yang melamarnya jauh lebih berkuasa dan berlimpah harta daripada hanya seorang Datuk Maringgih. Bahkan, Syamsul Anwar yang putra raja, perkasa, tampan, dan memang sangat mencintainya ditolaknya mentah-mentah walaupun akhirnya mereka berjodoh juga. Untuk sampai kepada perjodohan yang serasi itu, Syamsul Anwar dan orang-orang yang mendukungnya harus berjuang keras dan menampilkan kesabaran yang luar biasa karena harus berhadapan dengan perempuan muda yang jelita tetapi bagaikan tembok baja. Pasal, baginya tak ada alasan untuk menempatkan perempuan di bawah laki-laki. Hakikatnya, perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Jelaslah bahwa Aisyah Sulaiman telah memperjuangkan harkat, martabat, dan marwah kaum perempuan melalui karya-karyanya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dengan Hikayat Syamsul Anwar, misalnya, dia telah berhasil menyuarakan semangat emansipasi, yang bahkan belum banyak terpikirkan oleh kaumnya kala itu. Semangat individualistik begitu teserlah (ketara) di dalam hikayat ini sehingga mengantarkan Aisyah Sulaiman sebagai pelopor kesusastraan Indonesia modern. Dia, bahkan, dapat mengungguli karya-karya pengarang sesudahnya, termasuk pengarang laki-laki yang telanjur disebut pelopor sebelum ini. Dengan demikian, Raja Aisyah binti Raja Sulaiman telah berhasil menjadikan dirinya dan karya-karyanya sebagai pejuang emansipasi bagi kaumnya. Tak hanya sampai di situ, Aisyah Sulaiman, bahkan, mengukuhkan dirinya sebagai pelopor kesusastraan Melayu-Indonesia modern.



Catatan oleh Abdul Malik
03 Agustus 2011 jam 22:44
Read more ...

Selasa, Oktober 18, 2011

TRADISI YANG PUNAH

SUATU masa dahulu, di kalangan masyarakat Melayu, Ramadan disambut dengan suka cita karena dua perkara. Seperkara berkaitan dengan agama Islam dan seperkara lagi berhubung dengan tradisi. Perkara tradisi itu pun masih berkelindan dengan masalah agama. Pasal apa? Karena adanya ibadah puasalah, tradisi itu berkembang.

Perkara pertama bersabit dengan pelaksanaan rukun Islam yaitu ibadah puasa. Bulan ini sangat dinanti-nantikan karena menjadi bulan terbaik dari seribu bulan, penuh berkah, bulan pengampunan, dan pahala kebajikan yang berlipat ganda akan diberikan oleh Allah swt. kepada makhluk-Nya yang taat, yang mampu melaksanakan rangkaian ibadah dengan baik selama Ramadan sesuai dengan tuntunan agama Islam. Tak sesiapa pun sanggup menolak untuk bergembira tatkala menyambut bulan yang istimewa itu. Suka cita Ramadan dalam kaitannya dengan pelaksanaan ibadah itu, Alhamdulillah, masih terasa sampai setakat ini walaupun tetap ada perbedaan kadar dan kualitasnya antara orang perorangan.

Perkara kedua berhubung dengan tradisi. Dalam hal ini, ada banyak tradisi Melayu yang biasa dilakukan selama Ramadan. Kolom kali ini hanya akan memerikan satu saja di antara sekian tradisi itu.

Selama bulan Puasa—suatu masa dahulu—di lingkungan masyarakat Melayu terdapat banyak sekali makanan dan minuman. Aneka ragam juadah dan minuman itu dapat kita jumpai di rumah-rumah ibadah (mesjid dan surau) dan di rumah-rumah penduduk. Pokoknya, menjelang berbuka puasa, kita akan menyaksikan pelbagai jenis makanan dihidangkan untuk berbuka dan makan malam. Juadah yang dimaksudkan itu taklah terlalu banyak jumlahnya, tetapi jenisnya beragam sehingga sangat berbeda dengan keadaan pada bulan-bulan di luar Ramadan. Dari manakah kesemua makanan itu berasal?

Suasana di mesjid atau surau dulu. Pelbagai kue, minuman, dan lauk-pauk untuk berbuka puasa dan makan malam disediakan oleh masyarakat, terutama masyarakat di sekitar rumah ibadah itu. Tak dapat banyak sedikit, masyarakat merasa berkewajiban untuk menyediakan makanan dan minuman untuk jemaah yang berbuka, salat, dan tadarus di mesjid. Walau tak diwajibkan, masyarakat akan merasa malu jika tak mengantarkan makanan perbukaan ke mesjid. Kesemuanya itu tak pula dirasakan sebagai beban, tetapi sekadar amal yang memang patut dilaksanakan. Oleh itu, mesjid atau surau dapat menyajikan perbukaan yang beraneka ragam sepanjang malam-malam Ramadan. Suasana itu sangat menarik perhatian kanak-kanak sehingga mereka betah beribadah di mesjid atau surau pada bulan Puasa.

Selain itu, ada pula mesjid yang mengamalkan tradisi menyediakan makanan khas untuk berbuka. Dalam hal ini, makanan khas itu dimasak di mesjid oleh para jemaah, yang memang ahli memasaknya. Biasanya jemaah, khasnya, dan masyarakat, umumnya, sangat menggemari makanan yang disediakan itu, terutama sekali orang muda-muda dan kanak-kanak yang selera makannya memang sedang naik-naiknya. Lagipula, makanan itu memang terbilang sedapnya.

Makanan itu disebut “bubur berlauk”, atau di tempat lain, lain pula namanya barangkali. Makanan itu disebut demikian karena bubur nasi dimasak dengan cara dicampurkan dengan pelbagai lauk dan bumbunya yang khas. Lauk-pauk itu dapat terdiri atas ayam, ikan, udang, dan sebagainya yang disepadukan sedemikian rupa dengan sayur-sayuran dan bumbu khusus. Di luar Ramadan, bubur berlauk jarang ditemukan.

Bubur berlauk berbeda dengan bubur air. Bubur air adalah nasi bubur yang dimasak tersendiri, sedangkan lauk-pauknya dimasak tersendiri pula. Waktu makan barulah bubur dan lauk-pauknya dicampur seperti halnya kita makan nasi sehari-hari. Bubur berlauk adalah nasi bubur yang dimasak secara bersamaan dengan segala lauk-pauk dan bumbunya di dalam suatu wadah, biasanya kawah atau kuali besar atau periuk besar. Bubur berlauk tak memerlukan lauk tambahan di luar lauk-pauk yang sudah dicampurkan karena memang kesemuanya telah cukup takarannya.

Tradisi masyarakat mengantarkan makanan perbukaan ke mesjid atau surau masih kekal sampai setakat ini di Kepulauan Riau. Akan tetapi, tradisi mesjid menyediakan makanan khas seperti bubur Ramadan yang diperikan di atas nyaris punah di daerah ini. Di Singapura dan Malaysia tradisi itu masih terpelihara walau mereka jauh lebih “metropolis” daripada kita di sini. Tradisi itu masih dipelihara oleh masyarakat Aceh Sepakat di Medan, Sumatera Utara. Di mesjid-mesjid yang menyediakan makanan khas itu, siapa pun boleh menikmatinya secara cuma-cuma (gratis).

Harus diakui bahwa suasana Ramadan di mesjid yang menyediakan makanan khas itu memang terkesan istimewa. Bukan karena makanannya, melainkan kebersamaan untuk mengadakan bahan-bahannya (umumnya berasal dari sumbangan jemaah) dan bersama-sama mengerjakan serta memasaknya membuat suasana menjadi bersemarak. Kesemarakan yang membuat Ramadan dirindui pada bulan-bulan yang lain dan dinanti-nantikan kehadirannya kembali.

Di rumah-rumah penduduk pula, menjelang berbuka telah tersedia pelbagai jenis makanan yang jarang dijumpai di luar Ramadan. Dari jenis nasi mungkin ada nasi lemak, nasi minyak, nasi dagang, dsb. Lauk-pauk beragam jenis dan deretan kue-kue ada putu piring, putu mayang, buah melaka, penganan talam, seri salat, bingka pisang, apam, jemput-jemput, dan masih banyak lagi. Begitu pulalah dengan pelbagai jenis makanan lain seperti lendut, laksa, pelbagai jenis mie, roti canai, roti jala, dsb. Begitulah makanan itu digilir-gilirkan sepanjang Ramadan.

Sebuah rumah tangga tak perlu menyediakan kesemua makanan itu. Satu rumah mungkin cukup hanya menyediakan satu jenis kue untuk satu hari. Walaupun begitu, waktu berbuka dan makan malam mereka akan menyantap pelbagai jenis makanan. Dari manakah kesemuanya itu? Jawabnya dari tetangga.

Katakanlah kita memasak kurmak ayam petang ini. Kita tak hanya memasak lauk itu untuk kita anak-beranak, tetapi juga untuk para tetangga di sekitar. Makin banyak rezeki, makin banyak pula kurmak yang dibuat sehingga makin banyak tetangga yang mendapat makanan itu. Sebaliknya, tetangga sebelah-menyebelah pun akan mengantarkan makanan perbukaan mereka masing-masing ke rumah kita. Jadilah setiap rumah tangga menyantap pelbagai jenis makanan saat berbuka dan makan malam. Lebih dari itu, petang dan malam Ramadan menjadi lebih indah dari seribu bulan.

Tradisi berbagi makanan perbukaan itu nyaris tak ada lagi di kalangan masyarakat Melayu masa kini, bahkan di kampung-kampung sekalipun. Kemiskinan yang melanda kebanyakan orang Melayu menyebabkan mereka tak mampu lagi menyediakan makanan yang lebih untuk memeriahkan Ramadan. Perubahan sifat dan sikap yang lebih mementingkan diri dan keluarga sendiri, yang merupakan pengaruh budaya asing yang negatif, juga sangat menonjol setakat ini. Dampaknya, orang Melayu masa kini pun merasa tak perlu berbagi—walau sekadar makanan—karena mereka merasa terbebani dengan kesemua tradisi itu.

Apalagi, banyak di antara mereka tak memasak sendiri makanan yang diperlukannya. Dengan kata lain, perbukaan itu mereka beli sehingga tak dirasakan ada kewajiban untuk dibagikan kepada orang lain. Alhasil, keindahan berbagi pada petang-petang dan malam Ramadan pun tak dirasakan lagi. Kesemuanya kini tinggal kenangan. Nyaris sama halnya dengan kehilangan kampung-kampung Melayu satu demi satu; lenyap untuk kepentingan politik dan ekonomi modern yang mengatasnamakan pembangunan.***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat pada 14 Agustus 2011 jam 15:07
Read more ...

Minggu, Oktober 16, 2011

MENJAGA KEUTUHAN BANGSA

JAUH sebelum kedatangan bangsa-bangsa asing, di nusantara ini telah berdiri beratus-ratus negara merdeka, besar dan kecil. Negara-negara merdeka yang berbentuk kerajaan itu mengurusi bangsa mereka masing-masing. Negara-negara dan bangsa-bangsa itu sebagaimana lazimnya pula mengalami pasang-surut, baik secara politik, ekonomi, maupun sosial-budaya. Yang pasti, bangsa-bangsa nusantara itu dikagumi oleh bangsa-bangsa lain karena dua hal: (1) kemahirannya dalam mengelola hal-hal yang berkenaan dengan laut, termasuk keberaniannya mengarungi lautan (SDM kelautan yang andal) dan (2) wilayahnya memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah.

Di antara kerajaan-kerajaan itu ada yang menjelma menjadi raksasa nusantara. Kerajaan Melayu-Sriwijaya menguasai hampir seluruh kawasan Asia Tenggara. Majapahit pula menjelma menjadi negara besar yang membawahkan kerajaan-kerajaan kecil hampir seluruh nusantara. Kerajaan Melaka melanjutkan kejayaan Majapahit di nusantara. Dan, Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang wilayahnya meliputi sebagian wilayah Indonesia, sebagian Malaysia, dan Singapura sekarang. Pendek kata, negara-negara dan bangsa-bangsa itu merdeka sedia kalanya.

Kemudian, datanglah bangsa-bangsa asing. Mula-mula bangsa Eropa seperti Belanda, Inggris, dan Potugis serta disusul kemudian oleh bangsa Jepun (Jepang) hanya bertujuan untuk mengadakan kerja sama perniagaan dengan negara-negara di nusantara. Namun, karena situasinya memungkinkan untuk memenuhi nafsu duniawinya, mereka pun bertindak lebih jauh lagi untuk menguasai nusantara dengan cara menjajah. Negara-negara dan bangsa-bangsa yang sebelumnya merdeka itu pun terjajahlah. Jauh sebelum itu, pun telah terjadi perhubungan multilateral dengan bangsa-bangsa Asia dan Eropa yang lain, tetapi mereka tak pernah menjajah.

Di dalam sistem pemerintahan kolonial, ada di antara negara di nusantara ini diperbolehkan meneruskan pemerintahannya, tetapi di bawah kendali penjajah. Ada pula negara yang kerajaannya dihapus, Kerajaan Riau-Lingga misalnya pada 1913, sehingga menjadi betul-betul terjajah. Penjajahan Inggris di Malaysia tak menghapus pemerintahan pribumi yang dikepalai oleh sultan, kecuali Kerajaan Melaka karena rajanya beredar tatkala terjadi penyerbuan Portugis ke ibukota kerajaan ternama itu. Nasib tragis menimpa pusat Kerajaan Melayu terbesar setelah Sriwijaya itu yang harus kehilangan tuah beraja sampai sekarang.

Sebagai bangsa yang sebelumnya merdeka, tentulah bangsa-bangsa nusantara tak rela terjajah. Oleh itu, mereka melawan untuk merebut kembali kemerdekaan. Mula-mula perjuangan itu dilakukan secara terpisah-pisah oleh negara masing-masing. Belajar dari kekalahan yang diderita selama ratusan tahun, memasuki abad ke-20 bangsa-bangsa nusantara itu bersatu. Bahkan, lebih jauh penyatuan itu menghala ke perpaduan tanah air, bangsa, dan bahasa untuk memperjuangkan terwujudnya negara besar baru: Indonesia. Alhamdulillah, perjuangan serentak dan serempak itu berjaya. Penjajah Barat dan Timur dapat diusir dari bumi nusantara. Indonesia sebagai kesatuan dari negara-negara dan bangsa-bangsa nusantara itu merdeka! Sejak 17 Agustus 1945 berdirilah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai negara modern, di dalam NKRI tak ada lagi kerajaan-kerajaan, kecuali Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Negara baru memberikan harapan baru. Cita-cita dan matlamat terbesarnya adalah mewujudkan kemakmuran bangsa dan kesejahteraan rakyat. Karena apa? Karena hanya dengan itu NKRI dan bangsa Indonesia dapat bersaing dengan negara dan bangsa lain. Hanya dengan itu marwah dan martabat bangsa akan terangkat kembali. Hanya dengan itu cita-cita luhur para pejuang dan pendiri bangsa akan berwujud.

“Malang memang tak berbau.” Kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan rakyat tak juga kunjung berwujud. Bahkan, kemelaratan dan kemiskinan makin kencang melanda rakyat. Ironisnya, kesengsaraan itu banyak terjadi di sentra-sentra SDA yang melimpah ruah. “Ayam mati di lumbung padi, tikus kenyang terus menari.” Suatu gejala ketakadilan kehidupan yang sangat terasa menyesakkan, terutama dialami oleh sebagian besar rakyat.

Bung Karno pernah mengingatkan bahwa generasi beliau dan sebelumnya berjuang melawan musuh yang jelas yakni bangsa penjajah. Namun, generasi berikutnya akan berhadapan dengan para penguasa dari bangsa sendiri. Pasal apa? Pasal para elit penguasa justeru lupa akan cita-cita luhur perjuangan kemerdekaan. Alih-alih mengupayakan kemakmuran bangsa dan kesejahteraan rakyat secara merata dan berkeadilan, mereka serempak, serentak, dan kompak memperjuangkan kemakmuran diri sendiri, kelompoknya, para kroninya, dan pihak asing. Begitu dan begitu, silih berganti. Ratusan triliun, bahkan lebih, uang rakyat menguap.

Ada bukti atau hanya sekadar rumor belaka? Indonesia menjadi negara terkorup di Asia, bukan buktikah itu? “Sudah terang lagi bersuluh”. Lembaga-lembaga penegak hukum sungguh tak berdaya menghadapi para koruptor, bahkan ikut basau (masuk angin). Tak tanggung-tanggung, beberapa pimpinan lembaga yang disebut superbody untuk memberantas korupsi dan memang sangat dipercaya oleh sebagian tokoh (?) dan rakyat yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ternyata terselamatkan dan kebagian deponeering gate.

Lagi, kalau Muhammad Nazaruddin, mantan bendaharawan umum Partai Demokrat dan tersangka pelbagai kasus korupsi, seberani ketika dia dalam pelarian mengungkapkan para pihak yang terlibat, termasuk disebut beberapa pimpinan KPK, entah aib apa lagi yang dapat disembunyikan dari negara ini. Tak ada bukti, tak ada fakta hukum, kata pihak-pihak yang ditunjuk langsung. Mereka lupa—seperti penyakit yang diidap Nazaruddin sekarang—bahwa fakta moralnya, “sudah berandang di terang bulan.” Mata rakyat telah terbuka lebar melihat kesemua pengkhianatan. Ternyata, gaji yang jauh lebih besar daripada penyelenggara negara yang lain tak menjamin para oknum untuk ikut juga menikmati hasil jarahan dari rakyat. Bukan rahasia lagi bahwa perkara korupsi menjadi daya tawar politik, kekuasaan, dan ekonomi di antara para elit itu setakat ini.

Penyelenggaraan negara betul-betul telah menyimpang dari cita-cita proklamasi. Padahal, cita-cita luhur itulah yang harus diperjuangkan para elit ketika mereka dititipkan kekuasaan oleh rakyat. Kenyataannya, mereka bagaikan pagar makan tanaman: rela melihat rakyat sendiri menderita demi kebahagiaan segelintir mereka: dari pusat sampai ke daerah. Ironisnya, dari tangan-tangan merekalah kemiskinan itu diciptakan. Sungguh terlalu!

Tak heran jika ada daerah-daerah tertentu, terutama mereka dari tradisi kerajaan besar dahulu, mengkaji ulang konsep NKRI. Secara ekstrem pertanyaan besarnya: tetap bersatu atau lebih baik berpisah saja. Kesemuanya bermuara pada konsep “kebersamaan dan keadilan” yang sangat sakral disepakati ketika membentuk NKRI. Ketika semua itu kian dikhianati beberapa daerah di Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Papua mulai melakukan re-evaluasi. Bahkan, rakyat Yogyakarta sangat marah ketika Pemerintah Pusat coba menghilangkan keistimewaan DIY. Kecaman mereka, Pemerintah Pusat tak memahami sejarah dan berusaha menusuk hati-sanubari rakyat Yogya. Sungguh berani dan luar biasa!

Sebelum menuliskan ini saya sempat menyaksikan acara “Satu Jam Bersama Rinto Harahap” (TV One). Lagu-lagu “pop manis” yang diciptakan Maestro Musik Indonesia itu kesemuanya bertemakan “cinta-kasih” dan disenandungkan dengan lembut oleh para penyanyi pilihan. Itulah hati-sanubari, jiwa, dan roh bangsa kita sejatinya. Mengapakah penyelenggaraan negara tak dapat dilaksanakan berdasarkan cinta-kasih sesama anak bangsa untuk menjaga keutuhan dan kejayaan NKRI? Sampai bilakah kita harus bertahan dengan keterpurukan moral yang menyiksa ini? Dan, siapakah yang akan ditauladani oleh anak-anak kita dalam Pendidikan Budi Pekerti? Selamat Ulang Tahun ke-66 Kemerdekaan Indonesia. Dirgahayu Republik Indonesia!


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebook pada 21 Agustus 2011 jam 21:56
Read more ...

Jumat, Oktober 14, 2011

JELMAAN TUAN

WAK ENTOL sedang berkeliling bersama calon investor di sekitar lokasi pembangunan kompleks Bisnis X. Usaha itu disebut Bisnis X karena tak jelas usaha apa yang akan dikembangkan. Masyarakat menduga di situ akan didirikan properti untuk usaha ilegal. Calon investor dan Wak Entol membantahnya. Tiba-tiba Wak Entol ditarik secara paksa oleh seseorang yang tak dikenal, tetapi sangat berwibawa tampilannya.

“Sini kau, Entol!” sergah orang itu sambil secara cergas menekan kepala dan melipat tangan Wak Entol ke belakang. “Tak puas-puas engkau membuat honar. Apalagi yang akan kaujual haaa?”

“Anda siapa?” tanya Wak Entol. Wajahnya meringis karena kesakitan yang amat sangat.

“Tak perlu kautanya siapa aku. Aku penguasa sah daerah ini!”

“Anda walikota atau bupati, ya? Tapi, Anda tak terlihat seperti beliau itu,” Wak Entol masih bertanya walau rasa sakitnya makin tak terperikan.

“Walikota? Bupati? Aku Ali!” orang misterius itu menjawab dengan suara mantap.

“Ali siapa? Saya tak mengenal Anda,” Wak Entol masih mau berhujah dalam sakitnya.

“Dasar degil kau, Entol bedebah. Aku Ali Kelana!” jawab laki-laki itu seraya menatap tajam Wak Entol. Kepala Wak Entol makin ditekannya dan tangan calo itu makin ditariknya ke belakang sehingga Wak Entol terpekik keras.

“Mustahil Anda Engku Ali Kelana. Beliau sudah ….” masih degil Wak Entol.

“Jangan kauteruskan. Kuperingatkan, jika kerja keji ini kalian lanjutkan, kalian akan menerima padahnya. Camkan kata-kataku ini!” lelaki itu makin menatap geram Wak Entol. Tak lama, dia pun raib.

Wak Entol meraung minta tolong karena rasa sakit yang makin menjadi-jadi. Mulutnya mengeluarkan buih yang aneh, diikuti muntah kuning yang sangat banyak. Dia terus menjerit-jerit.

Para calon investor heran melihat tingkah dan kejadian yang menimpa Wak Entol. Mereka berpandang-pandangan sekejap, lalu lari-lari terbirit-birit. Putih telapak kaki mereka karena sepatunya terlepas dan begitu takutnya.

Wak Entol terus meraung panjang sambil mengucapkan kata-kata yang tak jelas. Dia meracau menuju ke jalan raya. Orang-orang menjadikannya tontonan gratis.***



Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebook pada 22 Agustus 2011 jam 23:50
Read more ...

Rabu, Oktober 12, 2011

CATATAN LIMA LIKUR

“Sudah lima likur malam ini. Tinggal dua hari lagi, Wak. Kami mengingatkan saja. Kata Pak RT, semua dananya sudah pada Wak,” ketua pemuda kampung mengingatkan Wak Entol.

“Kata dia dananya padaku? Betul dia mengatakan itu kepada kalian?” gencar Wak Entol.

“Betul. Untuk apa kami berbohong.”

Wak Entol menelusuri lebih jauh, “Dia juga menyebutkan jumlahnya, ya?”

“Kami menanyakan itu, tetapi dia tak menjawab. Katanya pasti cukup. Semua sudah diperhitungkan.”

Wak Entol agak lega juga. “Apa pasal si RT ini tak dapat menjaga rahasia. Bungkam sedikit mengapa rupanya. Nasib baik dia tak menyebutkan jumlahnya. Kalau disebutnya, tak dapat ujung aku lagi. Tak ada harapan ber-Hari Raya ke seberang,” dia membatin sambil memandangi barisan pemuda di depannya dengan pandangan khawatir bercampur geram.***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebook pada 24 Agustus 2011 jam 18:18
Read more ...

Senin, Oktober 10, 2011

MALAM TUJUH LIKUR

SEKEJAP lagi azan magrib akan berkumandang. Empat orang anak-beranak itu sedang duduk mengelilingi perbukaan. Awang Likur (8 tahun), adiknya Dara Likur (6,5 tahun), ayahnya Pak Likur, dan ibunya Mak Likur larut dengan pikiran masing-masing. Awang dan adiknya punya rencana khas setelah berbuka nanti.

Pak Likur pula terlihat puas setelah menyiapkan semua colok (lampu yang terbuat dari buluh@bambu, diberi sumbu, dan diisi minyak tanah) dan cangkok (lampu yang terbuat dari kaleng susu atau kaleng sardin bekas dsb.), baik untuk sekitar rumahnya maupun untuk jalan kampung yang menjadi tanggung jawabnya. Dia tadi dibantu oleh anaknya Awang. Lelaki itu pun puas dapat memenuhi disain colok yang diminta oleh kedua anaknya.

Mak Likur pun sangat senang dapat menyelesaikan juadah untuk acara mendoa bakda magrib nanti, lengkap dengan kue apam, belebat, dan bingka ubi, khas untuk kanak-kanak. Kesemuanya sudah disajikan di dalam hidangan tertutup tudung saji, diatur di anjung dan ruang tengah. Pengaturan seperti itu memang khas karena acaranya harus berlangsung cepat sehingga agak berbeda dengan acara mendoa yang lazim: berdoa dulu baru hidangan disajikan.

Kesemua rumah masyarakat harus mendapat giliran. Kebetulan, rumah mereka dikunjungi pertama oleh rombongan masyarakat dalam acara syukuran itu sambil menuju ke mesjid untuk salat Isya dan tarwih. Selesai tarwih nanti acara berdoa itu diteruskan sampai selesai. Hari ini 26 Ramadan, malam ke-27, malam istimewa pada bulan Ramadan sebelum malam 1 Syawal. Ini malam tujuh likur.

Beduk berbunyi, azan pun berkumandang. Tak lengah, Awang dan Dara membaca doa berbuka, minum air putih masing-masing seteguk, dan mencicipi kurma sebiji seorang. Masih dalam keadaan mengunyah kurma, kedua beradik itu berhamburan ke luar. Mereka memasangi colok dan cangkok di luar rumah dan jalan: satu per satu sampai kesemuanya menyala. Dan, sampailah mereka pada colok berhias istimewa.

Secara bersama-sama mereka menghitung: satu, dua, tiga, Bismillah! Keduanya menyotongkan korek api ke colok khas masing-masing yang sudah dibuatkan oleh ayah petang tadi. Begitu disotong, colok Dara memancarkan cahaya api dengan motif “Selendang Delima Melayang Manja” dan milik abangnya “Tanjak Tuah Bersanding Keris Pusaka”. Begitu rangkaian colok berhias itu menyala, mereka bersorak gembira, wajah mereka merona bahagia. Ibu dan ayah mereka saling berpandang sekejap di anjung rumah untuk kemudian ikut tertawa. Colok berhias Selendang Delima dan Tanjak-Keris menjadi mascot rumah mereka sampai dengan malam-malam Aidilfitri nanti. Rumah-rumah tetangga dihiasi pula oleh colok-cangkok istimewa sesuai dengan selera masing-masing.

Langit cemerlang, gemintang berkelip riang, hujan pun masih cuti sehingga enggan untuk menjelang. Tanda apakah gerangan membentang?

Cahaya colok dan cangkok akan maksimal menghiasi malam: dari rumah ke rumah sampai sepanjang jalan, sekutah-kutah kampung. Kedua beradik itu berpimpin tangan masuk ke rumah untuk menunaikan salat magrib berjamaah bersama ayah-bunda mereka. Wajah mereka bercahaya dan hati kedua anak itu berbunga-bunga.

Tak lama selesai magrib, jemaah telah sampai ke rumah mereka. Acara berdoa pun dimulailah oleh imam mesjid. Doa itu intinya mengucapkan rasa syukur kepada Ilahi karena telah dapat melaksanakan rangkaian ibadah Ramadan dan memohon perkenan Allah agar dapat melanjutkan ibadah pada sisa Ramadan sampai ke Aidilfitri. Doa juga disampaikan untuk para arwah yang telah mendahului dan keselamatan kampung serta masyarakat.

Tak lama, hanya sekitar lima belas menit saja. Orang-orang mencicipi hidangan. Kanak-kanak mendapat hadiah juadah utama: apam beras bertabur kelapa parut (kadang-kadang kelapa dicampurkan gula pasir) atau belebat (lepat) dan bingka ubi. Mereka bersorak gembira menerima juadah khas malam tujuh likur itu. Tanpa ampun, kue-kue itu mereka santap dengan lahapnya.

“Assalamualaikum!” ucap Pak Imam dan mereka pun meninggalkan rumah Pak Likur menuju rumah Pakcik Atan. Pak Likur sekeluarga tentu saja ikut serta. Memang begitulah caranya.

Rumah Pakcik Atan tak begitu besar sehingga tak semua jemaah dapat masuk. Akan tetapi, itu bukanlah masalah. Jemaah rela bersempit-sempit dan sebagian duduk di luar rumah. Di rumah ini jemaah agak lama sedikit karena Pakcik Atan kurang sehat. Walaupun begitu, beliau sangat bersemangat menyambut jemaah dengan mengenakan baju teluk belanga baru, yang dipersiapkannya untuk salat ied nanti. Beliau sangat gembira dikunjungi dan jemaah berdoa di rumahnya. Sakit dan derita terasa sirna seketika itu juga. Dukungan dari masyarakat sekampung membuatnya kuat untuk menyambut Hari Raya dan menjalani hari-hari ke depan. Istri dan anak-anaknya pun diliputi rasa bahagia yang tak bertara. Dan, mereka mengucapkan puji kepada Allah Azza Wa Jalla karena memperoleh rahmat karunia-Nya.

Rumah Makngah Minah, janda dengan tiga orang anak, dikunjungi terakhir sebelum salat Isya dan tarwih. Kebetulan rumah perempuan shalihah itu di samping mesjid. Kendati orang-orang menaruh kasihan kepadanya karena harus membesarkan anak-anaknya seorang diri, Makngah Minah tak pernah menunjukkan kesedihannya. Perempuan itu senantiasa tegar menghadapi dan menjalani kehidupan.

"Tak baik bagi perkembangan anak-anakku kalau aku terkesan sedih," jawab perempuan yang ketika daranya dulu menjadi bunga desa itu kepada sahabatnya Mak Likur suatu hari dulu saat ditanya tentang rahasia ketabahannya menghadapi musibah. Ketika sedang sendiri, barulah terasa olehnya segala remuk redam dan rindu dendam. Aminah tak pernah dapat melepaskan kenangan bersama suaminya tercinta yang tenggelam di laut ketika sedang menjaring ikan, tiga tahun lalu. Mayat suaminya sampai hari ini tak ditemukan. Tiga orang menjadi korban dalam peristiwa angin ribut yang membawa naas itu.

Bakda tarwih, doa bersama dari rumah ke rumah dilanjutkan. Tentulah rombongan harus dibagi-bagi dalam kelompok. Soalnya, semua rumah seisi kampung harus mendapat giliran dalam satu malam. Tak boleh disambung malam besok. Berkat malam tujuh likur ya malam ini, bukan besok, lusa, tulat, atau tubin. Besok dan seterusnya berkat lain lagi, bukan berkat tujuh likur.

Tiba pula giliran rumah Paklong Basar. Long nampaknya agak malu menerima jemaah. Sebaliknya, istrinya, Maklong Buntat menyambut para tamu dengan ramah dan senyum khasnya yang membuat siapa pun sulit melupakannya. Maklong memang dikenal sebagai perempuan yang sangat ramah di kampung itu. Anak-anak mereka yang berempat orang itu pun langsung berbaur dengan teman-teman mereka yang datang dan bermain dengan gembira.

Acara berdoa di rumah keluarga-berada di kampung itu selesai sudah. Orang-orang akan meminta diri untuk ke rumah yang lain pula. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh tingkah Paklong Basar. Dia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk erat Pak Imam. Semua mata tertuju kepadanya dengan pandangan iba, termasuk anak-istrinya.

"Maafkan saya, Pak Imam. Selama ini saya kurang bergaul di kampung kita ini. Saya hanya larut dalam urusan bisnis dan partai. Saya jadi jarang berjamaah di mesjid. Nyaris lupa dengan saudara-saudara sekampung, bahkan kepada istri dan anak-anak. Saya minta maaf karena saya lupa diri dan berubah jadi sombong belakangan ini."

Paklong Basar termasuk orang yang paling berhasil secara politik dan ekonomi di kampung itu. Dia dapat membesarkan bisnisnya sehingga terkenal ke mana-mana. Karena keberhasilan itu, dia diangkat menjadi pengurus inti parpolnya. Dengan jabatan itu, dia makin mudah memperbesarkan bisnisnya dan kelompoknya. Dia jadi lebih banyak bergaul dengan orang-orang luar dan nyaris tak bersinggungan lagi dengan orang-orang sekampungnya belasan tahun. Itulah yang menyebabkan dia lupa diri, termasuk lupa kepada kawan-kawan yang menolongnya dulu. Pak Imam termasuk sahabatnya yang paling banyak membantu karier politik Long Basar. Sayang, Long bagai kacang lupakan kulit sekarang. Padahal, dia hanyalah pemuda dari keluarga yang sangat sederhana sebelumnya, sama dengan masyarakat di kampung itu umumnya.

"Sudahlah, Long. Lupakan saja semua yang telah berlalu. Yang penting Long mau mengubah diri. Kami semua di kampung kita ini sayang kepada Long sekeluarga. Kita ini keluarga besar, harus saling membantu, saling mengingatkan. Syukurlah sekarang Long sudah sadar. Dunia ini sampai di manalah batasnya, Long," nasihat Pak Imam kepada Paklong Basar.

Paklong Basar tak kuasa menahan air mata. Dia terisak-isak. Semua yang hadir juga larut dalam isak tangis. Mereka bersyukur, Long Basar telah kembali ke fitrahnya semula. Dalam keadaan masih menangis, Long Basar menyalami jemaah satu per satu, besar-kecil semua disalaminya. Sudah lama itu tak dilakukannya secara ikhlas, kecuali basa-basi untuk kepentingan politik dan bisnisnya. Dia pun memeluk anak-istrinya. Long Basar sungguh merasa tercerahkan malam ini.

Pak Imam mengajak Long Basar ikut berkeliling ke rumah-rumah masyarakat. Ajakan itu langsung diterima Long dengan suka cita. Telah lama kebiasaan itu ditinggalkannya, kecuali dalam acara Safari Ramadan, yang juga lebih banyak basi daripada basanya.

Lampu-lampu colok di sekeliling dan di sekitar rumah keluarga Long Basar makin terang menyala. Ditiup angin sepoi-sepoi malam itu cahayanya menjadi semakin indah. Ada desauan merdu dari elusan kayu dan bambu yang saling menyentuh membuat malam makin cemerlang. Kanak-kanak makin asyik bermain dan bergembira riang di ruang bebas beratapkan langit terbentang.

Seperti yang diperkirakan, acara itu baru selesai sampai lepas tengah malam. Walaupun begitu, masyarakat sangat menikmatinya sehingga tak merasa terbebani. Bahagia merasuk sampai ke lubuk jiwa mereka yang terdalam. Banyak di antara mereka memilih baru tidur setelah salat Subuh.

“Mengapa kami dihadiahi kue apam atau belebat dan bingka ubi, Mak?” tanya Awang setelah kembali dari berdoa berkeliling rumah masyarakat.

Ibunya memandang anak sulungnya sekejap dengan pandangan penuh kasih. “Kue apam itu termasuk yang paling mengembang, Nak. Kue itu juga dimakan bersama kelapa parut yang dicampur gula dan dilengketkan ke kuenya. Itu lambang bahwa kalian kanak-kanak ini sedang berkembang. Dalam perkembangan itu, kalian harus menuntut ilmu yang baik dan banyak. Itu dikiaskan dengan kelapa parut dan gula yang putih bersih. Begitu dicampurkan dengan kelapa parut dan gula putih, kue apam yang kita makan terasa sangat lezat. Itulah perumpamaan ilmu yang baik. Ia membawa manfaat bagi kehidupan sehingga kalian dapat menjalani hidup dengan baik dan nikmat kelak.”

“Begitu pula belebat dan bingka. Kedua kue itu agak lengket. Itu kiasan agar segala ilmu yang baik yang kalian tuntut melekat di pikiran dan hati,” sambung ayahnya. Apalagi ilmu dan hikmah ketika kita beribadah pada bulan Ramadan. Manfaatnya tak hanya untuk kehidupan dunia, tetapi juga bekal di akhirat. Kita akan memperoleh dua termasa: kesehatan lahiriah dan batiniah serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Kita pun berbagi suka-duka seisi kampung dalam persaudaraan yang tak pernah putus. Saling mendukung satu sama lain. Itulah arti penting kita mera’ikan malam tujuh likur, anak-anakku,” kata ayahnya.

Awang dan Dara berpandang-pandangan. Dalam hati, mereka bangga memiliki ayah dan ibu yang sangat mencintai mereka. Mereka pun berbahagia karena kedua orang tuanya senantiasa menjaga adat-istiadat dan tradisi yang baik dan mendidik anaknya dengan tradisi yang baik pula. Serentak, mereka memeluk ayah-bunda mereka.

Orang berempat beranak itu berurai air mata. Air mata pengurai bahagia. Kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan oleh siapa pun, termasuk oleh pacal yang hina si penulis kolom budaya. Mereka bermandikan cahaya rahmat, yang mungkin disaksikan oleh para malaikat dan arwah para syuhada yang khusus turun dari surga pada malam Ramadan penuh berkah: malam tujuh likur. Colok dan cangkok pun meneruskan bakti, memancarkan terang sampai ke pagi.***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebook pada 28 Agustus 2011 jam 15:10
Read more ...

Sabtu, Oktober 08, 2011

TAK HENDAK BERHENTI

"Aku mohon, Tok. Jangan Datuk hentikan ceritaku," Wak Entol mendatangiku setengah menyembah. Baru kali ini aku melihatnya begitu menghiba dan merendahkan diri.

"Cerita Wak ini selalu kontroversial. Banyak orang yang tak suka!" aku membela diri setengah menyergah, "kuputuskan untuk dihentikan saja."

"Tahukah, Datuk. Dunia ini jadi bersemarak karena ada cerita tokoh-tokoh sepertiku ini. Kami ini meneruskan karakter moyang kami Firaun yang Agung itu. Itulah karakter asli kami. Kini kami telah membentuk Organisasi Pelanjut Firaun Sedunia. Anggota kami makin hari kian bertambah. Tanpa cerita kami, media kehilangan berita, penulis kehilangan cerita, dan dunia kehilangan maya. Kalau Datuk menyensor apalagi menyabot cerita tentangku, aku akan menuntut Datuk ke Mahkamah HAM Internasional!" Wak Entol berbalik menggertakku. Sikap aslinya serta-merta kembali. Dia membusungkan dada walau tak berani beradu tatap denganku. Dia hanya menjelingku atau memandang dengan ekor mata kirinya.

"Gigih sekali orang ini," pikirku. Terus terang, aku bimbang nyaris bingung. Kalau kuteruskan apa pula kata orang.

Wak Entol melihat gelagat kebimbanganku walau dia belum juga berani menatapku.

"Ingat, Tok. Kalau Datuk menghentikan ceritaku, aku akan menuntut Datuk dengan tuduhan "caracter assassination" alias "pembunuhan karakter". Hukumannya berat, Tok!" Wak Entol kembali menggertakku dan terus berlalu sambil bersiul dengan lagu "Tikam-tikaman" yang bernuansa Timur Tengah dipadu dengan irama dangdut rock.***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat pada 03 September 2011 jam 12:36
Read more ...

Kamis, Oktober 06, 2011

NUANSA HARI RAYA

HARI RAYA AIDILFITRI patutlah disambut dengan gembira. Karena apa? Karena hari itu salah satu hari mulia. Selepas sebulan penuh berjuang keras zahir dan batin melawan hawa nafsu di bulan Ramadan, bulan yang penuh magfirah, umat Islam yang melaksanakan ibadah puasa dengan benar dapat kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan, tanpa cela, noda, dan dosa. Kita bersyukur karena Allah menciptakan bulan khusus untuk kita menghapus segala dosa untuk pada gilirannya menjadikan kita orang yang bertakwa.

Tanda-tanda kembali fitrah dan mendapat magfirah itu teserlah manakala segala kebaikan dan kebajikan yang kita lakukan pada bulan Ramadan terus berlanjut pada kesebelas bulan berikutnya. Pada akhirnya, kita mampu mencapai kualitas spiritual yang utama, yang membimbing kualitas emosional dan kualitas intelektual kita menjadi lebih baik. Jadilah kita manusia-manusia yang tercerahkan, yang diharapkan mampu melaksanakan kesemua tugas yang kita emban di muka bumi ini dengan bersuluhkan cahaya Ilahi. Tak berlebihanlah apabila Hari Raya kita sambut dengan gembira, gempita, dan bahagia. Asal, kesemuanya kita lakukan tak berlebihan dan bebas dari sifat dan sikap ria: entah karena kekayaan, entah karena kekuasaan, entah karena jabatan, dan sebagainya yang dapat memesongkan kita kepada orang-orang yang kufur nikmat. Alhasil, nilai puasa kita pun menjadi cedera. Nauzubillahi min zalik!

Kita umat Islam Indonesia menjadi lebih berbahagia lagi. Walau akidah kita sama, ternyata terdapat dua keyakinan tentang penetapan jatuhnya 1 Syawal 1432 H. Sebagian saudara-saudara kita berkeyakinan bahwa Ramadan berakhir pada Senin, 29 Agustus 2011 sehingga mereka ber-Hari Raya pada Selasa, 30 Agustus 2011. Sebagian lagi, berkeyakinan—seperti halnya keyakinan pemerintah—bahwa Ramadan berakhir Selasa, 30 Agustus 2011 dan Aidilfitri jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011. Walaupun begitu, kita bangsa Indonesia dapat saling menghargai perbedaan itu sehingga dapat ber-Hari Raya secara damai dan penuh persaudaraan.

Perbedaan ternyata tak membuat kita berpecah-belah. Malah, kita semakin kokoh bersepadu dalam semangat harga-menghargai, sayang-menyayangi, dan puji-memuji di dalam rahmat Allah. Semangat itu amat mustahak bagi upaya kita membangun keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara kita sampai bila masa pun. Semangat persatuan dan kesatuan itu memang kita warisi dari para pendahulu kita zaman-berzaman: lebih mengutamakan persatuan dan keutuhan serta menghargai perbedaan, tak memaksakan kehendak antara satu dan lainnya. Itulah harmoni yang harus kita ambil himahnya.

Kita menjadi lebih berbahagia lagi karena saudara-saudara kita sebangsa yang nonmuslim pun ikut bergembira di Hari Raya. Mereka juga dengan tulus dan ikhlas menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya, bahkan seperti halnya muslim dan muslimah, mengucapkan permintaan maaf zahir dan batin kepada saudara-saudara muslim-muslimahnya. Mereka pun, seperti yang terpelihara dalam tradisi kita, bersilaturrahim ke rumah-rumah saudara Islamnya dengan semangat persaudaraan sejati. Kita memang berbeda agama, tetapi sebagai bangsa Indonesia, kita tetaplah bersaudara di dalam sebuah rumah bangsa yang besar lagi indah ini. Bahkan, kesemuanya itu kita lakukan demi kemaslahatan umat manusia, yang percaya bahwa dirinya hanyalah makhluk Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, di muka bumi ini. Dengan memelihara dan mengimplementasikan keyakinan itu, kita makin kokoh berdiri sebagai masyarakat madani, yang pasti akan dihormati dan disegani oleh bangsa mana pun di dunia ini.

Hari Raya memang sering membawa kisah suka dan duka. Di samping kegembiraan dan kebahagiaan itu, kita pun patutlah berbelasungkawa. Dari jutaan saudara kita yang mudik ke kampung masing-masing, ternyata ada lebih dari 300-an orang yang tak selamat sampai di kampungnya. Mereka meninggal di dalam perjalanan karena naas di jalan raya (kecelakaan lalu-lintas), terutama di Pulau Jawa. Itu baru angka arus mudik (balik kampung), belum tahu lagi angka arus baliknya (kembali ke kota tempat bekerja, ke Jakarta misalnya). Pun tak terhitung yang mendapat cedera di perjalanan sehingga harus dirawat di rumah sakit. Niat hati untuk ber-Hari Raya di kampung halaman bersama saudara-saudara dan keluarga besar, tetapi ternyata Allah lebih dulu memanggil pulang mereka ke kampung yang kekal abadi, akhirat. Terlepas dari ajal dan maut yang memang rahasia Allah, dalam tradisi balik kampung itu kita memang perlu berhati-hati dan penuh perhitungan. Dari media massa kita mengetahui bahwa sebagian besar naas itu terjadi karena yang membawa kendaraan darat dalam keadaan mengantuk.

Masih terbayang di pelupuk mata di Hari nan Fitri ini sebagian saudara-saudara kita yang berdesak-desakan dan berhimpit-himpitan. Tak pula orang muda-muda, tetapi orang tua-tua (kebanyakannya perempuan) dan anak-anak. Mereka berebutan untuk mendapatkan pembagian zakat dalam bentuk uang dan makanan menjelang Hari Raya kemarin. Begitu pengapnya suasana, ada di antara mereka sampai jatuh pingsan. Padahal, yang mereka perebutkan itu hanyalah bernilai 20 ribu rupiah. Sungguh suatu kenyataan yang memilukan dan, karena peristiwa itu diliput oleh media nasional dan internasional, mestinya juga memalukan. Peristiwa itu seharusnya mengiris hati kita.

Mengapakah para orang kaya melakukan cara seperti itu dalam pembayaran zakat? Dan, mengapakah pula mereka diizinkan melakukan pembayaran zakat dengan cara tak terpuji itu? Di atas kesemuanya itu, diakui atau tidak, terutama oleh pemerintah, bahwa kemiskinan masih menjadi masalah utama bangsa kita. Kemiskinan itu seyogianya bukan untuk dieksploitasi oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab, tetapi diatasi secara cerdas dan tegas, pun tak perlu berbantah-bantah untuk menafikannya. Terlepas dari berhasil atau tidaknya pembangunan kita secara makro, pada tataran rakyat jelata itulah kenyataan yang sesungguhnya terjadi. Semoga di dalam suasana hati yang fitri ini kita mampu mengevaluasi diri dalam kaitannya dengan “tanggung jawab yang kita kehendaki” untuk membangun bangsa ini.

Di luar negara masih di dalam suasana Hari Raya ini sebagian kita mungkin bersedih menyaksikan penderitaan saudara-saudara kita di Somalia. Mereka didera oleh musibah kelaparan yang menyiksa. Anak-anak dan orang tua-tua tampil dengan tubuh kurus kering dan wajah yang sungguh tak sampai hati kita melihatnya. Pelbagai penyakit mendera mereka karena kekurangan makanan dan gizi. Apakah yang menyebabkan kesemuanya itu? Jawabnya tiada lain, salah urus dalam membangun bangsa. Dampak terbesarnya tentulah diderita oleh rakyat. Semoga Allah memberikan mereka pertolongan dan semangat untuk bertahan.

Di Irak, walaupun rezim lama telah tumbang, ternyata perang saudara belum juga usai. Darah tertumpah dan nyawa melayang sia-sia karena bom bunuh diri di sana-sini. Rakyat Irak harus mengalami suasana perang dalam waktu lama. Padahal, sponsor Barat-nya sedang berpesta menikmati pampasan dan atau dalal yang menjadi matlamatnya.

Suasana perang saudara masih riuh-rendah di Libya. Perubahan sistem pemerintahan dan politik yang didambakan oleh rakyat, sekali lagi, dimanfaatkan oleh kuasa asing. Keadaan Negeri Libya kacau-balau. Sesama sendiri, seakidah, dan sebangsa saling memusuhi dan membunuhi. Menurut berita resmi, tak kurang dari 50 ribu rakyat Libya tak sempat bertemu Hari Raya tahun ini karena lebih dahulu mati. Dalam pada itu, kuku-kuku asing Barat makin kuat mencengkeram untuk menciptakan surga dunia yang menjadi keyakinan pragmatis mereka.

Di Hari Raya ini kesemuanya itu patutlah kita renungkan untuk menciptakan dunia yang lebih baik, lebih bermarwah, dan lebih madani. Betapa keserakahan dalam bentuk apa pun senantiasa berdampak buruk bagi tamadun manusia di mana pun di muka bumi ini. Akhirnya, Selamat Aidilfitri serta mohon maaf zahir dan batin dari pacal yang hina ini kepada semua pembaca.***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebook pada 04 September 2011 jam 14:32
Read more ...

Selasa, Oktober 04, 2011

BAGI-BAGIAN

"Kalian semua ini bagaimana? Tak salah kalau aku mengambil sedikit keuntungan dari jerih-payahku, bukan? Bukannya banyak sangat. Pun bukan untukku seorang: untuk istriku, anak-anakku, saudara-saudaraku, anak buahku, dan timku. Lagipula, untuk mendapatkan semua ini, aku kan mengeluarkan modal, bukannya gratis!" tinggi suara Wak Entol menyergah orang-orang yang mengeritiknya. "Kalian memang susah melihat orang senang."

"Kalau hendak untung, jadi pedagang saja, Wak. Jangan jadi perantara kami. Makan sumpah nanti," balas ketua pemuda kampung sambil mengacungkan tangannya. "Iya kan, Saudara2?"

"Iyaaaaa . . . !" jawab orang2 yang mendatangi rumah Wak Entol.

"Sumpah, kata kalian. Aku ini kebal sumpah. Tak termakan sumpah kalian. Tak ada yang gratis di negeri ini. Aku pun perlu mengumpulkan modal untuk membeli suara kalian. Mau apa kalian?" Wak Entol menantang.

"Kami bukan mau apa-apa, Wak."

"Lalu, kalian menggertak aku? Ada apa rupanya?"

"Kami minta jatah kami. Sudah lama kering ini."

"Oh, minta jatah rupanya. Mengapa tak cakap dari tadi? Kalau begitu kan mudah, senang sama senang namanya," jawab Wak Entol sambil membagikan jatah kepada orang-orang yang mendatanginya.

Orang-orang makin terhibur. Pasal, sambil membagikan jatah Wak Entol bersiul dengan lagu Bagi-Bagian yang dipadu irama rock n roll.


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebook pada 06 September 2011 jam 12:22
Read more ...

Minggu, Oktober 02, 2011

RAJA ALI KELANA

“APABILA negeri itu berubah kelakuannya, maka tinggalkan dia.” Aforisme itu termaktub di dalam buku Bughiyat al-‘Aini fi Huruf al-Ma’ani karya Raja Ali Kelana (Mathba’at al-Ahmadiyah Press, Singapura, 1922). Itu adalah sikap hidup dan keyakinan seorang Raja Ali Kelana, petinggi dan cendekiawan Kerajaan Riau-Lingga yang cukup masyhur itu. Seolah-olah sikap itu merupakan antitesis dari kesetiaan lama bangsa kita bahwa “hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih baik negeri sendiri.”

Hakekatnya, Raja Ali Kelana lebih menekankan keyakinannya pada tamadun (peradaban) yang dibangun di suatu negeri dan atau negara secara keseluruhan, terutama perilaku atau praktik penyelenggaraan negara, dibandingkan kesetiaan lama yang lebih berbicara pada konteks kesejahteraan (ekonomi) semata. Aforisme Raja Ali Kelana itu juga menunjukkan nilai dan sikap teguh yang dimiliki oleh seorang negarawan sejati yang tak mau berkompromi (bersubhat) dengan praktik yang bertolak belakang dari matlamat (tujuan) asal penubuhan (pendirian) sebuah negeri dan atau negara.

Siapakah Raja Ali Kelana? Beliau oleh keluarganya diberi nama Ali. Karena keturunan bangsawan Kerajaan Riau-Lingga, di depan nama kecilnya itu melekat gelar keturunan Raja sehingga menjadi Raja Ali. Lengkapnya nama beliau Raja Ali ibni Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi. Selain itu, beliau juga dikenal dengan nama-nama alias yang lain yaitu Raja Ali Ahmadi, Raja Ali Riau, Raja Ali Bukit, dan Engku Ali Riau. Penambahan “Kelana” di belakang namanya sehingga menjadi Raja Ali Kelana merupakan jabatan yang disandangnya yaitu menjadi Kelana di dalam Kerajaan Riau-Lingga. Jabatan Kelana itu merupakan jabatan tinggi setingkat di bawah Yang Dipertuan Muda (Raja Muda yaitu orang kedua setelah Sultan di dalam struktur pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga kala itu). Orang yang telah menjabat Kelana merupakan calon Yang Dipertuan Muda.

Ayahndanya Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi adalah Yang Dipertuan Muda X Kerajaan Riau-Lingga. Baginda wafat pada 1899. Sesuai dengan ketentuan adat, seharusnya Raja Ali Kelana yang menggantikan ayahndanya menjadi Yang Dipertuan Muda XI Kerajaan Riau-Lingga. Akan tetapi, beliau tak sempat dilantik untuk jabatan yang menjadi haknya itu karena meningkatnya perseteruan antara Kerajaan dengan Pemerintah Hindia-Belanda, yang dari pihak Kerajaan, Raja Ali Kelana dikenal sebagai pembangkang yang sangat diperhitungkan pihak Belanda.

Raja Ali Kelana menunjukkan sikap permusuhannya dengan Pemerintah Hindia-Belanda dalam banyak kesempatan. Di antaranya beliau menolak keras penggunaan kata “firman” dan “akhazatun” yang digunakan pihak Hindia-Belanda untuk perjanjian politik dengan Kerajaan Riau-Lingga. Kata “firman” ditolaknya karena kata itu dikhususkan untuk Allah swt., bukan untuk ucapan pemimpin Hindia-Belanda. Dan, kata “akhazatun” ditentangnya karena bukan hanya untuk penghalusan (eufemisme) kata “pinjaman”. Lebih dari itu, oleh pihak Hindia-Belanda, Kerajaan Riau-Lingga yang “meminjam” kepada Pemerintah Hindia-Belanda. “Kami yang ahli waris sah kerajaan (negeri) ini, mengapa pula dibalikkan menjadi meminjam kepada kalian, wahai kaum penjajah?” begitu kira-kira penentangan yang dilakukan oleh Raja Ali Kelana.

Raja Ali Kelana adalah salah seorang pendiri dan pengurus inti Rusydiah Kelab. Itu bukanlah sebarang kelab. Rusydiah Kelab merupakan organisasi cendekiawan Kerajaan Riau-Lingga yang didirikan pada 1885. Perhimpunan ini telah menunjukkan kerja berlandaskan budaya modern dengan mengutamakan penggalakan kemajuan pendidikan dan kebudayaan serta ekonomi. Mereka sangat menyadari bahwa untuk eksis di dunia modern, ilmu dan ekonomi menjadi pilar utama. Itulah yang mereka perjuangkan di samping menjadi kelompok penekan bagi pihak Kerajaan dan Pemerintah Hindia-Belanda agar menjalankan pemerintahan sesuai dengan garis-garis yang telah ditetapkan. Jangankan pihak penjajah, Kerajaan Riau-Lingga pun kalau menyimpang dalam penyelenggaraan negara akan mereka kritik. Organisasi ini berjuang berasaskan Melayu-Islam, adat-istiadat Melayu, dan bahasa Melayu. Di organisasi inilah Raja Ali Kelana menjadi salah seorang pemikir dan penggeraknya.

Raja Ali Kelana merupakan tokoh yang ditempa dengan pendidikan (Islam) yang baik. Selain menuntut ilmu di lingkungan kerajaan di Penyengat Inderasakti, beliau sempat memperdalam ilmunya di Mekah. Di antaranya beliau dibimbing oleh ulama ternama seperti Syekh Ahmad al-Fatani, Sayyid Abdullah al-Zawawi, dll. Kegiatan menuntut ilmu itu dilakukannya ketika singgah di Mekah dalam perjalanannya untuk melaksanakan tugas diplomatik kerajaan ke Mesir. Selain itu, beliau juga berkunjung ke Turki Usmaniyah pada 1895 dan 1905 untuk urusan diplomatik kerajaan.

Raja Ali Kelana juga mengemban tugas dalam pengembangan ekonomi. Berdasarkan surat Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga, Rabu, 29 Rabiul Akhir 1308 H., Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir ibni Raja Haji Abdullah al-Khalidi diberi hak untuk mengelola Pulau Batam. Oleh keduanya, didirikanlah perusahaan batu bata “Batam Brick Goods” di Pulau Batam itu. Ketentuan itu dipertegas lagi dengan surat Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga, Selasa, 8 Rabiul Awal 1316 H. bersamaan dengan 26 Juli 1898. Dalam surat terbaru itu haknya dikukuhkan lagi bersama dengan Raja Abdullah (Tengku Besar) dan Raja Muhammad Tahir. Sejak itu berkembanglah usaha batu bata di Pulau Batam.

Sebagai cendekiawan, pada 1896 Raja Ali Kelana ikut mendirikan badan penerbit Al-Imam, yang kemudian pada 1906—1908 menerbitkan Majalah Al-Imam, yang terbit di Singapura. Beliaulah yang menjadi donator penerbitan majalah itu.

Pada 1896 beliau menyelesaikan buku Pohon Perhimpunan pada Menyatakan Peri Perjalanan. Buku dengan gaya jurnalistik itu ditulis berdasarkan hasil perjalanan ke Pulau Tujuh (sekarang Kabupaten Natuna dan Anambas) sebagai bagian tugasnya sebagai Kelana. Dengan demikian, Raja Ali Kelana merupakan tokoh jurnalistik pertama dari Kerajaan Riau-Lingga. Selanjutnya, terbit buku beliau Perhimpunan Plakat (1900), Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas-Pada Orang yang Pantas-Dengan Pikiran yang Lantas (1910), Bughiyat al-‘Ani fi Huruf al-Ma’ani (1922) yaitu buku pelajaran bahasa Melayu, dan Rencana Madah pada Mengenal Diri yang Indah.

Pada 11 Februari 1911 Pemerintah Hindia-Belanda memakzulkan Sultan Riau-Lingga secara sepihak karena sultan dianggap pembangkang. Tak lama sesudah itu, Residen Riau di Tanjungpinang pada 23 Juni 1911 mengeluarkan “firman” yang ditandatangani oleh G.F. de Bryn Kops yang membatalkan kesemua surat kepemilikan yang dikeluarkan oleh Sultan Riau-Lingga. Selanjutnya, pada 1913 Pemerintah Hindia-Belanda membubarkan Kerajaan Riau-Lingga (Staatblad/Lembaran Negara 1913/19).

Para pemimpin dan rakyat Kerajaan Riau-Lingga tentu tak mau menerima putusan sepihak itu. Sebagian dari mereka memilih berhijrah ke Johor dan Singapura untuk mendapatkan suaka politik dari Sultan Johor daripada bertuankan Belanda, termasuk Raja Ali Kelana. Rencananya, dari tempat pengasingan itulah akan disusun kembali strategi untuk merebut kembali tanah tumpah darah mereka.

Selain Khalid Hitam yang berusaha menjalin upaya diplomatik dengan Jepang, Raja Ali Kelana pergi kembali ke Turki pada 1913 untuk meminta bantuan. Malangnya, upaya-upaya itu gagal. Dan, sejak itu Kerajaan Riau-Lingga tak pernah berdiri lagi.

Karena kepakarannya, Raja Ali Kelana diangkat sebagai Ketua Agama Islam Negeri Johor, tempat pengasingannya, oleh Sultan Johor. Penghargaan itu tak berlebihan karena Kerajaan Johor dan Riau-Lingga sebelumnya memang bernaung di bawah satu Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang sebelum dipecah dua oleh Belanda dan Inggris. Raja Ali Kelana, tokoh agama, pendidikan, politik, jurnalistik, dan cendekiawan itu betul-betul meyakini aforisme yang disuratkannya dan atau, bahkan, memang tersuratkan bagi bangsa Melayu.***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebook pada 11 September 2011 jam 23:07
Read more ...

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...