Senin, Oktober 24, 2011

ABU NAWAS KE INDONESIA

Pertanyaan itu tak ada jawabnya dua minggu lalu meski kabar burung membahana di sekutah-kutah Bagdad dan Irak umumnya. Misi rahasia itu diketahui kalangan istana dan rakyat setelah hari ini Abu Nawas menyampaikan laporan pertanggungjawabannya kepada Sultan Harun al-Rasyid. Mulanya, tokoh jenaka tetapi pintar, arif, dan alim ini enggan melaksanakan tugas itu. Dia tak mau terbabit dengan urusan dalam-negeri bangsa lain, apalagi Indonesia bersahabat baik dengan Irak.

“Justeru itu,” titah Sultan, “Beta ingin kamu melaksanakan misi ini untuk menolong saudara-saudara kita. Tak ada batas negara bagi persaudaraan sejati, sepanjang kita tak melanggar kedaulatan hukum mereka.”

Abu Nawas tak kuasa mengelak dan sekarang dia kembali menghadap Sultan di istana.

“Beta ingin mengetahui pengalaman kamu melacak kasus ini. Sulitkah? Betulkah kamu sudah melaksanakan misi sebab hanya dalam dua minggu telah selesai. Padahal, Indonesia sudah melaksanakannya sejak 1998, tetapi sampai hari ini belum juga tuntas, bahkan cenderung makin kacau-bilau?” Sultan menatap tajam Abu Nawas.

“Oh, inilah pekerjaan yang paling sulit dan pelik sepanjang karir hamba, Tuanku. Kalau hamba masih seperti dulu, tentulah kepala hamba pecah dan pinggang hamba bengkok. Andi Malarangeng saja harus menegangkan leher dan mengibas-ngibaskan tangan berkali-kali untuk meyakinkan Faisal Basri dan pemirsa TV bahwa sudah terjadi pengusutan hukum yang lebih baik kini,” jawab Abu Nawas sambil mengerutkan dahi dan mengerlingi Sultan dengan jelingan yang khas untuk melihat reaksi penguasa Irak itu.

“Baik, silalah sampaikan laporanmu.”

“Semua berkas hukum yang 50 persen tak jelas itu sudah hamba periksa. Sangat betul tak tuntas dan aneh dipandang dari sudut hukum yang berlaku. Sayang dan malang, ada saksinya yang sudah meninggal, ada saksi tak mau bersaksi karena 1001 alasan, ada bukti yang hilang dan tertukar dengan sendirinya, dan macam-macam lagi,” Abu Nawas memaparkan.

Sultan Harun al-Rasyid termenung. Dalam hati Baginda bergumam, “Begitu parahkah?” lalu Baginda melanjutkan, “Di manakah semua berkas itu? Kamu bawakah ke hadapan Beta?”

Abu Nawas menceritakan bahwa semua berkas itu dibawanya, tetapi tak ke istana Sultan.

“Lalu ke mana? Kamu pendapkan atau kamu hilangkan lagi?”

“Hamba tersinggung dengan ucapan Tuanku yang terakhir itu. Jelek-jelek begini, bukan kualitas Abu Nawas itu. Mestinya Tuanku tahu,” durja Abu Nawas merona kemerahan. Dia pura-pura merajuk.

“Maafkan kelancangan Beta, tapi di manakah Abu Nawas?” lembut pertanyaan Sultan yang membuat Abu Nawas geli di hati.

“Kena kau,” katanya di dalam hati, “Abu Nawas dilawan!” lalu dia menjawab pertanyaan Sultan.

“Hamba amankan di tempat teraman, Tuanku. Di gerbang akhirat. Hemat hamba, perkara-perkara itu hanya dapat diselesaikan di alam akhirat. Di sana semua bukti, saksi, hakim, jaksa, panitera, masyarakat, dan lain-lain—hendak atau enggan—akan rela berkolaborasi untuk pengadilan dan keadilan yang sesungguhnya. Hanya Pengadilan Akhirat yang mampu menuntaskannya, Tuanku. Menjelang masuk ke alam akhirat nanti, akan hamba ambil dan serahkan kepada Tuanku sambil kita mengambil “mahkota cahaya” yang Tuanku dambakan itu.”

Sultan tersipu mendengar mahkota cahaya yang disebutkan Abu Nawas. “Sabit di akal Beta, Abu. Lalu, mengapa kamu melaksanakan pekerjaan yang tak Beta titahkan? Itu boleh menimbulkan aib karena di luar kearifan dan kebijaksanaan Beta?” Sultan membusungkan dada ketika menyebut kata “kearifan” dan “kebijaksanaan”.

“Bukan bermaksud mendurhaka, Tuanku. Daripada hamba ditugasi dua kali di tempat yang sama, lebih baik hamba tuntaskan saja. Di sana ada sistem cepat yang nilai hukumnya sama. Nah, demi efisiensi, lebih baik lembaga yang lamban dilikuidasi. Dengan begitu, banyak sekali dana dan tenaga yang dapat dihemat. Apalagi, mereka memerlukan banyak sekali daya dan dana untuk rekonstruksi fisik pascabencana, rekonstruksi sosial, mengejar pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen, pengembangan infrastruktur, dan lain-lain untuk menjadikan negeri mereka indah berseri. Maka, hamba usulkan gedung-gedung SLTA dieliminasi agar tak menghamburkan biaya pemeliharaan, operasional, gaji guru, dan lain-lain.

“Tapi, mengapa dan ada yang disisakan di tempat tertentu?” Sultan makin penasaran.

“Di sana ada sistem pendidikan cepat 3—6 bulan yang nilainya sama dengan SLTA. Sesudah itu, semua orang boleh bekerja dengan persyaratan SLTA atau melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Jadi, untuk apa SLTA? Inefisiensi, lagi pula di sana—bukan basa-basi—ada pemeo, “Jalan pintas dianggap pantas.” Kelop, Tuanku. Soal ada gedung yang masih hamba sisakan di sekitar kantor-kantor yudikatif, supaya kursus dapat dilaksanakan di situ dan yang mengikutinya merasa aman, nyaman, dan selesa. Laporan selesai, Tuanku.”

“Kelop Abu Nawas. Tak sia-sia dan tak salah Beta mengutus kamu,” puji Sultan, puas.

“Kali ini salah, Tuanku,” Abu Nawas memotong cepat, “dan itulah alasan kedua hamba agak enggan menunaikan misi ini. Salangkan negeri kita diporak-porandakan Amerika Serikat, Tuanku, para menteri, seluruh rakyat Irak bahkan hamba, tak mampu berbuat apa-apa. Perpustakaan, museum, dan situs arkeologi kita menjadi sasaran utama gempuran mereka supaya tak ada lagi yang dapat kita banggakan. Hamba pun harus dilenyapkan dari memori para penerus karena dianggap berbahaya jika bangkit. Kini Palestina, Lebanon, Libya, dan dunia Islam yang lain dihancurkan dan diintimidasi. Anak-anak, kaum wanita, orang tua-tua, bangunan, hewan ternak semua dimusnahkan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Kalau dulu, takkan hamba biarkan semua tragedi memilukan dan memalukan ini terjadi,” Abu Nawas tampak serius. Balai rung seri hening seketika.

“Lalu, mengapa kamu tak bertindak? Adakah karena belum Beta perintahkan?” bergetar suara Sultan Harun al-Rasyid karena geram berbaur pilu.

“Untuk ini, hamba tak memerlukan perintah Tuanku, tapi kita memang tak boleh. Sadarkah Tuanku, di mana kita sekarang?”

“Astaghfirullah,” terperanjat Sultan Harun al-Rasyid.

“Kita tak boleh lagi mencampuri kesemuanya ini. Yang Tuanku lakukan sekarang pun setengah mukjizat. Cuma, sedikit harapan hamba, semoga suatu hari nanti, ada generasi ahli waris kita yang mampu membangkitkan hamba kembali ke dunia. Ya, kita di alam barzah, Tuanku.”

Abu Nawas menutup laporannya dengan wajah muram sambil memberi hormat. Namun, karena tergesa-gesa, dia salah mengatur sembah. Sambil menghadap pintu keluar dia membungkuk sehingga Sultan ditungginginya. Ada sesuatu pula yang melengket di kedudukan celananya.

“Apa yang menempel di pantat celanamu Abu?” tanya Sultan kesal, tetapi tersipu. Para menteri memamerkan kebolehan utamanya: terkekeh-kekeh.

“Karpet Indonesia, Tuanku, untuk buah tangan!” jawab Abu Nawas tanpa menoleh dan terus berlalu.***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebok pada 10 Juni 2011 jam 1:07

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...