Kamis, Oktober 20, 2011

AISYAH SULAIMAN CUCU RAJA ALI HAJI

Beliau lebih dikenal dengan nama Aisyah Sulaiman saja. Nama lengkapnya Raja Aisyah binti Raja Sulaiman. Aisyah Sulaiman adalah cucu Raja Ali Haji. Suaminya adalah Raja Khalid bin Raja Hasan atau lebih lebih dikenal sebagai Khalid Hitam, yang selain menjadi politisi Kerajaan Riau-Lingga, juga seorang pengarang. Selain menjadi suaminya, Khalid Hitam sesungguhnya saudara sepupu Aisyah Sulaiman. Dengan demikian, Aisyah Sulaiman memang keturunan dan hidup di lingkungan keluarga pengarang. Selain itu, beliau jelaslah keturunan Diraja Kerajaan Riau-Lingga.

Tak terlalu dapat dipastikan tarikh kehidupan Aisyah Sulaiman. Walaupun begitu, beliau diperkirakan lahir pada 1869 atau 1870 dan meninggal pada 1924 atau 1925 dalam usia lebih kurang 55 tahun.

Sebagai putri Diraja Melayu, Aisyah Sulaiman sangat akrab dengan kehidupan di lingkungan istana Kerajaan Riau-Lingga. Di sanalah yaitu di tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda (Raja Muda) Kerajaan Riau-Lingga, di Pulau Penyengat, beliau dilahirkan dan dibesarkan. Akan tetapi, kehidupan di lingkungan istana Diraja di Pulau Penyengat, di tanah tumpah darahnya, itu tak dapat dinikmatinya sampai ke akhir hayatnya. Pasal, pada 1913 Kerajaan Riau-Lingga dimansuhkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Karena tak sudi hidup di bawah pemerintahan penjajah Belanda, Aisyah Sulaiman dan keluarganya berhijrah ke Singapura. Tak lama bermastautin di Singapura, beliau harus berpindah lagi ke Johor karena menghindari orang-orang yang menaruh hati terhadapnya selepas suaminya tercinta meninggal di Jepang pada 11 Maret 1914 dalam suatu misi politik meminta bantuan Pemerintah Jepang untuk menghalau penjajah Belanda dari Kerajaan Riau-Lingga (Kepulauan Riau). Di Johorlah, kemudian, Aisyah Sulaiman bertempat tinggal sampai ke akhir hayatnya.

Dalam tradisi kepengarangan, Aisyah Sulaiman dapat digolongkan sebagai pelopor pengarang zaman peralihan atau transisi dari kesusastraan Melayu tradisional ke kesusastraan Melayu-Indonesia modern. Kenyataan itu ditinjau dari sudut masa kepengarangan dan tema karya yang dihasilkan walaupun beliau masih menggunakan genre kesusastraan tradisional yaitu syair dan hikayat. Dengan berdasarkan sudut pandang itu, pendapat yang selama ini menyebutkan bahwa Munsyi Abdullah bin Munsyi Abdul Kadir atau Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi sebagai pelopor kesusastraan Melayu modern harus diperdebatkan. Pasal, Munsyi Abdullah hidup sampai pertengahan abad ke-19, sedangkan masa peralihan kesusatraan Melayu tradisional ke Melayu modern berlangsung sejak pertengahan abad ke-19 sampai dengan perempat awal abad ke-20. Masa-masa itulah Aisyah Sulaiman sedang giat-giatnya berkarya, sedangkan Munsyi Abdullah telah tiada. Lagi pula, karya-karyanya telah mengungkapkan perubahan dalam masyarakat, dari masyarakat Melayu lama ke masyarakat Melayu baru dan perjuangan masyarakat, terutama kaum perempuan, merobohkan tembok-tembok kokoh tradisi yang diangggap tak lagi sesuai dengan perubahan zaman.

Dalam karirnya sebagai pengarang, sepanjang yang dapat diketahui, Aisyah Sulaiman menghasilkan empat buah karya. Karya-karya tersebut diperikan sebagai berikut.
  • Hikayat Syamsul Anwar atau Hikayat Badrul Muin. Hikayat ini diduga merupakan karya awal Aisyah Sulaiman.
  • Syair Khadamuddin. Karya ini diterbitkan pada 1345 H. atau 1926 M. Menurut beberapa peneliti, syair ini ditulis setelah beliau pindah ke Singapura.
  • Hikayat Syarif al-Akhtar. Hikayat ini baru diterbitkan setelah Aisyah Sulaiman meninggal dunia yaitu pada 1929 M.
  • Syair Seligi Tajam Bertimbal. Berbeda dengan karya-karya sebelumnya, dalam karyanya ini Aisyah Sulaiman tak menggunakan nama asli, tetapi memakai nama samaran Cik Wok Aminah.

Hikayat Syamsul Anwar berkisah tentang seorang putri, Putri Badrul Muin namanya. Putri ini sangat cantik dan kisah kecantikannya diketahui oleh banyak raja negeri lain sehingga mereka berdatangan untuk melamarnya. Putri Badrul Muin muak terhadap perilaku raja-raja yang mencoba untuk melamarnya itu, lalu pergi meninggalkan istananya. Sang putri menyamar sebagai laki-laki dan memilih memakai nama Afandi Hakim. Dalam pengembaraannya itu, dia bertemu dengan putra raja, Syamsul Anwar.

Syamsul Anwar sangat senang berteman dengan Afandi Hakim dan sangat menghormatinya sehingga selalu berusaha untuk mendampinginya. Sebaliknya, Afandi Hakim sangat benci terhadap Syamsul Anwar dan senantiasa berusaha untuk menjauhkan diri dari pemuda itu. Syamsul Anwar curiga terhadap tingkah laku Afandi Hakim sehingga dia mengintip untuk mengetahui jati diri putri yang menyamar itu. Alhasil, samaran Putri Badrul Muin diketahui, tetapi dia dapat menghilangkan diri dengan menggunakan batu gemala.

Syamsul Anwar dipertemukan juga dengan Putri Badrul Muin. Dia melamar putri itu. Akan tetapi, bukannya menerima pinangan Syamsul Anwar, malah Tuan Putri marah terhadap menteri tua dan permaisuri yang mendukung lamaran putra raja itu. Tuan Putri berusaha menolak pinangan Syamsul Anwar karena dia ditabalkan menggantikan ayahnda yang mangkat. Dia marah karena putusan diterimanya pinangan Syamsul Anwar tanpa meminta persetujuan dirinya. Bukankah dirinya berhak untuk menentukan nasibnya dalam pernikahannya? Dia merasa dipaksa untuk menikah dengan Syamsul Anwar. Orang-orang yang terlibat dalam “pemaksaan” pernikahannya ditantang habis-habisan oleh perempuan yang menganggap bahwa kaum laki-laki selalu memberikan kesusahan itu.
Kebenciannya terhadap suaminya terus berlanjut. Dia terus saja mengelak berada di bilik peraduan (kamar tidur) berdua dengan suaminya. Keadaan seperti itu terus berlangsung sampai tiga bulan lamanya.

Penentangan dan kebencian Putri Badrul Muin terhadap laki-laki menunjukkan sikap Aisyah Sulaiman untuk memperjuangkan emansipasi perempuan. Kelantangan tokoh-tokoh perempuan di dalam hikayat ketika berdebat dengan tokoh-tokoh laki-laki, yang justeru orang-orang penting kerajaan, juga menyerlahkan misi yang sama, kesetaraan perempuan dengan laki-laki. Pada masa hikayat ini ditulis, hal seperti itu masih sangat pantang (tabu) dilakukan. Sangat jelas kepeloporan Aisyah Sulaiman dalam memperjuangkan dan atau menyuarakan hak-hak perempuan dalam hikayatnya ini. Dia jelas jauh mengatasi karya-karya sebelumnya, yang memang tak menampakkan nuansa perjuangan perempuan selama ini.

Bahkan, Putri Badrul Muin jauh lebih maju dari Siti Nurbaya, yang selama ini disebut-sebut sebagai pelopor sastra Indonesia modern. Betapa tidak? Siti Nurbaya dan orang-orang di sekitarnya nyaris tak berdaya menghadapi kelicikan atau dan kegigihan tokoh tua Datuk Maringgih dalam Roman Siti Nurbaya. Tak ada penentangan yang begitu berarti terhadap Datuk Maringgih, yang kecuali kaya, padahal hanyalah seorang tua bangka yang hodoh (buruk rupa) pula. Pemuda Syamsul Bahri, kekasih Siti Nurbaya, memang menentang Datuk Maringgih, tetapi itu pun harus melalui cara yang hina yaitu berkomplot dengan musuh hanya untuk membunuh orang tua yang merebut kekasih hatinya. Datuk Maringgih terkesan sangat bersinar dalam roman ini, bukan Siti Nurbaya, Syamsul Bahri, atau orang muda-muda yang lain.

Tak demikian halnya dengan Putri Badrul Muin. Dia sangat bertenaga, perkasa, dan bercahaya dalam Hikayat Syamsul Anwar. Para lelaki didebatnya habis-habisan dengan pelbagai gagasan keunggulan perempuan. Raja-raja yang melamarnya ditolaknya dan ditinggalkannya begitu saja karena dia memang tak berkenan. Dia tak dapat dibujuk dengan kekuasaan dan harta, yang padahal raja-raja yang melamarnya jauh lebih berkuasa dan berlimpah harta daripada hanya seorang Datuk Maringgih. Bahkan, Syamsul Anwar yang putra raja, perkasa, tampan, dan memang sangat mencintainya ditolaknya mentah-mentah walaupun akhirnya mereka berjodoh juga. Untuk sampai kepada perjodohan yang serasi itu, Syamsul Anwar dan orang-orang yang mendukungnya harus berjuang keras dan menampilkan kesabaran yang luar biasa karena harus berhadapan dengan perempuan muda yang jelita tetapi bagaikan tembok baja. Pasal, baginya tak ada alasan untuk menempatkan perempuan di bawah laki-laki. Hakikatnya, perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Jelaslah bahwa Aisyah Sulaiman telah memperjuangkan harkat, martabat, dan marwah kaum perempuan melalui karya-karyanya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dengan Hikayat Syamsul Anwar, misalnya, dia telah berhasil menyuarakan semangat emansipasi, yang bahkan belum banyak terpikirkan oleh kaumnya kala itu. Semangat individualistik begitu teserlah (ketara) di dalam hikayat ini sehingga mengantarkan Aisyah Sulaiman sebagai pelopor kesusastraan Indonesia modern. Dia, bahkan, dapat mengungguli karya-karya pengarang sesudahnya, termasuk pengarang laki-laki yang telanjur disebut pelopor sebelum ini. Dengan demikian, Raja Aisyah binti Raja Sulaiman telah berhasil menjadikan dirinya dan karya-karyanya sebagai pejuang emansipasi bagi kaumnya. Tak hanya sampai di situ, Aisyah Sulaiman, bahkan, mengukuhkan dirinya sebagai pelopor kesusastraan Melayu-Indonesia modern.



Catatan oleh Abdul Malik
03 Agustus 2011 jam 22:44

Artikel bersempena