Jumat, Oktober 28, 2011

BATAM DAN RESAM MELAYU

Sejak kecil saya sudah diperkenalkan dengan saudara mara kami di Batam: dari Pulau Terung, Pulau Sarang, Kasu, Geranting, Jaluh, Belakang Padang, Nongsa, Batu Besar, dan lain-lain. Sekali-sekala, paling kurang setahun sekali, mereka datang bersilaturrahim ke kampung di Karimun, begitu pula sebaliknya kami ke kampung mereka. Kami paling bahagia kalau mereka datang pada musim buah-buahan, khususnya saudara mara kami dari Pulau Terung, Pulau Sarang, dan Geranting karena mereka tak memiliki buah-buahan tahunan seperti di Karimun, khususnya di Lubukpuding, Pulau Buru, tempat kelahiran saya. Di kampung, sesuai dengan musimnya, mereka dapat menikmati buah-buahan tahunan seperti durian, manggis, langsat, tampoi, cempedak, dan kundang dengan sepuas-puasnya.

Buah-buahan tahunan bukanlah istimewa bagi kerabat kami dari Nongsa dan Batu Besar. Pasalnya, mereka pun memiliki kebun buah-buahan itu seperti halnya kami, kecuali buah kundang, seingat saya tak ada di Nongsa. Karena hubungan tali darah dan kekerabatan, pertemuan kami selalu diwarnai oleh nuansa kebahagiaan dan keceriaan yang tak semuanya dapat dilukiskan dengan kata-kata, tetapi lebih dirasakan di lubuk hati.

Dalam rasa kanak-kanak, saya paling gembira apabila Pakngah Seman (Usman) dan Makngah Leha (Zulaiha), sekadar menyebut dua nama, dan anak-anaknya datang ke kampung kami. Pasalnya, sesuai dengan kebiasaannya, mereka akan membawakan kami buah tangan berupa sotong (cumi-cumi), ikan-ikan karang, dan kadang-kadang kima (Chama gigas). Sotong dari kawasan Batam itu besar-besar, jarang ada di perairan Karimun. Begitu pulalah ikan-ikan karang dan lebih-lebih kima (kerang besar), yang memang tak ada di perairan Karimun, sekurang-kurangnya sejak masa kecil saya. Rasa anugerah Allah dari sari-laut Batam itu lezat-lezat. “Pasti sedap punyalah!” kata kami. Begitu lahapnya kami menyantap makanan laut dari kawasan Batam itu, sebagaimana bersemangatnya sanak-keluarga kami menikmati buah-buahan tahunan.

Semua kekayaan laut itu memiliki harga jual yang tinggi di pasar Singapura, yang letaknya memang tak jauh dari Batam, hanya kira-kira 12,5 mil laut (20 km). Itulah sebabnya, menangkap hasil laut menjadi salah satu mata pencaharian utama penduduk Batam kala itu dan membuat mereka dapat hidup dengan sangat layak. Apalagi, mereka memiliki lahan kebun yang sangat luas.

Kali pertama sampai di kawasan Batam, saya sangat terpesona melihat banyaknya cahaya lampu petromak di sepanjang pantai pada malam hari. “Ada apakah gerangannya,” tanya saya dalam hati. Karena mengetahui keheranan saya itu, saudara saya menjelaskan bahwa itulah kegiatan orang-orang menangkap sotong dengan menggunakan sondong atau serampang, yang dilengkapi lampu petromak. Untuk memuaskan rasa ingin tahu, malam besoknya saya diajak oleh saudara saya untuk menyondong dan menyerampang sotong. Pantai pada malam-malam seperti itu laksana sedang berpesta, terang-benderang oleh cahaya lampu petromak. Itulah salah satu pengalaman manis saya ketika kali pertama menjejakkan kaki di Kepulauan Batam. Indah dan sungguh membahagiakan.

Batam lagi-lagi membuat saya kagum dalam kunjungan kekeluargaan itu. Betapa tidak? Ternyata, kaum perempuannya umumnya pandai berkayuh (berdayung) dan kuat-kuat pula sehingga tak terkesan rehet (cengeng). Tak ada pekerjaan, sama ada di laut atau di darat, yang tak dapat mereka lakukan. Mereka sangat mandiri. Menurut cerita orang tua-tua, kaum perempuan Karimun pun memiliki kemahiran itu, bahkan pandai bersilat, khasnya di Buru. Akan tetapi, sejak masa kanak-kanak, saya tak lagi dapat menyaksikan kelebihan itu pada kaum perempuan Karimun, kecuali yang pandai bersilat masih saya jumpai walaupun tak begitu banyak lagi. Itulah sebabnya, saya menjadi sangat kagum akan kemahiran kaum perempuan Batam kala itu. Kini saya sadar, begitu akrabnya orang Batam dengan lingkungannya.

Petang hari di Batam biasanya kami isi dengan berolahraga. Olahraga yang paling populer ialah sepak takraw, yang mengalahkan sepak bola walau orang Batam pun sebetulnya campen juga bermain bola kaki. Pemuda Batam umumnya sangat menyenangi olahraga yang menggabungkan antara tradisi dan seni itu. Tak heranlah apabila Batamlah yang pertama sekali menyumbangkan pemain takraw tingkat nasional dari Indonesia kawasan barat.

Para pemuda Batam yang telah mengharumkan nama Batam, Kepulauan Riau, Riau, dan Indonesia dalam keahliannya itu tercatatlah Musa, Harun, dan Abdul (Bedol), yang kebetulan semuanya dari Pulau Terung. Sesudahnya memang ada nama-nama lain, tetapi merekalah pendahulunya. Mereka menjadi idola anak-anak muda karena selalu tampil mewakili Riau dan Indonesia dalam pertandingan tingkat nasional dan internasional. Dari kaki dan kepala mereka, Kepulauan Riau dan Riau dikenal di tingkat nasional dalam olahraga sepak takraw, seterusnya mereka memopulerkan Indonesia di tingkat internasional, sekurang-kurang Asia.

Bang Musa, yang guru itu, kini menjadi kepala sekolah dasar (SD) di Batam. Bang Harun tak ada kabar beritanya saat ini, paling tidak, saya tak tahu lagi di mana dia berada. Abdul atau Bedol, sudah almarhum dalam usia yang sebetulnya masih dini. Kepergiannya menghadap Ilahi hanya diantarkan dengan prosesi biasa saja mengikuti cara orang kampung, malah terkesan amat sederhana, tanpa sedikit pun ada penghargaan bagi seorang olahragawan nasional yang pernah mengharumkan nama daerah dan bangsa. Sungguh suatu kenyataan yang amat memilukan.

Memang, olahraga menjadi perekat kami, keluarga besar Kepulauan Riau. Kunjung-mengunjung silih berganti kami lakukan sambil melakukan pertandingan olahraga. Kalau di darat ada sepak takraw, sepak bola, dan lain-lain; di pantai kami melakukan lumba kolek, lumba jung, lumba berenang, dan lumba menyelam. Dalam hal menyelam, para pemuda Batam sulit ditandingi. Mereka memang ahlinya dalam bidang ini. Pertandingan olahraga memang hampir tak pernah luput dari setiap pertemuan kami, bahkan bersempena dengan menghadiri acara nikah-kawin dan Hari Raya pun, acara olahraga tetap dilakukan.

Malam-malam di Batam tempo dulu sering diisi dengan pertunjukan kesenian. Batam memang memiliki anekaragam kesenian tradisional: ada makyong, ada sandiwara bangsawan, ada musik tradisi, ada lagu-lagu tradisi, ada pantun dan syair, dan sebagainya. Semuanya menyiratkan kekayaan budaya Batam dan kebesaran tamadun sebagai bagian dari keranggian tamadun Melayu Kepulauan dan Selat Melaka.

Itulah sekadar senarai serba tak lengkap tentang pertemuan dan pergaulan saya dengan Batam dan masyarakatnya dengan latar masa lalu. Hari-hari kami isi dengan pelbagai aktivitas yang menjelmakan kecanggihan tamadun sehingga hidup dapat dinikmati secara selesa. Padahal, untuk melakukan kunjung-mengunjung itu, bukan tak banyak tantangan yang dihadapi, terutama tantangan alam. Dengan hanya menggunakan sampan layar, mulanya, sebagai alat transportasi kadang-kadang kami harus melawan terpaan badai, jirusan hujan, dan amukan gelombang. Namun, semua itu taklah menjadi halangan karena badai dan ombak memang menjadi bagian dari hidup kami sehari-hari. Yang pasti, pertemuan dengan sanak-keluarga dan handai-taulan menjadikan hidup lebih bermakna.

*****

Pada 1787 Sultan Mahmud, Yang Dipertuan Besar (Sultan) Kerajaan Riau-Lingga kala itu, memindahkan pusat pemerintahan kerajaan dari Hulu Riau di Bintan ke Daik di Lingga. Rombongan Sultan Mahmud berhijrah ke Lingga dengan 200 perahu. Dalam pada itu, rombongan lain yang terdiri atas 150 perahu berhijrah ke Pulau Bulang, Batam, dipimpin oleh Temenggung Abdul Jamal. Karena orang Melayu semuanya beredar, Hulu Riau menjadi kosong dari orang Melayu. Para pekerja di ladang gambir kemudian menguasai ladang milik orang Melayu di Bintan.

Apa pasal? Pemerintah kolonial Belanda pada 17 Juni 1785 mengirim David Ruhde menjadi Residen Riau pertamanya. Ruhde ternyata membawa lengkap perangai penjajahnya: kasar, angkuh, dan sombong. Sang Residen mengambil kayu-kayu dan hasil hutan Riau-Lingga tanpa meminta izin sama sekali kepada pihak Kerajaan Riau-Lingga. Tentulah Sultan Mahmud dan Yang Dipertuan Muda Raja Ali serta rakyat Riau-Lingga merasa dilecehkan sehingga mereka sangat marah.

Perlakuan biadab David Ruhde menuai padahnya. Belum genap dua tahun dia di Riau-Lingga, tepatnya pada 10 Mei 1787, sepasukan lanun dari Tempasok, Kalimantan Barat datang menyerang Belanda di Tanjungpinang. Kala itu benteng Belanda yang dijaga satu garnisun berkekuatan tak kurang dari 200 orang ranap dihantam pihak penyerang. Setelah benteng mereka diporak-porandakan, David Ruhde dipaksa untuk menyerah dan diberi waktu tiga hari harus meninggalkan Riau-Lingga, kembali ke Melaka. Menurut catatan penulis kronik, Ruhde terpaksa meninggalkan Riau-Lingga dan kembali ke Melaka dengan hanya mengenakan pakaian sehelai sepinggang.

Belanda tentulah tak akan percaya bahwa serangan itu semata-mata ulah para lanun Tempasok. Tentulah ada aktor intelektual di belakang semua itu. Siapa lagi kalau bukan Sultan Mahmud dan Yang Dipertuan Muda Raja Ali? Bukan penjajah Belanda kalau tak melakukan serangan balasan.

Karena khawatir akan tindak balas Belanda, yang tentu akan membawa dampak yang tak menguntungkan, Sultan Mahmud memilih untuk memindahkan pusat pemerintahan kerajaan ke Daik, Lingga. Dan, dalam kepindahan itu Temenggung Abdul Jamal menetap di Pulau Bulang, Batam.

Pangeran Oranye Belanda terlempar dari istananya. Itu terjadi akibat dari bergolaknya Revolusi Perancis di Eropa. Khawatir kawasan jajahannya jatuh ke pihak Perancis, William Oranye menyerahkannya di bawah penjagaan Inggris. Oleh Gubernur Inggris di Melaka, pada 18 September 1795 kedaulatan Kerajaan Riau-Lingga dikembalikan kepada Sultan Mahmud. Hal yang sama dilakukan oleh Gubernur Jenderal Belanda di Batavia. Sejak itu Kerajaan Riau-Lingga menjadi negara yang merdeka kembali.

Engku Muda Muhammad, putra Temenggung Abdul Jamal, yang telah ditempa oleh ayahndanya di Pulau Bulang, Batam, ditunjuk oleh Sultan Mahmud sebagai pejabat sementara Yang Dipertuan Muda. Dari Pulau Bulang dia kembali ke Bintan. Negeri Riau menjadi ramai kembali dengan pelbagai aktivitas kehidupan manusia untuk anekaragam keperluannya.

Setelah Raja Ali kembali menjadi Yang Dipertuan Muda Riau, Engku Muda Muhammad diangkat Sultan menjadi Temenggung Johor. Akan tetapi, dia menolak dan memilih pindah ke Singapura. Tun Ibrahim, adiknya, kemudian menggantikan-nya menjadi Temenggung Johor.

*****

Berdasarkan surat Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga Rabu, 29 Rabiul Akhir 1308 H., Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir bin (alm.) Yang Dipertuan Riau Raja Haji Abdullah al-Khalidi diberi hak untuk mengelola Pulau Batam. Oleh keduanya, didirikanlah perusahaan batu bata Batam Brick Goods di Pulau Batam.

Selanjutnya, dengan surat Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga, Selasa, 8 Rabiul Awal 1316 H. bertepatan dengan 26 Juli 1898 M. ketentuan itu dipertegas lagi. Bersama dengan Raja Abdullah (Tengku Besar), Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir dikukuhkan lagi haknya sebagai pengelola Pulau Batam. Maka, berkembanglah usaha batu bata di Batam itu.

Alih-alih, Residen Riau, di Tanjungpinang pada 23 Juni 1911 dengan “Firman” (tanda petik oleh A.M.) No. 61/L yang ditandatangani oleh G.F. de Bryn Kops membatalkan semua surat kepemilikan yang dikeluarkan oleh Sultan Riau-Lingga. Hal itu terjadi setelah Sultan Riau-Lingga dimakzulkan (secara sepihak dituruntahtakan oleh pemerintah kolonial Belanda karena Sultan dianggap pembangkang). Semua surat kepemilikan itu harus diganti dengan surat dari Residen Riau.

Tentu saja Raja Ali Kelana, dan sebagaian orang Melayu, tak mau menerima keputusan itu. Dia dan mereka mengharamkan mengubah surat dari Sultan dengan surat dari penjajah Belanda. Sebagai akibatnya, perusahaannya di Batam dengan terpaksa harus ditinggalkannya. Begitu pun sebagian rakyat Riau-Lingga lebih memilih meninggalkan harta-benda mereka daripada menukarkan surat kepemilikan yang dibuat Sultan dengan surat penjajah Belanda. Cara itulah yang ditempuh oleh orang Melayu, bukan hanya di Batam, melainkan juga di Bintan dan tempat-tempat lain. Bagi Raja Ali Kelana dan rakyat pengikutnya, marwah bangsa jauh lebih tinggi nilainya daripada harta-benda. Untuk menjunjung marwah itulah, mereka rela meninggalkan kampung halaman dan harta-benda, yang padahal, mereka adalah pemilik dan ahli waris sahnya.

Adalah aneh tetapi nyata. Dalam alam merdeka, hak mereka atas tanah dan harta-benda lain tak dipulihkan seperti yang tercantum dalam surat kepemilikan yang dikeluarkan oleh Sultan Riau-Lingga. Padahal, mereka meninggalkan semua itu karena menentang Belanda dan tak sudi bertuankan penjajah itu. Nah, yang merdeka sebenarnya siapa?
Bagaimanakah Batam hari ini? Dunia memang terus berubah. Namun, tentu, kita sangat berharap perubahannya menjadi lebih baik, baik pada fisik daerahnya maupun pada masyarakatnya secara utuh dan menyeluruh. Kata orang bijak, sejarah selalu berulang dan sejarah akan memberikan kesaksiannya kepada kita tentang pelbagai peristiwa yang diperbuat dan dialami manusia (tokoh) dalam ruang dan waktu. Dalam perspektif ruang dan waktu itu pulalah, tokohnya akan terbalut oleh satu di antara tiga warna: putih, hitam, atau abu-abu. Sekarang tinggal pilih, warna apakah yang dikehendaki?***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebok pada 02 Juni 2011 jam 16:18

Artikel bersempena

  • Tahun Hutan - Tahun Hutan Sebagai Upaya Konservasi Hutan Dunia Ada sekitar 4 miliar hektar hutan di dunia, yang menutupi hampir 30 persen dari wilayah daratan bumi. Sekita...
  • Seminar Ornamen - Tempat : Museum Sang Nila Utama Waktu : Sabtu, 18 Oktober 2014 Pukul : 09.00 wib Pembicara :  - Junaidi Syam/ Jon Kobet (Pemahaman Ornamen Khas Melayu Ri...
  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini d...