Rabu, Oktober 26, 2011

GEMINTANG PENABUR MATAHARI

Gemintang Penabur Matahari (GPM) adalah nama “geng” siswa sekolah dasar (SD). Geng itu terdiri atas enam orang bersahabat: Dina Aprilia Ardaini (Dina), Sinta Arnindi (Nindi), Amanda Rosliana (Liana), Bella Marlinda (Bella), Mila Samarinda (Mila), dan Vely Salsabila Joanda (Vely). Kesemuanya putri. Mereka bersekolah di SD Bestari Permai dan duduk di kelas 6B, kecuali Vely di kelas 6A. Keenam siswa itu sangat baik hati, rajin belajar dan bekerja, cerdas, kreatif, periang, dan tentu saja cantik-cantik.

Kecuali kebetulan belaka, dicari sekeliling dunia pun tak akan pernah kita temukan keenam gadis kecil itu. Pun kita tak akan menemukan sekolah mereka, orang tua mereka, para guru mereka, dan orang-orang di sekeliling mereka. Pasal apa? Pasal, mereka adalah tokoh-tokoh fiktif dalam Novel Anak-Anak karya Tiara Ayu Karmita, siswa kelas enam SD Negeri 012, Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Tiara Ayu Karmita, penulis novel itu, saat ini baru berusia 11 tahun. Walaupun masih sangat muda usianya, Tiara mampu menulis novel yang sangat bagus, yang membuktikan bakat menulisnya sangat besar.



Tiara Ayu Karmita adalah putri Drs. Abdul Kadir Ibrahim, M.T. dan Ermita Thaib, S.Ag. Ayahnya yang akrab disapa Akib adalah seorang sastrawan ternama dan banyak menghasilkan karya, baik puisi maupun prosa. Nampaknya, bakat menulis Tiara turun dari ayahnya itu. Terlepas dari itu, Tiara memang sangat rajin membaca buku sehingga pengetahuannya cukup banyak. Hal itu terlihat nyata dari kualitas karya yang dihasilkannya.

Novel GPM diterbitkan oleh penerbit Komodo Books, suatu penerbit yang terkenal di Jakarta. Di kulit depan novel, yang bergambar lukisan lima orang gadis kecil yang sedang berlatih musik itu, tertera cap bulat dengan tulisan berwarna perak, “ANAK KECIL KARYA BESAR” dan di tengahnya tertulis “11 tahun”. Yang lebih menarik, sastrawan dan budayawan nasional ternama Putu Wijaya menulis di sampul depan, “Tak hanya ajaib karena dalam usia belia, Tiara sudah mampu menulis novel dengan bahasa Indonesia yang begitu bagus. Ia berbeda dari generasi kini yang tergerus bahasa gaul, curhatnya pun menarik.”

Dalam pengamatan saya pun, bahasa Indonesia yang digunakan oleh Tiara dalam novelnya ini nyaris sempurna, baik narasi maupun dialognya. Tak banyak anak-anak dan remaja yang mampu menulis seperti itu setakat ini karena mereka umumnya terpengaruh bahasa Indonesia dialek Jakarta (Betawi), yang banyak ditularkan, terutama, oleh sinetron TV Jakarta. Akan tetapi, karena bertempat tinggal di Tanjungpinang, barangkali, Tiara mampu menjaga bahasa Indonesianya dengan baik.

Jumat, 20 Mei 2011, dalam acara Peluncuran Novel GPM di SD Negeri 012 Bukit Bestari, Tanjungpinang, Walikota Tanjungpinang, Dra. Hj. Suryatati A. Manan pun memberi pujian terhadap karya Tiara ini. Menurut beliau, novel itu dihadiahkannya kepada cucu beliau. Ternyata si cucu membacanya berkali-kali. Ketika ditanya mengapa membacanya berulang-ulang, si cucu menjawab bahwa ceritanya bagus sekali. Dan, si cucu pun balik bertanya, adakah kelanjutan dari GPM?

Ada cukup banyak novel kanak-kanak yang ditulis setakat ini. Akan tetapi, kebanyakan penulisnya adalah orang dewasa. Akibatnya, terkesan sekali bahwa yang diceritakan adalah kisah anak-anak menurut persepsi, kalau tak mau disebut kemauan, orang dewasa. Tak jarang terjadi, baik penceritaan maupun kisahnya, terkesan dipaksakan dan atau dibuat-buat.

GPM ditulis oleh anak yang berusia sebelas tahun secara alamiah menurut pandangan anak-anak. Namun, kemampuan berceritanya sungguh luar biasa, sangat memesona. Itu menunjukkan bakatnya yang gemilang. Perhatikanlah deskripsinya berikut ini.

“Akhirnya, aku dan kedua Kakakku beserta keempat sahabatku langsung pergi menuju lantai atas. Di sana kami melihat bintang di langit bening tak berawan. Di antara gemintang itu, ada yang paling terang cahayanya. Sementara bulan, terlihat masih belum penuh. Dan, ketika kami lagi asyik memperhatikan bintang-bintang itu, maka tiba-tiba terlihat ada tiga bintang jatuh. Cahayanya meluncur dari langit begitu laju. Melihat itu, maka kami pun langsung menyebutkan permintaan di hati kami. Pecahlah tawa kami semua.” (GPM, hlm. 113—114).

GPM bercerita tentang indahnya persahabatan di antara anak-anak, dengan latar keluarga kelas menengah perkotaan. Tak cuma itu, tema cinta kasih begitu menyerlah (ketara): di antara anak-anak dengan orang tuanya secara timbal-balik, di antara siswa dan gurunya, di antara anak-anak dan pembantu rumah tangganya, di antara adik-beradik, dan sebagainya. Juga cita-cita anak-anak untuk membangun masa depannya. Pendek kata, kisahnya sangat inspiratif dan edukatif sekaligus. Dengan membaca novel ini, orang dewasa dapat memahami apa sesungguhnya yang dipikirkan dan kehidupan ideal yang didambakan oleh anak-anak.

Walau hidup berkecukupan dan kedua orang tuanya bekerja, Dina (tokoh utama) sangat bahagia karena ibunya menyempatkan diri untuk memasak dan kebiasaan keluarga untuk makan bersama di rumah. Si anak pun begitu bahagia dapat membantu ibu dan pembantunya bekerja di dapur. Dapur yang nyaris tak ada di dalam film dan sinetron kita, begitu mengemuka di dalam GPM. Si anak pun begitu bahagia dapat belajar bersama-sama dengan teman-temannya di rumah. Perhatian para orang tua ketika mereka menyempatkan diri menghadiri acara pertandingan anak-anaknya di sekolah membuat hati anak-anak berbunga-bunga. Lengkaplah kebahagiaan itu ketika Sang Ayah yang memimpin beribadah (menjadi imam salat berjamaah).

Guru yang baik kelihatan begitu cantik dan bercahaya. Sebaliknya, guru yang pemarah terlihat sangat murung, muram, dan jelek. Begitu guru pemarah itu berubah jadi baik, wajahnya serta-merta berubah menjadi bagai Tuan Putri yang tercantik di dunia. Itu sekilas tentang guru yang terekam di dalam GPM dan masih banyak lagi tentang guru.
“Kami saling (ber)cerita (tentang) kegiatan kami masing-masing. Satu yang pasti, sekarang kami setia melakukan kegiatan kami seperti dulu, menolong orang, dan lain-lain demi kebaikan… kami berkata: GEMINTANG PENABUR MATAHARI! Seperti dulu lagi. Gapai prestasi, buat bakti bagi negeri dengan sepenuh hati!” (GPM, hlm. 211).
Rupanya, begitulah hasrat murni anak-anak sebelum mereka mendapatkan racun kehidupan dari orang dewasa. Mengapakah mereka harus diracuni? Berikanlah mereka laluan yang sehat: lahir dan batin.

Dalam siraman cinta kasih pelbagai pihak dan usaha yang tak kenal lelah, anak-anak itu menjadi remaja putri yang berhasil melanjutkan pendidikan sampai ke luar negeri, seperti yang mereka cita-citakan. Tak ada kegamangan, tak ada keraguan, tak ada kebimbangan sedikit jua pun karena cinta kasih membuat mereka kuat dan percaya diri. Para gadis itu menatap masa depan dengan optimistik sehingga mereka berhasil kuliah di Paris, kecuali Bella yang pergi lebih jauh dan lebih tinggi lagi melewati batas angkasa dunia.

“Sekarang Nindi menjadi artis yang juga dikenal luas. Mila menjadi pengarang lagu yang terkenal. Liana sebagai salah seorang pemusik terbaik. Dan Vely, menjadi pemain badminton yang hebat. Kalau aku berhasil mencapai cita-citaku, aku ingin menjadi professor. Bella, seandainya kau masih hidup pasti kita akan bahagia seperti dulu lagi, kataku dalam hati,” begitu Tiara bercerita mendekati akhir GPM-nya. Sungguh memukau generasi penerus ini. Teruslah cemerlang, Tiara!***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebok pada 05 Juni 2011 jam 17:16

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...