Sabtu, Oktober 22, 2011

HASAN JUNUS: SANG PENGABDI SEJATI PENYELAMAT TRADISI

Tanjungpinang, khasnya, dan Kepulauan Riau, umumnya, bagai dilanda musim kering kerontang yang amat panjang. Betapa tidak? Lebih kurang 40 tahun lamanya sejak Hikayat Syarif al-Akhtar karya Aisyah Sulaiman diterbitkan pada 1929, tak ada lagi karya sastra diciptakan dan diterbitkan di tanah yang, ironisnya, sastra sebelumnya menjadi roh kehidupan masyarakat selama berabad-abad. Aisyah Sulaiman sendiri berpulang ke rahmatullah pada 1924 atau 1925 dan karyanya itu diterbitkan setelah beliau wafat.

Puji syukur patutlah diucapkan kehadirat Allah Malik al-Manan. Karena rahmat-Nya jualah, hujan kreativitas sastra yang telah lama dinanti-nantikan itu akhirnya turun juga membasahi bumi yang menjadi kiblat sastra dan tradisi intelektual Melayu, Tanjungpinang. Hujan rahmat itu betul-betul telah membasahi kerongkongan rohani masyarakat yang sekian lama kering, bahkan nyaris putus asa karena kehilangan setawar sedingin penyejuk kalbu, karya sastra.

Pada 1969 terbit antologi puisi Jelaga karya bersama tiga penyair Hasan Junus, Iskandar Leo (Rida K. Liamsi), dan Eddy Mawuntu. Setelah mengalami masa jeda yang sangat panjang, karya itu tak berlebihan jika disebut sebagai penyelamat tradisi kepengarangan di Kepulauan Riau, yang suatu masa dulu pernah menjadi pusat Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang dan Kerajaan Riau-Lingga, sebuah negara yang sangat berjaya mengekalkan tradisi intelektual dunia Melayu. Apalagi setelah masa beku itu mencair, teruslah mengalir karya pelbagai genre meliputi puisi, cerpen, naskah sandiwara, novelet, esai, kritik, dan karya ilmiah terutama yang lahir dari kecendekiaan, kecerdasan, kepedulian, kesetiaan, dan tangan dingin seorang Hasan Junus.

Hasan Junus, itulah nama yang banyak dikenal orang. Akan tetapi, di tanah kelahirannya dan di dalam masyarakatnya beliau sangat diketahui bernama sebenar Raja Haji Hasan ibni Raja Haji Muhammad Junus ibni Raja Haji Ahmad ibni Raja Haji Umar alias Raja Endut ibni Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua ibni Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Jelaslah bahwa Hasan Junus adalah keturunan Diraja Melayu Riau-Lingga-Johor-Pahang dan keturunan langsung Raja Haji Fisabilillah yang pahlawan nasional itu. Di dalam diri Hasan Junus juga mengalir darah kepengarangan Raja Ali Haji, pujangga terkenal Melayu, pahlawan nasional, dan Bapak Bahasa Indonesia. Kakek ayahnda beliau Raja Haji Muhammad Junus adalah Raja Haji Umar tak lain tak bukan adalah saudara kandung Raja Ali Haji karena kedua orang itu adalah putra Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua. Bukankah Engku Haji Tua juga adalah seorang pengarang? Dan, Aisyah Sulaiman yang pengarang pejuang marwah perempuan dan disebut di awal tulisan ini adalah ibu saudara dua pupu Hasan Junus.

Mengarang nampaknya bagai seligi tajam bertimbal dalam diri Hasan Junus. Di satu ujungnya ia menjadi warisan intelektual Melayu yang memang wajib dipertahankan dan diteruskan oleh generasi Melayu sampai bila masa pun. Di ujung yang lain ia menjadi pusaka keturunan yang memang mesti ada yang menjaga dan melanjutkannya sehingga tugas mulia itu tak terputus di tengah jalan. Dan, untuk kedua tugas itu, Hasan Junus telah mengabdikan diri dengan sangat baik, bahkan luar biasa, jika dilihat dari mutu kerja dan kualitas karya yang telah dihasilkannya.

Hasan Junus, sepengetahuan saya, pernah menjadi guru sekolah menengah swasta di Tanjungbatu Kundur, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Beliau pun pernah menjadi dosen luar biasa di Universitas Islam Riau, Pekanbaru dan Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru. Walaupun begitu, pengajar bukanlah profesi utamanya. Profesi itu hanyalah sampingan bagi beliau dan dijalankannya tak terlalu lama. Menulis atau mengaranglah yang menjadi profesi utamanya. Ketika banyak orang menjadikan menulis sebagai kerja sampingan, Hasan Junus justeru bercekal hati memilih menulis, terutama penulisan sastra dan budaya, untuk menjadi sandaran utama hidupnya. Pada zaman ini pemilihan profesi itu memerlukan keberanian yang luar biasa. Bukan karena pekerjaan itu tak mulia, malah sangat bergengsi, melainkan imbalan yang diperoleh sangat tak sebanding dengan tenaga, pikiran, dan perasaan yang dikorbankan. Itulah mungkin resiko profesi yang menjadi pilihan hidupnya dan beliau memang tak pernah memedulikannya. Semangatnya untuk membina dan mengembangkan kesusastraan dan kebudayaan membuatnya sangat tegar tanpa terlalu memikirkan hal-hal yang bertetek-bengek. Semangat seperti itulah pada zaman sekarang sangat langka. Untuk hal ini, sekali lagi Hasan Junus telah menunjukkan teladan yang sukar dicari bandingannya.
Kesetiaannya menekuni bidangnya menjadikan Hasan Junus bukan penulis sekadar. Namanya tak hanya dikenal di peringkat daerah Kepulauan Riau dan Riau, tetapi juga dikagumi di persada nusantara, bahkan sampai ke luar negara. Karya cerpennya Pengantin Boneka, misalnya, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Jeanette Lingard dan diterbitkan dalam Diverse Lives-Contemporary Stories from Indonesia oleh Oxford University Press (1995), sebuah penerbit bergengsi di dunia. Bukunya Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau (Adicita, Yogyakarta, 2003) yang ditulis bersama Abdul Malik, Tenas Effendy, dan Auzar Thaher kini menjadi bacaan di Australia dan dikoleksi oleh National Library of Australia.

Karena ketunakannya menekuni bidang yang menjadi minat utamanya, oleh penulis buku Dermaga Sastra Indonesia (Jamal D. Rahman dkk.), Penerbit Komodo Books, Jakarta, 2010; Hasan Junus disetarakan dengan H.B. Jassin. Disebutkan bahwa keduanya adalah pengamat yang setia dan penuh dedikasi atas pelbagai aspek sastra dan kesastrawanan yang menjadi pilihannya. Keduanya menulis kritik dan esai tentang karya-karya sastra dan fenomena kebudayaan serta kesastraan yang hidup di wilayahnya. Keduanya penerjemah yang piawai karya-karya sastra mancanegara. Dan, keduanya juga memiliki suara yang menentukan dan sangat didengar. Akan tetapi, kelebihan Hasan Junus adalah beliau menulis karya puisi, prosa, dan drama; sedangkan H.B. Jassin tidak.

Satu perkara yang juga tak boleh dilupakan ketika kita mencatat pengabdian Hasan Junus dalam bidang kesusastraan dan kebudayaan adalah ini. Beliau selalu membuka diri untuk menjadi tempat bertanya dan belajar bagi siapa pun juga, terutama bagi penulis muda. Memang, di kalangan penulis Kepulauan Riau dan Riau beliau telah dianggap bagai ensiklopedia berjalan. Bacaannya yang luas tentang kesusastraan dunia, baik Timur maupun Barat, memungkinkan beliau memiliki khazanah pengetahuan dan pengalaman yang sangat banyak dan rencam, beraneka ragam.

Menariknya, beliau senantiasa tekun melayani setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya dan memberikan penjelasan dengan bersemangat. Dalam setiap diskusi atau seminar sastra dan budaya, beliau selalu tampil sebagai pembicara yang memang dinanti-nantikan hujahnya dan selalu menginspirasi, memukau, dan mencerahkan. Dalam percakapan lisan dan tulisannya selalu saja ada dorongan bagi penulis lain untuk menggali khazanah budaya sendiri dengan tetap mempelajari budaya asing agar dapat memanfaatkan yang sesuai dan berguna bagi perkembangan sastra dan budaya Melayu, khasnya, dan Indonesia, umumnya. Itu kelebihan lain seorang Hasan Junus yang tak semua orang memilikinya.

Sebagai penulis yang tekun, telah banyak karya yang dihasilkan oleh Hasan Junus. Dan, hal itu telah banyak pula diulas dan ditulis orang sehingga tak perlulah diulang di sini. Yang pasti, kesemua karya beliau sangat penting bagi perkembangan kesusastraan modern Melayu dan Indonesia. Di antara karya beliau itu yang perlu disebutkan di sini ada dua. Pertama, beliau menulis sejarah perjuangan Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Kedua, bersama beberapa penulis lain, beliau juga menulis sejarah perjuangan Raja Ali Haji dalam bidang bahasa dan kebudayaan untuk diusulkan sebagai pahlawan nasional.

Alhasil, Raja Haji Fisabilillah telah dinobatkan menjadi pahlawan nasional. Raja Ali Haji pun telah diangkat sebagai pahlawan nasional dan Bapak Bahasa Indonesia. Rakyat Kepulauan Riau sangat bangga memiliki dua orang pahlawan itu sambil menanti pahlawan-pahlawan lain yang pasti akan diusulkan sesuai dengan jasa-jasa mereka terhadap bangsa dan negara ini. Bersamaan dengan itu, masyarakat Tanjungpinang, khasnya, dan Kepulauan Riau, amnya, tentulah juga sangat bangga memiliki seorang Hasan Junus yang dengan tulisannya telah memungkinkan perjuangan dan jasa-jasa para pendahulu itu diketahui, diapresiasi, dan diakui sehingga keduanya diangkat menjadi pahlawan nasional.

Apakah yang menarik ketika kita membaca tulisan Hasan Junus? Ada banyak hal sebetulnya yang dapat dipetik dari karya-karya beliau. Gaya bertuturnya yang khas memang menjadi daya tarik pertama ketika kita membaca karya Hasan Junus. Tuturan yang lincah, indah, dan mengalir lancar membuat kita tak hendak berhenti membacanya dan sering secara tak sadar telah sampai ke batas akhir bacaan. Itulah sebabnya, tulisan beliau selalu dinanti-nantikan. Karena apa? Karena penulisnya memang mahir menggunakan kata-kata dan menjalin kalimat demi kalimat sehingga menghasilkan wacana yang memesona.

Isi tulisan yang bernas memberikan kenikmatan intelektual bagi siapa pun yang membaca karangan beliau. Keluasan ilmunya begitu ketara dalam setiap tulisannya. Dari bacaan yang dibaca, tahulah kita bahwa penulisnya memang seorang yang berdedikasi dalam bidangnya dan tak terbiasa menghasilkan karya yang asal jadi. Sumber dalam (daerah) dan luar (nasional dan mancanegara) selalu disepadukan sedemikian rupa sehingga tulisannya sangat informatif tentang apa pun pokok persoalan yang dibahasnya. Bahkan, di dalam noveletnya Burung Tiung Seri Gading terdapat banyak sekali fakta sejarah. Kelebihannya, kekuatan imajinasi pengarangnya menjadikan cerita begitu hidup sehingga sebagai pembaca kita senantiasa larut dalam kisah yang diceritakan dan peristiwa yang dialami oleh para tokohnya. Ditambah dengan gaya bahasa yang kaya dan teknik bercerita yang memukau, karya itu menjadi sesuatu yang tak mudah dilupakan setelah dibaca. Gaya berceritanya yang khas berkultur Melayu membuatnya begitu memikat. Begitulah memang penulis yang berpengalaman dapat berbagi suka-duka kehidupan dengan pembacanya melalui cara-cara yang sering tak terduga. Hasan Junus sangat ahli dalam hal ini.

Beliau memiliki pengetahuan yang luas tentang kesusastraan nasional dan mancanegara. Beliau pun banyak menulis tentang apa pun yang diketahuinya tentang kesusastraan nasional dan mancanegara. Beliau juga banyak menerjemahkan dan menyadur karya-karya besar dari mancanegara. Bahkan, beliau juga banyak dibicarakan orang dalam kaitannya dengan kesusastraan nasional dan mancanegara. Walaupun begitu, Hasan Junus tak pernah kehilangan jati dirinya, identitasnya sebagai seorang Melayu. Diksi yang digunakannya, pola-pola kalimat yang dipakainya, teks atau wacana yang dihasilkannya tetap menyerlahkan beliau sebagai seorang Melayu sejati. Akan tetapi, bukan Melayu sebarang Melayu, melainkan Melayu berkualitas dunia karena kemauan, ketekunan, kecendekiaan, kecerdasan, dan kerja keras yang tak mengenal kata lelah, apa lagi berhenti.

Kehadiran seorang Hasan Junus dalam perjuangan dan perkembangan kesusastraan modern Melayu dan Indonesia sungguh telah memberikan warna yang khas dan terwaris sekaligus. Disebut khas karena kita tak dapat membandingkannya dengan sesiapa pun. Beliau memiliki kelebihan sendiri yang tak pernah sama dengan orang lain walaupun dengan penulis terdahulu dan terkemudian yang berhubungan darah dan kultur dengannya. Di samping itu, dengan segala perjuangannya, beliau telah membuktikan bahwa pada setiap generasi pasti ada pelanjut tradisi intelektual Melayu asal kita menyadari betapa mustahaknya jati diri bagi suatu bangsa. Mewujudkan itu dengan karya yang bermutu menjadi tanggung jawab warisan setiap generasi Melayu. Itulah tugas terwaris yang telah ditunaikan dengan sangat baik oleh Hasan Junus.

Hasan Junus lahir di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau pada 12 Januari 1941. Artinya, pada 12 Januari 2011 ini beliau genap berusia 70 tahun. Tulisan ini sengaja saya dedikasikan untuk memperingati hari ulang tahun beliau.

“Selamat Ulang Tahun Pak Hasan Junus. Semoga Bapak senantiasa berada di dalam lindungan Allah swt., sehat walafiat, dan terus berkarya. Kami senantiasa menantikan karya-karya Bapak selanjutnya.”

Tanjungpinang, awal hari 1 Januari 2011


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebok pada 09 Juli 2011 jam 12:36

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...