Jumat, Oktober 14, 2011

JELMAAN TUAN

WAK ENTOL sedang berkeliling bersama calon investor di sekitar lokasi pembangunan kompleks Bisnis X. Usaha itu disebut Bisnis X karena tak jelas usaha apa yang akan dikembangkan. Masyarakat menduga di situ akan didirikan properti untuk usaha ilegal. Calon investor dan Wak Entol membantahnya. Tiba-tiba Wak Entol ditarik secara paksa oleh seseorang yang tak dikenal, tetapi sangat berwibawa tampilannya.

“Sini kau, Entol!” sergah orang itu sambil secara cergas menekan kepala dan melipat tangan Wak Entol ke belakang. “Tak puas-puas engkau membuat honar. Apalagi yang akan kaujual haaa?”

“Anda siapa?” tanya Wak Entol. Wajahnya meringis karena kesakitan yang amat sangat.

“Tak perlu kautanya siapa aku. Aku penguasa sah daerah ini!”

“Anda walikota atau bupati, ya? Tapi, Anda tak terlihat seperti beliau itu,” Wak Entol masih bertanya walau rasa sakitnya makin tak terperikan.

“Walikota? Bupati? Aku Ali!” orang misterius itu menjawab dengan suara mantap.

“Ali siapa? Saya tak mengenal Anda,” Wak Entol masih mau berhujah dalam sakitnya.

“Dasar degil kau, Entol bedebah. Aku Ali Kelana!” jawab laki-laki itu seraya menatap tajam Wak Entol. Kepala Wak Entol makin ditekannya dan tangan calo itu makin ditariknya ke belakang sehingga Wak Entol terpekik keras.

“Mustahil Anda Engku Ali Kelana. Beliau sudah ….” masih degil Wak Entol.

“Jangan kauteruskan. Kuperingatkan, jika kerja keji ini kalian lanjutkan, kalian akan menerima padahnya. Camkan kata-kataku ini!” lelaki itu makin menatap geram Wak Entol. Tak lama, dia pun raib.

Wak Entol meraung minta tolong karena rasa sakit yang makin menjadi-jadi. Mulutnya mengeluarkan buih yang aneh, diikuti muntah kuning yang sangat banyak. Dia terus menjerit-jerit.

Para calon investor heran melihat tingkah dan kejadian yang menimpa Wak Entol. Mereka berpandang-pandangan sekejap, lalu lari-lari terbirit-birit. Putih telapak kaki mereka karena sepatunya terlepas dan begitu takutnya.

Wak Entol terus meraung panjang sambil mengucapkan kata-kata yang tak jelas. Dia meracau menuju ke jalan raya. Orang-orang menjadikannya tontonan gratis.***



Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebook pada 22 Agustus 2011 jam 23:50

Artikel bersempena