Senin, Oktober 10, 2011

MALAM TUJUH LIKUR

SEKEJAP lagi azan magrib akan berkumandang. Empat orang anak-beranak itu sedang duduk mengelilingi perbukaan. Awang Likur (8 tahun), adiknya Dara Likur (6,5 tahun), ayahnya Pak Likur, dan ibunya Mak Likur larut dengan pikiran masing-masing. Awang dan adiknya punya rencana khas setelah berbuka nanti.

Pak Likur pula terlihat puas setelah menyiapkan semua colok (lampu yang terbuat dari buluh@bambu, diberi sumbu, dan diisi minyak tanah) dan cangkok (lampu yang terbuat dari kaleng susu atau kaleng sardin bekas dsb.), baik untuk sekitar rumahnya maupun untuk jalan kampung yang menjadi tanggung jawabnya. Dia tadi dibantu oleh anaknya Awang. Lelaki itu pun puas dapat memenuhi disain colok yang diminta oleh kedua anaknya.

Mak Likur pun sangat senang dapat menyelesaikan juadah untuk acara mendoa bakda magrib nanti, lengkap dengan kue apam, belebat, dan bingka ubi, khas untuk kanak-kanak. Kesemuanya sudah disajikan di dalam hidangan tertutup tudung saji, diatur di anjung dan ruang tengah. Pengaturan seperti itu memang khas karena acaranya harus berlangsung cepat sehingga agak berbeda dengan acara mendoa yang lazim: berdoa dulu baru hidangan disajikan.

Kesemua rumah masyarakat harus mendapat giliran. Kebetulan, rumah mereka dikunjungi pertama oleh rombongan masyarakat dalam acara syukuran itu sambil menuju ke mesjid untuk salat Isya dan tarwih. Selesai tarwih nanti acara berdoa itu diteruskan sampai selesai. Hari ini 26 Ramadan, malam ke-27, malam istimewa pada bulan Ramadan sebelum malam 1 Syawal. Ini malam tujuh likur.

Beduk berbunyi, azan pun berkumandang. Tak lengah, Awang dan Dara membaca doa berbuka, minum air putih masing-masing seteguk, dan mencicipi kurma sebiji seorang. Masih dalam keadaan mengunyah kurma, kedua beradik itu berhamburan ke luar. Mereka memasangi colok dan cangkok di luar rumah dan jalan: satu per satu sampai kesemuanya menyala. Dan, sampailah mereka pada colok berhias istimewa.

Secara bersama-sama mereka menghitung: satu, dua, tiga, Bismillah! Keduanya menyotongkan korek api ke colok khas masing-masing yang sudah dibuatkan oleh ayah petang tadi. Begitu disotong, colok Dara memancarkan cahaya api dengan motif “Selendang Delima Melayang Manja” dan milik abangnya “Tanjak Tuah Bersanding Keris Pusaka”. Begitu rangkaian colok berhias itu menyala, mereka bersorak gembira, wajah mereka merona bahagia. Ibu dan ayah mereka saling berpandang sekejap di anjung rumah untuk kemudian ikut tertawa. Colok berhias Selendang Delima dan Tanjak-Keris menjadi mascot rumah mereka sampai dengan malam-malam Aidilfitri nanti. Rumah-rumah tetangga dihiasi pula oleh colok-cangkok istimewa sesuai dengan selera masing-masing.

Langit cemerlang, gemintang berkelip riang, hujan pun masih cuti sehingga enggan untuk menjelang. Tanda apakah gerangan membentang?

Cahaya colok dan cangkok akan maksimal menghiasi malam: dari rumah ke rumah sampai sepanjang jalan, sekutah-kutah kampung. Kedua beradik itu berpimpin tangan masuk ke rumah untuk menunaikan salat magrib berjamaah bersama ayah-bunda mereka. Wajah mereka bercahaya dan hati kedua anak itu berbunga-bunga.

Tak lama selesai magrib, jemaah telah sampai ke rumah mereka. Acara berdoa pun dimulailah oleh imam mesjid. Doa itu intinya mengucapkan rasa syukur kepada Ilahi karena telah dapat melaksanakan rangkaian ibadah Ramadan dan memohon perkenan Allah agar dapat melanjutkan ibadah pada sisa Ramadan sampai ke Aidilfitri. Doa juga disampaikan untuk para arwah yang telah mendahului dan keselamatan kampung serta masyarakat.

Tak lama, hanya sekitar lima belas menit saja. Orang-orang mencicipi hidangan. Kanak-kanak mendapat hadiah juadah utama: apam beras bertabur kelapa parut (kadang-kadang kelapa dicampurkan gula pasir) atau belebat (lepat) dan bingka ubi. Mereka bersorak gembira menerima juadah khas malam tujuh likur itu. Tanpa ampun, kue-kue itu mereka santap dengan lahapnya.

“Assalamualaikum!” ucap Pak Imam dan mereka pun meninggalkan rumah Pak Likur menuju rumah Pakcik Atan. Pak Likur sekeluarga tentu saja ikut serta. Memang begitulah caranya.

Rumah Pakcik Atan tak begitu besar sehingga tak semua jemaah dapat masuk. Akan tetapi, itu bukanlah masalah. Jemaah rela bersempit-sempit dan sebagian duduk di luar rumah. Di rumah ini jemaah agak lama sedikit karena Pakcik Atan kurang sehat. Walaupun begitu, beliau sangat bersemangat menyambut jemaah dengan mengenakan baju teluk belanga baru, yang dipersiapkannya untuk salat ied nanti. Beliau sangat gembira dikunjungi dan jemaah berdoa di rumahnya. Sakit dan derita terasa sirna seketika itu juga. Dukungan dari masyarakat sekampung membuatnya kuat untuk menyambut Hari Raya dan menjalani hari-hari ke depan. Istri dan anak-anaknya pun diliputi rasa bahagia yang tak bertara. Dan, mereka mengucapkan puji kepada Allah Azza Wa Jalla karena memperoleh rahmat karunia-Nya.

Rumah Makngah Minah, janda dengan tiga orang anak, dikunjungi terakhir sebelum salat Isya dan tarwih. Kebetulan rumah perempuan shalihah itu di samping mesjid. Kendati orang-orang menaruh kasihan kepadanya karena harus membesarkan anak-anaknya seorang diri, Makngah Minah tak pernah menunjukkan kesedihannya. Perempuan itu senantiasa tegar menghadapi dan menjalani kehidupan.

"Tak baik bagi perkembangan anak-anakku kalau aku terkesan sedih," jawab perempuan yang ketika daranya dulu menjadi bunga desa itu kepada sahabatnya Mak Likur suatu hari dulu saat ditanya tentang rahasia ketabahannya menghadapi musibah. Ketika sedang sendiri, barulah terasa olehnya segala remuk redam dan rindu dendam. Aminah tak pernah dapat melepaskan kenangan bersama suaminya tercinta yang tenggelam di laut ketika sedang menjaring ikan, tiga tahun lalu. Mayat suaminya sampai hari ini tak ditemukan. Tiga orang menjadi korban dalam peristiwa angin ribut yang membawa naas itu.

Bakda tarwih, doa bersama dari rumah ke rumah dilanjutkan. Tentulah rombongan harus dibagi-bagi dalam kelompok. Soalnya, semua rumah seisi kampung harus mendapat giliran dalam satu malam. Tak boleh disambung malam besok. Berkat malam tujuh likur ya malam ini, bukan besok, lusa, tulat, atau tubin. Besok dan seterusnya berkat lain lagi, bukan berkat tujuh likur.

Tiba pula giliran rumah Paklong Basar. Long nampaknya agak malu menerima jemaah. Sebaliknya, istrinya, Maklong Buntat menyambut para tamu dengan ramah dan senyum khasnya yang membuat siapa pun sulit melupakannya. Maklong memang dikenal sebagai perempuan yang sangat ramah di kampung itu. Anak-anak mereka yang berempat orang itu pun langsung berbaur dengan teman-teman mereka yang datang dan bermain dengan gembira.

Acara berdoa di rumah keluarga-berada di kampung itu selesai sudah. Orang-orang akan meminta diri untuk ke rumah yang lain pula. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh tingkah Paklong Basar. Dia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk erat Pak Imam. Semua mata tertuju kepadanya dengan pandangan iba, termasuk anak-istrinya.

"Maafkan saya, Pak Imam. Selama ini saya kurang bergaul di kampung kita ini. Saya hanya larut dalam urusan bisnis dan partai. Saya jadi jarang berjamaah di mesjid. Nyaris lupa dengan saudara-saudara sekampung, bahkan kepada istri dan anak-anak. Saya minta maaf karena saya lupa diri dan berubah jadi sombong belakangan ini."

Paklong Basar termasuk orang yang paling berhasil secara politik dan ekonomi di kampung itu. Dia dapat membesarkan bisnisnya sehingga terkenal ke mana-mana. Karena keberhasilan itu, dia diangkat menjadi pengurus inti parpolnya. Dengan jabatan itu, dia makin mudah memperbesarkan bisnisnya dan kelompoknya. Dia jadi lebih banyak bergaul dengan orang-orang luar dan nyaris tak bersinggungan lagi dengan orang-orang sekampungnya belasan tahun. Itulah yang menyebabkan dia lupa diri, termasuk lupa kepada kawan-kawan yang menolongnya dulu. Pak Imam termasuk sahabatnya yang paling banyak membantu karier politik Long Basar. Sayang, Long bagai kacang lupakan kulit sekarang. Padahal, dia hanyalah pemuda dari keluarga yang sangat sederhana sebelumnya, sama dengan masyarakat di kampung itu umumnya.

"Sudahlah, Long. Lupakan saja semua yang telah berlalu. Yang penting Long mau mengubah diri. Kami semua di kampung kita ini sayang kepada Long sekeluarga. Kita ini keluarga besar, harus saling membantu, saling mengingatkan. Syukurlah sekarang Long sudah sadar. Dunia ini sampai di manalah batasnya, Long," nasihat Pak Imam kepada Paklong Basar.

Paklong Basar tak kuasa menahan air mata. Dia terisak-isak. Semua yang hadir juga larut dalam isak tangis. Mereka bersyukur, Long Basar telah kembali ke fitrahnya semula. Dalam keadaan masih menangis, Long Basar menyalami jemaah satu per satu, besar-kecil semua disalaminya. Sudah lama itu tak dilakukannya secara ikhlas, kecuali basa-basi untuk kepentingan politik dan bisnisnya. Dia pun memeluk anak-istrinya. Long Basar sungguh merasa tercerahkan malam ini.

Pak Imam mengajak Long Basar ikut berkeliling ke rumah-rumah masyarakat. Ajakan itu langsung diterima Long dengan suka cita. Telah lama kebiasaan itu ditinggalkannya, kecuali dalam acara Safari Ramadan, yang juga lebih banyak basi daripada basanya.

Lampu-lampu colok di sekeliling dan di sekitar rumah keluarga Long Basar makin terang menyala. Ditiup angin sepoi-sepoi malam itu cahayanya menjadi semakin indah. Ada desauan merdu dari elusan kayu dan bambu yang saling menyentuh membuat malam makin cemerlang. Kanak-kanak makin asyik bermain dan bergembira riang di ruang bebas beratapkan langit terbentang.

Seperti yang diperkirakan, acara itu baru selesai sampai lepas tengah malam. Walaupun begitu, masyarakat sangat menikmatinya sehingga tak merasa terbebani. Bahagia merasuk sampai ke lubuk jiwa mereka yang terdalam. Banyak di antara mereka memilih baru tidur setelah salat Subuh.

“Mengapa kami dihadiahi kue apam atau belebat dan bingka ubi, Mak?” tanya Awang setelah kembali dari berdoa berkeliling rumah masyarakat.

Ibunya memandang anak sulungnya sekejap dengan pandangan penuh kasih. “Kue apam itu termasuk yang paling mengembang, Nak. Kue itu juga dimakan bersama kelapa parut yang dicampur gula dan dilengketkan ke kuenya. Itu lambang bahwa kalian kanak-kanak ini sedang berkembang. Dalam perkembangan itu, kalian harus menuntut ilmu yang baik dan banyak. Itu dikiaskan dengan kelapa parut dan gula yang putih bersih. Begitu dicampurkan dengan kelapa parut dan gula putih, kue apam yang kita makan terasa sangat lezat. Itulah perumpamaan ilmu yang baik. Ia membawa manfaat bagi kehidupan sehingga kalian dapat menjalani hidup dengan baik dan nikmat kelak.”

“Begitu pula belebat dan bingka. Kedua kue itu agak lengket. Itu kiasan agar segala ilmu yang baik yang kalian tuntut melekat di pikiran dan hati,” sambung ayahnya. Apalagi ilmu dan hikmah ketika kita beribadah pada bulan Ramadan. Manfaatnya tak hanya untuk kehidupan dunia, tetapi juga bekal di akhirat. Kita akan memperoleh dua termasa: kesehatan lahiriah dan batiniah serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Kita pun berbagi suka-duka seisi kampung dalam persaudaraan yang tak pernah putus. Saling mendukung satu sama lain. Itulah arti penting kita mera’ikan malam tujuh likur, anak-anakku,” kata ayahnya.

Awang dan Dara berpandang-pandangan. Dalam hati, mereka bangga memiliki ayah dan ibu yang sangat mencintai mereka. Mereka pun berbahagia karena kedua orang tuanya senantiasa menjaga adat-istiadat dan tradisi yang baik dan mendidik anaknya dengan tradisi yang baik pula. Serentak, mereka memeluk ayah-bunda mereka.

Orang berempat beranak itu berurai air mata. Air mata pengurai bahagia. Kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan oleh siapa pun, termasuk oleh pacal yang hina si penulis kolom budaya. Mereka bermandikan cahaya rahmat, yang mungkin disaksikan oleh para malaikat dan arwah para syuhada yang khusus turun dari surga pada malam Ramadan penuh berkah: malam tujuh likur. Colok dan cangkok pun meneruskan bakti, memancarkan terang sampai ke pagi.***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebook pada 28 Agustus 2011 jam 15:10

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...