Kamis, Oktober 06, 2011

NUANSA HARI RAYA

HARI RAYA AIDILFITRI patutlah disambut dengan gembira. Karena apa? Karena hari itu salah satu hari mulia. Selepas sebulan penuh berjuang keras zahir dan batin melawan hawa nafsu di bulan Ramadan, bulan yang penuh magfirah, umat Islam yang melaksanakan ibadah puasa dengan benar dapat kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan, tanpa cela, noda, dan dosa. Kita bersyukur karena Allah menciptakan bulan khusus untuk kita menghapus segala dosa untuk pada gilirannya menjadikan kita orang yang bertakwa.

Tanda-tanda kembali fitrah dan mendapat magfirah itu teserlah manakala segala kebaikan dan kebajikan yang kita lakukan pada bulan Ramadan terus berlanjut pada kesebelas bulan berikutnya. Pada akhirnya, kita mampu mencapai kualitas spiritual yang utama, yang membimbing kualitas emosional dan kualitas intelektual kita menjadi lebih baik. Jadilah kita manusia-manusia yang tercerahkan, yang diharapkan mampu melaksanakan kesemua tugas yang kita emban di muka bumi ini dengan bersuluhkan cahaya Ilahi. Tak berlebihanlah apabila Hari Raya kita sambut dengan gembira, gempita, dan bahagia. Asal, kesemuanya kita lakukan tak berlebihan dan bebas dari sifat dan sikap ria: entah karena kekayaan, entah karena kekuasaan, entah karena jabatan, dan sebagainya yang dapat memesongkan kita kepada orang-orang yang kufur nikmat. Alhasil, nilai puasa kita pun menjadi cedera. Nauzubillahi min zalik!

Kita umat Islam Indonesia menjadi lebih berbahagia lagi. Walau akidah kita sama, ternyata terdapat dua keyakinan tentang penetapan jatuhnya 1 Syawal 1432 H. Sebagian saudara-saudara kita berkeyakinan bahwa Ramadan berakhir pada Senin, 29 Agustus 2011 sehingga mereka ber-Hari Raya pada Selasa, 30 Agustus 2011. Sebagian lagi, berkeyakinan—seperti halnya keyakinan pemerintah—bahwa Ramadan berakhir Selasa, 30 Agustus 2011 dan Aidilfitri jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011. Walaupun begitu, kita bangsa Indonesia dapat saling menghargai perbedaan itu sehingga dapat ber-Hari Raya secara damai dan penuh persaudaraan.

Perbedaan ternyata tak membuat kita berpecah-belah. Malah, kita semakin kokoh bersepadu dalam semangat harga-menghargai, sayang-menyayangi, dan puji-memuji di dalam rahmat Allah. Semangat itu amat mustahak bagi upaya kita membangun keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara kita sampai bila masa pun. Semangat persatuan dan kesatuan itu memang kita warisi dari para pendahulu kita zaman-berzaman: lebih mengutamakan persatuan dan keutuhan serta menghargai perbedaan, tak memaksakan kehendak antara satu dan lainnya. Itulah harmoni yang harus kita ambil himahnya.

Kita menjadi lebih berbahagia lagi karena saudara-saudara kita sebangsa yang nonmuslim pun ikut bergembira di Hari Raya. Mereka juga dengan tulus dan ikhlas menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya, bahkan seperti halnya muslim dan muslimah, mengucapkan permintaan maaf zahir dan batin kepada saudara-saudara muslim-muslimahnya. Mereka pun, seperti yang terpelihara dalam tradisi kita, bersilaturrahim ke rumah-rumah saudara Islamnya dengan semangat persaudaraan sejati. Kita memang berbeda agama, tetapi sebagai bangsa Indonesia, kita tetaplah bersaudara di dalam sebuah rumah bangsa yang besar lagi indah ini. Bahkan, kesemuanya itu kita lakukan demi kemaslahatan umat manusia, yang percaya bahwa dirinya hanyalah makhluk Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, di muka bumi ini. Dengan memelihara dan mengimplementasikan keyakinan itu, kita makin kokoh berdiri sebagai masyarakat madani, yang pasti akan dihormati dan disegani oleh bangsa mana pun di dunia ini.

Hari Raya memang sering membawa kisah suka dan duka. Di samping kegembiraan dan kebahagiaan itu, kita pun patutlah berbelasungkawa. Dari jutaan saudara kita yang mudik ke kampung masing-masing, ternyata ada lebih dari 300-an orang yang tak selamat sampai di kampungnya. Mereka meninggal di dalam perjalanan karena naas di jalan raya (kecelakaan lalu-lintas), terutama di Pulau Jawa. Itu baru angka arus mudik (balik kampung), belum tahu lagi angka arus baliknya (kembali ke kota tempat bekerja, ke Jakarta misalnya). Pun tak terhitung yang mendapat cedera di perjalanan sehingga harus dirawat di rumah sakit. Niat hati untuk ber-Hari Raya di kampung halaman bersama saudara-saudara dan keluarga besar, tetapi ternyata Allah lebih dulu memanggil pulang mereka ke kampung yang kekal abadi, akhirat. Terlepas dari ajal dan maut yang memang rahasia Allah, dalam tradisi balik kampung itu kita memang perlu berhati-hati dan penuh perhitungan. Dari media massa kita mengetahui bahwa sebagian besar naas itu terjadi karena yang membawa kendaraan darat dalam keadaan mengantuk.

Masih terbayang di pelupuk mata di Hari nan Fitri ini sebagian saudara-saudara kita yang berdesak-desakan dan berhimpit-himpitan. Tak pula orang muda-muda, tetapi orang tua-tua (kebanyakannya perempuan) dan anak-anak. Mereka berebutan untuk mendapatkan pembagian zakat dalam bentuk uang dan makanan menjelang Hari Raya kemarin. Begitu pengapnya suasana, ada di antara mereka sampai jatuh pingsan. Padahal, yang mereka perebutkan itu hanyalah bernilai 20 ribu rupiah. Sungguh suatu kenyataan yang memilukan dan, karena peristiwa itu diliput oleh media nasional dan internasional, mestinya juga memalukan. Peristiwa itu seharusnya mengiris hati kita.

Mengapakah para orang kaya melakukan cara seperti itu dalam pembayaran zakat? Dan, mengapakah pula mereka diizinkan melakukan pembayaran zakat dengan cara tak terpuji itu? Di atas kesemuanya itu, diakui atau tidak, terutama oleh pemerintah, bahwa kemiskinan masih menjadi masalah utama bangsa kita. Kemiskinan itu seyogianya bukan untuk dieksploitasi oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab, tetapi diatasi secara cerdas dan tegas, pun tak perlu berbantah-bantah untuk menafikannya. Terlepas dari berhasil atau tidaknya pembangunan kita secara makro, pada tataran rakyat jelata itulah kenyataan yang sesungguhnya terjadi. Semoga di dalam suasana hati yang fitri ini kita mampu mengevaluasi diri dalam kaitannya dengan “tanggung jawab yang kita kehendaki” untuk membangun bangsa ini.

Di luar negara masih di dalam suasana Hari Raya ini sebagian kita mungkin bersedih menyaksikan penderitaan saudara-saudara kita di Somalia. Mereka didera oleh musibah kelaparan yang menyiksa. Anak-anak dan orang tua-tua tampil dengan tubuh kurus kering dan wajah yang sungguh tak sampai hati kita melihatnya. Pelbagai penyakit mendera mereka karena kekurangan makanan dan gizi. Apakah yang menyebabkan kesemuanya itu? Jawabnya tiada lain, salah urus dalam membangun bangsa. Dampak terbesarnya tentulah diderita oleh rakyat. Semoga Allah memberikan mereka pertolongan dan semangat untuk bertahan.

Di Irak, walaupun rezim lama telah tumbang, ternyata perang saudara belum juga usai. Darah tertumpah dan nyawa melayang sia-sia karena bom bunuh diri di sana-sini. Rakyat Irak harus mengalami suasana perang dalam waktu lama. Padahal, sponsor Barat-nya sedang berpesta menikmati pampasan dan atau dalal yang menjadi matlamatnya.

Suasana perang saudara masih riuh-rendah di Libya. Perubahan sistem pemerintahan dan politik yang didambakan oleh rakyat, sekali lagi, dimanfaatkan oleh kuasa asing. Keadaan Negeri Libya kacau-balau. Sesama sendiri, seakidah, dan sebangsa saling memusuhi dan membunuhi. Menurut berita resmi, tak kurang dari 50 ribu rakyat Libya tak sempat bertemu Hari Raya tahun ini karena lebih dahulu mati. Dalam pada itu, kuku-kuku asing Barat makin kuat mencengkeram untuk menciptakan surga dunia yang menjadi keyakinan pragmatis mereka.

Di Hari Raya ini kesemuanya itu patutlah kita renungkan untuk menciptakan dunia yang lebih baik, lebih bermarwah, dan lebih madani. Betapa keserakahan dalam bentuk apa pun senantiasa berdampak buruk bagi tamadun manusia di mana pun di muka bumi ini. Akhirnya, Selamat Aidilfitri serta mohon maaf zahir dan batin dari pacal yang hina ini kepada semua pembaca.***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebook pada 04 September 2011 jam 14:32

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...