Minggu, Oktober 02, 2011

RAJA ALI KELANA

“APABILA negeri itu berubah kelakuannya, maka tinggalkan dia.” Aforisme itu termaktub di dalam buku Bughiyat al-‘Aini fi Huruf al-Ma’ani karya Raja Ali Kelana (Mathba’at al-Ahmadiyah Press, Singapura, 1922). Itu adalah sikap hidup dan keyakinan seorang Raja Ali Kelana, petinggi dan cendekiawan Kerajaan Riau-Lingga yang cukup masyhur itu. Seolah-olah sikap itu merupakan antitesis dari kesetiaan lama bangsa kita bahwa “hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih baik negeri sendiri.”

Hakekatnya, Raja Ali Kelana lebih menekankan keyakinannya pada tamadun (peradaban) yang dibangun di suatu negeri dan atau negara secara keseluruhan, terutama perilaku atau praktik penyelenggaraan negara, dibandingkan kesetiaan lama yang lebih berbicara pada konteks kesejahteraan (ekonomi) semata. Aforisme Raja Ali Kelana itu juga menunjukkan nilai dan sikap teguh yang dimiliki oleh seorang negarawan sejati yang tak mau berkompromi (bersubhat) dengan praktik yang bertolak belakang dari matlamat (tujuan) asal penubuhan (pendirian) sebuah negeri dan atau negara.

Siapakah Raja Ali Kelana? Beliau oleh keluarganya diberi nama Ali. Karena keturunan bangsawan Kerajaan Riau-Lingga, di depan nama kecilnya itu melekat gelar keturunan Raja sehingga menjadi Raja Ali. Lengkapnya nama beliau Raja Ali ibni Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi. Selain itu, beliau juga dikenal dengan nama-nama alias yang lain yaitu Raja Ali Ahmadi, Raja Ali Riau, Raja Ali Bukit, dan Engku Ali Riau. Penambahan “Kelana” di belakang namanya sehingga menjadi Raja Ali Kelana merupakan jabatan yang disandangnya yaitu menjadi Kelana di dalam Kerajaan Riau-Lingga. Jabatan Kelana itu merupakan jabatan tinggi setingkat di bawah Yang Dipertuan Muda (Raja Muda yaitu orang kedua setelah Sultan di dalam struktur pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga kala itu). Orang yang telah menjabat Kelana merupakan calon Yang Dipertuan Muda.

Ayahndanya Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi adalah Yang Dipertuan Muda X Kerajaan Riau-Lingga. Baginda wafat pada 1899. Sesuai dengan ketentuan adat, seharusnya Raja Ali Kelana yang menggantikan ayahndanya menjadi Yang Dipertuan Muda XI Kerajaan Riau-Lingga. Akan tetapi, beliau tak sempat dilantik untuk jabatan yang menjadi haknya itu karena meningkatnya perseteruan antara Kerajaan dengan Pemerintah Hindia-Belanda, yang dari pihak Kerajaan, Raja Ali Kelana dikenal sebagai pembangkang yang sangat diperhitungkan pihak Belanda.

Raja Ali Kelana menunjukkan sikap permusuhannya dengan Pemerintah Hindia-Belanda dalam banyak kesempatan. Di antaranya beliau menolak keras penggunaan kata “firman” dan “akhazatun” yang digunakan pihak Hindia-Belanda untuk perjanjian politik dengan Kerajaan Riau-Lingga. Kata “firman” ditolaknya karena kata itu dikhususkan untuk Allah swt., bukan untuk ucapan pemimpin Hindia-Belanda. Dan, kata “akhazatun” ditentangnya karena bukan hanya untuk penghalusan (eufemisme) kata “pinjaman”. Lebih dari itu, oleh pihak Hindia-Belanda, Kerajaan Riau-Lingga yang “meminjam” kepada Pemerintah Hindia-Belanda. “Kami yang ahli waris sah kerajaan (negeri) ini, mengapa pula dibalikkan menjadi meminjam kepada kalian, wahai kaum penjajah?” begitu kira-kira penentangan yang dilakukan oleh Raja Ali Kelana.

Raja Ali Kelana adalah salah seorang pendiri dan pengurus inti Rusydiah Kelab. Itu bukanlah sebarang kelab. Rusydiah Kelab merupakan organisasi cendekiawan Kerajaan Riau-Lingga yang didirikan pada 1885. Perhimpunan ini telah menunjukkan kerja berlandaskan budaya modern dengan mengutamakan penggalakan kemajuan pendidikan dan kebudayaan serta ekonomi. Mereka sangat menyadari bahwa untuk eksis di dunia modern, ilmu dan ekonomi menjadi pilar utama. Itulah yang mereka perjuangkan di samping menjadi kelompok penekan bagi pihak Kerajaan dan Pemerintah Hindia-Belanda agar menjalankan pemerintahan sesuai dengan garis-garis yang telah ditetapkan. Jangankan pihak penjajah, Kerajaan Riau-Lingga pun kalau menyimpang dalam penyelenggaraan negara akan mereka kritik. Organisasi ini berjuang berasaskan Melayu-Islam, adat-istiadat Melayu, dan bahasa Melayu. Di organisasi inilah Raja Ali Kelana menjadi salah seorang pemikir dan penggeraknya.

Raja Ali Kelana merupakan tokoh yang ditempa dengan pendidikan (Islam) yang baik. Selain menuntut ilmu di lingkungan kerajaan di Penyengat Inderasakti, beliau sempat memperdalam ilmunya di Mekah. Di antaranya beliau dibimbing oleh ulama ternama seperti Syekh Ahmad al-Fatani, Sayyid Abdullah al-Zawawi, dll. Kegiatan menuntut ilmu itu dilakukannya ketika singgah di Mekah dalam perjalanannya untuk melaksanakan tugas diplomatik kerajaan ke Mesir. Selain itu, beliau juga berkunjung ke Turki Usmaniyah pada 1895 dan 1905 untuk urusan diplomatik kerajaan.

Raja Ali Kelana juga mengemban tugas dalam pengembangan ekonomi. Berdasarkan surat Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga, Rabu, 29 Rabiul Akhir 1308 H., Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Tahir ibni Raja Haji Abdullah al-Khalidi diberi hak untuk mengelola Pulau Batam. Oleh keduanya, didirikanlah perusahaan batu bata “Batam Brick Goods” di Pulau Batam itu. Ketentuan itu dipertegas lagi dengan surat Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga, Selasa, 8 Rabiul Awal 1316 H. bersamaan dengan 26 Juli 1898. Dalam surat terbaru itu haknya dikukuhkan lagi bersama dengan Raja Abdullah (Tengku Besar) dan Raja Muhammad Tahir. Sejak itu berkembanglah usaha batu bata di Pulau Batam.

Sebagai cendekiawan, pada 1896 Raja Ali Kelana ikut mendirikan badan penerbit Al-Imam, yang kemudian pada 1906—1908 menerbitkan Majalah Al-Imam, yang terbit di Singapura. Beliaulah yang menjadi donator penerbitan majalah itu.

Pada 1896 beliau menyelesaikan buku Pohon Perhimpunan pada Menyatakan Peri Perjalanan. Buku dengan gaya jurnalistik itu ditulis berdasarkan hasil perjalanan ke Pulau Tujuh (sekarang Kabupaten Natuna dan Anambas) sebagai bagian tugasnya sebagai Kelana. Dengan demikian, Raja Ali Kelana merupakan tokoh jurnalistik pertama dari Kerajaan Riau-Lingga. Selanjutnya, terbit buku beliau Perhimpunan Plakat (1900), Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas-Pada Orang yang Pantas-Dengan Pikiran yang Lantas (1910), Bughiyat al-‘Ani fi Huruf al-Ma’ani (1922) yaitu buku pelajaran bahasa Melayu, dan Rencana Madah pada Mengenal Diri yang Indah.

Pada 11 Februari 1911 Pemerintah Hindia-Belanda memakzulkan Sultan Riau-Lingga secara sepihak karena sultan dianggap pembangkang. Tak lama sesudah itu, Residen Riau di Tanjungpinang pada 23 Juni 1911 mengeluarkan “firman” yang ditandatangani oleh G.F. de Bryn Kops yang membatalkan kesemua surat kepemilikan yang dikeluarkan oleh Sultan Riau-Lingga. Selanjutnya, pada 1913 Pemerintah Hindia-Belanda membubarkan Kerajaan Riau-Lingga (Staatblad/Lembaran Negara 1913/19).

Para pemimpin dan rakyat Kerajaan Riau-Lingga tentu tak mau menerima putusan sepihak itu. Sebagian dari mereka memilih berhijrah ke Johor dan Singapura untuk mendapatkan suaka politik dari Sultan Johor daripada bertuankan Belanda, termasuk Raja Ali Kelana. Rencananya, dari tempat pengasingan itulah akan disusun kembali strategi untuk merebut kembali tanah tumpah darah mereka.

Selain Khalid Hitam yang berusaha menjalin upaya diplomatik dengan Jepang, Raja Ali Kelana pergi kembali ke Turki pada 1913 untuk meminta bantuan. Malangnya, upaya-upaya itu gagal. Dan, sejak itu Kerajaan Riau-Lingga tak pernah berdiri lagi.

Karena kepakarannya, Raja Ali Kelana diangkat sebagai Ketua Agama Islam Negeri Johor, tempat pengasingannya, oleh Sultan Johor. Penghargaan itu tak berlebihan karena Kerajaan Johor dan Riau-Lingga sebelumnya memang bernaung di bawah satu Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang sebelum dipecah dua oleh Belanda dan Inggris. Raja Ali Kelana, tokoh agama, pendidikan, politik, jurnalistik, dan cendekiawan itu betul-betul meyakini aforisme yang disuratkannya dan atau, bahkan, memang tersuratkan bagi bangsa Melayu.***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di facebook pada 11 September 2011 jam 23:07

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...