Sabtu, Oktober 08, 2011

TAK HENDAK BERHENTI

"Aku mohon, Tok. Jangan Datuk hentikan ceritaku," Wak Entol mendatangiku setengah menyembah. Baru kali ini aku melihatnya begitu menghiba dan merendahkan diri.

"Cerita Wak ini selalu kontroversial. Banyak orang yang tak suka!" aku membela diri setengah menyergah, "kuputuskan untuk dihentikan saja."

"Tahukah, Datuk. Dunia ini jadi bersemarak karena ada cerita tokoh-tokoh sepertiku ini. Kami ini meneruskan karakter moyang kami Firaun yang Agung itu. Itulah karakter asli kami. Kini kami telah membentuk Organisasi Pelanjut Firaun Sedunia. Anggota kami makin hari kian bertambah. Tanpa cerita kami, media kehilangan berita, penulis kehilangan cerita, dan dunia kehilangan maya. Kalau Datuk menyensor apalagi menyabot cerita tentangku, aku akan menuntut Datuk ke Mahkamah HAM Internasional!" Wak Entol berbalik menggertakku. Sikap aslinya serta-merta kembali. Dia membusungkan dada walau tak berani beradu tatap denganku. Dia hanya menjelingku atau memandang dengan ekor mata kirinya.

"Gigih sekali orang ini," pikirku. Terus terang, aku bimbang nyaris bingung. Kalau kuteruskan apa pula kata orang.

Wak Entol melihat gelagat kebimbanganku walau dia belum juga berani menatapku.

"Ingat, Tok. Kalau Datuk menghentikan ceritaku, aku akan menuntut Datuk dengan tuduhan "caracter assassination" alias "pembunuhan karakter". Hukumannya berat, Tok!" Wak Entol kembali menggertakku dan terus berlalu sambil bersiul dengan lagu "Tikam-tikaman" yang bernuansa Timur Tengah dipadu dengan irama dangdut rock.***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat pada 03 September 2011 jam 12:36

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...