Selasa, Oktober 18, 2011

TRADISI YANG PUNAH

SUATU masa dahulu, di kalangan masyarakat Melayu, Ramadan disambut dengan suka cita karena dua perkara. Seperkara berkaitan dengan agama Islam dan seperkara lagi berhubung dengan tradisi. Perkara tradisi itu pun masih berkelindan dengan masalah agama. Pasal apa? Karena adanya ibadah puasalah, tradisi itu berkembang.

Perkara pertama bersabit dengan pelaksanaan rukun Islam yaitu ibadah puasa. Bulan ini sangat dinanti-nantikan karena menjadi bulan terbaik dari seribu bulan, penuh berkah, bulan pengampunan, dan pahala kebajikan yang berlipat ganda akan diberikan oleh Allah swt. kepada makhluk-Nya yang taat, yang mampu melaksanakan rangkaian ibadah dengan baik selama Ramadan sesuai dengan tuntunan agama Islam. Tak sesiapa pun sanggup menolak untuk bergembira tatkala menyambut bulan yang istimewa itu. Suka cita Ramadan dalam kaitannya dengan pelaksanaan ibadah itu, Alhamdulillah, masih terasa sampai setakat ini walaupun tetap ada perbedaan kadar dan kualitasnya antara orang perorangan.

Perkara kedua berhubung dengan tradisi. Dalam hal ini, ada banyak tradisi Melayu yang biasa dilakukan selama Ramadan. Kolom kali ini hanya akan memerikan satu saja di antara sekian tradisi itu.

Selama bulan Puasa—suatu masa dahulu—di lingkungan masyarakat Melayu terdapat banyak sekali makanan dan minuman. Aneka ragam juadah dan minuman itu dapat kita jumpai di rumah-rumah ibadah (mesjid dan surau) dan di rumah-rumah penduduk. Pokoknya, menjelang berbuka puasa, kita akan menyaksikan pelbagai jenis makanan dihidangkan untuk berbuka dan makan malam. Juadah yang dimaksudkan itu taklah terlalu banyak jumlahnya, tetapi jenisnya beragam sehingga sangat berbeda dengan keadaan pada bulan-bulan di luar Ramadan. Dari manakah kesemua makanan itu berasal?

Suasana di mesjid atau surau dulu. Pelbagai kue, minuman, dan lauk-pauk untuk berbuka puasa dan makan malam disediakan oleh masyarakat, terutama masyarakat di sekitar rumah ibadah itu. Tak dapat banyak sedikit, masyarakat merasa berkewajiban untuk menyediakan makanan dan minuman untuk jemaah yang berbuka, salat, dan tadarus di mesjid. Walau tak diwajibkan, masyarakat akan merasa malu jika tak mengantarkan makanan perbukaan ke mesjid. Kesemuanya itu tak pula dirasakan sebagai beban, tetapi sekadar amal yang memang patut dilaksanakan. Oleh itu, mesjid atau surau dapat menyajikan perbukaan yang beraneka ragam sepanjang malam-malam Ramadan. Suasana itu sangat menarik perhatian kanak-kanak sehingga mereka betah beribadah di mesjid atau surau pada bulan Puasa.

Selain itu, ada pula mesjid yang mengamalkan tradisi menyediakan makanan khas untuk berbuka. Dalam hal ini, makanan khas itu dimasak di mesjid oleh para jemaah, yang memang ahli memasaknya. Biasanya jemaah, khasnya, dan masyarakat, umumnya, sangat menggemari makanan yang disediakan itu, terutama sekali orang muda-muda dan kanak-kanak yang selera makannya memang sedang naik-naiknya. Lagipula, makanan itu memang terbilang sedapnya.

Makanan itu disebut “bubur berlauk”, atau di tempat lain, lain pula namanya barangkali. Makanan itu disebut demikian karena bubur nasi dimasak dengan cara dicampurkan dengan pelbagai lauk dan bumbunya yang khas. Lauk-pauk itu dapat terdiri atas ayam, ikan, udang, dan sebagainya yang disepadukan sedemikian rupa dengan sayur-sayuran dan bumbu khusus. Di luar Ramadan, bubur berlauk jarang ditemukan.

Bubur berlauk berbeda dengan bubur air. Bubur air adalah nasi bubur yang dimasak tersendiri, sedangkan lauk-pauknya dimasak tersendiri pula. Waktu makan barulah bubur dan lauk-pauknya dicampur seperti halnya kita makan nasi sehari-hari. Bubur berlauk adalah nasi bubur yang dimasak secara bersamaan dengan segala lauk-pauk dan bumbunya di dalam suatu wadah, biasanya kawah atau kuali besar atau periuk besar. Bubur berlauk tak memerlukan lauk tambahan di luar lauk-pauk yang sudah dicampurkan karena memang kesemuanya telah cukup takarannya.

Tradisi masyarakat mengantarkan makanan perbukaan ke mesjid atau surau masih kekal sampai setakat ini di Kepulauan Riau. Akan tetapi, tradisi mesjid menyediakan makanan khas seperti bubur Ramadan yang diperikan di atas nyaris punah di daerah ini. Di Singapura dan Malaysia tradisi itu masih terpelihara walau mereka jauh lebih “metropolis” daripada kita di sini. Tradisi itu masih dipelihara oleh masyarakat Aceh Sepakat di Medan, Sumatera Utara. Di mesjid-mesjid yang menyediakan makanan khas itu, siapa pun boleh menikmatinya secara cuma-cuma (gratis).

Harus diakui bahwa suasana Ramadan di mesjid yang menyediakan makanan khas itu memang terkesan istimewa. Bukan karena makanannya, melainkan kebersamaan untuk mengadakan bahan-bahannya (umumnya berasal dari sumbangan jemaah) dan bersama-sama mengerjakan serta memasaknya membuat suasana menjadi bersemarak. Kesemarakan yang membuat Ramadan dirindui pada bulan-bulan yang lain dan dinanti-nantikan kehadirannya kembali.

Di rumah-rumah penduduk pula, menjelang berbuka telah tersedia pelbagai jenis makanan yang jarang dijumpai di luar Ramadan. Dari jenis nasi mungkin ada nasi lemak, nasi minyak, nasi dagang, dsb. Lauk-pauk beragam jenis dan deretan kue-kue ada putu piring, putu mayang, buah melaka, penganan talam, seri salat, bingka pisang, apam, jemput-jemput, dan masih banyak lagi. Begitu pulalah dengan pelbagai jenis makanan lain seperti lendut, laksa, pelbagai jenis mie, roti canai, roti jala, dsb. Begitulah makanan itu digilir-gilirkan sepanjang Ramadan.

Sebuah rumah tangga tak perlu menyediakan kesemua makanan itu. Satu rumah mungkin cukup hanya menyediakan satu jenis kue untuk satu hari. Walaupun begitu, waktu berbuka dan makan malam mereka akan menyantap pelbagai jenis makanan. Dari manakah kesemuanya itu? Jawabnya dari tetangga.

Katakanlah kita memasak kurmak ayam petang ini. Kita tak hanya memasak lauk itu untuk kita anak-beranak, tetapi juga untuk para tetangga di sekitar. Makin banyak rezeki, makin banyak pula kurmak yang dibuat sehingga makin banyak tetangga yang mendapat makanan itu. Sebaliknya, tetangga sebelah-menyebelah pun akan mengantarkan makanan perbukaan mereka masing-masing ke rumah kita. Jadilah setiap rumah tangga menyantap pelbagai jenis makanan saat berbuka dan makan malam. Lebih dari itu, petang dan malam Ramadan menjadi lebih indah dari seribu bulan.

Tradisi berbagi makanan perbukaan itu nyaris tak ada lagi di kalangan masyarakat Melayu masa kini, bahkan di kampung-kampung sekalipun. Kemiskinan yang melanda kebanyakan orang Melayu menyebabkan mereka tak mampu lagi menyediakan makanan yang lebih untuk memeriahkan Ramadan. Perubahan sifat dan sikap yang lebih mementingkan diri dan keluarga sendiri, yang merupakan pengaruh budaya asing yang negatif, juga sangat menonjol setakat ini. Dampaknya, orang Melayu masa kini pun merasa tak perlu berbagi—walau sekadar makanan—karena mereka merasa terbebani dengan kesemua tradisi itu.

Apalagi, banyak di antara mereka tak memasak sendiri makanan yang diperlukannya. Dengan kata lain, perbukaan itu mereka beli sehingga tak dirasakan ada kewajiban untuk dibagikan kepada orang lain. Alhasil, keindahan berbagi pada petang-petang dan malam Ramadan pun tak dirasakan lagi. Kesemuanya kini tinggal kenangan. Nyaris sama halnya dengan kehilangan kampung-kampung Melayu satu demi satu; lenyap untuk kepentingan politik dan ekonomi modern yang mengatasnamakan pembangunan.***


Catatan oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat pada 14 Agustus 2011 jam 15:07