Selasa, November 29, 2011

KAMBING ISTIMEWA

“Hanya itu yang kuminta. Bukan permintaan yang berlebihan. Bahkan, kaulah yang sangat berlebihan jika tak memenuhi permintaanku!” Wak Entol menekan Pak RT.

Pak RT tak berkutik. Dia melihat ke kiri-kanan dan depan-belakang, khawatir ada orang yang mendengar pembicaraannya dengan Wak Entol. Untunglah, tak ada satu pun makhluk di situ. Kalaulah ada, tentu wibawanya sebagai RT akan jatuh. Itu yang dicemaskan Pak RT “Apalah artinya seekor kambing bagimu sekarang. Lagi pula, kambing itu akan kujadikan hewan kurban, bukan untuk pesta kambing guling dengan orang-orangku. Kecuali aku minta paket haji lengkap untukku dan keluargaku, kau keberatan, aku tak terlalu kecewa. Itu pun masih wajar sebetulnya karena jasaku menaikkan derajatmu,” Wak Entol makin memojokkan Pak RT.

Pak RT makin tak berkutik. Dalam hatinya dia menyesal menjadikan Wak Entol tim suksesnya dulu.

“Baiklah, Wak Entol, kupenuhi permintaanmu. Bila kambing itu harus kuantar ke rumahmu?” tanya Pak RT dengan suara sangat tertekan dan menyedihkan.

“Dini hari menjelang Hari Raya Qurban. Aku tak mau memeliharanya berlama-lama. Dan, tak boleh seorang pun tahu bahwa kau mengantarkannya ke rumahku. Ini sangat rahasia. Aku tak mau wibawaku jatuh di depan orang-orangku dan orang kampung. Biar mereka mengira memang aku yang membeli kambing kurban itu. Satu lagi, aku mau kambing yang terbesar di antara kambing yang ada di kampung ini. Ingat Pak RT, dini hari menjelang Hari Raya.” Wak Entol meninggalkan Pak RT yang berdiri terpaku bagai orang bingung.

Dipendekkan cerita, panitia telah siap akan menyembelih kurban. Tiba-tiba semua mata tertuju kepada orang yang sedang menuju ke tempat penyembelihan itu. Orang itu membawa seekor kambing yang sangat besar, sangat sehat, dan sangat indah warna bulunya. Yang istimewa lagi, janggut kambing itu bercabang tiga. Siapa lagi kalau bukan Wak Entol dan kambingnya.

“Pak Ketua Panitia, aku minta kambing ini yang disembelih duluan. Yang lain belakangan saja. Kau jangan membantah. Kalau tak mau, akan kulaporkan kau kepada Pak RT supaya tahun depan kau tak lagi menjadi ketua panitia kurban!” Wak Entol langsung memerintah Ketua Panitia begitu sampai di tempat itu. “Setelah itu, langsung dibersihkan.”

Orang-orang hendak memprotes perilaku Wak Entol yang main perintah itu. Apalagi, sebelum ini dia tak tercatat sebagai peserta kurban. Anak-anak muda yang ada di tempat itu pun bagai tak sabar melihat tingkah laku Wak Entol. Rasanya mereka ingin menghabisi Wak Entol sekejap itu juga.

Ternyata, Wak Entol tak datang sendiri. Dia membawa banyak anak buahnya yang berbadan tegap. Di sebalik baju mereka terkesan ada senjata tajam.

Karena khawatir terjadi perkelahian massal di tempat penyembelihan kurban, orang-orang dan para pemuda mengurungkan niat untuk menghajar Wak Entol. Membaca, gelagat itu, Wak Entol tersenyum menyeringai tanda kemenangan. Anak buahnya berpandang-pandangan sekejap untuk kemudian melepaskan ketawa terbahak-bahak.

Alhasil, kambing Wak Entol dipotong duluan. Setelah itu, langsung dibersihkan. Wak Entol dan anak buahnya memperhatikan saja orang-orang mengerjakan itu. Tak lama, selesailah pekerjaan itu. Lalu, Wak Entol mengambil semua daging itu untuk dibawa pulang ke rumahnya.

“Jangan lupa, Pak Ketua Panitia. Namaku harus tercatat sebagai orang pertama yang berkurban tahun ini di kampung kita.”

Wak Entol dan anak buahnya pun berlalu dari tempat itu. Di dalam perjalanan dia berbicara kepada anak buahnya, “Seminggu ini kita tak perlu membeli daging untuk dijadikan lauk. Nampaknya, daging kambing ini lumayan banyaknya,” katanya setengah ketawa girang.

Anak buahnya ketawa, tetapi tak berani keras-keras. “Siap, Ndan!” sahut mereka serempak.

Wak Entol tersenyum-senyum melihat daging kambing yang dibawa anak buahnya. Sambil berjalan dia bersiul lagu “Anak Kambing Saya” dengan irama rock padang pasir yang dipadu dengan irama joget kreatif.***


oleh Abdul Malik pada 6 November 2011 jam 20:34
Read more ...

Minggu, November 27, 2011

BENGKEL KEMBARA WANGSA: WARISAN RIAU-LINGGA-JOHOR

KERAJAAN Negeri Johor pada 10—12 Agustus 2009 menyelenggarakan Bengkel (Workshop) Kembara Wangsa: Pembangunan Tapak-Tapak Sejarah di Sepanjang Sungai Johor. Penyelenggara kegiatan adalah Yayasan Warisan Johor, suatu badan yang berada di bawah Menteri Besar (setingkat gubernur, A.M.) Johor. Kembara wangsa itu sendiri ditakrifi sebagai gambaran perjalanan, pengembaraan, dan perpindahan bangsa Melayu sejak 1511 satu lokasi ke lokasi lain, dari satu pusat pemerintahan ke pusat pemerintahan yang lain pada zaman pemerintahan Kesultanan Melayu Johor-Riau atau Riau-Johor dari Sungai Johor hingga ke Kepulauan Riau yang meninggalkan tapak-tapak (jejak-jejak) sejarah tinggalan warisan silam. Matlamat yang hendak dicapai oleh Bengkel ini adalah untuk memperoleh pandangan-pandangan dan rencana-rencana yang konkret, yang dapat dijadikan rujukan dan pedoman oleh Kerajaan Negeri Johor untuk melaksanakan pembangunan tapak-tapak sejarah di sepanjang Sungai Johor sebagai destinasi pelancongan (pariwisata).

Untuk mencapai matlamat itu, Panitia mengundang lima orang pembicara. Para pembentang makalah itu terdiri atas Prof. Dr. Abdullah Zakaria Ghazali (Universiti Malaya, Kuala Lumpur), Prof. Datuk Dr. Nik Hassan Suhaimi Abd. Rahman (Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur), Prof. Dr. Amran bin Hamzah (Universiti Teknologi Malaysia, Johor Bahru), Abdul Malik (Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang), dan Tuan Hj. Azam bin Mohd. Abid (Pengarah Jabatan Perancangan Bandar dan Desa Johor). Saya diminta membentangkan makalah “Kemungkinan Kerja Sama Kepulauan Riau-Johor dalam Pembangunan Pelancongan”. Selain itu, dari Kepulauan Riau juga diundang peserta aktif yang terdiri atas Rektor UMRAH, Dra. Hj. Isnaini Leo Shanty (Dosen UMRAH), Hj. Djuraida Idris (Ikatan Keluarga Besar UMRAH), R. Malik Hafrizal R. Hamzah (Balai Kajian Sejarah, Penyengat Indrasakti, Kepulauan Riau), dan Basyaruddin Idris (Majelis Belia Melayu Kepulauan Riau).

Mengawali kegiatan pada Senin, 10 Agustus 2009, semua peserta dibawa menyusuri Sungai Johor seraya mengunjungi tapak-tapak sejarah di sepanjang sungai itu. Dengan pengawalan keselamatan yang sangat menyenangkan, para peserta Bengkel diberangkatkan dari dermaga Kota Tinggi. Dari situ rombongan yang diangkut dengan speed boat yang berperangkat keselamatan lengkap dibawa menuju ke hulu sungai untuk berziarah ke makam Megat Seri Rama atau di Johor lebih terkenal dengan sebutan Laksemana Bentan, yang terdapat di Kampung Kelantan, kurang lebih 2 km dari Bandar Kota Tinggi. Dengan demikian, dugaan masyarakat Bintan bahwa di Komplek Makam Bukit Batu, Bintan terdapat makam Megat Seri Rama menjadi tak berdasar karena makam beliau ternyata di Kampung Kelantan, Kota Tinggi, Johor.

Megat Seri Rama mencapai jabatan tertinggi sebagai Laksemana atau Panglima Angkatan Laut Kerajaan Johor pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah II. Megat Seri Rama meninggal pada 29 Oktober 1698 setelah beliau menikam Sultan Mahmud karena menuntut bela atas kematian istrinya, Dang Anum, yang dibunuh oleh Tun Bija Ali atas perintah Sultan Mahmud pada 23 Oktober 1698. Pasalnya, Dang Anum makan seulas nangka milik Sultan karena mengidam ketika hamil anak sulung. Megat Seri Rama meninggal karena kena lemparan keris Sultan Mahmud di ujung ibu jari kakinya dan disumpah muntah darah oleh Sultan. Sumpah itu berlaku kepada tujuh keturunan Laksemana, tak boleh menginjakkan kaki di Kota Tinggi dan atau Johor Lama, yang kalau dilanggar akan muntah darah. Sultan Mahmud juga mangkat karena ditikam oleh Megat Seri Rama ketika dijulang. Itulah sebabnya, setelah mangkat Baginda disebut Marhum Mangkat Dijulang. Peristiwa itu merupakan yang paling tragis dalam sejarah Melayu sepanjang masa, jauh lebih tragis daripada perlawanan Hang Jebat terhadap Sultan Melaka. Pusara Laksemana Bentan dan istrinya tercinta, Dang Anum, bersanding mesra di Kompek Makam Kampung Kelantan.

Dari Kampung Kelantan rombongan dibawa menghilir ke Kampung Makam Kota Tauhid, Kota Tinggi. Di Kampung ini terdapat dua makam penting yaitu Makam Sultan Mahmud Mangkat Dijulang dan Makam Tun Habib Abdul Majid. Kota Tauhid menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Johor-Riau ke-7 yaitu pada era pemerintahan Sultan Abdul Jalil Syah III (1623—1677) dan Sultan Mahmud Syah II (1685—1699). Kala itu bendaharanya adalah Bendahara Sri Maharaja Tun Habib Abdul Majid dan Bendahara Paduka Raja Tun Abdul Jalil. Kota Tinggi kala itu didatangi oleh banyak sekali pedagang dari pelbagai negara seperti Cina, Inggris, India, Arab, Eropa, dan Kepulauan Nusantara (di Malaysia disebut Kepulauan Melayu). Portugis pernah beberapa kali menyerang Kota Tinggi, tetapi dapat dikalahkan oleh tentara Johor-Riau. Komplek Makam Sultan Mahmud Mangkat Dijulang berdiri tesergam di samping kiri Mesjid Kampung Makam dan merupakan komplek makam termegah di sepanjang Sungai Johor.

Menghilir Sungai Johor kira-kira 3 km dari Kota Tinggi terdapat Kota Batu Sawar. Kota ini dibangun setelah Kerajaan Johor-Riau kalah dari Portugis pada 1587. Batu Sawar menjadi pusat pemerintahan Johor-Riau semasa Sultan Alauddin Riayat Syah III (1597—1615) dan menjadi tempat berdirinya istana Sultan Abdul Jalil Syah III (1623—1677). Batu Sawar juga banyak didatangi pedagang mancanegara ketika menjadi ibukota Kerajaan Johor-Riau. Pada 1608 tentara Potugis menyerang kota ini, tetapi kuasa asing itu dapat dikalahkan oleh tentara Johor-Riau. Pada 1613 Aceh dengan pasukan yang besar menyerang Batu Sawar sehingga terjadi peperangan selama 29 hari. Sultan Alauddin Riayat Syah III, Raja Abdullah adinda Baginda Sultan, dan Tun Seri Lanang ditawan dan dibawa ke Aceh. Pada 1673 tentara Kerajaan Jambi pula menyerang Batu Sawar yang menjadi tempat bersemayamnya Sultan Abdul Jalil Syah III. Batu Sawar tempo dulu laksana “nak dara jelita” yang senantiasa membangkitkan nafsu pihak luar untuk memilikinya dengan pelbagai cara dan helah. Johor-Riau memang senantiasa menawan, tak dulu tak sekarang, begitulah adanya. Kini di Batu Sawar terdapat Makam Sultan Alauddin Riayat Syah II, putera Sultan Mahmud Melaka yang juga sultan pertama Riau-Johor, yang berupaya membangun negara Melayu baru di Johor setelah kekalahan Melaka dari Portugis.

Kini kita menghilir sekitar 7 km dari Bandar Kota Tinggi ke tempat di antara kuala Sungai Seluyut dan Selat Medina. Di ketinggian sekitar 204 kaki dari paras air terdapat Kota Seluyut di atas Bukit Seluyut. Kota Seluyut menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Johor-Riau semasa Sultan Muzaffar Syah (1564—1570). Di kota ini pulalah Tun Muhammad atau yang terkenal dengan nama Tun Seri Lanang pengarang buku Sulalatu’s Salatin atau Sejarah Melayu itu dilahirkan. Sebagai pusat pemerintahan, Kota Seluyut hanya bertahan 7 tahun saja karena kemudian Sultan Ali Jalla Abdul Jalil memindahkan pusat pemerintahannya ke Tanah Putih selama 2 tahun, untuk kemudian dipindahkan lagi ke Johor Lama.

Di ketinggian Bukit Seluyut selain terdapat tinggalan Kota Seluyut, juga dijumpai Komplek Makam Tiga Beranak. Di makam itu bersemayam dengan damai dan tenang Sultan Muzaffar Syah, Raja Fatimah (adinda Sultan Muzaffar), dan Sultan Muzaffar Syah II yang disebut juga Marhum Seluyut yang meninggal ketika masih kecil. Di komplek yang terpisah terdapat satu makam lagi yaitu Makam Bendahara Seri Maharaja Tun Isap Misai. Sebagai tambahan, jabatan bendahara dalam pemerintahan Kerajaan Melayu merupakan jabatan tertinggi kedua di bawah sultan. Di antara tinggalan sejarah di sepanjang Sungai Johor, tantangan terbesar di Bukit Seluyut inilah karena kita harus menaiki bukit yang agak terjal juga. Walaupun begitu, kesan yang diperoleh tetaplah menyenangkan dan membahagiakan.

*****

MASYARAKAT, termasuk anak-anak sekolah, sudah lebih kurang satu jam menanti rombongan Bengkel Kembara Wangsa di dermaga (di Malaysia disebut jeti) Kota Panchor (baca: Pancur). Kota Panchor menjadi persinggahan selanjutnya setelah rombongan meninggalkan Bukit Seluyut. Kota Panchor terletak di atas Bukit Tukul kurang lebih 14 km dari Bandar Kota Tinggi. Kalau kita menghilir Sungai Johor, posisinya di tebing kiri sungai yang menjadi saksi bisu pelbagai peristiwa bersejarah yang dilakoni dan dialami oleh bangsa Melayu ratusan tahun silam. Disebut nama Panchor, saya teringat akan nama kota di Lingga Utara, nama jalan di Tanjungpinang, dan nama kampung di Batam. Rupanya, orang Melayu tempo dulu suka memberi nama yang sama bagi tempat-tempat mereka bertebaran dan bermastautin di kawasan Kerajaan Johor-Riau-Lingga. Kebiasaan itu kini sering dilakukan masyarakat Jawa perantauan bagi nama kampung yang mereka diami di seluruh nusantara.

Begitu speed boat rombongan Bengkel merapat di dermaga Kota Panchor, terlihat durja-durja yang cerah dan berseri masyarakat tuan rumah—tua-muda, besar-kecil, dan laki-laki-perempuan—menyambut tamu yang memang telah dinanti-nantikan sejak tadi. Senyum yang diselingi dengan ketawa berderai sanak saudara membuat sukma berbunga-bunga. Anak-anak sekolah melambaikan bendera berukuran kecil dua macam: bendera Malaysia dan bendera Kerajaan Negeri Johor. Untuk diketahui, setiap kerajaan negeri di Malaysia (setingkat propinsi) memiliki bendera masing-masing. Memang tak ada penyambutan secara adat seperti di Kampung Makam tempat bersemayamnya Marhum Mangkat Dijulang, yang masyarakatnya menyambut dengan taburan beras kunyit dan pukulan kompang. Tidak, di Kota Panchor upacara penyambutan seperti itu tak dilakukan, tetapi kemesraannya tak kalah dengan masyarakat di tempat-tempat sebelumnya.

Azan zuhur berkumandang. Tamu dan tuan rumah berbaur melaksanakan salat zuhur berjamaah. Setelah itu, para tamu dipersilakan memasuki gedung semacam balai pertemuan untuk menikmati tambul (makanan kecil) berupa mie goreng dan minuman berupa kopi, teh, dan sirup yang dapat dipilih sesuai dengan selera dan kebiasaan minum masing-masing. Dalam hati, saya bertanya juga, “Mengapakah tambul yang disajikan, tak adakah acara makan tengah hari yang sesungguhnya (maksudnya, nasi dan lauk-pauk)?” Tiada, memang tak ada acara makan siang di Kota Panchor. Akan tetapi, tambul pun jadilah daripada tak ada sama sekali, bukan? Masalahnya bukan kemaruk pula. Bagi penginap penyakit maag yang agak kronis macam saya, kalau tak dapat nasi pada jam segitu memang agak tersiksa. Tak pula boleh yang lain, harus nasi. Itulah susahnya. “Alangkah penting artinya nikmat kesehatan yang dianugerahkan Allah,” hati saya berbisik.

Selesai menikmati tambul yang cukup lezat, kami berziarah ke Makam Sultan Abdul Jalil I yaitu Sultan ke-4 Kerajaan Johor-Riau (1570—1571) dan Makam Tengku Dara Putih. Itulah di antara tinggalan bersejarah yang terdapat di Kota Panchor.

Panchor menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Johor-Riau-Lingga pada masa Sultan Abdul Jalil Riayat Syah IV (1699—1718). Sebagai bandar perdagangan, Panchor tempo dulu banyak dikunjungi pedagang dari Eropa, Asia, dan nusantara. Kota ini pada 1718 diserang oleh Raja Kecil dari Siak, yang mengaku sebagai putra Sultan Mahmud Mangkat Dijulang. Sultan Abdul Jalil beredar ke Pahang, kemudian mangkat di Kuala Pahang.

Anak-anak sekolah melambai-lambaikan bendera kecil ketika speed boat kami meninggalkan jeti Kota Panchor. Semuanya dengan wajah berseri-seri dan merona seperti halnya kami. Agaknya, ada rasa puas sampai ke batin setelah bertemu walaupun sekejap dalam takaran waktu. “Inilah kami, Encik-Encik, Puan-Puan, Tuan-Tuan, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, putra-putri yang tetap setia di tempat yang suatu ketika dulu panji-panji kebesaran Melayu pernah berkibar demikian jayanya!” Agak-agak mereka hendak mengatakan itu dengan mengibarkan bendera-bendera. Mudah-mudahan memang itu yang ada di lubuk hati mereka yang terdalam.

Namanya juga perahu laju. Hanya sekejap ia bergerak perlahan dari jeti Kota Pancur. Sesudah itu, ia melesat bagai menitis di air Sungai Johor untuk menuju ke tempat kunjungan terakhir hari itu. Apalagi, pertemuan sungai dan laut di sekitar Panchor itu memang jauh lebih lebar dan dalam sehingga perahu laju dapat bergerak dalam kecepatan yang maksimal. Hendak ke mana? Ke mana lagi kalau bukan ke Johor Lama.

Kalau kita menghilir Sungai Johor, Johor Lama berada sekitar 27 km dari Bandar Kota Tinggi. Jika kita menggunakan jalan darat dari Kota Tinggi—Pengerang—Pekan Teluk Sengat, jaraknya kurang lebih 30 km.

Masyarakat sudah menyemut di jeti Johor Lama ketika kami merapat. Seperti di Panchor tak seorang pun terlihat bermuram durja. Senyum dan ketawa begitu lepas ketika kami bersalam-salaman di ruang tunggu pelabuhan. Taburan beras kunyit menjadi pengungkap rasa syukur dan ikhlas tuan rumah menyambut saudara-maranya yang baru tiba. Lebih dari itu, pada siang menjelang petang itu, ada pemandangan yang tak boleh diabaikan. Saya menjeling mesra pada hidangan makan siang yang sudah disediakan oleh masyarakat Johor Lama. Aroma dan tampilannya sungguh memikat sukma apalagi dalam keadaan lapar dan dahaga yang memang sudah diambang batas toleransi.

Akan tetapi, nanti dulu. Semuanya belum boleh dinikmati. Tuan rumah punya hajat kultural untuk menyuguhkan marhaban dan tarian yang dipersembahkan anak-anak sekolah rendah (sekolah dasar). Menyaksikan persembahan itu, saya dan semua rombongan jadi lupa makan. Rupanya, makanan rohani jauh lebih lezat daripada sekadar makanan badani, yang tadi bagai sangat diharapkan. Seperti di tempat kita, anak-anak yang menari itu begitu memesona dan di pundak merekalah kelak kesenian Melayu akan diletakkan untuk kemudian dikembangkan sebagai pengekal jatidiri Melayu di nusantara ini.

Usai acara kesenian, para tamu dan tuan rumah berbaur untuk makan siang bersama. Ada pelbagai lauk-pauk, juadah, dan minuman. Umumnya sama dengan di tempat kita, makanan laut. Namun, hati saya sungguh tertawan pada lauk belangkas masak goreng berlada. Belangkas? Seingat saya, hanya sekali-dua pernah menikmati belangkas di kala kecil. Sesudah itu, belangkas raib dari perairan di tempat kelahiran saya. Tinggallah saya melihat kulit belangkas menjadi penghias dinding di rumah Datuk (Kakek) saya. Itu pun kini entah ke mana perginya. Eh, di Sungai Johor, khususnya di Johor Lama, belangkas masih bertimbun lahak. Alhasil, itulah lauk yang paling banyak saya santap siang itu. Hendak dikatakan kemaruk pun tak apalah.

Kota Johor Lama terletak di puncak bukit. Sebagian tembok kotanya terletak di Tanjung Batu (Haaa, kan sama dengan yang ada di Kundur?). Johor Lama didirikan pada 1540 oleh Sultan Alauddin Riayat Syah II (1528—1564). Di Johor beliau dikenal sebagai Sultan Johor pertama. Sebetulnya, ayahnda bagindalah Sultan Johor-Riau yang pertama yaitu Sultan Mahmud. Hanya, Sultan Mahmud mendirikan pusat pemerintahan di Bintan. Pada era pemerintahan Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Syah II (1571—1597) Johor Lama kembali dijadikan pusat pemerintahan. Pada 1576 dan 1578 Portugis menyerang kota ini, tetapi pasukan penjajah itu dapat dikalahkan oleh tentara Melayu. Pada 15 Agustus 1587 Potugis kembali menyerang dan kali ini dari tiga penjuru. Terjadi pertempuran sengit satu bulan. Malangnya, “Si Dara Jelita” Johor Lama dapat direbut oleh pasukan penjajah itu. Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Syah II memindahkan pusat pemerintahan Johor-Riau ke Batu Sawar yang sudah kita kunjungi tadi.

*****

BUS penjemput telah disediakan di perhentian dekat dengan jeti Johor Lama. Pusat pemerintahan pertama Kerajaan Johor-Riau di Semenanjung Melayu itu menjadi tempat terakhir yang dikunjungi peserta Bengkel. Rombongan dikembalikan dengan bus menuju The Pulai Desaru Beach, Bandar Penawar, Johor, tempat acara sekaligus tempat menginap. Sampai di hotel hari pun petang menjelang malam. Penat? Seharus iya, tetapi aneh, tak sedikit pun berbekas keletihan di wajah para peserta. Buktinya, sejam kemudian ketika bertemu di acara makan malam, semua peserta kelihatan gembira dengan durja yang merona bahagia. Jamuan makan malam menjadi istimewa karena selain diikuti oleh semua pejabat tinggi Kerajaan Negeri Johor (sama dengan pejabat eselon I dan II di Indonesia), wakil rakyat (anggota DPRD), dan pejabat tertinggi sampai terendah Kota Tinggi, juga dihadiri oleh orang nomer satu dalam jajaran eksekutif Kerajaan Negeri Johor yaitu Menteri Besar Johor, Yang Amat Berhormat (YAB) Datuk Hj. Abdul Ghani bin Othman.

Sebetulnya, YAB sudah berencana untuk memimpin langsung lawatan di sepanjang Sungai Johor. Namun, karena mendadak ada acara yang sangat mustahak, terpaksalah pimpinan lawatan diwakilkan kepada pejabat setingkat di bawah jabatannya. Beliau mengaku sangat kecewa karena tak dapat bersama peserta sejak pagi hari. Kemudian, barulah kami tahu bahwa begitu sudah menapak di tempat acara, beliau tak pulang-pulang ke Johor Bahru sampailah acara usai. Luar biasa Datuk! Ada lagi, acara makan malam yang dilengkapi suguhan kesenian berupa tarian dan nyanyian dari kelompok kesenian binaan Yayasan Warisan Johor itu ditutup dengan dua buah lagu alunan suara merdu YAB, setelah beliau meminta semua anak buahnya satu per satu untuk bernyanyi. Malam jadi penuh canda dan ketawa antara tuan rumah dan tamu, antara atasan dan bawahan, tak serambut pun ada pembatas tembok beku birokrasi.

Selasa, 11 Agustus 2009, sejak pukul 8.00 waktu Malaysia, kegiatan Bengkel dimulai dengan pembentangan kertas kerja oleh para pemakalah. Saya mendapat giliran keempat untuk menyajikan makalah. Kegiatan ini berlangsung sampai rehat salat zuhur dan makan siang. Bakda zuhur kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok, yang pesertanya dibagi atas lima kelompok kerja, masing-masing diberi nama sesuai dengan tempat bersejarah di Kerajaan Johor-Riau, termasuk Kelompok Penyengat. Diskusi kelompok itu berlangsung sampai Rabu petang, 12 Agustus 2009.

Peserta diskusi kelompok adalah semua pejabat Kerajaan Negeri Johor (tingkat propinsi), semua pejabat Kota Tinggi dari yang tertinggi (setingkat bupati atau walikota, kepala-kepala dinasnya sampai kepada kepala-kepala kampung karena Kota Tinggi merupakan tuan rumah yang lokasi tapak sejarah di sepanjang Sungai Johor berada dalam wilayah Kota Tinggi, instansi swasta, pengurus Yayasan Warisan Johor, lembaga swadaya masyarakat, kalangan pers, dan lain-lain. Yang menarik bagi saya, untuk urusan yang berkaitan dengan kebudayaan dan pelancongan ini, semua pejabat dilibatkan—propinsi dan kabupaten—tak hanya yang mengurus masalah kebudayaan dan pariwisata, sungguh suatu fenomena yang jarang terjadi di Indonesia. Apalagi, pejabatnya aktif memberikan kontribusi pemikiran untuk pembangunan yang akan dilaksanakan.

Inilah rahasianya. Abdul Ghani Othman tak hanya dikenal sebagai politisi di Malaysia. Beliau juga seorang intelektual. Putra kelahiran Pekan Sungaimati, Muar, Johor Darulta’zim itu adalah sarjana ekonomi-politik lulusan Queensland University. Beliau awalnya berkhidmat sebagai dosen di Universiti Malaya dan menjadi Dekan Fakulti Ekonomi dan Pentadbiran pada 1980—1982. Beliau baru terjun ke dunia politik pada Juli 1986 dan dilantik sebagai Ahli Dewan Negara. Sebagai intelektual, Abdul Ghani menerbitkan buku, antara lain, Pembangunan Holistik: Dimensi Kebudayaan (MPH Group Publishing Sdn Bhd, Petaling Jaya, Selangor, 2008).

Sesuai dengan faham pembangunan yang diyakini dan diamalkannya, suatu aspek pembangunan mesti dirancang dan dilaksanakan dengan ancangan yang menyeluruh (holistik). Dalam menjelaskan fahamnya itu, dia menyebutkan, “Pembangunan negara dan bangsa mesti meliputi semua aspek kehidupan yang saling berkait dengan amat erat—politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama. Keseluruhan sistem kehidupan adalah kesatuan yang padu dan utuh, yang menyeluruh dan tidak terpisahkan, yang difahami sebagai the sum is more than the total of its parts.”

Tak heranlah mengapa Menteri Besar Johor ini menerapkan pembangunan yang didekati dengan pelbagai dimensi keilmuan secara menyeluruh. Dengan demikian, pembangunan kebudayaan dan pelancongan pun harus melibatkan pelbagai disiplin ilmu yang saling mendukung. Oleh sebab itu, dalam perencanaan dan pelaksanaannya tak hanya harus melibatkan Yang Berhormat (YB) Puan Asiah Mohd. Ariff sebagai Pengerusi Jawatankuasa Kemajuan Luar Bandar dan Wilayah, Kesenian, Kebudayaan, dan Warisan Negeri Johor sebagai pejabat yang bertanggung jawab, tetapi semua dinas dan instansi Negeri Johor. Lebih hebat lagi, Menteri Besar terlibat langsung sebagai peserta diskusi aktif dengan mengajukan pertanyaan dan tanggapan dalam semua sesi yang diadakan selama dua hari dua malam, tanpa sekali pun memakai baju dinas dan tanda kebesaran sehingga terkesan seperti peserta biasa. Bukan main!

BKW ditutup pada Rabu malam, 12 Agustus 2009. Pada malam penutupan itu dibacakan hasilnya yang disebut “Resolusi Sungai Johor”. Di antara Resolusi itu ialah (1) memberi keutamaan kepada orang Melayu di sepanjang Sungai Johor supaya terlibat secara langsung dan menikmati manfaat dalam pembangunan industri pelancongan, (2) memberikan pelatihan dan pendidikan yang berterusan kepada penduduk Melayu tempatan supaya mengeksploitasi peluang perniagaan yang wujud, (3) menubuhkan institut penyelidikan mengenai Johor dan Kepulauan Riau yang disebut The Royal Institute of Johor, Riau-Lingga (RIJRL), (4) memantapkan hubungan kerja sama antara Johor dan Kepulauan Riau melalui pelbagai mekanisme yang terancang, dan lain-lain. Resolusi itu ditandatangani langsung oleh YAB Menteri Besar Johor.

“Pak, bagaimana sebetulnya susur galur Raja-Raja Johor-Riau ini?” saya terkejut tiba-tiba Menteri Besar sudah ada di samping kanan saya ketika saya sedang makan. Padahal, beliau sudah disediakan meja makan khusus. Kami terlibat percakapan tentang Kerajaan Johor-Riau-Lingga sambil YAB mempersilakan saya terus makan. Tentu saja saya kikuk menghadapi situasi itu karena selama ini tak pernah ditemani makan oleh pejabat tinggi walaupun sebaliknya saya sering menemani atau makan bersama pejabat tinggi. Selesai makan, saya, juga pemakalah lain, yang memang belum makan diajak ke meja makan beliau dan perbincangan terus dilakukan sambil menikmati makanan. Begitulah Abdul Ghani Othman, tak puas atau tak selesai di ruang diskusi, beliau melanjutkan percakapan di meja makan, konsisten dengan pertanyaan dan gagasan yang bernas.

Batin saya berkata, Malaysia yang pemerintahannya berbentuk monarchi, pejabatnya ternyata sangat egaliter. Dalam pada itu, saya terkenang akan kawan-kawan saya yang dulu pernah senasib sepenanggungan, seperiuk-setikar pandan, sesajadah-semesjid kelam. Di antara mereka ada yang sudah menjadi anggota legislatif dari daerah sampai ke pusat, yang menjadi eksekutif dari kepala daerah sampai pimpinan dinas instansi. Walau bernaung di dalam negara yang berbentuk republik, faham egalitarianisme masih jauh dari diri mereka. Masih sukakah mereka saya sapa dengan kata kawan? Entahlah!***


oleh Abdul Malik pada 10 November 2011 jam 1:13
Batam Pos, Ahad, 23 Agustus, 27 September, dan 4 Oktober 2009
Read more ...

Jumat, November 25, 2011

Riuh Rendah Tok Tim

Riuh rendah. Itulah suasane yg trjadi di Balai Pemuda, tempat berlangsungnye ceramah yg ditaja oleh pemuda kampong Tok Tim minggu lepas. Tambah semarak lagi dg suare tepok tangan hadirin manekale di sesi tanye-jawab seorang pemude bertanye dg menyoal sikap anti kritik yg melekat pd sebagian generasi tue. "Itu sikap jumud, anti kemapanan", kate pemude td berapi-api. Tok Tim menyimak dg seksame, utk kmudian menjawab pelan. "Bagus, itulah yg hendak saye paparkan disini. Jadi, dari 4 kaidah ttg mulienye org hidup dlm ceramah saye td, baiklah kite genapkan saje dg kaidah kelime, yaitu kebesaran jiwe dlm mengakui kesalahan dan kerendahan hati dlm mengakui kekurangan yg disertai sikap tulus dlm maaf", kate Tok Tim. Panjang-lebar Tok Tim mengurai dg mendedah sikap org tue dulu yg dinilai anti kritik melalui telaah budaye dan kesenjangan tingkat pendidikan; sedangkan di sisi lain Tok Tim juge menyorot sikap sebagian org2 mude yg menanggalkan dan meninggalkan sikap santun dlm menyampaikan kritik. Uraian Tok Tim yg berimbang, tdk berat sebelah tadi nampak diamini oleh hadirin, baik org2 tue yg merase tdk kehilangan muke, maupun oleh yg mude krn merase suare batinnye dah tersalurkan. Menjelang acara usai, beberape org pemude datang menyalami Tok Tim. Seorang diantaranye bertanye : "Tok balek dengan siape? Nak saye antar?". "Toksah lah, itu ade Awang", kate Tok Tim sambil menunjok ke arah Awang yg siap mengepakkan tangkai payong karena kat luar gedung dah mulai turon hujan. ..{~}

Zainuddin Abuhassan
Celoteh Tok Tim
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Rabu, November 23, 2011

MAKAN PASIR

AWANG naik dan masuk ke rumah mengendap-endap. Tak lama di dalam rumah, dia keluar lagi dari pintu belakang, melalui dapur, terus ke belakang rumah menuju perigi untuk mandi. Sekujur badan dan pakaiannya berkubang, berselekeh, terkena tanah dan pasir. Sejak pulang dari sekolah dia pergi bermain bersama kawan-kawan sebayanya. Bakda magrib, baru dia pulang. Keadaan di perigi gelap ketika dia mandi. Bagi Awang mandi di kegelapan malam tak pernah menyulitkannya. Semua orang kampungnya terbiasa dengan keadaan itu. Tak heranlah matanya bagaikan mata musang yang dapat melihat jelas di kegelapan malam.

Sekejap saja dia mandi, sekadar bersiram, membasuh badan dan kepala ala kadarnya. Bersabun pun dia tidak. Dia naik ke rumah terus ke biliknya untuk bersalin pakaian. Dia keluar lagi menuju dapur dan bersila menghadapi tudung saji. Dengan takzim Awang membuka tudung saji. Alangkah terkejutnya dia.

Ibu dan bapaknya yang telah selesai salat Magrib memandang tingkah laku anak laki-laki mereka itu tanpa berkata sepatah pun. Ekor mata mereka saja yang mengikuti segala gerak-geri Awang.

“Mak, tak ada makanankah? Awang lapar betullah Mak?” dia bertanya kepada ibunya karena di bawah tudung saji tak ada makanan. Biasanya sesusah-susahnya hidup mereka, kalau tak ada nasi, sagu dan lauk-pauk sekadarnya pasti ada.

“Apa? Makan? Tahu lapar juga ya!” jawab ibunya. Kan engkau membawa pasir di badan dan pakaian yang engkau pakai tadi? Sudah Emak cakap, kalau hendak bermain, selesai salat Asyar dan harus balik sebelum Magrib. Anak seumur engkau memang harus bermain, tetapi harus ada peraturan. Sudah sembilan tahun umur engkau, tak salat pula. Asyar tinggal, Magrib pun luput. Isya nanti pasti tak salat, sudah mengantuk karena penat. Belajar di rumah tak pernah nampak lagi akhir-akhir ini. Tak menunaikan salat, sudah besar nanti hendak jadi apa? Jadi pengikut iblis, punggawa setan ya? Ini semua salah bapak dia, terlalu memanjakan anak. Tak ada makanan malam ini. Kalau hendak makan, engkau makan pasir di bajumu saja!” ibunya bingkas berdiri lalu masuk ke bilik.

Si Awang besarlah sudah. Bukan hanya badannya yang besar, dia pun telah menjadi orang besar. Rumahnya juga besar dengan bilik yang besar-besar. Ruang makannya pun besar, tak seperti rumah orang tuanya dulu yang ruang makannya menyatu dengan dapur dan dibatasi sedikit saja dengan ruang tengah. Itu rumah yang dibangun di kampungnya. Rumahnya di tempat lain jauh lebih besar. Dia sengaja membeli rumah besar-besar di tempat lain karena tahu kampungnya kian mengecil. Suatu hari kelak tak ada lagi tempat yang layak dihuni, apalagi bagi orang besar seperti dirinya. Kebesarannya dilengkapi dengan beberapa kereta (mobil) yang juga besar-besar. Duitnya semuanya duit besar. Sesekali dia bersedekah duit kecil-kecil kepada orang-orang kecil agar kebesarannya terawat. Kalau bercakap pun sekarang, dia suka berkata besar.

Apakah rahasia Awang membesar begitu rupa? Dahulu walau disuruh makan pasir, dia tak pernah berani memakannya. Mana mungkin pasir dimakan, pikirnya. Kemudian, dia berubah pikiran. “Baik kucoba makan pasir,” dia membatin, “mana tahu dengan makan pasir, aku boleh membesar dengan cepat. Soalnya, selalu minum susu Cap Nona pun tak membuatku membesar.” Betul, dia makan pasir: sekali, dua, terus berkali-kali sampai ketagihan. Sejak itu, dia tak pilih-pilih: pasir darat, pasir sungai, pasir laut dihembatnya semua. Hebatnya lagi, kala hendak makan pasir dibayangkannya makan makanan yang lezat di restoran besar. Tiba-tiba, dia sudah berada di restoran besar dan menikmati makanan yang lezat pula, persis yang ada dalam pikirannya. Bahkan, rumah besar, kereta besar, tanah besar, dan duit besar yang dibayangkannya kesemuanya terwujud. Ajaib sungguh makan pasir.

Setelah jadi orang besar, Awang menjadi aset nasional. Kawan-kawannya pun semuanya orang besar-besar yang bermain di peringkat nasional. Kalau dulu kawan-kawannya Bujang, Atan, Borol, Dara, Bangkup, Comel, yang budak-budak sekampungnya saja. Kini kawan-kawan semasa kecilnya itu tak menjadi kawannya lagi, tak selevel-lah, malah menjadi musuhnya, kecuali Borol dan Bangkup yang menjadi kaki-tangannya. Kawan-kawan barunya kini ada Joko, Ucok, Buyung, Akang, Koko, dan masih banyak lagi. Mereka membentuk organisasi: Kelab Pemakan Pasir. Mereka berbagi-bagi ladang pasir.

Jaringan mereka tak hanya di dalam negeri. Di Negeri Seberang banyak juga anggotanya. Kalau berkunjung ke Negeri Seberang, Awang disambut bagaikan Tuan Besar, ditempatkan di hotel besar, naik kereta besar, dan makan besar di restoran besar. Pasalnya, geng mereka di Negeri Seberang merasa berutang budi kepada Awang yang telah menjadikan mereka makin besar karena makan pasir besar. Anehnya lagi, tinja mereka yang meresap di tanah mereka menyebabkan Negeri Seberang bertambah besar, bertambah luas, jauh lebih luas dari kampung Si Awang lagi. Tak heranlah mereka mendapat untung besar.

Dalam pada itu, kawan-kawan lamanya, Bujang, Atan, Dara, dan Comel melakukan gerakan perlawanan. Mereka menggiring opini publik bahwa gerakan makan pasir itu berbahaya, primitif, tergolong kejahatan kemanusiaan. Pulau-pulau menjadi makin kecil karena abrasi pantai. Lingkungan tercemar, habitat air punah, pendapatan nelayan menurun, dan marwah bangsa tergadai. “Gerakan menjual tanah (dan) air ini harus segera dihentikan. Selamatkan negara dari gerakan barbar. Pulau-pulau terluar harus terjaga, masyarakatnya jangan ditelantarkan. Gerakan makan pasir ini harus dimusnahkan sampai ke akar-akarnya!” pekik mereka setiap hari. Perlawanan Bujang dkk. mendapat peliputan luas oleh media dalam dan luar negeri, cetak dan elektronik.

Awang tak kehabisan akal. Dia membuat gerakan tandingan. Borol dan Bangkup diutus untuk meyakinkan masyarakat agar tak terpengaruh provokasi Bujang dkk. Masyarakat diberikan 100 ribu rupiah sebulan setiap keluarga. “Ambil saja,” bujuk Borol, “kalau Awak menangkap ikan di laut belum tentu dapat segini. Banyak duit yang diberikan Tuan Besar Awang ini.” Masyarakat pun banyak yang termakan bujuk rayu itu.

Bujang dkk. terus bergerak. Mereka mengirim surat protes ke Istana. Akhirnya, pihak Istana rinsa (gerah) juga. Alhasil, gerakan makan pasir, terutama pasir laut, dinyatakan haram. Sejak ketentuan itu diterbitkan, siapa yang melanggarnya akan dihukum.

Awang cs. masih banyak helah. Mereka terus berunding di dalam dan luar negeri. Soalnya, mereka betul-betul sudah ketagihan makan pasir bagai ketagihan narkoba. Akhirnya, diperolehlah ide besar: pendalaman alur laut. Dengan pendalaman alur laut, kapal besar-besar dalam dan luar negeri akan dapat berlabuh. Devisa negara akan masuk bagai dicurahkan dari langit. Rakyat akan sejahtera. Itulah iklan mereka. Dewan rakyat pun tergoda oleh iklan itu dan mereka telah pun mengetukkan tukul ke kepala masing-masing berkali-kali tanda bersetuju. Konon, anggotanya yang bernama Markus yang paling nyaring berteriak bersetuju. Awang pun telah membayangkan lemaknya makan pasir kembali. Tak sesiapa pun yang dapat menghalangi rencananya lagi. Dari Negeri Seberang telepon terus berdering.

Tiba-tiba, Ahad lalu Batam Pos menurunkan Liputan Khusus tentang penambangan pasir. “Menggali Kubur untuk Anak Cucu” tajuknya. Bagai terbakar membacanya, Awang jadi rinsa. Jangan-jangan masyarakat terpengaruh setelah membaca tulisan itu. Akibatnya, rencana besarnya boleh jadi gagal.

Ibunya baru tahu perilaku aneh anaknya selama ini. Perempuan tua itu sangat malu, air matanya pun menitik jatuh, terus mengalir jauh.

Pada saat yang sama, lidah Awang kecur hendak makan pasir. Macam orang mengidam rasanya. Dihadapinya pasir sebakul penuh. Entah mengapa, pasir di hadapannya tiba-tiba berubah menjadi ulat, lipan, lipas, dan bangkai tikus. Awang tak peduli. “Sedap juga ach!” katanya, sambil mengunyah dan menyantap hidangan khas itu.***


oleh Abdul Malik pada 10 November 2011 jam 23:15
Batam Pos, Ahad, 20 Juni 2010
Read more ...

Agame tu mudah

"Agame tu mudah, tp jangan pulak dimudah-kan. Semue agame punye penekanan akhlak, dan akhlak dlm Islam adelah malu"... panjang lebar Tok Tim bepetuah ke Amir, anak Ngah Kadir selepas Isya semalam. Kawan sepermainan Awang mase kcik2 dulu tu mmg banyak berubah sejak balek dr pesantren stlh 3 taon menuntot ilmu agame di tanah Jawe sane. Karena dianggap banyak paham ilmu agame, Amir slalu dimintak membri ceramah kat surau. Bukannye menyejukkan hati, ceramah2nye malah balek menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat kampong. Cium tangan org.tue tak pernah diajarkan Nabi, katenye; menyembah org.tue itu same dg syirik kpd Allah... tahlil utk org yg meninggal itu bid'ah.,, dan berbagai pernyataan lainnye membuat heboh jama'ah surau dan pendudok kampong. Takot anaknye terkucil dr pergaulan masyarakat, make Ngah Kadir sngaje menyuruh Amir berdiskas dg Tok Tim, dg harapan dpt membetolkan supaye Amir dlm berdakwah. "Ingat tu Mir, pesan2 agame mesti nak disampaikan dg care bijak, sesuai sabda Rasul : sampaikan risalahku sesuai dg 'bahase' umat, baik bahase dr segi lughah atau lisan, maupun bahase dlm pengertian adat istiadat", kate Tok Tim. Tak jelas pulak dek Awang, sampai pukol berape 2 generasi tu bebual semalam, krn dah ngantok sangat langsong tinggal tidor. ...{~}

Zainuddin Abuhassan
Celoteh Tok Tim
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Artikel bersempena