Minggu, November 27, 2011

BENGKEL KEMBARA WANGSA: WARISAN RIAU-LINGGA-JOHOR

KERAJAAN Negeri Johor pada 10—12 Agustus 2009 menyelenggarakan Bengkel (Workshop) Kembara Wangsa: Pembangunan Tapak-Tapak Sejarah di Sepanjang Sungai Johor. Penyelenggara kegiatan adalah Yayasan Warisan Johor, suatu badan yang berada di bawah Menteri Besar (setingkat gubernur, A.M.) Johor. Kembara wangsa itu sendiri ditakrifi sebagai gambaran perjalanan, pengembaraan, dan perpindahan bangsa Melayu sejak 1511 satu lokasi ke lokasi lain, dari satu pusat pemerintahan ke pusat pemerintahan yang lain pada zaman pemerintahan Kesultanan Melayu Johor-Riau atau Riau-Johor dari Sungai Johor hingga ke Kepulauan Riau yang meninggalkan tapak-tapak (jejak-jejak) sejarah tinggalan warisan silam. Matlamat yang hendak dicapai oleh Bengkel ini adalah untuk memperoleh pandangan-pandangan dan rencana-rencana yang konkret, yang dapat dijadikan rujukan dan pedoman oleh Kerajaan Negeri Johor untuk melaksanakan pembangunan tapak-tapak sejarah di sepanjang Sungai Johor sebagai destinasi pelancongan (pariwisata).

Untuk mencapai matlamat itu, Panitia mengundang lima orang pembicara. Para pembentang makalah itu terdiri atas Prof. Dr. Abdullah Zakaria Ghazali (Universiti Malaya, Kuala Lumpur), Prof. Datuk Dr. Nik Hassan Suhaimi Abd. Rahman (Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur), Prof. Dr. Amran bin Hamzah (Universiti Teknologi Malaysia, Johor Bahru), Abdul Malik (Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang), dan Tuan Hj. Azam bin Mohd. Abid (Pengarah Jabatan Perancangan Bandar dan Desa Johor). Saya diminta membentangkan makalah “Kemungkinan Kerja Sama Kepulauan Riau-Johor dalam Pembangunan Pelancongan”. Selain itu, dari Kepulauan Riau juga diundang peserta aktif yang terdiri atas Rektor UMRAH, Dra. Hj. Isnaini Leo Shanty (Dosen UMRAH), Hj. Djuraida Idris (Ikatan Keluarga Besar UMRAH), R. Malik Hafrizal R. Hamzah (Balai Kajian Sejarah, Penyengat Indrasakti, Kepulauan Riau), dan Basyaruddin Idris (Majelis Belia Melayu Kepulauan Riau).

Mengawali kegiatan pada Senin, 10 Agustus 2009, semua peserta dibawa menyusuri Sungai Johor seraya mengunjungi tapak-tapak sejarah di sepanjang sungai itu. Dengan pengawalan keselamatan yang sangat menyenangkan, para peserta Bengkel diberangkatkan dari dermaga Kota Tinggi. Dari situ rombongan yang diangkut dengan speed boat yang berperangkat keselamatan lengkap dibawa menuju ke hulu sungai untuk berziarah ke makam Megat Seri Rama atau di Johor lebih terkenal dengan sebutan Laksemana Bentan, yang terdapat di Kampung Kelantan, kurang lebih 2 km dari Bandar Kota Tinggi. Dengan demikian, dugaan masyarakat Bintan bahwa di Komplek Makam Bukit Batu, Bintan terdapat makam Megat Seri Rama menjadi tak berdasar karena makam beliau ternyata di Kampung Kelantan, Kota Tinggi, Johor.

Megat Seri Rama mencapai jabatan tertinggi sebagai Laksemana atau Panglima Angkatan Laut Kerajaan Johor pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah II. Megat Seri Rama meninggal pada 29 Oktober 1698 setelah beliau menikam Sultan Mahmud karena menuntut bela atas kematian istrinya, Dang Anum, yang dibunuh oleh Tun Bija Ali atas perintah Sultan Mahmud pada 23 Oktober 1698. Pasalnya, Dang Anum makan seulas nangka milik Sultan karena mengidam ketika hamil anak sulung. Megat Seri Rama meninggal karena kena lemparan keris Sultan Mahmud di ujung ibu jari kakinya dan disumpah muntah darah oleh Sultan. Sumpah itu berlaku kepada tujuh keturunan Laksemana, tak boleh menginjakkan kaki di Kota Tinggi dan atau Johor Lama, yang kalau dilanggar akan muntah darah. Sultan Mahmud juga mangkat karena ditikam oleh Megat Seri Rama ketika dijulang. Itulah sebabnya, setelah mangkat Baginda disebut Marhum Mangkat Dijulang. Peristiwa itu merupakan yang paling tragis dalam sejarah Melayu sepanjang masa, jauh lebih tragis daripada perlawanan Hang Jebat terhadap Sultan Melaka. Pusara Laksemana Bentan dan istrinya tercinta, Dang Anum, bersanding mesra di Kompek Makam Kampung Kelantan.

Dari Kampung Kelantan rombongan dibawa menghilir ke Kampung Makam Kota Tauhid, Kota Tinggi. Di Kampung ini terdapat dua makam penting yaitu Makam Sultan Mahmud Mangkat Dijulang dan Makam Tun Habib Abdul Majid. Kota Tauhid menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Johor-Riau ke-7 yaitu pada era pemerintahan Sultan Abdul Jalil Syah III (1623—1677) dan Sultan Mahmud Syah II (1685—1699). Kala itu bendaharanya adalah Bendahara Sri Maharaja Tun Habib Abdul Majid dan Bendahara Paduka Raja Tun Abdul Jalil. Kota Tinggi kala itu didatangi oleh banyak sekali pedagang dari pelbagai negara seperti Cina, Inggris, India, Arab, Eropa, dan Kepulauan Nusantara (di Malaysia disebut Kepulauan Melayu). Portugis pernah beberapa kali menyerang Kota Tinggi, tetapi dapat dikalahkan oleh tentara Johor-Riau. Komplek Makam Sultan Mahmud Mangkat Dijulang berdiri tesergam di samping kiri Mesjid Kampung Makam dan merupakan komplek makam termegah di sepanjang Sungai Johor.

Menghilir Sungai Johor kira-kira 3 km dari Kota Tinggi terdapat Kota Batu Sawar. Kota ini dibangun setelah Kerajaan Johor-Riau kalah dari Portugis pada 1587. Batu Sawar menjadi pusat pemerintahan Johor-Riau semasa Sultan Alauddin Riayat Syah III (1597—1615) dan menjadi tempat berdirinya istana Sultan Abdul Jalil Syah III (1623—1677). Batu Sawar juga banyak didatangi pedagang mancanegara ketika menjadi ibukota Kerajaan Johor-Riau. Pada 1608 tentara Potugis menyerang kota ini, tetapi kuasa asing itu dapat dikalahkan oleh tentara Johor-Riau. Pada 1613 Aceh dengan pasukan yang besar menyerang Batu Sawar sehingga terjadi peperangan selama 29 hari. Sultan Alauddin Riayat Syah III, Raja Abdullah adinda Baginda Sultan, dan Tun Seri Lanang ditawan dan dibawa ke Aceh. Pada 1673 tentara Kerajaan Jambi pula menyerang Batu Sawar yang menjadi tempat bersemayamnya Sultan Abdul Jalil Syah III. Batu Sawar tempo dulu laksana “nak dara jelita” yang senantiasa membangkitkan nafsu pihak luar untuk memilikinya dengan pelbagai cara dan helah. Johor-Riau memang senantiasa menawan, tak dulu tak sekarang, begitulah adanya. Kini di Batu Sawar terdapat Makam Sultan Alauddin Riayat Syah II, putera Sultan Mahmud Melaka yang juga sultan pertama Riau-Johor, yang berupaya membangun negara Melayu baru di Johor setelah kekalahan Melaka dari Portugis.

Kini kita menghilir sekitar 7 km dari Bandar Kota Tinggi ke tempat di antara kuala Sungai Seluyut dan Selat Medina. Di ketinggian sekitar 204 kaki dari paras air terdapat Kota Seluyut di atas Bukit Seluyut. Kota Seluyut menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Johor-Riau semasa Sultan Muzaffar Syah (1564—1570). Di kota ini pulalah Tun Muhammad atau yang terkenal dengan nama Tun Seri Lanang pengarang buku Sulalatu’s Salatin atau Sejarah Melayu itu dilahirkan. Sebagai pusat pemerintahan, Kota Seluyut hanya bertahan 7 tahun saja karena kemudian Sultan Ali Jalla Abdul Jalil memindahkan pusat pemerintahannya ke Tanah Putih selama 2 tahun, untuk kemudian dipindahkan lagi ke Johor Lama.

Di ketinggian Bukit Seluyut selain terdapat tinggalan Kota Seluyut, juga dijumpai Komplek Makam Tiga Beranak. Di makam itu bersemayam dengan damai dan tenang Sultan Muzaffar Syah, Raja Fatimah (adinda Sultan Muzaffar), dan Sultan Muzaffar Syah II yang disebut juga Marhum Seluyut yang meninggal ketika masih kecil. Di komplek yang terpisah terdapat satu makam lagi yaitu Makam Bendahara Seri Maharaja Tun Isap Misai. Sebagai tambahan, jabatan bendahara dalam pemerintahan Kerajaan Melayu merupakan jabatan tertinggi kedua di bawah sultan. Di antara tinggalan sejarah di sepanjang Sungai Johor, tantangan terbesar di Bukit Seluyut inilah karena kita harus menaiki bukit yang agak terjal juga. Walaupun begitu, kesan yang diperoleh tetaplah menyenangkan dan membahagiakan.

*****

MASYARAKAT, termasuk anak-anak sekolah, sudah lebih kurang satu jam menanti rombongan Bengkel Kembara Wangsa di dermaga (di Malaysia disebut jeti) Kota Panchor (baca: Pancur). Kota Panchor menjadi persinggahan selanjutnya setelah rombongan meninggalkan Bukit Seluyut. Kota Panchor terletak di atas Bukit Tukul kurang lebih 14 km dari Bandar Kota Tinggi. Kalau kita menghilir Sungai Johor, posisinya di tebing kiri sungai yang menjadi saksi bisu pelbagai peristiwa bersejarah yang dilakoni dan dialami oleh bangsa Melayu ratusan tahun silam. Disebut nama Panchor, saya teringat akan nama kota di Lingga Utara, nama jalan di Tanjungpinang, dan nama kampung di Batam. Rupanya, orang Melayu tempo dulu suka memberi nama yang sama bagi tempat-tempat mereka bertebaran dan bermastautin di kawasan Kerajaan Johor-Riau-Lingga. Kebiasaan itu kini sering dilakukan masyarakat Jawa perantauan bagi nama kampung yang mereka diami di seluruh nusantara.

Begitu speed boat rombongan Bengkel merapat di dermaga Kota Panchor, terlihat durja-durja yang cerah dan berseri masyarakat tuan rumah—tua-muda, besar-kecil, dan laki-laki-perempuan—menyambut tamu yang memang telah dinanti-nantikan sejak tadi. Senyum yang diselingi dengan ketawa berderai sanak saudara membuat sukma berbunga-bunga. Anak-anak sekolah melambaikan bendera berukuran kecil dua macam: bendera Malaysia dan bendera Kerajaan Negeri Johor. Untuk diketahui, setiap kerajaan negeri di Malaysia (setingkat propinsi) memiliki bendera masing-masing. Memang tak ada penyambutan secara adat seperti di Kampung Makam tempat bersemayamnya Marhum Mangkat Dijulang, yang masyarakatnya menyambut dengan taburan beras kunyit dan pukulan kompang. Tidak, di Kota Panchor upacara penyambutan seperti itu tak dilakukan, tetapi kemesraannya tak kalah dengan masyarakat di tempat-tempat sebelumnya.

Azan zuhur berkumandang. Tamu dan tuan rumah berbaur melaksanakan salat zuhur berjamaah. Setelah itu, para tamu dipersilakan memasuki gedung semacam balai pertemuan untuk menikmati tambul (makanan kecil) berupa mie goreng dan minuman berupa kopi, teh, dan sirup yang dapat dipilih sesuai dengan selera dan kebiasaan minum masing-masing. Dalam hati, saya bertanya juga, “Mengapakah tambul yang disajikan, tak adakah acara makan tengah hari yang sesungguhnya (maksudnya, nasi dan lauk-pauk)?” Tiada, memang tak ada acara makan siang di Kota Panchor. Akan tetapi, tambul pun jadilah daripada tak ada sama sekali, bukan? Masalahnya bukan kemaruk pula. Bagi penginap penyakit maag yang agak kronis macam saya, kalau tak dapat nasi pada jam segitu memang agak tersiksa. Tak pula boleh yang lain, harus nasi. Itulah susahnya. “Alangkah penting artinya nikmat kesehatan yang dianugerahkan Allah,” hati saya berbisik.

Selesai menikmati tambul yang cukup lezat, kami berziarah ke Makam Sultan Abdul Jalil I yaitu Sultan ke-4 Kerajaan Johor-Riau (1570—1571) dan Makam Tengku Dara Putih. Itulah di antara tinggalan bersejarah yang terdapat di Kota Panchor.

Panchor menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Johor-Riau-Lingga pada masa Sultan Abdul Jalil Riayat Syah IV (1699—1718). Sebagai bandar perdagangan, Panchor tempo dulu banyak dikunjungi pedagang dari Eropa, Asia, dan nusantara. Kota ini pada 1718 diserang oleh Raja Kecil dari Siak, yang mengaku sebagai putra Sultan Mahmud Mangkat Dijulang. Sultan Abdul Jalil beredar ke Pahang, kemudian mangkat di Kuala Pahang.

Anak-anak sekolah melambai-lambaikan bendera kecil ketika speed boat kami meninggalkan jeti Kota Panchor. Semuanya dengan wajah berseri-seri dan merona seperti halnya kami. Agaknya, ada rasa puas sampai ke batin setelah bertemu walaupun sekejap dalam takaran waktu. “Inilah kami, Encik-Encik, Puan-Puan, Tuan-Tuan, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, putra-putri yang tetap setia di tempat yang suatu ketika dulu panji-panji kebesaran Melayu pernah berkibar demikian jayanya!” Agak-agak mereka hendak mengatakan itu dengan mengibarkan bendera-bendera. Mudah-mudahan memang itu yang ada di lubuk hati mereka yang terdalam.

Namanya juga perahu laju. Hanya sekejap ia bergerak perlahan dari jeti Kota Pancur. Sesudah itu, ia melesat bagai menitis di air Sungai Johor untuk menuju ke tempat kunjungan terakhir hari itu. Apalagi, pertemuan sungai dan laut di sekitar Panchor itu memang jauh lebih lebar dan dalam sehingga perahu laju dapat bergerak dalam kecepatan yang maksimal. Hendak ke mana? Ke mana lagi kalau bukan ke Johor Lama.

Kalau kita menghilir Sungai Johor, Johor Lama berada sekitar 27 km dari Bandar Kota Tinggi. Jika kita menggunakan jalan darat dari Kota Tinggi—Pengerang—Pekan Teluk Sengat, jaraknya kurang lebih 30 km.

Masyarakat sudah menyemut di jeti Johor Lama ketika kami merapat. Seperti di Panchor tak seorang pun terlihat bermuram durja. Senyum dan ketawa begitu lepas ketika kami bersalam-salaman di ruang tunggu pelabuhan. Taburan beras kunyit menjadi pengungkap rasa syukur dan ikhlas tuan rumah menyambut saudara-maranya yang baru tiba. Lebih dari itu, pada siang menjelang petang itu, ada pemandangan yang tak boleh diabaikan. Saya menjeling mesra pada hidangan makan siang yang sudah disediakan oleh masyarakat Johor Lama. Aroma dan tampilannya sungguh memikat sukma apalagi dalam keadaan lapar dan dahaga yang memang sudah diambang batas toleransi.

Akan tetapi, nanti dulu. Semuanya belum boleh dinikmati. Tuan rumah punya hajat kultural untuk menyuguhkan marhaban dan tarian yang dipersembahkan anak-anak sekolah rendah (sekolah dasar). Menyaksikan persembahan itu, saya dan semua rombongan jadi lupa makan. Rupanya, makanan rohani jauh lebih lezat daripada sekadar makanan badani, yang tadi bagai sangat diharapkan. Seperti di tempat kita, anak-anak yang menari itu begitu memesona dan di pundak merekalah kelak kesenian Melayu akan diletakkan untuk kemudian dikembangkan sebagai pengekal jatidiri Melayu di nusantara ini.

Usai acara kesenian, para tamu dan tuan rumah berbaur untuk makan siang bersama. Ada pelbagai lauk-pauk, juadah, dan minuman. Umumnya sama dengan di tempat kita, makanan laut. Namun, hati saya sungguh tertawan pada lauk belangkas masak goreng berlada. Belangkas? Seingat saya, hanya sekali-dua pernah menikmati belangkas di kala kecil. Sesudah itu, belangkas raib dari perairan di tempat kelahiran saya. Tinggallah saya melihat kulit belangkas menjadi penghias dinding di rumah Datuk (Kakek) saya. Itu pun kini entah ke mana perginya. Eh, di Sungai Johor, khususnya di Johor Lama, belangkas masih bertimbun lahak. Alhasil, itulah lauk yang paling banyak saya santap siang itu. Hendak dikatakan kemaruk pun tak apalah.

Kota Johor Lama terletak di puncak bukit. Sebagian tembok kotanya terletak di Tanjung Batu (Haaa, kan sama dengan yang ada di Kundur?). Johor Lama didirikan pada 1540 oleh Sultan Alauddin Riayat Syah II (1528—1564). Di Johor beliau dikenal sebagai Sultan Johor pertama. Sebetulnya, ayahnda bagindalah Sultan Johor-Riau yang pertama yaitu Sultan Mahmud. Hanya, Sultan Mahmud mendirikan pusat pemerintahan di Bintan. Pada era pemerintahan Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Syah II (1571—1597) Johor Lama kembali dijadikan pusat pemerintahan. Pada 1576 dan 1578 Portugis menyerang kota ini, tetapi pasukan penjajah itu dapat dikalahkan oleh tentara Melayu. Pada 15 Agustus 1587 Potugis kembali menyerang dan kali ini dari tiga penjuru. Terjadi pertempuran sengit satu bulan. Malangnya, “Si Dara Jelita” Johor Lama dapat direbut oleh pasukan penjajah itu. Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Syah II memindahkan pusat pemerintahan Johor-Riau ke Batu Sawar yang sudah kita kunjungi tadi.

*****

BUS penjemput telah disediakan di perhentian dekat dengan jeti Johor Lama. Pusat pemerintahan pertama Kerajaan Johor-Riau di Semenanjung Melayu itu menjadi tempat terakhir yang dikunjungi peserta Bengkel. Rombongan dikembalikan dengan bus menuju The Pulai Desaru Beach, Bandar Penawar, Johor, tempat acara sekaligus tempat menginap. Sampai di hotel hari pun petang menjelang malam. Penat? Seharus iya, tetapi aneh, tak sedikit pun berbekas keletihan di wajah para peserta. Buktinya, sejam kemudian ketika bertemu di acara makan malam, semua peserta kelihatan gembira dengan durja yang merona bahagia. Jamuan makan malam menjadi istimewa karena selain diikuti oleh semua pejabat tinggi Kerajaan Negeri Johor (sama dengan pejabat eselon I dan II di Indonesia), wakil rakyat (anggota DPRD), dan pejabat tertinggi sampai terendah Kota Tinggi, juga dihadiri oleh orang nomer satu dalam jajaran eksekutif Kerajaan Negeri Johor yaitu Menteri Besar Johor, Yang Amat Berhormat (YAB) Datuk Hj. Abdul Ghani bin Othman.

Sebetulnya, YAB sudah berencana untuk memimpin langsung lawatan di sepanjang Sungai Johor. Namun, karena mendadak ada acara yang sangat mustahak, terpaksalah pimpinan lawatan diwakilkan kepada pejabat setingkat di bawah jabatannya. Beliau mengaku sangat kecewa karena tak dapat bersama peserta sejak pagi hari. Kemudian, barulah kami tahu bahwa begitu sudah menapak di tempat acara, beliau tak pulang-pulang ke Johor Bahru sampailah acara usai. Luar biasa Datuk! Ada lagi, acara makan malam yang dilengkapi suguhan kesenian berupa tarian dan nyanyian dari kelompok kesenian binaan Yayasan Warisan Johor itu ditutup dengan dua buah lagu alunan suara merdu YAB, setelah beliau meminta semua anak buahnya satu per satu untuk bernyanyi. Malam jadi penuh canda dan ketawa antara tuan rumah dan tamu, antara atasan dan bawahan, tak serambut pun ada pembatas tembok beku birokrasi.

Selasa, 11 Agustus 2009, sejak pukul 8.00 waktu Malaysia, kegiatan Bengkel dimulai dengan pembentangan kertas kerja oleh para pemakalah. Saya mendapat giliran keempat untuk menyajikan makalah. Kegiatan ini berlangsung sampai rehat salat zuhur dan makan siang. Bakda zuhur kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok, yang pesertanya dibagi atas lima kelompok kerja, masing-masing diberi nama sesuai dengan tempat bersejarah di Kerajaan Johor-Riau, termasuk Kelompok Penyengat. Diskusi kelompok itu berlangsung sampai Rabu petang, 12 Agustus 2009.

Peserta diskusi kelompok adalah semua pejabat Kerajaan Negeri Johor (tingkat propinsi), semua pejabat Kota Tinggi dari yang tertinggi (setingkat bupati atau walikota, kepala-kepala dinasnya sampai kepada kepala-kepala kampung karena Kota Tinggi merupakan tuan rumah yang lokasi tapak sejarah di sepanjang Sungai Johor berada dalam wilayah Kota Tinggi, instansi swasta, pengurus Yayasan Warisan Johor, lembaga swadaya masyarakat, kalangan pers, dan lain-lain. Yang menarik bagi saya, untuk urusan yang berkaitan dengan kebudayaan dan pelancongan ini, semua pejabat dilibatkan—propinsi dan kabupaten—tak hanya yang mengurus masalah kebudayaan dan pariwisata, sungguh suatu fenomena yang jarang terjadi di Indonesia. Apalagi, pejabatnya aktif memberikan kontribusi pemikiran untuk pembangunan yang akan dilaksanakan.

Inilah rahasianya. Abdul Ghani Othman tak hanya dikenal sebagai politisi di Malaysia. Beliau juga seorang intelektual. Putra kelahiran Pekan Sungaimati, Muar, Johor Darulta’zim itu adalah sarjana ekonomi-politik lulusan Queensland University. Beliau awalnya berkhidmat sebagai dosen di Universiti Malaya dan menjadi Dekan Fakulti Ekonomi dan Pentadbiran pada 1980—1982. Beliau baru terjun ke dunia politik pada Juli 1986 dan dilantik sebagai Ahli Dewan Negara. Sebagai intelektual, Abdul Ghani menerbitkan buku, antara lain, Pembangunan Holistik: Dimensi Kebudayaan (MPH Group Publishing Sdn Bhd, Petaling Jaya, Selangor, 2008).

Sesuai dengan faham pembangunan yang diyakini dan diamalkannya, suatu aspek pembangunan mesti dirancang dan dilaksanakan dengan ancangan yang menyeluruh (holistik). Dalam menjelaskan fahamnya itu, dia menyebutkan, “Pembangunan negara dan bangsa mesti meliputi semua aspek kehidupan yang saling berkait dengan amat erat—politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama. Keseluruhan sistem kehidupan adalah kesatuan yang padu dan utuh, yang menyeluruh dan tidak terpisahkan, yang difahami sebagai the sum is more than the total of its parts.”

Tak heranlah mengapa Menteri Besar Johor ini menerapkan pembangunan yang didekati dengan pelbagai dimensi keilmuan secara menyeluruh. Dengan demikian, pembangunan kebudayaan dan pelancongan pun harus melibatkan pelbagai disiplin ilmu yang saling mendukung. Oleh sebab itu, dalam perencanaan dan pelaksanaannya tak hanya harus melibatkan Yang Berhormat (YB) Puan Asiah Mohd. Ariff sebagai Pengerusi Jawatankuasa Kemajuan Luar Bandar dan Wilayah, Kesenian, Kebudayaan, dan Warisan Negeri Johor sebagai pejabat yang bertanggung jawab, tetapi semua dinas dan instansi Negeri Johor. Lebih hebat lagi, Menteri Besar terlibat langsung sebagai peserta diskusi aktif dengan mengajukan pertanyaan dan tanggapan dalam semua sesi yang diadakan selama dua hari dua malam, tanpa sekali pun memakai baju dinas dan tanda kebesaran sehingga terkesan seperti peserta biasa. Bukan main!

BKW ditutup pada Rabu malam, 12 Agustus 2009. Pada malam penutupan itu dibacakan hasilnya yang disebut “Resolusi Sungai Johor”. Di antara Resolusi itu ialah (1) memberi keutamaan kepada orang Melayu di sepanjang Sungai Johor supaya terlibat secara langsung dan menikmati manfaat dalam pembangunan industri pelancongan, (2) memberikan pelatihan dan pendidikan yang berterusan kepada penduduk Melayu tempatan supaya mengeksploitasi peluang perniagaan yang wujud, (3) menubuhkan institut penyelidikan mengenai Johor dan Kepulauan Riau yang disebut The Royal Institute of Johor, Riau-Lingga (RIJRL), (4) memantapkan hubungan kerja sama antara Johor dan Kepulauan Riau melalui pelbagai mekanisme yang terancang, dan lain-lain. Resolusi itu ditandatangani langsung oleh YAB Menteri Besar Johor.

“Pak, bagaimana sebetulnya susur galur Raja-Raja Johor-Riau ini?” saya terkejut tiba-tiba Menteri Besar sudah ada di samping kanan saya ketika saya sedang makan. Padahal, beliau sudah disediakan meja makan khusus. Kami terlibat percakapan tentang Kerajaan Johor-Riau-Lingga sambil YAB mempersilakan saya terus makan. Tentu saja saya kikuk menghadapi situasi itu karena selama ini tak pernah ditemani makan oleh pejabat tinggi walaupun sebaliknya saya sering menemani atau makan bersama pejabat tinggi. Selesai makan, saya, juga pemakalah lain, yang memang belum makan diajak ke meja makan beliau dan perbincangan terus dilakukan sambil menikmati makanan. Begitulah Abdul Ghani Othman, tak puas atau tak selesai di ruang diskusi, beliau melanjutkan percakapan di meja makan, konsisten dengan pertanyaan dan gagasan yang bernas.

Batin saya berkata, Malaysia yang pemerintahannya berbentuk monarchi, pejabatnya ternyata sangat egaliter. Dalam pada itu, saya terkenang akan kawan-kawan saya yang dulu pernah senasib sepenanggungan, seperiuk-setikar pandan, sesajadah-semesjid kelam. Di antara mereka ada yang sudah menjadi anggota legislatif dari daerah sampai ke pusat, yang menjadi eksekutif dari kepala daerah sampai pimpinan dinas instansi. Walau bernaung di dalam negara yang berbentuk republik, faham egalitarianisme masih jauh dari diri mereka. Masih sukakah mereka saya sapa dengan kata kawan? Entahlah!***


oleh Abdul Malik pada 10 November 2011 jam 1:13
Batam Pos, Ahad, 23 Agustus, 27 September, dan 4 Oktober 2009

Artikel bersempena