Rabu, November 23, 2011

MAKAN PASIR

AWANG naik dan masuk ke rumah mengendap-endap. Tak lama di dalam rumah, dia keluar lagi dari pintu belakang, melalui dapur, terus ke belakang rumah menuju perigi untuk mandi. Sekujur badan dan pakaiannya berkubang, berselekeh, terkena tanah dan pasir. Sejak pulang dari sekolah dia pergi bermain bersama kawan-kawan sebayanya. Bakda magrib, baru dia pulang. Keadaan di perigi gelap ketika dia mandi. Bagi Awang mandi di kegelapan malam tak pernah menyulitkannya. Semua orang kampungnya terbiasa dengan keadaan itu. Tak heranlah matanya bagaikan mata musang yang dapat melihat jelas di kegelapan malam.

Sekejap saja dia mandi, sekadar bersiram, membasuh badan dan kepala ala kadarnya. Bersabun pun dia tidak. Dia naik ke rumah terus ke biliknya untuk bersalin pakaian. Dia keluar lagi menuju dapur dan bersila menghadapi tudung saji. Dengan takzim Awang membuka tudung saji. Alangkah terkejutnya dia.

Ibu dan bapaknya yang telah selesai salat Magrib memandang tingkah laku anak laki-laki mereka itu tanpa berkata sepatah pun. Ekor mata mereka saja yang mengikuti segala gerak-geri Awang.

“Mak, tak ada makanankah? Awang lapar betullah Mak?” dia bertanya kepada ibunya karena di bawah tudung saji tak ada makanan. Biasanya sesusah-susahnya hidup mereka, kalau tak ada nasi, sagu dan lauk-pauk sekadarnya pasti ada.

“Apa? Makan? Tahu lapar juga ya!” jawab ibunya. Kan engkau membawa pasir di badan dan pakaian yang engkau pakai tadi? Sudah Emak cakap, kalau hendak bermain, selesai salat Asyar dan harus balik sebelum Magrib. Anak seumur engkau memang harus bermain, tetapi harus ada peraturan. Sudah sembilan tahun umur engkau, tak salat pula. Asyar tinggal, Magrib pun luput. Isya nanti pasti tak salat, sudah mengantuk karena penat. Belajar di rumah tak pernah nampak lagi akhir-akhir ini. Tak menunaikan salat, sudah besar nanti hendak jadi apa? Jadi pengikut iblis, punggawa setan ya? Ini semua salah bapak dia, terlalu memanjakan anak. Tak ada makanan malam ini. Kalau hendak makan, engkau makan pasir di bajumu saja!” ibunya bingkas berdiri lalu masuk ke bilik.

Si Awang besarlah sudah. Bukan hanya badannya yang besar, dia pun telah menjadi orang besar. Rumahnya juga besar dengan bilik yang besar-besar. Ruang makannya pun besar, tak seperti rumah orang tuanya dulu yang ruang makannya menyatu dengan dapur dan dibatasi sedikit saja dengan ruang tengah. Itu rumah yang dibangun di kampungnya. Rumahnya di tempat lain jauh lebih besar. Dia sengaja membeli rumah besar-besar di tempat lain karena tahu kampungnya kian mengecil. Suatu hari kelak tak ada lagi tempat yang layak dihuni, apalagi bagi orang besar seperti dirinya. Kebesarannya dilengkapi dengan beberapa kereta (mobil) yang juga besar-besar. Duitnya semuanya duit besar. Sesekali dia bersedekah duit kecil-kecil kepada orang-orang kecil agar kebesarannya terawat. Kalau bercakap pun sekarang, dia suka berkata besar.

Apakah rahasia Awang membesar begitu rupa? Dahulu walau disuruh makan pasir, dia tak pernah berani memakannya. Mana mungkin pasir dimakan, pikirnya. Kemudian, dia berubah pikiran. “Baik kucoba makan pasir,” dia membatin, “mana tahu dengan makan pasir, aku boleh membesar dengan cepat. Soalnya, selalu minum susu Cap Nona pun tak membuatku membesar.” Betul, dia makan pasir: sekali, dua, terus berkali-kali sampai ketagihan. Sejak itu, dia tak pilih-pilih: pasir darat, pasir sungai, pasir laut dihembatnya semua. Hebatnya lagi, kala hendak makan pasir dibayangkannya makan makanan yang lezat di restoran besar. Tiba-tiba, dia sudah berada di restoran besar dan menikmati makanan yang lezat pula, persis yang ada dalam pikirannya. Bahkan, rumah besar, kereta besar, tanah besar, dan duit besar yang dibayangkannya kesemuanya terwujud. Ajaib sungguh makan pasir.

Setelah jadi orang besar, Awang menjadi aset nasional. Kawan-kawannya pun semuanya orang besar-besar yang bermain di peringkat nasional. Kalau dulu kawan-kawannya Bujang, Atan, Borol, Dara, Bangkup, Comel, yang budak-budak sekampungnya saja. Kini kawan-kawan semasa kecilnya itu tak menjadi kawannya lagi, tak selevel-lah, malah menjadi musuhnya, kecuali Borol dan Bangkup yang menjadi kaki-tangannya. Kawan-kawan barunya kini ada Joko, Ucok, Buyung, Akang, Koko, dan masih banyak lagi. Mereka membentuk organisasi: Kelab Pemakan Pasir. Mereka berbagi-bagi ladang pasir.

Jaringan mereka tak hanya di dalam negeri. Di Negeri Seberang banyak juga anggotanya. Kalau berkunjung ke Negeri Seberang, Awang disambut bagaikan Tuan Besar, ditempatkan di hotel besar, naik kereta besar, dan makan besar di restoran besar. Pasalnya, geng mereka di Negeri Seberang merasa berutang budi kepada Awang yang telah menjadikan mereka makin besar karena makan pasir besar. Anehnya lagi, tinja mereka yang meresap di tanah mereka menyebabkan Negeri Seberang bertambah besar, bertambah luas, jauh lebih luas dari kampung Si Awang lagi. Tak heranlah mereka mendapat untung besar.

Dalam pada itu, kawan-kawan lamanya, Bujang, Atan, Dara, dan Comel melakukan gerakan perlawanan. Mereka menggiring opini publik bahwa gerakan makan pasir itu berbahaya, primitif, tergolong kejahatan kemanusiaan. Pulau-pulau menjadi makin kecil karena abrasi pantai. Lingkungan tercemar, habitat air punah, pendapatan nelayan menurun, dan marwah bangsa tergadai. “Gerakan menjual tanah (dan) air ini harus segera dihentikan. Selamatkan negara dari gerakan barbar. Pulau-pulau terluar harus terjaga, masyarakatnya jangan ditelantarkan. Gerakan makan pasir ini harus dimusnahkan sampai ke akar-akarnya!” pekik mereka setiap hari. Perlawanan Bujang dkk. mendapat peliputan luas oleh media dalam dan luar negeri, cetak dan elektronik.

Awang tak kehabisan akal. Dia membuat gerakan tandingan. Borol dan Bangkup diutus untuk meyakinkan masyarakat agar tak terpengaruh provokasi Bujang dkk. Masyarakat diberikan 100 ribu rupiah sebulan setiap keluarga. “Ambil saja,” bujuk Borol, “kalau Awak menangkap ikan di laut belum tentu dapat segini. Banyak duit yang diberikan Tuan Besar Awang ini.” Masyarakat pun banyak yang termakan bujuk rayu itu.

Bujang dkk. terus bergerak. Mereka mengirim surat protes ke Istana. Akhirnya, pihak Istana rinsa (gerah) juga. Alhasil, gerakan makan pasir, terutama pasir laut, dinyatakan haram. Sejak ketentuan itu diterbitkan, siapa yang melanggarnya akan dihukum.

Awang cs. masih banyak helah. Mereka terus berunding di dalam dan luar negeri. Soalnya, mereka betul-betul sudah ketagihan makan pasir bagai ketagihan narkoba. Akhirnya, diperolehlah ide besar: pendalaman alur laut. Dengan pendalaman alur laut, kapal besar-besar dalam dan luar negeri akan dapat berlabuh. Devisa negara akan masuk bagai dicurahkan dari langit. Rakyat akan sejahtera. Itulah iklan mereka. Dewan rakyat pun tergoda oleh iklan itu dan mereka telah pun mengetukkan tukul ke kepala masing-masing berkali-kali tanda bersetuju. Konon, anggotanya yang bernama Markus yang paling nyaring berteriak bersetuju. Awang pun telah membayangkan lemaknya makan pasir kembali. Tak sesiapa pun yang dapat menghalangi rencananya lagi. Dari Negeri Seberang telepon terus berdering.

Tiba-tiba, Ahad lalu Batam Pos menurunkan Liputan Khusus tentang penambangan pasir. “Menggali Kubur untuk Anak Cucu” tajuknya. Bagai terbakar membacanya, Awang jadi rinsa. Jangan-jangan masyarakat terpengaruh setelah membaca tulisan itu. Akibatnya, rencana besarnya boleh jadi gagal.

Ibunya baru tahu perilaku aneh anaknya selama ini. Perempuan tua itu sangat malu, air matanya pun menitik jatuh, terus mengalir jauh.

Pada saat yang sama, lidah Awang kecur hendak makan pasir. Macam orang mengidam rasanya. Dihadapinya pasir sebakul penuh. Entah mengapa, pasir di hadapannya tiba-tiba berubah menjadi ulat, lipan, lipas, dan bangkai tikus. Awang tak peduli. “Sedap juga ach!” katanya, sambil mengunyah dan menyantap hidangan khas itu.***


oleh Abdul Malik pada 10 November 2011 jam 23:15
Batam Pos, Ahad, 20 Juni 2010

Artikel bersempena