Kamis, Desember 15, 2011

HANTU-HANTUAN

SUNGGUH geram Wak Entol terhadap dirinya sendiri beberapa hari ini. Pasal, hasratnya meluap-luap hendak mengerjai orang lain, tetapi tak ada satu pun gagasan yang paling baik bertengger di kepalanya untuk meluahkan hasratnya itu. Kalau biasanya orang bingung oleh perangainya, kini dia bingung sendiri, macam kena batu.

“Hantuuuuuuuu!” tiba-tiba saja pekikan keras itu melompat dari mulut Wak Entol. Suaranya menggelegar. Dia sendiri pun heran mengapa hal itu terjadi.

Orang sekampung terkejut mendengar suara yang menggelegar itu. Serentak mereka menoleh ke arah datangnya suara. Alangkah terkejutnya mereka menyaksikan sesuatu dari sumber suara tadi. Tak lengah, mereka berlarian meninggalkan kampung sehingga tempat itu kosong dan sepi.

“Oww…oww…oww…. Hebat, hebat, hebat!” seru Wak Entol kegirangan, “Ternyata hasratku terpenuhi juga. Gelegar suaraku yang tiba-tiba mampu membuat mereka takut dan lari dari kampung ini. Kalau macam ini kan bagus? Tapi, mengapa mereka begitu ketakutan? Benarkah mereka memang sangat takut kepada hantu? Mengapakah mereka sangat ngeri melihatku tadi?”

Wak Entol memperhatikan dirinya dengan seksama, dari atas sampai ke bawah. Alangkah terkejutnya dia. Kepalanya bertambah menjadi tiga dengan bentuk yang sangat aneh. Perutnya tetap satu, tetapi buncitnya meningkat sepuluh kali lipat dari biasa. Lengannya tumbuh menjadi dua belas dan terus tumbuh. Kakinya sekarang sudah lima belas dan terus-terus bertambah. Dia tak sanggup melihat organ-organ lain, khawatir sesuatu yang tak diharapkannya juga terjadi. Dia pun tak kuasa membendung emosi dan keterkejutannya.

“Hantuuuuuuuu!” suaranya menggelegar dan bergema sampai ke seluruh kampung. Namun, kampung itu tetap sepi karena tak ada orang lagi di situ. Wak Entol berlari-larian ke sana ke mari. Dia juga ingin meninggalkan kampung yang “berhantu” itu. Malangnya, sekuat apa pun berlari, dia hanya berputar-putar di sekitar tempatnya berdiri itu saja. Tak ke mana-mana. Wak Entol meraung-raung dan melolong-lolong, tak dapat berhenti.

Di sebalik semak dan pepohonan di sekitar tempat itu sesosok makhluk tersenyum menyeringai. Nampaknya, dia akan berlalu dari situ. Sambil melayang perlahan dia menyiulkan lagu “Hantu-Hantuan”, paduan dari irama langgam kreatif dan pop yeah yeah yang lincah. Seketika, raiblah ia dari tempat itu.***


oleh Abdul Malik pada 29 September 2011 jam 10:43

Artikel bersempena