Senin, Desember 05, 2011

INTERNASIONALISASI BAHASA MELAYU

UPAYA-UPAYA menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa internasional makin kuat digesa setakat ini. Selain Malaysia, perjuangan itu diperkuat oleh para akademisi Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Usaha-usaha yang dilakukan oleh para intelektual negara yang berpenduduk terbanyak di dunia itu, antara lain, mempromosikan bahasa Melayu di kalangan penduduk RRT dan mengintensifkan pengajaran bahasa Melayu melalui lembaga-lembaga pendidikan di negara mereka.

Satu di antara pejuang penginternasionalan bahasa Melayu itu adalah Prof. Dr. Wu Zhong Yu dari Universitas Beijing, RRT. Tokoh ini amat dikenal di negaranya dan sangat dihormati di dunia Melayu, khasnya di Malaysia. Beliau telah mempelajari bahasa Melayu sejak tak kurang dari lima puluh tahun yang lalu, dengan sarana yang sangat terbatas kala itu. Saat ini beliau sangat fasih berbahasa Melayu/Indonesia dan logatnya sangat mirip dengan penutur asli bahasa Melayu Kepulauan Riau, bahkan tak terlalu mirip dengan penutur asli bahasa Melayu di Malaysia. Mendengar beliau bertutur dalam bahasa Melayu betul-betul membuat kita terkesan. Karena apa? Karena sebagai penutur asing, beliau dapat berbahasa Melayu dengan sangat baik dan santun berkat ketekunan belajarnya selama puluhan tahun dan kecintaannya terhadap bahasa Melayu. Menurutnya, setelah bahasa ibunya dan bahasa Mandarin, bahasa Melayu-lah yang paling disukainya.

Dalam wawancaranya dengan TV 1 Malaysia, Jumat, 21 Oktober 2011; Prof. Wu menceritakan secara singkat pengalamannya bersama teman-temannya untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa internasional, terutama yang telah dilakukan di RRT. Menurut beliau, kini bahasa Melayu telah menjadi mata pelajaran wajib di peringkat pra-universitas tujuh institusi ternama di RRT. Yang lebih membanggakan, menurut beliau, bagi rakyat RRT bahasa Melayu sekarang telah menjadi bahasa asing utama di negaranya bersama bahasa Inggris.

Bahkan, secara instrumental mungkin juga integratif, bangsa RRT lebih cenderung mempelajari bahasa Melayu dibandingkan dengan bahasa Inggris. Itu bukan karena semangat Asia saja, melainkan lebih-lebih karena pertimbangan pragmatis. Bagi mereka, dengan memahiri bahasa Melayu lebih memungkinkan bangsa RRT untuk bekerja di negara-negara berbahasa Melayu yang kawasannya cukup luas seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan lain-lain. Sebaliknya pula, kemahiran berbahasa Inggris tak terlalu menjamin mereka untuk diterima bekerja di negara-negara yang berbahasa Inggris. Oleh itu, bangsa RRT lebih menyukai belajar bahasa Melayu dibandingkan dengan menekuni bahasa asing lain.

Ketika ditanya faktor apakah yang dapat mempercepat bahasa Melayu menjadi bahasa internasional, dengan bersemangat Prof. Wu yang tak muda lagi secara fisik itu menjawab ini. “Bangsa-bangsa yang menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa ibu (bahasa pertama) maupun sebagai bahasa nasional (bahasa kedua), harus yakin seyakin-yakinnya bahwa mereka adalah bangsa yang besar dan memiliki bahasa yang besar pula dalam perjalanan sejarahnya ratusan tahun. Masyarakat dunia menaruh harapan besar terhadap bahasa Melayu dan bangsa-bangsa yang menggunakan bahasa Melayu, yang jumlah penuturnya tak kurang dari 300 juta orang ini. Itu belum lagi dihitung jumlah pemakainya sebagai bahasa asing seperti di RRT, Jepang, Korea, Eropa, Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Potensi bangsa-bangsa dan bahasa Melayu sangat diperhitungkan di dunia ini. Hal itu tak boleh disia-siakan dan diabaikan, tetapi harus dimanfaatkan untuk memartabatkan lagi bahasa Melayu di kalangan masyarakat internasional.”

Pendapat pejuang penginternasionalan bahasa Melayu, Prof. Wu Zhong Yu, itu memiliki alasan yang cukup kuat. Di dalam masyarakat internasional, kini bahasa Melayu telah diajarkan dan dipelari sebagai bahasa asing di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Australia, Rusia, Belanda, Perancis, Italia, Australia, Selandia Baru, Korea, Jepang, RRT, Thailand, dan lain-lain. Tak kurang dari 129 institusi pendidikan tinggi dunia yang telah menawarkan pengkajian bahasa Melayu di 52 negara (Eropa, Amerika, Asia Timur, dan Timur Jauh) setakat ini.

Di RRT bahasa Melayu dipelajari di Universitas Peking, Universitas Pengkajian Bahasa-Bahasa Asing Beijing, Universitas Komunikasi China Beijing, Universitas Pengkajian Asing Guangdong (di Guangzhou), Universitas Bangsa-Bangsa Guangxi (di Nanning), dan Universitas Bangsa-Bangsa Kunming (Provinsi Yunnan).

Adakah upaya-upaya pembelajaran bahasa Melayu melalui sistem pendidikan RRT dan negara-negara lain itu merupakan bentuk konkret dukungan pemerintahnya agar bahasa Melayu menjadi bahasa internasional? Walau belum ada pernyataan resmi, tetapi dengan mencermati wawancara TV 1 Malaysia dengan Prof. Wu, jalan ke arah itu sudah mulai terbuka. Apalagi, sokongan yang sangat berarti dari kalangan akademisi negara-negara tersebut tentulah sangat diperhitungkan oleh para pemimpinnya karena berdasarkan pemikiran ilmiah.

Karena bahasa Melayu atau bahasa Indonesia itu adalah bahasa kita, tentulah pulangan utamanya tergantung kepada kita yang memilikinya. Masyarakat internasional pun tak akan dapat berbuat banyak kalau negara-negara dan bangsa yang menggunakan bahasa Melayu itu sendiri tak berbuat secara memadai untuk memartabatkan bahasanya untuk menjadi bahasa internasional. Yang paling menentukan dalam hal ini adalah Indonesia dan Malaysia sebagai negara yang penduduknya terbanyak menggunakan bahasa Melayu. Jika kita serius, dukungan dari pelbagai pihak akan segera mengalir karena dunia internasional pun sangat mengharapkan peningkatan peran bahasa Melayu seperti yang diungkapkan secara jujur dan lugas oleh Prof. Wu di atas.

Di dalam negeri upaya yang perlu dilakukan adalah meningkatkan penguasaan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia di kalangan penduduk. Hal itu berarti kualitas berbahasa Melayu/Indonesia masyarakat harus terus ditingkatkan. Pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia di lembaga-lembaga pendidikan dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan pendidikan tinggi pun harus ditingkatkan kualitasnya. Dengan demikian, pemikiran masyarakat yang terus berkembang sesuai dengan keadaan yang terus berubah terwadahi dengan bahasanya. Pun, masyarakat menjadi makin terbiasa menerima dan memahami pemikiran yang canggih yang dituangkan dengan bahasa yang tentu makin canggih pula. Jangan pula sampai terjadi, kecanggihan pemikiran yang disampaikan dalam bahasa Melayu/Indonesia, justeru, lebih dipahami oleh bangsa asing karena mereka mempelajarinya secara tekun, sedangkan sebagian besar bangsa kita tak memahaminya karena tak perduli atau menanggapinya sambil lewa (tak dengan sepenuh hati). Oleh sebab itu, kualitas pendidikan dan pengajaran bahasa Melayu/Indonesia untuk meningkatkan pengetahuan bahasa, kemahiran berbahasa, dan sikap positif (cinta) terhadap bahasa sendiri harus diupayakan dengan bersungguh-sungguh.

Yang juga mustahak adalah peningkatan kualitas pengajaran bahasa Melayu/Indonesia sebagai bahasa asing, baik untuk pelajar asing yang belajar di negara kita maupun untuk mereka yang belajar di negara mereka. Semakin mudah mereka mempelajarinya, akan semakin tertarik mereka terhadap bahasa kita. Kesemuanya itu akan membuka jalan yang semakin lebar bagi upaya pemercepatan bahasa Melayu/Indonesia menjadi bahasa internasional. Ingatlah, masyarakat dunia sesungguhnya tak sabar menanti bilakah bahasa Melayu atau bahasa Indonesia, satu di antara bahasa besar dunia ini, akan diangkat menjadi bahasa internasional. Jawabnya, sekali lagi, terpulang kepada kita!***


oleh Abdul Malik pada 23 Oktober 2011 jam 15:34

Artikel bersempena