Kamis, Desember 01, 2011

KABUPATEN KUNDUR

SEMINGGU terakhir ini media lokal kembali banyak memberitakan rencana pembentukan Kabupaten Kundur. Terbetiklah kabar bahwa rencana itu telah matang adanya dan persiapannya telah mendekati lengkap pula. Fenomena ini menarik. Apa pasal suatu daerah yang baru dimekarkan, Kabupaten Karimun tergolong masih muda, tetapi beberapa kecamatannya ingin membentuk kabupaten baru lagi?

Pasal pertamanya tergolong klasik, tetapi logis. Daerah dan masyarakat yang memperjuangkan pemekaran merasa tak puas terhadap kabupaten induk. Pembangunan yang dilaksanakan selama ini terkonsenstrasi di pusat pemerintahan, sedangkan kawasan di pinggir dan di luar itu cenderung tertinggal. Akibatnya, potensi masyarakat tak berkembang sehingga kesejahteraan mereka tergencat (tak meningkat). Padahal, bukankah misi awal membentuk kabupaten untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat? Kabupaten terbentuk karena perjuangan bersama. Seyogianya kemakmuran dan kesejahteraan bersama secara meratalah yang harus diutamakan. Kalau itu tak mampu diwujudkan, bukankah lebih baik mencari jalan masing-masing? Apalah gunanya hidup bersama kalau ternyata tak seiring jalan, bukan?

Gejala itu juga membuktikan bahwa walaupun telah sepuluh tahun berjalan, pemerintah Kabupaten Karimun tak memiliki visi, kepekaan, dan kreativitas untuk mengembangkan potensi masyarakat. Dana pembangunan yang berlimpah tak mampu dikelola untuk memajukan daerah, mengembangkan potensi masyarakat, dan memeratakan pembangunan ke seluruh kecamatan. Bahkan, pembangunan di ibukota kabupaten pun cenderung tak meningkat secara berarti. “Tak ade ape pon yang nak dibanggekanlah,” kata orang Karimun. Kalau ada pun yang meningkat kesejahteraannya, hanya satu golongan, yaitu para elit di lingkaran kekuasaan. Kenyataan itu terlihat secara kasat mata. Kalau begitu keadaannya, kabupaten dibentuk untuk siapa?

Terlepas dari itu, calon Kabupaten Kundur memiliki potensi ekonomi yang sangat memadai jika kelak dikembangkan secara optimal. Pertama, Kundur memiliki lahan yang cukup luas untuk pertanian, perkebunan, dan peternakan. Namanya juga Kundur, diambil dari hasil pertanian. Sektor inilah suatu masa dulu yang membuat masyarakat Kundur hidup sejahtera. Ketika terjadi krisis ekonomi nasional dan global, sektor ini pulalah yang memungkinkan masyarakat Kundur dapat bertahan. Lagipula, masyarakat Kundur tergolong rajin bekerja dan sangat gemar bertani. Jika sektor ini dikelola dan dikembangkan dengan baik, tak ada alangan yang berarti bagi Kundur untuk maju.

Kedua, jika Moro dan Durai memilih bergabung dengan Kundur, sektor perikanan juga akan menjadi andalan. Moro dan Durai sangat potensial untuk perikanan tangkap dan budidaya. Jika Kundur akan menjadi sentra pertanian, Moro dan Durai akan menjadi sentra perikanan. Keahlian dan kecekapan berperikanan masyarakat Moro dan Durai pun tak diragukan lagi. Pemerintah tinggal memberikan dorongan serta bantuan teknis dan permodalan saja lagi. Gilirannya, tentulah akan berkembang agribisnis, termasuk aquabisnis, yang akan melambungkan perekonomian Kundur ke depan.

Kalau Moro dan Durai bergabung dengan Kundur, itu adalah pilihan yang tepat. Secara genealogis (keturunan) dan lebih-lebih sosiologis (kemasyarakatan), masyarakatnya memang lebih rapat dengan Kundur. Hubungan batin mereka lebih dekat sehingga sangat penting untuk mencapai misi dan matlamat kemajuan bersama.

Ketiga, sektor perdagangan, terutama perdagangan antarpulau. Telah sejak lama masyarakat Kundur melakoni kerja ini sehingga kalau mendapat perhatian yang memadai, tentulah akan menjadi andalan ekonomi. Perdagangan antarpulau itu tak hanya meliputi kawasan Kepri dan provinsi tetangga seperti Riau dan Jambi, tetapi juga Singapura dan Malaysia. Itu adalah kenyataan historis yang masih berlangsung sampai setakat ini.

Keempat, andalan Kundur adalah sektor pariwisata. Potensi wisata alamnya cukup menjanjikan. Kundur, termasuk Moro, memiliki pantai dan laut yang sangat indah. Potensi wisata alam itu dapat disepadukan dengan agrowisata dan wisata budaya, yang tak kalah dari daerah-daerah lain. Pendek kata, potensi pariwisata Kundur hanya tinggal menunggu pemikiran inovatif dan sentuhan tangan-tangan kreatif, terutama dari pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. Apalagi, hubungan darah dengan masyarakat Singapura dan Malaysia akan memungkinkan Kabupaten Kundur menjadi destinasi pariwisata yang akan banyak dikunjungi oleh pelancong luar negeri.

Sektor industri pun pasti akan menyusul. Pengembangan industri itu dimungkinkan karena letak Kabupaten Kundur yang strategis dan berdekatan dengan Singapura. Hanya, hemat saya, pemerintah harus lebih memberikan perhatian pada sektor ekonomi yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Inilah kelebihan lain Kundur. Daerah ini memiliki sumber daya manusia (SDM) yang sangat memadai. SDM birokrat yang berpengalaman dan pegawai pemerintahannya ada di semua kabupaten/kota se-Kepri, di Provinsi Kepri, dan daerah-daerah lain di Indonesia. Orang Kundur tergolong penyuka politik. Oleh sebab itu, banyak SDM mereka yang terjun ke kancah politik dan menjadi politisi handal. Lobi-lobi mereka di tingkat provinsi dan pusat cukup kuat sehingga membuka peluang bagi Kundur untuk maju. Semua pemimpin pemerintahan dan politik Kabupaten Karimun saat ini berasal dari daerah ini: Bupati (Moro), Wakil Bupati (Kundur), dan Ketua DPRD (Durai).

Apalagi, SDM Kundur itu umumnya putra daerah sehingga keterikatan batinnya dengan daerah dan masyarakat relatif lebih kuat. Asal, mereka betul-betul punya komitmen, loyalitas, dan dedikasi untuk memajukan daerah dan masyarakat. Namun, kalau mereka juga terjebak pada kepentingan elit semata, Kundur pun akan berlayar singit (miring), kalau tak karam sama sekali. Penyakit yang diderita oleh kabupaten induk itu janganlah terjangkit pada Kundur.

Apa lagi kelebihan Kundur? Inilah yang sangat mustahak. Masyarakat Kundur tergolong orang-orang yang taat beragama dan masih menjunjung tinggi adat-istiadat. Nilai-nilai agama dan adat-istiadat itu begitu bersebati dalam kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, masyarakat Kundur, Moro, dan Durai memiliki solidaritas yang tinggi antarsesamanya. Dalam bahasa sehari-hari, mereka selama ini sangat kompak. Jika nilai-nilai terala (luhur) itu tetap bertahan dan diimplementasikan dalam membangun, niscaya hidayah dan inayah Allah sudah pasti menyertai kemajuan Kabupaten Kundur.

Hasrat Kundur untuk berkabupaten adalah logis dan menjanjikan. Hanya, tetaplah harus diingat bahwa matlamat pengembangan daerah adalah untuk memajukan daerah dan menyejahterakan masyarakat. Dahulukanlah nilai-nilai budaya yang cenderung menyatukan untuk mencapai matlamat mulia itu daripada nilai praktis politik yang cenderung memecah-belah.

Masyarakat dan kultur kita telah lama siap bersaing, tetapi bukan secara tak sehat. Kegagalan dan salah urus oleh pemerintah Kabupaten Karimun selama ini hendaklah dijadikan pelajaran supaya tak terulang di Kabupaten Kundur. Jika sejarah berulang, jangan heran, akan ada kecamatan yang akan memisahkan diri lagi. Bahkan, Alai di depan Tanjungbatu itu pun, kalau mendapat restu dari pusat, akan membentuk kabupaten baru. Sebaliknya, jika penyelenggaraan pemerintahan berlangsung baik dan bersih sehingga kesejahteraan masyarakat terwujud, berjuta-juta doa akan dilafazkan oleh rakyat untuk keselamatan pemimpinnya. Kabupaten Kundur pasti boleh punyalah. Selamat berjuang!***


oleh Abdul Malik pada 5 November 2011 jam 1:05
Abdul Malik, UMRAH
Kolom Budaya, Batam Pos, Ahad, 27/06/2010

Artikel bersempena

  • Tahun Hutan - Tahun Hutan Sebagai Upaya Konservasi Hutan Dunia Ada sekitar 4 miliar hektar hutan di dunia, yang menutupi hampir 30 persen dari wilayah daratan bumi. Sekita...
  • Seminar Ornamen - Tempat : Museum Sang Nila Utama Waktu : Sabtu, 18 Oktober 2014 Pukul : 09.00 wib Pembicara :  - Junaidi Syam/ Jon Kobet (Pemahaman Ornamen Khas Melayu Ri...
  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini d...