Selasa, Desember 13, 2011

KEAJAIBAN AKAL-BUDI

MANUSIA adalah makhluk yang istimewa. Manusia memperoleh karunia utama akal-budi dari Allah swt., Tuhan Yang Maha Esa, sehingga keberadaannya menjadi berbeda daripada makhluk yang lain, yang padahal diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla juga. Tanpa akal-budi nyaris tak dapat dibedakan antara manusia dan ciptaan-Nya yang lain. Bahkan, dalam hal kekuatan fisik semula-jadi, banyak makhluk yang lain lebih unggul daripada manusia. Manusia menjadi istimewa karena akal-budinya.

Akal merupakan kata bahasa Melayu (bahasa Indonesia) yang berasal dari bahasa Arab, sedangkan kata budi berasal dari bahasa Sansekerta “bud”. Dalam kebiasaan orang Melayu, kedua kata itu senantiasa disanding dan digandengkan menjadi kata majemuk “akal-budi” untuk mengungkapkan sesuatu yang berkonotasi baik.

Raja Ali Haji (RAH) di dalam karya kamus ekabahasa sulung dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia-nya, Kitab Pengetahuan Bahasa, bahkan, tak menyediakan lema (entri) “akal”. Penjelasan tentang akal dilakukan bersamaan dengan lema “budi”. Budi, menurut RAH, “mustak daripadanya yang berbudi yaitu jika dengan bahasa Arab dikatalah akal dan orang-orang Melayu menyebut akal (-budi) itu seolah-olah bahasa dirinya daripada sangat maklum dan masyhurnya. Maka di dalam hal yang demikian itu, maka tiada dapat hendaklah kita ketahui makna akal (-budi) itu karena akal (-budi) itu memuliakan manusia jika ada ia tetap kepada manusia adanya.”

Lebih lanjut RAH menjelaskan bahwa dengan akal-budilah manusia memperoleh pengetahuan yang sukar-sukar seolah-olah ia cahaya yang terang, di dalam hati tempatnya memancarkan cahaya naik ke otak, yang dengan itulah dapat dibedakan antara yang benar dan yang salah serta antara yang baik dan yang buruk. Ringkasnya, akal bersumber dari otak, sedangkan budi berasal dari hati (nurani).

Apakah implikasi sosio-kultural dari faham itu bagi orang Melayu? Apa lagi kalau bukan ini. Akal saja belumlah cukup untuk menyerlahkan (menandai) makhluk sebagai manusia. (Beberapa temuan penelitian terkini membuktikan bahwa hewan-hewan tertentu pun memiliki akal. Jadi, akal bukan hak monopoli manusia.) Betapa tidak?

Di dalam masyarakat Melayu dikenal ungkapan “main akal” yang berkonotasi sangat negatif. Orang yang tak masuk kerja atau peserta didik yang tak datang ke sekolah tanpa alasan yang munasabah (bolos), misalnya, disebut main akal. Pun masih ada ungkapan “mengakali” dengan konotasi negatif “memerdayai, membohongi orang lain”. Itulah sebabnya, perilaku main akal dan mengakali tergolong perbuatan tercela dalam budaya Melayu. Karena apa? Karena perbuatan itu berakibat tak baik bagi diri sendiri dan mencelakakan orang lain. Akar-pucuknya dan ujung-pangkalnya mendustai kemanusiaan. Alhasil, akal saja tak memadai dan tak menjamin kemanusiaan anak manusia.

Akal harus berbancuh serasi dengan budi sehingga menjadi adonan yang bersebati. Oleh sebab itu, bagi ahli waris sah budaya Melayu, di dalam minda sampai ke perilaku, akal dan budi senantiasa disepadukan sehingga berwujud “akal-budi”. Dengan itulah kita berpikir, dengan itulah kita merasai, dengan itu pulalah kita memaknai kehidupan ini.

Kalau membaca naskah kuno atau klasik Melayu, kita sering menemukan ungkapan ini, “Apa(kah) budi bicara Tuan hamba?” Sebaliknya, kita tak akan pernah bertemu dengan teks, “Apa(kah) akal bicara Tuan hamba?” kecuali pada percakapan di kalangan para mafia, perompak, atau lanun. Pasal apa? Pasal, banyak cacat-cela pada akal, tetapi pada budilah tersalut emas-permata kemanusiaan.

Pembicaraan tentang budi memang tak pernah mengenal khatam. Pasal, budi bukan hanya pakaian anak manusia ketika dia hidup di dunia. Lebih daripada itu, budi merupakan karunia istimewa yang pasti dibawa sampai mati. Budi tak pernah dapat dibayar, sama ada di dunia ataupun di akhirat.

Pisang emas bawa berlayar
Masak sebiji di dalam peti
Utang emas boleh dibayar
Utang budi dibawa mati


Akal-budilah yang menyempurnakan kemanusiaan anak manusia. Dengan akal-budi manusia mengembangkan tamadunnya. Dengan tamadun (peradaban) yang disinari akal-budilah manusia menciptakan pemerlain dirinya dari makhluk lain. Bahkan, berdasarkan tamadun yang berakar pada akal-budilah suatu kelompok manusia membedakan kelompoknya dengan kelompok yang lain sehingga kita dapati perbedaan sedikit atau banyak di antara pelbagai tamadun itu. Maka, dunia pun jadi berseri oleh cahaya cemerlang akal-budi yang menjelmakan rampai tamadun bernilai tinggi.

Berbicara tentang dunia Melayu, kita jadi tak dapat memisahkannya dengan aktivitas dan kreativitas budaya. Berhadapan dengan kenyataan itu, kita harus bersyukur kepada Allah swt. yang senantiasa mencucuri rahmat-Nya untuk memberikan kesadaran akan kewajiban itu kepada kita. Karena apa? Karena kebudayaan senantiasa membangkitkan pencerahan, tanggung jawab, dan kebanggaan bagi setiap pendukungnya. Pada gilirannya, kebudayaan kerap memberikan ketenangan, kebahagiaan, dan kesejahteraan yang sesungguhnya. Alhasil, kebudayaan dan tamadunlah yang menjadi pengorak simpul kehidupan yang kusut-masai (kusut tak beraturan). Tak berlebihan jika disebut bahwa berpaling dari kebudayaan berarti mengundang malapetaka.

Mengapakah orang Melayu begitu bergairah dengan budayanya, setidak-tidaknya suatu masa dahulu? Jawabnya memadailah diminta dari George Henry Lewes dalam bukunya The Principle of Success in Literature (1969), yang dikaitkan dengan konteks historis Kerajaan Riau-Lingga bahwa rakyat dari segenap lapisan masyarakat sangat mencintai aktivitas dan kreativitas budaya. Itu satu kuncinya. Jika informasi itu masih juga kurang, kita dapat bertanya kepada Barbara Watson Andaya dan Virginia Matheson melalui artikel mereka “Islamic Thought and Malay Tradition: The Writings of Raja Ali Haji of Riau, ca. 1809—ca. 1870” (1979) bahwa kaum bangsawan dan elit Kerajaan Riau-Lingga melibatkan diri langsung secara aktif dalam kegiatan berbudaya itu. Nah, peran pemimpin sangat menentukan dalam hal bertanam budi ini. Alhasil, jasa mereka tetap dikenang dan dihargai sampai setakat ini, jauh melebihi bakti lain yang pernah mereka lakukan. Pasal apa? Pasal, memperjuangkan kebudayaan berarti mempertahankan serta menjunjung marwah dan jatidiri bangsa. Dari situlah kesemua kisah tamadun manusia bermula.

Hikmahnya pada kita hari ini bahwa kerja-kerja budaya memerlukan keikhlasan, ketulusan, dan ketunakan yang berkesinambungan. Ia bukanlah kerja sambil lewa (asal jadi) sekadar memenuhi pelawaan (permintaan) dari kanan dan kiri. Ia bukan pula sekadar pertunjukan sekali-sekala untuk melupakan kerunsingan dan beban hidup sehari-hari. Ia tak pula bermakna menumpang keharuman dari upaya gemilang para pendahulu yang melegenda.

Kebudayaan boleh kekal, terbina, dan maju jika penyelenggaraannya didasari oleh akal-budi yang mengharapkan rida Allah. Itulah yang menjadi punca dan puncak dari niat, hasrat, dan pekerti untuk mengabdi. Sejarah mengajarkan bahwa tamadun yang dibangun oleh akal-budi menjadikan pelakunya tak pernah dapat dilupakan walaupun dia telah lama berpulang ke kampung yang abadi.***


oleh Abdul Malik pada 2 Oktober 2011 jam 19:14

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...