Jumat, Desember 09, 2011

PANTUN: WARISAN SADU PERDANA

Inilah pantun baharu direka
Menyurat di dalam tidak mengerti
Ada sebatang pohon angsuka
Tumbuh di mercu gunung yang tinggi

Menyurat di dalam tidak mengerti
Makna dendang dipuput bayu
Tumbuh di mercu gunung yang tinggi
Bahasanya orang cara Melayu


Pantun di atas dikutip dari buku Perhimpunan Pantun Melayu karangan Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda yang terbit pada 1877. Beliau dipercayai sebagai penulis pertama Melayu yang mengubah pantun dari tradisi lisan menjadi tradisi tulis dengan karyanya itu. Dari pantun itu dapatlah diketahui hal ini. Pantun merupakan gubahan yang menggunakan bahasa Melayu tinggi. Pantun juga dihargai sebagai karya yang bernilai tinggi. Oleh itu, kemahiran berpantun pun memerlukan kecerdasan yang tinggi pula.

Keindahan dalam konsep estetika Melayu senantiasa disepadankan dengan kepelbagaian: rupa, warna, bunyi, rasa, dan sebagainya. Kepelbagaian yang bagi barang siapa yang berupaya mengapresiasinya dengan baik akan menikmati kepuasan batiniah yang tiada bertara. Satu di antara jenis sastra yang memenuhi persyaratan estetika itu ialah pantun.

Pantun merupakan jenis sastra lama Melayu yang sangat disukai, dari dahulu sampai setakat ini. Tua-muda, besar-kecil, dan laki-laki-perempuan tak ada yang merasa bosan kalau berpantun dan atau mendengarkan pantun. Di kalangan para peneliti sastra pula, daya tarik pantun adalah “Sifatnya yang tidak lazim … sesudah dua baris yang pertama, ada perubahan yang tiba-tiba dalam arti kata-katanya dan bahwa inti seluruhnya terutama terdapat dalam dua baris terakhir (Djajadiningrat, 1933). Ketaklaziman itu membuat para peneliti, Barat dan Timur, terkagum-kagum dan berupaya sedapat-dapatnya untuk mencari rahasianya. Pantun memang memberikan kepelbagaian cita-rasa dan penuh dengan kejutan, tetapi indah, bermakna, dan bermanfaat. Itulah daya pikatnya.

Daya tarik lain pantun di kalangan masyarakat adalah ini. Jenis sastra lama Melayu ini boleh digunakan pelbagai kalangan dari semua peringkat umur untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan atau gagasannya. Kanak-kanak, orang muda-muda, dan orang tua-tua boleh menggunakan pantun untuk menyampaikan pesannya. Itulah sebabnya, pantun banyak diminati.

Mengapakah begitu? Tamadun Melayu menyebatikan konsep budi dan bahasa. Dalam hal ini, terbentuklah konsep dwitunggal: budi menuntun bahasa untuk mencapai bahasa memancarkan budi. Jadi, menjadi jelaslah mengapa sastra, khasnya pantun, mendapat tempat terhormat dalam kehidupan masyarakat Melayu. Karena apa? Karena pantun memenuhi syarat bahasa memancarkan budi dan budi yang menuntun bahasa itu. Tak heranlah kita ada peneliti mengaitkan pantun dengan akar kata tun ’teratur’ dan berhubung makna dengan kata tuntun ’bimbing, membimbing, mengatur, atau mengarahkan’ (lihat Brandstetter, 1925).

Islam menjadi teras tamadun Melayu. Hal itulah, barangkali, yang menjadi penyebab utama begitu berkesannya amanat Syaiyidina Ali bin Abi Thalib dalam hati sanubari orang Melayu. ”Bahasa yang rusak menggambarkan akhlak yang sudah rusak pula,” demikian kata Syaiyidina Ali. Oleh sebab itu, membela (memelihara) dan membĂ©la bahasa dari sebarang anasir yang berusaha untuk merusakkannya menjadi tugas mulia.

Karena merupakan medium utama karya sastra, bahasa yang memenuhi syarat untuk dikelompokkan ke dalam sastra Melayu, baik bentuk maupun isi (makna)-nya ialah bahasa yang benar sesuai dengan tuntunan nalar dan baik sesuai dengan pedoman hati (nurani). Singkatnya, bahasa yang mengandung budi. Karena mengandung kebenaran dan kebaikan itulah suatu karya dapat dikategorikan sebagai karya sastra dalam kebudayaan Melayu, yang pada gilirannya memunculkan keindahan dan kemanfaatan. Haji Ibrahim menguatkan hujah itu dengan pantun berikut ini.

Makna dendang dipuput bayu
Seekor burung dipukul angin
Bahasanya orang cara Melayu
Tiada tahu erti yang lain


Berdasarkan perian di atas menjadi jelaslah mengapa sastra mendapat tempat yang penting dalam kebudayaan Melayu. Dengan sastra, khasnya pantun, hasrat, resa, dan tanggung jawab untuk mengekalkan budi yang terala (luhur dan mulia) dapat diwujudkan, yang pada gilirannya menjadi peneguh dan pengukuh jatidiri bangsa. Dengan demikian, membina dan mengembangkan pantun sebagai bagian dari tamadun Melayu menjadi tugas yang mustahak lagi mulia.

Begitulah dunia Melayu mewariskan pelbagai jenis karya sastra untuk dinikmati dan diambil hikmahnya untuk kehidupan, dari dahulu sampailah masa kini. Pantun merupakan genre sastra lama yang paling digemari sampai setakat ini. Para peminat dan penikmatnya tak kira umur, status sosial, suku, dan agama. Untuk pelbagai aktivitas, pantun terus digunakan dan diciptakan orang. Agaknya, bentuknya yang ringkas, isinya yang terbuka untuk semua jenis dan peringkat persoalan dan persajakannya yang indah menawan; membuat pantun memiliki daya pikat lebih. Apalagi, untuk menghasilkan sampiran dan isi yang serasi memang diperlukan kreativitas pikir dan kemampuan berbahasa yang menantang. Akal dan budi harus dibancuh sedemikian rupa sehingga menghasilkan adonan yang bersebati.

Akan tetapi, awal dari kesemuanya itu pantun memang sudah diperkenalkan kepada orang Melayu sejak mereka masih bayi lagi. Lagu untuk menidurkan anak-anak yang disebut lagu mengulik (the lullaby) dalam budaya Melayu digubah dalam bentuk pantun. Salah satu liriknya sebagai berikut.

Ayun tajak buai tajak
Tajak bertimbang di Tanah Jawa
Ayun anak buai anak
Anak bertimbang dengan nyawa


Di atas kesemuanya itu, pantun memberikan kesan psikologis yang jauh lebih mendalam kepada pengucap, pendengar, dan atau pembacanya dibandingkan dengan ungkapan biasa. Itulah daya magis pantun yang sesungguhnya sehingga keberadaan warisan sadu perdana itu tetap lestari sampai setakat ini. Ucapan terima kasih yang disampaikan seseorang karena mendapatkan bantuan kebaikan dari orang lain terkesan biasa, bahkan, cenderung dirasakan hanya basa-basi saja. Akan tetapi, amanatnya jauh lebih menghunjam dalam sampai ke sanubari jika diungkapkan dengan pantun.

Nyiur gading puncak mahligai
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan tulang berkecai
Budi baik dikenang juga


Dengan daya magis istimewanya itu, pantun mampu membangkitkan semangat yang bernyala-nyala. Perhatikan dengan seksama pantun ini.

Kalau roboh Kota Melaka
Papan di Jawa kami dirikan
Kalau sungguh bagai dikata
Nyawa dan badan kami serahkan


Begitulah pantun yang baik mampu menyampaikan amanat untuk meningkatkan semangat membangun dan tak mengenal putus asa bagi sesiapa saja. Bahasa dengan pemerian biasa tak akan mampu menandinginya untuk memberikan kesan yang menyentak dan menghunjam dalam. ”Pantun Kota Melaka”, melalui persebatian sampiran dan isinya, itu memberikan kesan ”sungguh bagai dikata” sehingga orang ”rela mengorbankan nyawa dan badan” untuk matlamat suci membela kebenaran, memperjuangkan hak, dan atau membangun bangsa dan negara.***


oleh Abdul Malik pada 15 Oktober 2011 jam 0:21

Artikel bersempena

  • Tahun Hutan - Tahun Hutan Sebagai Upaya Konservasi Hutan Dunia Ada sekitar 4 miliar hektar hutan di dunia, yang menutupi hampir 30 persen dari wilayah daratan bumi. Sekita...
  • Seminar Ornamen - Tempat : Museum Sang Nila Utama Waktu : Sabtu, 18 Oktober 2014 Pukul : 09.00 wib Pembicara :  - Junaidi Syam/ Jon Kobet (Pemahaman Ornamen Khas Melayu Ri...
  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini d...