Minggu, Desember 11, 2011

PENDEKAR BORAK

“Apa hebatnya Si Sulung itu? Banyak temberang saja dia. Bodoh sangat orang kampung ini memuja dia sebagai pendekar.”

Wak Entol sangat iri mendengar kemasyhuran Pendekar Sulung akhir-akhir ini. Pendekar dari Kampung Seberang itu menjadi buah bibir sampai ke sekutah-kutah negeri, termasuk banyak dibicarakan di kampung Wak Entol.

“Ini tak boleh kubiarkan. Kalau terus begini, popularitasku boleh jadi menurun. Nama dia pula yang akan disebut-sebut semua orang nanti. Aku harus membuat perhitungan dengan Si Keparat itu,” Wak Entol mengutuk orang yang dianggapkan musuh itu.

Tak lengah Wak Entol bergegas berangkat ke kampung musuhnya. Niatnya sudah bulat untuk membunuh Pendekar Sulung. Keris Tambansuri kebanggaannya diacungkannya sepanjang perjalanan itu, tak diselipnya di pinggangnya, bahkan dihunus sepanjang jalan itu.

“Sulung, keparat. Turunlah kalau dikau memang pendekar. Hendak jadi raja dikau di negeri ini, ya? Ini aku Pendekar Entol akan menghajar dikau!” Wak Entol langsung mencabar begitu sampai di tangga rumah Pendekar Sulung.

“Eh, dikau rupanya Entol. Apa pasal dikau menghunus keris pula? Kepada siapakah gerangan kemarahan kaualamatkan?” tanya Pendekar Sulung begitu melihat tamunya sangat marah di tangga rumahnya itu.

Wak Entol tak menjawab. Dia langsung menikam Panglima Sulung begitu Panglima turun dari tangga rumahnya. Orang kampung berdatangan ke rumah Panglima Sulung.

Tentulah Panglima Sulung mengelak dari tikaman Wak Entol. Hanya dengan satu gerakan lembut dan halus, Wak Entol terpelanting lebih dari 20 depa dan tak sadarkan diri lebih dari 20 menit. Orang kampung bersyukur karena Panglima Sulung tak mendapat naas dari serangan membabi buta oleh “orang gila” yang tak diundang itu.

Setelah siuman, dengan ketakutan yang amat sangat, Wak Entol berlari sekuat tenaga meninggalkan Kampung Seberang. Putih telapak kakinya menuju ke kampungnya.

“Wahai, Orang kampungku. Ke mari kalian semua, aku hendak memberi kabar! Si Sulung keparat itu bersama orang sekampungnya baru saja mengeroyok aku. Untunglah aku dapat mengelak. Kalau tidak, tentulah aku mendapat celaka. Mereka marah kepadaku karena niat mereka untuk menyerang kampung kita kuhalangi.”

Mendengar cerita “Panglima Borak” Wak Entol itu hati orang sekampungnya pun terbakarlah. Kepala mereka bagai hendak menggelegak. Mereka beramai-ramai menyerbu Kampung Seberang.

Perkelahian masyarakat kedua kampong itu tak terelakkan lagi. Orang kampung Wak Entol berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan Kampung Seberang bermandi darah, kalau perlu banjir darah. Melihat kejadian itu, Panglima Sulung berupaya sekuat tenaga untuk melerai kedua kelompok itu. Orang kampungnya pun hanya berusaha untuk bertahan karena mereka tak tahu duduk perkara yang sebenarnya.

Tak jauh dari tempat orang yang sedang bertempur hidup-mati itu, Wak Entol ketawa menyeringai. Dia yakin bahwa Panglima Sulung dan orang-orang sekampungnya akan tewas semuanya tak lama lagi. Dia menyaksikan kejadian sekejap saja dan terus berlalu. Sambil berjalan pergi dia menenggak arak yang dibawanya tadi dan bersiul lagu “Obok-obokan” dengan irama chacha dicampur rock kreatif.****

oleh Abdul Malik pada 5 Oktober 2011 jam 13:22

Artikel bersempena