Sabtu, Desember 03, 2011

SEPULUH BUKTI BAHASA MELAYU KEPULAUAN RIAU SEBAGAI ASAL-MUASAL BAHASA INDONESIA

1. Pendahuluan

Sebetulnya, untuk menetapkan asal-muasal bahasa nasional Indonesia taklah terlalu sulit. Pasal, pemilihan dan penetapan bahasa persatuan itu belum terlalu lama terjadi. Pemilihan bahasa Melayu, yang kemudian diubah namanya menjadi bahasa Indonesia, terjadi pada Kongres I Pemuda Indonesia yang berlangsung di Jakarta pada 2 Mei 1926, lebih kurang 84 tahun yang lalu (lihat Kridalaksana, (2010). Dua tahun kemudian, hasil Kongres I itu dimantapkan lagi dalam Kongres II Pemuda Indonesia yang juga diselenggarakan di Jakarta pada 28 Oktober 1928, lebih kurang 82 tahun yang lalu. Peristiwa itu dikenal sebagai Sumpah Pemuda, yang salah satu isinya berbunyi, “Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Dalam peristiwa Sumpah Pemuda itulah bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, bahasa Indonesia diberi satu kedudukan istimewa lagi yaitu sebagai bahasa negara. Penetapan itu tersurat di dalam Pasal 36, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. Dengan demikian, bahasa Indonesia meneruskan perannya ketika bernama asal bahasa Melayu, yang di lingkungan Kerajaan-Kerajaan Melayu—sejak Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 s.d. abad ke-14) sampai dengan Kerajaan Riau-Lingga (1824—1913)—memang menjadi bahasa persatuan dan bahasa negara.

Dalam perjalanan waktu yang hanya 80-an tahun itu, data historis tentang asal-muasal bahasa Indonesia masih mudah diperoleh. Lagi pula, datanya masih banyak tersedia asal kita rajin mengumpulkannya. Bahkan, data tersebut—walau tak terlalu lengkap—terdapat juga di dalam buku pelajaran sekolah. Walaupun begitu, entah karena pertimbangan politis atau apa, tak banyak orang yang bersedia mengungkapkan perihal asal-muasal bahasa Indonesia, bahkan para pakar bahasa pun banyak yang bungkam, kalau tak membuatnya kabur atau bersilang pendapat. Dalam hal ini, pendapat yang didasari fakta ilmiahlah yang seyogianya diutamakan. Itulah ciri keutamaan yang harus dipegang teguh oleh setiap ilmuwan.

Upaya mengungkapkan asal-muasal bahasa nasional itu sangat mustahak. Sekurang-kurangnya ada dua alasan utamanya.

Pertama, supaya jelas hubungan bahasa nasional dengan bahasa yang pernah digunakan oleh bangsa kita sejak zaman-berzaman. Bukankah bahasa yang sejak 2 Mei 1926 kita sebut bahasa Indonesia itu bukanlah bahasa yang sama sekali baru atau bukan bahasa ciptaan baru? Soal kemudian ia mendapat pengaruh dari pelbagai bahasa, baik bahasa daerah maupun bahasa asing, itu gejala alamiah yang dialami oleh semua bahasa di dunia ini, bahasa-bahasa kuno pun demikian jangankan bahasa-bahasa modern. Andai bahasa Melayu tak menjadi bahasa nasional pun, kita yakin, kreativitasnya untuk memanfaatkan unsur luar pasti terjadi sesuai dengan kenyataan perkembangannya selama berabad-abad.

Kedua, supaya terpelihara kelurusan sejarah dan kejujuran ilmiah dalam menyikapi asal-muasal bahasa nasional ini. Jangan hanya karena sekarang kawasan yang menyumbangkan bahasa nasional itu dianggap tak lagi penting dalam perkembangan tamadun nasional, lalu peran historisnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hanya dipandang dengan sebelah mata. Jika kenyataan itu yang muncul, telah terjadi kecelakaan sejarah di lingkungan kebangsaan kita yang pasti akan berdampak pada tamadun atau peradaban yang sedang dan akan kita kembangkan.

Soal bahasa Indonesia berasal dari atau adalah juga bahasa Melayu tak ada keraguan atau bantahan dari pihak mana pun karena memang itulah kenyataannya. Akan tetapi, kawasan bahasa Melayu di dunia ini sangat luas dan variasi bahasa Melayu juga tak sedikit. Berhubung dengan itu, ditinjau dari sudut geografis saja, banyak sekali dialek Melayu yang tersebar di nusantara ini walaupun logat yang beraneka ragam itu pun bermunculan karena pengaruh dialek utamanya. Dengan demikian, bahasa Melayu dialek atau logat manakah yang “diangkat” menjadi bahasa Indonesia? Dalam menghadapi persoalan itulah banyak pakar yang memilih “zona aman”, diam atau berhujah dengan menyimpang. Makalah ini berusaha mengungkapkan perkara yang mustahak itu.

2. Bahasa Melayu Zaman Sriwijaya

Bahasa Melayu merupakan salah satu bahasa alamiah (bahasa linguistik) di antara 5.000-an bahasa alamiah yang ada di dunia ini. Sejak bila tepatnya bahasa Melayu dikenal di muka bumi ini tak ada orang yang mengetahuinya dengan pasti setakat ini. Walaupun begitu, dari sumber prasejarah, diyakini bahwa bahasa Melayu telah digunakan oleh bangsa Melayu sejak 4.000 tahun silam. Keyakinan itu didasari oleh kenyataan bahwa pada abad ketujuh (Sriwijaya) bahasa Melayu sudah mencapai kejayaannya. Tak ada bahasa di dunia ini yang dapat berjaya secara tiba-tiba tanpa melalui perkembangan tahap demi tahap.

Sejauh yang dapat ditelusuri, puncak pertama kejayaan bahasa Melayu terjadi sejak abad ketujuh (633 M) sampai dengan abad keempat belas (1397 M.) yaitu pada masa Kemaharajaan Sriwijaya. Menurut Kong Yuan Zhi (1993:1), pada November 671 Yi Jing (635—713), yang di Indonesia lebih dikenal sebagai I-tsing, berlayar dari Guangzhou (Kanton) menuju India dalam kapasitasnya sebagai pendeta agama Budha. Kurang dari dua puluh hari beliau sampai di Sriwijaya, yang waktu itu sudah menjadi pusat pengkajian ilmu agama Budha di Asia Tenggara. Di Sriwijayalah selama lebih kurang setengah tahun Yi Jing belajar sabdawidya (tata bahasa Sansekerta) sebagai persiapan melanjutkan perjalanannya ke India. Setelah tiga belas tahun belajar di India (Tamralipiti/Tamluk), beliau kembali ke Sriwijaya dan menetap di sana selama empat tahun (686—689) untuk menyalin kitab-kitab suci agama Budha. Setelah itu beliau kembali ke negerinya, tetapi pada tahun yang sama beliau datang kembali ke Sriwijaya dan menetap di sana sampai 695.

Dari catatan Yi Jing itulah diketahui bahasa yang disebutnya sebagai bahasa Kunlun, dipakai secara luas sebagai bahasa resmi kerajaan, bahasa agama, bahasa ilmu dan pengetahun, bahasa perdagangan, dan bahasa dalam komunikasi sehari-hari masyarakat. Yi Jing mengatakan bahwa bahasa Kunlun telah dipelajari dan dikuasai oleh para pendeta agama Budha Dinasti Tang. Mereka menggunakan bahasa Kunlun untuk menyebarkan agama Budha di Asia Tenggara. Dengan demikian, bahasa Kunlun menjadi bahasa kedua para pendeta itu. Ringkasnya, bahasa Kunlun merupakan bahasa resmi Kemaharajaan Sriwijaya dengan seluruh daerah taklukannya yang meliputi Asia Tenggara. Pada masa itu bahasa Kunlun telah menjadi bahasa internasional. Ternyata, bahasa Kunlun yang disebut Yi Jing dalam catatannya itu ialah bahasa Melayu Kuno.

Pada masa Sriwijaya itu bahasa Melayu telah bertembung dengan bahasa Sansekerta yang dibawa oleh kebudayaan India. Bangsa India menyebut bahasa Melayu sebagai Dwipantara sejak abad pertama masehi lagi (Levi, 1931 dalam Hassim dkk., 2010:3). Pertembungan dengan bahasa Sansekerta menyebabkan bahasa Melayu mengalami evolusi yang pertama. Bahasa Melayu telah berkembang menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan mampu menyampaikan gagasan-gagasan baru yang tinggi, yang sebelumnya tak ada dalam kebudayaan Melayu (lihat Hussein, 1966:10—11).

Dari perenggan di atas jelaslah bahwa bahasa Melayu (Kuno) sudah tersebar luas di Asia Tenggara dan mencapai puncak kejayaan pertamanya sejak abad ketujuh karena digunakan sebagai bahasa resmi Kemaharajaan Sriwijaya. Itu pulalah sebabnya, bahasa Melayu mampu menjadi lingua franca dan menjadi bahasa internasional di Asia Tenggara. Masa Sriwijaya itu dikenal sebagai tradisi Melayu-Budha dengan peninggalannya berupa prasasti-prasasti di Kedukan Bukit, Palembang (tahun Saka 605 = 683 M.), di Talang Tuwo, Palembang (tahun Saka 606 = 864 M.), di Kota Kapur, Bangka (tahun Saka 608 = 686 M.), di Karang Berahi, hulu Sungai Merangin (tahun Saka 608 = 686 M.), Prasasti Sojomerto (Kabupaten Batang, Pekalongan= abad ke-7), Prasasti Candi Sewu (792 M.), dan lain-lain. Kesemua prasasti itu menggunakan bahasa Melayu huruf Pallawa (India Selatan) dan bercampur dengan kata pungut dari bahasa Sansekerta.

3. Bahasa Melayu Zaman Melaka

Setelah masa kegemilangan dan kecemerlangan Sriwijaya meredup, pusat tamadun Melayu berpindah-pindah. Perpindahan itu dimulai dari Bintan, Temasik (Singapura), Melaka, Johor, Bintan, Lingga, dan Penyengat Indrasakti.

Antara abad ke-12 hingga abad ke-13 berdirilah kerajaan Melayu di Selat Melaka. Kerajaan Melayu tua itu dikenal dengan nama Kerajaan Bintan-Temasik, yang wilayah kekuasaannya meliputi Riau dan Semenanjung Tanah Melayu. Sesudah masa Bintan-Temasik inilah termasyhur pula Kerajaan Melaka sejak abad ke-13.

Pada awal abad ke-15 Kerajaan Melaka sudah menjadi pusat perdagangan dunia di sebelah timur yang maju pesat. Para saudagar yang datang dari Persia, Gujarat, dan Pasai—sambil berniaga—juga menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah kekuasaan Melaka. Tak hanya itu, mereka pun menyebarkan bahasa Melayu karena penduduk tempatan yang mereka kunjungi tak memahami bahasa para pedagang itu, begitu pula sebaliknya. Jalan yang harus ditempuh ialah menggunakan bahasa Melayu. Bersamaan dengan masa keemasan Melaka ini, dimulailah tamadun Melayu-Islam. Bahasa Melayu pun mendapat pengaruh bahasa Arab dan bangsa-bangsa pedagang itu (Arab, Persia, dan lain-lain) menjadikannya sebagai bahasa kedua mereka.

Menurut Ensiklopedia Bahasa Utama Dunia (1998:56), ulama Gujarat seperti Nuruddin al-Raniri berkarya dan berdakwah dengan menggunakan bahasa Melayu. Begitu pula Francis Xavier yang menyampaikan summon dalam bahasa Melayu ketika beliau berada di Kepulauan Maluku. Masuknya Islam ke dunia Melayu makin meningkatkan bahasa Melayu sebagai bahasa internasional dalam dunia Islam dan menjadi bahasa kedua terbesar setelah bahasa Arab (www.prihatin.net).

Pada masa kejayaan Melaka itu bahasa dan kesusastraan Melayu turut berkembang. Bahasa Melayu menjadi bahasa resmi kerajaan, bahasa perdagangan, bahasa ilmu dan pengetahuan, di samping bahasa perhubungan sehari-hari rakyat. Bahasa Melayu yang berkembang pada zaman Melaka ini disebut bahasa Melayu Melaka. Malangnya, pada 1511 Kerajaan Melaka dapat ditaklukkan oleh Portugis. Dan lebih tragis lagi, khazanah kebudayaan zaman Melaka itu musnah terbakar ketika terjadi penyerbuan oleh penjajah tersebut.

Sultan Mahmud Syah berundur ke Pahang, lalu mendirikan pusat kerajaan Melayu di Bintan pada 1513, dengan wilayahnya selain Kepulauan Riau juga meliputi Indragiri, Siak, Kampar, Rokan, dan lain-lain. Kota Bintan juga diranapkan oleh Portugis pada 1526 sehingga Sultan Mahmud beredar ke Kampar hinggalah beliau meninggal di sana. Dengan demikian, Sultan Mahmud merupakan raja terakhir dari Imperium Melayu Melaka, yang sekaligus pula menjadi sultan pertama Kerajaan Riau-Johor.

4. Bahasa Melayu Zaman Riau-Johor

Teraju kepemimpinan Melayu dilanjutkan oleh putra Sultan Mahmud yang bergelar Sultan Ala’uddin Riayat Syah II. Beliau mendirikan negara Melayu baru yang pemerintahannya berpusat di Johor pada 1530. Beliau berkali-kali berusaha untuk merebut kembali Melaka, tetapi tetap tak berjaya.

Walaupun begitu, di Johor ini dilakukan pembinaan dan pengembangan bahasa dan kesusastraan untuk menggantikan khazanah Melaka yang telah musnah. Di samping itu, diterbitkan pula karya-karya baru. Di antara karya tradisi Johor itu yang terkenal ialah Sejarah Melayu (Sulalatu’s Salatin ‘Peraturan Segala Raja’) tulisan Tun Mahmud Sri Lanang gelar Bendahara Paduka Raja. Karya yang amat masyhur ini mulai ditulis di Johor pada 1535 dan selesai pada 1021 H. bersamaan dengan 13 Mei 1612 di Lingga. Bahasa yang digunakan dalam tradisi Johor ini biasa disebut bahasa Melayu Riau-Johor atau bahasa Melayu Johor-Riau. Di Indonesia bahasa itu dikenal dengan nama bahasa Melayu Riau, sedangkan di Malaysia biasa juga disebut bahasa Melayu Johor, selain sebutan bahasa Melayu Johor-Riau. Penyebutan nama yang berubah-ubah itu (Riau-Johor dan Johor-Riau) terjadi karena perpindahan pusat pemerintahan dari Riau ke Johor dan sebaliknya.

Misi Belanda di bawah pimpinan William Velentijn yang berkunjung ke Riau pada 2 Mei 1687 mendapati Riau (Tanjungpinang) sebagai bandar perdagangan yang sangat maju dan ramai. Orang-orang dari pelbagai penjuru dunia datang ke sini dan mereka terkagum-kagum akan kepiawaian orang Riau dalam bidang perdagangan dan kelautan umumnya.

Pada 1778 perdagangan di Kerajaan Riau-Johor bertambah maju dengan pesat. Dengan sendirinya, rakyat hidup dengan makmur, yang diikuti oleh kehidupan beragama (Islam) yang berkembang pesat. Kala itu pemerintahan dipimpin oleh Raja Haji, Yang Dipertuan Muda Riau IV, dan Sultan Mahmud Syah (Sultan Mahmud II). Raja Haji pulalah yang membangun koalisi nusantara yang terdiri atas Batu Bahara, Siak, Indragiri, Jambi, pesisir Kalimantan, Selangor, Naning, dan Rembau, bahkan mencoba berhubungan dengan para raja di Jawa dalam melawan kompeni Belanda untuk membela marwah bangsanya. Akhirnya, beliau syahid di medan perang pada 19 Juni 1784 di Teluk Ketapang. Tak heranlah mengapa bahasa Melayu Riau-Johor telah tersebar luas di kerajaan-kerajaan koalisi itu karena begitu kuatnya pengaruh Kerajaan Riau-Johor kala itu.

Menurut Francois Valentijn, pendeta sekaligus pakar sejarah berkebangsaan Belanda, pada abad ke-18 bahasa Melayu di bawah Kerajaan Riau-Johor telah mengalami kemajuan pesat dan telah menyamai bahasa-bahasa Eropa. Berikut ini penuturannya (lihat Nik Sapiah Karim dkk., 2003:14 dan Hassim dkk., 2010:4).

“Bahasa mereka, bahasa Melayu, bukan sahaja dituturkan di daerah pinggir laut, tetapi juga digunakan di seluruh Kepulauan Melayu dan di segala negeri Timur, sebagai suatu bahasa yang difahami di mana-mana sahaja oleh setiap orang, tidak ubah seperti bahasa Perancis atau Latin di Eropah, atau sebagai bahasa Lingua Franca di Itali dan di Levant. Sungguh luas tersebarnya bahasa Melayu itu sehingga kalau kita memahaminya tidaklah mungkin kita kehilangan jejak, kerana bahasa itu bukan sahaja difahami di Parsi bahkan lebih jauh dari negeri itu, dan di sebelah timurnya sehingga Kepulauan Filipina.”

Dengan keterangan Francois Valentijn itu, jelaslah bahwa bahasa Melayu telah sejak lama menjadi bahasa ibu atau bahasa pertama masyarakat di Kepulauan Melayu. Bersamaan dengan itu, bahasa Melayu bukan pula baru digunakan sebagai bahasa kedua oleh seluruh penduduk nusantara ini. Hal ini perlu digarisbawahi dalam kita menyikapi persilangan pendapat tentang asal-muasal bahasa Indonesia karena ada sarjana yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari pijin atau kreol Melayu.

Pada 1824, melalui Treaty of London (Perjanjian London), Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang dipecah dua oleh Belanda dan Inggris. Kawasan Riau-Lingga berada di bawah Belanda, yang kemudian terkenal dengan nama Kerajaan Riau-Lingga, sedangkan Johor-Pahang di bawah pengawasan Inggris.

Pada awal mendekati pertengahan abad ke-19 di Singapura bersinar kepengarangan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Buah karyanya kesemuanya ditulis dalam bahasa Melayu, antara lain, Syair Singapura Terbakar (1830), Kisah Pelayaran Abdullah dari Singapura ke Kelantan (1838), Dawa ul Kulub (?), Syair Kampung Gelam Terbakar (1847), Hikayat Abdullah (1849), Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah (1854). Selain itu, beliau menulis karya-karya terjemahannya, antara lain, Hikayat Pancatanderan (1835), Injil Matheus (bersama Thomsen), Kisah Rasul-Rasul, dan Henry dan Pengasuhnya (bersama Paderi Keasberry). Karya-karya Abdullah itu penting artinya bagi pengembangan bahasa Melayu, apalagi karya-karyanya itu tak lagi bersifat istana sentris, sebagai langkah awal menuju tradisi Melayu modern. Akan tetapi, beliau tak menulis satu buku pun tentang ilmu bahasa Melayu. Itulah yang membedakannya dengan penulis seangkatannya di Kerajaan Riau-Lingga yaitu Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim.

5. Bahasa Melayu Zaman Riau-Lingga

Di Kerajaan Riau-Lingga sejak pertengahan ke-19 sampai awal abad ke-20 kreativitas ilmu, pengetahuan, dan budaya mengalir dengan subur. Di sini aktivitas intelektual, yang menjadi ciri khas tamadun Melayu sejak zaman Sriwijaya, tumbuh merecup kembali. Tak berlebihanlah apabila disebut bahwa pada abad itu Kerajaan Riau-Lingga menjadi pusat tamadun Melayu-Islam, pasca Kerajaan Melaka. Di antara para penulis dan karya-karyanya disenaraikan berikut ini.

Raja Ali Haji (1808—1873) paling masyhur di antara kaum intelektual Riau kala itu. Beliau menulis dua buah buku dalam bidang bahasa (Melayu) yaitu Bustanul Katibin (1857) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858). Buah karyanya yang lain dalam bidang hukum dan pemerintahan yaitu Tsamarat Al-Muhimmah dan Muqaddima Fi Intizam, bidang sejarah Silsilah Melayu dan Bugis (1866) dan Tuhfat Al-Nafis (1865), bidang filsafat yang berbaur dengan puisi Gurindam Dua Belas (1847), bidang sastra (puisi), yang ada juga berbaur dengan bidang agama Syair Abdul Muluk (1846), Syair Sinar Gemala Mestika Alam, Syair Suluh Pegawai, dan Syair Siti Sianah. Karyanya yang lain ialah Al-Wusta, Al-Qubra, dan Al-Sugra. Dia juga diperkirakan menulis naskah Peringatan Sejarah Negeri Johor.

Abu Muhammad Adnan menghasilkan karya asli dan terjemahan. Karyanya dalam bidang bahasa adalah Kitab Pelajaran Bahasa Melayu dengan rangkaian Penolong Bagi yang Menuntut Akan Pengetahuan yang Patut, Pembuka Lidah dengan Teladan Umpama yang Mudah, Rencana Madah pada Mengenal Diri yang Indah. Selain itu, dia juga menulis Hikayat Tanah Suci, Kutipan Mutiara, Syair Syahinsyah, Ghayat al-Muna, dan Seribu Satu Hari.

Penulis berikutnya Raja Ali Kelana. Dia menghasilkan karya dalam bidang bahasa yaitu Bughiat al-Ani Fi Huruf al-Ma’ani. Karyanya yang lain ialah Pohon Perhimpunan, Perhimpunan Pelakat, Rencana Madah, Kumpulan Ringkas Berbetulan Lekas, dan Percakapan Si Bakhil.

Penulis lain yang juga sangat dikenal ialah Haji Ibrahim. Dari penulis ini, Kepulauan Riau mewarisi paling tidak lima buah buku. Karyanya dalam bidang bahasa ialah Cakap-Cakap Rampai-Rampai Bahasa Melayu-Johor (dua jilid; penerbitan pertama 1868 dan kedua 1875, di Batavia). Karya-karyanya yang lain ialah Perhimpunan Pantun-Pantun Melayu, Hikayat Raja Damsyik, Syair Raja Damsyik, dan Cerita Pak Belalang dan Lebai Malang.

Raja Ahmad Engku Haji Tua (ayahnda Raja Ali Haji menulis tiga buah buku: (1) Syair Engku Puteri, (2) Syair Perang Johor, dan (3) Syair Raksi. Dia juga mengerjakan kerangka awal buku Tuhfat al-Nafis yang kemudian disempurnakan dan diselesaikan oleh anaknya, Raja Ali Haji.

Penulis yang lain adalah Raja Haji Daud, saudara seayah Raja Ali Haji. Dia menulis buku (1) Asal Ilmu Tabib dan (2) Syair Peperangan Pangeran Syarif Hasyim.

Raja Hasan, anak laki-laki Raja Ali Haji, diketahui menulis sebuah syair. Syair Burung nama gubahannya itu.

Pengarang berikutnya adalah Umar bin Hasan. Dia menulis buku Ibu di dalam Rumah Tangga.

Khalid Hitam, selain aktif dalam kegiatan politik, juga dikenal sebagai pengarang. Karyanya (1) Syair Perjalanan Sultan Lingga dan Yang Dipertuan Muda Riau Pergi ke Singapura, (2) Peri Keindahan Istana Sultan Johor yang Amat Elok, dan (3) Tsamarat al-Matlub Fi Anuar al-Qulub.

Raja Haji Ahmad Tabib menulis lima buah buku. Kelima buku tersebut adalah (1) Syair Nasihat Pengajaran Memelihara Diri, (2) Syair Raksi Macam Baru, (3) Syair Tuntutan Kelakuan, (4) Syair Dalail al-Ihsan, dan (5) Syair Perkawinan di Pulau Penyengat.

Raja Ali dan Raja Abdullah, selain dikenal sebagai pemimpin kerajaan yaitu sebagai Yang Dipertuan Muda Riau, keduanya juga adalah penulis. Raja Ali menulis (1) Hikayat Negeri Johor dan (2) Syair Nasihat. Akan halnya Raja Abdullah dia menghasilkan karya (1) Syair Madi, (2) Syair Kahar Masyhur, (3) Syair Syarkan, dan (4) Syair Encik Dosman.

Raja Haji Muhammad Tahir sehari-hari dikenal sebagai hakim. Walaupun begitu, dia juga menghasilkan karya sastra yaitu Syair Pintu Hantu.

Raja Haji Muhammad Said dikenal sebagai penerjemah. Karya terjemahannya (1) Gubahan Permata Mutiara (terjemahan karya Ja’far al-Barzanji) dan (2) Simpulan Islam (terjemahan karya Syaikh Ibrahim Mashiri).

Abdul Muthalib menghasilkan dua buah karya: (1) Tazkiratul Ikhtisar dan (2) Ilmu Firasat Orang Melayu.

Pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20 dunia kepengarangan di Kerajaan Riau-Lingga juga diramaikan oleh penulis-penulis perempuan. Di antara mereka terdapat nama Raja Saliha. Dia dipercayai mengarang Syair Abdul Muluk bersama Raja Ali Haji.

Raja Safiah mengarang Syair Kumbang Mengindera dan saudaranya Raja Kalsum menulis Syair Saudagar Bodoh. Kedua penulis perempuan itu adalah putri Raja Ali Haji.

Pengarang perempuan yang juga sangat terkenal waktu itu adalah Aisyah Sulaiman. Cucu Raja Ali Haji itu menulis (1) Syair khadamuddin, (2) Syair Seligi Tajam Bertimbal, (3) Syamsul Anwar, dann (4) Hikayat Shariful Akhtar.

Masih ada paling tidak dua orang penulis perempuan lagi yang menulis karya asli. Pertama, Salamah binti Ambar menulis dua buku yaitu (1) Nilam Permata dan, (2) Syair Nasihat untuk Penjagaan Anggota Tubuh. Kedua, Khadijah Terung menulis buku Perhimpunan Gunawan bagi Laki-laki dan Perempuan.

Penulis perempuan yang lain ialah Badriah Muhammad Thahir. Dia memusatkan perhatian dalam bidang penerjemahan. Karya terjemahannya adalah Adab al-Fatat, berupa terjemahan dari karya Ali Afandi Fikri.

Untuk mengoptimalkan kreativitas intelektual dan kultural mereka, para cendekiawan dan budayawan Kerajaan Riau-Lingga itu mendirikan pula Rusydiyah Kelab pada 1880. Rusydiyah Kelab merupakan perkumpulan cendekiawan Riau-Lingga, tempat mereka membahas pelbagai hal yang berkaitan dengan ihwal pekerjaan mereka.

Dunia kepengarangan tak akan lengkap tanpa percetakan. Sadar akan kenyataan itu, kerajaan mendirikan percetakan (1) Rumah Cap Kerajaan di Lingga, (2) Mathba’at Al-Riauwiyah di Penyengat, dan (3) Al-Ahmadiyah Press di Singapura. Dengan adanya ketiga percetakan itu, karya-karya Riau-Lingga itu dapat dicetak dengan baik, yang pada gilirannya disebarluaskan.

Dari senarai karya para penulis Riau-Lingga itu, dapatlah diketahui pada masa itu telah dilakukan pembinaan dan pengembangan bahasa Melayu secara intensif. Karya-karya linguistik mereka meliputi tata bahasa, ejaan, dan perkamusan (Raja Ali Haji), etimologi dan morfologi (Haji Ibrahim), semantik (Raja Ali Kelana), dan pelajaran bahasa (Abu Muhammad Adnan atau nama aslinya Raja Abdullah). Itulah sebabnya, karya-karya mereka menjadi lebih istimewa dibandingkan dengan karya Munsyi Abdullah, yang tak menghasilkan karya dalam bidang bahasa. Jelaslah bahwa pada masa itu telah dilakukan upaya pembakuan atau standardisasi bahasa Melayu. Ditambah karya dalam bidang kesusastraan yang bermutu tinggi dan pelbagai bidang ilmu, bahasa Melayu baku (Melayu tinggi) Riau-Lingga itu menjadi yang paling terkemuka di antara dialek Melayu yang lain di nusantara ini sehingga menjadi rujukan bahasa Melayu.

Bahasa Melayu yang dibina dan dikembangkan pada masa Imperium Melayu sejak abad ke-14 sampai dengan abad ke-19 itu disebut bahasa Melayu klasik. Ciri utamanya ialah begitu melekat dan bersebatinya bahasa Melayu itu dengan Islam. Oleh sebab itu, tamadun yang dinaunginya terkenal dengan sebutan tamadun Melayu-Islam. Dari tamadun itulah bangsa Melayu mewarisi tulisan Jawi atau tulisan Arab-Melayu. Pada masa Riau-Lingga, karena kreativitas penulisnya, bahasa Melayu telah menunjukkan ciri transisi dari bahasa Melayu klasik ke bahasa Melayu modern.

6. Bahasa Melayu Masa Penjajahan

Pada masa pendudukannya di nusantara ini pemerintah kolonial Belanda berkali-kali berusaha untuk mengatasi kedudukan istimewa bahasa Melayu, yang hendak digantikannya dengan bahasa Belanda. Ketika pada 1849 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah bagi orang Jawa, muncullah persoalan bahasa: bahasa apakah yang harus digunakan sebagai bahasa pengantar? Terjadilah perselisihan pendapat. Akan tetapi, Gubernur Jenderal Rochussen dengan tegas berpandangan bahwa pengajaran itu harus diantarkan dengan bahasa Melayu karena sudah menjadi alat komunikasi di seluruh Kepulauan Hindia.

Ada satu hal lagi yang tak boleh dilupakan dalam kaitannya dengan perkembangan bahasa Melayu di nusantara ini. Walau di bawah penjajahan Belanda, bahasa Melayu tetap digunakan sebagai bahasa resmi antara pihak Belanda dan raja-raja serta pemimpin rakyat kala itu. Berkenaan dengan itu, C.A. Mees (1957:16) menyimpulkannya, “Demikianlah bahasa Melayu itu mempertahankan sifat yang internasional dan bertambah kuat dan luaslah kedudukannya yang istimewa itu.”

Pada masa pendudukan Jepang (1942—1945) kedudukan bahasa Melayu (Indonesia) menjadi lebih kuat lagi. Hal itu disebabkan oleh pemerintah kolonial Jepang tak mengizinkan bangsa Indonesia menggunakan bahasa Belanda.

7. Bahasa Melayu Masa Pergerakan Nasional

Memasuki abad ke-20 bahasa Melayu memainkan peran sebagai bahasa pergerakan nasional. Pada masa ini peran bahasa Melayu menjadi lebih penting lagi. Kesadaran para pemimpin bangsa kala itu bahwa perlu adanya persatuan dan kesatuan yang kokoh di seluruh nusantara untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Untuk itu, diperlukan satu bahasa persatuan untuk mempersatuan seluruh bangsa Indonesia sehingga memudahkan perjuangan merebut kemerdekaan.

Siapakah yang mengusulkan bahasa yang harus dijadikan bahasa persatuan bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan dan setelah merdeka kelak? Ternyata, usul itu berasal dari R.M. Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) dalam makalahnya yang disampaikan pada 28 Agustus 1916 dalam Kongres Pengajaran Kolonial di Den Haag, Belanda. Usul beliau, bahasa Melayulah yang harus dijadikan bahasa persatuan dengan melihat perkembangan pesat bahasa Melayu pada masa itu.

Ketika Dewan Rakyat dilantik pada 1918, dimunculkan keinginan akan bahasa persatuan. Pada 25 Juni 1918, berdasarkan Ketetapan Raja Belanda, para anggota Dewan diberi kebebasan menggunakan bahasa Melayu. Begitulah selanjutnya, berdirinya penerbit Balai Pustaka dengan Majalah Panji Pustaka, Majalah Pujangga Baru, Surat Kabar Bintang Timur (Jakarta), Pewarta Deli (Medan), organisasi sosial dan politik, kesemuanya menggunakan bahasa Melayu.

Setelah itu, pada Kongres I Pemuda Indonesia muncul dua pendapat untuk nama bahasa nasional Indonesia. Muh. Yamin mengusulkan nama bahasa Melayu, sebagaimana nama asalnya, sedangkan M. Tabrani mengusulkan nama baru untuk bahasa itu yaitu bahasa Indonesia. Alhasil, Kongres I Pemuda Indonesia pada 2 Mei 1926 menyetujui nama bahasa Indonesia seperti yang diusulkan M. Tabrani (lihat Kridalaksana, 2010:13—18).

Pada Kongres II Pemuda Indonesia yang diselenggarakan di Jakarta, 28 Oktober 1928 bahasa Melayu yang diberi nama baru bahasa Indonesia, sesuai dengan usul M. Tabrani yang diterima secara aklamasi oleh peserta Kongres, dikukuhkan menjadi bahasa persatuan Indonesia. Alhasil, dalam waktu hanya tujuh belas tahun sejak 1928 dengan menggunakan bahasa Indonesia (bahasa Melayu) sebagai alat perjuangan, bangsa Indonesia berhasil merebut kembali kemerdekaannya. Padahal, sebelum itu bangsa kita sudah berjuang lebih kurang 333 tahun, tetapi tak mampu mengusir penjajah.



8. Bukti Asal-Muasal

8.1 Bukti 1

Di atas telah disebutkan bahwa pada 1849 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah bagi orang Jawa. Berkaitan dengan itu muncullah masalah bahasa pengantar yang harus digunakan. Dalam menyikapi persoalan itu terjadilah perselisihan pendapat. Namun, Gubernur Jenderal Rochussen dengan tegas berpandangan bahwa pengajaran itu harus diantarkan dengan bahasa Melayu karena sudah menjadi alat komunikasi di seluruh Kepulauan Hindia. Penegasan itu dilakukannya setelah menyadari keadaan bahwa bahasa Melayu pun telah menyebar luas di kalangan masyarakat Jawa yang digunakan sebagai bahasa kedua.

Kala itu Syair Abdul Muluk karya Raja Ali Haji telah dikenal di seluruh nusantara dan mengalami cetak ulang berkali-kali di Singapura. Versi ilmiahnya lengkap dengan terjemahan bahasa Belandanya dan diberi pendahuluan oleh P.P. Roorda van Eysinga dimuat di majalah Tijdschrift voor Neerlands Indie (1847). Begitu berpengaruhnya syair karya Raja Ali Haji itu sehingga menjadi bahan cerita teater rakyat yang juga diberi nama Dul Muluk di Palembang, tempat yang dulunya menjadi pusat penyebaran bahasa Melayu Kuno, dan Bangka-Belitung.

Itulah salah satu bukti bahwa bahasa Melayu standar Riau-Lingga telah menyebar ke seluruh nusantara dan sangat disukai oleh seluruh penduduk Kepulauan Nusantara. Dengan memperhatikan kenyataan itu, tak ada jalan lain bagi pemerintah kolonial Belanda, kecuali menjadikan bahasa Melayu Riau-Lingga sebagai bahasa pengantar di lembaga pendidikan yang mereka dirikan untuk orang pribumi, termasuk di Pulau Jawa.

8.2 Bukti 2

Pada 1855 Pemerintah Hindia Belanda mengangkat Von de Wall menjadi pegawai bahasa. Beliau adalah pegawai Belanda kelahiran Jerman, yang sebelumnya berkhidmat sebagai tentara. Beliau ditugasi untuk menyusun buku tata bahasa Melayu, kamus Melayu-Belanda, dan kamus Belanda-Melayu. Penyusunan kamus bahasa Melayu-Belanda merupakan pekerjaan yang sangat penting kala itu karena Pemerintah Hindia-Belanda memerlukan ejaan dan kosakata baku untuk pendidikan di Kepulauan Hindia-Belanda. Berhubung dengan tugas itu, Von de Wall diutus ke Kerajaan Riau-Lingga pada 1857.

Untuk menyelesaikan tugasnya itu, beliau bekerja sama dengan Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim serta mengangkat Abdullah (anak Haji Ibrahim) menjadi juru tulisnya. Beliau menetap di Tanjungpinang sampai 1860. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 14 Februari 1862, beliau kembali lagi ke Kerajaan Riau-Lingga. Sejak itu beliau terus berulang-alik Batavia-Riau Lingga sampai 1873 untuk menyelesaikan tugasnya dan mendalami bahasa Melayu (lihat Van der Putten dan Al Azhar, 2006:4—11).

Dalam masa tugasnya itu Von de Wall sempat menyunting buku karya Haji Ibrahim: Cakap-Cakap Rampai-Rampai Bahasa Melayu Johor. Jilid pertama buku itu diterbitkan di Batavia pada 1868 dan pada 1872 terbit pula jilid keduanya.

Pada masa Von de Wall bertugas itu beberapa karya Raja Ali Haji (RAH) sudah dikenal luas. Syair Abdul Muluk yang dicetak di Singapura mengalami beberapa kali cetak ulang. Syair itu diterbitkan dalam versi ilmiah lengkap dengan terjemahan bahasa Belandanya dan diberi pendahuluan oleh P.P. Roorda van Eysinga di Tijdschrift voor Neerlands Indie (1847). Dua karya RAH yang lain juga dimuat di dalam majalah berbahasa Belanda yaitu sebuah syair tanpa judul dimuat di majalah Warnasarie dan Gurindam Dua Belas yang diterbitkan oleh Netscher dalam Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap. Syair RAH yang dimuat dalam Warnasarie merupakan satu-satunya syair berbahasa Melayu di dalam majalah yang bertujuan untuk menerbitkan sajak Belanda di tanah jajahan (Van der Putten dan Al Azhar, 2006:17—18).

Karena bermitra dengan Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim, tentulah karya-karya penulis ternama Kerajaan Riau-Lingga itu berpengaruh pada pekerjaan Von de Wall. Selain karya Haji Ibrahim yang telah disebutkan di atas yang bahkan Von de Wall menjadi penyuntingnya, tentulah karya linguistik Raja Ali Haji Bustan al-Katibin (1857) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858) juga menjadi rujukan Von de Wall. Pasal, semasa beliau bertugas di Tanjungpinang dan Penyengat, buku Raja Ali Haji itu telah dicetak. Selain itu, penjelasan lisan kedua orang pendeta bahasa Melayu itu jelas menjadi acuan utama Von de Wall karena memang kedua sahabatnya itulah yang menjadi informan utama pegawai bahasa Pemerintah Hindia-Belanda itu.

Pada Mei 1864 datang seorang pakar bahasa lagi ke Kerajaan Riau-Lingga. H.C. Klinkert, nama pakar itu, dikirim oleh Majelis Injil Belanda untuk mempelajari bahasa Melayu yang murni. Tujuannya adalah untuk memperbaiki terjemahan Injil dalam bahasa Melayu. Beliau tinggal di Tanjungpinang lebih kurang dua setengah tahun (lihat Van der Putten dan Al Azhar, 2006:9).

8.3 Bukti 3

Berhubung dengan adanya keraguan tentang asal-muasal bahasa Indonesia, S. Takdir Alisjahbana menantang pihak-pihak yang ragu itu. Dalam esai yang dimuat dalam majalah Pujangga Baru pada 1933, beliau menegaskan:

“Nyatalah kepada kita, bahwa perbedaan yang sering dikemukakan orang [antara bahasa Indonesia dan bahasa Melayu, A.M.] itu tiada beralasan sedikit juapun. Dan saya yakin, bahwa meski bagaimana sekalipun orang tiada akan mungkin menunjukkan perbedaan yang sesungguh2nya nyata antara bahasa yang disebut sekarang bahasa Indonesia dengan bahasa yang disebut bahasa Melayu … ” (Alisjahbana, 1978:47).

8.4 Bukti 4

Tokoh lain yang perlu disebut ialah R.M. Suwardi Soerjaningrat yang lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Beliaulah orang pertama yang mengusulkan bahasa Melayu dijadikan bahasa persatuan dalam pergerakan nasional dan di alam Indonesia merdeka pada 1916, bahkan di Negeri Belanda. Dalam makalahnya “Bahasa Indonesia di dalam Perguruan”, yang disajikan dalam Kongres I Bahasa Indonesia di Solo pada 1938, beliau lebih tegas lagi menyebutkan, “Yang dinamakan ‘bahasa Indonesia’ adalah bahasa Melayu . . . dasarnya berasal dari ‘Melayu Riau’ . . . .” (Puar, 1985:324; lih. juga Malik, 1992:3).

8.5 Bukti 5

Rumusan hasil Kongres Bahasa Indonesia II, Medan, 1954 sekali lagi ditegaskan:

“ . . . asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhannya dalam masyarakat Indonesia sekarang” (lih. Malik, 1992:3).

8.6 Bukti 6

Di dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988:2) yang disusun oleh sejumlah pakar bahasa dari perguruan tinggi ternama di Indonesia dan Pusat Bahasa dengan Anton M. Moeliono sebagai penyunting penyelianya secara tersirat disebut asal-muasal bahasa Indonesia walau tak setegas Ki Hajar Dewantara.

“Patokan kedua (maksudnya pentingnya bahasa Indonesia ditinjau dari luas persebarannya, A.M.) jelas menempatkan bahasa Indonesia di baris depan. Sebagai bahasa setempat, bahasa itu dipakai orang di daerah pantai timur Sumatra, di Pulau Riau dan Bangka, serta daerah pantai Kalimantan.... Belum lagi bahasa Malaysia, dan bahasa Melayu di Singapura dan Brunei, yang, jika ditinjau dari sudut pandangan ilmu bahasa, merupakan bahasa yang sama juga.”

8.7 Bukti 7

Harimurti Kridalaksana (1991:176—177), seorang pakar bahasa Indonesia yang sangat karismatik, membantah pendapat yang menyebutkan bahwa bahasa Indonesia berasal dari pijin dan kreol Melayu. Dalam bantahan itu beliau mengatakan, antara lain, bahwa ketika diangkat menjadi bahasa Indonesia, 1928, bahasa Melayu secara substansiil sudah merupakan bahasa penuh (full-fledged language) dan menjadi bahasa ibu masyarakat yang tinggal di wilayah Sumatera sebelah timur, Riau, dan Kalimantan, dan sudah mempunyai kesusastraan yang berkembang—kesusastraan yang lazim disebut Angkatan Balai Pustaka atau Angkatan 20—yang berhubungan historis dengan kesusastraan Melayu Klasik yang sudah berkembang sejak abad ke-14. Selanjutnya, menurut Kridalaksana, “Sebelum menjadi bahasa Indonesia, bahasa Melayu telah mengalami proses standardisasi terutama melalui sistem pendidikan kolonial Belanda.”

Dari perian tentang sejarah bahasa Melayu sesuai dengan zamannya di atas, jelas telah saya (A.M.) dedahkan bahwa bahasa Melayu telah sejak lama menjadi bahasa pertama atau bahasa ibu masyarakat Kepulauan Melayu. Di samping itu, bahasa Melayu pun telah sejak berabad-abad menjadi bahasa kedua penduduk seluruh nusantara, jauh sebelum diangkat menjadi bahasa Indonesia. Pada masa kegemilangannya, bahasa Melayu, bahkan seperti diakui oleh banyak pakar asing, telah sejak lama menjadi bahasa internasional. Francois Valentijn, bahkan, mengatakan bahwa sejak abad ke-18 bahasa Melayu telah menyamai bahasa-bahasa penting di Eropa dan persebarannya sangat luas sampai ke Persia. Mana mungkin bahasa seperti itu disebut bahasa pijin atau kreol atau Melayu Pasar.

Lagi pula, selain telah mengalami proses standardisasi dalam sistem pendidikan kolonial Belanda, bahasa Melayu pun telah mendapat pembinaan dan pengembangan dari kalangan intelektual Kerajaan Riau-Lingga. Karya-karya Raja Ali Haji, Haji Ibrahim, dan para penulis yang terhimpun di dalam Kelab Rusydiah dalam pelbagai bidang, terutama dalam bidang bahasa, memungkinkan kedudukan bahasa Melayu tinggi (Melayu baku) menjadi istimewa dan berpengaruh luas ke seluruh Kepulauan Nusantara. Hal itu dimungkinkan karena ada rujukan yang jelas tentang sistem bahasa Melayu tinggi seperti yang diakui oleh banyak peneliti asing.

8.8 Bukti 8

Dalam buku Kees Groeneboer, Jalan ke Barat (1995:166) tercatat pada Pasal 28 dari Peraturan untuk Pendidikan Dasar Pribumi yang mulai ditetapkan pada tahun 1872, yang berbunyi sebagai berikut.

“Untuk pendidikan dalam bahasa rakyat, dipakai bahasa yang paling murni ucapannya dan yang paling berkembang di tempat-tempat itu ... bahasa Melayu akan diajarkan menurut aturan dan ejaan bahasa Melayu murni yang dipergunakan di Semenanjung Melaka dan di Kepulauan Riau [huruf tebal oleh A.M.], dan bahasa-bahasa selebihnya akan ditentukan kemudian” (KG 25-5-1872, Stb. No. 99, dalam Brouwer 1899: Lampiran I).

8.9 Bukti 9

Ch. A. van Ophuijsen, guru besar bahasa berkebangsaan Belanda, menulis banyak hal tentang bahasa Melayu. Di dalam bukunya Maleische Spraakkunst (1910 dan 1915) yang diterjemahkan oleh T.W. Kamil ke dalam bahasa Indonesia menjadi Tata Bahasa Melayu (1983). Penyusun Ejaan Bahasa Melayu dengan huruf Latin (1901) itu, antara lain, menjelaskan hal-hal berikut.

Bahasa Melayu adalah bahasa orang yang menamakan dirinya orang Melayu dan yang merupakan penduduk asli sebagian Semenanjung Melayu, Kepulauan Riau-Lingga, serta pantai timur Sumatera.
Orang Melayu termasuk bangsa pelaut dan pedagang sehingga bahasanya berpengaruh di sejumlah besar pemukiman Melayu di pantai pelbagai pulau di Kepulauan Hindia Timur (Kepulauan Indonesia, A.M.), antara lain Kalimantan.
Semua orang asing, baik orang Eropa maupun orang Timur, hampir hanya menggunakan bahasa Melayu dalam pergaulan antara mereka dan dalam pergaulan dengan penduduk seluruh Kepulauan Hindia Timur.
Pelbagai suku bangsa di antara penduduk kepulauan itu menggunakannya sebagai bahasa pergaulan antara mereka.
Kalangan raja pribumi memakai bahasa Melayu dalam urusan surat-menyuratnya dengan pemerintah (maksudnya Pemerintah Hindia-Belanda, A.M.) dan antara sesamanya.
Semua surat-menyurat antara pegawai negeri Eropa dan pribumi pun dilangsungkan dalam bahasa itu.
Penyebaran bahasa Melayu telah terjadi selama berabad-abad sehingga dapat disebut bahasa internasional, yang terutama dipakai di dalam bidang diplomasi oleh raja yang memelihara hubungan dengan raja lain.
Bahasa Melayu itu menonjol karena sederhana susunannya dan sedap bunyinya, tak ada bunyinya yang sulit diucapkan oleh orang asing.
Bahasa Melayu dapat menjalankan peranannya sebagai bahasa internasional karena syarat kemantapannya telah dipenuhi dengan baik, yang menjadi salah satu cirinya yang terpenting.

Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa bahasa Melayu, seperti halnya bahasa Belanda, memiliki banyak logat. Di antara aneka logat, yang diutamakan oleh orang Melayu ialah logat yang dituturkan di Johor, di sebagian Semenanjung Melayu, dan di Kepulauan Riau-Lingga (khususnya di Pulau Penyengat, tempat Raja Muda Riau dulu bersemanyam dan di Daik di Pulau Lingga yang sampai baru-baru ini menjadi tempat kedudukan Sultan Lingga).

Bahasa Melayu Riau-Lingga itu dijadikan rujukan karena dua sebab. Pertama, sebagian besar kepustakaan tertulis ada dalam bahasa itu. Kedua, di istana-istana Melayu sebanyak mungkin masih digunakan bahasa itu, baik dalam pergaulan maupun dalam surat-menyurat oleh golongan berpendidikan. Di daerah tersebut, pengaruh yang dialaminya dari bahasa-bahasa lain paling kecil; di sanalah watak khasnya paling terpelihara. Untuk mereka yang ingin menelaah bahasa nusantara yang lain, pengetahuan tentang bahasa Melayu Riau-Lingga atau Riau-Johor ini merupakan bantuan besar.

8.10 Bukti 10

Pada Sabtu, 29 April 2000 Presiden Republik Indonesia, Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membuka Temu Akbar I Thariqat Mu’tabarah Se-Sumatera, di Masjid Agung Annur, Pekanbaru. Dalam pidatonya beliau menegaskan pengakuan Pemerintah Republik Indonesia akan jasa pahlawan Raja Ali Haji dalam mempersatukan bangsa dan menciptakan bahasa nasional. “Tanpa jasa beliau itu, kita belum tentu menjadi bangsa yang kokoh seperti sekarang ini,” tegas beliau.

Dengan itu, sebetulnya bahasa Melayu Kepulauan Riau sebagai asal-muasal bahasa Indonesia telah mendapat pengakuan resmi dari Pemerintah Republik Indonesia. Pasal, Kepulauan Riaulah tempat Pahlawan Nasional dan Bapak Bahasa, Raja Ali Haji, dilahirkan, berkarya, dan wafat serta dalam bahasa Melayu Kepulauan Riau pulalah beliau berkarya untuk bangsa dan negaranya.

9. Simpulan

Bahasa Melayu sejak abad ke-7 telah menjadi bahasa yang terpenting di nusantara. Dari masa kegemilanngan Sriwijaya, yang mengembangkan tamadun Melayu-Budha, hingga masa-masa kecemerlangan Imperium Melayu Melaka, Johor-Riau atau Riau-Johor, dan Riau-Lingga, yang mengembangkan tamadun Melayu-Islam, bahasa Melayu telah memainkan perannya yang sangat penting dalam bidang perdagangan, pemerintahan, agama, ilmu dan pengetahun, dan sosial-budaya umumnya. Itulah sebabnya, bahasa Melayu menjadi lingua franca, yang pada gilirannya menjadi bahasa internasional kala itu.

Pembinaan yang intensif yang dilakukan oleh Raja Ali Haji dkk. di Kerajaan Riau-Lingga sejak abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20 memungkinkan bahasa Melayu Kerajaan Riau-Lingga terpelihara sebagai bahasa baku, yang biasa disebut bahasa Melayu Tinggi. Bahasa Melayu Tinggi itulah, pada Kongres I Pemuda Indonesia, 2 Mei 1926 diberi nama baru dan pada peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, dikukuhkan sebagai bahasa Indonesia.

Dengan demikian, bahasa Melayu yang berasal dari Kepulauan Riau-lah (tempat kedudukan Sultan Riau-Lingga, Daik, dan tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda, Penyengat Inderasakti) yang dijadikan bahasa Indonesia, yang dalam alam Indonesia merdeka berkedudukan sebagai bahasa nasional sekaligus bahasa negara.

Pemilihan itu sesuai dengan kebijakan pemerintah Hindia-Belanda sebelumnya yang menilai bahwa bahasa Melayu Kepulauan Riau paling murni lafalnya serta paling baik tata bahasa dan ejaannya sehingga diwajibkan menjadi bahasa pengantar pendidikan pribumi di seluruh kawasan pemerintahan Hindia-Belanda. Kebijakan itu didasari oleh kenyataan bahwa kalau tak menjadi bahasa pertama, bahasa Melayu Kepulauan Riau (bahasa sekolah) menjadi bahasa kedua sebagian besar penduduk nusantara. Oleh sebab itu, ketika diusulkan oleh Ki Hajar Dewantara, Muh. Yamin, dan M. Tabrani (dengan perubahan nama), para pendiri bangsa ini—apa pun latar belakang suku, budaya, dan bahasa ibunya—dengan suara bulat menerimanya.

10. Rekomendasi

Sesuai dengan uraian di atas, berikut ini dikemukakan tiga butir rekomendasi untuk melanjutkan tradisi intelektual yang menjadi ciri utama tamadun Melayu di kawasan ini.

Kepulauan Riau seyogyanya memiliki Institusi Pengajian Bahasa dan Tamadun Melayu untuk meneruskan upaya yang telah dirintis oleh Raja Ali Haji dkk. Hanya dengan itu tradisi intelektual yang menjadi ciri khas tamadun Melayu zaman-berzaman akan terpelihara dan dapat terus berlanjut di sini.

Di ibukota Provinsi Kepulauan Riau, Tanjungpinang, atau di Pulau Penyengat sebaiknya dibangun Prasasti Bahasa. Keberadaan prasasti itu mustahak untuk mengekalkan memori anak bangsa tentang perjuangan para pendahulu kita dalam memperjuangkan kebudayaan bangsa, yang menjadi jati diri kita, dan melahirkan bahasa persatuan dan bahasa negara, bahasa Indonesia.
Untuk memelihara khazanah kebudayaan kita, sebaiknya juga segera digesa pembangunan museum kebudayaan Kepulauan Riau yang representatif di ibukota Provinsi Kepulauan Riau, Tanjungpinang.



DAFTAR PUSTAKA

Alisjahbana, S. Takdir. 1978. Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat.

Bell, Rogers T. 1976. Sociolinguistics: Goals, Approaches, and Problems. London: B.T. Batsfort.

Crystal, David. 1980. A First Dictionary of Linguistics and Phonetics. Cambridge: University Press.

Fishman, Joshua A. 1974. Advances in Language Planning. The Hague: Mouton.

Gardner, Robert dan Wallace Lambert. 1972. Attitudes and Motivation in Second Language Learning. Rowley, Mass.: Newbury House Publishers.

Hassim, Shahruddin, Ahmad Zulhusny bin Rozali, dan Puan Norshabihah Ahmad. 2010. “Memperkasa Bahasa Melayu di Arena Antarabangsa”, makalah Seminar Pendidikan Melayu Antarabangsa, Perlis, 2010.

Junus, Hasan. 2000. Raja Haji Fisabilillah: Hannibal dari Riau. Tanjungpinang: Hubungan Masyarakat Pemerintah Daerah Kepulauan Riau.

Karim, Nik Sapiah. 2003. Tatabahasa Dewan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Kong Yuan Zhi. 1993. “Bahasa Kunlun dalam Sejarah Bahasa Melayu,” makalah Simposium Internasional Ilmu-Ilmu Humaniora II: Bidang Sejarah dan Linguistik, Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 26—27 April 1993.

Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

_____.`1991. Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai. Yogyakarta: Kanisius.

_____. 2010. Masa-Masa Awal Bahasa Indonesia. Depok: Laboratorium Leksikologi dan Leksikografi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Malik, Abdul. 1992. “Perkembangan Bahasa Melayu Masa Kini: Kasus Indonesia”. Makalah Seminar Internasional Bahasa Melayu sebagai Bahasa Pergaulan Bangsa Asean dan Bangsa Serumpun, Tanjungpinang, 7—10 September 1992.

_____.2009. Memelihara Warisan yang Agung. Yogyakarta: Akar Indonesia.

Malik, Abdul dan Hasan Junus. 2000. “Studi tentang Himpunan Karya Raja Ali Haji”. Pekanbaru: Bappeda Propinsi Riau dan PPKK, Unri.

Malik, Abdul, Hasan Junus, dan Auzar Thaher. 2003. Kepulauan Riau sebagai Cagar Budaya Melayu. Pekanbaru: Unri Press.

Mees, C.A. 1957. Tatabahasa Indonesia. Jakarta: J.B. Wolters.

Moeliono, Anton M. (Peny.) 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Moeliono, Anton M. 2000. “Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi,” dalam Hasan Alwi dkk. (Eds.) Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Puar, Yusuf Abdullah (Ed.). 1985. Setengah Abad Bahasa Indonesia. Jakarta: Idayus.

Van der Putten, Jan dan Al Azhar. 2006. Dalam Perkekalan Persahabatan: Surat-Surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall. Terjemahan Aswandi syahri. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Van Ophuijsen, Ch. A. 1983. Tata Bahasa Melayu. Terjemahan T.W. Kamil. Jakarta: Djambatan.
www.prihatin.net


Sumber :
Abdul Malik pada 30 Oktober 2011 jam 2:12
FKIP, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH)

Artikel bersempena

  • Open Recruitment - Riau Heritage sedang membuka kesempatan kepada teman-teman yang berminat untuk menjadi relawan. Kita belum bisa settle jadwal ngumpul bareng nih, tapi buat ...
  • Tahun Hutan - Tahun Hutan Sebagai Upaya Konservasi Hutan Dunia Ada sekitar 4 miliar hektar hutan di dunia, yang menutupi hampir 30 persen dari wilayah daratan bumi. Sekita...
  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini d...