Jumat, September 30, 2011

TANJUNG PINANG NEGERI BERHARI JADI

SEMALAM, 24 September 2011, Sabtu, di Hotel Aston, Tanjungpinang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Provinsi Kepulauan Riau memperingati Hari Jadi ke-9 Provinsi Kepulauan Riau. Penetapan tanggal itu sebagai Hari Jadi Provinsi Kepulauan Riau mengambil sempena peristiwa disahkannya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia pada tanggal dan bulan yang sama sembilan tahun silam, Selasa petang. Walau pemerintahannya baru diresmikan lebih kurang dua tahun kemudian, yakni 1 Juli 2004, Undang-undang tentang pembentukan provinsi ini lebih dulu disahkan.

Setiap peringatan Hari Jadi Provinsi Kepulauan Riau, sama ada diundang atau tidak—kebetulan semalam saya diundang—kenangan yang paling indah yang terekam di minda dan dibenarkan oleh hati saya adalah dua peristiwa di tempat yang sama. Pertama, di dalam Ruang Rapat Paripurna DPR RI ketika Wakil Ketua DPR ketika itu, Tosari Widjaya, yang memimpin rapat mengetukkan palu tanda disetujuinya Kepulauan Riau menjadi provinsi. Sungguh peristiwa yang mengharukan kami yang memenuhi ruang itu mengingat begitu berliku-likunya perjuangan untuk membentuk provinsi ini. Tak ada kata dan kalimat yang tepat untuk melukiskan keharuan, kegembiraan, dan kebahagiaan itu, kecuali ditunjukkan dengan isak-tangis, pekik Allahu Akbar yang membahana, dan sujud syukur. Kedua, ketika kami memasuki Masjid Baitul Rahman di Kompleks Gedung DPR/MPR RI untuk melaksanakan salat Magrib, yang kami mulakan dengan kembali melakukan sujud syukur sekali lagi.

Mengetahui kebahagiaan itu, sebagian besar jamaah masjid menyalami kami dan mengucapkan tahniah. Hati siapakah yang tak berbunga-bunga? Itulah klimaks dari perjuangan bersama rakyat Kepulauan Riau yang paling membanggakan. Itulah hadiah yang paling berharga dari perjuangan serempak dan serentak yang penuh rintangan dan hambatan sejak 15 Mei 1999, bahkan lebih jauh lagi jika dihitung upaya-upaya yang pernah dilakukan oleh generasi terdahulu tetapi gagal. Agaknya pula, itulah puncak dari kebersamaan dan kebahagiaan bersama, yang sangat sulit disanding dan dibandingkan dengan hari-hari yang berlalu kemudian.

Di dalam ruang Peringatan Hari Jadi semalam, saya tenggelam dalam luapan emosional sembilan tahun silam. Kalau tak semua, setidak-tidaknya sebagian dari teman-teman yang lain pun, saya yakin, diliputi perasaan yang sama. Takkan pernah ada acara Peringatan Hari Jadi di hotel yang aduhai itu seandainya perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau dulu gagal. Takkan ada wajah-wajah yang penuh ceria yang memenuhi ruang itu jika perjuangan tak membuahkan hasil, bahkan wajah-wajah yang ketika perjuangan kita lancarkan dulu sangat cemberut dan garang menentang malah kini terlihat jauh lebih berseri. Memandang bangunan hotel yang megah itu pun saya berpikir, sudah dibangunkah hotel sehebat ini di sini kalau Provinsi Kepulauan Riau tak berwujud?

Fenomena orang-orang yang hadir dan tak hadir di dalam acara itu paling menarik perhatian saya. Di antara teman-teman seperjuangan, ada yang tak hadir di tempat itu. Beberapa di antara mereka memang lebih dulu berpulang ke Rahmatullah. Banyak pula yang mungkin undangannya tak sampai atau, bahkan, memang tak diundang karena jumlahnya memang sangat banyak. Jika kesemuanya dijemput, pastilah ruang acara itu tak mampu menampungnya.

Di antara yang hadir pula, pada masa perjuangan dulu berada pada dua kubu yang berseberangan. Kubu pertama, teman-teman yang mempertaruhkan segala-galanya untuk mewujudkan terbentuknya Provinsi Kepulauan Riau. Kami menyebutnya “Perjuangan Menjemput Marwah”. Itulah sebabnya, di kalangan para pejuang setiap 15 Mei saban tahun diperingati sebagai “Hari Marwah”. Kubu kedua, mereka yang berjuang juga, tetapi berupaya dengan segala helah dan daya untuk menggagalkan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau. Kini kami bertembung di dalam satu ruang pada acara Peringatan Hari Jadi Provinsi Kepulauan Riau yang dulunya diperjuangkan untuk diwujudkan oleh satu pihak dan digagalkan oleh pihak lain; yang kini menjadi pihak yang sama. Itulah fenomena manusia, “Sekali air bah, sekali tepian berubah!”

Kebiasaan ini agak mengganggu sehingga saya agak kurang selesa di tempat dan pada waktu yang seharusnya saya bahagia. Apakah itu? Apa lagi kalau bukan kebiasaan menerka-nerka. Barangkali, terkaan pertama saya, mereka yang dulunya menentang merasa cemas jika Provinsi Kepulauan Riau terbentuk karier politik dan birokrasi mereka akan hancur. Atau, ini yang kedua, mereka khawatir kemapanan sosial-ekonomi mereka sebelum provinsi ini terbentuk akan menyusut dan menguap karena takkan ada tempat bagi mereka untuk berimprovisasi seperti di dalam lingkungan lamanya yang memang telah terbukti banyak berbuat “bakti” bagi mereka dengan limpahan “karunia”.

Kalau memang pikiran itu yang bergelayut di minda dan hati mereka kala itu, kini Allah swt. ingin menunjukkan bahwa jangan mendahului-Nya untuk hal-hal yang tak patut diketahui oleh manusia. Kini mereka malah mendapat hadiah, entah berupa ujian atau anugerah, dari hasil sebuah perjuangan dari pejuang-pejuang sejati yang tak pernah memikirkan kepentingan dirinya sendiri, baik dulu, kini, maupun nanti, yang dulunya mereka tentang habis-habisan. Hadiah apakah yang mereka dapatkan itu? Karier dan kelimpahan sosial-ekonomi yang jauh lebih tinggi dan besar daripada yang sanggup mereka pikirkan sebelum ini. Bahkan, banyak di antara mereka yang “full team” (dalam hitungan kekerabatan) masuk dalam barisan “pengisi kemerdekaan” pada pelbagai lini kehidupan yang disediakan oleh provinsi ini setakat ini. Padahal, pejuang sejatinya ada yang malah pada acara ulang tahun diundang pun tidak, jangankan mendapatkan kemudahan hidup.

Terlepas dari kesemua fenomena yang kadang-kadang meradangkan itu, pencapaian matlamat pembentukan Provinsi Kepulauan Riau harus terus digesa dan ditingkatkan. Kesejahteraan masyarakat secara merata yang bersimpul pada tiga pilar: peningkatan pendapatan keluarga, pemerolehan pendidikan yang lebih baik, dan pelayanan kesehatan yang lebih selesa harus menjadi perhatian utama oleh siapa pun yang memimpin negeri ini. Saya percaya bahwa pasti akan ada hidayah dan inayah dari Allah swt. bagi para pemimpin yang memperjuangkan tujuan itu walau apa pun cabaran dan tantangan yang dihadapinya. Sebaliknya pula, kealpaan yang satu akan menjadi penjemput kealpaan yang lain. Itu janji yang cepat atau lambat pasti terbukti, kita percaya atau tidak. Karena apa? Karena ini amanah rakyat yang disaksikan oleh Sang Khalik.

Dengan plus-minusnya, Provinsi Kepulauan Riau kini sedang menuju ke hala positif pencapaian matlamat itu. Adalah terlalu picik rasanya bagi siapa pun yang ungkal untuk mengakui hal itu. Bahwa di sana-sini masih ada kekurangan, itu merupakan hal yang tak terlalu luar biasa bagi daerah yang sedang membangun. Semangat seiya-sekata, seaib-semalu, dan senasib-sepenanggungan yang bersebati dalam perjuangan pembentukannya dulu rasanya akan meniupkan roh yang lebih hebat lagi suci jika diterapkan dalam pembangunan. Selamat berhari jadi negeriku, negeri kita. Dirgahayu Provinsi Kepulauan Riau!***



Catatan oleh Abdul Malik
Sebagaimana tercatat di facebook pada 25 September 2011 jam 21:44
Read more ...

Rabu, September 28, 2011

KEINDAHAN MELAYU

SIAPAKAH orang Melayu? Menurut Encyclopaedia Britannica (Micropaedia, 1985:727), orang Melayu adalah “ethnic group of the Malay Peninsula and part of adjacent island of Southeast Asia, including the east coast of Sumatera, the coast of Borneo, and smaller islands between areas.” (Satu kelompok etnis di Semenanjung Malaya dan sebagian pulau-pulau yang berdekatan di Asia Tenggara, termasuk pesisir timur Sumatera, pesisir Kalimantan, dan pulau-pulau yang lebih kecil di antara kawasan itu).

Berdasarkan batasan di atas, kelompok etnis Melayu di Indonesia mendiami kawasan yang terentang dari Temiang di sebelah selatan Aceh, beberapa bagian Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi dan Kalimantan Barat. Beberapa pakar sosial-budaya, bahkan, membuat batasan yang jauh lebih luas daripada itu. Kalau bahasa yang dijadikan acuan, persebaran itu akan mencapai sebagian besar Sumatera, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, dan Maluku. Kawasan itulah yang disebut sebagai kawasan kebudayaan pesisir dengan ciri khas utamanya berupa kepercayaan dan kelembagaan Islam serta berorientasi ke arah aktivitas pasar (lihat juga Geertz, 1981:43). Di Malaysia Melayu didefinisikan secara lebih luas lagi yaitu bangsa yang (1) berbahasa Melayu, (2) beradat-istiadat Melayu (dalam arti luas), dan (3) beragama Islam.

Sebagaimana bangsa mana pun di dunia ini, orang Melayu memiliki konsep tentang keindahan. Salah satu karya sastra lama Melayu, Hikayat Dewa Mandu, menggambarkan perihal “cantik” sebagai bagian dari konsep keindahan itu. Dalam hal ini, diperikan keindahan yang berkaitan dengan rupa manusia.

"Setelah Dewa Mandu mendengar kata Puteri Lela Ratna Kumala demikian itu maka Baginda pun tersenyum seraya membaca suatu isim Allah, lalu ditiupnya kepala gajah putih itu tiga kali. Maka dirasai oleh Tuan Puteri itu sejuklah segala anggotanya, seketika ia pun kembalilah seperti sediakala menjadi manusia. Setelah dilihat oleh Dewa Mandu akan rupa Tuan Puteri itu maka ia pun pingsanlah seketika. Lalu Tuan Puteri itu pun meniup kepala Dewa Mandu. Maka Dewa Mandu pun sadarlah akan dirinya, lalu ia mengucap seraya memuji Tuhan seru sekalian alam katanya, ‘Salangkan hamba-Nya yang dijadikan-Nya lagi sekian [cantiknya, AM], jikalau yang menjadikan berapa lagi.’ Makin bertambah-tambahlah tauhid dan tasdiknya akan Tuhan Malik al-Manan. (Chambert-Loir, 1980:109)

"Petikan di atas menggambarkan aspek ontologis konsep estetika Melayu. Konsep itu dengan jelas memaduserasikan antara keindahan duniawi atau lahiriyah dan keindahan ilahiyah dengan membandingkan kecantikan Puteri Lela Ratna Kumala dengan Kemahaindahan Tuhan. Konsep itu pun dinyatakan dengan sangat indah oleh penyair Amir Hamzah sebagai “rupa Mahasempurna” dalam salah satu sajaknya.

Kecantikan duniawi (lahiriyah) sebagai tertera dalam Hikayat Dewa Mandu yang dipetik di atas, baru akan dapat mencapai derajat kesempurnaan apabila merupakan gabungan dari “seri gunung” dan “seri pantai” yang juga diterangkan sebagai “beaut’e vue de loint et beaute vue de pres.” (Chambert-Loir, 1980:332).

Kesepaduan antara seri gunung dan seri pantai atau kecantikan yang terlihat dari jauh dan kecantikan yang terlihat dari dekat itulah yang dinamakan oleh pengarang lama Melayu, Ahmad Rijaluddin, sebagai “sadu perdana” dan bernilai “tujuh laksana,” (C. Skinner, 1982:96). Kecantikan yang terlihat dari dekat juga berkias pada keindahan lahiriyah dan duniawi, sedangkan kecantikan yang terlihat dari jauh berhakikat pada keindahan batiniyah dan ukhrawi. Sosok idealnya menjelma dalam diri bidadari Sakerba yang dikisahkan dalam salah satu karya sastra lama Melayu yang piawai Syair Ken Tambuhan: keindahan atau kecantikan yang sanggup menghidupkan kembali pasangan pecinta yang sudah mati.

Di dalam Hikayat Hang Tuah salah seorang tokoh yang terus memesona karena diabadikan oleh penulis karya itu ialah Tun Teja. Sejarah Melayu (Sulalat as-Salatin) karya Tun Sri Lanang mengisahkannya dengan pantun ini: //Tun Teja ratna Benggala/pandai membelah lada sulah//jikalau Tuan kurang percaya/mari bersumpah Kalamullah// (Shellebear, 1903:267).

Raja Ali Haji, di dalam karya kamus monolingual sulung (pertama) Melayu dan Indonesia yaitu Kitab Pengetahuan Bahasa (1858) menakrifkan “cantik” sebagai ‘sesuatu sifat sama-ada pada manusia atau lainnya yang memberi indah kepada mata yang tiada cacat pada pemandangan manusia’ (Raja Ali Haji, 1986:325).

Takrif (definisi) tentang molek, cantik, indah, dan elok sebagai lawan dari kata (b)odoh dapat dirujuk sebagai ‘sifat yang indah pada pemandangan mata atau pada tilik hati yang memberi indah pada pemandangan keduanya itu’ dan ‘memberi indah pada pemandangan mata atau kepada hati’.

Suatu karya tari, misalnya, baru mencapai derajat keindahan apabila sasaran takrifnya sampai, yaitu ‘pekerjaan seseorang dengan kesukaan maka menggerakkan tangannya atau kakinya dengan bertimbang dan beratur yang menjadi indah pada pemandangan adanya’. Tari yang sadu perdana dan bernilai tujuh laksana sebagaimana disebut–sebut orang Melayu ialah yang “kakinya tak jejak ke lantai”.

Demikian pula dengan takrif nyanyi yaitu ‘mengeluarkan suara serta huruf dan serta dengan lagunya dengan had timbangannya’ (ibid.:292). Dan, nyanyian yang sadu perdana dan bernilai tujuh laksana sebagaimana disebut orang Melayu dengan ungkapan suaranya bagai “buluh perindu”.

Jadi, suatu karya seni menurut konsep keindahan Melayu yang sadu perdana dan tujuh laksana atau yang kelas satu dan tujuh bintangnya hendaklah bersifat seri gunung dan seri pantai yaitu molek dilihat dari jauh dan molek pula dilihat dari dekat serta elok pada pandangan mata dan elok pula pada tilikan hati. Konsep ini padan dan patut jika disandingkan dengan pendapat Benaventura yang menilai keindahan lukisan dengan mengatakan bahwa suatu karya seni disebut indah apabila, pertama, dibuat dengan baik dan, kedua, mempunyai makna ( Sedlmayr, 1959:128).

Bagaimanakah halnya dengan keindahan perilaku? Lagi-lagi, kita dapat merujuk karya Raja Ali Haji. Kali ini kita mengacu kepada karya agung Gurindam Dua Belas (1847). Pada pasal kelima, bait tiga disebutkan, “Jika hendak mengenal orang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia.” Seri gunung dan seri pantai itu terletak pada kelakuan atau perilaku manusia. Hal itu diungkapkan dengan tegas pada pasal yang sama bait satu Gurindam Dua Belas, “Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihatlah kepada budi bahasa.”

Hal itu berarti perilaku yang ideal itu berkaitan dengan kehalusan atau ketinggian budi pekerti dan kesantunan bahasa. Perilaku yang mencerminkan budi pekerti yang halus dan bahasa yang santun itu membawa keutamaan kepada manusia yang memilikinya. Manusia dengan kualitas itu juga, seperti dijelaskan oleh bait-bait yang lain pada pasal yang sama, tak mengerjakan hal-hal yang sia-sia (tak berfaedah), suka dan terus menuntut ilmu sebagai bekal untuk hidup di dunia dan di akhirat, serta pantai bergaul di dalam masyarakat. Manusia dengan perilaku seperti itulah yang bernilai “sadu perdana” karena ketinggian dan kehalusan budi pekertinya.

Manusia dengan kualitas itulah yang memperoleh keindahan kemanusiaannya. Dia tak pernah sampai hati untuk merusak citra kemanusiaannya dengan perbuatan tak berbudi dan tak terpuji, apa pun alasannya. Dia patutlah disebut sebagai manusia utama. Dialah yang berhak atas penghargaan “tujuh bintang” kemanusiaan. Takkah itu sangat indah?***

oleh Abdul Malik
sebagaimana tercatat di catatan Facebook pada 18 September 2011 jam 13:05
Read more ...

Selasa, September 20, 2011

Gelar Datuk di Kunto Darussalam Rokan Hulu Riau

Gelar Datuk di Kunto Darussalam Rokan Hulu Riau terdiri dari 7 negeri :

  1. Gelar adat di Kunto Darussalam negeri/kampung Koto Intan
    • Suku Melayu gelar Datuk Bondaro
    • Suku Melayu gelar Datuk Gompo Alam
    • Suku Melayu Tigo Induk gelar Datuk Peduko
    • Suku Melayu Panjang gelar Datuk Simarajo
    • Suku Domo gelar Datuk Kayu
    • Suku Melayu Tongah gelar Datuk Podano Putra
    • Suku Ompek Induk gelar Datuk Poduko Bosa
    • Suku Caniago gelar Datuk Rangkayo Mudo
    • Suku Petopang gelar Datuk Poduko Bosa
  2. Gelar adat di Kunto Darussalam negeri/kampung Negeri Koto Lamo
    • Suku Melayu Bosa gelar Datuk Bendaharo Kayo
    • Suku Petopang gelar Datuk Sri Paduko
    • Suku Melayu Tigo Induk gelar DatukTenaro Dirajo
    • Suku Ompek Induk gelar Datuk Lelo Mudo
    • Suku Melayu gelar Datuk Lesmano
    • Suku Muniliang gelar Datuk Majo Indo
    • Suku Pungkuik gelar Datuk Rangkayo Sutan
  3. Gelar adat di Kunto Darussalam negeri/kampung Muaro Dilam
    • Suku Melayu gelar Datuk Rajo Kemalo
    • Suku Muniliang gelar Datuk Rajo Bendaro
    • Suku Domo gelar Datuk Kemalo Indo
  4. Gelar adat di Kunto Darussalam negeri/kampung Sungai Murai
    • Suku Melayu gelar Datuk Laksmano
    • Suku Muniliang gelar Datuk Rio Tulang Gunong
    • Suku Domo gelar Datuk Batin Majo Lelo
  5. Gelar adat di Kunto Darussalam negeri/kampung Titian Gadiang
    • Suku Melayu gelar Datuk Rangkayo Mahrajo
    • Suku Muniliang gelar Datuk Majo Sinaro
    • Suku Domo gelar Datuk Laksmano
  6. Gelar adat di Kunto Darussalam negeri/kampung Sontang
    • Suku Melayu gelar Datuk Penghulu Bosa
    • Suku Muniliang gelar Datuk Rangkayo Mudo
    • Suku Domo gelar Datuk Laksmano
  7. Gelar adat di Kunto Darussalam negeri/kampung Bonai
    • Suku Melayu gelar Datuk Majo Lelo Pati
    • Suku Muniliang gelar Datuk Botuah
    • Suku Domo gelar Datuk Laksmano
Gelar Khusus di Koto Lamo terdiri dari 2 (dua) kelompok yaitu :
  1. Suku yang beradat
    • Suku Melayu Bosa gelar Datuk Bandaharo
    • Suku Caniago gelar Datuk Perdano Monti
    • Suku Pungkuik gelar Datuk Tando Dirajo
    • Suku Melayu Tigo Induk gelar Datuk Sri Paduko
  2. Suku yang diadatkan atau Keluarga Bangsawan
    • Suku dalam keluarga Tengku Panglimo Bosa gelar Datuk Tengku Panglimo Bosa
    • Suku Mahrajo Rokan gelar Datuk Tengku Mahrajo Rokan
    • Suku Tengku Bosa gelar Datuk Tengku Bosa
    • Suku Mahrajo gelar Datuk Mahrajo
Sumber :
buku Trombo Rokan
Read more ...

Jumat, September 16, 2011

Gelar Datuk di Kepenuhan Rokan Hulu Riau

Gelar Datuk di Kepenuhan Rokan Hulu Riau

  1. Suku Melayu pucuk sukunya bergelar Datuk Bondaro Sakti
    Gelar Pengganti Datuk Montaro Lelo, Gelar Tungkek (Tongkat atau Wakil)-nya
    • Melayu Induk Boringin, gelar Datuk Sri Paduko
    • Melayu Induk Paso, gelar Datuk Montori Kelo
    • Melayu Induk Kopalo Badang, gelar Datuk Rangkayo Sutan
    • Melayu Induk Tanjong Pandang Mudik, gelar Datuk Mogek Zainal
  2. Suku Muniliang pucuk sukunya bergelar Datuk Rangkayo Mahrajo
    Gelar Tungkek (Tongkat atau Wakil)-nya bergelar Datuk Paduko Sedawo
    • Muniliang Induk Mudik, gelar Datuk Domo Anso
    • Muniliang Induk Ilie, gelar Datuk Paduko Sedawo
  3. Suku Pungkuik pucuk sukunya bergelar Datuk Paduko Jolelo
    Gelar Tungkek (Tongkat atau Wakil)-nya bergelar Datuk Paduko Sri Mahrajo
    • Pungkuik Induk Sinokai, gelar Datuk Sang Lelo
    • Pungkuik Induk Tanjong, gelar Datuk Sutan Sri Nago
    • Pungkuik Induk Muaro Koluang, gelar Datuk Paduko Sri Mahrajo
  4. Suku Kandang Kopuh pucuk sukunya bergelar Datuk Biji Angso
    Gelar Tungkek (Tongkat atau Wakil)-nya bergelar Datuk Sutan Polowan
    • Kandang Kopuh Induk Padang Silanngan Rajo, gelar Datuk Sutan Polowan
    • Kandang Kopuh Induk Tobiang Tinggi, gelar Datuk Rajo Nan Polowan
    • Kandang Kopuh Induk Usaw, gelar Datuk Mangkuto Sri Nando
  5. Suku Maih pucuk sukunya bergelar Datuk Tomonggong
    Gelar Tungkek (Tongkat atau Wakil)-nya bergelar Datuk Rajo Koto Anso
    • Maih Induk Mudik, gelar Datuk Rajo Kati Anso
    • Maih Induk Ilie, gelar DatukBagindo Pokaso
  6. Suku Kuti pucuk sukunya bergelar Datuk Majo Nando
    Gelar Tungkek (Tongkat atau Wakil)-nya bergelar Datuk Mangkuto Sutan
    • Kuti Induk Mudik, gelar Datuk Sinaro Rajo
    • Kuti Induk Ilie, gelar Datuk Makuto Intan
  7. Suku Ampu pucuk sukunya bergelar Datuk Paduko Bosa
    Gelar Tungkek (Tongkat atau Wakil)-nya bergelar Datuk Bangso Rajo
    • Ampu Induk Mudik, gelar Datuk Bangso Rajo
    • Ampu Induk Ilie, gelar Datuk Paduko Bosa

Gelar Dubalang (Ulubalang/Hulubalang) di Kepenuhan Rokan Hulu Riau
  1. Suku Melayu, Datuk Majo Samo
  2. Suku Muniliang, Datuk Johan Pahlawan
  3. Suku Maih, Datuk Majo Sonao
  4. Suku Kandang Kopuh, Datuk Paduko Samo

Gelar Kurnia di Kepenuhan Rokan Hulu Riau
  1. Datuk Banda (gelar orang yang dituakan dalam adat atau orang cerdik pandai dalam adat)
  2. Datuk Saudagar Kayo
  3. Datuk Perdano Montoyi
Sumber :
buku Trombo Rokan

Read more ...

Senin, September 12, 2011

Gelar Datuk di Rambah Rokan Hulu Riau

Gelar Datuk di Rambah Rokan Hulu Riau dengan 7 suku yaitu :
  1. Suku Ampu pucuknya bergelar Datuk Bandaro Kajo, Datuk Bandaro Kuniang, Datuk Bandaro Simarajo, dan Datuk Pongulu Bosa.
  2. Gelar Tungkek (Wakil)-nya mengikut gelar masing-masing induk dalam sukunya :
    • Induk Datuk Rangkajo Bosa
    • Induk Datuk Pusako Laksmano
    • Induk Datuk Podano Monti
    • Induk Datuk Pongulu Bosa
    • Induk Datuk Majo Laksmano
    • Induk Datuk Biji Rajo
    • Induk Datuk Rangkajo Mudo
    • Induk Datuk Laksmano Monti
    • Induk Datuk Indo Sotio
    • Induk Datuk Rajo Sotindo
    • Induk Datuk Sutan Sri Pado
    • Induk Datuk Sutan Majo Lelo
    • Induk Datuk Haji Abdul Majid
  3. Suku Melayu pucuknya bergelar Datuk Bandaro Sakti atau Datuk Seri Paduko.
  4. Gelar Tungkek (Wakil)-nya mengikut gelar masing-masing induk dalam sukunya :
    • Induk Datuk Bandaro Sakti
    • Induk Datuk Pokomo Rajo
    • Induk Datuk Sri Paduko
    • Induk Datuk Indo Sotio
    • Induk Datuk Paduko Rajo
    • Induk Datuk Bandaro Lelo
    Gelar Hulubalang dalam Suku Melayu
    • Datuk Singo Majo Mudo, Muaro Nikum
    • Datuk Panglimo Mudo, Surau Munai
    • Datuk Rojob, Ujong Gurab
  5. Suku Pungkuik pucuk sukunya bergelar Datuk Tomonggong Kajo.
  6. Gelar Tungkek (Wakil)-nya mengikut gelar masing-masing induk dalam sukunya :
    • Induk Datuk Bondaro Pokaso
    • Induk Datuk Tomonggong Kayo
    • Induk Datuk Sotio Pokaso
  7. Suku Bonuo pucuk sukunya bergelar Datuk Rangkajo Maharajo atau Datuk Rajo Bonuo Ampu.
  8. Gelar Tungkek (Wakil)-nya mengikut gelar masing-masing induk dalam sukunya :
    • Induk Datuk Rajo Bonuo Ampu
    • Induk Datuk Torano Puto
    • Induk Datuk Majo Nando
    • Induk Datuk Mahrajo Khatib Anso
  9. Suku Kandang Kopuh pucuk sukunya bergelar Datuk Paduko Majo Lelo.
  10. Gelar Tungkek (Wakil)-nya mengikut gelar masing-masing induk dalam sukunya :
    • Induk Datuk Paduko Majo Lelo
    • Induk Datuk Paduko Laksmano
    • Induk Datuk Mahrajo Khatib Anso
    • Induk Datuk Paduko Sri Pado
    • Induk Datuk Laksmano Mangku Alam
    • Induk Datuk Bimbo Rajo
    • Induk Datuk Rangkajo Mudo
    • Induk Datuk Paduko Sindoro
    • Induk Datuk Sibiji Rajo
    • Induk Datuk Banda
  11. Suku Muniliang pucuk sukunya bergelar Datuk Urang Kajo Mahrajo atau Datuk Laksmano Monti.
  12. Gelar Tungkek (Wakil)-nya mengikut gelar masing-masing induk dalam sukunya :
    • Induk Datuk Rang Kajo Mahrajo
    • Induk Datuk Rajo Moanso
    • Induk Datuk Paduko Rajo
    • Induk Datuk Poromaiduanso, Datuk Mahkoto Intan, dan Datuk Bagindo Sutan.
    • Induk Datuk Mangkuto Marajo
    Gelar Hulubalang dalam Suku Muniliang
    • Datuk Paduko Sirajo, Hulubalang Muaro Musu
    • Datuk Sindo Kajo, Muaro Musu
    • Datuk Paduko Siramo, Pasie Pinang
    • Datuk Singo Majo Tuo, Pasie Panjang
    • Datuk Rangkajo Sutan, Pasie Panjang
    • Datuk Indo Polawan, Pasie Muaro Rumbai
    • Datuk Marah Mudo, Muaro Rumbai
    • Datuk Juhan Poloan, Kampong Baru sebagai Ulubalang Kerajaan Rambah
  13. Suku Kuti pucuk sukunya bergelar Datuk Paduko Bosa.
  14. Gelar Tungkek (Wakil)-nya mengikut gelar masing-masing induk dalam sukunya :
    • Induk Datuk Paduko Bosa
    • Induk Datuk Sinaro Rajo
    • Induk Datuk Rajo Sinaro
    • Induk Datuk Majo Dindo
    • Induk Datuk Haji Abdul Rauf
  15. Suku Nan Seratus bergelar Datuk Sotio Rajo
  16. Bangsa Suku Nan Limo Puluah bergelar Datuk Siramo

Sumber :
buku Trombo Rokan

Read more ...

Kamis, September 08, 2011

Mantra Tawar Pulong

Mantra Tawar Pulong pada dalam Jeluk atau Pasu Putih digunakan untuk menawar sakit dirasuk hantu, polong, bajang, orang bunian (orang halus), dan makhluk halus lainnya. Mantra obat sakit banyak macamnya sesuai dengan sakit yang diderita penderita.

Bismillahirrahmanirrahim
pihasumu ma'rifatullah
ma'rifat Muhammad akan payungku
malaikat empat akan gibulku
tak nak hilir dan hulu
timur dan barat
jin dan manusia akan dihukum
pleh berkat aku memakai tawar sih uti
sah aku menawar menolak pulong belis
seribu si anu nitu
berkat laillaha illallah
Muhammadarrasulullah

Mengenai pengertian dan penjelasan tentang mantra dapat dibaca di :
Pola Puisi Mantra Melayu Riau

Disadur dari :
PUISI MANTRA
Abdul Jalil
Elmustian Rahman
Unri Press
Pekanbaru - Riau
2001

Read more ...

Minggu, September 04, 2011

Mantra Penguat Usaha Pekerjaan

Mantra Penguat Usaha Pekerjaan sebagai mantra yang digunakan untuk keberhasilan usaha, pekerjaan, ladang, sawah, kebun, padi, tanaman, subur, dan lain-lain keberhasilan usaha. Mantra ini juga berguna untuk menghilangkan hambatan usaha seperti hama, jualan tak laku, tikus, babi, dan lain-lain.

Bismillahirrahmanirrahim

1
nur cahaya munallah
nur cahaya mun putih
nama semangat tapak kebun
berkat laillaha illallah
Muhammadarrasulullah

2
bulat batu kubulat bulat
bulat batang padi
aku tau asal kau ulat
mata beras mata kau menjadi
berkat laillaha illallah
Muhammadarrasulullah

3
hai dayang hijau
lemah lembut asal kau menjadi yang ikut
panjang kuku
panjang kaki
panjang tangan
sah aku menawar
buah padi menghijau
berkat laillaha illallah
Muhammadarrasulullah

4
aku tau asal berau
belaki benih berau mah berau
benih mah benih
berau hitam berau putih
berau berau laki bini
sah aku menawar belaki benih
berkat laillaha illallah
Muhammadarrasulullah

Mantra Jagung
Untuk penyubur tanaman jagung
Bismillahirrahmanirrahim
hacutalla hicu hicu
kuserah pada Adam
bawa antala boa
jauhkan jagungku dari berau
berkat kalimat laillaha illallah
Muhammadarrasulullah

Mantra Menanam Benih
Untuk hasil panen yang bagus melimpah
Bismillahi
assalami'alaikum Nabi Tab
yang memegang bumi
aku menumpangkan anakku
Seri Gading Gemala Gading
di dalam enam bulan ada ketujuh
aku datang mengambil balik
dengan laillaha illallah
kur semangat
kur semangat
kur semangat

Mantra Mengusir Hama Tikus
Bismillahirrahmanirrahim
aku tau asal engkau tikus tuk sitimuna
itulah asal atuk nek kau
kau jangan padiku
kutawar pada pisang tujuh biji
ambillah di tunggul ini
berkat laillaha illallah
Muhammadarrasulullah

Mantra Mungkam Babi
Untuk mengusir hama babi
batu berita batu berani
ketiga batu belubang
butak mata tanggal gigi
babi itu tiada akan melawan
nabi babi nabi Yusuf
asal jadi dari bumi
jihin yang menguatkannya jihin buhok
yang berkuda padanya Saih Idris

Mantra Jambi Doa Sepuluh
Ketika mengeluarkan hasil panen dari lumbung untuk digunakan
Bismillahirrahmanirrahim
ke esa Allah
kedua bumi
ketiga dengan air sembahyang
keempat dengan hari Isnin
kelima dengan pangkat mahligai
keenam dengan dinding rejeki
ketujuh pintu surga
kedelapan anak kukandungkan
kesembilan Muhammad menjadi
kesepuluh tanah dengan kampung halamanku

Mengenai pengertian dan penjelasan tentang mantra dapat dibaca di :
Pola Puisi Mantra Melayu Riau

Disadur dari :
PUISI MANTRA
Abdul Jalil
Elmustian Rahman
Unri Press
Pekanbaru - Riau
2001

Read more ...

Artikel bersempena

  • Tahun Hutan - Tahun Hutan Sebagai Upaya Konservasi Hutan Dunia Ada sekitar 4 miliar hektar hutan di dunia, yang menutupi hampir 30 persen dari wilayah daratan bumi. Sekita...
  • Seminar Ornamen - Tempat : Museum Sang Nila Utama Waktu : Sabtu, 18 Oktober 2014 Pukul : 09.00 wib Pembicara :  - Junaidi Syam/ Jon Kobet (Pemahaman Ornamen Khas Melayu Ri...
  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini d...