Kamis, Juni 14, 2012

TAK ORANG TAK KITA

TAK ORANG TAK KITA
oleh Abdul Malik

SUATU hari dua orang bersahabat bertemu, sebuah perjumpaan rutin dan biasa. Seperti biasanya juga mereka berbincang-bincang tentang pelbagai hal. Berikut ini dialog hipotetis di antara Abdullah dan Abdillah, nama kedua orang bersahabat itu, dalam pertemuan mereka hari itu.

Abdullah : Penghulu Kebun marah betul kepada Wak Entol.
Abdillah : Apa pasal?
Abdullah : Wak Entol menuduh Penghulu Kebun korupsi.
Abdillah : Tak orang tak kitalah!

Read more ...

Rabu, Juni 13, 2012

DATUK SETIA JAYAESA WANGSA UNTUK DATUK ALI MELAKA

DATUK SETIA JAYAESA WANGSA UNTUK DATUK ALI MELAKA
oleh Abdul Malik

SETIA, dalam budaya siasah atau politik Melayu, bukanlah kata biasa dengan denotasi yang “datar” sahaja. Setia tak sekadar kata dengan makna ‘taat, teguh, atau patuh’ walaupun ketiga makna itu sangat positif. Setia, dalam konteks pemberian kekuasaan politik, hanya boleh disandangkan kepada pemimpin pilihan.

Segarkan ingatan kita ketika Sang Sapurba akan ditabalkan menjadi raja di Bukit Seguntang Mahameru. Sang Sapurba dipilih untuk menjadi raja karena dialah yang terbaik di antara laki-laki pada masa itu, baik dari segi fisik, budi, maupun pekerti (perilaku), yang nyaris tanpa cela. Itu saja tak cukup. Oleh Datuk Demang Lebar Daun, yang mewakili rakyat, Sang Sapurba tetap diminta untuk bersedia mengucapkan “Sumpah Setia”.

Read more ...

Selasa, Juni 12, 2012

MARWAH PULAU BERHALA

MARWAH PULAU BERHALA
oleh Abdul Malik

PULAU BERHALA kembali ke pangkuan bunda kandungnya, Provinsi Kepulauan Riau. Sebelum itu, anak kandung Negeri Segantang Lada itu sempat diambil “secara aneh” oleh Provinsi Jambi. Pengambilan itu disebut aneh karena semenjak wujudnya, mulai dari Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang, Kerajaan Riau-Lingga, bahkan sangat tak diragukan semasa Kerajaan Bintan yang lebih tua pun, Pulau Berhala memang milik sah negeri yang sekarang disebut Provinsi Kepulauan Riau.

Tak ada angin, apa lagi ribut. Langit di atas Kepulauan Riau berona cerah tanda hujan tak mungkin turun. Tiba-tiba, guruh kiriman beruntun dua dentuman menggelegar di perairan Kepulauan Riau, lebih keras lagi di laut dan pantai Pulau Berhala. Laut yang tadinya tenang serta-merta berubah menjadi gemunung air yang membuncah garang. Di tengah amukan gelombang itu, kabut tebal menutupi seluruh Pulau Berhala sehingga nyaris lenyap dari pandangan kita. Dalam hanya sekelip mata, tanah milik Bunda Tanah Melayu itu bagai raib ditelan gergasi. Hati siapa yang takkan berkecamuk?

Read more ...

Senin, Juni 11, 2012

DI SEBALIK PENGERTIAN UMRAH

DI SEBALIK PENGERTIAN UMRAH
oleh Abdul Malik

AKHIRNYA Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Menteri P dan K), Pof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, meresmikan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menjadi universitas negeri. Saya menggunakan kata akhirnya karena rencana peresmian itu sebelumnya beberapa kali tertunda. Penundaan terpaksa dilakukan karena kesibukan Menteri P dan K pada bulan-bulan terakhir ini sehingga beliau beralangan datang ke Tanjungpinang. Baru pada Senin, 26 Desember 2011, yang lalu beliau dapat berkunjung ke ibukota Propinsi Kepulauan Riau dengan agenda utama meresmikan penegerian UMRAH.

Read more ...

Minggu, Juni 10, 2012

MENJEMPUT TUAH MENJUNJUNG MARWAH

MENJEMPUT TUAH MENJUNJUNG MARWAH
oleh Abdul Malik

LAZIMLAH dalam setiap bahasa ada kata-kata yang bersinonim. Artinya, beberapa kata memiliki arti yang mirip atau lebih kurang sama. Walaupun begitu, kemiripan arti taklah berarti bahwa kata-kata yang bersinonim itu memiliki arti yang persis sama, apakah secara leksikal (arti kata seperti di dalam kamus) lebih-lebih secara kontekstual (arti kata sesuai dengan lingkungan pemakai dan pemakaiannya).

Kata tuah, misalnya, memang bersinonim dengan untung, keunggulan, keistimewaan, dan sebagainya; tetapi di dalam kumpulan kata yang searti itu kata tuah mengandungi keunggulan dan keistimewaan makna secara sosio-kultural bagi orang Melayu. Begitu pula halnya dengan kata marwah. Kendatipun searti dengan harga diri, kepribadian, dan nama baik; kata marwah dinilai jauh lebih sakral maknanya. Oleh sebab itu, untuk mengungkapkan perihal ‘keberuntungan’ dan ‘harga diri’ yang mengarah kepada sesuatu yang bersifat suci dan atau keramat; orang Melayu akan menggunakan ungkapan tuah dan marwah.

Seseorang perempuan, lebih-lebih perempuan muda, yang berparas cantik dan seseorang laki-laki, apa lagi laki-laki muda, yang berwajah tampan dapat dikatakan memiliki tuah, terutama jika dibandingkan dengan orang lain yang kualitas rupanya di bawah dirinya. Akan tetapi, keberadaan tuah bawaan itu baru bersifat potensial. Seseorang yang memiliki keberuntungan itu harus menyerasikannya dengan kualitas budi. Budi bukanlah sifat bawaan, melainkan harus dijemput, harus diperjuangkan. Cara menjemput budi melalui proses belajar, baik di lingkungan keluarga, di dalam masyarakat, maupun di lembaga pendidikan. Menyepadukan kualitas wajah dan kualitas budi itulah yang disebut menjemput “tuah diri” bagi manusia. Ungkapan “menjemput” itu jadinya bermakna dan bernilai perjuangan. Keserasian wajah dan budi itulah seperti yang pernah saya tulis dalam tulisan yang lain disebut sebagai kesebatian seri gunung dan seri pantai, yang seyogianya menjadi dambaan setiap insan.

Seseorang atau sekelompok orang di dalam suatu masyarakat, sama ada kecil ataupun besar ukuran kelompoknya, baru rela menjemput tuah kalau dia atau mereka menghayati makna marwah. Tanpa kesadaran marwah, manusia tak pernah acuh akan kualitas diri. Jika contoh di atas yang diambil kembali, dengan keelokan paras dan atau kekuatan fisik yang dimilikinya, anak manusia boleh berbuat apa saja demi keuntungan pragmatis sesaat. Bukan tak mungkin perbuatan yang dilakukannya itu dapat berdampak negatif bagi dirinya sendiri apa lagi bagi orang lain. Akan tetapi, karena tak didasari kesadaran marwah, lebih-lebih kalau terpaan hedonistis begitu membara, dia tak akan memedulikan atau bahkan memang tak memahami kesemuanya itu. Sebaliknya pula, orang yang menjunjung marwah, memuliakan jati diri, memelihara kehormatan diri, menjaga nama baik; akan terus berjuang menjemput tuah dalam hidupnya. Alhasil, dalam kehidupan ini keserasian, keselarasan, kesanggaman, dan kesebatian “menjemput tuah” dan “menjunjung marwah” menjadi kunci mutu manusia.

Dari tuah orang perorangan atau sekelompok orang, kita beralih ke tuah negeri. Jika suatu negeri dikaruniai sumber daya alam yang berlimpah ruah, berarti negeri itu memiliki tuah potensial. Tuah itu pun tak berarti apa-apa kalau tak dijemput. Menjemput tuah dalam hal ini bermakna memperjuangkan dengan bersungguh-sungguh agar kekayaan sumber daya alam itu betul-betul dapat menyejahterakan masyarakat dan memakmurkan negeri. Menyejahterakan masyarakat berarti memperjuangkan kualitas hidup masyarakat dalam kesemua bidang kehidupan agar terus meningkat ke arah yang lebih baik dengan memanfaatkan tuah kelimpahan sumber daya alam yang dimiliki oleh negeri.

Selanjutnya, memakmurkan negeri berkelindan dengan kualitas negeri terus membaik, baik penataan fisik wilayahnya maupun keberadaan sosio-budaya masyarakat yang mendiaminya. Bertambahnya lingkungan selekeh (slum area), meningkatnya kekerasan di dalam masyarakat, dan menurunnya kualitas ketenangan hidup merupakan sebagian dari indikator menurunnya kualitas kemakmuran negeri. Dalam keadaan negeri berlimpah kekayaan alam, tetapi pergaduhan (perkelahian) memperebutkan hasilnya terus berkecamuk dari hari ke hari; berarti anugerah yang seharusnya menjadi tuah ternyata berubah menjadi musibah. Kenyataan itu juga menunjukkan bahwa negeri itu kekurangan sumber daya manusia yang berkualitas pada kesemua peringkat kemasyarakatan. Akibatnya, tuah negeri justeru diambil alih oleh orang atau negeri lain. Intinya, negeri itu gagal menjemput tuahnya.

Berhasil atau gagalnya sesebuah negeri menjemput tuahnya sangat bergantung kepada kesadaran dan kesetiaan anak negerinya menjunjung marwah diri dan negeri. Yang dimaksud dengan anak negeri tak lain dari kesatuan secara keseluruhan penguasa dan masyarakat negeri itu. Kesadaran akan nilai-nilai marwah diri dan penghayatan terhadap nilai-nilai marwah negeri memungkinkan anak negeri untuk berjuang memakmurkan negerinya. Secara perorangan atau bersama-sama, sama ada dia penguasa atau rakyat jelata, yang biasa saja lebih-lebih yang terpelajar terkemuka; mereka akan menanggung malu jika kelimpahan potensi negerinya tak mampu dimanfaatkan untuk memakmurkan negeri. Dia pun tak akan tergamak dan sampai hati jika kekayaan negerinya hanya dapat dinikmati oleh dirinya sendiri dan segelintir orang di kanan kiri, apa lagi kalau hanya untuk memuaskan syahwat kekuasaan yang tak terkendali. Bahkan, aib terbesar bagi dirinya jika justeru orang lain atau negeri lain yang mendapat keuntungan sebesar-besarnya dari kekayaan negerinya. Kesadaran dan kesetiaan itu akan memacu dan memicu mereka secara bersama-sama berjuang untuk mengembalikan marwah negeri.

Menjemput tuah menjunjung marwah merupakan perjuangan kultural. Nilai-nilainya harus terus kekal di dalam diri masyarakat yang meyakini kesucian dan kekeramatannya. Jika nilai-nilai sakral itu terus tergerus, masyarakat yang selama ini meyakini dan mengamalkannya untuk kemudian tak lagi memedulikannya akan kehilangan jati diri. Puing-puing masyarakat itu selanjutnya melanjutkan kehidupan tanpa roh kultural yang dapat dipedomani dan menyemangatinya. Mereka akan terombang-ambing di atas gelombang samudera luas kehidupan yang tak bertepi. Pada gilirannya, keberadaan mereka di dalam masyarakat global tak lagi diperhitungkan. Karena apa? Karena tak ada lagi kekhasan yang mustahak diperhitungkan pada diri mereka. Yang muncul ke permukaan hanyalah kelemahan belaka sebab keunggulannya telah lesap dan lenyap mereka tenggelamkan sendiri. Dalam keadaan seperti itu, mereka dengan mudah ditarik ulur untuk pelbagai kepentingan, yang kesemuanya menguntungkan orang lain, negeri lain, dan atau bangsa lain.

Tanpa semangat menjemput tuah menjunjung marwah, jatuhlah sebuah bangsa ke jurang terdalam dan terkelam dari tragedi kekalahan. Mereka hanya menjadi jasad tanpa roh kultural yang dapat dibanggakan dan membanggakan. Itulah piala “terhormat” bagi para kecundang atau pecundang di dalam dunia yang memang penuh persaingan. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi itu bukan diperoleh secara cuma-cuma atau gratis di dunia ini kendatipun kita memiliki negeri yang elok dan berlimpah ruah. Lebih-lebih dalam era dan rezim politik serta ekonomi yang menjadi panglima ini, hutan tanah dan kebun kita boleh menjadi milik orang dalam sekelip mata saja jika kita silap atau kurang siasat.

Tak ada jaminan bahwa pekik, “Kami adalah ahli waris sah negeri ini!” akan menggerunkan orang jika tak kita perjuangkan dengan bersungguh-sungguh dan secara bersama-sama. Maka itu, jemputlah tuah dan junjunglah marwah diri dan negeri yang tercinta ini. Hanya itulah yang akan menyelamatkan kita dan anak-cucu kita secara berketurunan kelak, selain dari inayah Allah.***

Batam Pos, Ahad, 11 Maret 2012
Read more ...

Sabtu, Juni 09, 2012

BUKIT LARANGAN

BUKIT LARANGAN
oleh Abdul Malik

"Kuberitahukan kepada kalian, kita akan naik ke bukit itu. Hanya bukit itu harapan kita untuk bertahan kini." Gema suara Wak Entol memecah di ruang pertemuan rahasia itu. Dia menatap anak buahnya satu per satu dengan sorotan mata yang tajam, berwibawa.

"Tapi, itu bukit larangan, Paduka. Tak ada seorang pun orang kampung ini yang berani naik ke sana," Mat Sengih, orang kepercayaan utama Wak Entol, menyela instruksi bosnya. Di dalam Geng Entol memang hanya Mat Sengih yang berani menyela atau membantah ucapan Wak Entol. Dan, kebiasaan itu kerap dilakukannya.

Muka Wak Entol merah padam dan matanya melotot bagai hendak meloncat keluar. Dia memandang Mat Sengih seperti hendak menerkam anak buahnya itu. Mat Borak, orang kedua kepercayaan Wak Entol, sangat berharap Wak Entol mencekik Mat Sengih sampai mati. Namun, Wak Entol rupanya hanya menggertak saja. Dia tak berani atau terlalu sayang kepada Mat Sengih. Untuk terlihat tetap berwibawa, dia membentak saja.

"Kau, Mat Sengih. Semua ini engkau punya pasallah. Banyak biaya yang harus kita keluarkan karena ulah kau itu. Persediaan kita hampir habis. Jangan kaucoba melawan aku lagi. Ingat, kau itu anak bawang. Kalau bukan karena aku, tak ada orang yang mau memandang kau. Aku yang membesarkan engkau!"

Mat Sengih diam saja, tak menjawab sergahan bosnya. Dalam hati dia menyumpah, "Temberang punya bos. Kau sentuh aku, mampus kau kubuat. Semua rahasia kau ada padaku. Dengan satu sentuhan lunak, semua orang kampung ini akan tahu. Kau akan dikepung dan dicencang sampai lumat."

Rahasia itulah yang menyebabkan Wak Entol tak dapat berbuat banyak, bahkan tak berkutik, terhadap Mat Sengih. Apakah rahasianya, hanya mereka berdua yang tahu persis walau di antara anggota geng itu beredarkan kabar angin. Dia hanya mampu menggertak. Itu pun di depan orang supaya tak hilang wibawanya. Di belakang dia selalu menghiba kepada Mat Sengih agar bersabar untuk menggantikannya. Anehnya, dia tetap berusaha untuk mencekik Mat Sengih tanpa diketahui orang. Akan tetapi, bukan Mat Sengih namanya kalau dia tak mengantisipasi kesemua kemungkinan itu. Karena sejak awal telah bergabung dengan Wak Entol, Mat Sengih jadi sangat hapal akan pikiran, sikap, dan perangai bosnya itu. Dia pun telah bersumpah di hadapan bosnya bahwa jika Wak Entol berani mengusiknya, dia akan menghancurkan pemimpinnya itu.

Tinggallah Mat Borak yang kecewa berat. Dia tetap berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Walaupun begitu, dia masih setia menanti dukunnya dapat membunuh Mat Sengih dari jarak jauh. Jika perlu, Wak Entol juga dapat dibunuh dengan cara gaib itu. Itulah satu-satunya harapan yang membolehkan dia menjadi pucuk pimpinan geng.

"Dengarkan baik-baik. Tak ada tahyul di atas bukit itu. Jangan kalian ikut kepercayaan orang kampung ini. Yang ada hanyalah keajaiban yang nyata. Seorang dukun ternama telah menyampaikan hasil tenungannya kepadaku. Di puncak bukit itu ada telaga ajaib yang airnya sangat bening dan senantiasa penuh, tak pernah berkurang sepanjang masa. Siapa pun yang dapat mandi dengan menggunakan air telaga itu akan berumur panjang. Bukan itu saja. Lebih ajaib lagi, air telaga itu dapat berubah jadi apa saja, tergantung pada permohonan kita kepada penunggu telaga. Jika kita minta duit, air telaga akan berubah jadi uang, bahkan boleh diminta juga mata uang apa saja dan berapa pun jumlahnya, tanpa batas. Kita boleh bermohon agar air itu menjadi real estate, emas, permata, mobil mewah, istana, dan sebagainya. Pokoknya, bergantung kepada niat kita dan permohonan kepada sang penunggu. Siapa pun yang berhasil naik ke puncak bukit itu akan dikabulkan permintaannya karena dianggap telah berusaha keras. Nilainya tak habis tujuh puluh tujuh keturunan. Jika kita mendapatkannya, geng kita akan abadi menguasai kampung ini. Kita harus segera naik ke bukit itu. Jika perlu, malam ini juga!"

Terlepas dari perbedaan kecil di lingkungan gengnya, gagasan Wak Entol untuk naik ke bukit larangan disetujui secara aklamasi. Mufakat sudah bulat: lebih cepat lebih baik. Jadi, malam ini juga!

Semua persiapan sudah diatur, termasuk dukun. Rupanya, walau tegas mengatakan tak takut, Wak Entol ternyata ngeri juga. Dukun dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan gaib di bukit itu. Orang kampung percaya, siapa yang berani naik ke bukit itu akan hilang secara misterius. Kesemua anak buahnya dikerahkan Wak Entol untuk misi yang amat penting ini. Tak ada yang tinggal, kesemuanya dikerahkan keluar kandang.

Mat Borak menggunakan rencana ketiga setelah rencana pertama dan kedua belum juga berjaya. Apa lagi, dukun yang dipercayainya ternyata juga digunakan oleh Wak Entol. Dengan rencana ini, dia yakin impiannya untuk memimpin Geng Entol akan tercapai. Dan, jika itu jadi kenyataan, nama geng akan diubahnya menjadi Borack's Gang, sebuah nama yang keren untuk mafia modern.

Malam demikian pekat. Nampaknya akan turun hujan badai tak lama lagi. Wak Entol sangat gembira karena cuaca yang buruk itu. Orang-orang kampung tentu tak berani keluar rumah dan tidur lebih awal.

Wak Entol dan geng lengkapnya, termasuk pasukan parang dan pasukan panah, bergegas menuju bukit menembus malam yang gulita itu. Hanya sekitar setengah jam berjalan setengah berlari mereka sampai persis di kaki bukit. Wak Entol sudah membayangkan indahnya meraup keuntungan 75 persen dari harta yang diperoleh di bukit itu. Sisanya untuk anak buahnya seperti lazimnya pembagian penghasilan di dalam geng.

Dengan penghasilan terbaru itu nanti, dia dan keluarganya akan terjamin memimpin geng karena tetap memiliki saham mayoritas. Apa lagi “kebijaksanaan”-nya memimpin geng telah teruji selama ini. Wak Entol tersenyum menyeringai membayangkan laba dan indahnya hidup di dunia ini. Dalam hati dia berkata:

"Alangkah bebalnya orang kampung ini. Beruntunglah aku berada di lingkungan mereka, para animal yang lugu dan lucu!" Dia tersenyum lagi, menyeringai.

Awal malam disertai angin ribut dan petir sabung-menyabung. Tak cahaya lain di langit, kecuali kilat yang delis-berdelis. Geng Entol dengan anggota yang lengkap menembus malam yang menggerunkan itu dengan semangat menyala-nyala. Wak Entol dan gengnya segera akan mendaki bukit. Tekadnya dan anak buahnya semakin bulat dan kuat.

"Hei, Entol keparat. Pengkhianat kau ya? Kata kau akan menjaga kampung ini bersama kami dan semua penduduk kampung, termasuk menjaga pantang-larangnya. Ternyata kau berpaling tadah. Sungguh nista engkau, Entol," suara Wak Parah melengking keras di tengah angin malam yang makin menggila itu. Topan dan badai bergabung membuat malam semakin menggelap pekat.

Bersamaan dengan itu, Wak Parah keluar dari semak-semak bersama anak buahnya, ketua kampung, dan semua orang kampung. Bahkan, di antara mereka ada pula kanak-kanak. Rupanya rencana rahasia Wak Entol bocor dan diketahui oleh Wak Parah.

Wak Parah musuh besar Wak Entol. Begitu mengetahui rencana Wak Entol, dia segera mengumpulkan anak buahnya. Ketua kampung dan kesemua orang kampung juga dikumpulkannya dan disampaikannya rencana rahasia Wak Entol.

Ketua dan orang kampung sangat terbakar setelah mendengarkan cerita Wak Parah. Walau tak terlalu percaya, mereka bersedia diajak Wak Parah untuk menyergap Wak Entol di kaki bukit. Mereka berangkat sebelum gelap dan bersembunyi di semak-semak di sekitar kaki bukit. Geram dan was-was berbaur di dalam diri orang-orang yang bersembunyi di kaki bukit itu.

Bukan main terkejutnya Wak Entol tertangkap basah oleh Wak Parah dan orang kampung. Dia tahu pasti, tentu ada di antara anak buahnya yang berkhianat, tetapi dia tak mau memikirkan hal itu pada saat genting ini. Dia berupaya sekuat dapat untuk menguasai diri.

"Oh, rupanya baru sampai di kaki bukit ini, Saudaraku Parah. Kami kira Saudaraku telah sampai di puncak bukit. Aku mendapat laporan, Saudaraku bersama geng akan mendaki bukit ini. Sebab itu, aku bersama gengku mengejar Saudaraku untuk mencegahnya. Itu perbuatan terkutuk dan dipantangkan dalam tradisi masyarakat kita. Aku juga khawatir Saudaraku and Geng akan terkena bala, termakan sumpah nenek-moyang."

Wak Entol membusungkan dadanya tanda kemenangan. Dia mematut-matut diri di dalam gelap itu sambil tersenyum menyeringai, senyum khas miliknya seorang. Tembakannya tepat ke arah kening Wak Parah.

Ketua dan orang kampung mengalihkan perhatiannya kepada Wak Parah. Mereka memandang Wak Parah dengan jijik. Ada yang meludah berkali-kali karena muak melihat Wak Parah. Mereka patut berbalik curiga kepada Wak Parah dan gengnya karena suatu ketika dahulu Wak Parah pernah berusaha naik ke bukit itu. Untunglah, baru sampai di pinggang bukit mereka disergap oleh Wak Entol dan orang kampung karena rencananya diketahui oleh Wak Entol. Sejak itu orang kampung sangat percaya kepada Wak Entol, sebaliknya sangat curiga terhadap Wak Parah dan gengnya. Nasib Wak Parah semakin parah. Itulah sebabnya, dia berupaya berbuat baik kepada orang kampung untuk mengembalikan kepercayaan yang hilang itu. Kini mata panah malah dibalikkan Wak Entol ke arahnya.

"Hei, Entol pembohong dan penipu. Kalau aku yang berkhianat, takkan kubawa ketua dan orang kampung bersamaku. Karena aku mengetahui rencana jahat kaulah, aku bawa mereka untuk menjadi saksi kebejatan kau sekaligus untuk menangkap kau dan anggota Geng Entol!" balas Wak Parah. Wajahnya merah menghitam menunjukkan dia sangat geram.

"Oh, kalau begitu kita sama-sama difitnah, Saudaraku. Ada orang yang berniat jahat yang ingin menghancurkan kita berdua dan geng kita. Nama baik kita sebagai pemimpin karismatik dicemarkan orang," jawab Wak Entol sambil mendekati Wak Parah dan langsung memeluk musuhnya itu.

Wak Parah hendak mengelak dari rangkulan Wak Entol. Namun, dia tak berhasil. Wak Entol ternyata lebih cepat dan sigap daripada gerakan elakan Wak Parah yang sedikit lamban.

"Ketua kampung dan Saudara sekalian. Marilah kita akhiri kesalahfahaman ini. Rupanya ada orang yang berusaha memfitnah saya dan saudara saya Parah ini. Yakinlah, bahwa saya dan saudara saya ini takkan pernah berkhianat kepada Saudara-Saudara dan kampung ini. Syukurlah, bukit ini masih terpelihara dengan baik dan tak ada yang berani melanggar pantang-larang tradisi nenek-moyang untuk menaikinya. Sekarang, marilah kita pulang bersama-sama."

Wak Entol menempelkan pipi kiri dan kanannya ke pipi Wak Parah. Dia juga melakukannya terhadap Ketua Kampung. Bahkan, pipinya lebih lama ditempelkan ke pipi ketua kampung. Senyumnya makin menyeringai, khas dan bermakna. Anak buah mereka masing-masing bertepuk tangan, horeeeee …..

Mat Borak sangat gugup menyaksikan kejadian itu. Wajahnya berubah pucat lesi. Untunglah malam begitu gelap sehingga orang-orang tak melihatnya. Lagi pula, orang-orang begitu terpukau oleh perkataan dan akting Wak Entol sehingga tak hirau akan kejadian yang lain.

"Tamatlah riwayatku," pikir Mat Borak. Wajahnya semakin pucat dan kedua kakinya betul-betul gontai. Tenaganya nyaris sirna begitu saja dan bibirnya bergemetar cepat.

Menangkap kegelisahan Mat Borak, Wak Parah mengernyitkan matanya kepada anak buah Wak Entol itu. Tak ada yang melihat kode mata Wak Parah, kecuali Mat Borak. Bukan main senangnya hati Mat Borak mendapat jaminan kedipan mata dari Wak Parah. Perlahan wajahnya memerah dan kedua kakinya menjadi kuat dan tegap kembali.

Ketua dan orang kampung hanya melongo saja. Nampak sekali mereka sangat bingung. Manakah di antara kedua orang itu yang dapat dipercayai. Dalam kebingungan orang kampung itu, Wak Entol mengajak mereka pulang. Dia, Wak Parah, dan Ketua Kampung berjalan beriringan memimpin di depan sambil bergandeng tangan. Anak buah membuat barisan lurus di belakang pemimpin mereka masing-masing. Barisan orang-orang yang, konon, akan setia menjaga kampung halaman.

Di puncak bukit itu makhluk-makhluk aneh yang sejak awal menyaksikan kejadian di bawah bukit dan berencana berpesta pada malam berangin ribut itu, terpaksa menunda pestanya. Mereka hanya bernyanyi dan bersiul lagu "Naik-Naik ke Puncak Bukit dan Kapan-Kapan" yang diaransemen dengan sendu mendayu-dayu berupa persepaduan irama slow rock dan mak inang sayang klasik sambil memandangi rombongan yang meninggalkan kawasan bukit larangan itu yang kian lama kian menjauh.

Tak ada yang tahu isi pikiran makhluk-makhluk aneh itu. Koor mereka semakin menyayat, "Kapan-kapan . . . ."***

Perjalanan Johor--Tanjungpinang
Ahad, 1 April 2012
Read more ...

Jumat, Juni 08, 2012

BAHASA, ILMU, DAN ADAB

BAHASA, ILMU, DAN ADAB
oleh Abdul Malik

RAJA Ali Haji (RAH) menguraikan tujuh kata utama dalam Al-Bab al-Awwal (Bab Pertama) kamus ekabahasanya Kitab Pengetahuan Bahasa (1858). Selepas membahas ketujuh kata itu secara panjang lebar, beliau memerikan simpulannya.

Pertama, Allah yakni nama zat Tuhan Yang Mahabesar dan Mahamulia. Dialah Tuhan yang wajib adanya, mustahil tiadanya. Keberadaannya tak disebabkan oleh sesuatu. Dialah yang menjadikan alam daripada tiada kepada ada. Allah memiliki sifat-sifat Yang Mahasempurna, daripada-Nyalah segala makhluk dapat berwujud dari mulanya tiada.

Kedua, al-Nabi yaitu Ahmad yang masyhur namanya Muhammad. Dialah Rasul Allah yang wajib diikuti dan haram atas segala makhluk mendustakan dan menyalahinya. Dengan mengikutinya, manusia akan memperoleh kesempurnaan, tetapi durhaka dan merugilah orang-orang yang menolaknya.

Ketiga, al-Ashab yaitu kesemua sahabat Nabi Muhammad saw. Mereka dimulai dari Saidina Abu Bakar al-Siddiq, Saidina Umar ibn Al-Khatab, Saidina Umar ibn Affan, Saidina Ali ibn Abi Thalib, dan seterusnya. Segala sahabat itu kesemuanya menyertai pekerjaan dan berjuang bersama Nabi saw. dalam mendirikan agama Islam.

Keempat, al-Akhbar yaitu segala ulama yang besar-besar yang alim lagi muhtadi, yang menyebarkan agama Islam sampai ke akhir zaman. Orang-orang yang mengikuti dan membesarkan segala ulama sama halnya dengan mengikuti dan membesarkan segala Nabi dan Rasul, yang berarti juga patuh terhadap Allah swt.

Kelima, al-Insan yaitu manusia yang tiada lain makhluk yang dijadikan Allah swt. dari tiada kepada ada. Jasadnya dijadikan dari empat anasir: api, angin, air, dan tanah. Manusia terdiri atas jasad dan ruh atau nyawa yang menyebabkan tubuhnya dapat hidup. Manusia menjalani takdirnya masing-masing.

Keenam, al-Awwali yaitu dunia yang juga dijadikan oleh Allah swt. daripada tiada. Ada yang nampak dipandang dengan mata dan pancaindera dan ada yang halus. Segala perbuatan dan kelakuan manusia sebelum dia mati yang tak berguna bagi akhirat, juga disebut dunia walaupun bentuknya seperti perbuatan akhirat. Sebaliknya, perbuatan dan kelakuan sebelum mati yang berguna bagi akhirat walaupun berbentuk dunia, tetaplah dinamai akhirat. Di antara syurah dunia yang tak berfaedah bagi akhirat seperti bermegah-megah, menumpuk harta kekayaan, takabur, dan pelbagai perbuatan tercela lainnya. Sebaliknya, berbuat adil dan menyenangkan hati rakyat, misalnya, akan jelas kebaikan dan pahalanya, sangat berfaedah bagi akhirat dan bermanfaat bagi dunia.

Ketujuh, al-Akhirat yaitu kesudahan pekerjaan dan perjalanan manusia. Bermulanya dari keluarnya ruh dari badan, masuk ke alam barzah yang zahirnya kubur, yang dapat berupa kebun dari beberapa kebun surga atau satu galian dari beberapa galian api neraka. Yang hidup di dalam surga adalah mereka yang sa’adah, mati dalam hasanul khatimah, yang diampuni Allah segala dosanya. Yang tinggal di dalam neraka adalah mereka yang syaqawah yakni yang mati tak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Itulah ikhtisar tujuh kata utama pada bab awal Kitab Pengetahuan Bahasa. Mengapakah ketujuh kata itu yang pertama sekali diperikan RAH di dalam kamusnya? Jawabnya tiada lain bahwa pengkajian bahasa adalah ilmu untuk mencapai makrifat yakni mengenali Allah dan segala kewujudannya, memperteguh keimanan dan ketakwaan, serta mempertinggi adab-pekerti yang mulia. Itulah sandaran utama setiap ilmuwan Islam ketika mereka membahas ilmu bahasa. RAH menyimpulkannya sebagai berikut.

“… segala manusia itu apabila mengenal makrifat yang tujuh dan pengetahuan yang tujuh … itu serta beriman akan dia, niscaya sempurnalah akalnya dan berbedalah ia dengan binatang pada pihak pengetahuannya.”

Padahal, kata RAH, tiada beda antara manusia dan binatang, kecuali pada akal-budi dan ilmu yang makrifat itulah. Itulah sebabnya, bahasa harus dipelajari dan diajarkan secara benar dan baik supaya diperoleh ilmu yang benar dan adab yang santun.

Di dalam muqaddimah karya bidang bahasanya yang ditulis lebih awal yakni Bustan al-Katibin (1850) RAH menegaskan perhubungan antara kemahiran berbahasa, ilmu yang tinggi, dan adab-pekerti yang mulia.

“Bermula kehendak ilmu perkataan pada jalan berkata-kata karena adab dan sopan itu daripada tutur kata juga asalnya, kemudian baharulah pada kelakuan. Bermula apabila berkehendak kepada menuturkan ilmu atau berkata-kata yang beradab dan sopan, tak dapat tiada mengetahui ilmu yang dua itu yaitu ilmu wa al-kalam (ilmu dan pertuturan). Adapun kelebihan ilmu wa al-kalam amat besar …. Ini sangat zahir pada orang yang ahli nazar (peneliti).”

Jelaslah bahwa RAH memandang begitu pentingnya kedudukan bahasa bagi manusia. Untuk apa? Agar manusia mampu mencapai taraf orang yang beradab sopan, berakal-budi, dan berilmu yang tinggi lagi bermanfaat.

Dalam muqaddimah karya yang disebut terakhir itu, lebih awal beliau telah menjelaskan hal ini.

“… kelebihan akal dan adab itu tiada sebab bangsa dan sebab asal. Jikalau beberapa pun bangsa jika tiada ilmu dan akal dan adab, ke bawah juga jatuhnya yakni kehinaan juga diperolehnya…. Buah akal itu menaikkan ikhtiar…barang siapa jahat adabnya sia-sialah bangsanya…. Apabila tiada ilmu dan akal, alamat tiadalah ia mencium bau kemuliaan dan sangatlah jinak kehinaan kepadanya…. Maka tatkala itu hukumnya badan itu seperti binatang” karena akal telah keluar dari tubuh sehingga laknat Allah akan datang karena ketiadaan ilmu.

Atas dasar itu RAH menekankan pentingnya tertib bertutur dan berbahasa. Pasal apa? Pasal, bahasa menjadi dasar pembinaan ilmu dan adab-pekerti. Itulah sebabnya, setiap orang harus memahiri bahasa secara benar dan baik, terutama harus dikaitkan pembelajaran bahasanya dengan matlamat untuk mencapai makrifat mengenali Allah, mengagungkan-Nya, dan mensyukuri nikmat dan rahmat ilmu dan akal yang dianugerahkan-Nya sehingga manusia menjadi makhluk yang lebih mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain.

Memang tak terbantahkan bahwa manusia menjadi berbeda dari hewan, misalnya, karena manusia memiliki bahasa. Dengan bahasanya, manusia memiliki kebudayaan sehingga terus dapat memperbaiki dan memperbaharui kehidupan hingga sampai ke puncak tamadunnya yang tertinggi. Dalam hal ini, RAH berpandangan sangat maju dan modern, yang bahkan melampaui ilmuwan yang menyebut dirinya modern sekalipun. Itulah sebabnya, banyak ilmuwan modern yang salah dalam memahami filsafat dan ilmu bahasa yang dikembangkan oleh RAH.

Mengkaji bahasa untuk memuji kebesaran Allah dengan segala konsekuensi ikutannya: keimanan, ketakwaan, adab, sopan-santun, dan ketinggian budi pekerti. Dapat dipastikan, berawal dari niat yang suci dan jalan yang ditempuhnya benar, bahasa yang dibina oleh RAH menjadi bahasa nasional beberapa negara karena rahmat yang dicurahkan oleh Allah swt. Niat dan jalan yang benar itu jugalah yang memungkinkan Allahyarham Raja Ali Haji diangkat menjadi Pahlawan Nasional dan Bapak Bahasa Indonesia oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 6 November 2004. Semoga Allah menempatkan penulis Kebun Para Penulis ini di Kebun Surga-Nya yang paling indah.***

Batam Pos, Ahad, 30 Januari 2011
Read more ...

Kamis, Juni 07, 2012

ORANG PENTING

ORANG PENTING
oleh Abdul Malik

ALHASIL tercapai juga cita-cita Wak Entol untuk untuk menjadi orang penting. Program "Menjual Kampung" yang dicanangkannya ternyata disambut masyarakat dengan antusias.

"Saudara-Saudara senasib-sepenanggungan,

Kita harus mengubah nasib. Untuk itu, kita harus menjual kampung kita ini agar dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman!" Itulah kampanye Wak Entol kepada masyarakat kampung.

"Kalau kampung kita dijual, kita harus tinggal di mana, Wak Entol?" tanya seorang pemuda kampung yang menganggap aneh gagasan yang dijual Wak Entol.

"Saudara jangan memahami gagasan cemerlangku secara harfiah. Maksudku, kita promosikan potensi kampung ini kepada investor agar mereka tertarik untuk menanamkan modalnya di sini. Mereka boleh berinvestasi dalam bidang pertanian, perikanan, dan industri yang potensinya sangat menjanjikan di kampung ini. Nanti pendapatan kalian akan meningkat seribu persen, lapangan kerja bertambah seribu kali lipat, dan kampung ini akan maju seribu kali lebih hebat dari sekarang. Itu maksudku," Wak Entol menjelaskan programnya dengan suara lantang di depan orang kampung.

"Hebat, luar biasa Wak Entol. Fantastis dan bergeliga otak Wak Entol," pekik orang kampung serentak. "Itu baru namanya pemimpin kami."

"Kalian tak perlu memujiku berlebihan. Yang pasti, aku berupaya keras membuat hidup kalian berubah dari sekarang."

Dipendekkan cerita, jadilah Wak Entol orang penting dengan kampanye programnya itu. Kini dia dan anak buahnya mulai melaksanakan program perubahannya.

Berdasarkan petunjuk dan perintahnya, anak buah buahnya mulai mengumpulkan surat tanah orang kampung. Upayanya itu mendapat tantangan dari pemuda yang bertanya kepadanya dulu waktu dia kampanye.

"Mengapa pula surat tanah kami engkau kumpulkan, Wak Entol? Hendak engkau jual kepada investor yang kausebut kemarin ya?"

"Aku tak serendah itu," jawab Wak Entol tegas sambil menatap wajah pemuda yang menentangnya. "Aku hendak meyakinkan calon investor tentang jumlah lahan yang kita miliki. Mereka perlu bukti surat tanah."

Sang pemuda masih ragu akan niat Wak Entol. Memperhatikan gelagat itu, tokoh masyarakat kampung itu meyakinkan si pemuda, "Kita harus percaya kepada Wak Entol, ya Awang. Niatnya tulus dan ikhlas ingin membantu kita. Tak mungkin ada niat jahat."

Si Awang, pemuda itu, menjadi tak berdaya setelah diyakinkan oleh tokoh masyarakat mereka. Padahal, dia tetap meragukan niat Wak Entol.

Wak Entol membusungkan dadanya karena dipercayai oleh tokoh masyarakat kampung. Dijelingnya Si Awang dengan ekor mata kirinya dengan pandangan mengejek seorang pemenang kepada orang yang kalah.

Tak sampai sepekan selesailah pekerjaan Wak Entol mengumpulkan surat tanah orang kampung itu. Lalu, dia pun pergi dari kampung itu membawa surat tanah orang kampung yang akan ditunjukkannya kepada calon investor di seberang.

Seminggu, lalu sebulan, Wak Entol belum juga kembali ke kampung. Orang kampung mulai gelisah. Ada fenomena aneh yang melanda kampung itu. Seminggu terakhir ini langit di atas kampung itu terus ditutupi awan hitam yang amat tebal, tetapi tak juga turun hujan. Kilat dan petir terus saja menggelegar sepanjang hari.

Tepat 40 hari setelah kepergian Wak Entol, datanglah serombongan orang ke kampung itu dengan menaiki kapal feri yang canggih. Kebanyakan dari mereka berbadan tinggi besar lagi tegap. Sesampainya di kampung itu, pemimpinnya menemui tokoh masyarakat kampung. Dia meminta tokoh masyarakat untuk mengumpulkan orang kampung semuanya karena ada pengumuman yang akan disampaikan.

"Wahai orang kampung sekalian," pemimpin rombongan itu memulai pengumumannya, "keinginan kalian untuk menjual tanah dan kampung kalian melalui wakil kalian Orang Penting Wak Entol telah kami setujui. Kami pun telah membayarnya melalui Wak Entol. Sekarang semua tanah dan kampung ini menjadi milik kami. Pekan depan kami akan membangun sebuah casino termegah di dunia di tempat ini. Dalam tiga hari kalian harus meninggalkan kampung ini!"

"Bukan begitu perjanjian kami dengan Wak Entol bedebah itu," teriak tokoh masyarakat.

"Bukan begitu, bukan begitu, bukan begitu . . . " pekik orang-orang kampung yang lain.

Tiba-tiba turunlah hujan demikian lebatnya disertai angin ribut yang menumbangkan pohon-pohon di sekitar tempat itu. Kilat dan guruh bersahut-sahutan dan sambar-menyambar. Orang-orang kampung menyerbu tamu yang baru datang itu. Akan tetapi, mereka tak sempat sampai ke sasarannya karena orang-orang tinggi besar dan tegap lebih dulu menghujani mereka dengan tembakan membabi buta. Banyaklah orang kampung yang tewas di tengah cuaca gelap dan hujan ribut itu. Keadaan sangat huru-hara dan haru-biru. Orang kampung yang selamat berusaha melarikan diri tak tentu arahnya lagi.

Wak Entol dan anak buahnya menyaksikan kejadian itu dari atas bukit di kampung itu. Begitu ada orang kampung yang tertembak dan jatuh tersungkur, Wak Entol berteriak, "Wow!" sambil ketawa menyeringai. Anak buah Wak Entol juga ketawa terkekeh-kekeh sambil memikul berpeti-peti uang dalam bentuk mata uang asing.

Si Awang ternampak akan Wak Entol dan anak buahnya di atas bukit itu. Dia dan kawan-kawannya, para pemuda kampung itu, berusaha mengejar Wak Entol dan anak buahnya. Wak Entol dan anak buahnya pun lari meninggalkan bukit itu menuju speed boat mereka sambil mengejek Si Awang dan para pemuda kampung. Sambil berlari itu Wak Entol dan anak buahnya menyanyikan lagu "Kudaku Lari" yang lirik dan iramanya telah diubah suai menjadi heavy metal yang dipadu zapin negeri dan mereka terus terbahak-bahak.***
Read more ...

Rabu, Juni 06, 2012

Motif, Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau

MELAYU Riau kaya dengan khazanah budayanya. Antaranya yang amat menonjol adalah motif ornamen Melayunya, yang banyak dipakai untuk motif kain songket dan seni ukir. Motif atau corak dan ragi Melayu Riau ini memiliki cirri khas tersendiri walaupun di antaranya mempunyai dasar yang sama dengand aerah-daerah Melayu sekitarnya. Misalnya saja pemakaian corak dan ragi pada kain songket tenun dari Siak.

Setiap kawasan budaya di Riau memiliki corak dan ragi hias tersendiri. Termasuk corak tenunan. Masyarakat Melayu Riau memiliki corak dasar yang sejak ratusan tahun menjadi khazanah budayanya. Sebagian besar corak itu dikekalkan dalam bentuk ukiran (kayu, perunggu, emas, perak, dan suasa); sebagian lain dalam bentuk tenunan kain; dan sebagian lainnya dalam bentuk anyaman (rotan, pandan, dan akar-akaran).

Corak dasar Melayu umumnya bersumber dari alam, flora dan fauna, serta benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, atau awan. Benda-benda itulah yang direka bentuk. Ada seperti alaminya, seperti bunga kundur atau bunga hutan, dan ada juga yang diabstrakkan, seperti itik pulang petang, semut beriring, dan lebah bergayut.

Ada pula corak-corak yang bersumber dari benda-benda tertentu, seperti wajik, lingkaran, kubus, dan lain-lain.

Dalam tradisi Melayu, corak-corak itu dikembangkan lagi dalam beragam variasi sehingga membentuk satu perpaduan yang serasi. Bahkan melahirkan nama-nama baru, seperti cukrebung, siku keluang, dan kalukpakis.

Dikutip dari :
Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau
oleh Abdul Malik, dkk.
Terbitan Adicita, Yogya, 2003.

SUMBER :
LAMRIAU.ORG

Motif, Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau








































Read more ...

Sabtu, Januari 21, 2012

PATRIOTISME HANG TUAH

KARYA sastra klasik Melayu yang paling kuat pengaruhnya terhadap patriotisme adalah Hikayat Hang Tuah. Pengaruh itu paling terasa terutama bagi masyarakat Melayu walaupun masyarakat lain yang pernah membacanya juga sangat mungkin untuk merasakan sentuhannya. Di kalangan orang Melayu pengaruh Hikayat Hang Tuah—khasnya pengaruh tokoh-tokohnya Hang Tuah, Hang Jebat, dan Bendahara Paduka Raja—telah berlangsung sejak zaman-berzaman hingga sekarang. Nilai-nilai yang terkandung di dalam hikayat ini, termasuk nilai patriotisme, menjadi pedoman nilai dalam hidup bagi orang Melayu, baik generasi tua maupun generasi muda. Inilah contoh karya sastra yang tak lekang dek panas dan tak lapuk dek hujan.

Di samping yang memang telah diterima dan dipahami selama ini, nilai-nilai yang dikandungnya terus mengalami reinterpretasi, terutama oleh kalangan muda. Di antara nilai-nilai yang kerap menjadi perdebatan ialah nilai utama yang menjadi tema Hikayat Hang Tuah yaitu kesetiaan dan ketaatan. Begitu pula nilai-nilai keadilan, kebijakan, kearifan, persahabatan, cinta-kasih, kerja sama, kerja keras, dan sebagainya yang memunculkan patriotisme terus didalami oleh generasi muda Melayu dewasa ini. Perkara itu memang mustahak karena kesemuanya itulah yang membentuk mentalitas dan jati diri orang Melayu. Pada gilirannya, nilai-nilai baik yang membentuk mentalitas itu menjadi pedoman serta daya dorong dan atau pemacu semangat dalam kehidupan, sama ada untuk berpikir, berasa, bersikap, berkelakuan, belajar, ataupun bekerja.

Prof. Dr. Siti Hawa Haji Salleh dalam bukunya Kelopak Pemikiran Sastera Melayu (Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia, 2009:383—401) menempatkan Hikayat Hang Tuah sebagai epik Melayu yang membanggakan. Pernyataan beliau itu memang tak terbantahkan. Buktinya, sampai kini cerita-cerita di dalam Hikayat Hang Tuah tetap terpatri di dalam minda dan hati sanubari orang Melayu di mana pun mereka bermastautin.

Tujuan dan tema Hikayat Hang Tuah ditempatkan pengarangnya pada permulaan pengisahan. “… Ini hikayat Hang Tuah yang amat setiawan pada tuannya dan terlalu sangat berbuat kebaktian kepada tuannya.”

Jelaslah bahwa Hikayat Hang Tuah dimaksudkan oleh pengarangnya untuk menonjolkan ketokohan Hang Tuah dengan sifatnya yang taat dan setia kepada raja dan negara. Tokoh-tokoh lain diadakan, bahkan dikorbankan, untuk mendukung ketokohan Hang Tuah. Bukan hanya tokoh-tokoh yang tak terlalu ada kena-mengena dengan dirinya, bahkan, sahabatnya yang telah dianggap sebagai saudara kandungnya sendiri, Hang Jebat, harus dibunuh oleh Hang Tuah demi ketaatan dan kesetiaannya kepada raja (dan negara?).

Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu memang menjadi idola orang muda-muda Melayu, terutama Hang Tuah dan Hang Jebat. Kesempurnaan fisik dan sifat mereka sebagai wira (pahlawan) sungguh memesona. Sifat mereka yang rajin menuntut ilmu dan bekerja keras memungkinkan mereka mengubah status diri dari hanya sebatas rakyat biasa menjadi pembesar negara. Mereka memperoleh status itu bukan secara terwaris, melainkan dengan jerih payah yang tanpa mengenal lelah dan putus asa. Keberanian mereka dalam membela negara tak ada tolok bandingnya.

Kecuali itu, jika Hang Tuah disebutkan “mulutnya dengan manisnya berkata-kata”, Hang Jebat pula diperikan oleh pengarang dengan “perkataannya keras”. Guru mereka Sang Aria Putera jauh-jauh hari lagi telah meramalkan bahwa kelima orang bersahabat itu akan menjadi pegawai besar.

Hang Tuah dan ketiga sahabatnya, sekali lagi kecuali Hang Jebat, juga diramalkan akan menerima nasib baik kemudian hari. Bahkan, Hang Tuah diberitahukan akan terbebas dari segala perbuatan hasad-dengki dan fitnah yang dihalakan (diarahkan) kepadanya. Akan tetapi, tak ada alamat baik yang disebutkan untuk Hang Jebat. Kesemuanya itu menjadi isyarat bahwa pada akhirnya Hang Tuah akan dipertentangkan dengan sahabatnya Hang Jebat.

Pada tokoh Bendahara Paduka Raja juga dapat diambil contoh ketaatan dan kesetiaan kepada raja dan negara. Selain itu, dari tokoh ini sangat patut ditiru kebijaksanaan, kearifan, dan kepiawaian dalam menyelamatkan negara dan raja. Dia pun adalah tokoh yang sangat santun berbahasa dan rendah hati. Dalam hal ini, Bendahara terkesan jauh lebih arif daripada raja sekalipun.

Hanya karena jauh lebih tua dan tak bertempur langsung di medan perang, kendatipun dia yang mengatur strategi perang, Bendahara Paduka Raja berada di bawah ketokohan Hang Tuah. Walaupun begitu, nilai-nilai patriotisme sangat ketara pada tokoh Bendahara ini. Ketokohannya mengingatkan orang akan tokoh Demang Lebar Daun di dalam Sulalat al-Salatin (Sejarah Melayu).

Tokoh raja pula diperikan sangat taksa, ambigu. Dia condong mempermainkan keadilan sesuai dengan seleranya, sewenang-wenang, dan sekehendak hatinya. Kebijaksanaannya dalam menyelenggarakan negara dan memerintah membuat pembaca berasa kelam-kabut di dalam hati. Dari kebijaksanaannya yang terkesan tergesa-gesalah yang memunculkan tragedi “pendurhakaan” Hang Jebat.

Hukuman mati yang dijatuhkan kepada Hang Tuah yang selama ini sangat taat dan setia kepada raja dan negara membangkitkan kemarahan Hang Jebat. Raja seolah-olah tak memiliki kecerahan dan kebeningan nurani untuk membedakan kasa dengan cindai; kaca dengan permata. Secara objektif, pengarang seolah-olah hendak menegaskan bahwa selagi bernama manusia, raja pun memiliki kelemahan, di samping kelebihan yang ada padanya. Akan tetapi, para pembaca mempunyai tafsiran lain: “penguasa memang cenderung berlaku zalim.” Alhasil, tindakan Hang Jebat mendapat sokongan setidak-tidaknya dari sebagian pembaca.

Dalam keadaan serupa itu, tak ada jalan lain bagi Hang Jebat, selain menuntut bela. “Raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah,” ungkapannya yang terkenal itu terus terngiang-ngiang di dalam minda dan hati orang Melayu. Ungkapan itu menjadi setara, sejajar, sebanding, dan setanding dengan ucapanan Hang Tuah, “Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, tak Melayu hilang di bumi.” Nampaknya, kedua tokoh ini terus dan selamanya berupaya berebut simpati pembacanya dengan pikiran, perasaan, sikap, dan perilaku khas mereka masing-masing. Tindakan Hang Jebat itu mengingatkan kita akan “Sumpah Setia Melayu” antara Demang Lebar Daun dan Sang Sapurba di dalam Sulalat al-Salatin (Sejarah Melayu). Dalam hal ini, bukankah raja yang mengubahkan (mengingkari) Sumpah Setia itu?

Maka sembah Demang Lebar Daun, “Adapun Tuanku segala anak-cucu patik sedia jadi hamba ke bawah duli Yang Dipertuan; hendaklah ia diperbaiki oleh anak-cucu duli Tuanku. Dan, (jika) ia berdosa, sebesar-besar dosanya pun, jangan ia difadhihatkan, dinista dengan kata yang jahat; jikalau besar dosanya dibunuh, itu pun jikalau berlaku pada hukum syarak.”

Maka titah Sang Sapurba, “Hendaklah pada akhir zaman kelak anak-cucu Bapa hamba jangan durhaka pada anak-cucu kita, jikalau ia zalim dan jahat pekerti sekalipun.”

Maka sembah Demang Lebar Daun, “Baiklah Tuanku, tetapi jikalau anak buah Tuanku dahulu mengubahkan dia, maka anak-cucu patik pun mengubahkanlah.”

Maka titah Seri Tri Buana,”Baiklah, kabullah hamba akan waad itu.”

Maka keduanya pun bersumpah-sumpahlah, barang siapa mengubahkan perjanjiannya itu dibalik(kan) Allah subhanahu wa taala bumbungan rumahnya ke bawah, kaki tiangnya ke atas.



Hikayat Hang Tuah telah berhasil memberikan pengaruh positif terhadap patriotisme masyarakat, terutama masyarakat Melayu. Sampai setakat ini tokoh-tokoh, watak, dan peristiwa yang diceritakan di dalam hikayat itu masih terus menjadi perbincangan. Para pemuda Melayu dihadapkan pada pilihan sulit: hendak berpihak kepada Hang Tuah atau Hang Jebat dalam menunjukkan jati diri Melayu. Apalagi, pengarang memang membuka ruang seluas-luasnya untuk pembaca menentukan sikap dan pilihannya walau ceritanya dipusatkan pada ketokohan Hang Tuah. Dalam hal ini, Hikayat Hang Tuah menjadi karya sastra sejarah (karya sastra yang diangkat dari peristiwa sejarah) yang sangat berhasil menampilkan karakter tokohnya.

Para pakar sejarah, sastra, dan atau budaya boleh melakukan analisis dan interpretasi ilmiah apa pun sesuai dengan bidang ilmu mereka masing-masing. Akan tetapi, khalayak penikmat (entah memang membacanya atau sekadar mendengarkan ceritanya dari orang yang pernah membacanya) mempunyai penilaian tersendiri. Dalam hal ini, pilihan kepada Hang Jebat, justeru, makin mengemuka di kalangan generasi muda Melayu masa kini. Perbedaan ruang dan waktu, barangkali, menjadi penyebab utama peralihan pilihan ke arah “yang berlawanan” itu.***


oleh Abdul Malik pada 27 Desember 2011 pukul 22:31
Batam Pos, Ahad, 25 Desember 2011
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Kamis, Januari 19, 2012

BUDAYA MEMBANGUN

DIAKUI atau tidak, pembangunan yang dilaksanakan selama ini lebih diarahkan pada aspek ekonomi. Alasan yang dikemukakan tiada lain untuk mempercepat tercapainya kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, segala daya yang ada dikerahkan dan pikiran pun sepenuhnya dicurahkan untuk mengejar kemajuan ekonomi, yang malangnya sering melupakan aspek lain. Kata kunci ‘kesejahteraan’ seolah-olah begitu sakral dan menjadi alat pembenaran untuk mengutamakan pembangunan ekonomi dibandingkan aspek lain.

Ternyata, banyak dijumpai program pembangunan ekonomi yang sebagian besarnya gagal, bahkan gagal total. Karena apa? Karena pembangunan itu sesungguhnya bersifat holistik. Program pembangunan ekonomi yang didewakan itu justeru tak membuahkan hasil yang diharapkan kalau aspek lain dialpaan, yang justeru sangat diperlukan untuk menggerakkannya, terutama aspek budaya. Malangnya, tak jarang terjadi aspek budaya itulah yang paling kurang mendapat perhatian di dalam implementasi pembangunan selama ini walau sebagai bumbu retorika politik untuk menarik perhatian rakyat, pembangunan kebudayaan selalu disebut mendapat perhatian penting konon.

Pembangunan mengandalkan manusia sebagai pelakunya. Manusia pelaku pembangunan itu taklah ada dalam keadaan hampa atau kosong sebagai benda mati. Manusia adalah subjek yang hidup dan kehidupannya itu secara terwaris menganut serangkaian nilai budaya. Manusia pelaku pembangunan itu memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya. Nilai-nilai budaya itu pada tataran perseorangan mewujudkan sikap mental yang menjadi penggerak pembangunan, baik pembangunan ekonomi, politik, maupun pembangunan sosial lainnya. Dengan demikian, tak heranlah kita bahwa pembangunan yang mengabaikan aspek budaya dapat dipastikan menuai kegagalan. Jadi, janganlah terlalu heran jika ternyata pembangunan infrastruktur ekonomi seperti jembatan yang megah berusia muda boleh rontok seketika seperti mainan kanak-kanak.

Apa pasal? Untuk menjadi subjek pembangunan, manusia tak hanya memerlukan kemahiran, keahlian, ilmu-pengetahuan, dan teknologi. Lebih daripada kesemuanya itu masih diperlukan unsur utama berupa tata nilai sebagai pedoman berperilaku dan pemacu semangat dalam bekerja. Keahlian serta penguasaan sains dan teknologinya mungkin cukup baik, tetapi kalau tata nilai terhadap kualitas kerja yang dianutnya negatif; hasilnya pastilah kegagalan, kalau tak sampai mengundang malapetaka. Sikap mental yang keropos akan menghasilkan “jembatan” yang keropos pula walaupun manusia yang terlibat dalam pengerjaannya memiliki keahlian serta menguasai sains dan teknologi canggih. Apa bedanya dengan ahli politik yang menyelewengkan tujuan politik bersih (semestinya juga untuk mewujudkan kesejahteraan bersama) karena lemahnya penghayatan nilai-nilai budaya yang diwujudkan pada sikap mentalnya.

Tata nilai yang dipedomani oleh manusia adalah sistem nilai budaya yang sangat abstrak. Ia berupa konsepsi-konsepsi yang hidup di dalam pikiran sebagian besar masyarakat tentang hal-hal yang dianggap baik dalam hidup manusia (lihat juga Kuntjaraningrat, 1985). Sistem nilai budaya itulah yang mengatur kelakuan atau perilaku manusia pada peringkat yang lebih konkret dalam bentuk aturan-aturan khusus, hukum, norma, dan adat-istiadat dalam pelbagai bidang.

Nilai budaya yang bersifat kolektif itu tumbuh di dalam diri manusia dari masyarakat budaya itu secara perorangan. Itulah yang disebut mentalitas. Jadi, mentalitas manusia secara individual itu bersumber dari sistem nilai budaya di dalam masyarakatnya. Jika sistem nilai budaya bersifat kolektif masyarakat, mentalitas bersifat individual perorangan.

Telah disebutkan bahwa dalam wujud yang lebih konkret sistem nilai budaya terdapat di dalam kebiasaan, adat-istiadat, aturan-aturan khusus, norma-norma, dan hukum. Manusia yang tak terdedah kepada unsur budayanya karena dia tak memedulikannya, katakanlah adat-resam masyarakatnya, tentulah tak mampu mengambil nilai-nilai baik dan positif dari budaya itu untuk menjadi bagian dari mentalitas pribadinya. Dalam keadaan seperti itu dia boleh jadi menggunakan orientasi nilai yang tak sesuai dengan tata nilai yang berlaku di dalam masyarakatnya dan atau tak cocok untuk pembangunan. Katakanlah sikap mental dalam bekerja asal selesai saja dan demi keuntungan materi, tanpa mementingkan kualitas hasilnya. Dia tak pernah mau memikirkan dampak pekerjaannya itu bagi lingkungannya, baik lingkungan sosial (manusia) maupun lingkungan alam. Dari pelaku pembangunan seperti itu hanya akan ditemukan kegagalan pembangunan.

Ilustrasi di atas menjelaskan betapa pelaku pembangunan memerlukan kesadaran budaya. Dengan kesadaran itu, dia diharapkan dapat menghayatinya untuk menjadi bagian dari mentalitasnya. Pada gilirannya, dia pun menjadi peka akan keperluan mutu pembangunan di dalam masyarakat budaya tempatnya hidup dan menghidupinya. Alhasil, nilai-nilai budaya memberikan kontribusi positif pada upaya pembangunan yang bermutu sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Jika yang dimaksudkan itu pembangunan ekonomi, maka pembangunan itu memang menyejahterakan masyarakat.

Keadaan tak pernah statis, tetapi terus berubah. Seiring dengan itu, sistem nilai budaya pun harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan supaya tetap segar dan terpakai. Dengan demikian, tata nilai budaya itu tetap mampu menjadi penuntun berperilaku bagi pelaku pembangunan untuk menggunakan orientasi nilai yang terdapat di dalam budaya tertentu, nilai-nilai budaya Melayu, misalnya, di kawasan berbudaya Melayu. Dalam konteks ini, budaya harus menjadi sasaran pembangunan, yang berbeda dengan perian di atas yaitu perannya sebagai penggerak pembangunan.

Upaya-upaya pembangunan kebudayaan meliputi pengekalan (pelestarian), pembinaan, dan pengembangannya. Kesemua upaya itu, terutama pengembangannya, dilakukan untuk meningkatkan kualitas budaya supaya mampu terus berkembang sesuai dengan kehidupan yang terus berubah karena perkembangan zaman. Dalam menghadapi perubahan itu diperlukan orientasi nilai baru agar tantangannya dapat dihadapi dengan tepat. Nilai-nilai baru itu, melalui upaya pembangunan kebudayaan, tak terlepas dari akar budayanya, tetapi mampu beradaptasi dengan perubahan. Pada gilirannya, kebudayaan terus berkembang dan tak luntur sehingga nilai-nilainya dapat menjadi pedoman secara berkekalan.

Dalam kaitannya dengan pembangunan, kebudayaan yang berperan sebagai penggerak dan kebudayaan yang menjadi sasaran pembangunan sesungguhnya bersifat timbal-balik. Pembangunan memerlukan kebudayaan karena manusia yang menjadi penggerak pembangunan itu memiliki sikap mental tertentu yang bersumber dari sistem nilai budayanya. Sikap mental itulah yang menentukan kualitas pembangunan yang dihasilkannya. Sebaliknya pula, kebudayaan mestilah menjadi sasaran pembangunan (pembangunan kebudayaan) supaya tetap terpelihara, terbina, dan berkembang untuk terus dapat berperan dalam pembangunan. Pembangunan kebudayaan memungkinkannya tidak mati sehingga dapat terus memberikan kontribusi terhadap orientasi nilai dalam pembangunan di segala bidang.

Sesungguhnya, dorongan untuk membangun adalah kepuasan untuk mencapai hasil karya yang bermutu dan bermanfaat bagi kehidupan. Hal itu berarti membangun bukan sekadar untuk bertahan hidup, apalagi sekadar menumpuk kekayaan, mengejar kedudukan, memburu kehormatan, dan merangkul kekuasaan. Memang diperlukan orientasi nilai budaya yang baik untuk memahami dan menikmati hikmah itu. Yang pasti, semua bangsa maju di dunia ini melaksanakan karya pembangunan berdasarkan pemikiran positif itu, menghasilkan karya yang bermutu. Itulah kunci keberhasilan mereka menjadi bangsa yang maju.***


oleh Abdul Malik pada 13 Desember 2011 pukul 0:22
Batam Pos, Ahad, 4 Desember 2011
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Rabu, Januari 18, 2012

Dah masok hari ketige

Dah masok hari ketige Tok Tim dedar. Awang dah carik teh cine utk penuron panas, Leha pon sentiase standby dg ae angat dlm baskom lengkap dg tuala kompres utk jelom2 kepale Tok, dan minyak kelonye 4711. Suasana mmg trase berubahnye kalau orgtue tu sdg tak sedap badan, macam ade sj sesuatu yg hilang.. Itu tak laen tak bukan, celoteh khas Tok itulah. Lepas lohor td, Wan Hasan yg baru tibe dr Singepure datang ke rumah Tok Tim, menjengah, tapi tak sempat bebual dg Tok Tim yg sdg tidor. Tak ade ape2 komentar dr tamu sebrang tu, kecuali pesan ke Awang : "Kirem salam saje ha.. Jage itu orang baek2 ha.. Tim itu orang baek, Allah pasti sayang dia la.. jd kasi siket cubaan la.." kate Wan Hasan dlm dialek yg asing aje dek telinge Awang, sementara Leha terharu atas pandangan org lua terhadap Toknye itu. Muge2 Tok Tim lekas kebah dr demamnye. Amin, YRA ...{~}


Zainuddin Abuhassan
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Selasa, Januari 17, 2012

GURU DAN SETERU

Dua hari yang lalu, 25 November, kita memperingati Hari Guru. Ada satu hari dalam setahun yang diperingati khas untuk guru sebetulnya menunjukkan bahwa bangsa ini menaruh perhatian khusus terhadap profesi pendidik, sekurang-kurang secara formal. Betapa tidak? Dalam sistem pendidikan, walaupun bukan satu-satunya komponen yang menentukan, peran guru tetaplah penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Kolom kali ini didedikasikan pada hal-hal yang berkaitan dengan profesi dan bakti guru, para pendidik.

“Cahari olehmu akan guru, yang boleh tahukan tiap seteru.” Itu adalah pesan Raja Ali Haji di dalam Gurindam Dua Belas, Pasal Keenam, bait 2. Bait ini menukik langsung perihal perhubungan peserta didik dan pendidik atau guru (muamalah dan akhlak). Peserta didik dianjurkan untuk mencari pendidik yang mampu mengajarkan, membimbing, melatih, dan mendidik mereka sehingga mampu mengenal seteru.

Seteru? Ya, segala sesuatu yang menjadi lawan bagi manusia dan kemanusiaannya. Lawan yang siap menerkam mangsanya bila-bila masa dan di mana saja. Guru yang baik adalah pendidik yang bersedia, ikhlas, dan layak membimbing para peserta didiknya sedemikian rupa sehingga mereka pun mampu mengenal, memahami, untuk pada gilirannya melawan setiap seteru yang akan membinasakan dirinya dan kemanusiaannya. Pendidik dengan kualitas itulah yang patut dan wajib dicari oleh setiap peserta didik.

Marilah kita tinjau masalah genting (krusial) yang dihadapi oleh bangsa kita setakat ini. Masalah utamanya adalah makin terpuruknya kehidupan berbangsa dan bernegara kita akhir-akhir ini. Masalah itu berkaitan dengan kian lunturnya budaya nasional kita dan makin menurun (terdegradasinya) karakter bangsa ini, di satu pihak, serta makin kerasnya cabaran atau tantangan budaya global (Barat) yang tak sesuai dengan budaya kita untuk menggeser nilai-nilai baik yang kita yakini selama ini, di pihak lain. Akibatnya, pelbagai musibah menimpa kita sebagai bangsa, baik yang bersifat alami maupun sosio-kultural. Jenis, kuantitas, dan kualitas musibahnya nyaris tak terperikan lagi. Pun, nyaris bangsa kitalah yang paling tinggi tensi musibahnya dibandingkan bangsa-bangsa lain, yang terus berpacu mengejar kemajuan, sedangkan kita masih berputar-putar di sekitar musibah-musibah itu saja.

Apakah punca atau penyebab utama kesemuanya itu. Jawabnya tiada lain yaitu seteru utama manusia: kebodohan. Pasti banyak orang yang tak bersetuju dengan pernyataan itu. Keberatan itu pun dapatlah dipahami. Karena apa? Karena telah cukup banyak orang di antara bangsa kita yang bersekolah cukup tinggi, jauh lebih tinggi daripada para pendahulu pada awal kemerdekaan dahulu. Akan tetapi, kenyataannya—diakui atau tidak—sekolah dengan ijazah tinggi ternyata tak selalu seiring dengan terdidik secara baik dan komprehensif. Tak jarang terjadi mereka yang berijazah tinggi itulah yang menjadi pangkal bala, bagian dari masalah. Perseteruan di antara mereka membawa malapetaka dan marabahaya bagi bangsa yang besar ini secara menyeluruh. Sendi-sendi kehidupan nyaris punah-ranah.

Mereka hanya sibuk dengan urusan diri dan kelompok sendiri sehingga rela mengorbankan bangsa dan negara tanpa merasa bersalah sedikit jua pun. Pelbagai helah dan hujah dikemukakan seolah-olah mereka memang paling cerdas. Di sebalik kesemuanya itu tak lain tipu-daya belaka.

Perseteruan di antara mereka dipertunjukkan saban hari tanpa ada di antara kita yang sanggup melawannya. Bahkan, kalau ada pun satu-dua orang yang berjuang untuk menghadangnya, pada akhirnya tenggelam juga ke dasar terdalam samudera kekacaubalauan itu. Pilihannya biasanya adalah ikut bermain di atas gelombang panas atau tenggelam alias terkucil dari silauan hedonistis yang makin bersemarak. Pesta pertunjukan kemegahan dan kemewahan bak tuhan baru di samping tuhan lama yang tetap mereka sembah di dalam peribadatan, yang ironisnya mereka laksanakan juga, entah untuk apa. Maka, bermunculanlah para fir’aun baru walau tak sejantan Fir’aun asli.

Gejala itu membuktikan bahwa kecerdasan intelektual yang terbungkus ijazah tinggi tak menjamin manusia mengenal, apalagi melawan, seteru utamanya. Masih diperlukan kecerdasan-kecerdasan lain seperti kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan emosional yang mampu membawa manusia memiliki kecerdasan komprehensif. Olah pikir yang mampu mengembangkan potensi kecerdasan intelektual ternyata hanya sanggup melahirkan orang yang pandai, bahkan setakat pandai di dunia saja. Itulah kebodohan terbesar yang mengemuka selama ini. Itulah seteru utama yang harus diketahui, dihayati, dan dilawan oleh peserta didik yang seyogianya ilmunya diperoleh dari pendidik sejati, yang tak hanya memiliki ilmu, tetapi memberikan tauladan diri kepada peserta didiknya.

Untuk menghasilkan manusia yang cerdas secara komprehensif, masih diperlukan upaya-upaya lain. Olah kinestetika perlu dilakukan agar dapat dikembangkan potensi kecerdasan sosial untuk menghasilkan insan yang bertanggung jawab. Insan yang jujur dihasilkan melalui upaya olah hati untuk mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. Upaya olah rasa pun mustahak untuk mengembangkan potensi kecerdasan emosional sehingga dapat dihasilkan insan yang peduli dan kreatif. Ketiga jenis kecerdasan yang disebut terakhir inilah yang, justeru, terlupakan dalam upaya pendidikan kita selama ini, baik pendidikan informal, formal, maupun nonformal. Kita begitu menggebu-gebu untuk menciptakan orang yang pandai secara intelektual, yang ternyata berjiwa kering kerontang.

Dengan kecerdasan komprehensif itu, peserta didik diharapkan tak hanya berbangga diri akan predikat orang pandai di dunia. Akan tetapi, mereka menjadi paham dan sadar sesadar-sadarnya untuk membekali diri agar mampu menjadi orang pandai di akhirat. Pasal apa? Pasal, orang yang sekadar pandai di dunia, yang dipuja-puji di dunia karena kepandaian duniawinya, tak akan dipandang Tuhan di akhirat kelak. Hanya manusia yang membekali diri dengan pengetahuan dan ilmu untuk menjadi pandai kedua-duanyalah, dunia dan akhirat, yang diperhitungkan oleh Sang Khalik di kehidupan akhirat yang kekal abadi. Insya Allah, jika peserta didik mendapatkan pendidikan yang baik dan diberi laluan untuk mengembangkan potensi kecerdasan komprehensif secara holistik, mereka tak hanya menjadi insan yang berguna di dunia, tetapi akan memperoleh kebahagian sejati di akhirat, di hadapan Tuhannya. Itulah hakikat dan tujuan hidup manusia sesungguhnya sehingga kita harus terus meningkatkan kemanusiaan dan mengembangkan tamadun kita.

Tugas, peran, dan tanggung jawab itulah yang ada di pundak para pendidik. Melalui proses pendidikan harus dapat dihasilkan insan yang dapat menikmati kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus. Untuk memperolehnya, tentulah diperlukan pengetahuan, ilmu, perilaku, dan sikap yang patut dan padan. Insan seperti itulah yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negaranya sehingga sebagai bangsa, kita menjadi berwibawa dan terhormat dalam pergaulan masyarakat dunia. Dan, hidayah serta inayah Allah akan senantiasa mengalir bagi bangsa yang berkualitas dan berkarakter baik seperti itu.

Semakin nyatalah bahwa tugas dan tanggung jawab pendidik itu sangat berat, tetapi pun sangat mulia. Tugas besar itu tak mungkin hanya dideligasikan kepada para guru saja. Untuk mencapai matlamat mulia itu, peran orang tua, masyarakat, dan pemerintah harus ditingkatkan dalam pendidikan anak bangsa ini. Generasi kita tak hanya memerlukan ilmu dan teknologi yang canggih untuk menghadapi tantangan pada masanya, tetapi juga karakter tauladan di lingkungannya: rumah tangga, sekolah, masyarakat, dan dalam lingkup bangsa yang besar ini. Oleh sebab itu, jika kita betul-betul berazam untuk menyelamatkan bangsa ini, setiap orang dewasa harus mau dan mampu berperan sebagai guru. Kuncinya pada perkataan, perbuatan, perilaku, dan sikap hidup yang patut dijadikan suri tauladan. Selamat Hari Guru.***

oleh Abdul Malik pada 28 November 2011 pukul 0:27
Batam Pos, Ahad, 27 November 2011
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Senin, Januari 16, 2012

Begegas Leha membritau Kalsom

Begegas Leha membritau Kalsom dg berbisik supaye nutop kpale dulu dg jilbab atau selendang sebelom bejumpe dg Tok Tim. Bukan ape2.. soalnye Leha takot Som, kawan karibnye itu jadi bahan celoteh Tok Tim pulak. Alkisah, dulu rambot kawannye Tena yg baru selesai di-rebondin, oleh Tok Tim pon disentil 'macam eko belangkas pulak'. Kuatir rambot Som yg baru dicat pirang itu kene kate 'macam buah delime tak masak', Leha pintas nyorongkan jilbabnye. Dipandu Leha, lalu Som pon menyampaikan maksud kedatangannye ke Tok Tim. "Ha, iye lah.. Tok suke aje dan merestui hajat engkau nak berumah-tangge dg Usen. Baik2 jage diri, bepantas-pantaslah dlm bersikap. Jangan ekotkan krenah diri sorang, sebab nikah-kawen ni bukan kerje mike berdue aje, tp melibatkan tangan2 dan hati orang banyak. Mestilah pandai2 engkau mengambek hati dan simpati org ye..", kate Tok Tim di ujong celoteh2 khasnye itu. Tak lame kemudian, kedue anak dare td itu pun berlalu dr hadapan Tok Tim setelah ta'bil, ciom punggong tangan Tok, tande hormatnye.. {~}

Zainuddin Abuhassan
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Minggu, Januari 15, 2012

POHON DUIT

“Saudara-Saudara sekampung halaman,

seiring-sejalan,

senasib-sepenanggungan,

Kita sadar sesadarnya-sadarnya, dan penting untuk menyadarinya bagi yang belum sadar, bahwa nilai-nilai budaya kita sendirilah yang akan menyelamatkan kita dan generasi kita. Nilai-nilai budaya kita yang berbancuh sebati lagi serasi dengan nilai-nilai agama kita yang agunglah yang harus kita pedomani dalam melayari bahtera kehidupan ini. Dengan begitu, berarti kita juga telah menyiapkan bekal yang berfaedah untuk kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.”

“Hidup, Tuan Entol, hidup Tuan Entol. Tuan Entol pemimpin kami! Penguasa yang memiliki tahta di bumi dan kerajaan di langit,” pekik hadirin yang berhimpun pepat di bawah rimbunan pokok jambu di kampung itu.

Wak Entol makin bersemangat dan pidatonya makin berapi-api.

“Sadar akan kenyataan yang memang nyata itu, aku berjanji bahwa jika aku ditakdirkan menjadi pemimpin kalian, program pembinaan dan pengembangan kebudayaan akan menjadi prioritasku. Kita memerlukan generasi yang berkarakter untuk membangun kembali bangsa kita. Karakter itu ada di dalam nilai-nilai luhur budaya kita. Generasi kita harus kita dorong untuk lebih mengenal, memahami, menghayati, dan mencintai budaya luhur nenek-moyangnya. Dengan begitulah, nilai-nilai itu akan menjadi pakaian hidup mereka, yang akan menyelamatkan mereka, menyelamatkan warga Kampung Pokok Jambu ini.”

Seorang anak buah Wak Entol makin histeris. “Tuan Entol, Padukalah pemimpin anutan kami. Kami akan mendukung Paduka Entol sampai mati. Betul bukan, Saudara-Saudara?”

“Seribu seratus satu persen betul. Siap berjuang sampai mati!” sahut hadirin lebih histeris lagi.

“Terima kasih, Saudara-Saudaraku. Jika aku betul-betul menjadi pemimpin kalian nanti, aku berjanji akan menanam “pohon kebudayaan” tanda kepedulian kita akan warisan leluhur kita. Tanda tekad kita untuk maju berlandaskan budaya kita sendiri. Tanda kita orang yang berjati diri. Tanda kita bangsa pohon, eh … maksudku bangsa yang menyayangi pohon seperti nama kampung kita ini. Kesemuanya itu akan terwujud hanya kalau aku yang kalian pilih menjadi pemimpin kalian. Bahkan, pepohonan pun akan bergembira mendengar tekad muliaku ini. Bersediakah kalian?” pidato kebudayaan Wak Entol makin menjadi-jadi, menggila-gilai sehingga ada di antara hadirin yang menjerit-jerit mengilai-ngilai. Sebagian dari mereka menggoyang-goyang pohon-pohon jambu di kebun itu sambil berteriak bagai kerasukan.

“Siap Paduka Entol! Kami rela mati untuk Paduka!” serempak hadirin kelompok pokok jambu itu menjawab spontan, makin menggebu-gebu.

“Nah, ini penutup pidatoku,” suara Wak Entol menggelegar menutup pidatonya, “Pilihlah aku!”

“Kami tak mau yang lain, kami hanya mau Paduka Tuan Entol. Paduka pemimpin agung kami!” sambut hadirin sambil menyerbu untuk menciumi tangan dan menjilati pipi Wak Entol.

Wak Entol tersenyum lebar mengenang pidato kebudayaannya yang hebat beberapa tahun lalu itu. Pidato itulah yang mengantarkannya menjadi pemenang mutlak untuk menjadi pemimpin Kampung Pokok Jambu itu.

Ketika dia sedang tersenyum riang itu, datanglah seorang pemilihnya dulu. Setelah memberi salam dan menciumi tangan Wak Entol, dia bertanya:

“Paduka Entol, bilakah pohon kebudayaan kita akan ditanam?”

“Sabar, sabar, jangan tergesa-gesa Saudaraku,” jawab Wak Entol tenang dan selamba, “menanam pohon kebudayaan itu tak seperti membalikkan telapak tangan. Perlu perencanaan yang matang dan pemikiran yang bernas. Ada banyak tahapan yang harus dilalui. Begitulah negara-negara maju di dunia ini memajukan kebudayaannya seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea, dan banyak negara lagi yang pernah kukunjungi. Sementara itu, aku perlu lebih banyak menanam pohon kekayaan lebih dulu. Acara yang kita adakan di bawah pohon jambu dulu dan kalian memilih aku, tak gratis, bukan? Engkau paham maksudku, Saudaraku?” Wak Entol menjelaskan sambil membusungkan dada dan mengangkat bahunya.

Pemilihnya yang bertanya itu hanya melongo saja, tak paham akan jawaban Wak Entol. Dia hanya dapat berdiri terpaku, nyaris lesu.

“Nasibku dan anak-cucuku,” keluhnya di dalam hati. Dia tak berani mengatakan itu kepada Wak Entol karena khawatir colok di rumahnya akan mati malam nanti.

Wak Entol memandang sekilas pemilihnya yang bingung berat itu. Kemudian, sambil ketawa menyeringai, dia langsung meninggalkan tempat itu seraya bersiul lagu “Pohon Duit dan Duit Pohon” dengan irama heavy metal yang dipadu dengan langgam soft yang lagi trendy.***

oleh Abdul Malik pada 22 November 2011 pukul 19:28
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Sabtu, Januari 14, 2012

Sahib dan karib adelah due kate yg bersebati

Sahib dan karib adelah due kate yg bersebati dlm makne, lebih dr pengertian umum dlm kate sahabat karib. Bagi Tok Tim, hal itu tdk terhad oleh jarak dan waktu. Itu yg disimpulkan Awang manekale tengok Tok Tim menyambot dan melayan Andak Karim yg 3 hari bermalam kat rumahnye. Setelah lbh dr 35 tahun berpisah, keduenye berjumpe lg dlm usie dah tak mude lagi. Mungkin dulu hanye teman sepermainan sj waktu masih kecik, keduenye kini tampak macam lebih dr kedekatan due orang adek-bradek. Peristiwe mase lalu dimane keduenye pernah terlibat salah paham yg berujung pd silang sengkete pekare hilangnye patok sempadan tanah pusake orangtue2 dulu, siket pon tak berbekas.. seakan hilang tertelan waktu. Yg nampak kini keakraban bak kuku dg daging.. subhaanallah. Perhatian Tok Tim pun luar biase. Tengok songkok Andak Karim yg dah lusoh, tibe Awang pulak yg kene sentil. "Kat cerok mane songkok berende khas Yogya dulu tu kau tarok, Wang? Cari dan beri Tok Andak kau tu", kate Tok Tim ke Awang yg nampak masih tepinge-pinge dek sikap Tok Tim. Tapi, itulah makne kekerabatan yg dianut Tok Tim dlm falsafah hidopnye, melupekan sengkete mase lalu seraye mengikat diri dlm semangat persaudaraan.. lebih dr sekedar sahabat karib.. {~}


Zainuddin Abuhassan
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Jumat, Januari 13, 2012

GORENG-GORENGAN

“Besok aku sudah sampai ke kampungmu. Kita akan berbincang banyak hal tentang memajukan kedua kampung kita. Dan, tentu ada nasi goreng di sana, bukan? Yang pedas seperti biasa tentunya,” lanjut Wak Entol dalam percakapan telepon dengan “kawan”-nya, ketua kampung seberang.

“Tentu . . . tentu Tuan Entol. Dengan senang hati, sahaya akan menanti Tuan di sini besok. Subuh lagi sahaya sudah berada di pelabuhan untuk menjemput Tuan. Soal nasi goreng itu pasti sahaya siapkan. Nasi goreng khas yang dimasak oleh tukang masak terbaik di kampung kami. Kami sangat berterima kasih karena Tuan suka nasi goreng kami,” jawab ketua kampung seberang kegirangan karena akan kedatangan tamu agung Tuan Entol yang budiman.

“Hehehehe….. Tak perlu subuh hari sudah di pelabuhan, Ketua Kampung. Kapalku baru mendarat di dermaga kampungmu sekitar pukul 11.00 siang waktu kampungmu. Yang penting kita dapat bertemu, berbincang, dan makan nasi goreng, hehehehe …..” Wak Entol terkekeh di telepon. Dalam hatinya dia berkata, “kamu memang harus menantiku awal-awal lagi tanda kesetiaanmu kepadaku terbuktikan.” Namun, kalimat terakhir itu tak dikatakannya supaya terkesan beradab. Bukankah keberadaban mesti dihiasi dengan banyak basa-basi di permukaan?

“Tak apa-apa, Tuan Entol. Itu sudah kebiasaan kami menyambut tamu. Apalagi, tamu kami adalah Tuan. Kami merasa terhormat dengan kunjungan Tuan ke kampung kami.”

“Kalau begitu adatmu, terserah kamu saja Ketua Kampung. Kita bertemu siang besok ya. Selamat malam!” Wak Entol menutup percakapan telepon dengan bangga.

“Selamat malam juga, Tuan Entol. Sampai jumpa besok,” balas ketua kampung.

Awan gelap pekat memenuhi udara Kampung Seberang siang itu. Cahaya matahari nyaris tak menembus bumi. Akan tetapi, suhu terasa jauh lebih panas dari biasa. Seperti dijanjikannya, kapal Wak Entol merapat di dermaga kampung itu tepat pukul 11.00 siang. Ketua kampung dan rombongannya bergegas menyambut tamu yang akan keluar dari kapal itu.

Wak Entol keluar dari kapal dengan senyum khasnya seraya melambaikan tangan kepada ketua kampung dan orang-orangnya. Di atas dermaga mereka berpelukan dan saling menempel pipi kiri dan kanan seperti kelaziman Wak Entol.

“Kampungmu sungguh bagus, Ketua Kampung. Sungguh indah ya? Aku serasa berada di kampungku sendiri,” Wak Entol membuka percakapan dengan berbasa-basi.

Ketua kampung hanya tersipu-sipu bangga saja. Dia mempersilakan Wak Entol menuju ke tempat pertemuan yang tak jauh dari dermaga itu. Di tempat itulah mereka akan berbincang tentang hal yang amat penting, konon untuk memajukan kedua kampung mereka.

Sesampainya di tempat pertemuan, ketua kampung dan Wak Entol berbincang empat mata di bilik khusus. Ada sekitar satu jam merekan berbicara.

“Kalau kamu bersetuju, ada jaminan dan fee khusus untukmu, Ketua Kampung!” Wak Entol meyakinkan ketua kampung untuk menerima usulannya.

Ketua kampung tersenyum malu-malu kucing. “Terima kasih, Tuan Entol. Besar sungguh perhatian Tuan kepada sahaya.”

Perundingan keduanya mencapai kata sepakat. Lalu, ketua kampung mempersilakan Wak Entol ke bilik lain untuk jamuan makan siang. Menu spesialnya adalah “nasi goring khas” kampung seberang.

Makanan telah tersedia di meja makan. Lalu, keduanya mulailah menyantap hidangan yang memang terlihat sangat lezat itu. Keduanya memasukkan suapan pertama ke mulut hampir bersamaan untuk menunjukkan bahwa mereka bersahabat baik. Akan tetapi, apa yang terjadi? Secara serentak pula mereka terpekik keras sekali sehingga hilang wibawa yang ditunjukkan dari awal tadi. Nasi goreng itu ternyata berasa pedas yang sangat aneh sehingga mulut keduanya betul-betul terbakar, terus menjalar sampai ke kerongkongan, menembus ke dalam perut.

Kedua orang itu menjerit-jerit keluar dari tempat pertemuan itu sambil meminta tolong. Api menjalar ke seluruh tubuh mereka begitu cepat. Keduanya berlarian ke dermaga lalu menceburkan diri ke laut sambil terus menjerit-jerit. Namun, api di tubuh mereka tak juga padam, malah bertambah besar.

Kaki tangan Wak Entol, anak buah ketua kampong, dan semua masyarakat yang ada di tempat itu menyaksikan kedua orang itu dengan heran. “Mengapa mereka ya? Adakah mereka menjadi gila?” Wajar orang-orang itu heran karena mereka tak melihat perubahan apa-apa pada fisik keduanya, tetapi terus saja menjerit keras sampai menceburkan diri ke laut.

Awan makin pekat dan nyaris menerkam bumi. Orang-orang berlarian ketakutan meninggalkan tempat itu. Dalam pada itu, Wak Entol dan ketua kampung terus saja berenang ke sana ke mari sambil menjerit-jerit, “Api . . . api . . . panaaaaaaas!” teriak mereka tak beraturan.

Di dalam sampan kecilnya, tukang masak berdayung perlahan menuju ke pulau lain. Dia menyaksikan kejadian itu sekejap sambil bersiul lagu “Goreng-Gorengan” dengan irama pop lembut yang dipadu dengan gazal kreatif. Tak lama kemudian, dia pun raiblah.***

oleh Abdul Malik pada 20 November 2011 pukul 2:03
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Kamis, Januari 12, 2012

Ape pasal Tok, ae muke macam tak tenang aje ni?

‎"Ape pasal Tok, ae muke macam tak tenang aje ni?", tanye Awang ke Tok Tim sesampainye di rumah dr sembayang Jum'at kat mesjid tadi. "Dedar lagi ke?", lanjut Awang. "Bukan begitu, Wang. Perasaan becelaru aje waktu kat mesjid tadi dpt bingkisan dr kawan sesame penguros mesjid yg baru turon haji. Die beri Tok sepasang pakaian ihram! Belum pernah umo Tok dapat macam ni Wang.. Subhaanallah" jawab Tok. Setelah bepike sejenak, Awang pon jadi paham dg perasaan Tok, bahwesenye beliau tu sememangnye bekehendak btol nak naik haji, tp belom juge tersampai hajat suci tu. "Anggap aje itu pemicu semangat Tok, supaye Tok lbh banyak berdo'a dan bermunajat kpd Allah supaye terkabol hajat tu", kate Awang mencobe menyejukkan hati Tok. Tapi ape yg ade di pikiran dan perasaan Tok Tim sebenarnye lebih dr itu. Ekot jejak guru ngajinye dulu, Tok pernah berazam kalau sepulang panggilan haji nanti Allah lanjutkan pulak dg panggilan lain, Tok ingin agar jenazahnye dikafani dg kain ihram dr tanah suci itu... Walhal, sampai Awang berlalu dr hadapannye, roman muke Tok Tim masih belom cerah sangat lagi, sampailah mase Leha datang bawakan tambol siang : keladi rebos, penaram udang sambal cuke, dan kopi panas. "Alhamdulillah, mekaseh Cu.." kate Tok ke Leha. ..{~}


Zainuddin Abuhassan
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Rabu, Januari 11, 2012

KESADARAN BUDAYA

SEBAGAI generasi Melayu yang hidup pada hari ini, kita patutlah bersyukur. Karena apa? Karena daerah kita dianugerahi oleh Allah swt. dengan sumber daya alam (SDA) yang berlimpah ruah, itu satu. Kebahagiaan itu tentulah akan berlipat ganda lagi jika kita juga dapat menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang cerdas komprehensif, ini dua, agar SDA yang kita miliki dapat dikelola sebaik-baiknya untuk sebesar-besarnya kemakmuran bersama sampai ke generasi mendatang, yang ini tiga.

Untuk menciptakan SDM berkualitas yang dicita-citakan itu, kita sadar bahwa generasi Melayu, antara lain, haruslah memiliki kesadaran budaya yang memadai. Ini mustahak dan genting. Dengan kesadaran kultural itu, timbullah hasrat untuk memilikinya dengan penuh tanggung jawab, mengekalkannya, membinanya, dan mengembangkan warisan budaya yang memang ranggi itu. Dengan begitu, di satu sisi nilai-nilai budaya Melayu akan membentuk generasi yang berkarakter baik dan berakhlak mulia. Di sisi lain, nilai-nilai budaya Melayu yang penuh dengan kehalusan budi itu akan terus berkembang untuk menjadi pedoman nilai bagi generasi Melayu, khasnya, dan masyarakat, umumnya, dalam menjalani hidup, sama ada pada masa kini ataupun yang akan datang. Dengan demikian, gerak dinamis budaya Melayu dan nilai-nilainya yang terala (luhur) terus bermekaran dan secara pragmatis bermanfaat dalam kehidupan kita dan generasi berikutnya.

Berhubung dengan itu, kita sekali lagi harus bersyukur kehadirat Allah swt. karena daerah kita telah dianugerahi khazanah budaya yang berlimpah. Ini sungguh tak ternilai harganya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Tradisi lisan dan tulis kita yang tersedia telah mengantarkan orang Melayu ke puncak jaya tamadun Melayu-Islam yang sangat membanggakan, sekurang-kurangnya pada masa lalu.

Dalam hal ini, kita patutlah berterima kasih kepada para pendahulu sejak zaman Kesultanan Melayu yang lampau. Mereka telah bekerja bertungkus lumus, bermandi peluh, dan berhempas pulas untuk memperjuangkan orang Melayu dan tamadunnya ke puncak kejayaan. Warisan yang mereka tinggalkan bukan saja sangat membanggakan kita yang hidup pada hari ini, melainkan juga sangat bermanfaat untuk kita pedomani dalam menjalani kehidupan, apa pun profesi dan pekerjaan kita dalam hidup ini. Bahkan, karena budaya Melayu meletakkan Islam sebagai terasnya, pengamalannya dalam hidup di dunia niscaya akan memungkinkan kita juga memperoleh kebahagiaan di akhirat kelak. “Kaya harta tinggal di dunia, kaya iman dibawa mati,” petuah orang tua-tua kita.

Para pendahulu kita yang dimulai oleh Bilal Abu dan Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua telah menanamkan semangat betapa mustahaknya mengembangkan tamadun untuk menyerlahkan, mempertahankan, dan memartabatkan jatidiri Melayu. Mereka diikuti oleh cendekiawan Melayu berikutnya seperti Raja Ali Haji, Haji Ibrahim, Raja Haji Ali, Raja Haji Abdullah Mursyid, Raja Saliha, Raja Haji Daud, dengan Raja Ali Haji sebagai maestronya. Ketauladanan yang mereka berikan menyemangati generasi Raja Safiah, Raja Hasan, Encik Kamariah, dan lain-lain. Dalam barisan berikutnya berdiri tegap dan tegar Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, Abu Muhammad Adnan, dan sang pejuang kaum perempuan yang teramat kokoh Aisyah Sulaiman.

Dari buah pikir, daya kreatif, dan ketekunan mereka yang luar biasa, dunia Melayu telah mewarisi tradisi tulis yang sangat mengagumkan. Bukan hanya kita yang merasa demikian, bahkan dunia pun mengakuinya. Mereka telah mengajarkan kita bahwa memelihara budaya yang agung mestilah bagai menatang minyak yang penuh: dengan ikhlas, sepenuh hati, kerja keras, dan siap mati—kalau perlu—untuk membelanya.

Karena kerja keras, ikhlas, dan penuh kecintaan dari para pejuang itulah; bahasa kita, bahasa Melayu, mencapai puncak kejayaan, dijunjung menjadi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tak hanya sampai di situ, mereka telah mewariskan kepada kita pelbagai bidang ilmu seperti agama, bahasa, sastra, filsafat, politik, pemerintahan, astronomi, sosiologi, antropologi, ekonomi, dan masih banyak lagi. Dengan perjuangan itu, Raja Ali Haji telah diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Bapak Bahasa dan Pahlawan Nasional sejak November 2004. Itulah di antara bukti nyata bahwa daerah ini menjadi pusat tamadun Melayu pada masa lalu, antara abad ke-18 sampai dengan awal abad ke-20.

Kita tentulah tak mengharapkan generasi Melayu hanya bertumpu pada kebanggaan masa lampau. Apa-apa yang telah dicapai oleh generasi terdahulu dan yang kita perbuat sekarang, hendaklah dilanjutkan oleh anak-cucu dengan kecintaan yang sama, kalau dapat lebih hebat lagi. Untuk mencapai matlamat itu, haruslah kita pikirkan bersama-sama kerja-kerja apa saja yang boleh dan patut kita lakukan untuk lebih menyemarakkan lagi perkembangan kebudayaan Melayu ke depan ini. Kesemuanya itu bukanlah sekadar pertunjukan kehebatan, melainkan memang mustahak kita perlukan untuk membentengi kepribadian bangsa. Kita sangat tak berharap bahwa generasi kita hanya menjadi peniru tamadun atau peradaban bangsa lain. Pasal apa? Pasal, itu sangat berbahaya karena dapat merusakkan sendi-sendi kehidupan bangsa.

Secara geografis, Melayu memiliki kawasan yang sangat luas di nusantara ini. Di kawasan yang luas itu terdapat pemerintah daerah (provinsi, kabupaten, dan kota) yang sangat representatif. Bukankah kita dapat bersinergi untuk meningkatkan kerja sama dalam memelihara, mengekalkan, membina, dan mengembangkan kebudayaan kita, kebudayaan Melayu. Bagi para pemimpinnya, untuk apalah kekuasaan yang diamanahkan masyarakat jika kita tak mau memberi perhatian yang sewajarnya terhadap perkara yang mustahak dan genting ini. Jika kita mau belajar dari kejayaan Kerajaan Riau-Lingga, tamadun Melayu menduduki singgasana emasnya dan memberikan berlian budi-pekerti serta kebanggaan bangsa karena pemimpin dan rakyatnya sama-sama bersinergi untuk memajukannya. Itulah kunci kejayaannya mencapai puncak mahligai peradaban.

Kesemuanya itu adalah warisan tamadun berharga milik kita bersama. Dengan demikian, menjadi tanggung jawab kita bersamalah untuk mengembangkannya ke depan ini. Bukan pula menggunakan cara tak terpuji seperti yang dilakukan oleh Provinsi Jambi dengan mengambil Pulau Berhala, yang jelas dan sangat pasti milik Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau secara kultural dan historis. Itu mencabar (menantang) dan menjejas marwah dan harga diri sesama Melayu namanya. Praktik seperti itu berbahaya dan tak baik dalam upaya kita membangun tamadun yang bersalutkan ketinggian budi. Mengapakah kita tak dapat bekerja sama membangun tamadun dalam pelbagai bidang tanpa harus mengusik hak terwaris saudara kita? Hal ini mustahak untuk direnungkan, dipikirkan, dan dirasakan secara arif. “Tegak Melayu menjunjung adat,” petuah orang tua-tua kita. “Hendak dimalui, jangan memalui,” pesan Raja Ali Haji. Intinya, kita mestilah saling menjaga marwah sesama Melayu, bahkan marwah bangsa lain juga. Itulah cogan ketinggian budi Melayu. Mengapakah kesemuanya itu diabaikan?

Kita sangat berharap agar Lembaga Adat atau apa pun nama lembaganya di kawasan Melayu di nusantara ini, para cendekiawan, budayawan, dan mereka yang berkhidmat di penadbiran negeri (pemerintah) bersedia untuk merumuskan, merencanakan, dan melaksanakan kerja-kerja yang memang patut untuk dilakukan. Jika tak dapat melampaui capaian para pendahulu, saya yakin, kita memiliki kemampuan, kemauan, dan semangat yang sama untuk sekurang-kurangnya menyamainya. Jika Rusydiah Klab mampu melahirkan pemikir-pemikir kelas dunia seperti Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, dan Sayyid Sekh Al-Hadi, yang menjiwai semangat Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim, takkanlah kita sekarang harus kalah dari mereka. Karena apa? Karena generasi kita sekarang mendapatkan pendidikan yang relatif lebih baik daripada mereka. Takkah kita merasa malu terus terpuruk di lembah degradasi kultural yang menyesakkan dada selama ini? Padahal, kita memiliki fasilitas yang relatif sangat memungkinkan untuk maju menjadi masyarakat modern yang madani berteraskan tamadun kita, tamadun Melayu.***

Batam Pos, Ahad, 6 November 2011
oleh Abdul Malik pada 8 November 2011 pukul 19:59
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Senin, Januari 09, 2012

Melihat Tok Tim menggeleng-gelengkan

Melihat Tok Tim menggeleng-gelengkan kepale ke kiri dan ke kanan sambil memegang sebuah buku kecik, Awang menduge mungkin Tok Tim sedang mengamalkan WIRID baru agaknye. "Ape hal, Tok?" tanye Awang dengan nada menyergah. Agak keberah, Tok Tim menjawab "Takde lah Wang, hanye heran saje. Di zaman serbe mudah begini, ternyate angke bute hurop Arab masih jugak tinggi, dan budak2n pon banyak tak pandai mengaji". Mase Tok kecik dulu, tak lah mudah.. meski dengan sistem Baghdadi yang terase membosankan karene mengulang-ulang, tapi terase lekat pulak di otak. Apelagi ditunjang oleh sikap guru yang tegas.. siket aje salah ngucap bunyi sesuai kaidah makhraj, make tak jarang bebilai tangan kene sebat rotan". Seketike Tom Tim menyambar cangkir kopinye, sekelibat Awang membace judul buku kecik tadi "Buku Iqro' : Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur'an". Aha.... ternyate Tok Tim tengah membandingkan cara lame di mase kecik beliau dulu dengan metode yang berkembang sekarang. "Bede zaman lah Tok.." kate Awang dalam hati sambil berlalu dr beranda Tok Tim... {^}


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
6 September jam 1:27
Read more ...

Minggu, Januari 08, 2012

Air Mata Ngah Mun..

Sampai dah nak masuk waktu berbuke, Ngah Maimun belom juge beranjak dr rumah Tok Tim. Tak sedap hati juge Tok Tim, lalu sertemerte cakap ke sepupunye itu "Ngah buke kat sini aje lah ye, td Léha pun ade masak lebih. Jom kite buke brsame, jarang2 jumpe ksempatan macam gini kan?", kate Tok Tim menyejukkan suasana hati, yg langsung diangguk Ngah Mun. Kedatangan Ngah Mun petang td tak laen tak bukan hanye nak ngilang begah sj, pasal dah 2 kali raye anak perempuannye di bandar tak balek kampong utk beraye dg sanak sedare. Yang trjadi kmudian, Ngah Mun hanye menerime kiriman paket berisi kaen plékat, bahan kbaye, telekong, dan sedikit duit yg dibri catatan 'skedar pelengkap mak beli bumbu utk masak serondeng'. Walau bukan skali due Tok Tim mendenga keluh-kesah sperti ini dr org2 tue di kampong ini, tetap aje Tok Tim tak abes piké atas perubahan sikap dan pemikiran generasi mase kini yg cube 'mengganti' makne silaturahmi hari raye dg unsur kebendaan sperti itu. Dlm pikiran Tok Tim, kalau lah mmg tdk ade alasan yg btol2 mustahak (apelagi soal transportasi mase ini sdh lbh mudah), make eloklah anak2 yg pergi merantau itu ambek kputusan balek kampong dan datang menyembah ke mak-bapak di hari raye nan fitri itu, mengingat perjalanan sebenarnye jatidiri... {^}


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
24 Agustus jam 22:49 melalui seluler
Read more ...

Sabtu, Januari 07, 2012

Begitu keluar dr bilek aé

Begitu keluar dr bilek aé pondok Léha, nampak Tok Tim géléng2 kpale. "Ape lagi agaknye yg tak kene dék orangtue ni.." kate Awang dlm ati. "Macam2 aje krénah budak perempuan jaman kenen. Nak ngolah rambot aje, senacam-nacam cap dicube.. ade Sunsilk lah, Olay lah, Dove lah, Skincare lah, .. dan macam2 lagi. Padehal dulu jaman mak Léha masih ade, cukop dengan santan aje untok melangir rambot". Hadoi.. "binget na telinge nenga celotéh Tok ni lah" kate Awang bsungot dlm ati sambil menjengah ke bilek aé Léha. Disane memang nampak tergeletak beberape botol kosong samphoo rambot yg blum sempat dibuang Léha sampai mase Tok Tim datang nak basoh muke tadi. "Pagi yg menyebalkan" kate Awang sambel menghomban botol2 tu kat longkang.. {^}


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
13 September jam 17:02 melalui seluler
Read more ...

Jumat, Januari 06, 2012

Hasil dari kuliah di Universitas Ramadhan kemarin

‎'Hasil dari kuliah di Universitas Ramadhan kemarin itu mesti dapat ditunjukkan dalam wujud sijil markah dan pingat' kate Tok Tim kpade Awang sesudah kduenye balek dr sholat Ied di tanah lapang. 'Ape maksodnye tu, Tok', kate Awang menyelah. Sambel melipat sajadah dan berjalan beriring, Tok Tim menjawab 'Markah ditunjokkan dg tingkah, yg haros lebih cergas dr sebelomnye; sedangkan pingat, ditunjokkan dg tabiat.. yg lebih santun dr yg sudah2'. Panjang lebar celoteh Tok Tim sepanjang perjalanan balek menuju rumah. 'Macam nak ngalahkan isi khotbah Ustadz Mansor td pulak', kate Awang dalam hati.. sementara pikirannye dah mulai membayangkan makanan khas yg dah disiapkan Léha setelah selesai mase menyembah nanti. Sungguh pagi raye yg menyenangkan.. {^}


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
1 September jam 0:47 melalui seluler
Read more ...

Kamis, Januari 05, 2012

Macamnye tak sebesar pasang yg sudah

‎"Macamnye tak sebesar pasang yg sudah2 lah Tok" ujar Awang ke Tok Tim yg mengamati ulah cucunye mengarung ae pasang dr tingkap. Walau bukan musen ae pasang keling, rase2 ae pasang skali ini lebih besar dr biasenye, banyak rumah di kampong ini terendam. "Ye.. tp cube ketepikanlah macam2 sampah yg hanyot tu dulu, jgn sampai masok ke ujung paret sane, nanti tesumbat pulak", kate Tom. "Pakai alas, jangan sampai kaki tetijak kace, paku, dan sebagainye" lanjut Tok Tim. Tak lame kmudian, ramai budak2 kecik dr lorong2 kampung begabong same dg Awang. Dalam suasane riang dan sukerie budak2 tu dg betelanjang bulat datang menolong kerje Awang menepikan sampah.. ade sabot, ade kulet durian, tin ae kaleng, plastik, dlsb. "Hati2 Tong, nanti burong engkau kene giget buntal" sergah Awang ke Atong, anak C...Lihat Selengkapnya


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
9 Oktober jam 19:48 melalui seluler
Read more ...

Artikel bersempena