Kamis, Januari 19, 2012

BUDAYA MEMBANGUN

DIAKUI atau tidak, pembangunan yang dilaksanakan selama ini lebih diarahkan pada aspek ekonomi. Alasan yang dikemukakan tiada lain untuk mempercepat tercapainya kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, segala daya yang ada dikerahkan dan pikiran pun sepenuhnya dicurahkan untuk mengejar kemajuan ekonomi, yang malangnya sering melupakan aspek lain. Kata kunci ‘kesejahteraan’ seolah-olah begitu sakral dan menjadi alat pembenaran untuk mengutamakan pembangunan ekonomi dibandingkan aspek lain.

Ternyata, banyak dijumpai program pembangunan ekonomi yang sebagian besarnya gagal, bahkan gagal total. Karena apa? Karena pembangunan itu sesungguhnya bersifat holistik. Program pembangunan ekonomi yang didewakan itu justeru tak membuahkan hasil yang diharapkan kalau aspek lain dialpaan, yang justeru sangat diperlukan untuk menggerakkannya, terutama aspek budaya. Malangnya, tak jarang terjadi aspek budaya itulah yang paling kurang mendapat perhatian di dalam implementasi pembangunan selama ini walau sebagai bumbu retorika politik untuk menarik perhatian rakyat, pembangunan kebudayaan selalu disebut mendapat perhatian penting konon.

Pembangunan mengandalkan manusia sebagai pelakunya. Manusia pelaku pembangunan itu taklah ada dalam keadaan hampa atau kosong sebagai benda mati. Manusia adalah subjek yang hidup dan kehidupannya itu secara terwaris menganut serangkaian nilai budaya. Manusia pelaku pembangunan itu memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya. Nilai-nilai budaya itu pada tataran perseorangan mewujudkan sikap mental yang menjadi penggerak pembangunan, baik pembangunan ekonomi, politik, maupun pembangunan sosial lainnya. Dengan demikian, tak heranlah kita bahwa pembangunan yang mengabaikan aspek budaya dapat dipastikan menuai kegagalan. Jadi, janganlah terlalu heran jika ternyata pembangunan infrastruktur ekonomi seperti jembatan yang megah berusia muda boleh rontok seketika seperti mainan kanak-kanak.

Apa pasal? Untuk menjadi subjek pembangunan, manusia tak hanya memerlukan kemahiran, keahlian, ilmu-pengetahuan, dan teknologi. Lebih daripada kesemuanya itu masih diperlukan unsur utama berupa tata nilai sebagai pedoman berperilaku dan pemacu semangat dalam bekerja. Keahlian serta penguasaan sains dan teknologinya mungkin cukup baik, tetapi kalau tata nilai terhadap kualitas kerja yang dianutnya negatif; hasilnya pastilah kegagalan, kalau tak sampai mengundang malapetaka. Sikap mental yang keropos akan menghasilkan “jembatan” yang keropos pula walaupun manusia yang terlibat dalam pengerjaannya memiliki keahlian serta menguasai sains dan teknologi canggih. Apa bedanya dengan ahli politik yang menyelewengkan tujuan politik bersih (semestinya juga untuk mewujudkan kesejahteraan bersama) karena lemahnya penghayatan nilai-nilai budaya yang diwujudkan pada sikap mentalnya.

Tata nilai yang dipedomani oleh manusia adalah sistem nilai budaya yang sangat abstrak. Ia berupa konsepsi-konsepsi yang hidup di dalam pikiran sebagian besar masyarakat tentang hal-hal yang dianggap baik dalam hidup manusia (lihat juga Kuntjaraningrat, 1985). Sistem nilai budaya itulah yang mengatur kelakuan atau perilaku manusia pada peringkat yang lebih konkret dalam bentuk aturan-aturan khusus, hukum, norma, dan adat-istiadat dalam pelbagai bidang.

Nilai budaya yang bersifat kolektif itu tumbuh di dalam diri manusia dari masyarakat budaya itu secara perorangan. Itulah yang disebut mentalitas. Jadi, mentalitas manusia secara individual itu bersumber dari sistem nilai budaya di dalam masyarakatnya. Jika sistem nilai budaya bersifat kolektif masyarakat, mentalitas bersifat individual perorangan.

Telah disebutkan bahwa dalam wujud yang lebih konkret sistem nilai budaya terdapat di dalam kebiasaan, adat-istiadat, aturan-aturan khusus, norma-norma, dan hukum. Manusia yang tak terdedah kepada unsur budayanya karena dia tak memedulikannya, katakanlah adat-resam masyarakatnya, tentulah tak mampu mengambil nilai-nilai baik dan positif dari budaya itu untuk menjadi bagian dari mentalitas pribadinya. Dalam keadaan seperti itu dia boleh jadi menggunakan orientasi nilai yang tak sesuai dengan tata nilai yang berlaku di dalam masyarakatnya dan atau tak cocok untuk pembangunan. Katakanlah sikap mental dalam bekerja asal selesai saja dan demi keuntungan materi, tanpa mementingkan kualitas hasilnya. Dia tak pernah mau memikirkan dampak pekerjaannya itu bagi lingkungannya, baik lingkungan sosial (manusia) maupun lingkungan alam. Dari pelaku pembangunan seperti itu hanya akan ditemukan kegagalan pembangunan.

Ilustrasi di atas menjelaskan betapa pelaku pembangunan memerlukan kesadaran budaya. Dengan kesadaran itu, dia diharapkan dapat menghayatinya untuk menjadi bagian dari mentalitasnya. Pada gilirannya, dia pun menjadi peka akan keperluan mutu pembangunan di dalam masyarakat budaya tempatnya hidup dan menghidupinya. Alhasil, nilai-nilai budaya memberikan kontribusi positif pada upaya pembangunan yang bermutu sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Jika yang dimaksudkan itu pembangunan ekonomi, maka pembangunan itu memang menyejahterakan masyarakat.

Keadaan tak pernah statis, tetapi terus berubah. Seiring dengan itu, sistem nilai budaya pun harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan supaya tetap segar dan terpakai. Dengan demikian, tata nilai budaya itu tetap mampu menjadi penuntun berperilaku bagi pelaku pembangunan untuk menggunakan orientasi nilai yang terdapat di dalam budaya tertentu, nilai-nilai budaya Melayu, misalnya, di kawasan berbudaya Melayu. Dalam konteks ini, budaya harus menjadi sasaran pembangunan, yang berbeda dengan perian di atas yaitu perannya sebagai penggerak pembangunan.

Upaya-upaya pembangunan kebudayaan meliputi pengekalan (pelestarian), pembinaan, dan pengembangannya. Kesemua upaya itu, terutama pengembangannya, dilakukan untuk meningkatkan kualitas budaya supaya mampu terus berkembang sesuai dengan kehidupan yang terus berubah karena perkembangan zaman. Dalam menghadapi perubahan itu diperlukan orientasi nilai baru agar tantangannya dapat dihadapi dengan tepat. Nilai-nilai baru itu, melalui upaya pembangunan kebudayaan, tak terlepas dari akar budayanya, tetapi mampu beradaptasi dengan perubahan. Pada gilirannya, kebudayaan terus berkembang dan tak luntur sehingga nilai-nilainya dapat menjadi pedoman secara berkekalan.

Dalam kaitannya dengan pembangunan, kebudayaan yang berperan sebagai penggerak dan kebudayaan yang menjadi sasaran pembangunan sesungguhnya bersifat timbal-balik. Pembangunan memerlukan kebudayaan karena manusia yang menjadi penggerak pembangunan itu memiliki sikap mental tertentu yang bersumber dari sistem nilai budayanya. Sikap mental itulah yang menentukan kualitas pembangunan yang dihasilkannya. Sebaliknya pula, kebudayaan mestilah menjadi sasaran pembangunan (pembangunan kebudayaan) supaya tetap terpelihara, terbina, dan berkembang untuk terus dapat berperan dalam pembangunan. Pembangunan kebudayaan memungkinkannya tidak mati sehingga dapat terus memberikan kontribusi terhadap orientasi nilai dalam pembangunan di segala bidang.

Sesungguhnya, dorongan untuk membangun adalah kepuasan untuk mencapai hasil karya yang bermutu dan bermanfaat bagi kehidupan. Hal itu berarti membangun bukan sekadar untuk bertahan hidup, apalagi sekadar menumpuk kekayaan, mengejar kedudukan, memburu kehormatan, dan merangkul kekuasaan. Memang diperlukan orientasi nilai budaya yang baik untuk memahami dan menikmati hikmah itu. Yang pasti, semua bangsa maju di dunia ini melaksanakan karya pembangunan berdasarkan pemikiran positif itu, menghasilkan karya yang bermutu. Itulah kunci keberhasilan mereka menjadi bangsa yang maju.***


oleh Abdul Malik pada 13 Desember 2011 pukul 0:22
Batam Pos, Ahad, 4 Desember 2011
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...