Jumat, Januari 13, 2012

GORENG-GORENGAN

“Besok aku sudah sampai ke kampungmu. Kita akan berbincang banyak hal tentang memajukan kedua kampung kita. Dan, tentu ada nasi goreng di sana, bukan? Yang pedas seperti biasa tentunya,” lanjut Wak Entol dalam percakapan telepon dengan “kawan”-nya, ketua kampung seberang.

“Tentu . . . tentu Tuan Entol. Dengan senang hati, sahaya akan menanti Tuan di sini besok. Subuh lagi sahaya sudah berada di pelabuhan untuk menjemput Tuan. Soal nasi goreng itu pasti sahaya siapkan. Nasi goreng khas yang dimasak oleh tukang masak terbaik di kampung kami. Kami sangat berterima kasih karena Tuan suka nasi goreng kami,” jawab ketua kampung seberang kegirangan karena akan kedatangan tamu agung Tuan Entol yang budiman.

“Hehehehe….. Tak perlu subuh hari sudah di pelabuhan, Ketua Kampung. Kapalku baru mendarat di dermaga kampungmu sekitar pukul 11.00 siang waktu kampungmu. Yang penting kita dapat bertemu, berbincang, dan makan nasi goreng, hehehehe …..” Wak Entol terkekeh di telepon. Dalam hatinya dia berkata, “kamu memang harus menantiku awal-awal lagi tanda kesetiaanmu kepadaku terbuktikan.” Namun, kalimat terakhir itu tak dikatakannya supaya terkesan beradab. Bukankah keberadaban mesti dihiasi dengan banyak basa-basi di permukaan?

“Tak apa-apa, Tuan Entol. Itu sudah kebiasaan kami menyambut tamu. Apalagi, tamu kami adalah Tuan. Kami merasa terhormat dengan kunjungan Tuan ke kampung kami.”

“Kalau begitu adatmu, terserah kamu saja Ketua Kampung. Kita bertemu siang besok ya. Selamat malam!” Wak Entol menutup percakapan telepon dengan bangga.

“Selamat malam juga, Tuan Entol. Sampai jumpa besok,” balas ketua kampung.

Awan gelap pekat memenuhi udara Kampung Seberang siang itu. Cahaya matahari nyaris tak menembus bumi. Akan tetapi, suhu terasa jauh lebih panas dari biasa. Seperti dijanjikannya, kapal Wak Entol merapat di dermaga kampung itu tepat pukul 11.00 siang. Ketua kampung dan rombongannya bergegas menyambut tamu yang akan keluar dari kapal itu.

Wak Entol keluar dari kapal dengan senyum khasnya seraya melambaikan tangan kepada ketua kampung dan orang-orangnya. Di atas dermaga mereka berpelukan dan saling menempel pipi kiri dan kanan seperti kelaziman Wak Entol.

“Kampungmu sungguh bagus, Ketua Kampung. Sungguh indah ya? Aku serasa berada di kampungku sendiri,” Wak Entol membuka percakapan dengan berbasa-basi.

Ketua kampung hanya tersipu-sipu bangga saja. Dia mempersilakan Wak Entol menuju ke tempat pertemuan yang tak jauh dari dermaga itu. Di tempat itulah mereka akan berbincang tentang hal yang amat penting, konon untuk memajukan kedua kampung mereka.

Sesampainya di tempat pertemuan, ketua kampung dan Wak Entol berbincang empat mata di bilik khusus. Ada sekitar satu jam merekan berbicara.

“Kalau kamu bersetuju, ada jaminan dan fee khusus untukmu, Ketua Kampung!” Wak Entol meyakinkan ketua kampung untuk menerima usulannya.

Ketua kampung tersenyum malu-malu kucing. “Terima kasih, Tuan Entol. Besar sungguh perhatian Tuan kepada sahaya.”

Perundingan keduanya mencapai kata sepakat. Lalu, ketua kampung mempersilakan Wak Entol ke bilik lain untuk jamuan makan siang. Menu spesialnya adalah “nasi goring khas” kampung seberang.

Makanan telah tersedia di meja makan. Lalu, keduanya mulailah menyantap hidangan yang memang terlihat sangat lezat itu. Keduanya memasukkan suapan pertama ke mulut hampir bersamaan untuk menunjukkan bahwa mereka bersahabat baik. Akan tetapi, apa yang terjadi? Secara serentak pula mereka terpekik keras sekali sehingga hilang wibawa yang ditunjukkan dari awal tadi. Nasi goreng itu ternyata berasa pedas yang sangat aneh sehingga mulut keduanya betul-betul terbakar, terus menjalar sampai ke kerongkongan, menembus ke dalam perut.

Kedua orang itu menjerit-jerit keluar dari tempat pertemuan itu sambil meminta tolong. Api menjalar ke seluruh tubuh mereka begitu cepat. Keduanya berlarian ke dermaga lalu menceburkan diri ke laut sambil terus menjerit-jerit. Namun, api di tubuh mereka tak juga padam, malah bertambah besar.

Kaki tangan Wak Entol, anak buah ketua kampong, dan semua masyarakat yang ada di tempat itu menyaksikan kedua orang itu dengan heran. “Mengapa mereka ya? Adakah mereka menjadi gila?” Wajar orang-orang itu heran karena mereka tak melihat perubahan apa-apa pada fisik keduanya, tetapi terus saja menjerit keras sampai menceburkan diri ke laut.

Awan makin pekat dan nyaris menerkam bumi. Orang-orang berlarian ketakutan meninggalkan tempat itu. Dalam pada itu, Wak Entol dan ketua kampung terus saja berenang ke sana ke mari sambil menjerit-jerit, “Api . . . api . . . panaaaaaaas!” teriak mereka tak beraturan.

Di dalam sampan kecilnya, tukang masak berdayung perlahan menuju ke pulau lain. Dia menyaksikan kejadian itu sekejap sambil bersiul lagu “Goreng-Gorengan” dengan irama pop lembut yang dipadu dengan gazal kreatif. Tak lama kemudian, dia pun raiblah.***

oleh Abdul Malik pada 20 November 2011 pukul 2:03
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...