Selasa, Januari 17, 2012

GURU DAN SETERU

Dua hari yang lalu, 25 November, kita memperingati Hari Guru. Ada satu hari dalam setahun yang diperingati khas untuk guru sebetulnya menunjukkan bahwa bangsa ini menaruh perhatian khusus terhadap profesi pendidik, sekurang-kurang secara formal. Betapa tidak? Dalam sistem pendidikan, walaupun bukan satu-satunya komponen yang menentukan, peran guru tetaplah penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Kolom kali ini didedikasikan pada hal-hal yang berkaitan dengan profesi dan bakti guru, para pendidik.

“Cahari olehmu akan guru, yang boleh tahukan tiap seteru.” Itu adalah pesan Raja Ali Haji di dalam Gurindam Dua Belas, Pasal Keenam, bait 2. Bait ini menukik langsung perihal perhubungan peserta didik dan pendidik atau guru (muamalah dan akhlak). Peserta didik dianjurkan untuk mencari pendidik yang mampu mengajarkan, membimbing, melatih, dan mendidik mereka sehingga mampu mengenal seteru.

Seteru? Ya, segala sesuatu yang menjadi lawan bagi manusia dan kemanusiaannya. Lawan yang siap menerkam mangsanya bila-bila masa dan di mana saja. Guru yang baik adalah pendidik yang bersedia, ikhlas, dan layak membimbing para peserta didiknya sedemikian rupa sehingga mereka pun mampu mengenal, memahami, untuk pada gilirannya melawan setiap seteru yang akan membinasakan dirinya dan kemanusiaannya. Pendidik dengan kualitas itulah yang patut dan wajib dicari oleh setiap peserta didik.

Marilah kita tinjau masalah genting (krusial) yang dihadapi oleh bangsa kita setakat ini. Masalah utamanya adalah makin terpuruknya kehidupan berbangsa dan bernegara kita akhir-akhir ini. Masalah itu berkaitan dengan kian lunturnya budaya nasional kita dan makin menurun (terdegradasinya) karakter bangsa ini, di satu pihak, serta makin kerasnya cabaran atau tantangan budaya global (Barat) yang tak sesuai dengan budaya kita untuk menggeser nilai-nilai baik yang kita yakini selama ini, di pihak lain. Akibatnya, pelbagai musibah menimpa kita sebagai bangsa, baik yang bersifat alami maupun sosio-kultural. Jenis, kuantitas, dan kualitas musibahnya nyaris tak terperikan lagi. Pun, nyaris bangsa kitalah yang paling tinggi tensi musibahnya dibandingkan bangsa-bangsa lain, yang terus berpacu mengejar kemajuan, sedangkan kita masih berputar-putar di sekitar musibah-musibah itu saja.

Apakah punca atau penyebab utama kesemuanya itu. Jawabnya tiada lain yaitu seteru utama manusia: kebodohan. Pasti banyak orang yang tak bersetuju dengan pernyataan itu. Keberatan itu pun dapatlah dipahami. Karena apa? Karena telah cukup banyak orang di antara bangsa kita yang bersekolah cukup tinggi, jauh lebih tinggi daripada para pendahulu pada awal kemerdekaan dahulu. Akan tetapi, kenyataannya—diakui atau tidak—sekolah dengan ijazah tinggi ternyata tak selalu seiring dengan terdidik secara baik dan komprehensif. Tak jarang terjadi mereka yang berijazah tinggi itulah yang menjadi pangkal bala, bagian dari masalah. Perseteruan di antara mereka membawa malapetaka dan marabahaya bagi bangsa yang besar ini secara menyeluruh. Sendi-sendi kehidupan nyaris punah-ranah.

Mereka hanya sibuk dengan urusan diri dan kelompok sendiri sehingga rela mengorbankan bangsa dan negara tanpa merasa bersalah sedikit jua pun. Pelbagai helah dan hujah dikemukakan seolah-olah mereka memang paling cerdas. Di sebalik kesemuanya itu tak lain tipu-daya belaka.

Perseteruan di antara mereka dipertunjukkan saban hari tanpa ada di antara kita yang sanggup melawannya. Bahkan, kalau ada pun satu-dua orang yang berjuang untuk menghadangnya, pada akhirnya tenggelam juga ke dasar terdalam samudera kekacaubalauan itu. Pilihannya biasanya adalah ikut bermain di atas gelombang panas atau tenggelam alias terkucil dari silauan hedonistis yang makin bersemarak. Pesta pertunjukan kemegahan dan kemewahan bak tuhan baru di samping tuhan lama yang tetap mereka sembah di dalam peribadatan, yang ironisnya mereka laksanakan juga, entah untuk apa. Maka, bermunculanlah para fir’aun baru walau tak sejantan Fir’aun asli.

Gejala itu membuktikan bahwa kecerdasan intelektual yang terbungkus ijazah tinggi tak menjamin manusia mengenal, apalagi melawan, seteru utamanya. Masih diperlukan kecerdasan-kecerdasan lain seperti kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan emosional yang mampu membawa manusia memiliki kecerdasan komprehensif. Olah pikir yang mampu mengembangkan potensi kecerdasan intelektual ternyata hanya sanggup melahirkan orang yang pandai, bahkan setakat pandai di dunia saja. Itulah kebodohan terbesar yang mengemuka selama ini. Itulah seteru utama yang harus diketahui, dihayati, dan dilawan oleh peserta didik yang seyogianya ilmunya diperoleh dari pendidik sejati, yang tak hanya memiliki ilmu, tetapi memberikan tauladan diri kepada peserta didiknya.

Untuk menghasilkan manusia yang cerdas secara komprehensif, masih diperlukan upaya-upaya lain. Olah kinestetika perlu dilakukan agar dapat dikembangkan potensi kecerdasan sosial untuk menghasilkan insan yang bertanggung jawab. Insan yang jujur dihasilkan melalui upaya olah hati untuk mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. Upaya olah rasa pun mustahak untuk mengembangkan potensi kecerdasan emosional sehingga dapat dihasilkan insan yang peduli dan kreatif. Ketiga jenis kecerdasan yang disebut terakhir inilah yang, justeru, terlupakan dalam upaya pendidikan kita selama ini, baik pendidikan informal, formal, maupun nonformal. Kita begitu menggebu-gebu untuk menciptakan orang yang pandai secara intelektual, yang ternyata berjiwa kering kerontang.

Dengan kecerdasan komprehensif itu, peserta didik diharapkan tak hanya berbangga diri akan predikat orang pandai di dunia. Akan tetapi, mereka menjadi paham dan sadar sesadar-sadarnya untuk membekali diri agar mampu menjadi orang pandai di akhirat. Pasal apa? Pasal, orang yang sekadar pandai di dunia, yang dipuja-puji di dunia karena kepandaian duniawinya, tak akan dipandang Tuhan di akhirat kelak. Hanya manusia yang membekali diri dengan pengetahuan dan ilmu untuk menjadi pandai kedua-duanyalah, dunia dan akhirat, yang diperhitungkan oleh Sang Khalik di kehidupan akhirat yang kekal abadi. Insya Allah, jika peserta didik mendapatkan pendidikan yang baik dan diberi laluan untuk mengembangkan potensi kecerdasan komprehensif secara holistik, mereka tak hanya menjadi insan yang berguna di dunia, tetapi akan memperoleh kebahagian sejati di akhirat, di hadapan Tuhannya. Itulah hakikat dan tujuan hidup manusia sesungguhnya sehingga kita harus terus meningkatkan kemanusiaan dan mengembangkan tamadun kita.

Tugas, peran, dan tanggung jawab itulah yang ada di pundak para pendidik. Melalui proses pendidikan harus dapat dihasilkan insan yang dapat menikmati kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus. Untuk memperolehnya, tentulah diperlukan pengetahuan, ilmu, perilaku, dan sikap yang patut dan padan. Insan seperti itulah yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negaranya sehingga sebagai bangsa, kita menjadi berwibawa dan terhormat dalam pergaulan masyarakat dunia. Dan, hidayah serta inayah Allah akan senantiasa mengalir bagi bangsa yang berkualitas dan berkarakter baik seperti itu.

Semakin nyatalah bahwa tugas dan tanggung jawab pendidik itu sangat berat, tetapi pun sangat mulia. Tugas besar itu tak mungkin hanya dideligasikan kepada para guru saja. Untuk mencapai matlamat mulia itu, peran orang tua, masyarakat, dan pemerintah harus ditingkatkan dalam pendidikan anak bangsa ini. Generasi kita tak hanya memerlukan ilmu dan teknologi yang canggih untuk menghadapi tantangan pada masanya, tetapi juga karakter tauladan di lingkungannya: rumah tangga, sekolah, masyarakat, dan dalam lingkup bangsa yang besar ini. Oleh sebab itu, jika kita betul-betul berazam untuk menyelamatkan bangsa ini, setiap orang dewasa harus mau dan mampu berperan sebagai guru. Kuncinya pada perkataan, perbuatan, perilaku, dan sikap hidup yang patut dijadikan suri tauladan. Selamat Hari Guru.***

oleh Abdul Malik pada 28 November 2011 pukul 0:27
Batam Pos, Ahad, 27 November 2011
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/

Artikel bersempena