Rabu, Januari 11, 2012

KESADARAN BUDAYA

SEBAGAI generasi Melayu yang hidup pada hari ini, kita patutlah bersyukur. Karena apa? Karena daerah kita dianugerahi oleh Allah swt. dengan sumber daya alam (SDA) yang berlimpah ruah, itu satu. Kebahagiaan itu tentulah akan berlipat ganda lagi jika kita juga dapat menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang cerdas komprehensif, ini dua, agar SDA yang kita miliki dapat dikelola sebaik-baiknya untuk sebesar-besarnya kemakmuran bersama sampai ke generasi mendatang, yang ini tiga.

Untuk menciptakan SDM berkualitas yang dicita-citakan itu, kita sadar bahwa generasi Melayu, antara lain, haruslah memiliki kesadaran budaya yang memadai. Ini mustahak dan genting. Dengan kesadaran kultural itu, timbullah hasrat untuk memilikinya dengan penuh tanggung jawab, mengekalkannya, membinanya, dan mengembangkan warisan budaya yang memang ranggi itu. Dengan begitu, di satu sisi nilai-nilai budaya Melayu akan membentuk generasi yang berkarakter baik dan berakhlak mulia. Di sisi lain, nilai-nilai budaya Melayu yang penuh dengan kehalusan budi itu akan terus berkembang untuk menjadi pedoman nilai bagi generasi Melayu, khasnya, dan masyarakat, umumnya, dalam menjalani hidup, sama ada pada masa kini ataupun yang akan datang. Dengan demikian, gerak dinamis budaya Melayu dan nilai-nilainya yang terala (luhur) terus bermekaran dan secara pragmatis bermanfaat dalam kehidupan kita dan generasi berikutnya.

Berhubung dengan itu, kita sekali lagi harus bersyukur kehadirat Allah swt. karena daerah kita telah dianugerahi khazanah budaya yang berlimpah. Ini sungguh tak ternilai harganya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Tradisi lisan dan tulis kita yang tersedia telah mengantarkan orang Melayu ke puncak jaya tamadun Melayu-Islam yang sangat membanggakan, sekurang-kurangnya pada masa lalu.

Dalam hal ini, kita patutlah berterima kasih kepada para pendahulu sejak zaman Kesultanan Melayu yang lampau. Mereka telah bekerja bertungkus lumus, bermandi peluh, dan berhempas pulas untuk memperjuangkan orang Melayu dan tamadunnya ke puncak kejayaan. Warisan yang mereka tinggalkan bukan saja sangat membanggakan kita yang hidup pada hari ini, melainkan juga sangat bermanfaat untuk kita pedomani dalam menjalani kehidupan, apa pun profesi dan pekerjaan kita dalam hidup ini. Bahkan, karena budaya Melayu meletakkan Islam sebagai terasnya, pengamalannya dalam hidup di dunia niscaya akan memungkinkan kita juga memperoleh kebahagiaan di akhirat kelak. “Kaya harta tinggal di dunia, kaya iman dibawa mati,” petuah orang tua-tua kita.

Para pendahulu kita yang dimulai oleh Bilal Abu dan Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua telah menanamkan semangat betapa mustahaknya mengembangkan tamadun untuk menyerlahkan, mempertahankan, dan memartabatkan jatidiri Melayu. Mereka diikuti oleh cendekiawan Melayu berikutnya seperti Raja Ali Haji, Haji Ibrahim, Raja Haji Ali, Raja Haji Abdullah Mursyid, Raja Saliha, Raja Haji Daud, dengan Raja Ali Haji sebagai maestronya. Ketauladanan yang mereka berikan menyemangati generasi Raja Safiah, Raja Hasan, Encik Kamariah, dan lain-lain. Dalam barisan berikutnya berdiri tegap dan tegar Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, Abu Muhammad Adnan, dan sang pejuang kaum perempuan yang teramat kokoh Aisyah Sulaiman.

Dari buah pikir, daya kreatif, dan ketekunan mereka yang luar biasa, dunia Melayu telah mewarisi tradisi tulis yang sangat mengagumkan. Bukan hanya kita yang merasa demikian, bahkan dunia pun mengakuinya. Mereka telah mengajarkan kita bahwa memelihara budaya yang agung mestilah bagai menatang minyak yang penuh: dengan ikhlas, sepenuh hati, kerja keras, dan siap mati—kalau perlu—untuk membelanya.

Karena kerja keras, ikhlas, dan penuh kecintaan dari para pejuang itulah; bahasa kita, bahasa Melayu, mencapai puncak kejayaan, dijunjung menjadi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tak hanya sampai di situ, mereka telah mewariskan kepada kita pelbagai bidang ilmu seperti agama, bahasa, sastra, filsafat, politik, pemerintahan, astronomi, sosiologi, antropologi, ekonomi, dan masih banyak lagi. Dengan perjuangan itu, Raja Ali Haji telah diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Bapak Bahasa dan Pahlawan Nasional sejak November 2004. Itulah di antara bukti nyata bahwa daerah ini menjadi pusat tamadun Melayu pada masa lalu, antara abad ke-18 sampai dengan awal abad ke-20.

Kita tentulah tak mengharapkan generasi Melayu hanya bertumpu pada kebanggaan masa lampau. Apa-apa yang telah dicapai oleh generasi terdahulu dan yang kita perbuat sekarang, hendaklah dilanjutkan oleh anak-cucu dengan kecintaan yang sama, kalau dapat lebih hebat lagi. Untuk mencapai matlamat itu, haruslah kita pikirkan bersama-sama kerja-kerja apa saja yang boleh dan patut kita lakukan untuk lebih menyemarakkan lagi perkembangan kebudayaan Melayu ke depan ini. Kesemuanya itu bukanlah sekadar pertunjukan kehebatan, melainkan memang mustahak kita perlukan untuk membentengi kepribadian bangsa. Kita sangat tak berharap bahwa generasi kita hanya menjadi peniru tamadun atau peradaban bangsa lain. Pasal apa? Pasal, itu sangat berbahaya karena dapat merusakkan sendi-sendi kehidupan bangsa.

Secara geografis, Melayu memiliki kawasan yang sangat luas di nusantara ini. Di kawasan yang luas itu terdapat pemerintah daerah (provinsi, kabupaten, dan kota) yang sangat representatif. Bukankah kita dapat bersinergi untuk meningkatkan kerja sama dalam memelihara, mengekalkan, membina, dan mengembangkan kebudayaan kita, kebudayaan Melayu. Bagi para pemimpinnya, untuk apalah kekuasaan yang diamanahkan masyarakat jika kita tak mau memberi perhatian yang sewajarnya terhadap perkara yang mustahak dan genting ini. Jika kita mau belajar dari kejayaan Kerajaan Riau-Lingga, tamadun Melayu menduduki singgasana emasnya dan memberikan berlian budi-pekerti serta kebanggaan bangsa karena pemimpin dan rakyatnya sama-sama bersinergi untuk memajukannya. Itulah kunci kejayaannya mencapai puncak mahligai peradaban.

Kesemuanya itu adalah warisan tamadun berharga milik kita bersama. Dengan demikian, menjadi tanggung jawab kita bersamalah untuk mengembangkannya ke depan ini. Bukan pula menggunakan cara tak terpuji seperti yang dilakukan oleh Provinsi Jambi dengan mengambil Pulau Berhala, yang jelas dan sangat pasti milik Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau secara kultural dan historis. Itu mencabar (menantang) dan menjejas marwah dan harga diri sesama Melayu namanya. Praktik seperti itu berbahaya dan tak baik dalam upaya kita membangun tamadun yang bersalutkan ketinggian budi. Mengapakah kita tak dapat bekerja sama membangun tamadun dalam pelbagai bidang tanpa harus mengusik hak terwaris saudara kita? Hal ini mustahak untuk direnungkan, dipikirkan, dan dirasakan secara arif. “Tegak Melayu menjunjung adat,” petuah orang tua-tua kita. “Hendak dimalui, jangan memalui,” pesan Raja Ali Haji. Intinya, kita mestilah saling menjaga marwah sesama Melayu, bahkan marwah bangsa lain juga. Itulah cogan ketinggian budi Melayu. Mengapakah kesemuanya itu diabaikan?

Kita sangat berharap agar Lembaga Adat atau apa pun nama lembaganya di kawasan Melayu di nusantara ini, para cendekiawan, budayawan, dan mereka yang berkhidmat di penadbiran negeri (pemerintah) bersedia untuk merumuskan, merencanakan, dan melaksanakan kerja-kerja yang memang patut untuk dilakukan. Jika tak dapat melampaui capaian para pendahulu, saya yakin, kita memiliki kemampuan, kemauan, dan semangat yang sama untuk sekurang-kurangnya menyamainya. Jika Rusydiah Klab mampu melahirkan pemikir-pemikir kelas dunia seperti Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, dan Sayyid Sekh Al-Hadi, yang menjiwai semangat Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim, takkanlah kita sekarang harus kalah dari mereka. Karena apa? Karena generasi kita sekarang mendapatkan pendidikan yang relatif lebih baik daripada mereka. Takkah kita merasa malu terus terpuruk di lembah degradasi kultural yang menyesakkan dada selama ini? Padahal, kita memiliki fasilitas yang relatif sangat memungkinkan untuk maju menjadi masyarakat modern yang madani berteraskan tamadun kita, tamadun Melayu.***

Batam Pos, Ahad, 6 November 2011
oleh Abdul Malik pada 8 November 2011 pukul 19:59
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/

Artikel bersempena

  • Open Recruitment - Riau Heritage sedang membuka kesempatan kepada teman-teman yang berminat untuk menjadi relawan. Kita belum bisa settle jadwal ngumpul bareng nih, tapi buat ...
  • Tahun Hutan - Tahun Hutan Sebagai Upaya Konservasi Hutan Dunia Ada sekitar 4 miliar hektar hutan di dunia, yang menutupi hampir 30 persen dari wilayah daratan bumi. Sekita...
  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini d...