Minggu, Januari 15, 2012

POHON DUIT

“Saudara-Saudara sekampung halaman,

seiring-sejalan,

senasib-sepenanggungan,

Kita sadar sesadarnya-sadarnya, dan penting untuk menyadarinya bagi yang belum sadar, bahwa nilai-nilai budaya kita sendirilah yang akan menyelamatkan kita dan generasi kita. Nilai-nilai budaya kita yang berbancuh sebati lagi serasi dengan nilai-nilai agama kita yang agunglah yang harus kita pedomani dalam melayari bahtera kehidupan ini. Dengan begitu, berarti kita juga telah menyiapkan bekal yang berfaedah untuk kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.”

“Hidup, Tuan Entol, hidup Tuan Entol. Tuan Entol pemimpin kami! Penguasa yang memiliki tahta di bumi dan kerajaan di langit,” pekik hadirin yang berhimpun pepat di bawah rimbunan pokok jambu di kampung itu.

Wak Entol makin bersemangat dan pidatonya makin berapi-api.

“Sadar akan kenyataan yang memang nyata itu, aku berjanji bahwa jika aku ditakdirkan menjadi pemimpin kalian, program pembinaan dan pengembangan kebudayaan akan menjadi prioritasku. Kita memerlukan generasi yang berkarakter untuk membangun kembali bangsa kita. Karakter itu ada di dalam nilai-nilai luhur budaya kita. Generasi kita harus kita dorong untuk lebih mengenal, memahami, menghayati, dan mencintai budaya luhur nenek-moyangnya. Dengan begitulah, nilai-nilai itu akan menjadi pakaian hidup mereka, yang akan menyelamatkan mereka, menyelamatkan warga Kampung Pokok Jambu ini.”

Seorang anak buah Wak Entol makin histeris. “Tuan Entol, Padukalah pemimpin anutan kami. Kami akan mendukung Paduka Entol sampai mati. Betul bukan, Saudara-Saudara?”

“Seribu seratus satu persen betul. Siap berjuang sampai mati!” sahut hadirin lebih histeris lagi.

“Terima kasih, Saudara-Saudaraku. Jika aku betul-betul menjadi pemimpin kalian nanti, aku berjanji akan menanam “pohon kebudayaan” tanda kepedulian kita akan warisan leluhur kita. Tanda tekad kita untuk maju berlandaskan budaya kita sendiri. Tanda kita orang yang berjati diri. Tanda kita bangsa pohon, eh … maksudku bangsa yang menyayangi pohon seperti nama kampung kita ini. Kesemuanya itu akan terwujud hanya kalau aku yang kalian pilih menjadi pemimpin kalian. Bahkan, pepohonan pun akan bergembira mendengar tekad muliaku ini. Bersediakah kalian?” pidato kebudayaan Wak Entol makin menjadi-jadi, menggila-gilai sehingga ada di antara hadirin yang menjerit-jerit mengilai-ngilai. Sebagian dari mereka menggoyang-goyang pohon-pohon jambu di kebun itu sambil berteriak bagai kerasukan.

“Siap Paduka Entol! Kami rela mati untuk Paduka!” serempak hadirin kelompok pokok jambu itu menjawab spontan, makin menggebu-gebu.

“Nah, ini penutup pidatoku,” suara Wak Entol menggelegar menutup pidatonya, “Pilihlah aku!”

“Kami tak mau yang lain, kami hanya mau Paduka Tuan Entol. Paduka pemimpin agung kami!” sambut hadirin sambil menyerbu untuk menciumi tangan dan menjilati pipi Wak Entol.

Wak Entol tersenyum lebar mengenang pidato kebudayaannya yang hebat beberapa tahun lalu itu. Pidato itulah yang mengantarkannya menjadi pemenang mutlak untuk menjadi pemimpin Kampung Pokok Jambu itu.

Ketika dia sedang tersenyum riang itu, datanglah seorang pemilihnya dulu. Setelah memberi salam dan menciumi tangan Wak Entol, dia bertanya:

“Paduka Entol, bilakah pohon kebudayaan kita akan ditanam?”

“Sabar, sabar, jangan tergesa-gesa Saudaraku,” jawab Wak Entol tenang dan selamba, “menanam pohon kebudayaan itu tak seperti membalikkan telapak tangan. Perlu perencanaan yang matang dan pemikiran yang bernas. Ada banyak tahapan yang harus dilalui. Begitulah negara-negara maju di dunia ini memajukan kebudayaannya seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea, dan banyak negara lagi yang pernah kukunjungi. Sementara itu, aku perlu lebih banyak menanam pohon kekayaan lebih dulu. Acara yang kita adakan di bawah pohon jambu dulu dan kalian memilih aku, tak gratis, bukan? Engkau paham maksudku, Saudaraku?” Wak Entol menjelaskan sambil membusungkan dada dan mengangkat bahunya.

Pemilihnya yang bertanya itu hanya melongo saja, tak paham akan jawaban Wak Entol. Dia hanya dapat berdiri terpaku, nyaris lesu.

“Nasibku dan anak-cucuku,” keluhnya di dalam hati. Dia tak berani mengatakan itu kepada Wak Entol karena khawatir colok di rumahnya akan mati malam nanti.

Wak Entol memandang sekilas pemilihnya yang bingung berat itu. Kemudian, sambil ketawa menyeringai, dia langsung meninggalkan tempat itu seraya bersiul lagu “Pohon Duit dan Duit Pohon” dengan irama heavy metal yang dipadu dengan langgam soft yang lagi trendy.***

oleh Abdul Malik pada 22 November 2011 pukul 19:28
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/

Artikel bersempena