Kamis, Juni 14, 2012

TAK ORANG TAK KITA

TAK ORANG TAK KITA
oleh Abdul Malik

SUATU hari dua orang bersahabat bertemu, sebuah perjumpaan rutin dan biasa. Seperti biasanya juga mereka berbincang-bincang tentang pelbagai hal. Berikut ini dialog hipotetis di antara Abdullah dan Abdillah, nama kedua orang bersahabat itu, dalam pertemuan mereka hari itu.

Abdullah : Penghulu Kebun marah betul kepada Wak Entol.
Abdillah : Apa pasal?
Abdullah : Wak Entol menuduh Penghulu Kebun korupsi.
Abdillah : Tak orang tak kitalah!

Read more ...

Rabu, Juni 13, 2012

DATUK SETIA JAYAESA WANGSA UNTUK DATUK ALI MELAKA

DATUK SETIA JAYAESA WANGSA UNTUK DATUK ALI MELAKA
oleh Abdul Malik

SETIA, dalam budaya siasah atau politik Melayu, bukanlah kata biasa dengan denotasi yang “datar” sahaja. Setia tak sekadar kata dengan makna ‘taat, teguh, atau patuh’ walaupun ketiga makna itu sangat positif. Setia, dalam konteks pemberian kekuasaan politik, hanya boleh disandangkan kepada pemimpin pilihan.

Segarkan ingatan kita ketika Sang Sapurba akan ditabalkan menjadi raja di Bukit Seguntang Mahameru. Sang Sapurba dipilih untuk menjadi raja karena dialah yang terbaik di antara laki-laki pada masa itu, baik dari segi fisik, budi, maupun pekerti (perilaku), yang nyaris tanpa cela. Itu saja tak cukup. Oleh Datuk Demang Lebar Daun, yang mewakili rakyat, Sang Sapurba tetap diminta untuk bersedia mengucapkan “Sumpah Setia”.

Read more ...

Selasa, Juni 12, 2012

MARWAH PULAU BERHALA

MARWAH PULAU BERHALA
oleh Abdul Malik

PULAU BERHALA kembali ke pangkuan bunda kandungnya, Provinsi Kepulauan Riau. Sebelum itu, anak kandung Negeri Segantang Lada itu sempat diambil “secara aneh” oleh Provinsi Jambi. Pengambilan itu disebut aneh karena semenjak wujudnya, mulai dari Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang, Kerajaan Riau-Lingga, bahkan sangat tak diragukan semasa Kerajaan Bintan yang lebih tua pun, Pulau Berhala memang milik sah negeri yang sekarang disebut Provinsi Kepulauan Riau.

Tak ada angin, apa lagi ribut. Langit di atas Kepulauan Riau berona cerah tanda hujan tak mungkin turun. Tiba-tiba, guruh kiriman beruntun dua dentuman menggelegar di perairan Kepulauan Riau, lebih keras lagi di laut dan pantai Pulau Berhala. Laut yang tadinya tenang serta-merta berubah menjadi gemunung air yang membuncah garang. Di tengah amukan gelombang itu, kabut tebal menutupi seluruh Pulau Berhala sehingga nyaris lenyap dari pandangan kita. Dalam hanya sekelip mata, tanah milik Bunda Tanah Melayu itu bagai raib ditelan gergasi. Hati siapa yang takkan berkecamuk?

Read more ...

Senin, Juni 11, 2012

DI SEBALIK PENGERTIAN UMRAH

DI SEBALIK PENGERTIAN UMRAH
oleh Abdul Malik

AKHIRNYA Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Menteri P dan K), Pof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, meresmikan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menjadi universitas negeri. Saya menggunakan kata akhirnya karena rencana peresmian itu sebelumnya beberapa kali tertunda. Penundaan terpaksa dilakukan karena kesibukan Menteri P dan K pada bulan-bulan terakhir ini sehingga beliau beralangan datang ke Tanjungpinang. Baru pada Senin, 26 Desember 2011, yang lalu beliau dapat berkunjung ke ibukota Propinsi Kepulauan Riau dengan agenda utama meresmikan penegerian UMRAH.

Read more ...

Minggu, Juni 10, 2012

MENJEMPUT TUAH MENJUNJUNG MARWAH

MENJEMPUT TUAH MENJUNJUNG MARWAH
oleh Abdul Malik

LAZIMLAH dalam setiap bahasa ada kata-kata yang bersinonim. Artinya, beberapa kata memiliki arti yang mirip atau lebih kurang sama. Walaupun begitu, kemiripan arti taklah berarti bahwa kata-kata yang bersinonim itu memiliki arti yang persis sama, apakah secara leksikal (arti kata seperti di dalam kamus) lebih-lebih secara kontekstual (arti kata sesuai dengan lingkungan pemakai dan pemakaiannya).

Kata tuah, misalnya, memang bersinonim dengan untung, keunggulan, keistimewaan, dan sebagainya; tetapi di dalam kumpulan kata yang searti itu kata tuah mengandungi keunggulan dan keistimewaan makna secara sosio-kultural bagi orang Melayu. Begitu pula halnya dengan kata marwah. Kendatipun searti dengan harga diri, kepribadian, dan nama baik; kata marwah dinilai jauh lebih sakral maknanya. Oleh sebab itu, untuk mengungkapkan perihal ‘keberuntungan’ dan ‘harga diri’ yang mengarah kepada sesuatu yang bersifat suci dan atau keramat; orang Melayu akan menggunakan ungkapan tuah dan marwah.

Seseorang perempuan, lebih-lebih perempuan muda, yang berparas cantik dan seseorang laki-laki, apa lagi laki-laki muda, yang berwajah tampan dapat dikatakan memiliki tuah, terutama jika dibandingkan dengan orang lain yang kualitas rupanya di bawah dirinya. Akan tetapi, keberadaan tuah bawaan itu baru bersifat potensial. Seseorang yang memiliki keberuntungan itu harus menyerasikannya dengan kualitas budi. Budi bukanlah sifat bawaan, melainkan harus dijemput, harus diperjuangkan. Cara menjemput budi melalui proses belajar, baik di lingkungan keluarga, di dalam masyarakat, maupun di lembaga pendidikan. Menyepadukan kualitas wajah dan kualitas budi itulah yang disebut menjemput “tuah diri” bagi manusia. Ungkapan “menjemput” itu jadinya bermakna dan bernilai perjuangan. Keserasian wajah dan budi itulah seperti yang pernah saya tulis dalam tulisan yang lain disebut sebagai kesebatian seri gunung dan seri pantai, yang seyogianya menjadi dambaan setiap insan.

Seseorang atau sekelompok orang di dalam suatu masyarakat, sama ada kecil ataupun besar ukuran kelompoknya, baru rela menjemput tuah kalau dia atau mereka menghayati makna marwah. Tanpa kesadaran marwah, manusia tak pernah acuh akan kualitas diri. Jika contoh di atas yang diambil kembali, dengan keelokan paras dan atau kekuatan fisik yang dimilikinya, anak manusia boleh berbuat apa saja demi keuntungan pragmatis sesaat. Bukan tak mungkin perbuatan yang dilakukannya itu dapat berdampak negatif bagi dirinya sendiri apa lagi bagi orang lain. Akan tetapi, karena tak didasari kesadaran marwah, lebih-lebih kalau terpaan hedonistis begitu membara, dia tak akan memedulikan atau bahkan memang tak memahami kesemuanya itu. Sebaliknya pula, orang yang menjunjung marwah, memuliakan jati diri, memelihara kehormatan diri, menjaga nama baik; akan terus berjuang menjemput tuah dalam hidupnya. Alhasil, dalam kehidupan ini keserasian, keselarasan, kesanggaman, dan kesebatian “menjemput tuah” dan “menjunjung marwah” menjadi kunci mutu manusia.

Dari tuah orang perorangan atau sekelompok orang, kita beralih ke tuah negeri. Jika suatu negeri dikaruniai sumber daya alam yang berlimpah ruah, berarti negeri itu memiliki tuah potensial. Tuah itu pun tak berarti apa-apa kalau tak dijemput. Menjemput tuah dalam hal ini bermakna memperjuangkan dengan bersungguh-sungguh agar kekayaan sumber daya alam itu betul-betul dapat menyejahterakan masyarakat dan memakmurkan negeri. Menyejahterakan masyarakat berarti memperjuangkan kualitas hidup masyarakat dalam kesemua bidang kehidupan agar terus meningkat ke arah yang lebih baik dengan memanfaatkan tuah kelimpahan sumber daya alam yang dimiliki oleh negeri.

Selanjutnya, memakmurkan negeri berkelindan dengan kualitas negeri terus membaik, baik penataan fisik wilayahnya maupun keberadaan sosio-budaya masyarakat yang mendiaminya. Bertambahnya lingkungan selekeh (slum area), meningkatnya kekerasan di dalam masyarakat, dan menurunnya kualitas ketenangan hidup merupakan sebagian dari indikator menurunnya kualitas kemakmuran negeri. Dalam keadaan negeri berlimpah kekayaan alam, tetapi pergaduhan (perkelahian) memperebutkan hasilnya terus berkecamuk dari hari ke hari; berarti anugerah yang seharusnya menjadi tuah ternyata berubah menjadi musibah. Kenyataan itu juga menunjukkan bahwa negeri itu kekurangan sumber daya manusia yang berkualitas pada kesemua peringkat kemasyarakatan. Akibatnya, tuah negeri justeru diambil alih oleh orang atau negeri lain. Intinya, negeri itu gagal menjemput tuahnya.

Berhasil atau gagalnya sesebuah negeri menjemput tuahnya sangat bergantung kepada kesadaran dan kesetiaan anak negerinya menjunjung marwah diri dan negeri. Yang dimaksud dengan anak negeri tak lain dari kesatuan secara keseluruhan penguasa dan masyarakat negeri itu. Kesadaran akan nilai-nilai marwah diri dan penghayatan terhadap nilai-nilai marwah negeri memungkinkan anak negeri untuk berjuang memakmurkan negerinya. Secara perorangan atau bersama-sama, sama ada dia penguasa atau rakyat jelata, yang biasa saja lebih-lebih yang terpelajar terkemuka; mereka akan menanggung malu jika kelimpahan potensi negerinya tak mampu dimanfaatkan untuk memakmurkan negeri. Dia pun tak akan tergamak dan sampai hati jika kekayaan negerinya hanya dapat dinikmati oleh dirinya sendiri dan segelintir orang di kanan kiri, apa lagi kalau hanya untuk memuaskan syahwat kekuasaan yang tak terkendali. Bahkan, aib terbesar bagi dirinya jika justeru orang lain atau negeri lain yang mendapat keuntungan sebesar-besarnya dari kekayaan negerinya. Kesadaran dan kesetiaan itu akan memacu dan memicu mereka secara bersama-sama berjuang untuk mengembalikan marwah negeri.

Menjemput tuah menjunjung marwah merupakan perjuangan kultural. Nilai-nilainya harus terus kekal di dalam diri masyarakat yang meyakini kesucian dan kekeramatannya. Jika nilai-nilai sakral itu terus tergerus, masyarakat yang selama ini meyakini dan mengamalkannya untuk kemudian tak lagi memedulikannya akan kehilangan jati diri. Puing-puing masyarakat itu selanjutnya melanjutkan kehidupan tanpa roh kultural yang dapat dipedomani dan menyemangatinya. Mereka akan terombang-ambing di atas gelombang samudera luas kehidupan yang tak bertepi. Pada gilirannya, keberadaan mereka di dalam masyarakat global tak lagi diperhitungkan. Karena apa? Karena tak ada lagi kekhasan yang mustahak diperhitungkan pada diri mereka. Yang muncul ke permukaan hanyalah kelemahan belaka sebab keunggulannya telah lesap dan lenyap mereka tenggelamkan sendiri. Dalam keadaan seperti itu, mereka dengan mudah ditarik ulur untuk pelbagai kepentingan, yang kesemuanya menguntungkan orang lain, negeri lain, dan atau bangsa lain.

Tanpa semangat menjemput tuah menjunjung marwah, jatuhlah sebuah bangsa ke jurang terdalam dan terkelam dari tragedi kekalahan. Mereka hanya menjadi jasad tanpa roh kultural yang dapat dibanggakan dan membanggakan. Itulah piala “terhormat” bagi para kecundang atau pecundang di dalam dunia yang memang penuh persaingan. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi itu bukan diperoleh secara cuma-cuma atau gratis di dunia ini kendatipun kita memiliki negeri yang elok dan berlimpah ruah. Lebih-lebih dalam era dan rezim politik serta ekonomi yang menjadi panglima ini, hutan tanah dan kebun kita boleh menjadi milik orang dalam sekelip mata saja jika kita silap atau kurang siasat.

Tak ada jaminan bahwa pekik, “Kami adalah ahli waris sah negeri ini!” akan menggerunkan orang jika tak kita perjuangkan dengan bersungguh-sungguh dan secara bersama-sama. Maka itu, jemputlah tuah dan junjunglah marwah diri dan negeri yang tercinta ini. Hanya itulah yang akan menyelamatkan kita dan anak-cucu kita secara berketurunan kelak, selain dari inayah Allah.***

Batam Pos, Ahad, 11 Maret 2012
Read more ...

Sabtu, Juni 09, 2012

BUKIT LARANGAN

BUKIT LARANGAN
oleh Abdul Malik

"Kuberitahukan kepada kalian, kita akan naik ke bukit itu. Hanya bukit itu harapan kita untuk bertahan kini." Gema suara Wak Entol memecah di ruang pertemuan rahasia itu. Dia menatap anak buahnya satu per satu dengan sorotan mata yang tajam, berwibawa.

"Tapi, itu bukit larangan, Paduka. Tak ada seorang pun orang kampung ini yang berani naik ke sana," Mat Sengih, orang kepercayaan utama Wak Entol, menyela instruksi bosnya. Di dalam Geng Entol memang hanya Mat Sengih yang berani menyela atau membantah ucapan Wak Entol. Dan, kebiasaan itu kerap dilakukannya.

Muka Wak Entol merah padam dan matanya melotot bagai hendak meloncat keluar. Dia memandang Mat Sengih seperti hendak menerkam anak buahnya itu. Mat Borak, orang kedua kepercayaan Wak Entol, sangat berharap Wak Entol mencekik Mat Sengih sampai mati. Namun, Wak Entol rupanya hanya menggertak saja. Dia tak berani atau terlalu sayang kepada Mat Sengih. Untuk terlihat tetap berwibawa, dia membentak saja.

"Kau, Mat Sengih. Semua ini engkau punya pasallah. Banyak biaya yang harus kita keluarkan karena ulah kau itu. Persediaan kita hampir habis. Jangan kaucoba melawan aku lagi. Ingat, kau itu anak bawang. Kalau bukan karena aku, tak ada orang yang mau memandang kau. Aku yang membesarkan engkau!"

Mat Sengih diam saja, tak menjawab sergahan bosnya. Dalam hati dia menyumpah, "Temberang punya bos. Kau sentuh aku, mampus kau kubuat. Semua rahasia kau ada padaku. Dengan satu sentuhan lunak, semua orang kampung ini akan tahu. Kau akan dikepung dan dicencang sampai lumat."

Rahasia itulah yang menyebabkan Wak Entol tak dapat berbuat banyak, bahkan tak berkutik, terhadap Mat Sengih. Apakah rahasianya, hanya mereka berdua yang tahu persis walau di antara anggota geng itu beredarkan kabar angin. Dia hanya mampu menggertak. Itu pun di depan orang supaya tak hilang wibawanya. Di belakang dia selalu menghiba kepada Mat Sengih agar bersabar untuk menggantikannya. Anehnya, dia tetap berusaha untuk mencekik Mat Sengih tanpa diketahui orang. Akan tetapi, bukan Mat Sengih namanya kalau dia tak mengantisipasi kesemua kemungkinan itu. Karena sejak awal telah bergabung dengan Wak Entol, Mat Sengih jadi sangat hapal akan pikiran, sikap, dan perangai bosnya itu. Dia pun telah bersumpah di hadapan bosnya bahwa jika Wak Entol berani mengusiknya, dia akan menghancurkan pemimpinnya itu.

Tinggallah Mat Borak yang kecewa berat. Dia tetap berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Walaupun begitu, dia masih setia menanti dukunnya dapat membunuh Mat Sengih dari jarak jauh. Jika perlu, Wak Entol juga dapat dibunuh dengan cara gaib itu. Itulah satu-satunya harapan yang membolehkan dia menjadi pucuk pimpinan geng.

"Dengarkan baik-baik. Tak ada tahyul di atas bukit itu. Jangan kalian ikut kepercayaan orang kampung ini. Yang ada hanyalah keajaiban yang nyata. Seorang dukun ternama telah menyampaikan hasil tenungannya kepadaku. Di puncak bukit itu ada telaga ajaib yang airnya sangat bening dan senantiasa penuh, tak pernah berkurang sepanjang masa. Siapa pun yang dapat mandi dengan menggunakan air telaga itu akan berumur panjang. Bukan itu saja. Lebih ajaib lagi, air telaga itu dapat berubah jadi apa saja, tergantung pada permohonan kita kepada penunggu telaga. Jika kita minta duit, air telaga akan berubah jadi uang, bahkan boleh diminta juga mata uang apa saja dan berapa pun jumlahnya, tanpa batas. Kita boleh bermohon agar air itu menjadi real estate, emas, permata, mobil mewah, istana, dan sebagainya. Pokoknya, bergantung kepada niat kita dan permohonan kepada sang penunggu. Siapa pun yang berhasil naik ke puncak bukit itu akan dikabulkan permintaannya karena dianggap telah berusaha keras. Nilainya tak habis tujuh puluh tujuh keturunan. Jika kita mendapatkannya, geng kita akan abadi menguasai kampung ini. Kita harus segera naik ke bukit itu. Jika perlu, malam ini juga!"

Terlepas dari perbedaan kecil di lingkungan gengnya, gagasan Wak Entol untuk naik ke bukit larangan disetujui secara aklamasi. Mufakat sudah bulat: lebih cepat lebih baik. Jadi, malam ini juga!

Semua persiapan sudah diatur, termasuk dukun. Rupanya, walau tegas mengatakan tak takut, Wak Entol ternyata ngeri juga. Dukun dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan gaib di bukit itu. Orang kampung percaya, siapa yang berani naik ke bukit itu akan hilang secara misterius. Kesemua anak buahnya dikerahkan Wak Entol untuk misi yang amat penting ini. Tak ada yang tinggal, kesemuanya dikerahkan keluar kandang.

Mat Borak menggunakan rencana ketiga setelah rencana pertama dan kedua belum juga berjaya. Apa lagi, dukun yang dipercayainya ternyata juga digunakan oleh Wak Entol. Dengan rencana ini, dia yakin impiannya untuk memimpin Geng Entol akan tercapai. Dan, jika itu jadi kenyataan, nama geng akan diubahnya menjadi Borack's Gang, sebuah nama yang keren untuk mafia modern.

Malam demikian pekat. Nampaknya akan turun hujan badai tak lama lagi. Wak Entol sangat gembira karena cuaca yang buruk itu. Orang-orang kampung tentu tak berani keluar rumah dan tidur lebih awal.

Wak Entol dan geng lengkapnya, termasuk pasukan parang dan pasukan panah, bergegas menuju bukit menembus malam yang gulita itu. Hanya sekitar setengah jam berjalan setengah berlari mereka sampai persis di kaki bukit. Wak Entol sudah membayangkan indahnya meraup keuntungan 75 persen dari harta yang diperoleh di bukit itu. Sisanya untuk anak buahnya seperti lazimnya pembagian penghasilan di dalam geng.

Dengan penghasilan terbaru itu nanti, dia dan keluarganya akan terjamin memimpin geng karena tetap memiliki saham mayoritas. Apa lagi “kebijaksanaan”-nya memimpin geng telah teruji selama ini. Wak Entol tersenyum menyeringai membayangkan laba dan indahnya hidup di dunia ini. Dalam hati dia berkata:

"Alangkah bebalnya orang kampung ini. Beruntunglah aku berada di lingkungan mereka, para animal yang lugu dan lucu!" Dia tersenyum lagi, menyeringai.

Awal malam disertai angin ribut dan petir sabung-menyabung. Tak cahaya lain di langit, kecuali kilat yang delis-berdelis. Geng Entol dengan anggota yang lengkap menembus malam yang menggerunkan itu dengan semangat menyala-nyala. Wak Entol dan gengnya segera akan mendaki bukit. Tekadnya dan anak buahnya semakin bulat dan kuat.

"Hei, Entol keparat. Pengkhianat kau ya? Kata kau akan menjaga kampung ini bersama kami dan semua penduduk kampung, termasuk menjaga pantang-larangnya. Ternyata kau berpaling tadah. Sungguh nista engkau, Entol," suara Wak Parah melengking keras di tengah angin malam yang makin menggila itu. Topan dan badai bergabung membuat malam semakin menggelap pekat.

Bersamaan dengan itu, Wak Parah keluar dari semak-semak bersama anak buahnya, ketua kampung, dan semua orang kampung. Bahkan, di antara mereka ada pula kanak-kanak. Rupanya rencana rahasia Wak Entol bocor dan diketahui oleh Wak Parah.

Wak Parah musuh besar Wak Entol. Begitu mengetahui rencana Wak Entol, dia segera mengumpulkan anak buahnya. Ketua kampung dan kesemua orang kampung juga dikumpulkannya dan disampaikannya rencana rahasia Wak Entol.

Ketua dan orang kampung sangat terbakar setelah mendengarkan cerita Wak Parah. Walau tak terlalu percaya, mereka bersedia diajak Wak Parah untuk menyergap Wak Entol di kaki bukit. Mereka berangkat sebelum gelap dan bersembunyi di semak-semak di sekitar kaki bukit. Geram dan was-was berbaur di dalam diri orang-orang yang bersembunyi di kaki bukit itu.

Bukan main terkejutnya Wak Entol tertangkap basah oleh Wak Parah dan orang kampung. Dia tahu pasti, tentu ada di antara anak buahnya yang berkhianat, tetapi dia tak mau memikirkan hal itu pada saat genting ini. Dia berupaya sekuat dapat untuk menguasai diri.

"Oh, rupanya baru sampai di kaki bukit ini, Saudaraku Parah. Kami kira Saudaraku telah sampai di puncak bukit. Aku mendapat laporan, Saudaraku bersama geng akan mendaki bukit ini. Sebab itu, aku bersama gengku mengejar Saudaraku untuk mencegahnya. Itu perbuatan terkutuk dan dipantangkan dalam tradisi masyarakat kita. Aku juga khawatir Saudaraku and Geng akan terkena bala, termakan sumpah nenek-moyang."

Wak Entol membusungkan dadanya tanda kemenangan. Dia mematut-matut diri di dalam gelap itu sambil tersenyum menyeringai, senyum khas miliknya seorang. Tembakannya tepat ke arah kening Wak Parah.

Ketua dan orang kampung mengalihkan perhatiannya kepada Wak Parah. Mereka memandang Wak Parah dengan jijik. Ada yang meludah berkali-kali karena muak melihat Wak Parah. Mereka patut berbalik curiga kepada Wak Parah dan gengnya karena suatu ketika dahulu Wak Parah pernah berusaha naik ke bukit itu. Untunglah, baru sampai di pinggang bukit mereka disergap oleh Wak Entol dan orang kampung karena rencananya diketahui oleh Wak Entol. Sejak itu orang kampung sangat percaya kepada Wak Entol, sebaliknya sangat curiga terhadap Wak Parah dan gengnya. Nasib Wak Parah semakin parah. Itulah sebabnya, dia berupaya berbuat baik kepada orang kampung untuk mengembalikan kepercayaan yang hilang itu. Kini mata panah malah dibalikkan Wak Entol ke arahnya.

"Hei, Entol pembohong dan penipu. Kalau aku yang berkhianat, takkan kubawa ketua dan orang kampung bersamaku. Karena aku mengetahui rencana jahat kaulah, aku bawa mereka untuk menjadi saksi kebejatan kau sekaligus untuk menangkap kau dan anggota Geng Entol!" balas Wak Parah. Wajahnya merah menghitam menunjukkan dia sangat geram.

"Oh, kalau begitu kita sama-sama difitnah, Saudaraku. Ada orang yang berniat jahat yang ingin menghancurkan kita berdua dan geng kita. Nama baik kita sebagai pemimpin karismatik dicemarkan orang," jawab Wak Entol sambil mendekati Wak Parah dan langsung memeluk musuhnya itu.

Wak Parah hendak mengelak dari rangkulan Wak Entol. Namun, dia tak berhasil. Wak Entol ternyata lebih cepat dan sigap daripada gerakan elakan Wak Parah yang sedikit lamban.

"Ketua kampung dan Saudara sekalian. Marilah kita akhiri kesalahfahaman ini. Rupanya ada orang yang berusaha memfitnah saya dan saudara saya Parah ini. Yakinlah, bahwa saya dan saudara saya ini takkan pernah berkhianat kepada Saudara-Saudara dan kampung ini. Syukurlah, bukit ini masih terpelihara dengan baik dan tak ada yang berani melanggar pantang-larang tradisi nenek-moyang untuk menaikinya. Sekarang, marilah kita pulang bersama-sama."

Wak Entol menempelkan pipi kiri dan kanannya ke pipi Wak Parah. Dia juga melakukannya terhadap Ketua Kampung. Bahkan, pipinya lebih lama ditempelkan ke pipi ketua kampung. Senyumnya makin menyeringai, khas dan bermakna. Anak buah mereka masing-masing bertepuk tangan, horeeeee …..

Mat Borak sangat gugup menyaksikan kejadian itu. Wajahnya berubah pucat lesi. Untunglah malam begitu gelap sehingga orang-orang tak melihatnya. Lagi pula, orang-orang begitu terpukau oleh perkataan dan akting Wak Entol sehingga tak hirau akan kejadian yang lain.

"Tamatlah riwayatku," pikir Mat Borak. Wajahnya semakin pucat dan kedua kakinya betul-betul gontai. Tenaganya nyaris sirna begitu saja dan bibirnya bergemetar cepat.

Menangkap kegelisahan Mat Borak, Wak Parah mengernyitkan matanya kepada anak buah Wak Entol itu. Tak ada yang melihat kode mata Wak Parah, kecuali Mat Borak. Bukan main senangnya hati Mat Borak mendapat jaminan kedipan mata dari Wak Parah. Perlahan wajahnya memerah dan kedua kakinya menjadi kuat dan tegap kembali.

Ketua dan orang kampung hanya melongo saja. Nampak sekali mereka sangat bingung. Manakah di antara kedua orang itu yang dapat dipercayai. Dalam kebingungan orang kampung itu, Wak Entol mengajak mereka pulang. Dia, Wak Parah, dan Ketua Kampung berjalan beriringan memimpin di depan sambil bergandeng tangan. Anak buah membuat barisan lurus di belakang pemimpin mereka masing-masing. Barisan orang-orang yang, konon, akan setia menjaga kampung halaman.

Di puncak bukit itu makhluk-makhluk aneh yang sejak awal menyaksikan kejadian di bawah bukit dan berencana berpesta pada malam berangin ribut itu, terpaksa menunda pestanya. Mereka hanya bernyanyi dan bersiul lagu "Naik-Naik ke Puncak Bukit dan Kapan-Kapan" yang diaransemen dengan sendu mendayu-dayu berupa persepaduan irama slow rock dan mak inang sayang klasik sambil memandangi rombongan yang meninggalkan kawasan bukit larangan itu yang kian lama kian menjauh.

Tak ada yang tahu isi pikiran makhluk-makhluk aneh itu. Koor mereka semakin menyayat, "Kapan-kapan . . . ."***

Perjalanan Johor--Tanjungpinang
Ahad, 1 April 2012
Read more ...

Jumat, Juni 08, 2012

BAHASA, ILMU, DAN ADAB

BAHASA, ILMU, DAN ADAB
oleh Abdul Malik

RAJA Ali Haji (RAH) menguraikan tujuh kata utama dalam Al-Bab al-Awwal (Bab Pertama) kamus ekabahasanya Kitab Pengetahuan Bahasa (1858). Selepas membahas ketujuh kata itu secara panjang lebar, beliau memerikan simpulannya.

Pertama, Allah yakni nama zat Tuhan Yang Mahabesar dan Mahamulia. Dialah Tuhan yang wajib adanya, mustahil tiadanya. Keberadaannya tak disebabkan oleh sesuatu. Dialah yang menjadikan alam daripada tiada kepada ada. Allah memiliki sifat-sifat Yang Mahasempurna, daripada-Nyalah segala makhluk dapat berwujud dari mulanya tiada.

Kedua, al-Nabi yaitu Ahmad yang masyhur namanya Muhammad. Dialah Rasul Allah yang wajib diikuti dan haram atas segala makhluk mendustakan dan menyalahinya. Dengan mengikutinya, manusia akan memperoleh kesempurnaan, tetapi durhaka dan merugilah orang-orang yang menolaknya.

Ketiga, al-Ashab yaitu kesemua sahabat Nabi Muhammad saw. Mereka dimulai dari Saidina Abu Bakar al-Siddiq, Saidina Umar ibn Al-Khatab, Saidina Umar ibn Affan, Saidina Ali ibn Abi Thalib, dan seterusnya. Segala sahabat itu kesemuanya menyertai pekerjaan dan berjuang bersama Nabi saw. dalam mendirikan agama Islam.

Keempat, al-Akhbar yaitu segala ulama yang besar-besar yang alim lagi muhtadi, yang menyebarkan agama Islam sampai ke akhir zaman. Orang-orang yang mengikuti dan membesarkan segala ulama sama halnya dengan mengikuti dan membesarkan segala Nabi dan Rasul, yang berarti juga patuh terhadap Allah swt.

Kelima, al-Insan yaitu manusia yang tiada lain makhluk yang dijadikan Allah swt. dari tiada kepada ada. Jasadnya dijadikan dari empat anasir: api, angin, air, dan tanah. Manusia terdiri atas jasad dan ruh atau nyawa yang menyebabkan tubuhnya dapat hidup. Manusia menjalani takdirnya masing-masing.

Keenam, al-Awwali yaitu dunia yang juga dijadikan oleh Allah swt. daripada tiada. Ada yang nampak dipandang dengan mata dan pancaindera dan ada yang halus. Segala perbuatan dan kelakuan manusia sebelum dia mati yang tak berguna bagi akhirat, juga disebut dunia walaupun bentuknya seperti perbuatan akhirat. Sebaliknya, perbuatan dan kelakuan sebelum mati yang berguna bagi akhirat walaupun berbentuk dunia, tetaplah dinamai akhirat. Di antara syurah dunia yang tak berfaedah bagi akhirat seperti bermegah-megah, menumpuk harta kekayaan, takabur, dan pelbagai perbuatan tercela lainnya. Sebaliknya, berbuat adil dan menyenangkan hati rakyat, misalnya, akan jelas kebaikan dan pahalanya, sangat berfaedah bagi akhirat dan bermanfaat bagi dunia.

Ketujuh, al-Akhirat yaitu kesudahan pekerjaan dan perjalanan manusia. Bermulanya dari keluarnya ruh dari badan, masuk ke alam barzah yang zahirnya kubur, yang dapat berupa kebun dari beberapa kebun surga atau satu galian dari beberapa galian api neraka. Yang hidup di dalam surga adalah mereka yang sa’adah, mati dalam hasanul khatimah, yang diampuni Allah segala dosanya. Yang tinggal di dalam neraka adalah mereka yang syaqawah yakni yang mati tak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Itulah ikhtisar tujuh kata utama pada bab awal Kitab Pengetahuan Bahasa. Mengapakah ketujuh kata itu yang pertama sekali diperikan RAH di dalam kamusnya? Jawabnya tiada lain bahwa pengkajian bahasa adalah ilmu untuk mencapai makrifat yakni mengenali Allah dan segala kewujudannya, memperteguh keimanan dan ketakwaan, serta mempertinggi adab-pekerti yang mulia. Itulah sandaran utama setiap ilmuwan Islam ketika mereka membahas ilmu bahasa. RAH menyimpulkannya sebagai berikut.

“… segala manusia itu apabila mengenal makrifat yang tujuh dan pengetahuan yang tujuh … itu serta beriman akan dia, niscaya sempurnalah akalnya dan berbedalah ia dengan binatang pada pihak pengetahuannya.”

Padahal, kata RAH, tiada beda antara manusia dan binatang, kecuali pada akal-budi dan ilmu yang makrifat itulah. Itulah sebabnya, bahasa harus dipelajari dan diajarkan secara benar dan baik supaya diperoleh ilmu yang benar dan adab yang santun.

Di dalam muqaddimah karya bidang bahasanya yang ditulis lebih awal yakni Bustan al-Katibin (1850) RAH menegaskan perhubungan antara kemahiran berbahasa, ilmu yang tinggi, dan adab-pekerti yang mulia.

“Bermula kehendak ilmu perkataan pada jalan berkata-kata karena adab dan sopan itu daripada tutur kata juga asalnya, kemudian baharulah pada kelakuan. Bermula apabila berkehendak kepada menuturkan ilmu atau berkata-kata yang beradab dan sopan, tak dapat tiada mengetahui ilmu yang dua itu yaitu ilmu wa al-kalam (ilmu dan pertuturan). Adapun kelebihan ilmu wa al-kalam amat besar …. Ini sangat zahir pada orang yang ahli nazar (peneliti).”

Jelaslah bahwa RAH memandang begitu pentingnya kedudukan bahasa bagi manusia. Untuk apa? Agar manusia mampu mencapai taraf orang yang beradab sopan, berakal-budi, dan berilmu yang tinggi lagi bermanfaat.

Dalam muqaddimah karya yang disebut terakhir itu, lebih awal beliau telah menjelaskan hal ini.

“… kelebihan akal dan adab itu tiada sebab bangsa dan sebab asal. Jikalau beberapa pun bangsa jika tiada ilmu dan akal dan adab, ke bawah juga jatuhnya yakni kehinaan juga diperolehnya…. Buah akal itu menaikkan ikhtiar…barang siapa jahat adabnya sia-sialah bangsanya…. Apabila tiada ilmu dan akal, alamat tiadalah ia mencium bau kemuliaan dan sangatlah jinak kehinaan kepadanya…. Maka tatkala itu hukumnya badan itu seperti binatang” karena akal telah keluar dari tubuh sehingga laknat Allah akan datang karena ketiadaan ilmu.

Atas dasar itu RAH menekankan pentingnya tertib bertutur dan berbahasa. Pasal apa? Pasal, bahasa menjadi dasar pembinaan ilmu dan adab-pekerti. Itulah sebabnya, setiap orang harus memahiri bahasa secara benar dan baik, terutama harus dikaitkan pembelajaran bahasanya dengan matlamat untuk mencapai makrifat mengenali Allah, mengagungkan-Nya, dan mensyukuri nikmat dan rahmat ilmu dan akal yang dianugerahkan-Nya sehingga manusia menjadi makhluk yang lebih mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain.

Memang tak terbantahkan bahwa manusia menjadi berbeda dari hewan, misalnya, karena manusia memiliki bahasa. Dengan bahasanya, manusia memiliki kebudayaan sehingga terus dapat memperbaiki dan memperbaharui kehidupan hingga sampai ke puncak tamadunnya yang tertinggi. Dalam hal ini, RAH berpandangan sangat maju dan modern, yang bahkan melampaui ilmuwan yang menyebut dirinya modern sekalipun. Itulah sebabnya, banyak ilmuwan modern yang salah dalam memahami filsafat dan ilmu bahasa yang dikembangkan oleh RAH.

Mengkaji bahasa untuk memuji kebesaran Allah dengan segala konsekuensi ikutannya: keimanan, ketakwaan, adab, sopan-santun, dan ketinggian budi pekerti. Dapat dipastikan, berawal dari niat yang suci dan jalan yang ditempuhnya benar, bahasa yang dibina oleh RAH menjadi bahasa nasional beberapa negara karena rahmat yang dicurahkan oleh Allah swt. Niat dan jalan yang benar itu jugalah yang memungkinkan Allahyarham Raja Ali Haji diangkat menjadi Pahlawan Nasional dan Bapak Bahasa Indonesia oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 6 November 2004. Semoga Allah menempatkan penulis Kebun Para Penulis ini di Kebun Surga-Nya yang paling indah.***

Batam Pos, Ahad, 30 Januari 2011
Read more ...

Kamis, Juni 07, 2012

ORANG PENTING

ORANG PENTING
oleh Abdul Malik

ALHASIL tercapai juga cita-cita Wak Entol untuk untuk menjadi orang penting. Program "Menjual Kampung" yang dicanangkannya ternyata disambut masyarakat dengan antusias.

"Saudara-Saudara senasib-sepenanggungan,

Kita harus mengubah nasib. Untuk itu, kita harus menjual kampung kita ini agar dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman!" Itulah kampanye Wak Entol kepada masyarakat kampung.

"Kalau kampung kita dijual, kita harus tinggal di mana, Wak Entol?" tanya seorang pemuda kampung yang menganggap aneh gagasan yang dijual Wak Entol.

"Saudara jangan memahami gagasan cemerlangku secara harfiah. Maksudku, kita promosikan potensi kampung ini kepada investor agar mereka tertarik untuk menanamkan modalnya di sini. Mereka boleh berinvestasi dalam bidang pertanian, perikanan, dan industri yang potensinya sangat menjanjikan di kampung ini. Nanti pendapatan kalian akan meningkat seribu persen, lapangan kerja bertambah seribu kali lipat, dan kampung ini akan maju seribu kali lebih hebat dari sekarang. Itu maksudku," Wak Entol menjelaskan programnya dengan suara lantang di depan orang kampung.

"Hebat, luar biasa Wak Entol. Fantastis dan bergeliga otak Wak Entol," pekik orang kampung serentak. "Itu baru namanya pemimpin kami."

"Kalian tak perlu memujiku berlebihan. Yang pasti, aku berupaya keras membuat hidup kalian berubah dari sekarang."

Dipendekkan cerita, jadilah Wak Entol orang penting dengan kampanye programnya itu. Kini dia dan anak buahnya mulai melaksanakan program perubahannya.

Berdasarkan petunjuk dan perintahnya, anak buah buahnya mulai mengumpulkan surat tanah orang kampung. Upayanya itu mendapat tantangan dari pemuda yang bertanya kepadanya dulu waktu dia kampanye.

"Mengapa pula surat tanah kami engkau kumpulkan, Wak Entol? Hendak engkau jual kepada investor yang kausebut kemarin ya?"

"Aku tak serendah itu," jawab Wak Entol tegas sambil menatap wajah pemuda yang menentangnya. "Aku hendak meyakinkan calon investor tentang jumlah lahan yang kita miliki. Mereka perlu bukti surat tanah."

Sang pemuda masih ragu akan niat Wak Entol. Memperhatikan gelagat itu, tokoh masyarakat kampung itu meyakinkan si pemuda, "Kita harus percaya kepada Wak Entol, ya Awang. Niatnya tulus dan ikhlas ingin membantu kita. Tak mungkin ada niat jahat."

Si Awang, pemuda itu, menjadi tak berdaya setelah diyakinkan oleh tokoh masyarakat mereka. Padahal, dia tetap meragukan niat Wak Entol.

Wak Entol membusungkan dadanya karena dipercayai oleh tokoh masyarakat kampung. Dijelingnya Si Awang dengan ekor mata kirinya dengan pandangan mengejek seorang pemenang kepada orang yang kalah.

Tak sampai sepekan selesailah pekerjaan Wak Entol mengumpulkan surat tanah orang kampung itu. Lalu, dia pun pergi dari kampung itu membawa surat tanah orang kampung yang akan ditunjukkannya kepada calon investor di seberang.

Seminggu, lalu sebulan, Wak Entol belum juga kembali ke kampung. Orang kampung mulai gelisah. Ada fenomena aneh yang melanda kampung itu. Seminggu terakhir ini langit di atas kampung itu terus ditutupi awan hitam yang amat tebal, tetapi tak juga turun hujan. Kilat dan petir terus saja menggelegar sepanjang hari.

Tepat 40 hari setelah kepergian Wak Entol, datanglah serombongan orang ke kampung itu dengan menaiki kapal feri yang canggih. Kebanyakan dari mereka berbadan tinggi besar lagi tegap. Sesampainya di kampung itu, pemimpinnya menemui tokoh masyarakat kampung. Dia meminta tokoh masyarakat untuk mengumpulkan orang kampung semuanya karena ada pengumuman yang akan disampaikan.

"Wahai orang kampung sekalian," pemimpin rombongan itu memulai pengumumannya, "keinginan kalian untuk menjual tanah dan kampung kalian melalui wakil kalian Orang Penting Wak Entol telah kami setujui. Kami pun telah membayarnya melalui Wak Entol. Sekarang semua tanah dan kampung ini menjadi milik kami. Pekan depan kami akan membangun sebuah casino termegah di dunia di tempat ini. Dalam tiga hari kalian harus meninggalkan kampung ini!"

"Bukan begitu perjanjian kami dengan Wak Entol bedebah itu," teriak tokoh masyarakat.

"Bukan begitu, bukan begitu, bukan begitu . . . " pekik orang-orang kampung yang lain.

Tiba-tiba turunlah hujan demikian lebatnya disertai angin ribut yang menumbangkan pohon-pohon di sekitar tempat itu. Kilat dan guruh bersahut-sahutan dan sambar-menyambar. Orang-orang kampung menyerbu tamu yang baru datang itu. Akan tetapi, mereka tak sempat sampai ke sasarannya karena orang-orang tinggi besar dan tegap lebih dulu menghujani mereka dengan tembakan membabi buta. Banyaklah orang kampung yang tewas di tengah cuaca gelap dan hujan ribut itu. Keadaan sangat huru-hara dan haru-biru. Orang kampung yang selamat berusaha melarikan diri tak tentu arahnya lagi.

Wak Entol dan anak buahnya menyaksikan kejadian itu dari atas bukit di kampung itu. Begitu ada orang kampung yang tertembak dan jatuh tersungkur, Wak Entol berteriak, "Wow!" sambil ketawa menyeringai. Anak buah Wak Entol juga ketawa terkekeh-kekeh sambil memikul berpeti-peti uang dalam bentuk mata uang asing.

Si Awang ternampak akan Wak Entol dan anak buahnya di atas bukit itu. Dia dan kawan-kawannya, para pemuda kampung itu, berusaha mengejar Wak Entol dan anak buahnya. Wak Entol dan anak buahnya pun lari meninggalkan bukit itu menuju speed boat mereka sambil mengejek Si Awang dan para pemuda kampung. Sambil berlari itu Wak Entol dan anak buahnya menyanyikan lagu "Kudaku Lari" yang lirik dan iramanya telah diubah suai menjadi heavy metal yang dipadu zapin negeri dan mereka terus terbahak-bahak.***
Read more ...

Rabu, Juni 06, 2012

Motif, Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau

MELAYU Riau kaya dengan khazanah budayanya. Antaranya yang amat menonjol adalah motif ornamen Melayunya, yang banyak dipakai untuk motif kain songket dan seni ukir. Motif atau corak dan ragi Melayu Riau ini memiliki cirri khas tersendiri walaupun di antaranya mempunyai dasar yang sama dengand aerah-daerah Melayu sekitarnya. Misalnya saja pemakaian corak dan ragi pada kain songket tenun dari Siak.

Setiap kawasan budaya di Riau memiliki corak dan ragi hias tersendiri. Termasuk corak tenunan. Masyarakat Melayu Riau memiliki corak dasar yang sejak ratusan tahun menjadi khazanah budayanya. Sebagian besar corak itu dikekalkan dalam bentuk ukiran (kayu, perunggu, emas, perak, dan suasa); sebagian lain dalam bentuk tenunan kain; dan sebagian lainnya dalam bentuk anyaman (rotan, pandan, dan akar-akaran).

Corak dasar Melayu umumnya bersumber dari alam, flora dan fauna, serta benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, atau awan. Benda-benda itulah yang direka bentuk. Ada seperti alaminya, seperti bunga kundur atau bunga hutan, dan ada juga yang diabstrakkan, seperti itik pulang petang, semut beriring, dan lebah bergayut.

Ada pula corak-corak yang bersumber dari benda-benda tertentu, seperti wajik, lingkaran, kubus, dan lain-lain.

Dalam tradisi Melayu, corak-corak itu dikembangkan lagi dalam beragam variasi sehingga membentuk satu perpaduan yang serasi. Bahkan melahirkan nama-nama baru, seperti cukrebung, siku keluang, dan kalukpakis.

Dikutip dari :
Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau
oleh Abdul Malik, dkk.
Terbitan Adicita, Yogya, 2003.

SUMBER :
LAMRIAU.ORG

Motif, Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau








































Read more ...

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...