Jumat, Juni 08, 2012

BAHASA, ILMU, DAN ADAB

BAHASA, ILMU, DAN ADAB
oleh Abdul Malik

RAJA Ali Haji (RAH) menguraikan tujuh kata utama dalam Al-Bab al-Awwal (Bab Pertama) kamus ekabahasanya Kitab Pengetahuan Bahasa (1858). Selepas membahas ketujuh kata itu secara panjang lebar, beliau memerikan simpulannya.

Pertama, Allah yakni nama zat Tuhan Yang Mahabesar dan Mahamulia. Dialah Tuhan yang wajib adanya, mustahil tiadanya. Keberadaannya tak disebabkan oleh sesuatu. Dialah yang menjadikan alam daripada tiada kepada ada. Allah memiliki sifat-sifat Yang Mahasempurna, daripada-Nyalah segala makhluk dapat berwujud dari mulanya tiada.

Kedua, al-Nabi yaitu Ahmad yang masyhur namanya Muhammad. Dialah Rasul Allah yang wajib diikuti dan haram atas segala makhluk mendustakan dan menyalahinya. Dengan mengikutinya, manusia akan memperoleh kesempurnaan, tetapi durhaka dan merugilah orang-orang yang menolaknya.

Ketiga, al-Ashab yaitu kesemua sahabat Nabi Muhammad saw. Mereka dimulai dari Saidina Abu Bakar al-Siddiq, Saidina Umar ibn Al-Khatab, Saidina Umar ibn Affan, Saidina Ali ibn Abi Thalib, dan seterusnya. Segala sahabat itu kesemuanya menyertai pekerjaan dan berjuang bersama Nabi saw. dalam mendirikan agama Islam.

Keempat, al-Akhbar yaitu segala ulama yang besar-besar yang alim lagi muhtadi, yang menyebarkan agama Islam sampai ke akhir zaman. Orang-orang yang mengikuti dan membesarkan segala ulama sama halnya dengan mengikuti dan membesarkan segala Nabi dan Rasul, yang berarti juga patuh terhadap Allah swt.

Kelima, al-Insan yaitu manusia yang tiada lain makhluk yang dijadikan Allah swt. dari tiada kepada ada. Jasadnya dijadikan dari empat anasir: api, angin, air, dan tanah. Manusia terdiri atas jasad dan ruh atau nyawa yang menyebabkan tubuhnya dapat hidup. Manusia menjalani takdirnya masing-masing.

Keenam, al-Awwali yaitu dunia yang juga dijadikan oleh Allah swt. daripada tiada. Ada yang nampak dipandang dengan mata dan pancaindera dan ada yang halus. Segala perbuatan dan kelakuan manusia sebelum dia mati yang tak berguna bagi akhirat, juga disebut dunia walaupun bentuknya seperti perbuatan akhirat. Sebaliknya, perbuatan dan kelakuan sebelum mati yang berguna bagi akhirat walaupun berbentuk dunia, tetaplah dinamai akhirat. Di antara syurah dunia yang tak berfaedah bagi akhirat seperti bermegah-megah, menumpuk harta kekayaan, takabur, dan pelbagai perbuatan tercela lainnya. Sebaliknya, berbuat adil dan menyenangkan hati rakyat, misalnya, akan jelas kebaikan dan pahalanya, sangat berfaedah bagi akhirat dan bermanfaat bagi dunia.

Ketujuh, al-Akhirat yaitu kesudahan pekerjaan dan perjalanan manusia. Bermulanya dari keluarnya ruh dari badan, masuk ke alam barzah yang zahirnya kubur, yang dapat berupa kebun dari beberapa kebun surga atau satu galian dari beberapa galian api neraka. Yang hidup di dalam surga adalah mereka yang sa’adah, mati dalam hasanul khatimah, yang diampuni Allah segala dosanya. Yang tinggal di dalam neraka adalah mereka yang syaqawah yakni yang mati tak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Itulah ikhtisar tujuh kata utama pada bab awal Kitab Pengetahuan Bahasa. Mengapakah ketujuh kata itu yang pertama sekali diperikan RAH di dalam kamusnya? Jawabnya tiada lain bahwa pengkajian bahasa adalah ilmu untuk mencapai makrifat yakni mengenali Allah dan segala kewujudannya, memperteguh keimanan dan ketakwaan, serta mempertinggi adab-pekerti yang mulia. Itulah sandaran utama setiap ilmuwan Islam ketika mereka membahas ilmu bahasa. RAH menyimpulkannya sebagai berikut.

“… segala manusia itu apabila mengenal makrifat yang tujuh dan pengetahuan yang tujuh … itu serta beriman akan dia, niscaya sempurnalah akalnya dan berbedalah ia dengan binatang pada pihak pengetahuannya.”

Padahal, kata RAH, tiada beda antara manusia dan binatang, kecuali pada akal-budi dan ilmu yang makrifat itulah. Itulah sebabnya, bahasa harus dipelajari dan diajarkan secara benar dan baik supaya diperoleh ilmu yang benar dan adab yang santun.

Di dalam muqaddimah karya bidang bahasanya yang ditulis lebih awal yakni Bustan al-Katibin (1850) RAH menegaskan perhubungan antara kemahiran berbahasa, ilmu yang tinggi, dan adab-pekerti yang mulia.

“Bermula kehendak ilmu perkataan pada jalan berkata-kata karena adab dan sopan itu daripada tutur kata juga asalnya, kemudian baharulah pada kelakuan. Bermula apabila berkehendak kepada menuturkan ilmu atau berkata-kata yang beradab dan sopan, tak dapat tiada mengetahui ilmu yang dua itu yaitu ilmu wa al-kalam (ilmu dan pertuturan). Adapun kelebihan ilmu wa al-kalam amat besar …. Ini sangat zahir pada orang yang ahli nazar (peneliti).”

Jelaslah bahwa RAH memandang begitu pentingnya kedudukan bahasa bagi manusia. Untuk apa? Agar manusia mampu mencapai taraf orang yang beradab sopan, berakal-budi, dan berilmu yang tinggi lagi bermanfaat.

Dalam muqaddimah karya yang disebut terakhir itu, lebih awal beliau telah menjelaskan hal ini.

“… kelebihan akal dan adab itu tiada sebab bangsa dan sebab asal. Jikalau beberapa pun bangsa jika tiada ilmu dan akal dan adab, ke bawah juga jatuhnya yakni kehinaan juga diperolehnya…. Buah akal itu menaikkan ikhtiar…barang siapa jahat adabnya sia-sialah bangsanya…. Apabila tiada ilmu dan akal, alamat tiadalah ia mencium bau kemuliaan dan sangatlah jinak kehinaan kepadanya…. Maka tatkala itu hukumnya badan itu seperti binatang” karena akal telah keluar dari tubuh sehingga laknat Allah akan datang karena ketiadaan ilmu.

Atas dasar itu RAH menekankan pentingnya tertib bertutur dan berbahasa. Pasal apa? Pasal, bahasa menjadi dasar pembinaan ilmu dan adab-pekerti. Itulah sebabnya, setiap orang harus memahiri bahasa secara benar dan baik, terutama harus dikaitkan pembelajaran bahasanya dengan matlamat untuk mencapai makrifat mengenali Allah, mengagungkan-Nya, dan mensyukuri nikmat dan rahmat ilmu dan akal yang dianugerahkan-Nya sehingga manusia menjadi makhluk yang lebih mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain.

Memang tak terbantahkan bahwa manusia menjadi berbeda dari hewan, misalnya, karena manusia memiliki bahasa. Dengan bahasanya, manusia memiliki kebudayaan sehingga terus dapat memperbaiki dan memperbaharui kehidupan hingga sampai ke puncak tamadunnya yang tertinggi. Dalam hal ini, RAH berpandangan sangat maju dan modern, yang bahkan melampaui ilmuwan yang menyebut dirinya modern sekalipun. Itulah sebabnya, banyak ilmuwan modern yang salah dalam memahami filsafat dan ilmu bahasa yang dikembangkan oleh RAH.

Mengkaji bahasa untuk memuji kebesaran Allah dengan segala konsekuensi ikutannya: keimanan, ketakwaan, adab, sopan-santun, dan ketinggian budi pekerti. Dapat dipastikan, berawal dari niat yang suci dan jalan yang ditempuhnya benar, bahasa yang dibina oleh RAH menjadi bahasa nasional beberapa negara karena rahmat yang dicurahkan oleh Allah swt. Niat dan jalan yang benar itu jugalah yang memungkinkan Allahyarham Raja Ali Haji diangkat menjadi Pahlawan Nasional dan Bapak Bahasa Indonesia oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 6 November 2004. Semoga Allah menempatkan penulis Kebun Para Penulis ini di Kebun Surga-Nya yang paling indah.***

Batam Pos, Ahad, 30 Januari 2011

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...