Sabtu, Juni 09, 2012

BUKIT LARANGAN

BUKIT LARANGAN
oleh Abdul Malik

"Kuberitahukan kepada kalian, kita akan naik ke bukit itu. Hanya bukit itu harapan kita untuk bertahan kini." Gema suara Wak Entol memecah di ruang pertemuan rahasia itu. Dia menatap anak buahnya satu per satu dengan sorotan mata yang tajam, berwibawa.

"Tapi, itu bukit larangan, Paduka. Tak ada seorang pun orang kampung ini yang berani naik ke sana," Mat Sengih, orang kepercayaan utama Wak Entol, menyela instruksi bosnya. Di dalam Geng Entol memang hanya Mat Sengih yang berani menyela atau membantah ucapan Wak Entol. Dan, kebiasaan itu kerap dilakukannya.

Muka Wak Entol merah padam dan matanya melotot bagai hendak meloncat keluar. Dia memandang Mat Sengih seperti hendak menerkam anak buahnya itu. Mat Borak, orang kedua kepercayaan Wak Entol, sangat berharap Wak Entol mencekik Mat Sengih sampai mati. Namun, Wak Entol rupanya hanya menggertak saja. Dia tak berani atau terlalu sayang kepada Mat Sengih. Untuk terlihat tetap berwibawa, dia membentak saja.

"Kau, Mat Sengih. Semua ini engkau punya pasallah. Banyak biaya yang harus kita keluarkan karena ulah kau itu. Persediaan kita hampir habis. Jangan kaucoba melawan aku lagi. Ingat, kau itu anak bawang. Kalau bukan karena aku, tak ada orang yang mau memandang kau. Aku yang membesarkan engkau!"

Mat Sengih diam saja, tak menjawab sergahan bosnya. Dalam hati dia menyumpah, "Temberang punya bos. Kau sentuh aku, mampus kau kubuat. Semua rahasia kau ada padaku. Dengan satu sentuhan lunak, semua orang kampung ini akan tahu. Kau akan dikepung dan dicencang sampai lumat."

Rahasia itulah yang menyebabkan Wak Entol tak dapat berbuat banyak, bahkan tak berkutik, terhadap Mat Sengih. Apakah rahasianya, hanya mereka berdua yang tahu persis walau di antara anggota geng itu beredarkan kabar angin. Dia hanya mampu menggertak. Itu pun di depan orang supaya tak hilang wibawanya. Di belakang dia selalu menghiba kepada Mat Sengih agar bersabar untuk menggantikannya. Anehnya, dia tetap berusaha untuk mencekik Mat Sengih tanpa diketahui orang. Akan tetapi, bukan Mat Sengih namanya kalau dia tak mengantisipasi kesemua kemungkinan itu. Karena sejak awal telah bergabung dengan Wak Entol, Mat Sengih jadi sangat hapal akan pikiran, sikap, dan perangai bosnya itu. Dia pun telah bersumpah di hadapan bosnya bahwa jika Wak Entol berani mengusiknya, dia akan menghancurkan pemimpinnya itu.

Tinggallah Mat Borak yang kecewa berat. Dia tetap berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Walaupun begitu, dia masih setia menanti dukunnya dapat membunuh Mat Sengih dari jarak jauh. Jika perlu, Wak Entol juga dapat dibunuh dengan cara gaib itu. Itulah satu-satunya harapan yang membolehkan dia menjadi pucuk pimpinan geng.

"Dengarkan baik-baik. Tak ada tahyul di atas bukit itu. Jangan kalian ikut kepercayaan orang kampung ini. Yang ada hanyalah keajaiban yang nyata. Seorang dukun ternama telah menyampaikan hasil tenungannya kepadaku. Di puncak bukit itu ada telaga ajaib yang airnya sangat bening dan senantiasa penuh, tak pernah berkurang sepanjang masa. Siapa pun yang dapat mandi dengan menggunakan air telaga itu akan berumur panjang. Bukan itu saja. Lebih ajaib lagi, air telaga itu dapat berubah jadi apa saja, tergantung pada permohonan kita kepada penunggu telaga. Jika kita minta duit, air telaga akan berubah jadi uang, bahkan boleh diminta juga mata uang apa saja dan berapa pun jumlahnya, tanpa batas. Kita boleh bermohon agar air itu menjadi real estate, emas, permata, mobil mewah, istana, dan sebagainya. Pokoknya, bergantung kepada niat kita dan permohonan kepada sang penunggu. Siapa pun yang berhasil naik ke puncak bukit itu akan dikabulkan permintaannya karena dianggap telah berusaha keras. Nilainya tak habis tujuh puluh tujuh keturunan. Jika kita mendapatkannya, geng kita akan abadi menguasai kampung ini. Kita harus segera naik ke bukit itu. Jika perlu, malam ini juga!"

Terlepas dari perbedaan kecil di lingkungan gengnya, gagasan Wak Entol untuk naik ke bukit larangan disetujui secara aklamasi. Mufakat sudah bulat: lebih cepat lebih baik. Jadi, malam ini juga!

Semua persiapan sudah diatur, termasuk dukun. Rupanya, walau tegas mengatakan tak takut, Wak Entol ternyata ngeri juga. Dukun dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan gaib di bukit itu. Orang kampung percaya, siapa yang berani naik ke bukit itu akan hilang secara misterius. Kesemua anak buahnya dikerahkan Wak Entol untuk misi yang amat penting ini. Tak ada yang tinggal, kesemuanya dikerahkan keluar kandang.

Mat Borak menggunakan rencana ketiga setelah rencana pertama dan kedua belum juga berjaya. Apa lagi, dukun yang dipercayainya ternyata juga digunakan oleh Wak Entol. Dengan rencana ini, dia yakin impiannya untuk memimpin Geng Entol akan tercapai. Dan, jika itu jadi kenyataan, nama geng akan diubahnya menjadi Borack's Gang, sebuah nama yang keren untuk mafia modern.

Malam demikian pekat. Nampaknya akan turun hujan badai tak lama lagi. Wak Entol sangat gembira karena cuaca yang buruk itu. Orang-orang kampung tentu tak berani keluar rumah dan tidur lebih awal.

Wak Entol dan geng lengkapnya, termasuk pasukan parang dan pasukan panah, bergegas menuju bukit menembus malam yang gulita itu. Hanya sekitar setengah jam berjalan setengah berlari mereka sampai persis di kaki bukit. Wak Entol sudah membayangkan indahnya meraup keuntungan 75 persen dari harta yang diperoleh di bukit itu. Sisanya untuk anak buahnya seperti lazimnya pembagian penghasilan di dalam geng.

Dengan penghasilan terbaru itu nanti, dia dan keluarganya akan terjamin memimpin geng karena tetap memiliki saham mayoritas. Apa lagi “kebijaksanaan”-nya memimpin geng telah teruji selama ini. Wak Entol tersenyum menyeringai membayangkan laba dan indahnya hidup di dunia ini. Dalam hati dia berkata:

"Alangkah bebalnya orang kampung ini. Beruntunglah aku berada di lingkungan mereka, para animal yang lugu dan lucu!" Dia tersenyum lagi, menyeringai.

Awal malam disertai angin ribut dan petir sabung-menyabung. Tak cahaya lain di langit, kecuali kilat yang delis-berdelis. Geng Entol dengan anggota yang lengkap menembus malam yang menggerunkan itu dengan semangat menyala-nyala. Wak Entol dan gengnya segera akan mendaki bukit. Tekadnya dan anak buahnya semakin bulat dan kuat.

"Hei, Entol keparat. Pengkhianat kau ya? Kata kau akan menjaga kampung ini bersama kami dan semua penduduk kampung, termasuk menjaga pantang-larangnya. Ternyata kau berpaling tadah. Sungguh nista engkau, Entol," suara Wak Parah melengking keras di tengah angin malam yang makin menggila itu. Topan dan badai bergabung membuat malam semakin menggelap pekat.

Bersamaan dengan itu, Wak Parah keluar dari semak-semak bersama anak buahnya, ketua kampung, dan semua orang kampung. Bahkan, di antara mereka ada pula kanak-kanak. Rupanya rencana rahasia Wak Entol bocor dan diketahui oleh Wak Parah.

Wak Parah musuh besar Wak Entol. Begitu mengetahui rencana Wak Entol, dia segera mengumpulkan anak buahnya. Ketua kampung dan kesemua orang kampung juga dikumpulkannya dan disampaikannya rencana rahasia Wak Entol.

Ketua dan orang kampung sangat terbakar setelah mendengarkan cerita Wak Parah. Walau tak terlalu percaya, mereka bersedia diajak Wak Parah untuk menyergap Wak Entol di kaki bukit. Mereka berangkat sebelum gelap dan bersembunyi di semak-semak di sekitar kaki bukit. Geram dan was-was berbaur di dalam diri orang-orang yang bersembunyi di kaki bukit itu.

Bukan main terkejutnya Wak Entol tertangkap basah oleh Wak Parah dan orang kampung. Dia tahu pasti, tentu ada di antara anak buahnya yang berkhianat, tetapi dia tak mau memikirkan hal itu pada saat genting ini. Dia berupaya sekuat dapat untuk menguasai diri.

"Oh, rupanya baru sampai di kaki bukit ini, Saudaraku Parah. Kami kira Saudaraku telah sampai di puncak bukit. Aku mendapat laporan, Saudaraku bersama geng akan mendaki bukit ini. Sebab itu, aku bersama gengku mengejar Saudaraku untuk mencegahnya. Itu perbuatan terkutuk dan dipantangkan dalam tradisi masyarakat kita. Aku juga khawatir Saudaraku and Geng akan terkena bala, termakan sumpah nenek-moyang."

Wak Entol membusungkan dadanya tanda kemenangan. Dia mematut-matut diri di dalam gelap itu sambil tersenyum menyeringai, senyum khas miliknya seorang. Tembakannya tepat ke arah kening Wak Parah.

Ketua dan orang kampung mengalihkan perhatiannya kepada Wak Parah. Mereka memandang Wak Parah dengan jijik. Ada yang meludah berkali-kali karena muak melihat Wak Parah. Mereka patut berbalik curiga kepada Wak Parah dan gengnya karena suatu ketika dahulu Wak Parah pernah berusaha naik ke bukit itu. Untunglah, baru sampai di pinggang bukit mereka disergap oleh Wak Entol dan orang kampung karena rencananya diketahui oleh Wak Entol. Sejak itu orang kampung sangat percaya kepada Wak Entol, sebaliknya sangat curiga terhadap Wak Parah dan gengnya. Nasib Wak Parah semakin parah. Itulah sebabnya, dia berupaya berbuat baik kepada orang kampung untuk mengembalikan kepercayaan yang hilang itu. Kini mata panah malah dibalikkan Wak Entol ke arahnya.

"Hei, Entol pembohong dan penipu. Kalau aku yang berkhianat, takkan kubawa ketua dan orang kampung bersamaku. Karena aku mengetahui rencana jahat kaulah, aku bawa mereka untuk menjadi saksi kebejatan kau sekaligus untuk menangkap kau dan anggota Geng Entol!" balas Wak Parah. Wajahnya merah menghitam menunjukkan dia sangat geram.

"Oh, kalau begitu kita sama-sama difitnah, Saudaraku. Ada orang yang berniat jahat yang ingin menghancurkan kita berdua dan geng kita. Nama baik kita sebagai pemimpin karismatik dicemarkan orang," jawab Wak Entol sambil mendekati Wak Parah dan langsung memeluk musuhnya itu.

Wak Parah hendak mengelak dari rangkulan Wak Entol. Namun, dia tak berhasil. Wak Entol ternyata lebih cepat dan sigap daripada gerakan elakan Wak Parah yang sedikit lamban.

"Ketua kampung dan Saudara sekalian. Marilah kita akhiri kesalahfahaman ini. Rupanya ada orang yang berusaha memfitnah saya dan saudara saya Parah ini. Yakinlah, bahwa saya dan saudara saya ini takkan pernah berkhianat kepada Saudara-Saudara dan kampung ini. Syukurlah, bukit ini masih terpelihara dengan baik dan tak ada yang berani melanggar pantang-larang tradisi nenek-moyang untuk menaikinya. Sekarang, marilah kita pulang bersama-sama."

Wak Entol menempelkan pipi kiri dan kanannya ke pipi Wak Parah. Dia juga melakukannya terhadap Ketua Kampung. Bahkan, pipinya lebih lama ditempelkan ke pipi ketua kampung. Senyumnya makin menyeringai, khas dan bermakna. Anak buah mereka masing-masing bertepuk tangan, horeeeee …..

Mat Borak sangat gugup menyaksikan kejadian itu. Wajahnya berubah pucat lesi. Untunglah malam begitu gelap sehingga orang-orang tak melihatnya. Lagi pula, orang-orang begitu terpukau oleh perkataan dan akting Wak Entol sehingga tak hirau akan kejadian yang lain.

"Tamatlah riwayatku," pikir Mat Borak. Wajahnya semakin pucat dan kedua kakinya betul-betul gontai. Tenaganya nyaris sirna begitu saja dan bibirnya bergemetar cepat.

Menangkap kegelisahan Mat Borak, Wak Parah mengernyitkan matanya kepada anak buah Wak Entol itu. Tak ada yang melihat kode mata Wak Parah, kecuali Mat Borak. Bukan main senangnya hati Mat Borak mendapat jaminan kedipan mata dari Wak Parah. Perlahan wajahnya memerah dan kedua kakinya menjadi kuat dan tegap kembali.

Ketua dan orang kampung hanya melongo saja. Nampak sekali mereka sangat bingung. Manakah di antara kedua orang itu yang dapat dipercayai. Dalam kebingungan orang kampung itu, Wak Entol mengajak mereka pulang. Dia, Wak Parah, dan Ketua Kampung berjalan beriringan memimpin di depan sambil bergandeng tangan. Anak buah membuat barisan lurus di belakang pemimpin mereka masing-masing. Barisan orang-orang yang, konon, akan setia menjaga kampung halaman.

Di puncak bukit itu makhluk-makhluk aneh yang sejak awal menyaksikan kejadian di bawah bukit dan berencana berpesta pada malam berangin ribut itu, terpaksa menunda pestanya. Mereka hanya bernyanyi dan bersiul lagu "Naik-Naik ke Puncak Bukit dan Kapan-Kapan" yang diaransemen dengan sendu mendayu-dayu berupa persepaduan irama slow rock dan mak inang sayang klasik sambil memandangi rombongan yang meninggalkan kawasan bukit larangan itu yang kian lama kian menjauh.

Tak ada yang tahu isi pikiran makhluk-makhluk aneh itu. Koor mereka semakin menyayat, "Kapan-kapan . . . ."***

Perjalanan Johor--Tanjungpinang
Ahad, 1 April 2012

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...