Minggu, Juni 10, 2012

MENJEMPUT TUAH MENJUNJUNG MARWAH

MENJEMPUT TUAH MENJUNJUNG MARWAH
oleh Abdul Malik

LAZIMLAH dalam setiap bahasa ada kata-kata yang bersinonim. Artinya, beberapa kata memiliki arti yang mirip atau lebih kurang sama. Walaupun begitu, kemiripan arti taklah berarti bahwa kata-kata yang bersinonim itu memiliki arti yang persis sama, apakah secara leksikal (arti kata seperti di dalam kamus) lebih-lebih secara kontekstual (arti kata sesuai dengan lingkungan pemakai dan pemakaiannya).

Kata tuah, misalnya, memang bersinonim dengan untung, keunggulan, keistimewaan, dan sebagainya; tetapi di dalam kumpulan kata yang searti itu kata tuah mengandungi keunggulan dan keistimewaan makna secara sosio-kultural bagi orang Melayu. Begitu pula halnya dengan kata marwah. Kendatipun searti dengan harga diri, kepribadian, dan nama baik; kata marwah dinilai jauh lebih sakral maknanya. Oleh sebab itu, untuk mengungkapkan perihal ‘keberuntungan’ dan ‘harga diri’ yang mengarah kepada sesuatu yang bersifat suci dan atau keramat; orang Melayu akan menggunakan ungkapan tuah dan marwah.

Seseorang perempuan, lebih-lebih perempuan muda, yang berparas cantik dan seseorang laki-laki, apa lagi laki-laki muda, yang berwajah tampan dapat dikatakan memiliki tuah, terutama jika dibandingkan dengan orang lain yang kualitas rupanya di bawah dirinya. Akan tetapi, keberadaan tuah bawaan itu baru bersifat potensial. Seseorang yang memiliki keberuntungan itu harus menyerasikannya dengan kualitas budi. Budi bukanlah sifat bawaan, melainkan harus dijemput, harus diperjuangkan. Cara menjemput budi melalui proses belajar, baik di lingkungan keluarga, di dalam masyarakat, maupun di lembaga pendidikan. Menyepadukan kualitas wajah dan kualitas budi itulah yang disebut menjemput “tuah diri” bagi manusia. Ungkapan “menjemput” itu jadinya bermakna dan bernilai perjuangan. Keserasian wajah dan budi itulah seperti yang pernah saya tulis dalam tulisan yang lain disebut sebagai kesebatian seri gunung dan seri pantai, yang seyogianya menjadi dambaan setiap insan.

Seseorang atau sekelompok orang di dalam suatu masyarakat, sama ada kecil ataupun besar ukuran kelompoknya, baru rela menjemput tuah kalau dia atau mereka menghayati makna marwah. Tanpa kesadaran marwah, manusia tak pernah acuh akan kualitas diri. Jika contoh di atas yang diambil kembali, dengan keelokan paras dan atau kekuatan fisik yang dimilikinya, anak manusia boleh berbuat apa saja demi keuntungan pragmatis sesaat. Bukan tak mungkin perbuatan yang dilakukannya itu dapat berdampak negatif bagi dirinya sendiri apa lagi bagi orang lain. Akan tetapi, karena tak didasari kesadaran marwah, lebih-lebih kalau terpaan hedonistis begitu membara, dia tak akan memedulikan atau bahkan memang tak memahami kesemuanya itu. Sebaliknya pula, orang yang menjunjung marwah, memuliakan jati diri, memelihara kehormatan diri, menjaga nama baik; akan terus berjuang menjemput tuah dalam hidupnya. Alhasil, dalam kehidupan ini keserasian, keselarasan, kesanggaman, dan kesebatian “menjemput tuah” dan “menjunjung marwah” menjadi kunci mutu manusia.

Dari tuah orang perorangan atau sekelompok orang, kita beralih ke tuah negeri. Jika suatu negeri dikaruniai sumber daya alam yang berlimpah ruah, berarti negeri itu memiliki tuah potensial. Tuah itu pun tak berarti apa-apa kalau tak dijemput. Menjemput tuah dalam hal ini bermakna memperjuangkan dengan bersungguh-sungguh agar kekayaan sumber daya alam itu betul-betul dapat menyejahterakan masyarakat dan memakmurkan negeri. Menyejahterakan masyarakat berarti memperjuangkan kualitas hidup masyarakat dalam kesemua bidang kehidupan agar terus meningkat ke arah yang lebih baik dengan memanfaatkan tuah kelimpahan sumber daya alam yang dimiliki oleh negeri.

Selanjutnya, memakmurkan negeri berkelindan dengan kualitas negeri terus membaik, baik penataan fisik wilayahnya maupun keberadaan sosio-budaya masyarakat yang mendiaminya. Bertambahnya lingkungan selekeh (slum area), meningkatnya kekerasan di dalam masyarakat, dan menurunnya kualitas ketenangan hidup merupakan sebagian dari indikator menurunnya kualitas kemakmuran negeri. Dalam keadaan negeri berlimpah kekayaan alam, tetapi pergaduhan (perkelahian) memperebutkan hasilnya terus berkecamuk dari hari ke hari; berarti anugerah yang seharusnya menjadi tuah ternyata berubah menjadi musibah. Kenyataan itu juga menunjukkan bahwa negeri itu kekurangan sumber daya manusia yang berkualitas pada kesemua peringkat kemasyarakatan. Akibatnya, tuah negeri justeru diambil alih oleh orang atau negeri lain. Intinya, negeri itu gagal menjemput tuahnya.

Berhasil atau gagalnya sesebuah negeri menjemput tuahnya sangat bergantung kepada kesadaran dan kesetiaan anak negerinya menjunjung marwah diri dan negeri. Yang dimaksud dengan anak negeri tak lain dari kesatuan secara keseluruhan penguasa dan masyarakat negeri itu. Kesadaran akan nilai-nilai marwah diri dan penghayatan terhadap nilai-nilai marwah negeri memungkinkan anak negeri untuk berjuang memakmurkan negerinya. Secara perorangan atau bersama-sama, sama ada dia penguasa atau rakyat jelata, yang biasa saja lebih-lebih yang terpelajar terkemuka; mereka akan menanggung malu jika kelimpahan potensi negerinya tak mampu dimanfaatkan untuk memakmurkan negeri. Dia pun tak akan tergamak dan sampai hati jika kekayaan negerinya hanya dapat dinikmati oleh dirinya sendiri dan segelintir orang di kanan kiri, apa lagi kalau hanya untuk memuaskan syahwat kekuasaan yang tak terkendali. Bahkan, aib terbesar bagi dirinya jika justeru orang lain atau negeri lain yang mendapat keuntungan sebesar-besarnya dari kekayaan negerinya. Kesadaran dan kesetiaan itu akan memacu dan memicu mereka secara bersama-sama berjuang untuk mengembalikan marwah negeri.

Menjemput tuah menjunjung marwah merupakan perjuangan kultural. Nilai-nilainya harus terus kekal di dalam diri masyarakat yang meyakini kesucian dan kekeramatannya. Jika nilai-nilai sakral itu terus tergerus, masyarakat yang selama ini meyakini dan mengamalkannya untuk kemudian tak lagi memedulikannya akan kehilangan jati diri. Puing-puing masyarakat itu selanjutnya melanjutkan kehidupan tanpa roh kultural yang dapat dipedomani dan menyemangatinya. Mereka akan terombang-ambing di atas gelombang samudera luas kehidupan yang tak bertepi. Pada gilirannya, keberadaan mereka di dalam masyarakat global tak lagi diperhitungkan. Karena apa? Karena tak ada lagi kekhasan yang mustahak diperhitungkan pada diri mereka. Yang muncul ke permukaan hanyalah kelemahan belaka sebab keunggulannya telah lesap dan lenyap mereka tenggelamkan sendiri. Dalam keadaan seperti itu, mereka dengan mudah ditarik ulur untuk pelbagai kepentingan, yang kesemuanya menguntungkan orang lain, negeri lain, dan atau bangsa lain.

Tanpa semangat menjemput tuah menjunjung marwah, jatuhlah sebuah bangsa ke jurang terdalam dan terkelam dari tragedi kekalahan. Mereka hanya menjadi jasad tanpa roh kultural yang dapat dibanggakan dan membanggakan. Itulah piala “terhormat” bagi para kecundang atau pecundang di dalam dunia yang memang penuh persaingan. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi itu bukan diperoleh secara cuma-cuma atau gratis di dunia ini kendatipun kita memiliki negeri yang elok dan berlimpah ruah. Lebih-lebih dalam era dan rezim politik serta ekonomi yang menjadi panglima ini, hutan tanah dan kebun kita boleh menjadi milik orang dalam sekelip mata saja jika kita silap atau kurang siasat.

Tak ada jaminan bahwa pekik, “Kami adalah ahli waris sah negeri ini!” akan menggerunkan orang jika tak kita perjuangkan dengan bersungguh-sungguh dan secara bersama-sama. Maka itu, jemputlah tuah dan junjunglah marwah diri dan negeri yang tercinta ini. Hanya itulah yang akan menyelamatkan kita dan anak-cucu kita secara berketurunan kelak, selain dari inayah Allah.***

Batam Pos, Ahad, 11 Maret 2012

Artikel bersempena

  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini ...