Kamis, Juni 07, 2012

ORANG PENTING

ORANG PENTING
oleh Abdul Malik

ALHASIL tercapai juga cita-cita Wak Entol untuk untuk menjadi orang penting. Program "Menjual Kampung" yang dicanangkannya ternyata disambut masyarakat dengan antusias.

"Saudara-Saudara senasib-sepenanggungan,

Kita harus mengubah nasib. Untuk itu, kita harus menjual kampung kita ini agar dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman!" Itulah kampanye Wak Entol kepada masyarakat kampung.

"Kalau kampung kita dijual, kita harus tinggal di mana, Wak Entol?" tanya seorang pemuda kampung yang menganggap aneh gagasan yang dijual Wak Entol.

"Saudara jangan memahami gagasan cemerlangku secara harfiah. Maksudku, kita promosikan potensi kampung ini kepada investor agar mereka tertarik untuk menanamkan modalnya di sini. Mereka boleh berinvestasi dalam bidang pertanian, perikanan, dan industri yang potensinya sangat menjanjikan di kampung ini. Nanti pendapatan kalian akan meningkat seribu persen, lapangan kerja bertambah seribu kali lipat, dan kampung ini akan maju seribu kali lebih hebat dari sekarang. Itu maksudku," Wak Entol menjelaskan programnya dengan suara lantang di depan orang kampung.

"Hebat, luar biasa Wak Entol. Fantastis dan bergeliga otak Wak Entol," pekik orang kampung serentak. "Itu baru namanya pemimpin kami."

"Kalian tak perlu memujiku berlebihan. Yang pasti, aku berupaya keras membuat hidup kalian berubah dari sekarang."

Dipendekkan cerita, jadilah Wak Entol orang penting dengan kampanye programnya itu. Kini dia dan anak buahnya mulai melaksanakan program perubahannya.

Berdasarkan petunjuk dan perintahnya, anak buah buahnya mulai mengumpulkan surat tanah orang kampung. Upayanya itu mendapat tantangan dari pemuda yang bertanya kepadanya dulu waktu dia kampanye.

"Mengapa pula surat tanah kami engkau kumpulkan, Wak Entol? Hendak engkau jual kepada investor yang kausebut kemarin ya?"

"Aku tak serendah itu," jawab Wak Entol tegas sambil menatap wajah pemuda yang menentangnya. "Aku hendak meyakinkan calon investor tentang jumlah lahan yang kita miliki. Mereka perlu bukti surat tanah."

Sang pemuda masih ragu akan niat Wak Entol. Memperhatikan gelagat itu, tokoh masyarakat kampung itu meyakinkan si pemuda, "Kita harus percaya kepada Wak Entol, ya Awang. Niatnya tulus dan ikhlas ingin membantu kita. Tak mungkin ada niat jahat."

Si Awang, pemuda itu, menjadi tak berdaya setelah diyakinkan oleh tokoh masyarakat mereka. Padahal, dia tetap meragukan niat Wak Entol.

Wak Entol membusungkan dadanya karena dipercayai oleh tokoh masyarakat kampung. Dijelingnya Si Awang dengan ekor mata kirinya dengan pandangan mengejek seorang pemenang kepada orang yang kalah.

Tak sampai sepekan selesailah pekerjaan Wak Entol mengumpulkan surat tanah orang kampung itu. Lalu, dia pun pergi dari kampung itu membawa surat tanah orang kampung yang akan ditunjukkannya kepada calon investor di seberang.

Seminggu, lalu sebulan, Wak Entol belum juga kembali ke kampung. Orang kampung mulai gelisah. Ada fenomena aneh yang melanda kampung itu. Seminggu terakhir ini langit di atas kampung itu terus ditutupi awan hitam yang amat tebal, tetapi tak juga turun hujan. Kilat dan petir terus saja menggelegar sepanjang hari.

Tepat 40 hari setelah kepergian Wak Entol, datanglah serombongan orang ke kampung itu dengan menaiki kapal feri yang canggih. Kebanyakan dari mereka berbadan tinggi besar lagi tegap. Sesampainya di kampung itu, pemimpinnya menemui tokoh masyarakat kampung. Dia meminta tokoh masyarakat untuk mengumpulkan orang kampung semuanya karena ada pengumuman yang akan disampaikan.

"Wahai orang kampung sekalian," pemimpin rombongan itu memulai pengumumannya, "keinginan kalian untuk menjual tanah dan kampung kalian melalui wakil kalian Orang Penting Wak Entol telah kami setujui. Kami pun telah membayarnya melalui Wak Entol. Sekarang semua tanah dan kampung ini menjadi milik kami. Pekan depan kami akan membangun sebuah casino termegah di dunia di tempat ini. Dalam tiga hari kalian harus meninggalkan kampung ini!"

"Bukan begitu perjanjian kami dengan Wak Entol bedebah itu," teriak tokoh masyarakat.

"Bukan begitu, bukan begitu, bukan begitu . . . " pekik orang-orang kampung yang lain.

Tiba-tiba turunlah hujan demikian lebatnya disertai angin ribut yang menumbangkan pohon-pohon di sekitar tempat itu. Kilat dan guruh bersahut-sahutan dan sambar-menyambar. Orang-orang kampung menyerbu tamu yang baru datang itu. Akan tetapi, mereka tak sempat sampai ke sasarannya karena orang-orang tinggi besar dan tegap lebih dulu menghujani mereka dengan tembakan membabi buta. Banyaklah orang kampung yang tewas di tengah cuaca gelap dan hujan ribut itu. Keadaan sangat huru-hara dan haru-biru. Orang kampung yang selamat berusaha melarikan diri tak tentu arahnya lagi.

Wak Entol dan anak buahnya menyaksikan kejadian itu dari atas bukit di kampung itu. Begitu ada orang kampung yang tertembak dan jatuh tersungkur, Wak Entol berteriak, "Wow!" sambil ketawa menyeringai. Anak buah Wak Entol juga ketawa terkekeh-kekeh sambil memikul berpeti-peti uang dalam bentuk mata uang asing.

Si Awang ternampak akan Wak Entol dan anak buahnya di atas bukit itu. Dia dan kawan-kawannya, para pemuda kampung itu, berusaha mengejar Wak Entol dan anak buahnya. Wak Entol dan anak buahnya pun lari meninggalkan bukit itu menuju speed boat mereka sambil mengejek Si Awang dan para pemuda kampung. Sambil berlari itu Wak Entol dan anak buahnya menyanyikan lagu "Kudaku Lari" yang lirik dan iramanya telah diubah suai menjadi heavy metal yang dipadu zapin negeri dan mereka terus terbahak-bahak.***

Artikel bersempena