Sabtu, Januari 21, 2012

PATRIOTISME HANG TUAH

KARYA sastra klasik Melayu yang paling kuat pengaruhnya terhadap patriotisme adalah Hikayat Hang Tuah. Pengaruh itu paling terasa terutama bagi masyarakat Melayu walaupun masyarakat lain yang pernah membacanya juga sangat mungkin untuk merasakan sentuhannya. Di kalangan orang Melayu pengaruh Hikayat Hang Tuah—khasnya pengaruh tokoh-tokohnya Hang Tuah, Hang Jebat, dan Bendahara Paduka Raja—telah berlangsung sejak zaman-berzaman hingga sekarang. Nilai-nilai yang terkandung di dalam hikayat ini, termasuk nilai patriotisme, menjadi pedoman nilai dalam hidup bagi orang Melayu, baik generasi tua maupun generasi muda. Inilah contoh karya sastra yang tak lekang dek panas dan tak lapuk dek hujan.

Di samping yang memang telah diterima dan dipahami selama ini, nilai-nilai yang dikandungnya terus mengalami reinterpretasi, terutama oleh kalangan muda. Di antara nilai-nilai yang kerap menjadi perdebatan ialah nilai utama yang menjadi tema Hikayat Hang Tuah yaitu kesetiaan dan ketaatan. Begitu pula nilai-nilai keadilan, kebijakan, kearifan, persahabatan, cinta-kasih, kerja sama, kerja keras, dan sebagainya yang memunculkan patriotisme terus didalami oleh generasi muda Melayu dewasa ini. Perkara itu memang mustahak karena kesemuanya itulah yang membentuk mentalitas dan jati diri orang Melayu. Pada gilirannya, nilai-nilai baik yang membentuk mentalitas itu menjadi pedoman serta daya dorong dan atau pemacu semangat dalam kehidupan, sama ada untuk berpikir, berasa, bersikap, berkelakuan, belajar, ataupun bekerja.

Prof. Dr. Siti Hawa Haji Salleh dalam bukunya Kelopak Pemikiran Sastera Melayu (Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia, 2009:383—401) menempatkan Hikayat Hang Tuah sebagai epik Melayu yang membanggakan. Pernyataan beliau itu memang tak terbantahkan. Buktinya, sampai kini cerita-cerita di dalam Hikayat Hang Tuah tetap terpatri di dalam minda dan hati sanubari orang Melayu di mana pun mereka bermastautin.

Tujuan dan tema Hikayat Hang Tuah ditempatkan pengarangnya pada permulaan pengisahan. “… Ini hikayat Hang Tuah yang amat setiawan pada tuannya dan terlalu sangat berbuat kebaktian kepada tuannya.”

Jelaslah bahwa Hikayat Hang Tuah dimaksudkan oleh pengarangnya untuk menonjolkan ketokohan Hang Tuah dengan sifatnya yang taat dan setia kepada raja dan negara. Tokoh-tokoh lain diadakan, bahkan dikorbankan, untuk mendukung ketokohan Hang Tuah. Bukan hanya tokoh-tokoh yang tak terlalu ada kena-mengena dengan dirinya, bahkan, sahabatnya yang telah dianggap sebagai saudara kandungnya sendiri, Hang Jebat, harus dibunuh oleh Hang Tuah demi ketaatan dan kesetiaannya kepada raja (dan negara?).

Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu memang menjadi idola orang muda-muda Melayu, terutama Hang Tuah dan Hang Jebat. Kesempurnaan fisik dan sifat mereka sebagai wira (pahlawan) sungguh memesona. Sifat mereka yang rajin menuntut ilmu dan bekerja keras memungkinkan mereka mengubah status diri dari hanya sebatas rakyat biasa menjadi pembesar negara. Mereka memperoleh status itu bukan secara terwaris, melainkan dengan jerih payah yang tanpa mengenal lelah dan putus asa. Keberanian mereka dalam membela negara tak ada tolok bandingnya.

Kecuali itu, jika Hang Tuah disebutkan “mulutnya dengan manisnya berkata-kata”, Hang Jebat pula diperikan oleh pengarang dengan “perkataannya keras”. Guru mereka Sang Aria Putera jauh-jauh hari lagi telah meramalkan bahwa kelima orang bersahabat itu akan menjadi pegawai besar.

Hang Tuah dan ketiga sahabatnya, sekali lagi kecuali Hang Jebat, juga diramalkan akan menerima nasib baik kemudian hari. Bahkan, Hang Tuah diberitahukan akan terbebas dari segala perbuatan hasad-dengki dan fitnah yang dihalakan (diarahkan) kepadanya. Akan tetapi, tak ada alamat baik yang disebutkan untuk Hang Jebat. Kesemuanya itu menjadi isyarat bahwa pada akhirnya Hang Tuah akan dipertentangkan dengan sahabatnya Hang Jebat.

Pada tokoh Bendahara Paduka Raja juga dapat diambil contoh ketaatan dan kesetiaan kepada raja dan negara. Selain itu, dari tokoh ini sangat patut ditiru kebijaksanaan, kearifan, dan kepiawaian dalam menyelamatkan negara dan raja. Dia pun adalah tokoh yang sangat santun berbahasa dan rendah hati. Dalam hal ini, Bendahara terkesan jauh lebih arif daripada raja sekalipun.

Hanya karena jauh lebih tua dan tak bertempur langsung di medan perang, kendatipun dia yang mengatur strategi perang, Bendahara Paduka Raja berada di bawah ketokohan Hang Tuah. Walaupun begitu, nilai-nilai patriotisme sangat ketara pada tokoh Bendahara ini. Ketokohannya mengingatkan orang akan tokoh Demang Lebar Daun di dalam Sulalat al-Salatin (Sejarah Melayu).

Tokoh raja pula diperikan sangat taksa, ambigu. Dia condong mempermainkan keadilan sesuai dengan seleranya, sewenang-wenang, dan sekehendak hatinya. Kebijaksanaannya dalam menyelenggarakan negara dan memerintah membuat pembaca berasa kelam-kabut di dalam hati. Dari kebijaksanaannya yang terkesan tergesa-gesalah yang memunculkan tragedi “pendurhakaan” Hang Jebat.

Hukuman mati yang dijatuhkan kepada Hang Tuah yang selama ini sangat taat dan setia kepada raja dan negara membangkitkan kemarahan Hang Jebat. Raja seolah-olah tak memiliki kecerahan dan kebeningan nurani untuk membedakan kasa dengan cindai; kaca dengan permata. Secara objektif, pengarang seolah-olah hendak menegaskan bahwa selagi bernama manusia, raja pun memiliki kelemahan, di samping kelebihan yang ada padanya. Akan tetapi, para pembaca mempunyai tafsiran lain: “penguasa memang cenderung berlaku zalim.” Alhasil, tindakan Hang Jebat mendapat sokongan setidak-tidaknya dari sebagian pembaca.

Dalam keadaan serupa itu, tak ada jalan lain bagi Hang Jebat, selain menuntut bela. “Raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah,” ungkapannya yang terkenal itu terus terngiang-ngiang di dalam minda dan hati orang Melayu. Ungkapan itu menjadi setara, sejajar, sebanding, dan setanding dengan ucapanan Hang Tuah, “Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, tak Melayu hilang di bumi.” Nampaknya, kedua tokoh ini terus dan selamanya berupaya berebut simpati pembacanya dengan pikiran, perasaan, sikap, dan perilaku khas mereka masing-masing. Tindakan Hang Jebat itu mengingatkan kita akan “Sumpah Setia Melayu” antara Demang Lebar Daun dan Sang Sapurba di dalam Sulalat al-Salatin (Sejarah Melayu). Dalam hal ini, bukankah raja yang mengubahkan (mengingkari) Sumpah Setia itu?

Maka sembah Demang Lebar Daun, “Adapun Tuanku segala anak-cucu patik sedia jadi hamba ke bawah duli Yang Dipertuan; hendaklah ia diperbaiki oleh anak-cucu duli Tuanku. Dan, (jika) ia berdosa, sebesar-besar dosanya pun, jangan ia difadhihatkan, dinista dengan kata yang jahat; jikalau besar dosanya dibunuh, itu pun jikalau berlaku pada hukum syarak.”

Maka titah Sang Sapurba, “Hendaklah pada akhir zaman kelak anak-cucu Bapa hamba jangan durhaka pada anak-cucu kita, jikalau ia zalim dan jahat pekerti sekalipun.”

Maka sembah Demang Lebar Daun, “Baiklah Tuanku, tetapi jikalau anak buah Tuanku dahulu mengubahkan dia, maka anak-cucu patik pun mengubahkanlah.”

Maka titah Seri Tri Buana,”Baiklah, kabullah hamba akan waad itu.”

Maka keduanya pun bersumpah-sumpahlah, barang siapa mengubahkan perjanjiannya itu dibalik(kan) Allah subhanahu wa taala bumbungan rumahnya ke bawah, kaki tiangnya ke atas.



Hikayat Hang Tuah telah berhasil memberikan pengaruh positif terhadap patriotisme masyarakat, terutama masyarakat Melayu. Sampai setakat ini tokoh-tokoh, watak, dan peristiwa yang diceritakan di dalam hikayat itu masih terus menjadi perbincangan. Para pemuda Melayu dihadapkan pada pilihan sulit: hendak berpihak kepada Hang Tuah atau Hang Jebat dalam menunjukkan jati diri Melayu. Apalagi, pengarang memang membuka ruang seluas-luasnya untuk pembaca menentukan sikap dan pilihannya walau ceritanya dipusatkan pada ketokohan Hang Tuah. Dalam hal ini, Hikayat Hang Tuah menjadi karya sastra sejarah (karya sastra yang diangkat dari peristiwa sejarah) yang sangat berhasil menampilkan karakter tokohnya.

Para pakar sejarah, sastra, dan atau budaya boleh melakukan analisis dan interpretasi ilmiah apa pun sesuai dengan bidang ilmu mereka masing-masing. Akan tetapi, khalayak penikmat (entah memang membacanya atau sekadar mendengarkan ceritanya dari orang yang pernah membacanya) mempunyai penilaian tersendiri. Dalam hal ini, pilihan kepada Hang Jebat, justeru, makin mengemuka di kalangan generasi muda Melayu masa kini. Perbedaan ruang dan waktu, barangkali, menjadi penyebab utama peralihan pilihan ke arah “yang berlawanan” itu.***


oleh Abdul Malik pada 27 Desember 2011 pukul 22:31
Batam Pos, Ahad, 25 Desember 2011
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Kamis, Januari 19, 2012

BUDAYA MEMBANGUN

DIAKUI atau tidak, pembangunan yang dilaksanakan selama ini lebih diarahkan pada aspek ekonomi. Alasan yang dikemukakan tiada lain untuk mempercepat tercapainya kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, segala daya yang ada dikerahkan dan pikiran pun sepenuhnya dicurahkan untuk mengejar kemajuan ekonomi, yang malangnya sering melupakan aspek lain. Kata kunci ‘kesejahteraan’ seolah-olah begitu sakral dan menjadi alat pembenaran untuk mengutamakan pembangunan ekonomi dibandingkan aspek lain.

Ternyata, banyak dijumpai program pembangunan ekonomi yang sebagian besarnya gagal, bahkan gagal total. Karena apa? Karena pembangunan itu sesungguhnya bersifat holistik. Program pembangunan ekonomi yang didewakan itu justeru tak membuahkan hasil yang diharapkan kalau aspek lain dialpaan, yang justeru sangat diperlukan untuk menggerakkannya, terutama aspek budaya. Malangnya, tak jarang terjadi aspek budaya itulah yang paling kurang mendapat perhatian di dalam implementasi pembangunan selama ini walau sebagai bumbu retorika politik untuk menarik perhatian rakyat, pembangunan kebudayaan selalu disebut mendapat perhatian penting konon.

Pembangunan mengandalkan manusia sebagai pelakunya. Manusia pelaku pembangunan itu taklah ada dalam keadaan hampa atau kosong sebagai benda mati. Manusia adalah subjek yang hidup dan kehidupannya itu secara terwaris menganut serangkaian nilai budaya. Manusia pelaku pembangunan itu memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya. Nilai-nilai budaya itu pada tataran perseorangan mewujudkan sikap mental yang menjadi penggerak pembangunan, baik pembangunan ekonomi, politik, maupun pembangunan sosial lainnya. Dengan demikian, tak heranlah kita bahwa pembangunan yang mengabaikan aspek budaya dapat dipastikan menuai kegagalan. Jadi, janganlah terlalu heran jika ternyata pembangunan infrastruktur ekonomi seperti jembatan yang megah berusia muda boleh rontok seketika seperti mainan kanak-kanak.

Apa pasal? Untuk menjadi subjek pembangunan, manusia tak hanya memerlukan kemahiran, keahlian, ilmu-pengetahuan, dan teknologi. Lebih daripada kesemuanya itu masih diperlukan unsur utama berupa tata nilai sebagai pedoman berperilaku dan pemacu semangat dalam bekerja. Keahlian serta penguasaan sains dan teknologinya mungkin cukup baik, tetapi kalau tata nilai terhadap kualitas kerja yang dianutnya negatif; hasilnya pastilah kegagalan, kalau tak sampai mengundang malapetaka. Sikap mental yang keropos akan menghasilkan “jembatan” yang keropos pula walaupun manusia yang terlibat dalam pengerjaannya memiliki keahlian serta menguasai sains dan teknologi canggih. Apa bedanya dengan ahli politik yang menyelewengkan tujuan politik bersih (semestinya juga untuk mewujudkan kesejahteraan bersama) karena lemahnya penghayatan nilai-nilai budaya yang diwujudkan pada sikap mentalnya.

Tata nilai yang dipedomani oleh manusia adalah sistem nilai budaya yang sangat abstrak. Ia berupa konsepsi-konsepsi yang hidup di dalam pikiran sebagian besar masyarakat tentang hal-hal yang dianggap baik dalam hidup manusia (lihat juga Kuntjaraningrat, 1985). Sistem nilai budaya itulah yang mengatur kelakuan atau perilaku manusia pada peringkat yang lebih konkret dalam bentuk aturan-aturan khusus, hukum, norma, dan adat-istiadat dalam pelbagai bidang.

Nilai budaya yang bersifat kolektif itu tumbuh di dalam diri manusia dari masyarakat budaya itu secara perorangan. Itulah yang disebut mentalitas. Jadi, mentalitas manusia secara individual itu bersumber dari sistem nilai budaya di dalam masyarakatnya. Jika sistem nilai budaya bersifat kolektif masyarakat, mentalitas bersifat individual perorangan.

Telah disebutkan bahwa dalam wujud yang lebih konkret sistem nilai budaya terdapat di dalam kebiasaan, adat-istiadat, aturan-aturan khusus, norma-norma, dan hukum. Manusia yang tak terdedah kepada unsur budayanya karena dia tak memedulikannya, katakanlah adat-resam masyarakatnya, tentulah tak mampu mengambil nilai-nilai baik dan positif dari budaya itu untuk menjadi bagian dari mentalitas pribadinya. Dalam keadaan seperti itu dia boleh jadi menggunakan orientasi nilai yang tak sesuai dengan tata nilai yang berlaku di dalam masyarakatnya dan atau tak cocok untuk pembangunan. Katakanlah sikap mental dalam bekerja asal selesai saja dan demi keuntungan materi, tanpa mementingkan kualitas hasilnya. Dia tak pernah mau memikirkan dampak pekerjaannya itu bagi lingkungannya, baik lingkungan sosial (manusia) maupun lingkungan alam. Dari pelaku pembangunan seperti itu hanya akan ditemukan kegagalan pembangunan.

Ilustrasi di atas menjelaskan betapa pelaku pembangunan memerlukan kesadaran budaya. Dengan kesadaran itu, dia diharapkan dapat menghayatinya untuk menjadi bagian dari mentalitasnya. Pada gilirannya, dia pun menjadi peka akan keperluan mutu pembangunan di dalam masyarakat budaya tempatnya hidup dan menghidupinya. Alhasil, nilai-nilai budaya memberikan kontribusi positif pada upaya pembangunan yang bermutu sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Jika yang dimaksudkan itu pembangunan ekonomi, maka pembangunan itu memang menyejahterakan masyarakat.

Keadaan tak pernah statis, tetapi terus berubah. Seiring dengan itu, sistem nilai budaya pun harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan supaya tetap segar dan terpakai. Dengan demikian, tata nilai budaya itu tetap mampu menjadi penuntun berperilaku bagi pelaku pembangunan untuk menggunakan orientasi nilai yang terdapat di dalam budaya tertentu, nilai-nilai budaya Melayu, misalnya, di kawasan berbudaya Melayu. Dalam konteks ini, budaya harus menjadi sasaran pembangunan, yang berbeda dengan perian di atas yaitu perannya sebagai penggerak pembangunan.

Upaya-upaya pembangunan kebudayaan meliputi pengekalan (pelestarian), pembinaan, dan pengembangannya. Kesemua upaya itu, terutama pengembangannya, dilakukan untuk meningkatkan kualitas budaya supaya mampu terus berkembang sesuai dengan kehidupan yang terus berubah karena perkembangan zaman. Dalam menghadapi perubahan itu diperlukan orientasi nilai baru agar tantangannya dapat dihadapi dengan tepat. Nilai-nilai baru itu, melalui upaya pembangunan kebudayaan, tak terlepas dari akar budayanya, tetapi mampu beradaptasi dengan perubahan. Pada gilirannya, kebudayaan terus berkembang dan tak luntur sehingga nilai-nilainya dapat menjadi pedoman secara berkekalan.

Dalam kaitannya dengan pembangunan, kebudayaan yang berperan sebagai penggerak dan kebudayaan yang menjadi sasaran pembangunan sesungguhnya bersifat timbal-balik. Pembangunan memerlukan kebudayaan karena manusia yang menjadi penggerak pembangunan itu memiliki sikap mental tertentu yang bersumber dari sistem nilai budayanya. Sikap mental itulah yang menentukan kualitas pembangunan yang dihasilkannya. Sebaliknya pula, kebudayaan mestilah menjadi sasaran pembangunan (pembangunan kebudayaan) supaya tetap terpelihara, terbina, dan berkembang untuk terus dapat berperan dalam pembangunan. Pembangunan kebudayaan memungkinkannya tidak mati sehingga dapat terus memberikan kontribusi terhadap orientasi nilai dalam pembangunan di segala bidang.

Sesungguhnya, dorongan untuk membangun adalah kepuasan untuk mencapai hasil karya yang bermutu dan bermanfaat bagi kehidupan. Hal itu berarti membangun bukan sekadar untuk bertahan hidup, apalagi sekadar menumpuk kekayaan, mengejar kedudukan, memburu kehormatan, dan merangkul kekuasaan. Memang diperlukan orientasi nilai budaya yang baik untuk memahami dan menikmati hikmah itu. Yang pasti, semua bangsa maju di dunia ini melaksanakan karya pembangunan berdasarkan pemikiran positif itu, menghasilkan karya yang bermutu. Itulah kunci keberhasilan mereka menjadi bangsa yang maju.***


oleh Abdul Malik pada 13 Desember 2011 pukul 0:22
Batam Pos, Ahad, 4 Desember 2011
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Rabu, Januari 18, 2012

Dah masok hari ketige

Dah masok hari ketige Tok Tim dedar. Awang dah carik teh cine utk penuron panas, Leha pon sentiase standby dg ae angat dlm baskom lengkap dg tuala kompres utk jelom2 kepale Tok, dan minyak kelonye 4711. Suasana mmg trase berubahnye kalau orgtue tu sdg tak sedap badan, macam ade sj sesuatu yg hilang.. Itu tak laen tak bukan, celoteh khas Tok itulah. Lepas lohor td, Wan Hasan yg baru tibe dr Singepure datang ke rumah Tok Tim, menjengah, tapi tak sempat bebual dg Tok Tim yg sdg tidor. Tak ade ape2 komentar dr tamu sebrang tu, kecuali pesan ke Awang : "Kirem salam saje ha.. Jage itu orang baek2 ha.. Tim itu orang baek, Allah pasti sayang dia la.. jd kasi siket cubaan la.." kate Wan Hasan dlm dialek yg asing aje dek telinge Awang, sementara Leha terharu atas pandangan org lua terhadap Toknye itu. Muge2 Tok Tim lekas kebah dr demamnye. Amin, YRA ...{~}


Zainuddin Abuhassan
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Selasa, Januari 17, 2012

GURU DAN SETERU

Dua hari yang lalu, 25 November, kita memperingati Hari Guru. Ada satu hari dalam setahun yang diperingati khas untuk guru sebetulnya menunjukkan bahwa bangsa ini menaruh perhatian khusus terhadap profesi pendidik, sekurang-kurang secara formal. Betapa tidak? Dalam sistem pendidikan, walaupun bukan satu-satunya komponen yang menentukan, peran guru tetaplah penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Kolom kali ini didedikasikan pada hal-hal yang berkaitan dengan profesi dan bakti guru, para pendidik.

“Cahari olehmu akan guru, yang boleh tahukan tiap seteru.” Itu adalah pesan Raja Ali Haji di dalam Gurindam Dua Belas, Pasal Keenam, bait 2. Bait ini menukik langsung perihal perhubungan peserta didik dan pendidik atau guru (muamalah dan akhlak). Peserta didik dianjurkan untuk mencari pendidik yang mampu mengajarkan, membimbing, melatih, dan mendidik mereka sehingga mampu mengenal seteru.

Seteru? Ya, segala sesuatu yang menjadi lawan bagi manusia dan kemanusiaannya. Lawan yang siap menerkam mangsanya bila-bila masa dan di mana saja. Guru yang baik adalah pendidik yang bersedia, ikhlas, dan layak membimbing para peserta didiknya sedemikian rupa sehingga mereka pun mampu mengenal, memahami, untuk pada gilirannya melawan setiap seteru yang akan membinasakan dirinya dan kemanusiaannya. Pendidik dengan kualitas itulah yang patut dan wajib dicari oleh setiap peserta didik.

Marilah kita tinjau masalah genting (krusial) yang dihadapi oleh bangsa kita setakat ini. Masalah utamanya adalah makin terpuruknya kehidupan berbangsa dan bernegara kita akhir-akhir ini. Masalah itu berkaitan dengan kian lunturnya budaya nasional kita dan makin menurun (terdegradasinya) karakter bangsa ini, di satu pihak, serta makin kerasnya cabaran atau tantangan budaya global (Barat) yang tak sesuai dengan budaya kita untuk menggeser nilai-nilai baik yang kita yakini selama ini, di pihak lain. Akibatnya, pelbagai musibah menimpa kita sebagai bangsa, baik yang bersifat alami maupun sosio-kultural. Jenis, kuantitas, dan kualitas musibahnya nyaris tak terperikan lagi. Pun, nyaris bangsa kitalah yang paling tinggi tensi musibahnya dibandingkan bangsa-bangsa lain, yang terus berpacu mengejar kemajuan, sedangkan kita masih berputar-putar di sekitar musibah-musibah itu saja.

Apakah punca atau penyebab utama kesemuanya itu. Jawabnya tiada lain yaitu seteru utama manusia: kebodohan. Pasti banyak orang yang tak bersetuju dengan pernyataan itu. Keberatan itu pun dapatlah dipahami. Karena apa? Karena telah cukup banyak orang di antara bangsa kita yang bersekolah cukup tinggi, jauh lebih tinggi daripada para pendahulu pada awal kemerdekaan dahulu. Akan tetapi, kenyataannya—diakui atau tidak—sekolah dengan ijazah tinggi ternyata tak selalu seiring dengan terdidik secara baik dan komprehensif. Tak jarang terjadi mereka yang berijazah tinggi itulah yang menjadi pangkal bala, bagian dari masalah. Perseteruan di antara mereka membawa malapetaka dan marabahaya bagi bangsa yang besar ini secara menyeluruh. Sendi-sendi kehidupan nyaris punah-ranah.

Mereka hanya sibuk dengan urusan diri dan kelompok sendiri sehingga rela mengorbankan bangsa dan negara tanpa merasa bersalah sedikit jua pun. Pelbagai helah dan hujah dikemukakan seolah-olah mereka memang paling cerdas. Di sebalik kesemuanya itu tak lain tipu-daya belaka.

Perseteruan di antara mereka dipertunjukkan saban hari tanpa ada di antara kita yang sanggup melawannya. Bahkan, kalau ada pun satu-dua orang yang berjuang untuk menghadangnya, pada akhirnya tenggelam juga ke dasar terdalam samudera kekacaubalauan itu. Pilihannya biasanya adalah ikut bermain di atas gelombang panas atau tenggelam alias terkucil dari silauan hedonistis yang makin bersemarak. Pesta pertunjukan kemegahan dan kemewahan bak tuhan baru di samping tuhan lama yang tetap mereka sembah di dalam peribadatan, yang ironisnya mereka laksanakan juga, entah untuk apa. Maka, bermunculanlah para fir’aun baru walau tak sejantan Fir’aun asli.

Gejala itu membuktikan bahwa kecerdasan intelektual yang terbungkus ijazah tinggi tak menjamin manusia mengenal, apalagi melawan, seteru utamanya. Masih diperlukan kecerdasan-kecerdasan lain seperti kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan emosional yang mampu membawa manusia memiliki kecerdasan komprehensif. Olah pikir yang mampu mengembangkan potensi kecerdasan intelektual ternyata hanya sanggup melahirkan orang yang pandai, bahkan setakat pandai di dunia saja. Itulah kebodohan terbesar yang mengemuka selama ini. Itulah seteru utama yang harus diketahui, dihayati, dan dilawan oleh peserta didik yang seyogianya ilmunya diperoleh dari pendidik sejati, yang tak hanya memiliki ilmu, tetapi memberikan tauladan diri kepada peserta didiknya.

Untuk menghasilkan manusia yang cerdas secara komprehensif, masih diperlukan upaya-upaya lain. Olah kinestetika perlu dilakukan agar dapat dikembangkan potensi kecerdasan sosial untuk menghasilkan insan yang bertanggung jawab. Insan yang jujur dihasilkan melalui upaya olah hati untuk mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. Upaya olah rasa pun mustahak untuk mengembangkan potensi kecerdasan emosional sehingga dapat dihasilkan insan yang peduli dan kreatif. Ketiga jenis kecerdasan yang disebut terakhir inilah yang, justeru, terlupakan dalam upaya pendidikan kita selama ini, baik pendidikan informal, formal, maupun nonformal. Kita begitu menggebu-gebu untuk menciptakan orang yang pandai secara intelektual, yang ternyata berjiwa kering kerontang.

Dengan kecerdasan komprehensif itu, peserta didik diharapkan tak hanya berbangga diri akan predikat orang pandai di dunia. Akan tetapi, mereka menjadi paham dan sadar sesadar-sadarnya untuk membekali diri agar mampu menjadi orang pandai di akhirat. Pasal apa? Pasal, orang yang sekadar pandai di dunia, yang dipuja-puji di dunia karena kepandaian duniawinya, tak akan dipandang Tuhan di akhirat kelak. Hanya manusia yang membekali diri dengan pengetahuan dan ilmu untuk menjadi pandai kedua-duanyalah, dunia dan akhirat, yang diperhitungkan oleh Sang Khalik di kehidupan akhirat yang kekal abadi. Insya Allah, jika peserta didik mendapatkan pendidikan yang baik dan diberi laluan untuk mengembangkan potensi kecerdasan komprehensif secara holistik, mereka tak hanya menjadi insan yang berguna di dunia, tetapi akan memperoleh kebahagian sejati di akhirat, di hadapan Tuhannya. Itulah hakikat dan tujuan hidup manusia sesungguhnya sehingga kita harus terus meningkatkan kemanusiaan dan mengembangkan tamadun kita.

Tugas, peran, dan tanggung jawab itulah yang ada di pundak para pendidik. Melalui proses pendidikan harus dapat dihasilkan insan yang dapat menikmati kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus. Untuk memperolehnya, tentulah diperlukan pengetahuan, ilmu, perilaku, dan sikap yang patut dan padan. Insan seperti itulah yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negaranya sehingga sebagai bangsa, kita menjadi berwibawa dan terhormat dalam pergaulan masyarakat dunia. Dan, hidayah serta inayah Allah akan senantiasa mengalir bagi bangsa yang berkualitas dan berkarakter baik seperti itu.

Semakin nyatalah bahwa tugas dan tanggung jawab pendidik itu sangat berat, tetapi pun sangat mulia. Tugas besar itu tak mungkin hanya dideligasikan kepada para guru saja. Untuk mencapai matlamat mulia itu, peran orang tua, masyarakat, dan pemerintah harus ditingkatkan dalam pendidikan anak bangsa ini. Generasi kita tak hanya memerlukan ilmu dan teknologi yang canggih untuk menghadapi tantangan pada masanya, tetapi juga karakter tauladan di lingkungannya: rumah tangga, sekolah, masyarakat, dan dalam lingkup bangsa yang besar ini. Oleh sebab itu, jika kita betul-betul berazam untuk menyelamatkan bangsa ini, setiap orang dewasa harus mau dan mampu berperan sebagai guru. Kuncinya pada perkataan, perbuatan, perilaku, dan sikap hidup yang patut dijadikan suri tauladan. Selamat Hari Guru.***

oleh Abdul Malik pada 28 November 2011 pukul 0:27
Batam Pos, Ahad, 27 November 2011
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Senin, Januari 16, 2012

Begegas Leha membritau Kalsom

Begegas Leha membritau Kalsom dg berbisik supaye nutop kpale dulu dg jilbab atau selendang sebelom bejumpe dg Tok Tim. Bukan ape2.. soalnye Leha takot Som, kawan karibnye itu jadi bahan celoteh Tok Tim pulak. Alkisah, dulu rambot kawannye Tena yg baru selesai di-rebondin, oleh Tok Tim pon disentil 'macam eko belangkas pulak'. Kuatir rambot Som yg baru dicat pirang itu kene kate 'macam buah delime tak masak', Leha pintas nyorongkan jilbabnye. Dipandu Leha, lalu Som pon menyampaikan maksud kedatangannye ke Tok Tim. "Ha, iye lah.. Tok suke aje dan merestui hajat engkau nak berumah-tangge dg Usen. Baik2 jage diri, bepantas-pantaslah dlm bersikap. Jangan ekotkan krenah diri sorang, sebab nikah-kawen ni bukan kerje mike berdue aje, tp melibatkan tangan2 dan hati orang banyak. Mestilah pandai2 engkau mengambek hati dan simpati org ye..", kate Tok Tim di ujong celoteh2 khasnye itu. Tak lame kemudian, kedue anak dare td itu pun berlalu dr hadapan Tok Tim setelah ta'bil, ciom punggong tangan Tok, tande hormatnye.. {~}

Zainuddin Abuhassan
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Minggu, Januari 15, 2012

POHON DUIT

“Saudara-Saudara sekampung halaman,

seiring-sejalan,

senasib-sepenanggungan,

Kita sadar sesadarnya-sadarnya, dan penting untuk menyadarinya bagi yang belum sadar, bahwa nilai-nilai budaya kita sendirilah yang akan menyelamatkan kita dan generasi kita. Nilai-nilai budaya kita yang berbancuh sebati lagi serasi dengan nilai-nilai agama kita yang agunglah yang harus kita pedomani dalam melayari bahtera kehidupan ini. Dengan begitu, berarti kita juga telah menyiapkan bekal yang berfaedah untuk kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.”

“Hidup, Tuan Entol, hidup Tuan Entol. Tuan Entol pemimpin kami! Penguasa yang memiliki tahta di bumi dan kerajaan di langit,” pekik hadirin yang berhimpun pepat di bawah rimbunan pokok jambu di kampung itu.

Wak Entol makin bersemangat dan pidatonya makin berapi-api.

“Sadar akan kenyataan yang memang nyata itu, aku berjanji bahwa jika aku ditakdirkan menjadi pemimpin kalian, program pembinaan dan pengembangan kebudayaan akan menjadi prioritasku. Kita memerlukan generasi yang berkarakter untuk membangun kembali bangsa kita. Karakter itu ada di dalam nilai-nilai luhur budaya kita. Generasi kita harus kita dorong untuk lebih mengenal, memahami, menghayati, dan mencintai budaya luhur nenek-moyangnya. Dengan begitulah, nilai-nilai itu akan menjadi pakaian hidup mereka, yang akan menyelamatkan mereka, menyelamatkan warga Kampung Pokok Jambu ini.”

Seorang anak buah Wak Entol makin histeris. “Tuan Entol, Padukalah pemimpin anutan kami. Kami akan mendukung Paduka Entol sampai mati. Betul bukan, Saudara-Saudara?”

“Seribu seratus satu persen betul. Siap berjuang sampai mati!” sahut hadirin lebih histeris lagi.

“Terima kasih, Saudara-Saudaraku. Jika aku betul-betul menjadi pemimpin kalian nanti, aku berjanji akan menanam “pohon kebudayaan” tanda kepedulian kita akan warisan leluhur kita. Tanda tekad kita untuk maju berlandaskan budaya kita sendiri. Tanda kita orang yang berjati diri. Tanda kita bangsa pohon, eh … maksudku bangsa yang menyayangi pohon seperti nama kampung kita ini. Kesemuanya itu akan terwujud hanya kalau aku yang kalian pilih menjadi pemimpin kalian. Bahkan, pepohonan pun akan bergembira mendengar tekad muliaku ini. Bersediakah kalian?” pidato kebudayaan Wak Entol makin menjadi-jadi, menggila-gilai sehingga ada di antara hadirin yang menjerit-jerit mengilai-ngilai. Sebagian dari mereka menggoyang-goyang pohon-pohon jambu di kebun itu sambil berteriak bagai kerasukan.

“Siap Paduka Entol! Kami rela mati untuk Paduka!” serempak hadirin kelompok pokok jambu itu menjawab spontan, makin menggebu-gebu.

“Nah, ini penutup pidatoku,” suara Wak Entol menggelegar menutup pidatonya, “Pilihlah aku!”

“Kami tak mau yang lain, kami hanya mau Paduka Tuan Entol. Paduka pemimpin agung kami!” sambut hadirin sambil menyerbu untuk menciumi tangan dan menjilati pipi Wak Entol.

Wak Entol tersenyum lebar mengenang pidato kebudayaannya yang hebat beberapa tahun lalu itu. Pidato itulah yang mengantarkannya menjadi pemenang mutlak untuk menjadi pemimpin Kampung Pokok Jambu itu.

Ketika dia sedang tersenyum riang itu, datanglah seorang pemilihnya dulu. Setelah memberi salam dan menciumi tangan Wak Entol, dia bertanya:

“Paduka Entol, bilakah pohon kebudayaan kita akan ditanam?”

“Sabar, sabar, jangan tergesa-gesa Saudaraku,” jawab Wak Entol tenang dan selamba, “menanam pohon kebudayaan itu tak seperti membalikkan telapak tangan. Perlu perencanaan yang matang dan pemikiran yang bernas. Ada banyak tahapan yang harus dilalui. Begitulah negara-negara maju di dunia ini memajukan kebudayaannya seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea, dan banyak negara lagi yang pernah kukunjungi. Sementara itu, aku perlu lebih banyak menanam pohon kekayaan lebih dulu. Acara yang kita adakan di bawah pohon jambu dulu dan kalian memilih aku, tak gratis, bukan? Engkau paham maksudku, Saudaraku?” Wak Entol menjelaskan sambil membusungkan dada dan mengangkat bahunya.

Pemilihnya yang bertanya itu hanya melongo saja, tak paham akan jawaban Wak Entol. Dia hanya dapat berdiri terpaku, nyaris lesu.

“Nasibku dan anak-cucuku,” keluhnya di dalam hati. Dia tak berani mengatakan itu kepada Wak Entol karena khawatir colok di rumahnya akan mati malam nanti.

Wak Entol memandang sekilas pemilihnya yang bingung berat itu. Kemudian, sambil ketawa menyeringai, dia langsung meninggalkan tempat itu seraya bersiul lagu “Pohon Duit dan Duit Pohon” dengan irama heavy metal yang dipadu dengan langgam soft yang lagi trendy.***

oleh Abdul Malik pada 22 November 2011 pukul 19:28
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Sabtu, Januari 14, 2012

Sahib dan karib adelah due kate yg bersebati

Sahib dan karib adelah due kate yg bersebati dlm makne, lebih dr pengertian umum dlm kate sahabat karib. Bagi Tok Tim, hal itu tdk terhad oleh jarak dan waktu. Itu yg disimpulkan Awang manekale tengok Tok Tim menyambot dan melayan Andak Karim yg 3 hari bermalam kat rumahnye. Setelah lbh dr 35 tahun berpisah, keduenye berjumpe lg dlm usie dah tak mude lagi. Mungkin dulu hanye teman sepermainan sj waktu masih kecik, keduenye kini tampak macam lebih dr kedekatan due orang adek-bradek. Peristiwe mase lalu dimane keduenye pernah terlibat salah paham yg berujung pd silang sengkete pekare hilangnye patok sempadan tanah pusake orangtue2 dulu, siket pon tak berbekas.. seakan hilang tertelan waktu. Yg nampak kini keakraban bak kuku dg daging.. subhaanallah. Perhatian Tok Tim pun luar biase. Tengok songkok Andak Karim yg dah lusoh, tibe Awang pulak yg kene sentil. "Kat cerok mane songkok berende khas Yogya dulu tu kau tarok, Wang? Cari dan beri Tok Andak kau tu", kate Tok Tim ke Awang yg nampak masih tepinge-pinge dek sikap Tok Tim. Tapi, itulah makne kekerabatan yg dianut Tok Tim dlm falsafah hidopnye, melupekan sengkete mase lalu seraye mengikat diri dlm semangat persaudaraan.. lebih dr sekedar sahabat karib.. {~}


Zainuddin Abuhassan
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Jumat, Januari 13, 2012

GORENG-GORENGAN

“Besok aku sudah sampai ke kampungmu. Kita akan berbincang banyak hal tentang memajukan kedua kampung kita. Dan, tentu ada nasi goreng di sana, bukan? Yang pedas seperti biasa tentunya,” lanjut Wak Entol dalam percakapan telepon dengan “kawan”-nya, ketua kampung seberang.

“Tentu . . . tentu Tuan Entol. Dengan senang hati, sahaya akan menanti Tuan di sini besok. Subuh lagi sahaya sudah berada di pelabuhan untuk menjemput Tuan. Soal nasi goreng itu pasti sahaya siapkan. Nasi goreng khas yang dimasak oleh tukang masak terbaik di kampung kami. Kami sangat berterima kasih karena Tuan suka nasi goreng kami,” jawab ketua kampung seberang kegirangan karena akan kedatangan tamu agung Tuan Entol yang budiman.

“Hehehehe….. Tak perlu subuh hari sudah di pelabuhan, Ketua Kampung. Kapalku baru mendarat di dermaga kampungmu sekitar pukul 11.00 siang waktu kampungmu. Yang penting kita dapat bertemu, berbincang, dan makan nasi goreng, hehehehe …..” Wak Entol terkekeh di telepon. Dalam hatinya dia berkata, “kamu memang harus menantiku awal-awal lagi tanda kesetiaanmu kepadaku terbuktikan.” Namun, kalimat terakhir itu tak dikatakannya supaya terkesan beradab. Bukankah keberadaban mesti dihiasi dengan banyak basa-basi di permukaan?

“Tak apa-apa, Tuan Entol. Itu sudah kebiasaan kami menyambut tamu. Apalagi, tamu kami adalah Tuan. Kami merasa terhormat dengan kunjungan Tuan ke kampung kami.”

“Kalau begitu adatmu, terserah kamu saja Ketua Kampung. Kita bertemu siang besok ya. Selamat malam!” Wak Entol menutup percakapan telepon dengan bangga.

“Selamat malam juga, Tuan Entol. Sampai jumpa besok,” balas ketua kampung.

Awan gelap pekat memenuhi udara Kampung Seberang siang itu. Cahaya matahari nyaris tak menembus bumi. Akan tetapi, suhu terasa jauh lebih panas dari biasa. Seperti dijanjikannya, kapal Wak Entol merapat di dermaga kampung itu tepat pukul 11.00 siang. Ketua kampung dan rombongannya bergegas menyambut tamu yang akan keluar dari kapal itu.

Wak Entol keluar dari kapal dengan senyum khasnya seraya melambaikan tangan kepada ketua kampung dan orang-orangnya. Di atas dermaga mereka berpelukan dan saling menempel pipi kiri dan kanan seperti kelaziman Wak Entol.

“Kampungmu sungguh bagus, Ketua Kampung. Sungguh indah ya? Aku serasa berada di kampungku sendiri,” Wak Entol membuka percakapan dengan berbasa-basi.

Ketua kampung hanya tersipu-sipu bangga saja. Dia mempersilakan Wak Entol menuju ke tempat pertemuan yang tak jauh dari dermaga itu. Di tempat itulah mereka akan berbincang tentang hal yang amat penting, konon untuk memajukan kedua kampung mereka.

Sesampainya di tempat pertemuan, ketua kampung dan Wak Entol berbincang empat mata di bilik khusus. Ada sekitar satu jam merekan berbicara.

“Kalau kamu bersetuju, ada jaminan dan fee khusus untukmu, Ketua Kampung!” Wak Entol meyakinkan ketua kampung untuk menerima usulannya.

Ketua kampung tersenyum malu-malu kucing. “Terima kasih, Tuan Entol. Besar sungguh perhatian Tuan kepada sahaya.”

Perundingan keduanya mencapai kata sepakat. Lalu, ketua kampung mempersilakan Wak Entol ke bilik lain untuk jamuan makan siang. Menu spesialnya adalah “nasi goring khas” kampung seberang.

Makanan telah tersedia di meja makan. Lalu, keduanya mulailah menyantap hidangan yang memang terlihat sangat lezat itu. Keduanya memasukkan suapan pertama ke mulut hampir bersamaan untuk menunjukkan bahwa mereka bersahabat baik. Akan tetapi, apa yang terjadi? Secara serentak pula mereka terpekik keras sekali sehingga hilang wibawa yang ditunjukkan dari awal tadi. Nasi goreng itu ternyata berasa pedas yang sangat aneh sehingga mulut keduanya betul-betul terbakar, terus menjalar sampai ke kerongkongan, menembus ke dalam perut.

Kedua orang itu menjerit-jerit keluar dari tempat pertemuan itu sambil meminta tolong. Api menjalar ke seluruh tubuh mereka begitu cepat. Keduanya berlarian ke dermaga lalu menceburkan diri ke laut sambil terus menjerit-jerit. Namun, api di tubuh mereka tak juga padam, malah bertambah besar.

Kaki tangan Wak Entol, anak buah ketua kampong, dan semua masyarakat yang ada di tempat itu menyaksikan kedua orang itu dengan heran. “Mengapa mereka ya? Adakah mereka menjadi gila?” Wajar orang-orang itu heran karena mereka tak melihat perubahan apa-apa pada fisik keduanya, tetapi terus saja menjerit keras sampai menceburkan diri ke laut.

Awan makin pekat dan nyaris menerkam bumi. Orang-orang berlarian ketakutan meninggalkan tempat itu. Dalam pada itu, Wak Entol dan ketua kampung terus saja berenang ke sana ke mari sambil menjerit-jerit, “Api . . . api . . . panaaaaaaas!” teriak mereka tak beraturan.

Di dalam sampan kecilnya, tukang masak berdayung perlahan menuju ke pulau lain. Dia menyaksikan kejadian itu sekejap sambil bersiul lagu “Goreng-Gorengan” dengan irama pop lembut yang dipadu dengan gazal kreatif. Tak lama kemudian, dia pun raiblah.***

oleh Abdul Malik pada 20 November 2011 pukul 2:03
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Kamis, Januari 12, 2012

Ape pasal Tok, ae muke macam tak tenang aje ni?

‎"Ape pasal Tok, ae muke macam tak tenang aje ni?", tanye Awang ke Tok Tim sesampainye di rumah dr sembayang Jum'at kat mesjid tadi. "Dedar lagi ke?", lanjut Awang. "Bukan begitu, Wang. Perasaan becelaru aje waktu kat mesjid tadi dpt bingkisan dr kawan sesame penguros mesjid yg baru turon haji. Die beri Tok sepasang pakaian ihram! Belum pernah umo Tok dapat macam ni Wang.. Subhaanallah" jawab Tok. Setelah bepike sejenak, Awang pon jadi paham dg perasaan Tok, bahwesenye beliau tu sememangnye bekehendak btol nak naik haji, tp belom juge tersampai hajat suci tu. "Anggap aje itu pemicu semangat Tok, supaye Tok lbh banyak berdo'a dan bermunajat kpd Allah supaye terkabol hajat tu", kate Awang mencobe menyejukkan hati Tok. Tapi ape yg ade di pikiran dan perasaan Tok Tim sebenarnye lebih dr itu. Ekot jejak guru ngajinye dulu, Tok pernah berazam kalau sepulang panggilan haji nanti Allah lanjutkan pulak dg panggilan lain, Tok ingin agar jenazahnye dikafani dg kain ihram dr tanah suci itu... Walhal, sampai Awang berlalu dr hadapannye, roman muke Tok Tim masih belom cerah sangat lagi, sampailah mase Leha datang bawakan tambol siang : keladi rebos, penaram udang sambal cuke, dan kopi panas. "Alhamdulillah, mekaseh Cu.." kate Tok ke Leha. ..{~}


Zainuddin Abuhassan
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Rabu, Januari 11, 2012

KESADARAN BUDAYA

SEBAGAI generasi Melayu yang hidup pada hari ini, kita patutlah bersyukur. Karena apa? Karena daerah kita dianugerahi oleh Allah swt. dengan sumber daya alam (SDA) yang berlimpah ruah, itu satu. Kebahagiaan itu tentulah akan berlipat ganda lagi jika kita juga dapat menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang cerdas komprehensif, ini dua, agar SDA yang kita miliki dapat dikelola sebaik-baiknya untuk sebesar-besarnya kemakmuran bersama sampai ke generasi mendatang, yang ini tiga.

Untuk menciptakan SDM berkualitas yang dicita-citakan itu, kita sadar bahwa generasi Melayu, antara lain, haruslah memiliki kesadaran budaya yang memadai. Ini mustahak dan genting. Dengan kesadaran kultural itu, timbullah hasrat untuk memilikinya dengan penuh tanggung jawab, mengekalkannya, membinanya, dan mengembangkan warisan budaya yang memang ranggi itu. Dengan begitu, di satu sisi nilai-nilai budaya Melayu akan membentuk generasi yang berkarakter baik dan berakhlak mulia. Di sisi lain, nilai-nilai budaya Melayu yang penuh dengan kehalusan budi itu akan terus berkembang untuk menjadi pedoman nilai bagi generasi Melayu, khasnya, dan masyarakat, umumnya, dalam menjalani hidup, sama ada pada masa kini ataupun yang akan datang. Dengan demikian, gerak dinamis budaya Melayu dan nilai-nilainya yang terala (luhur) terus bermekaran dan secara pragmatis bermanfaat dalam kehidupan kita dan generasi berikutnya.

Berhubung dengan itu, kita sekali lagi harus bersyukur kehadirat Allah swt. karena daerah kita telah dianugerahi khazanah budaya yang berlimpah. Ini sungguh tak ternilai harganya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Tradisi lisan dan tulis kita yang tersedia telah mengantarkan orang Melayu ke puncak jaya tamadun Melayu-Islam yang sangat membanggakan, sekurang-kurangnya pada masa lalu.

Dalam hal ini, kita patutlah berterima kasih kepada para pendahulu sejak zaman Kesultanan Melayu yang lampau. Mereka telah bekerja bertungkus lumus, bermandi peluh, dan berhempas pulas untuk memperjuangkan orang Melayu dan tamadunnya ke puncak kejayaan. Warisan yang mereka tinggalkan bukan saja sangat membanggakan kita yang hidup pada hari ini, melainkan juga sangat bermanfaat untuk kita pedomani dalam menjalani kehidupan, apa pun profesi dan pekerjaan kita dalam hidup ini. Bahkan, karena budaya Melayu meletakkan Islam sebagai terasnya, pengamalannya dalam hidup di dunia niscaya akan memungkinkan kita juga memperoleh kebahagiaan di akhirat kelak. “Kaya harta tinggal di dunia, kaya iman dibawa mati,” petuah orang tua-tua kita.

Para pendahulu kita yang dimulai oleh Bilal Abu dan Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua telah menanamkan semangat betapa mustahaknya mengembangkan tamadun untuk menyerlahkan, mempertahankan, dan memartabatkan jatidiri Melayu. Mereka diikuti oleh cendekiawan Melayu berikutnya seperti Raja Ali Haji, Haji Ibrahim, Raja Haji Ali, Raja Haji Abdullah Mursyid, Raja Saliha, Raja Haji Daud, dengan Raja Ali Haji sebagai maestronya. Ketauladanan yang mereka berikan menyemangati generasi Raja Safiah, Raja Hasan, Encik Kamariah, dan lain-lain. Dalam barisan berikutnya berdiri tegap dan tegar Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, Abu Muhammad Adnan, dan sang pejuang kaum perempuan yang teramat kokoh Aisyah Sulaiman.

Dari buah pikir, daya kreatif, dan ketekunan mereka yang luar biasa, dunia Melayu telah mewarisi tradisi tulis yang sangat mengagumkan. Bukan hanya kita yang merasa demikian, bahkan dunia pun mengakuinya. Mereka telah mengajarkan kita bahwa memelihara budaya yang agung mestilah bagai menatang minyak yang penuh: dengan ikhlas, sepenuh hati, kerja keras, dan siap mati—kalau perlu—untuk membelanya.

Karena kerja keras, ikhlas, dan penuh kecintaan dari para pejuang itulah; bahasa kita, bahasa Melayu, mencapai puncak kejayaan, dijunjung menjadi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tak hanya sampai di situ, mereka telah mewariskan kepada kita pelbagai bidang ilmu seperti agama, bahasa, sastra, filsafat, politik, pemerintahan, astronomi, sosiologi, antropologi, ekonomi, dan masih banyak lagi. Dengan perjuangan itu, Raja Ali Haji telah diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Bapak Bahasa dan Pahlawan Nasional sejak November 2004. Itulah di antara bukti nyata bahwa daerah ini menjadi pusat tamadun Melayu pada masa lalu, antara abad ke-18 sampai dengan awal abad ke-20.

Kita tentulah tak mengharapkan generasi Melayu hanya bertumpu pada kebanggaan masa lampau. Apa-apa yang telah dicapai oleh generasi terdahulu dan yang kita perbuat sekarang, hendaklah dilanjutkan oleh anak-cucu dengan kecintaan yang sama, kalau dapat lebih hebat lagi. Untuk mencapai matlamat itu, haruslah kita pikirkan bersama-sama kerja-kerja apa saja yang boleh dan patut kita lakukan untuk lebih menyemarakkan lagi perkembangan kebudayaan Melayu ke depan ini. Kesemuanya itu bukanlah sekadar pertunjukan kehebatan, melainkan memang mustahak kita perlukan untuk membentengi kepribadian bangsa. Kita sangat tak berharap bahwa generasi kita hanya menjadi peniru tamadun atau peradaban bangsa lain. Pasal apa? Pasal, itu sangat berbahaya karena dapat merusakkan sendi-sendi kehidupan bangsa.

Secara geografis, Melayu memiliki kawasan yang sangat luas di nusantara ini. Di kawasan yang luas itu terdapat pemerintah daerah (provinsi, kabupaten, dan kota) yang sangat representatif. Bukankah kita dapat bersinergi untuk meningkatkan kerja sama dalam memelihara, mengekalkan, membina, dan mengembangkan kebudayaan kita, kebudayaan Melayu. Bagi para pemimpinnya, untuk apalah kekuasaan yang diamanahkan masyarakat jika kita tak mau memberi perhatian yang sewajarnya terhadap perkara yang mustahak dan genting ini. Jika kita mau belajar dari kejayaan Kerajaan Riau-Lingga, tamadun Melayu menduduki singgasana emasnya dan memberikan berlian budi-pekerti serta kebanggaan bangsa karena pemimpin dan rakyatnya sama-sama bersinergi untuk memajukannya. Itulah kunci kejayaannya mencapai puncak mahligai peradaban.

Kesemuanya itu adalah warisan tamadun berharga milik kita bersama. Dengan demikian, menjadi tanggung jawab kita bersamalah untuk mengembangkannya ke depan ini. Bukan pula menggunakan cara tak terpuji seperti yang dilakukan oleh Provinsi Jambi dengan mengambil Pulau Berhala, yang jelas dan sangat pasti milik Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau secara kultural dan historis. Itu mencabar (menantang) dan menjejas marwah dan harga diri sesama Melayu namanya. Praktik seperti itu berbahaya dan tak baik dalam upaya kita membangun tamadun yang bersalutkan ketinggian budi. Mengapakah kita tak dapat bekerja sama membangun tamadun dalam pelbagai bidang tanpa harus mengusik hak terwaris saudara kita? Hal ini mustahak untuk direnungkan, dipikirkan, dan dirasakan secara arif. “Tegak Melayu menjunjung adat,” petuah orang tua-tua kita. “Hendak dimalui, jangan memalui,” pesan Raja Ali Haji. Intinya, kita mestilah saling menjaga marwah sesama Melayu, bahkan marwah bangsa lain juga. Itulah cogan ketinggian budi Melayu. Mengapakah kesemuanya itu diabaikan?

Kita sangat berharap agar Lembaga Adat atau apa pun nama lembaganya di kawasan Melayu di nusantara ini, para cendekiawan, budayawan, dan mereka yang berkhidmat di penadbiran negeri (pemerintah) bersedia untuk merumuskan, merencanakan, dan melaksanakan kerja-kerja yang memang patut untuk dilakukan. Jika tak dapat melampaui capaian para pendahulu, saya yakin, kita memiliki kemampuan, kemauan, dan semangat yang sama untuk sekurang-kurangnya menyamainya. Jika Rusydiah Klab mampu melahirkan pemikir-pemikir kelas dunia seperti Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, dan Sayyid Sekh Al-Hadi, yang menjiwai semangat Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim, takkanlah kita sekarang harus kalah dari mereka. Karena apa? Karena generasi kita sekarang mendapatkan pendidikan yang relatif lebih baik daripada mereka. Takkah kita merasa malu terus terpuruk di lembah degradasi kultural yang menyesakkan dada selama ini? Padahal, kita memiliki fasilitas yang relatif sangat memungkinkan untuk maju menjadi masyarakat modern yang madani berteraskan tamadun kita, tamadun Melayu.***

Batam Pos, Ahad, 6 November 2011
oleh Abdul Malik pada 8 November 2011 pukul 19:59
http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Read more ...

Senin, Januari 09, 2012

Melihat Tok Tim menggeleng-gelengkan

Melihat Tok Tim menggeleng-gelengkan kepale ke kiri dan ke kanan sambil memegang sebuah buku kecik, Awang menduge mungkin Tok Tim sedang mengamalkan WIRID baru agaknye. "Ape hal, Tok?" tanye Awang dengan nada menyergah. Agak keberah, Tok Tim menjawab "Takde lah Wang, hanye heran saje. Di zaman serbe mudah begini, ternyate angke bute hurop Arab masih jugak tinggi, dan budak2n pon banyak tak pandai mengaji". Mase Tok kecik dulu, tak lah mudah.. meski dengan sistem Baghdadi yang terase membosankan karene mengulang-ulang, tapi terase lekat pulak di otak. Apelagi ditunjang oleh sikap guru yang tegas.. siket aje salah ngucap bunyi sesuai kaidah makhraj, make tak jarang bebilai tangan kene sebat rotan". Seketike Tom Tim menyambar cangkir kopinye, sekelibat Awang membace judul buku kecik tadi "Buku Iqro' : Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur'an". Aha.... ternyate Tok Tim tengah membandingkan cara lame di mase kecik beliau dulu dengan metode yang berkembang sekarang. "Bede zaman lah Tok.." kate Awang dalam hati sambil berlalu dr beranda Tok Tim... {^}


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
6 September jam 1:27
Read more ...

Minggu, Januari 08, 2012

Air Mata Ngah Mun..

Sampai dah nak masuk waktu berbuke, Ngah Maimun belom juge beranjak dr rumah Tok Tim. Tak sedap hati juge Tok Tim, lalu sertemerte cakap ke sepupunye itu "Ngah buke kat sini aje lah ye, td Léha pun ade masak lebih. Jom kite buke brsame, jarang2 jumpe ksempatan macam gini kan?", kate Tok Tim menyejukkan suasana hati, yg langsung diangguk Ngah Mun. Kedatangan Ngah Mun petang td tak laen tak bukan hanye nak ngilang begah sj, pasal dah 2 kali raye anak perempuannye di bandar tak balek kampong utk beraye dg sanak sedare. Yang trjadi kmudian, Ngah Mun hanye menerime kiriman paket berisi kaen plékat, bahan kbaye, telekong, dan sedikit duit yg dibri catatan 'skedar pelengkap mak beli bumbu utk masak serondeng'. Walau bukan skali due Tok Tim mendenga keluh-kesah sperti ini dr org2 tue di kampong ini, tetap aje Tok Tim tak abes piké atas perubahan sikap dan pemikiran generasi mase kini yg cube 'mengganti' makne silaturahmi hari raye dg unsur kebendaan sperti itu. Dlm pikiran Tok Tim, kalau lah mmg tdk ade alasan yg btol2 mustahak (apelagi soal transportasi mase ini sdh lbh mudah), make eloklah anak2 yg pergi merantau itu ambek kputusan balek kampong dan datang menyembah ke mak-bapak di hari raye nan fitri itu, mengingat perjalanan sebenarnye jatidiri... {^}


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
24 Agustus jam 22:49 melalui seluler
Read more ...

Sabtu, Januari 07, 2012

Begitu keluar dr bilek aé

Begitu keluar dr bilek aé pondok Léha, nampak Tok Tim géléng2 kpale. "Ape lagi agaknye yg tak kene dék orangtue ni.." kate Awang dlm ati. "Macam2 aje krénah budak perempuan jaman kenen. Nak ngolah rambot aje, senacam-nacam cap dicube.. ade Sunsilk lah, Olay lah, Dove lah, Skincare lah, .. dan macam2 lagi. Padehal dulu jaman mak Léha masih ade, cukop dengan santan aje untok melangir rambot". Hadoi.. "binget na telinge nenga celotéh Tok ni lah" kate Awang bsungot dlm ati sambil menjengah ke bilek aé Léha. Disane memang nampak tergeletak beberape botol kosong samphoo rambot yg blum sempat dibuang Léha sampai mase Tok Tim datang nak basoh muke tadi. "Pagi yg menyebalkan" kate Awang sambel menghomban botol2 tu kat longkang.. {^}


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
13 September jam 17:02 melalui seluler
Read more ...

Jumat, Januari 06, 2012

Hasil dari kuliah di Universitas Ramadhan kemarin

‎'Hasil dari kuliah di Universitas Ramadhan kemarin itu mesti dapat ditunjukkan dalam wujud sijil markah dan pingat' kate Tok Tim kpade Awang sesudah kduenye balek dr sholat Ied di tanah lapang. 'Ape maksodnye tu, Tok', kate Awang menyelah. Sambel melipat sajadah dan berjalan beriring, Tok Tim menjawab 'Markah ditunjokkan dg tingkah, yg haros lebih cergas dr sebelomnye; sedangkan pingat, ditunjokkan dg tabiat.. yg lebih santun dr yg sudah2'. Panjang lebar celoteh Tok Tim sepanjang perjalanan balek menuju rumah. 'Macam nak ngalahkan isi khotbah Ustadz Mansor td pulak', kate Awang dalam hati.. sementara pikirannye dah mulai membayangkan makanan khas yg dah disiapkan Léha setelah selesai mase menyembah nanti. Sungguh pagi raye yg menyenangkan.. {^}


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
1 September jam 0:47 melalui seluler
Read more ...

Kamis, Januari 05, 2012

Macamnye tak sebesar pasang yg sudah

‎"Macamnye tak sebesar pasang yg sudah2 lah Tok" ujar Awang ke Tok Tim yg mengamati ulah cucunye mengarung ae pasang dr tingkap. Walau bukan musen ae pasang keling, rase2 ae pasang skali ini lebih besar dr biasenye, banyak rumah di kampong ini terendam. "Ye.. tp cube ketepikanlah macam2 sampah yg hanyot tu dulu, jgn sampai masok ke ujung paret sane, nanti tesumbat pulak", kate Tom. "Pakai alas, jangan sampai kaki tetijak kace, paku, dan sebagainye" lanjut Tok Tim. Tak lame kmudian, ramai budak2 kecik dr lorong2 kampung begabong same dg Awang. Dalam suasane riang dan sukerie budak2 tu dg betelanjang bulat datang menolong kerje Awang menepikan sampah.. ade sabot, ade kulet durian, tin ae kaleng, plastik, dlsb. "Hati2 Tong, nanti burong engkau kene giget buntal" sergah Awang ke Atong, anak C...Lihat Selengkapnya


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
9 Oktober jam 19:48 melalui seluler
Read more ...

Rabu, Januari 04, 2012

Mimpi ape agaknye aku semalam?

‎'Mimpi ape agaknye aku semalam?' sungut Awang dalam ati, selepas sj die kene sembor Tok Tim, tak lame setelah bedog buke puase bebunyi. Ape hal? Rupenye Tok Tim marahkan Awang yg ringan tangan sangat menempar pipi anak ncik Rahim sampai bebilai, dan ncik Rahim tak terime lalu ngadukan ke Tok Tim. Sebetolnye pokok pekare bukanlah mustahak sangat : ade budak melempar pelepah pisang dr kebon atas, tp tesangkot pulak kat sidaian baju2 leha yg dijemur di laman rumahnye. Kebetulan anak ncik Rahim lewat depan rumah, shg Leha menduge itulah pelakunye dan lngadu ke Awang.
"Ape pasal cepat sangat engkau jadi kepale angen, ha?.. Tak bagos bertindak tanpa USUL PERIKSE lebih dulu, tau?!" cecar Tok Tim. Ah, nampak skali tak nguase Awang membantah.. {^}


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
16 Agustus jam 15:37 melalui seluler
Read more ...

Selasa, Januari 03, 2012

Terdengar suare dr balek tingkap

‎"Salamekom.. Tok" terdengar suare dr balek tingkap seseorang memberi salam. "Alaikumsalam... eh Esah rupenye, masoklah" jawab Tok Tim. "Takpelah Tok, saye cume nak nganta songkok Tok yg tetinggal kat rumah semalam. Bapak suroh saye lekas anta supaye kegiatan Tok jd tak tekendale" ujar Esah sambil menyorongkan songkok Tok Tim yg sudah dibalut dg kertas. Barulah Tok Tim ingat yg die semalam datang bersembang ke rumah Long Deris, berbual rancak hingge larut malam. Nak masok suboh td baru sadar yg songkoknye tetinggal di rumah bapak si Esah tu. Malu ati juge Tok Tim karene songkok lusoh tu dah jadi sarang bau : tengik ade, apak pun ade; tp heran jg yg skrang jd wangi semacam, agaknye kene renjis ae bunge mawar. "Ye lah, mekaseh Sah. Kirim salam Tok ke bapak kau ye" ujar Tok Tim sesaat stlh nampak Esa begegas nak balek lg ke rumahnye. ..{~}


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
7 Oktober jam 11:57 melalui seluler
Read more ...

Senin, Januari 02, 2012

Riang tak terkire hati Awang

Riang tak terkire hati Awang saat dpt kabar dr Léha bahwe Tok Tim brhajat nak ngajak cucu2nye melancong. Awang pon mulai menyusun angan2 dan berandai-andai sgale yg ade, terutame pekare perbekalan yg mesti disiapkan. Tapi kening Awang langsung berkerut manekale Léha cakap Awang hanye perlu bawak cangkol, parang dan pongkés saje, smentare Léha sndiri dah diamanatkan utk bawak aé bunge mawar. Alhasel, ktike keadaan bersemuke dg Tok Tim di petang hari, make semaken jelas dudok pekarenye. Tok Tim nak ngajak cucu2nye utk ziarah ke kubur ahli keluarge sempene nak masok bulan puase. "Inilah TAMASYA ROHANI yg paling dahsyat", ujar Tok Tim. "Kite diajarkan utk mengingat mati, kite dituntun utk ngenang jati-diri dr mane kite berasal, kmane nantinye kite balek.. Kite pon diuji dg kepekaan nurani ttg keyakinan bahwe penghuni alam di bawah makam ini bersukecite dg kiriman do'a dr ahlinye yg masih hidop". Hening. Tak ade suare lain kcuali lantunan do'a arwah yg dibace Tok Tim dan diamini oleh cucu2nye itu. Senyap, hanye sesekali terdengar suare tangan yg ditepok Awang ke betisnye sndiri yg mulai kerap diténggék pasukan agas.. {^}


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
30 Juli jam 1:07 melalui seluler
Read more ...

Minggu, Januari 01, 2012

Lantunan ayat suci sudah pun usai

Lantunan ayat2 suci sudah pun usai dibaca sang qori, kini tibe giliran Tok Tim yg tampil menyampaikan sambutan atas name kerabat Tok Seman yg taon ini beroleh berkah berangkat naek haji. Agak gemetar juge suare Tok Tim pd awalnye, tp itu brangso ilang berkat rase percaye diri dan sikap hormat dan takzimnye pd Tok Seman. "Jadi, kepade Ncik Seman sy bepesan hendaknye berangkat dg bekal yg lengkap. Di dade dg bekal taqwa, tangan kanan dg bekal keikhlasan, dan tangan kiri dg bekal kesabaran. Adepun kepala menjunjong La Rafasa, bahu kiri memanggul beban La Fusuka, dan bahu kanan mikol beban La Jidala" ujar Tok Tim bak ustadz pulak. Singkat tp padat, sambutan Tok Tim menampakkan ciri berbede dr kesehariannye yg suke beceloteh. Si Awang yg ekot merewang perhelatan walimatus-safar tetangge tu ekot takjub juge, tp dlm ati die berkate "Saban musem haji, Tok ne asek nak melepas orang aje, bile mase pulak die dilepas orang naek haji".. {~}


http://www.facebook.com/groups/170882569640361/
Zainuddin Abuhassan
13 Oktober jam 15:14 melalui seluler
Read more ...

Artikel bersempena

  • Open Recruitment - Riau Heritage sedang membuka kesempatan kepada teman-teman yang berminat untuk menjadi relawan. Kita belum bisa settle jadwal ngumpul bareng nih, tapi buat ...
  • Tahun Hutan - Tahun Hutan Sebagai Upaya Konservasi Hutan Dunia Ada sekitar 4 miliar hektar hutan di dunia, yang menutupi hampir 30 persen dari wilayah daratan bumi. Sekita...
  • 14. Cerita Rakyat Melayu - 14.CERITA RAKYAT Di antara prosa khazanah Kepulauan Riau ialah cerita rakyat dan cerita tulisan para penulis daerah ini,baik lama maupun baru. Berikut ini d...